Sampul Novel Santet Pengantin

Santet Pengantin

9.1 / 10.0
Kematian tragis kembarannya dan gangguan jiwa sang ibu memicu dendam membara dalam diri Rasti. Ia tega memakai ilmu pengasihan untuk menumbalkan sahabat kecilnya. Tak mau kalah, sang sahabat membalas dengan mengabdi pada iblis, memicu perang ilmu hitam yang merusak hidup keduanya. Ketika Rasti kehilangan calon bayinya, rahasia kelamnya terbongkar di hadapan sang suami. Di titik hancur ini, jalan taubat menjadi satu-satunya harapan mereka untuk meraih ampunan Tuhan.
Ringkasan Santet Pengantin
Kematian tragis kembarannya dan gangguan jiwa sang ibu memicu dendam membara dalam diri Rasti. Ia tega memakai ilmu pengasihan untuk menumbalkan sahabat kecilnya. Tak mau kalah, sang sahabat membalas dengan mengabdi pada iblis, memicu perang ilmu hitam yang merusak hidup keduanya. Ketika Rasti kehilangan calon bayinya, rahasia kelamnya terbongkar di hadapan sang suami. Di titik hancur ini, jalan taubat menjadi satu-satunya harapan mereka untuk meraih ampunan Tuhan.
Baca Selengkapnya

Santet Pengantin Bab 1

Di dalam kamarnya yang hanya diterangi dengan sebuah lilin, Kania mengambil boneka jerami berbalut kain kafan yang sudah tertempel foto Rasti. Tanpa ampun, Kania menusuk bagian perut boneka jerami itu berkali-kali.

Dengan wajah bengis dan perasaan penuh dendam, Kania menusuki boneka jerami itu terkadang boneka itu di remasnya dengan sekuat tenaga, seolah ingin mematahkan badan Rasti melalui boneka jerami berbalut kafan itu.

"Rasakan itu, Rasti! Arga lebih pantas untukku!" ucap Kania dengan tawa bahagia.

Sejenak kemudian Kania tiba-tiba terdiam mengingat kenangan manisnya bersama Arga, tetapi raut wajah dan rahangnya langsung mengeras ketika dia mengingat kembali luka yang disebabkan oleh lelaki itu dan sahabatnya, Rasti.

"Arga, kamu adalah milikku! Selamanya tetap milikku! Hanya milikku!".

Tiba-tiba angin berhembus tak wajar ke dalam kamarnya yang tertutup rapat itu. Buku-buku yang tersusun rapi di lemari buku sebelah tempatnya duduk mendadak jatuh berserak ke lantai tanpa ada yang menyentuhnya dan samar hidungnya mulai mencium aroma amis yang tak biasa.

Seketika tengkuk Kania meremang, dia semakin yakin dendamnya akan segera terbalaskan.

"Datang ... datanglah! Aku memanggilmu, aku akan menjadi pengikutmu yang setia!"

Kania benar-benar sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, karena luka yang tergores dalam di hatinya.

Dalam benak Kania sekarang yang ada hanyalah mewujudkan keinginannya untuk membalaskan dendam, sakit hati, kecewa, malu, marah kepada pasangan suami istri tersebut.

"Datanglah! Aku memerlukan bantuanmu! Bantu aku menuntaskan dendamku pada perempuan lacur ini! Datang! Mendekatlah!"

Hembusan angin yang membawa aura dingin itu semakin mencekam dengan ditingkahi suara lolongan anjing di kejauhan.

Mantra demi mantra diucapkannya dan seakan menjawab keinginannya, tiba-tiba terdengar bisikan-bisikan tidak kasat mata yang seakan ingin mengatakan bahwa 'mereka' siap membantu Kania yang sudah terbakar api dendamnya.

'Aku datang memenuhi panggilanmu! Katakan apa maumu maka akan kupenuhi semua permintaanmu dengan syarat beri aku sesuatu untuk kumakan!' Terdengar suara parau dan basah berbisik di dekat telinganya.

"Ambil yang kau inginkan dari perempuan itu! Dia milikmu! Dia milikmu! Hahaha," tawa Kania.

****

"Rasti, kamu di mana, Sayang?" Arga berjalan menuju dapur mencari Rasti, istri yang sekarang sedang mengandung buah hati pertama mereka.

Mendengar suara suaminya, gegas Rasti bangun dan duduk di atas kasur springbed tempat peraduannya dengan suaminya tercinta.

