Sementara itu di dalam kamar sebuah rumah di kawasan elit Cempaka Putih, tampak ada seorang gadis berparas jelita, berkulit putih merona, tiada henti-hentinya menusuk boneka jerami berbalut kafan bertempelkan foto Rasti dengan penuh rasa dendam di hatinya, senyuman jahat tergambar nyata di wajah gadis jelita berhidung mancung itu.
'Kamu harus mati, Rasti! Kamu harus merasakan pembalasanku! Aku akan terus mengejarmu, ke neraka sekalipun!' desis Kania.
Sementara itu dari dalam sebuah rumpun bambu yang berada di seberang rumahnya ada satu sosok wanita dengan rambut terurai masai menutupi sebelah wajahnya yang hancur sedang mengamatinya dari kejauhan
Sosok wanita bergigi tajam, bergaun merah darah yang berasal dari sebuah pulau di seberang lautan itu tersenyum senang melihat Kania sudah benar-benar terjerat dalam permainan semunya.
"Kania! Kania! Tetaplah seperti ini, minta apa pun yang kau mau kepada kami maka kami akan mengabulkannya dan kau akan menjadi pengikut istimewa kami." Serak bisikan sosok wanita bergaun merah mampu membekukan siapa pun yang mendengarnya.
Di kejauhan suara lolongan anjing semakin keras terdengar, bersahut-sahutan dengan suara burung gagak, udara di kamarnya terasa semakin dingin dan sangat pengap serasa menusuk tulang dan membungkam rongga penciumanya, tirai-tirai di kamarnya berkibar-kibar. Bisikan tak kasat mata itu kembali terdengar di telinganya.
'Bagus! Bagus sekali Kania, saudariku! Mintalah apa pun kepadaku! Minta apa saja yang kau inginkan! Aku pasti mengabulkan! Cukup berikan aku tumbal berupa darah dan daging segar seorang anak dan kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan! Tanpa terkecuali!' bisikan itu terdengar begitu lirih dan serak.
Seringaian Kania semakin nyata terlihat di bibirnya. Keinginan membalas dendam itu semakin kuat tertanam di dalam dadanya. Kebencian itu semakin kuat mengakar dan tak akan lepas begitu saja sebelum semua deritanya terbalaskan
'Aku ingin perempuan dalam foto ini ... mati dengan perlahan-lahan, agar dia tahu apa dan bagaimana rasa sakit itu. Buat dia menderita, dan anak ... anak yang ada di dalam perut perempuan itu kuberikan dia padamu, sebagai persembahan pertamaku,' bisik Kania tak kalah lirih.
Suara gonggongan dan lolongan anjing kembali bersahutan dari berbagai arah di kejauhan usai persembahan Kania seolah mengamini keinginannya.
Angin dingin meniup api lilin, membuat nyalanya meliuk-liuk seakan-akan hendak padam. Perlahan tetapi pasti, bau amis mulai menerpa indera penciumannya.
'Kania,' Terdengar bisikan seorang wanita tepat di telinganya membuat bulu kuduknya meremang seketika itu juga.
Kania melihat pantulan dirinya dalam cermin, tampak sesosok wanita dengan rambut coklat masainya terurai menutupi sebagian wajahnya yang hancur dengan gigi tajam sedang berdiri di belakangnya, tangannya yang putih pucat berkuku hitam, panjang dan runcing tampak terjulur ingin memegang bahu Kania.
Dingin! Tangan itu terasa sangat dingin dan amis saat bersentuhan dengan kulitnya, sehingga membuat Kania sedikit tersedak.
"Kuterima persembahanmu. Akan kukabulkan permintaanmu ... sekarang!" bisik perempuan itu, lalu menghilang.
Seiring dengan kepergian sosok itu hilang pula suara lolongan anjing dan burung gagak yang tadi terdengar riuh bersahutan tiada henti.
'Sebentar lagi ... semua akan tercapai. Sabar, Kania ... kamu harus sabar,' batin Kania diikuti senyuman yang lebih mirip seringaian di wajahnya.
Seringaian itu terhapus dari wajahnya saat dirinya tanpa sengaja menatap jari manis miliknya, di sana masih tersemat cincin pertunangan pemberian terakhir dari Arga, pemuda tampan berhidung mancung yang pernah menjadi kekasih bahkan sudah menjadi suaminya beberapa tahun yang lalu.
