Sairish Dayana Malik, gadis kuat dan tangguh. Putri mahkota dari kerajaan bisnis Malik Corporation. Sesuai dengan isi surat wasiat yang ditulis oleh mendiang kakeknya, bahwa diumur 19 tahun, dia akan naik tahta. selama dia belum memenuhi syarat itu, tampuk kekuasaan bisnisnya dikendalikan oleh adik kandung mendiang ayahnya, sekaligus walinya saat ini, Claudia Gloria.
Ocean Tyaga. Ocean yang berarti lautan, dan Tyaga adalah pemberian tuhan. Entah apa yang mendasari ibunya memberikan nama aneh itu padanya. Apa mungkin dia dilahirkan di tengah laut dan menjadi pemberian tuhan yang patut disyukuri, entahlah. pantas saja hidupnya selalu asin. Nama boleh bagus dan terkesan mewah, tapi berbanding terbalik dengan kehidupan nyata Sean. Laki-laki miskin yang rela melakukan apa saja untuk menyambung hidup dia beserta ibu dan adiknya. Prinsip Sean, "yang penting halal."
****
Sairish berjalan santai menuju bangku dibawah pohon beringin puluhan tahun itu. Tujuannya sudah jelas, ingin mendatangi laki-laki serius berwajah datar yang sedang asyik membaca bukunya. bukan tanpa alasan Sairish mendatanginya, dia ingin mengajak laki-laki itu menikah. Ya, menikah!
Kata sepupunya, Mikayla dan kedua sahabatnya, laki-laki bernama Sean itu cukup tampan, tapi Sairish tidak melihat itu. oke, mungkin Sairish yang buta, tidak bisa membedakan mana laki-laki tampan dan mana yang buluk. Di matanya, semua laki-laki itu sama, sama-sama brengsek. Seperti mantan calon tunangannya.
Dan juga, kata Adena yang pecinta cogan, alias cowok ganteng. Sean itu sangat pintar, dia masuk Universitas saja dengan jalur beasiswa, Sean juga tampan, sudah teruji kalau kata Adena, Sean juga cool alias bukan sembarang laki-laki yang gampang di dekati hanya dengan wajah cantik dan body aduhai saja. Dan yang paling penting, ini yang paling penting kata Adena, Sean itu udah suka sama satu cewek anak Manajemen Bisnis yang sekelas dengannya, tapi sayang, orangtua si cewek yang katanya super duper kaya itu tidak setuju. Jadi intinya, cinta terhalang restu. Kalau seandainya Sairish ingin mengajak Sean menikah, dia harus banyak melewati rintangan terjal. Salah satunya, hati Sean.
Sairish tanpa permisi langsung duduk di samping laki-laki itu, membuat si empunya yang sedang asyik membaca buku terjengkit kaget, Sairish yang melihat itu hanya bisa menyengir polos. Sean masa bodoh, dan kembali melanjutkan bacaannya.
Sairish memainkan lollipop yang berada di dalam mulutnya, menimbang-nimbang kalimat apa yang pantas dia utarakan pertama kali dengan laki-laki disebelahnya ini.
Sairish mengetuk dua kali pundak Sean, membuat laki-laki itu kembali kaget. kali ini pandangan ketus yang Sean berikan. Tapi kemudian, dia kembali fokus. Benar-benar kecantikan Sairish tidak berguna dihadapan Ocean Tyaga.
"Bang ..." Gadis itu akhirnya bersuara setelah kode-kodenya dari tadi tidak berhasil membuka mulut Sean untuk bersuara.
Sean menoleh sekilas sambil menaikkan sebelah alisnya, "lo ngomong sama gue?"
Sairish mengangguk dua kali.
"Ada apa?"
"Abang ... mau nikah sama aku, ngga?"
Pertanyaan yang mulus keluar dari bibir mungil seorang Sairish Dayana Malik membuat Sean membulatkan matanya. terlihat sekali raut terkejut dari laki-laki tampan disebelah Sairish ini. Bibirnya terbuka namun kembali tertutup, mungkin dia bingung ingin berkata apa.
"Tenang aja, aku cantik kok. Ngga akan bikin abang malu kalo bawa aku ke kondangan." Sairish menampilkan senyum manisnya, yang kata laki-laki lain sanggup meluluh-lantahkan dunianya.
Tapi sepertinya tidak berguna pada Sean, laki-laki itu masih memasang wajah datar setelah mendengar perkataan Sairish. laki-laki itu memandang Sairish dari atas hingga bawah, lalu kembali ke atas lagi. memandang tepat di kedua bola mata coklat gadis aneh yang tiba-tiba mengajaknya menikah.
"Lo ... gila, ya?"
Sairish menggeleng, "ngga, aku waras kok. Sehat walafiat malah."
"Tapi, gue ngga kenal sama lo. gimana bisa, lo ngajak gue nikah." Sean bertanya heran, masih ada ya orang random di dunia ini, pikirnya.
"Kita akan saling kenal kalo udah nikah kok." Gadis itu masih menjawab santai, seolah tanpa beban sudah mengajak laki-laki random menikah.
"Denger gue gadis kecil." Sean akhirnya memutuskan untuk fokus menghadap gadis yang duduk disampingnya sambil mengemut lollipop itu. 'Bocah' pikir Sean.
"Gue ngga kenal lo, itu yang pertama." Sean mengangkat tangannya karna dia melihat Sairish yang ingin membuka mulut menyanggah perkataan Sean. "Gue belum selesai." Sairish hanya bisa mengangguk pasrah.
"Yang kedua, gue miskin. Gue hidup susah. Kerjaan gue masih serabutan, buat makan sendiri aja susah, apalagi mau kasih makan tambahan satu kepala. Kalo gue lihat, lo bukan cewek yang biasa hidup di tempat kumuh kayak tempat tinggal gue. jadi, sebelum lo nyesel ngajak gue nikah, lebih baik lo cari cowok lain yang selevel sama lo."
"Aku ngga masalah sama semua yang abang sebutin tadi."
sairish masih kekeh, membuat Sean mendengus sinis. Laki-laki itu tersenyum remeh sambil memandang gadis cantik yang masih setia memandangnya sedari tadi.
"Lo yakin mau hidup susah sama gue? kadang sehari lo bisa ngga makan. lo sanggup?"
"Asal abang setia, aku sanggup." Sairish berucap yakin.
"Sinting ...."
"Aku waras kok."
"Ya udah, gue yang sinting!"
Pagi ini Nona Sairish Dayana Malik terlihat berada di Bandara Soekarno Hatta setelah dua minggu menghabiskan waktu liburnya sebelum memulai aktifitas sebagai mahasiswa. Nona Sairish, seperti biasa tidak pernah menampakkan wajahnya ke khalayak umum membuat publik bertanya-tanya seperti apa wajah putri tunggal dari mendiang tuan Pramudya Malik itu."
"Dan yang lebih menghebohkan lagi, seiring kemunculan Putri Mahkota Malik Corporation itu ke hadapan publik, berita tentang pertunangannya juga ikut terhembus. menurut sumber terpercaya, laki-laki beruntung yang akan bertunangan dengannya adalah putra salah satu pemegang saham Malik Corp. Nona Sairish yang sebelumnya tidak pernah terdengar kabar berita apapun setelah kematian almarhum kakeknya, mulai menampakkan diri ke hadapan publik. apakah ini pertanda bahwa sang putri mahkota akan mulai mem--."
Sairish langsung mematikan saluran TV dan melempar asal remotenya. Gadis itu mendengus geli.
"Gila ...! Siapa yang mereka rekam di Airport itu? benar-benar pembohongan publik. Aku bahkan ngga kemana-mana selama 2 minggu ini." gadis itu lagi-lagi terkekeh geli.
Dia sungguh tidak habis pikir, dari mana para wartawan itu punya ide gila memalsukkan dirinya hanya untuk sebuah berita kacangan seperti ini. beruntung Sairish tidak menuntutnya. Aah ... dia lupa, berita seperti ini sudah menjadi makanannya setiap saat. apalagi menjelang umurnya yang ke 19 tahun ini, semakin gencar saja orang-orang mencari celah kekurangaannya. Tapi jangan panggil dia Sairish kalau tidak bisa mengatasi itu semua.
"Dan apa-apan berita pertunangan itu, Mbak? sejak kapan aku mau tunangan dengan laki-laki brengsek kayak gitu. Aku belum gila mau jadi santapan buaya ompong."
Mita, gadis 27 tahun. Asisten pribadi merangkap sekretaris Sairish tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan gadis itu. dia merasa geli melihat wajah cemberut Sairish ketika diungkit soal mantan pacar yang baru diputusinya seminggu yang lalu setelah memergoki laki-laki itu having sex dengan perempuan lain.
"Loh, bukannya kalian memang mau tunangan ya?" Mita kembali menggoda Sairish, membuat gadis 18 tahun itu langsung memberikan tatapan membunuhnya pada Mita, membuat Mita lagi-lagi terkekeh geli.
"Mbak pikir, aku masih mau sama dia? Ck, mungkin bukan cuma perempuan itu yang dia tiduri, siapa yang tau. Dan aku ngga mau menjadi yang kesekian untuk dia. Najis, aku masih perawan gini, masa dapatnya yang bekasan gitu. Ngga adil banget."
Lagi-lagi Mita tertawa keras, merasa lucu dengan perkataan Sairish. "Yakin bakal dapat yang perjaka? Ballyan Regantara cakep loh, mapan lagi. cewek-cewek pada antri mau jadi istri dia, malah mungkin banyak juga yang mau jadi selingkuhannya juga."
"Idih, najis! aku bukan salah satu cewek idiot itu, mbak. emangnya spesies cowok di dunia ini udah punah sampe harus ngemis ke cowok modelan kardus kayak gitu? yang lebih cakep banyak, yang lebih mapan juga banyak, yang lebih berakhlak juga banyak, dan Regan ngga masuk dalam kriteria semua itu. Oh, by the way ... aku lebih kaya dari dia mbak. jadi, dia ngga punya harga di mata aku."
"Good, itu baru gadisnya mbak." Mita tersenyum puas mendengar perkataan Sairish. dia bangga pada gadis muda ini. Berbeda dengan sepupunya, Mikayla yang dari umur 17 tahun sudah mempunyai baby. Sairish tetap memegang teguh prinsipnya, sex after marriage. Tidak pernah mau terlibat pergaulan bebas, tapi sekali-sekali dia akan ke club bersama Mikayla dan Adena hanya untuk menghilangkan kebosannya.
Sairish seperti gadis yang lain, beberapa kali berpacaran dengan teman kampusnya, tapi hanya sebatas itu. Kata mantan-mantannya, Sairish membosankan. ya iya lah membosankan, wong mantan-mantannya itu mintanya sex. untung saja kepalanya tidak di tebas oleh Sairish.
"Makan yuk, aku lapar." Sairish mengelus pelan perut ratanya.
"Ngga jadi tunggu Mika sama yang lain?"
"Kelamaan, aku keburu pingsan nanti." Sairish berlalu menuju ruang makan meninggalkan Mita yang masih asyik dengan ponselnya.
****
Setelah selesai makan, gadis itu memilih masuk ke ruang kerjanya. Dia berniat menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum benar-benar menyerahkan tanggung jawab itu kepada Mita. Sairish hanya ingin istirahat sebentar, dia bosan dengan rutinitasnya selama ini.
Pintu ruangannya dibuka dari keluar, terlihat Mita berjalan masuk sambil menenteng iPad- nya. "Ada apa mbak?" Sairish melirik sebentar kemudian melanjutkan pekerjaannya tanpa memperdulikan keberadaan Mita.
"Meeting terakhir Rish, sebelum kamu cuti panjang." Mita memamerkan senyum lebarnya, membuat gadis itu kehilangan fokus. senyum terbit di bibir mungil Sairish, mendengar kalimat cuti panjang membuat syaraf-syarafnya langsung kendor. dia merasa 5 tahun lebih muda hari ini karna terlalu banyak tersenyum.
Ternyata kalimat cuti panjang bisa menutupi hati yang kesal karna memergoki pacar having sex dengan perempuan lain. Kalau suasana hati Sairish begini terus, ucapan selamat tinggal pada Ballyan Regantara tidak buruk untuk diucapkan sekarang. Dia akan gampang menjalani proses move on nya, walaupun gadis itu tidak benar-benar merasakan patah hati.
"Ingat ya mbak, selama aku cuti, jangan pernah ngerecokin aku. pokoknya aku vakum ya, ingat loh itu." Lagi-lagi Sairish mengingatkan tentang cuti-nya lagi membuat Mita memutar bola matanya bosan.
"Iya bawel, kamu udah ngomong itu lebih 10 kali hari ini. Aku belum pikun ya."
"Ya udah sih, mbk. Aku kan cuma ingetin." Sairish menyengir polos.
Gadis itu bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan keluar dari ruangan disusul oleh Mita. Jam 4.30 nanti dia harus meeting bersama salah satu klien perusahaannya.
Mita membantu Sairish untuk berdandan, disinilah letak perbedaannya. Sairish dengan setelan kerjanya akan terlihat jauh lebih dewasa dari umurnya sekarang, ditambah dengan tahi lalat besar disebelah kanan bibirnya hasil ciptaan Mita, juga kacamata besar yang membingkai mata cantiknya.
Dia sengaja berdandan seperti itu bukan tanpa alasan, terlalu banyak orang-orang yang ingin menjodohkannya dengan anak laki-laki mereka, hanya untuk harta semata. Siapa yang tidak tau otak licik para penguasa-penguasa itu, rela melakukan apa saja agar keinginan mereka tercapai termasuk menjual anak laki-laki mereka yang nyatanya selalu gagal terlaksana karna anak-anaknya malah dengan sengaja berselingkuh bahkan di depan wajah Sairish.
Tidak ada manusia yang tulus di dunianya Sairish, kecuali tantenya, Mikayla, mbak Mita, orang-orang yang bekerja di rumahnya, Adena dan Rara juga, serta keponakan kecilnya. Juga, mungkin ... laki-laki kecil di masa lalunya.
Sedangkan dandanannya di kampus seperti biasa. Tetap dengan wajah aslinya, dengan pakaian santainya. Hanya bedanya, di kampus dia hanya sebagai Sairish, bukan sebagai Sairish Dayana Malik, putri mahkota kerajaan Malik Corp. Bahkan di kampus, dia terkenal dengan gadis yang sangat amat sederhana. Saking sederhananya, dia akan berdebat hanya untuk uang fotocopy seharga 500 perak, beda tipis dengan pelit.
Sekarang mereka sudah berada di mobil menuju Cafe Carramel. Cafe yang dipilih langsung oleh rekan bisnisnya.
"Kenapa ngga di Arari Ovene aja sih? kita kan udah biasa ngadain rapat disana?" Sairish mendengus kesal sambil memeriksa berkas pekerjaannya.
"Pihak sana maunya di Cafe itu. Katanya sih, Ownernya itu adiknya dia gitu, makanya dia mau sekalian promosi." Mita menjawab santai.
"Idih, gokil. Ngapain dia promosi ke kita yang punya banyak Cafe. nyari teman saingan, baru pas itu." Sairish tertawa sinis.
Mita ikut-ikutan tertawa mendengar ucapan Sarkas Sairish. Gadis itu memang paling jago mendatangkan mood bagus untuk Mita.
Sairish masih duduk nyaman di Cafe Carammel setelah Meeting usai. pandangannya masih fokus melihat ke luar jendela ke arah tempat parkir motor dan mobil. Hari sudah menjelang magrib, lampu-lanpu jalan sudah mulai menyala, bahkan hujan sudah turun sejak satu jam yang lalu.
Meeting yang alot membuat kepala Sairish sedikit berdenyut, ditambah rekan bisnisnya yang sangat tidak tau diri. Bagaimana bisa hanya karna cafe ini milik saudaranya, dia melakukan Meeting di tempat terbuka seperti ini. Sairish tidak mempermasalahkan tempatnya, tapi suasananya. Suasana bising dan terbuka seperti ini membuat Sairish tidak nyaman. Konsentrasinya benar-benar buyar, alhasil sepanjang Meeting Mita lah yang mengambil alih. Sekretarisnya tau kalau suasana hati bosnya tidak baik, semuanya akan rusak. Dari pada nanti dia kena imbas dimarahi ibu Gloria, lebih baik sekarang mengalah pada mood buruk Sairish.
"Belum mau pulang?" suara Mita sedikit membuyarkan lamunan Sairish. Gadis itu menggeleng pelan.
"Ntar dulu, aku masih mau disini?"
"Kenapa? masih nyaman disini?"
Perkataan Mita yang disusul kekehan pelan itu langsung mengalihkan atensi Sairish secara penuh. Gadis itu memandang asistennya dengan raut jengkel. Dia mendengus sinis.
"Nyaman? in your dream mbak." Gadis itu memutar bola matanya malas. Pandangannya kembali fokus ke arah luar. membuat Mita mengernyit heran, apa yang membuat Sairish sampai fokus melihat ke bawah sana sedari tadi. Gadis itu bangun untuk berpindah tempat duduk menjadi diseberang meja, yang langsung berhadapan dengan Sairish. Matanya langsung fokus mengarah ke bawah kearah tempat parkir mobil dan motor. Tapi dia tidak menemukan apa-apa, hanya beberapa orang yang berteduh menunggu hujan reda saja, dan tukang parkir yang mondar-mandir mengatur keluar masuknya kendaraan. Tidak ada yang spesial menurutnya, gadis itu hanya bisa menggaruk kepalanya, bingung.
"Kamu dari tadi liatin apa sih, Rish? kok fokus banget. giliran Meeting aja langsung bad mood."
Tanpa mengalihkan perhatiannya, Sairish berucap. "Beruntung ini Meeting final-nya, kalo diawal, udah aku batalin kerja sama ini, ngga profesional." Gadis itu kembali mendengus kesal, "lain kali, cross check dulu tempatnya. Gimana bisa mbak langsung acc tempat Meeting penting di tempat kayak gini. Ini Cafe baru buka, masih ada banner promonya lagi. Ya, jelas rame lah, suara dari lantai bawah aja sampai kedengaran dari sini." Gadis itu sangat kesal, benar-benar merusak moment terakhir dia bekerja.
"Sorry, Rish. Ini terakhir deh." Mita memasang wajah memelasnya, membuat Sairish menjadi tidak enak sendiri.
Gadis itu Akhirnya mengalah, dia terkekeh pelan. "Iyalah terakhir, mbak. abis ini kan, aku libur panjang."
Sekarang gantian Mita yang mendengus kesal. "Untung gajinya gede ya, Rish."
perkataan Mita membuat Sairish mau tidak mau tertawa juga.
"Pulang, yuk, aku udah bosan disini."
"Aku malah udah bosan sedari tadi. suara musiknya bener-bener ganggu." Mita berucap sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Baru nyadar sekarang, Bu? setelah tiga setengah jam berlalu?" Sairish menyindir sambil berdiri, membenahi blazer-nya yang sedikit kusut, lalu berlalu dari sana disusul Mita yang hanya bisa tersenyum polos mendengar sindiran bosnya.
Sairish berjalan sambil memainkan ponselnya, dia tersenyum sendiri mendengar rentetan voice note yang dikirim keponakannya yang menyuruh dia cepat pulang, karna mereka sudah berada di rumah. Tidak lupa lollipop yang bertengger di tangannya yang sesekali dia masukkan kedalam mulut. Itu adalah kebiasaan Sairish, mengemut lollipop dimanapun dia berada. 'Dandanan boleh tua, tapi kelakuan tetap aja kayak bocah.' Mita membatin.
Ditangga terakhir, Sairish tidak sengaja menyenggol bahu seseorang karna terlalu fokus dengan ponselnya. Bunyi gelas dan piring jatuh menambah bising suasana Cafe itu, jangan lupakan tumpahan jus dan mie goreng yang berserakan membuat Sairish meringis pelan. Tumpahan jus itu bahkan mengenai sneakers putihnya, 'Anjiirrr, sepatu 67 juta gue.' Gadis itu berteriak dalam hati.
Sairish diam mematung begitupun orang yang disenggolnya. Perlahan pandangan gadis itu terangkat. Didepannya berdiri kaku seorang laki-laki dengan apron hitam di tubuhnya, sambil menatap nanar pada pecahan gelas dan piring beserta isinya yang berserakan di bawah lantai.
Belum sempat mereka bersuara, tiba-tiba dari arah belakang seseorang menarik keras lengan laki-laki itu sampai membuat sang empunya meringis pelan.
"Lo apain Client gue, pelayan?"
Bentakan keras yang dilayangkan orang itu sontak membuat Sairish terjengkit kaget. Gadis itu buru-buru mengeluarkan lollipop yang masih bertengger di mulutnya. Berniat memasukkan lollipop itu ke dalam saku blazer-nya untuk di sembunyikan, tapi belum sempat tangan itu masuk, sebuah tangan lain memegang erat lengannya. Sairish menoleh dan mendapati tatapan tajam dari Mita, sebuah gelengan pelan diberikan sekretarisnya membuat Sairish menyengir tanpa dosa.
Mita meraih lollipop itu dan meremasnya kuat. Lebih baik tangannya yang kotor, dari pada blazer Christian Dior yang harganya bikin ginjal Mita kejang-kejang itu yang terluka. Walaupun Sairish pemiliknya, tapi Mita lah yang mengasuh baby-baby mahal itu. 'Cukup sneakers, jangan lagi blazer. bisa beneran pingsan gue.' Mita membatin.
"Maaf pak Ryan, ini murni salah saya. Tadi saya yang ngga fokus karna sibuk bermain ponsel." Sairish akhirnya bersuara untuk memecah suasana canggung itu.
Seseorang yang tak lain rekan bisnis Sairish yang melakukan Meeting dengannya tadi langsung mengalihkan perhatiannya pada Sairish. Sambil tersenyum, Ryan kembali berucap. "Bukan salah Bu Sairish kok, pasti pelayan ini yang ngga bisa fokus bekerja."
Sairish memutar bola matanya jengah, 'dasar penjilat.' Sairish mengumpat dalam hati.
Tatapan tajam kembali Ryan layangkan pada laki-laki itu. senyumannya terlihat sangat meremehkan. "Kalo lo ngga niat kerja, keluar sekarang. Cafe ini baru buka, jangan bikin masalah lo."
"Mas apa-apaan sih? kenapa bentak Sean kayak gitu?" tiba-tiba dari arah dapur Cafe, muncul seorang gadis dengan raut kesalnya, Carramel Macha. Owner sekaligus adik dari Ryan Prayoga.
Laki-laki itu mendengus sinis melihat raut kesal adiknya. "Pelayan kesayangan lo nih bikin ulah, pecat dia gih."
Carramel memelototkan matanya kaget. "Mas ini ngomong apa sih?"
"Ngga usah macam-macam lo. Gue laporin papa, mampus deh." Ryan tertawa keras yang terdengar menyebalkan ditelinga Sairish.
'Bocah prik. Badan doang gede, tapi kelakuan udah kayak bocah tukang ngadu karna ngga diajak main sama teman-temanya. Attitude nol, ngga ramah ah, kasih bintang satu!' lagi-lagi Sairish mendumel dalam hati.
"Begini saja pak Ryan dan mbak Carramel, berhubung yang salah memang bos saya, jadi sepantasnya lah bos saya yang bertanggung jawab, bukan malah melempar kesalahan pada orang yang tidak tau apa-apa." Akhirnya Mita menengahi drama persaudaraan ini, mungkin dia sama kesalnya juga dengan Sairish. "Jadi, berapa yang harus kami ganti?" Kembali Mitha bersuara.
"Tidak usah ganti rugi Bu Mitha, Bu Sairish tidak salah. mungkin tadi beliau tidak sengaja." Ryan tertawa canggung melihat wajah serius Sairish dan Mitha. "Saya akan menyuruh pelayan ini untuk minta maaf pada Ibu Sairish, bila perlu dia harus berlutut agar masalahnya cepat selesai."
Terlihat jelas raut terkejut dari laki-laki itu, tangannya terkepal erat. Terlihat menahan marah tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan Sairish juga sudah benar-benar jengah mendengar kata-kata tidak sopan dan terkesan arogan yang dilayangkan Ryan pada laki-laki itu. Apa haknya dia sampai berani merendahkan orang lain. Bahkan laki-laki itupun tidak pernah mengeluarkan suaranya sedari tadi walaupun dikata-katai.
"Saya yang harusnya minta maaf pak Ryan, karna saya yang salah. sangat tidak sopan kalau saya bertingkah seolah saya yang tidak bersalah disni. lagi pula saya bukan tuhan, untuk apa dia harus berlutut. saya bukan orang yang haus pengakuan, tapi kalau pada orang-orang sombong sih, boleh juga!"
Ppffftt ... Mita berusaha menahan suara tawanya mendengar ucapan sarkas Sairish, Gadis itu selalu bisa diandalkan untuk menjatuhkan mental orang-orang sombong. Dan Mita sangat bangga untuk itu. Sedangkan Ryan yang merasa disindir langsung bungkam dan hanya bisa memberikan senyum kakunya.
"Saya minta maaf Mas ... Sean?" Sairish meraih tangan laki-laki itu, mengurai pelan kepalan tangannya dan menjabatnya erat. Tidak peduli wajah shock yang ditampilkan laki-laki yang bernama Sean itu.
Tangan Sean terasa hangat. Sairish pernah merasakan tangan hangat seperti ini, mungkin sekitar ... 7 atau 8 tahun lalu? entahlah, Sairish lupa. Merasakan lagi hangat telapak tangan seperti ini membuat Sairish menginginkan lebih.Tapi sangat tidak mungkin untuk mengajak Sean berjabat tangan setiap hari. Mereka tidak saling kenal, dan itu akan terlihat sangat aneh kalau Sairish mendekati Sean terlebih dahulu hanya karna perkara tangan hangat saja.
Akhirnya masalahnya selesai juga, hampir 20 menit berdiri membuat kaki Sairish pegal dan sedikit kesemutan. Setelah berpamitan, Sairish dan Mita berniat pergi. Tapi sebelum mereka sampai di pintu keluar, Sairish kembali melihat ke belakang, kearah gadis yang sedang berbicara dengan Carramel itu, gadis yang dibawa oleh Ryan tadi. Gadis yang bernama Tiana, gadis yang sama yang dia temui sedang bergumul dengan Regan seminggu yang lalu di kamar apartemen laki-laki itu.
Sairish tersenyum miring, "bitch ...."