"Iya, Mas, aku sedang rebahan di kamar," jawab Rasti dari arah kamar.

Mendengar suara istri yang dicarinya dari dalam kamar, Arga bergegas menuju ke kamar dan mendapati perempuan itu tengah duduk menghadap pintu sambil merapikan rambut panjangnya yang kusut.

"Kok tumben masih pagi gini kamu tidur?" tanya Arga keheranan melihat Rasti masih setia berada di atas springbed.

"Iya maaf, Mas, tadi aku nggak enak badan, jadi aku rebahan bentar. Mas lapar ya? Aku masak dulu ya, Mas," tanya Rasti kepada suami tercintanya setelah lelaki tampan itu berada di dekatnya.

Arga hanya mengangguk kecil menjawab pertanyaan sang istri, sambil mengambil tempat duduk di sebelah Rasti tangannya terulur mengusap perut istinya yang sudah kelihatan membuncit itu, "anak ayah lagi apa di dalam situ? Anak ayah, jangan nakal ya, jangan bikin ibu sakit. Kasihan ibu, anak ayah sayang ibu kan?" Arga mengajak bicara anaknya.

Untuk beberapa saat Arga asyik berbicara dengan buah hatinya yang sebentar lagi akan lahir, beberapa kali dia mencium perut buncit istrinya. Bahkan beberapa kali dia mengusap-usap lembut saat merasakan gerakan halus calon anaknya itu.

Arga berharap mempunyai seorang anak laki-laki agar bisa meneruskan usaha orang tuanya yang kini dipimpinnya setelah sang papi rehat dari dunia bisnis.

"Semoga kamu lahir sebagai anak lelaki ya, Nak. Anak lelaki yang tangguh, kuat karena kamu adalah pewaris bisnis Hartawan selanjutnya," ucap Arga.

Rasti mengusap kepala suaminya lembut, terkadang dia tertawa geli mendengar obrolan suami dengan calon anaknya itu, "asyik bener ayah ngobrol sama adek, ibu sampai dicuekkin," goda Rasti.

"Nggaklah, Sayang. Kamu tetap nomor satu sampai kapan pun, ayah cuma lagi kasih tahu sama adek supaya jangan nakal biar ibu nggak sakit. Iya kan, Dek?" lanjut Arga kepada calon anaknya.

Usai bercengkrama dengan buah hatinya, Arga menatap Rasti dan meraih bahu perempuan berkulit kuning langsat itu untuk dirangkulnya. Diusapnya rambut ikal hitam panjang istrinya, "terima kasih, Sayang," ucapnya.

Rasti yang tak tahu maksud perkataan suaminya hanya mengangguk dan kembali menanyakan apakah suaminya jadi mau makan atau kalau tidak dia akan membuat camilan saja untuk mereka.

Arga menyetujui usulan istrinya untuk membuat camilan, entah kenapa pagi ini perutnya terasa sangat lapar tetapi tidak ingin makan makanan yang terlalu mengenyangkan.

"Ya sudah, kalau gitu aku ke dapur dulu ya. Aku mau bikin camilan enak untuk suami tersayangku," kata Rasti.

Sambil berkata demikian, Rasti memasang kembali kerudung yang sempat dilepasnya tadi sebelum akhirnya berdiri dan beranjak ke dapur.

"Ya udah, aku tunggu di sini ya, Yang. Aku mau rebahan dulu sebentar. Sekitar dua puluh menit lagi kususul ke dapur," kata Arga yang diiyakan istrinya.

Rasti pun berjalan keluar menuju dapur sambil sesekali mengusap perutnya, dia merasa bahagia karena usaha yang dia lakukan dulu tidak sia-sia.

Tanpa Rasti sadari sedari tadi ada sesosok wanita di belakangnya tengah mengulurkan tangan bersiap mencelakakannya.

'Hadiahku, aku datang! Sungguh harum aromamu! Bersiaplah menerima ajalmu,' bisik sosok wanita itu

Gedebug!

Terdengar suara benda terjatuh berdebum cukup keras di dapur dan tidak lama terdengar suara teriakan, "Mas ... aduh, Mas tolong! Perutku sakit banget, Mas!" teriak Rasti memanggil Arga, suaminya.

Arga baru saja bermaksud untuk berbaring mengistirahatkan tubuhnya yang penat ketika tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dapur.