"Arga," bisik Kania.
Ingatan Kania kembali ke lima tahun lalu. Ingatan yang mampu membuatnya merasa bahagia, sesak, marah, sedih sekaligus memendam dendam dalam satu waktu yang bersamaan kepada Rasti dan Arga, dua orang yang pernah sangat dekat dengannya dahulu.
"Rasti, aku nggak nyangka kamu tega nusuk aku dari belakang, padahal aku udah nganggap kamu seperti saudaraku sendiri dan Mas Arga, tak kusangka semudah itu kamu berpaling dari diriku bahkan setelah kita menikah sekali pun," batin Kania sambil mengusap bulir bening di ujung matanya.
***
Lima Tahun Lalu
Kania tampak sangat bahagia karena sebentar lagi dia akan menikah dengan lelaki yang sangat menyayangi dan memujanya, lelaki yang diidolakan semua gadis di kampusnya.
[Yang, besok jangan lupa bawa dokumen untuk ke KUA ya. Setelah selesai kita pergi ke butik Tante Irna. I love you, Sayang.]
Pesan terakhir yang dikirim Arga kemarin malam saat mereka berbalas pesan.
[Iya, Yang. Aku inget kok. I love you too, Sayang.]
Balas Kania.
Pagi ini Kania dan Arga, tunangannya itu berencana pergi ke KUA untuk melengkapi semua dokumen yang diperlukan untuk pernikahannya, kemudian mereka akan ke butik milik Tante Irna, kakak tertua mami Arga untuk mencoba kebaya dan gaun pengantin yang nanti akan dipakainya untuk acara akad nikah dan resepsi pernikahannya nanti.
"Hai, lu kenapa senyum-senyum sendiri? Kesambet lu?" Tiba-tiba bahunya ditepuk dari belakang oleh seorang gadis cantik, seusianya.
"Eh elu, Ras. Sialan lu! Masa gue masih waras gini dibilang kesambet sih. Elu kali yang kesambet. Hahaha," goda Kania balik.
Rasti tertawa terbahak-bahak mendengar gurauan sahabatnya. Ya, Rasti dan Kania berteman secara tidak sengaja pada saat masa orientasi mahasiswa-mahasiswi baru di kampus mereka beberapa tahun lalu, dan menjadi sahabat karena ternyata mereka berdua berada di fakultas yang sama.
"Duduk sini, Ras. Temenin gue dong," pinta Kania.
"Nunggu siapa sih lu? Arga? Emang lu ada janji ketemu sama dia jam berapa?" Rasti mencecar Kania dengan begitu banyak pertanyaan tanpa memberi kesempatan Kania untuk menjawab.
"Jam sepuluh sampai kampus sih, tapi lewat tiga puluh menit Arga belum datang juga," jelas Kania sambil menerima es jeruk yang tadi sempat dipesannya di kantin kampus.
Kania sedang duduk mengobrol sambil menikmati segelas es jeruk dengan sahabatnya di kantin ketika dilihatnya seorang pemuda tampan berbadan atletis, datang menghampiri sambil tersenyum mesra ke arahnya.
"Assalamualaikum, Sayang. Apa kabar kamu pagi ini? Kangen rasanya nggak ketemu kamu beberapa jam aja," goda pemuda itu sambil meraih tangan Kania.
Mendengar godaan kekasihnya, Kania hanya bisa menunduk malu dengan pipi mulai bersemu merah, "Iih, apaan sih. Baru juga berapa jam nggak ketemu, nggak usah gombal deh. Malu tau!" Kania mencubit gemas tangan pemuda itu.
"Hahaha ... biarin aja napa sih, Yang. Ngegombal sama calon istri ini," goda pemuda itu semakin menjadi.
Mendengar rayuan pemuda itu pipi Kania menjadi semakih merah, wajahnya pun semakin menunduk malu apalagi ketika disadarinya sahabatnya masih duduk di depannya sambil tertawa menggodanya.
"Wah, yang bentar lagi mau nikah, makin mesra aja!" goda Rasti pada Kania, sahabatnya.
"Sampai nggak nyadar masih ada gue di sini! Udah dong, jangan sampai gue ngiri liat kemesraan elu berdua!" imbuh Rasti membuat Kania tersipu malu.
"Nganan aja, Ras. Kalau ngiri nanti salah jalan. Jangan sampai keliru kasih lampu sein, Lu. Hahaha!" Sambil tertawa Arga menggoda Rasti yang spontan memajukan bibirnya.
"Udah deh mending elu berdua cepetan cabut sana gih, daripada di sini terus! Apa perlu gue rebut Arga dari elu, biar lu nggak bisa manas-manasin gue terus?" usir Rasti masih dengan wajah cemberut.
"Ih! Kok lu ngomong gitu sih, Ras! Emangnya lu tega nyakitin gue?" tanya Kania dengan perasaan bingung mendengar perkataan sahabatnya yang terasa teramat sangat janggal di telinganya itu.
"Ah! Udah sana buruan cabut! Gue nggak perlu jawab pertanyaan elu yang nggak penting itu!" Rasti mendorong Kania dan Arga untuk segera pergi dari hadapannya.
Sambil melangkah pergi, Arga dan Kania melambaikan tangannya ke arah Rasti yang langsung membalas lambaian tangan mereka.
"Dah, Rasti. Kami pergi duluan ya, kamu hati-hati. Maaf nggak bisa nemenin kamu," pamit Arga dan Kania bersamaan.
"Dah. Iya, nggak apa-apa. Aku juga mau pulang kok, sekarang. Kalian hati-hati juga ya," balas Rasti.
Sepeninggal Kania dan Arga, Rasti segera mengeluarkan telepon genggam dari dalam tasnya dan langsung melakukan panggilan suara kepada seorang lelaki yang sudah cukup dikenalnya.
"Halo, Zen gimana udah dapet belum yang gue minta sama elu kemaren?" tanya Rasti pada seseorang.
"Dapet, dong. Buat Zen, nyari barang kaya gitu aja sih, kecil!" balas seorang pemuda dengan nada bangga.
Rasti mengangguk puas mendengarkan jawaban yang diberikan oleh pemuda itu. Dia tersenyum miring, dia senang karena beberapa dari rencananya berjalan lancar hingga sejauh ini.
"Elu tinggal kasih gue sesuai yang kita sepakati kemarin. Kalau elu udah siap, gue anter sekarang," ucap Zen.
"Oke, kalau gitu sekarang kita ketemuan di Meet Up Cafe. Setengah jam dari sekarang gue sampai sana!" ucap Rasti mengakhiri percakapan dengan lawan bicaranya.
Setengah jam kemudian, di Meet Up Cafe di sebuah tempat yang cukup terlindung dari keramaian, tampak Rasti berbincang-bincang dengan seorang laki-laki.
Setelah merasa aman, laki-laki tersebut tampak mengeluarkan sebuah bungkusan plastik kecil berisi dua butir pil berwarna hijau.
"Elu yakin pil ini bakalan bekerja seperti yang gue mau, Zen?" tanya Rasti.
Pemuda yang dipanggil Zen itu hanya mengangguk sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.
"Sip! Gue berani jamin. Kalau nggak sesuai, lu boleh ambil balik duit elu. Lu boleh tanya ke temen-temen lu yang ngenalin gue ke lu soal kebenaran omongan gue. Lu boleh cek reputasi 'berlian' yang gue jual," yakin Zen.
Melihat reaksi Zen, serta-merta Rasti mengeluarkan amplop coklat yang sudah dipersiapkannya dari tadi pagi sebelum berangkat kuliah.
"Ini, yang gue janjikan. Inget, elu nggak kenal gue. Gue nggak mau ada yang curiga sama gue," ancam Kania pada Zen.
"Sip. Elu tenang aja, rahasia lu aman di tangan gue. Lain kali hubungi gue, kalau lu cari barang lagi." Zen mengacungkan dua jempol tangannya tanda memahami ucapan Rasti tadi.
"Oke," jawab Rasti singkat.
Zen melihat sekilas pada Rasti kemudian membuka amplop yang diberikan oleh Rasti beberapa saat lalu.
Setelah menghitung uang dalam amplop coklat itu, tanpa mengatakan sepatah kata pun Zen segera pergi meninggalkan Rasti yang tengah tersenyum jahat.
"Nggak lama lagi gue bakal rebut Arga dari elu, Kania! Gue harus jadi istri Arga bagaimana pun caranya!" desis Rasti dengan seringaian samar di wajahnya.
Apa yang direncanakan Rasti terhadap Arga dan Kania?
Jangan lupa berlangganan untuk mengikuti lanjutan ceritanya
***
Malam harinya usai menyelesaikan semua rangkaian kegiatan, Arga pun langsung mengantarkan Kania, tunangannya pulang. Lalu beberapa saat kemudian dirinya pun pamit pulang karena malam mulai larut.
"Yang, aku pulang dulu ya. Habis ini, kamu langsung mandi terus istirahat. Jangan begadang, kita udah cukup capek hari ini." Ingat Arga.
"Besok pagi aku jemput kamu seperti biasa, begitu selesai meeting dengan perwakilan dari PT. Sinar Semesta, kita lanjutin lagi nyari contoh souvenir dan undangan," imbuh Arga lalu berpamintan pada Kania, kekasihnya.
"Iya, Sayang. Kamu juga sampai di rumah nanti langsung mandi, makan dan istirahat ya. Jangan lupa salat dulu," ujar Kania dengan tatapan mesra pada Arga.
"Siap, Jenderal! Kamu juga jangan lupa makan dan salat ya. Makasih udah selalu diingetin. I love you, Kania Andarini Prasetyo. Hehehe," kekeh Arga menggoda Kania.
Arga mengangkat tangan kanannya, bersikap hormat pada Kania. Kania merasa gemas sekaligus merasa sangat malu karena melihat sikap calon suaminya yang selalu saja menggodanya di setiap kesempatan.
"Ish, apaan sih Arga. Udah kewajiban aku buat ngingetin calon imamku, biar semakin istiqomah nanti kalau udah beneran jadi suami."
Sambil tersipu malu Kania lalu mencubit lengan Arga manja.
Arga pun memasang wajah pura-pura kesakitan akibat cubitan Kania dan sedetik kemudian tertawa terbahak-bahak setelah melihat wajah imut milik Kania berubah cemberut.
"Ya udah, gih kamu masuk. Nanti ibu sama ayah nyariin kamu lo. Salamin ke mereka ya, tolong sampaikan maaf aku nggak mampir. Assalamualaikum, Calon bidadari surgaku," ucap Arga
"Iya, Yang. InsyaaAllah nanti disampaikan ke ayah dan ibu. Hati-hati, Yang, nanti kalau udah sampai jangan lupa kabarin aku ya. Waalaikumsalam, Calon imam." Setelah melambaikan tangannya, Kania pun melangkah ke dalam rumah.
Setelah memastikan bahwa Kania sudah benar-benar masuk rumah, Arga bergegas melajukan sepeda motor Harley kesayangan hadiah dari sang papi ketika berulang tahun ke 17 tahun menuju ke rumah, dia ingin segera mengguyur tubuhnya.
Debu dan keringat sudah bercampur menjadi satu, sehingga membuat Arga risih dan bau. Arga pun sudah merindukan ranjangnya yang nyaman.
Sambil berkendara, tanpa sadar bibir Arga tersenyum ketika mengingat kembali kejadian siang tadi di butik Fabs Couple milik Tante Irna, kakak tertua mami Arga.
'Kania ... Kania,' bisik Arga dengan bibir mengulas senyuman.
Kania terlihat sangat bahagia dan begitu bersemangat saat mencoba hampir semua kebaya dan gaun pengantin koleksi terbaru butik itu.
"Sayang, coba deh kamu lihat semua koleksi kebaya dan gaun pengantin ini, semuanya bagus ya. Aku jadi bingung, mau pilih yang mana."
"Iya, Yang. Terserah kamu aja mau model seperti apa, warna apa. Apa pun yang kamu pakai pasti cocok sama kamu. Bener nggak, Tan?" kata Arga mengarahkan pandangannya ke arah Tante Irna.
"Bener banget kata Arga, Kania. Tante yakin apa pun pilihan kamu pasti bagus dan cocok dipakai oleh gadis secantik kamu," ucap Tante Irna sambil mengerlingkan matanya menggoda Kania.
Kerlingan dan senyuman menggoda Tante Irna tak pelak membuat Kania merasa malu sekaligus senang dan semakin bersemangat, apalagi di butik Tante Irna banyak koleksi baru dan menarik minatnya untuk mencoba satu per satu.
"Ah, Tante bikin Kania ge-er aja. Ya udah kalau gitu aku lihat-lihat dulu ya, Tan."
"Iya, Sayang. Kamu pilih-pilih dulu aja, nanti kalau ada yang kamu suka dan mau kamu coba, kamu bisa kasih ke Dina, asisten Tante yang nanti nemenin kamu fitting," jelas Tante Irna sambil mencari Dina, asistennya.
"Din, sini sebentar! Kamu temenin Kania ya buat milih-milih kebaya dan gaun pengantin sekalian fitting! Aku mau ngukur Arga dulu. Arga, ayo sini ikut Tante!" Tante Irna memerintahkan Arga untuk mengikutinya menuju ke ruang sebelah.
Arga segera mengikuti langkah tantenya menuju ke dalam ruang kerjanya. Di sana Tante Irna mengukur badan Arga untuk keperluan membuat jas pengantin.
"Sekali lagi, Ga. Tante ukur panjang celana kamu dulu. Oke! Selesai! Sebentar, tante panggil Isna buat bikin pola sesuai ukuran dan mode yang udah kamu pilih kemarin, ya," ucap tante Irna dilanjutkan memanggil Isna, salah satu karyawannya untuk menyerahkan ukuran badan dan model jas yang diinginkan Arga.
"Nanti kalau polanya sudah selesai, segera antar ke bagian produksi ya, Isna. Biar nanti bisa cepet fitting ini, keponakkan tante yang super ganteng," pinta Tante Irna kepada Isna, asistennya yang sudah cukup lama bekerja dengannya.
"Baik, Bu. Maaf apa ada tambahan lagi, Bu sebelum saya serahkan semua ke bagian produksi?" tanya Isna.
Tante Irna hanya menggelengkan kepala menandakan bahwa tidak ada perubahan atau tambahan apa pun pada desain jas dan celana milik Arga.
Sambil menunggu Kania yang masih sibuk mencoba kebaya dan gaun pengantin, Arga membuka aplikasi bertulisan f berwarna biru di ponselnya.
Arga membuka fitur marketplace yang ada dalam aplikasi tersebut dan mencari-cari iklan produk jam tangan. Ya, Arga ingin memberikan kejutan berupa sebuah arloji untuk Kania.
"Ini dia, model arloji yang cocok untuk Kania, pasti dia suka," batin Arga dalam hati dan langsung melakukan pemesanan online melalui aplikasi tersebut.
Usai melakukan pemesanan online, Arga kembali berselancar di aplikasi biru itu sambil menunggu kekasihnya yang masih belum selesai memilih dan mencoba gaun dan kebaya.
Setelah hampir dua jam lebih memilih-milih kebaya dan gaun pengantin, lalu kemudian melakukan fitting akhirnya pilihan Kania jatuh kepada satu set kebaya putih berleher rendah yang sedikit lagi menampakkan belahan dada dan gaun pengantin model ball gown berwarna biru tosca.
Kedua pilihan Kania itu sama-sama memiliki model sederhana tetapi sangat elegan saat dipakai sehingga memberikan kesan istimewa pada si pemakainya.
"Arga, kamu lihat apa sih? Sampai lupa berkedip gitu?" tanya Kania kebingungan dengan ekspresi Arga.
"Ini ... ini kamu, Kan. Can ... tik banget. Kamu pasti bukan Kania, ya kan? Kamu ... kamu bidadari ya?" sanjung Arga.
Begitu terpesonanya Arga melihat kecantikan Kania dalam balutan kebaya pilihannya hingga tidak sadar bahwa sedari tadi dia tidak berkedip sedikit pun.
"Ish, apaan sih Arga. Jangan bikin aku malu di depan Tante Irna dan Mbak Dina dong," sergah Kania malu.
"Hahaha. Nggak usah malu, Sayang. Memang benar apa yang dikatakan Arga, kamu cantik banget pakai kebaya itu."
"Kebaya itu benar-benar pas di badan kamu yang ramping dan tinggi bak peragawati ini, Sayang. Sangat cocok sekali dengan kulit putih bersih milikmu." Tante Irna berdecak kagum melihat aura kecantikkan Kania begitu memancar keluar.
Arga tersenyum mengingat betapa cantik Kania dalam balutan kebaya dan gaun pengantin tadi.
'Ah, aku jadi nggak sabar rasanya ingin cepat-cepat menjadikan Kania sebagai Nyonya Arga.' Arga membatin dalam hati.
Bibir Arga masih terus mengulas senyum mengingat kebersamaannya dengan Kania hampir seharian tadi, perasaannya terasa begitu menggebu tak sabar menantikan hari lamaran dan pernikahannya nanti.