"Astaghfirullah, suara apa itu? Jangan-jangan ...." Sontak Arga meloncat dari ranjang dan berlari ke arah dapur, tetapi sial tak dapat ditolak, karena terburu-buru dan tidak melihat arah jalannya, kaki kanan Arga terantuk kaki lemari baju di kamarnya.

Gubrak!

'Aduh, sakit banget jempol kakiku, jangan-jangan keseleo lagi nih. Bener-bener deh, nggak tahu orang buru-buru. Pakai acara kesandung segala. Dasar ceroboh!' omel Arga dalam hatinya sambil mengelus jempol kakinya yang terasa sakit.

Dengan langkah terpincang-pincang menahan sakit di jempol kakinya, gegas Arga bangkit dan kembali menuju dapur untuk mendatangi istrimya.

"Mas! Mas! Cepetan, Mas! Sini!" Terdengar kembali teriakan Rasti dari arah dapur.

"Iya! Bentar, Yang! Sabar! Jempol kakiku sakit nih, habis nabrak lemari!" balas Arga tidak kalah keras.

Dengan menahan sakit, Arga memaksakan kakinya menuruni anak-anak tangga dan menghampiri istrinya yang berada di dapur dan dia sangat terkejut melihat istrinya sudah dalam posisi jatuh terduduk.

Arga pun gegas berlari mendatangi istrinya yang tengah memegang perutnya, "Ada apa, Beb. Kamu kenapa?" tanya Arga dengan wajah kebingungan.

"Sakit, Mas ... perutku sakit banget!" rintih Rasti sambil memegangi perutnya yang sudah membesar, di antara kedua pahanya terlihat darah setengah kental mengalir membasahi daster yang sekarang sedang dipakainya.

"Beb, kamu kenapa? Ada apa sama kamu? Kamu kenapa bisa posisi kaya gini? Kamu jatuh duduk karena kepleset atau apa?" cecar Arga kepada istrinya yang tengah kesakitan.

Dengan menggigit bibirnya, Rasti, istri Arga hanya mampu menggelengkan kepalanya perlahan, menandakan dia suda tidak sanggup lagi bicara.

Rasti hanya bisa merintih lirih pertanda dia mulai lemah, dasternya semakin memerah oleh cairan kental yang terus keluar, "mas, tolong." Tenaganya semakin terkuras akibat mulai kekurangan darah.

Dengan sigap, melupakan rasa sakit di jempol kakinya yang tadi sempat terantuk lemari, Arga menggendong istrinya untuk dibawa ke rumah sakit, tetapi sesampainya di depan pintu mobil Arga menghembuskan nafas kasar sambil menepuk dahinya keras-keras, karena lupa membawa kunci mobilnya.

"Ah ... dasar bodoh! Aku lupa bawa kunci!" gerutu Arga, kesal dengan dirinya sendiri yang begitu ceroboh dari tadi.

"Yang, kamu duduk di sini ya sebentar, aku ambil kunci mobil dulu. Kamu bertahan ya!" Setelah mendudukkan Rasti di kursi rotan yang ada di teras rumah, Arga bergegas mengambil kunci mobilnya yang tergantung di dekat pintu kamar mereka, kemudian berlari kembali ke depan lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi menuju rumah sakit.

Berlomba dengan maut itu yang sedang Arga lakukan saat ini. Dia hanya ingin segera sampai ke tujuan, tapi entah kenapa perjalanan itu terasa sangat lama. Mobil miliknya yang biasa laju jalannya itu pun terasa lambat bahkan beberapa kali mesin mobilnya seolah tersendat-sendat.

'Hih! Kenapa sih mobil ini, lambat banget jalannya nggak kaya biasanya! Mana kaya mau mogok lagi. Please, jangan mati dong, kasian anak bini gue,' gerutu Arga berbicara dengan mobilnya.

Sementara di sebelahnya, beberapa kali Rasti menggigit bibirnya menahan rasa sakit di perut dan di sela-sela kedua belah pahanya yang terus mengalirkan darah.

Arga tidak ingin kehilangan istri dan anak yang sudah sangat dinantinya, Arga berusaha keras untuk memfokuskan perhatiannya ke depan, walau pun hatinya teriris pilu mendengar rintihan istrinya merasakan sakit yang tak tertahankan.

"Mas, cepetan, Mas. Aku udah nggak tahan lagi. Sakit banget, Mas. Allahu Akbar." Rasti merintih kesakitan.