Namun, dering suara ponsel menghentikan lamunan Arga, sontak dia melirik ke layar ponselnya untuk melihat siapa yang meneleponnya, "Rasti," gumam Arga sambil memasang bluetooth headset ke telinga kirinya.
[Assalamualaikum, Rasti. Ada apa, nih?]
Tanya Arga melalui bouetooth headsetnya.
[Waalaikumsalam, Ga. Elu sibuk nggak? Gue mau minta tolong elu, bisa nggak?]
Rasti balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Arga sebelumnya.
[Nggak sibuk sih. Tapi tunggu sebentar ya, gue masih di jalan kira-kira dua puluh menit lagi gue sampai, nanti gue telepon lu balik. Assalamualaikum.]
Lanjut Arga kemudian mematikan bluetooth headsetnya dan kembali berkonsentrasi menyetir Harley miliknya.
Dua puluh menit kemudian, Arga sampai di rumahnya, setelah memasukkan sepeda motor besarnya, Arga menelepon Rasti kembali untuk menanyakan apa yang bisa dia lakukan untuk gadis itu.
[Assalamualaikum, Rasti. Maaf, tadi gue terpaksa potong telepon elu, soalnya gue posisi lagi nyetir sepeda motor. Bahaya kalau nggak fokus, apalagi malam ini jalan lumayan rame.]
Urai Arga memberi alasan kenapa tadi dia mematikan telepon secara sepihak.
[Ah, iya. Nggak apa-apa, Ga. Seharusnya gue yang minta maaf karena telepon disaat yang nggak tepat.]
Rasti meminta maaf atas keteledorannya tadi.
[Udah, nggak apa-apa. Jadi, ada apa nih tiba-tiba elu telepon gue. Ada perlu apa? Mungkin gue bisa coba bantu elu?]
Lanjut Arga menanyakan apa maksud Rasti meneleponnya tadi.
Sambil berdiri meluruskan pinggang yang mulai terasa agak sakit, pemuda gagah dengan tinggi badan 187 cm itu mengambil mantel sepeda motor dan menutupi Harley miliknya sembari mendengarkan suara Rasti masih terdengar di speaker ponsel kepunyaannya.
[Temenin gue ke mall dong, gue mau beli kado ulang tahun buat papah gue. Bisa nggak?]
Pinta Rasti.
[Waduh ... gimana ya? Kebetulan gue baru aja sampai rumah dan badan gue capek banget rasanya. Maaf ya, Ras gue nggak bisa nemenin elu.]
Tolak Arga dengan hati-hati takut menyinggung perasaan sahabat calon istrinya itu.
[Oh gitu. Ya udah nggak apa-apa, Ga. Nanti gue minta tolong sopir papah gue aja buat nganterin gue. Maaf ya, Ga kalau gue udah ngerepotin kamu.]
Jawab Rasti
Nada kecewa kentara sekali terdengar di suara Rasti. Gadis berparas manis, berkulit kuning langsat itu merasa sangat kesal sekali karena ternyata sangat tidak mudah mendekati Arga. Rasti marah sebab dia sudah merasa gagal meminta Arga untuk menemaninya pergi ke mall.
[It's okay. Nggak apa-apa, Ras. Maaf ya aku beneran capek, jadi nggak bisa nemenin kamu. Ya udah kalau gitu, aku mau beres-beres dulu. Assalamualaikum.]
Arga pun mematikan ponselnya dan bergegas keluar setelah mengubah nyala lampu di dalam garasi rumahnya.
[Iya, Ga. Waalaikumsalam.]
Lirih Rasti menjawab salam Arga.
Rasti mematikan panggilan keluar dari ponsel miliknya dan mengepalkan telapak tangan kirinya hingga buku-buku jarinya hampir memutih semuanya.
Rahangnya mengatup dengan sangat erat, menandakan bahwa dia tidak hanya merasa kecewa saja tetapi sudah merasa marah dengan penolakkan Arga.
'Elu boleh nolak gue kali ini, Ga. Tapi lain kali, gue yakin elu yang bakalan bersujud menangis darah meminta perhatian dari gue!' batin Rasti dengan seringai jahat tergambar sangat jelas di bibirnya.
Apakah Rasti berhasil menjalankan rencananya untuk mendapatkan Arga?
Penasaran dengan kelanjutan kisahnya?
***