" Iya, Sayang. Ini aku juga udah cepet, tapi aku nggak berani terlalu ngebut, Yang. Nanti kalau kita kecelakaan malah lebih repot lagi. Kamu bertahan sebentar ya, Yang. Kita udah hampir sampai kok." Arga meyakinkan Rasti dan berusaha menguatkan dengan menggenggam erat tangan perempuan itu untuk menyalurkan sisa kekuatan dan semangat miliknya saat ini, walau pun sebenarnya dia sendiri sangat kebingungan dan takut terjadi sesuatu kepada anak dan istrinya.

Arga memacu mobilnya lebih cepat dari sebelumnya, berharap cepat sampai ke tujuan tanpa menyadari bahwa selain dia dan istrinya, ternyata ada sosok lain ikut menumpang mobil mereka.

Sosok siapakah itu dan apa maksud kehadirannya di sana?

Jangan lupa berlangganan untuk mengikuti kelanjutannya.

***

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Santet Pengantin

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya terjebak dalam neraka pernikahan. Alih-alih bahagia, ia justru menjadi sasaran kekejaman Adnan, suaminya yang menyimpan dendam membara kepada sang mertua. Setiap hari, Saschya harus bertahan menghadapi siksaan fisik dan mental yang keji. Namun, di tengah keputusasaan yang mendalam, sosok dari masa lalunya mendadak hadir kembali. Apakah kemunculan mereka akan menjadi penyelamat yang membebaskan Saschya, atau malah memicu prahara baru di hidupnya?
Sampul Novel Hari Bahagianya, Hari Kematian Aku
9.4
Di hari pernikahannya, seorang wanita dipaksa mengalah demi kakaknya yang sakit parah agar bisa menikahi James, sang tunangan. Karena menolak mentah-mentah rencana tersebut, orang tuanya tega mengikatnya di rumah sebelum pergi ke acara pernikahan. Malang, saat ditinggalkan sendirian dalam kondisi terikat, seorang penyusup masuk dan membunuhnya dengan kejam. Ketika keluarganya akhirnya kembali untuk membebaskannya, mereka hanya mendapati jasadnya yang telah membusuk tanpa nyawa.
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Nadia Antika selalu sabar menghadapi cemoohan ibu mertua demi cintanya pada sang suami, Askara Brahma. Namun, biduk rumah tangga mereka yang berjalan dua tahun mulai retak saat Askara mendadak bersikap dingin dan penuh rahasia. Kecurigaan Nadia menuntunnya pada kenyataan pahit yang tak terbayangkan. Bagaimana ia menghadapi fakta bahwa suaminya diam-diam mengkhianatinya dengan menjalin hubungan gelap bersama adik iparnya sendiri di dalam rumah mereka?
Sampul Novel Misteri Ular Xaver
8.3
Sekembalinya dari Kota Xaver, ibu membawa patung dewa ular yang dipercaya bisa memberi keawetan muda jika disembah dengan darah menstruasi perawan. Aku dipaksa menyerahkan darahku dan rambutku dipotong untuk dililitkan di patung itu. Namun, aku menyembunyikan rahasia bahwa aku pernah menginap dengan pacarku saat kuliah. Dua bulan kemudian, konsekuensi mengerikan muncul ketika kulit ibu mulai ditumbuhi bercak biru bersisik dan dia mulai berganti kulit layaknya seekor ular.
Sampul Novel P. S. I LOVE YOU
8.5
Cyra Alesha, mahasiswi berumur dua puluh tahun, harus membanting tulang sebagai pekerja paruh waktu di kota besar. Nasib buruk menimpanya saat ia terlibat kesalahpahaman dengan Felix Domil. CEO muda yang kejam itu tanpa ragu merendahkan harga diri Cyra dan menyiksanya dalam penderitaan. Meski terus tersakiti oleh perlakuan sang pewaris tunggal, Cyra malah terpikat oleh pesona pria itu. Akankah ia tetap bertahan atau memilih memberontak untuk lepas?
Sampul Novel She's Mine
9.3
Salju mengerahkan segalanya demi membawa She's Mine bersaing di industri fesyen. Namun, di puncak kesuksesan, ia terjebak dilema asmara masa lalu yang rumit. Justin, sang mantan pacar, datang kembali untuk mengejarnya. Di sisi lain, ada Mars yang selalu setia menyokong bisnisnya. Demi meredam rumor miring yang mengancam reputasi perusahaannya, Salju kini dituntut segera memilih satu di antara mereka untuk menyelamatkan karier dan masa depannya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED