Bab 1

Saya yang masih terjaga sedikit kaget takutnya ada apa-apa di luar sana dan segera bergegas membuka tenda. Tapi dari tenda sebelah mba Ani menyaut, "Iya saya disini, Anak PI bukan?"

"Iya mba," sahut pendaki tersebut dan ternyata ada 2 orang dan tampaknya baru sampai karena mereka track malam dan hanya berdua saja.

Mba Ani pun keluar tenda dan mengobrol bersama mereka dan ternyata memang satu organisasi pendakian sama-sama anak PI. Namanya bang Eko sama Kang Erik dari Cirebon dan Bandung dimana mereka dikasih tahu pak Burhan di Basecamp kalau mba Ani juga mendaki dan udah jalan duluan.

Mereka pun ngobrol lumayan lama namun karena saya ngantuk dan nyiapin tenga buat summit akhirnya memilih tidur. Baru juga memejamkan mata mba Ani manggil-manggil, "Di, besok summitnya bareng mereka berdua aja. Mereka mau summit katanya besok."

"Iya mba siap."

"Oya itu sayur sisa mau dimakan atau nggak? Kalau nggak buat mereka aja ya," lanjut mba Ani.

"Ambil aja mba itu di dekat kompor, saya tidur duluan ya ngantuk nih," sambil kembali mengatur posisi tidur.

Jam 1 malam saya terbangun namun masih mager mau keluar atau sekadar buat air hangat untuk persiapan summit attack. Akhirnya karena perjanjian bakalan summit bareng jam 4 jadi ya udah saya coba tidur lagi deh. Namun mata malah tetap terjaga dan susah tidur lagi alhasil akhirnya malah kebelet ke belakang. Dan malam-malam jam setengah 2 saya keluar tenda dan menuju toilet sendirian. Namun sempet kaget juga kenapa ini temannya mba Ani bikin tenda kok ngehalangin jalan gini. Jadi kalau mau keluar harus melewati bekas kolam air mancur yang sudah kering.

Pas sampai di camp area utama pos 4 ternyata sudah rame banget pada persiapan untuk summit attack. Karena memang disarankan untuk mulai summit attack paling lambat jam 3 dini hari jika ingin mendapatkan pemandangan sunrise di puncak Gunung Slamet via jalur Permadi Guci ini.

Setelah kembali ke tenda malah masih gak bisa tidur alhasil langsung membuat coklat hangat 2 gelas karena sudah jam 3 pagi. Sekalian makan nasi sisa yang saya kira diambil sama bang Eko dan kang Erik semalem. Ternyata mereka hanya mengambil sayur sopnya aja tapi nasinya gak diambil juga. Ya udah sikat aja sama abon sapi dan sambal yang dingin-dingin diaduk. Walaupun dingin tapi tetap maknyus. Soalnya lagi laper banget deh ditambah dengan coklat anget mantul banget deh.

Saya coba bangunin mas Rona yang katanya susah di bangunin. Dan ternyata emang susah banget udah bilang iya summit eh malah lanjut molornya, hadeh. Udah berkali-kali di bangunin di gangguin tidurnya tapi tetap aja gak bangun-bangun. Padahal udah bikin coklat anget 2 gelas nih sengaja satunya buat mas Rona tapi sampai si coklat kembali dingin masih lanjut juga ini mimpinya mas Rona.

Jam 4 kurang 15 menit masih gak bangun juga baik Mas Rona maupun dua orang teman Mba Ani. Membuat saya berfikir ya udah deh gak jadi summit lagi ini mah, mana rombongan Bandung udah berangkat duluan karena ngajakin jam 3 malam jalannya. Akhirnya satu gelas coklat yang udah mulai dingin pun saya minum lagi dan setelahnya berniat buat hibernasi dan masuk kembali ke dalam SB.

Belum habis si coklat dingin tiba-tiba terdengar bunyi resleting tenda di buka dan arah suaranya dari tenda temannya mba Ani. Saya senterin kearah pintu tendanya tapi gak ada orang yang buka resletingnya. Bahkan saya panggil, "Mas udah bangun? Summit yuk udah mau jam 4 nih." Tapi tak ada jawaban dari tenda tersebut.

Saya tungguin cukup lama tapi gak ada yang keluar dari tenda maupun suara dari dalam tendanya yang menandakan keduanya telah bangun. Namun tepat jam 4.00 pagi tiba-tiba ada suara rame dari dalam tenda tersebut. Dan kali ini kedua teman Mba Ani tersebut sudah bangun dan tampak tergesa-gesa.

"Mas jam berapa? Jadi ikutan summit gak?" tanya salah satu dari mereka yang masih di dalam tenda.

"Udah jam 4 pas nih, Udah siap nih saya tinggal gas aja,"

"Masnya mau ngejar sunrise atau yang penting sampai puncak? Soalnya kalau ngejar sunrise udah kesiangan kita tapi kalau yang penting sampai puncak mah hayu kita gas," tanya Bang Eko yang tampak lagi ribut beres-beres buat persiapan summit.

"Hayu yang penting sampai puncak, gak dapet sunrise gak apa-apa."

"Oke bentar mas kita siap-siap dulu."

Jam 4.15 pagi saya, bang Eko dan kang Erik mulai jalan summit attack ke puncak gunung tertinggi di Jawa Tengah ini. Bagi saya dan kang Erik ini summit attack pertama untuk jalur Permadi Guci, namu n bagi bang Eko ini kali ke 5 nya summit di jalur Permadi Guci ini.

Seperti biasa selama perjalanan dari pos 4 ke pos 5 kita bercerita tentang pengalaman selama di gunung. Namun selepas subuh tiba-tiba bang Eko bercerita tentang hal-hal yang ia alami barusan di tenda. Katanya semaleman gak bisa tidur karena di dalam tenda terutama di bagian kakinya ada angin muter di dalam tenda.

"Semalem tuh gak bisa tidur, di dalem tenda ada angin muter gitu jadinya dingin," cerita bang Eko.

"Terus baru aja bisa tidur merem eh tiba-tiba saya mimpi ada yang buka tenda kita 2 orang laki cewe, terus dia bilang, 'Woy bangun itu ada anak PI ngajakin summit tuh' seketika gue langsung bangun dan heran karena resleting tenda masih tertutup,"

"Gue bangunin Erik tuh sambil tanya tadi denger gak yang bangunin kita dua orang dan buka tenda, namun Erik gak denger. Fix berarti gue doang yang denger itu di mimpi. Udah gitu dua orang pendaki yang bangunin kita itu mukanya rata dua duanya. Makanya tadi pagi bangun-bangun langsung ribut krusak-krusuk."

"Oh, pantes saya denger ada suara resleting kebuka tapi gak ada suara orang bangun sebelum jam 4 itu. Baru jam 4 tenda kalian rame tuh krusak-krusuk berarti udah bangun," sambung saya.

"Berarti bener yang bangunin gue itu penunggu tempat itu. Soalnya kita camp di tempat VVIP dan dulu ada kolam di sana dan air mancurnya loh," kata bang Eko.

Lalu bang Eko pun bercerita tentang beberapa pengalaman mistisnya selama mendaki gunung, mulai dari mendaki sampai seharin dan sampai kemalaman tapi gak sampe-sampe di gunung Sindoro, hingga pengalaman mistisnya di gunung Ciremai dan Gunung Prau via Wates.

Saya pun ikutan bercerita tentang pengalaman kemalaman di Gunung Ciremai hingga yang baru beberapa minggu lalu di Sindoro dimana saat waktu menjelang maghrib saya mendengar suara seperti batu jatuh menggerinding di dekat jalur pendakian namun gak ada apa-apa yang jatuh. Dan saat itu saya sedang memotret sunset di pos 3 agak keatas sedikit di gunung Sindoro via Ndoroarum. Dan itu berhasil membuat saya agak bergidik dan langsung kembali ke tenda.

Akhirnya setelah berjalan sekitar 2 jam an sampai juga di batas vegetasi atau Pos 5.1 (karena ada pos 5.2 yang ada tulisan papan Pos 5 Watu Ireng nya agak naik keatas sedikit). Lalu bang Eko melakukan Adzan di Palawangan dimana hal ini memang sudah menjadi tradisi warga Guci jika mendaki gunung Slamet dan sampai di Palawangan maka hal pertama yang dilakukan adalah Adzan.

Memang kearifan lokal ini sangat membantu pagi para pendaki dan warga Guci sejak zaman dahulu. Bahkan pak Burhan, ketua basecamp Permadi pernah bercerita bahwa kalau misal sampai palawangan itu kita harus adzan dulu sebelum lanjut kepuncak. Dimana manfaatnya jika kabut tebal maka disarankan untuk adzan di 4 penjuru mata angin. Insyaallah tak lama kabut bakalan terbuka dan cerah. Makanya orang Guci selalu melestarikan kearifan lokal ini salah satunya yaitu mengumandangkan adzan ketika sampai di Palawangan atau batas vegetasi. Dan itu dilakukan sejak zaman dahulu kala.

Setelah melewati jalur yang lumayan menguras tenaga ditambah matahari yang memanas. Akhirnya jam 11 siang kita sampai di titik tertinggi Gunung Slamet yakni puncak Pahlawan/Puncak Surono. Sejenak beristirahat dan foto-foto serta membuat kopi. Sekitar tengah hari kita turun lagi. Namun bang Eko diminta bang Demit yang ketemu pas di jalur summit buat jadi sweper di puncak. Dan tentu saja yang namanya sweper pasti turunnya terakhiran.

Bang Eko pun menyuruh saya dan kang Erik buat turun duluan nanti di susul katanya. Usai bilang seperti itu saya merasakan deJavu di puncak Slamet ini ketika melihat ada pendaki lain yang pegang papan nama puncak berfoto. Kejadian tersebut seperti pernah saya alami sebelumnya entah di mimpi atau di mana.

Usai menghabiskan kopi akhirnya saya dan kang Erik turun duluan, sementara bang Eko masih nungguin rombongan Karawang foto-foto di puncak sebelum akhirnya merekapun turun. Dibawah teriknya matahari yang tepat diatas ubun-ubun, saya dan kang Erik pun perlahan mulai menelusuri trek turun dan sesekali berhenti untuk mengatur nafas ditengah kondisi panas.

Jika pas naik tadi seru banget ketika berpegangan dengan tali webbing yang dipasang pihak pengelola. Namun pas turun tangan ini rasanya panas karena harus menahan tubuh yang meluncur dan berpegangan dengan tali webbing. Makanya harus banget pake sarung tangan yang kokoh ya karena gesekannya mampu membuat sarung tangan saya aja terkelupas namun masih aman sih.

Lalu diakhir trek tali webbing kita bertemu dengan salah satu pendaki dari Karawang yang sedang duduk di pinggir trek dan nampak kelelahan. Pas kang Erik tanya ternyata dia kecapean dan kehabisan air ditambah lagi kakinya sedikit bermasalah. Akhirnya kita bagi air dan coba untuk bantu memijat urat betisnya yang bermasalah.

Ia pun memilih istirahat dulu dan minta tolong kepada kita untuk bilang ke rombongannya di camp pos 4 biar tidak ditinggalin turun. Akhirnya setelah bang Eko mulai turun dari puncak bersama pendaki dari Karawang. Kita sepakat bahwa saya dan Kang Erik turun duluan untuk ngabarin temannya dan juga ranger. Sementara bang Eko menemani si pendaki cidera ini sekalian menyelesaikan tugas yang diminta Bang Demit untuk jadi sweeper summit hari ini.

Saat turun sampai di Palawangan tepatnya pos 5 Watu Ireng kita bertemu dengan bang Demit dan mengabarkan perihal pendaki yang cidera tersebut. Dengan santainya bang Demit berkata, "Aman kok, gak apa-apa di tinggal aja nanti juga dia turun. Apalagi ada Eko disana."

"Padahal tadi udah dibilangin mending balik lagi aja bareng teman-temannya. Tapi tuh bocah ngeyel tetep mau sampe puncak ya udah biarin aja," sambil tetap mantau para pendaki yang turun summit.

Kita pun istirahat sejenak di pos 5 sebentar sebelum lanjut turun karena waktu sudah menunjukkan jam 14.45 alias hampir jam 3. Jadi dari puncak ke palawangan molor lama banget bisa sampe hampir 3 jam karena nemenin pendaki yang cidera terlebih dahulu.

Dengan air yang habis dan juga tenaga yang sudah menipis saya dan kang Erik kembali melanjutkan perjalanan turun dan kini medannya agak sedikit enak karena sudah masuk hutan. Baru berjalan sekitar 15 menit kita bertemu dengan ranger basecamp yang bawa Air dan Logistik untuk swiping pendaki yang turun summit. Kita pun minta air untuk bekal turun termasuk para pendaki lainnya karena memang hampir semuanya kehabisan air selama turun summit.

Akhirnya kita sampai di camp area Pos 4 sekitar jam 4 sore dengan 3 kali istirahat karena kang Erik merasa gendongan tas nya gak enak ditambah lagi tenaga sudah habis dan dari pagi cuma makan mie kremes aja sama roti dan biskuit. Ya intinya kurang asupan logistik dan gak makan nasi dulu. Apalagi perjalanan sampai makan waktu dari jam 4 pagi sampai jam 4 sore yang tentu saja itu sudah melewati jam sarapan dan makan siang normal kita.

Setelah sampai pos 4 langsung kita cari temannya si pendaki yang cidera tersebut dan minta untuk tidak meninggalkan dia turun. Padahal mereka sedang sibuk packing di dalam tenda dan ada beberapa yang sedang bikin makanan. Setelah itu kita langsung menuju tenda dan pas datang langsung di sambut sama mba Ani, Mas Rona dan Mas Catur yang sedang duduk santai sambil berkengkrama di depan tenda. Dan tentu saja sajian makan siang dari chef andalan kami, mba Ani sudah siap untuk di santap dan berjejer di depan tenda. Kerennya mereka bertiga nungguin kita datang dulu baru mulai makan siang bareng-bareng untuk tenaga turun gunung.

"Kok, lama banget turunnya? Biasnaya jam 1 palign telat ya jam 2 udah sampai pos4 lagi?" tanya mba Ani yang memang sudah pernah summit attack sehingga tahu estimasi waktunya.

"Tadi tuh ada pendaki yang cidera jadi kita nemenin dulu. Lalu sekarang bang Eko masih diatas sana nemenin. Dan kita turun duluan soalnya harus ngabarin temennya si pendaki biar gak ditinggalin turun ke basecamp."

Kita pun istirahat sejenak sekaligus melepas lelah dan dahaga sembari memulihkn tenaga. Saya pun masuk ke dalam tenda untuk menaruh tas kamera dan mencari cemilan yang tersisa di dalam tenda. Namun dari luar mas Rona manggil.

"Mas, itu di cariin temannya sini keluar."

Dengan penasaran saya pun keluar tenda sambil terheran-heran dan dalam hati bergumam perasaan gak ada temen saya yang naik bareng deh kecuali rombongan ini. "Mana?"

"Itu diatas lagi duduk," kata mas Rona sambil menunjuk dua ekor monyet yang sedang asyik duduk anteng diatas pohon di sebrang tenda kita.

"Aseeeem kirain orang,"

Namun dalam hati saya langsung teringat kembali pada dua pendakian saya sebelumnya dimana bertemu dengan monyet yang anteng duduk diatas pohon sambil memperhatikan kita. Dan tentu sesuai pengalaman saya bertemu dengan monyet yang seperti itu, otomatis di dekat situ ada makhluk lain yang tak kasat mata entah itu di dekat kita atau tak jauh dari kita.

Soalnya pas di Gunung Gede juga seperti itu dan nyatanya temen saya yang indigo melihat tante putih sedang duduk manis di pinggir jalur. Dan tentu saja di atas pohon ada dua monyet yang sedang duduk anteng memperhatikan kita di jalur pendakian.

Lalu kejadian kedua saat pendakian gunung Slamet via jalur Bambangan tepatnya sebelum masuk pos 4 Samaranthu kita juga bertemu dengan kawanan monyet yang sedang duduk anteng diatas pohon. Dan seketika hawa di sana begitu mencekam dan bawaannya pengen cepet-cepet jalan dan ninggalin daerah situ. Tahu sendiri kan pos 4 Samaranthu jalur bambangan itu bagaimana terkenalnya tempat paling mistis. Sesuai namanya Samaranthu yang artinya hantu yang samar-samar.

Bab 2

Alex menuturkan saat itu ia pergi mendaki bersama dua rekannya, Iqbal dan Gagah pada bulan Januari 1985.

Alex mengaku peristiwa itu bermula setelah tiba di Puncak Gunung Slamet dengan ketinggian 3428 MDPL sempat memetik bunga Edelweis hingga terkena kabut tebal, pada 6 Januari 1985.

"Sampai saat ini, itu kabut paling tebal yang pernah saya lihat dan alami itu terjadi di Gunung Slamet waktu musibah itu dan itu sudah tersesat," kata Alex di Channel Youtube RJL 5 - Fajar Aditya

Menurutnya, situasi pendakian Gunung Slamet pada tahun 1985 itu sangat berbeda dengan sekarang.

"Kalau saya lihat sekarang anak-anak SMP, kadang anak SD aja saya bisa ketemu berada di Puncak Gunung yang ketinggiannya diatas 3000 MDPL, kalau dulu tidak mungkin," kata Alex.

Jadi, kata Alex saat melakukan pendakian gunung di tahun 1985 itu, jika ketinggian di bawah 3000 MDPL itu tidak dihitung.

Tidak dihitung di kalangan kami ya temen-temen. Jadi kalau ada yang mendaki gunung dibawah ketinggian 3000 itu pasti ditanya apa sih istimewanya," ujarnya.

Singkat cerita, kata Alex ada satu momen hingga sekarang sangat membekas dalam dirinya.

"Jadi ada semacam rasa perih yang mengalir kalau mengingat momen itu, jadi sehabis solat subuh, Iqbal meminta izin untuk mengambil bunga Edelweiss dan saya bahkan membantunya," ungkap Alex.

Padahal Alex paham betul, Edelweiss itu hendak diberikan pada siapa oleh Iqbal.

"Jadi kami ini terlibat pada, ya katakanlah cinta segitiga, jadi ada satu teman cewek, satu kelas, satu jurusan saya dan Iqbal jurusan pendidikan bahasa Inggris," katanya.

Alex mengaku menyatakan cinta kepada wanita yang disukai Iqbal dan akhirnya diterima.

"Tetapi karena pada saat itu liburan, jadi saya sama Iqbal tidak banyak komunikasi, selang beberapa saat setelah saya menyatakan, Iqbal juga menyatakan hal yang sama pada dia," katanya.

Menurutnya, gadis yang diperebutkan itu berada pada posisi rumit. Sebab tahu bahwa Alex dan Iqbal itu sangat solid.

Nah keputusannya yang menurut saya salah, tidak menjawab, iya atau tidak, tapi dia menangis kemudian lari masuk kamar, celakanya oleh Iqbal itu ditafsirkan menerima," tutur Alex.

Alex menuturkan Iqbal tidak tahu dan si wanita yang dinyatakan cintanya itu tidak bicara juga.

"Nah ini terbuka ketika saya memulai pendakian mampir ke rumahnya Iqbal. Iqbal cerita aku sekarang nggak jomblo, kamu nggak bisa lagi bilang aku jomblo," ucapnya.

Sempat terjadi perdebatan dan akhirnya Alex mempersilahkan untuk bersama wanita itu dan biar dirinya tidak jadi.

Iqbal malah bilang ingin Alex sungguh-sungguh dengan wanita ini. Kemudian Iqbal mengungkapkan bahwa naik ke Gunung Slamet itu untuk memetik bunga Edelweiss sebagai yang pertama dan terakhir.

"Bunga itu akan diberikan pada anak (wanita itu) lalu kija kunjungi rumahnya di Purworejo. Nanti selesai pendakian Gunung Slamet kita kunjungi saya serahkan bunga ini lalu saya akan minta maaf," ucap Alex menirukan ucapan Iqbal.

Jadi kata Alex bunga Edelweiss itu akan diberikan kepada gadis yang menerima cintanya.

"Ini perasaan yang nggak karu-karuan itu timbul karena pada saat setelah selesai solat subuh itu, sahabat saya memetik bunga untuk diberikan kepada kekasih saya," kata Alex.

kisah mistis gunung slamet via permadi guci

Mendaki gunung memang mampu membuat kita bersyukur dan juga bisa berkenalan dengan alam dan segala isinya. Dan tentu saja hal tersebut tak jarang membuat candu dan begitu menarik untuk kembai ke gunung tersebut. Itu pun terjadi pada saya (panggil saja Adi) yang sudah jatuh cinta ke jalur pendakian Gunung Slamet via Permadi Guci sejak pendakian pertama pada Februari 2021 lalu.

Namun sayangnya di pendakian pertama ini saya gagal summit attack dan hanya sampai di Camp Area Pos 4 saja. Karena mengalami batuk-batuk akibat diguyur hujan lebat terus menerus dari mulai pos 1 hingga ke pos 3. Ditambah lagi memang badan agak kurang fit karena kebanyakan begadang lembur kerja.

Hingga malam harinya mulai batuk-batuk terus dan badan agak menggigil (tapi bukan kena gejala hipo ya) dan tak bisa tidur. Akhirnya paginya gak summit attack dan turun duluan bareng 2 orang teman yang juga gak ikut summit karena spatu jebol dan juga agak kurang fit karena dihantam hujan lebat pas pendakian kemarinnya.

Pada awal September 2021 tiba-tiba mba Ani mengirim pesan dan ngajakin ke Slamet via Permadi lagi karena nganter temannya dari solo yang pengin ke sana. Akhirnya ya kita sepakat awal Oktober gas ke Slamet via Permadi Guci sekalian saya remidi summit attacknya. Mba Ani sendiri merupakan spesialis koki gunung andalan dan yang pertama kali ngajakin saya ke Slamet via jalur Permadi Guci dulu.

Singkat cerita awal Oktober pun tiba dan kita janjian di basecamp Permadi Guci dimana saya sendiri dan mba Ani bersama 2 orang teman lainnya Mas Catur orang Slawi dan Mas Rona yang asalnya dari Solo sementara kalau mba Ani sendiri gak jelas asalnya katanya karena Rumah di Magelang dan domisili di Jogja, he he he. Kalau saya sendiri asli dari Brebes barat perbatasan sama Jawa Barat dimana bisa bahasa Sunda sama Jawa, eh.

Jam 9 siang kita mulai repacking di basecamp Permadi Guci setelah sebelumnya berbincang dengan pak Burhan Ali yang merupakan salah satu pengurus basecamp Permadi Guci. Karena pendakian kita pada weekend alias Sabtu Minggu 2-3 Oktober 2021 sehingg basecamp lumayan rame oleh para pendaki dari daerah lain.

Namun kebanyakan mereka dari rombongan Karawang, Bekasi, Cikampek yang merupakan open trip. Lalu ada beberapa kelompok kecil yang dari Bandung, Cirebon, dan tentu kelompok kita yang gado-gado karena gak bisa dibilang mewakili satu kota tapi gunung yang menyatukan kita.

Jam setengah 10 pagi kita mulai melangkah dan memulai pendakian setelah sebelumnya foto bareng di depan basecamp bersama pak Burhan buat kenang-kenangan. Kalau kata mba Ani sih mumpug masih pagi dan muka masih seger dan cakep.

Sesuai kesepakatan saya sendiri memilih berjalan kaki dari basecamp karena memang mau bikin konten video kan sayang banget kalau naik ojek, buat menghemat pengeluaran juga sih, eh. Sementara Mba Ani dan Mas Rona naik ojek sampai gerbang Permadi Junggle (batas ladang) sementara Mas Catur ngojek sampai pos 1 karena memang sudah vakum mendaki lebih dari 1 tahun sehingga tak mau ambil resiko memperlambat jalan kita.

Singkat cerita akhirnya saya sampai juga di Gerbang Permadi Junggle dan sudah di tunggu oleh Mba Ani dan Mas Rona. Dan kini tinggal lanjut ketemu sama Mas Catur yang menunggu di pos 1. Menurut saya sayang juga sih kalau ngojek langsung ke pos 1 karena sebenarnya view utama jalur Permadi Guci berada di antara Permadi Junggle hingga pos 1. Jadi buat foto-foto cucok banget deh viewnya bagus ditambah lagi kita lewatin beberapa kali dan air terjun aka curug.

Sama selama perjalanan ke pos 1 itu isinya bonus semua loh karena yang nanjaknnya isa dihitung jari loh. Menurut saya ini sangat enak buat pemanasan kaki dan tenaga serta aklimatisasi tubuh terhadap cuaca dan keadaan di jalur pendakian ini. Setelah berjalan sekitar 1,5 jam akhirnya kita sampai di pos 1 sekitar jam 11 an. Istirahat sejanak dan akhirnya kita lanjut lagi memulai menapaki hutan lumut jalur permadi Guci dengan trek menanjak.

Awalnya pendakian berjalan seperti biasa hingga Mas Catur merasakan troubel pada kakinya karena sudah lama gak naik gunung. Ya ibaratnya otot-otot kakinya kaget karena dah lama gak diajak piknik ke gunung. Untung kagetnya gak bilang ayam-ayam-ayam digreng dadakan, eh.

Kita pun memperlambat tempo pendakian untuk mengimbangi Mas Catur sembari sesekali berbincang dengan pendaki dari rombongan lain. Dan saat ketemu dengan rombongan Cirebon ada salah satu anggota mereka yang mendaki tanpa alas kaki alias nyeker.

"Mas kok mendaki nyeker?" tanya saya penasaran.

"Udah biasa kaya gini lebih enak mas," jawabnya sambil senyum dan mengatur nafas.

"Kirain lagi latihan ilmu apa gitu atau lagi ngetes sepatu model baru, spatu transparan" sontak si mas dan teman-temannya langsung pada ketawa.

Memang obrolan-obrolan ringan seperti ini saat di trek begitu bikin rindu dan siapa tau kalian bisa ketemu jodoh gara-gara obrolan ringan di trek pendakian kaya gini. dari awalnya cuma iseng nyemangatin tiba-tiba berlanjut ke kenalan hingga sampai puncak bareng lalu pas udah sampe bawah eh ditinggali, ups.

Tak lama kemudian saat mau istirahat di pinggir jalur tiba-tiba Mba Ani menemukan kacamata hitam yang tergeletak di batang kayu yang jadi tempat duduk di pinggir jalur. Akhirnya kita tanykan ke rombongan bekasi yang ada di depan kita namun tak ada yang kehilangan kacamata. Hingga sambil berjalan saya terus menanyai rombongan pendaki yang sedang istirahat karena siapa tahu ada salah satunya pemilik kacamata tersebut.

Namun beberapa rombongan yang ditanya tak ada yang kehilangan kacamata hitam tersebut. Lalu kita berjalan lagi dan Mba Ani yang berada di depan saya tiba-tiba bilang, "Di, cob tanya itu bapak tua itu siapa tahu kacamatanya." sambil memberi isyarat ke saya ke Bapak Tua yang sedang istirahat di pinggir jalur memakan snack coklat sendirian. Padahal pas papasan di bawah berdua sama temannya dan ternyata temannya istirahat sekitar 10 meter dari bapak tua itu.

"Pak, kacama...." belum juga selesai bertanya tapi tiba-tiba si bapak menggeram sambil melihat kearah saya dengan tatapan tajam dengan muka pias sambil menggeram "hrrrmmrmmmm hrrrmrmmmm...." namun agak pelan. Pkoknya kaya orang gak suka dan sedikit horor gitu deh bahkan perasaan saya juga gak enak banget. Dalam hati wah ini sih gak bener nih apa karena saya kurang sopan nunjukin kacamata.

Saya pun melewati si bapak sambil bilang misi pak, dan baru saja sekitar lima langkah melewatinya tiba-tiba geramannya semakin kencang dang seperti geraman harimau. Bahkan Mas Rona yang sedang backup mas Catur di depan mba Ani langsung sadar karena geraman tersebut.

Dengan cepat teman si bapak itu langsung turun dan mencoba menenangkan si bapak. Saya dan mas Rona pun ikutan turun karena ini sepertinya ada sesuatu. Mas Rona yang juga pernah dapat pelatihan sebagai SAR pun melakukan beberapa pertolongan dan langsung mengetahui kalau si bapak ini ketempelan. Ditambah lagi muka si bapak ini pucat pasi banget kaya orang mau pingsan gitu.

Namun si bapak masih menggeram-geram lalu saya coba buka 2 tas pinggang yang melilit di lehernya. Dan agak sedikit sulit membukanya karena terlilit dengan rambut gondrongnya dan juga si bapak agak kaku badannya.

"Coba itu di usap ubun-ubunnya sama mukanya di usap air," kata salah satu pendaki rombongan Bekasi yang melewati kita yang sedang panik. "Si bapak istirahat di situ tadi gak permisi soalnya," lanjut dia.

Memang di di sebelah kanan ada pohon besar juga dan membuat kondisi semakin mencekam. Ditambah lagi setelah lihat jam ternyata menjelang waktu Dzuhur dimana waktu tengah hari ini memang rawan terjadi sesuatu yang seperti ini.

Beruntung si bapak mulai pulih setelah 2 tas pinggang yang melilit di lehernya berhasil saya dan mas Rona lepas. Lalu disuruh minum dan cuci muka sama ubun-ubunnya 3 kali. Melihat sudah agak baikan, teman si bapak ini meminta izin ke kita untuk mengejar temannya di depan nanti buat ngabarin sekaligus membackup.

"Pak, gak apa-apa?" tanya mas Rona memastikan bahwa udah baikan.

"Gak apa-apa," jawab si bapak yang dipanggil Abah oleh teman-temannya ini.

Dalam hati wah bener nih tadi ketempelan nih si Abah, beruntung gak sampe ngamuk-ngamuk parah. Saya pun tak sengaja memegang kayu tempat si bapak bersender dan tiba-tiba tangan saya terasa panas seperti ada tangan yang memegang gitu tapi panas. Dan langsung saya lepas pegangan saya dari kayu tersebut. Dan mengajak si Abah buat pindah lokasi untuk duduk istirahat sejenak.

Lalu setelah agak mendingan dan sadar seutuhnya si Abah pun bercerita kalau tadi dia tuh capek lalu istirahat di situ dan rasanya ngantuk banget namun karena lapar dia buka snack coklat dan baru satu suap. Tiba-tiba dia tertidur tanpa sadar dan bagun-bangun pas kita ngelepas tas pinggang dari lehernya dan ngasih air minum.

"Kayanya saya kesedak tadi karena makan coklat," aku si Abah. Tapi tetap saja kalau cuma kesedak mah gak separah itu ditambah lagi memang hawa di situ sangat beda banget. Beruntung si Abah gak parah ketempelannya dan masih bisa sadar.

Saya sarankan untuk istirahat dulu dan perutnya diisi dulu karena kemungkinan karena lelah, dingin dan kurangnya asupan makanan alias laperpedia. Si Abah pun langsung membongkar isi kerilnya dan mengeluarkan 1 box tuperware gede yang isinya kurmas sama anggur. Tapi salahnya ditaruh di paling atas kerilnya padahal berat itu ada sekiatar 2-3 kg an itu.

Sambil menunggu temannya turun dari atas kita pun berbincang dengan si Abah sambil menikmati kurma dan anggur yang begitu menyegarkan dan jadi tambahan energi. Apalagi kurmanya yang manis banget tentu saja buat tenaga kembali full.

Si Abah memang pendaki sepuh banget nih ternyata, sampai menunjukkan kausnya pendaki nafas tua dan sering mendaki gunung bersama teman-temannya namun jarang sampai puncak. Karena memang usianya sudah hampir mencapai kepala 7 loh. Namun jiwanya tetap muda meskipun rambut memutih dan juga kulit tak lagi kencang.

Si Abah sempat menyuruh saya dan mas Rona untuk lanjut aja duluan karena dia bilang udah baikan. Namun tentu saja saya dan mas Rona tak akan meninggalkan si Abah sendirian sebelum temannya sampai turun. Ditambh lagi muka si Abah masih pucat pasi dan belum kembali sepeti semula. Saya ajak aja si Abah buat ngobrol pengalamannya mendaki gunung agar pikirannya tak kosong sambil menemaninya melumat kurma dan anggur. Setelah dua teman rombongannya si Abah sampai kembali untuk menjemput dan backup si Abah. Saya dan mas Rona pun pamit buat melanjutkan pendakian.

Sebenarnya kita agak sedikit khawatir sama keadaan si Abah setelah kita melanjutkan perjalanan. Namun akhirnya kita berpapasan di pos bayangan sebelum pos 2 dimana kita sedang makan siang mengisi energi. Dan nampak si abah sudah baikan dan berjalan tanpa dipapah lagi dan mukanya gak sepucat pas di bawah tadi.

Di pos 2 kita papasan lagi dan kali ini si Abah sudah aman dan mukanya gak pucak lagi sudah normal kembali. Si Abah sedang beristirahat di pos 2 bersama rombongannya serta rombongan lainnya. Kita pun tak lama berada di pos 2 ini dan langsung melanjutkan perjalanan karena sudah lama banget istirahat di pos bayangan di bawah pos 2.

Kita pun sampai di Pos 3 sekitar jam 3 sore dan tak lama istirahat tiba-tiba kabut mulai turun dan air mulai berjatuhan dari langit bersamaan kabut yang semakin tebal. Akhirnya kita pun memecah 2 kelompok saya dan Mas Rona jalan duluan ke Pos 4 untuk nyari spot camp sementara Mba Ani dan Mas Catur menyusul karena mas Catur kelelahan dan perlu istirahat lebih lama.

Baru saja berjalan beberapa menit gerimis semakin deras dan memaksa saya dan mas Rona mengeluarkan jas hujan untuk melawan air-air yang berjatuhan agar tak langsung membasahi badan agar tak menghambat perjalanan agar cepat sampai di pos 4 dan istirahat di tenda.

Ditengah perjalanan menuju pos 4 kita menemukan sebuah kaos putih yang penuh dengan darah yang sudah mengering di pinggir jalur. Saya menduga itu kaos dari petugas basecamp yang terluka saat memotong pohon dengan gergaji mesin untuk pembuatan mushala dan fasilitas di pos 4. Hal ini karena didekatnya ada bekas pohon tumbang yang dipotong dengan gergaji mesin. Tak ambil pusing kita berdua langsung melanjutkan perjalanan karena gerimis mulai menderas.

Sekitar jam 4 an kita sampai di pos 4 dan langsung mencari spot enak untuk mendirikan 2 tenda agar saling berhadapan dan nyaman pas masak serta istirahatnya. Setelah mencari-cari akhirnya kita memutuskan untuk mendirikan tenda di tanah lapang sebelum pos 4 yang jadi spot camp utama. Hal ini kita ambil biar gak terlalu ramai saat malam hari karena biasanya rame banget pas malam apalagi kalau rombongan lain masih begadang tuh pasti berisik dan susah tidur.

Tak lama setelah bongkar keril dan mulai pasang tenda tenyata Mba Ani dan Mas Catur akhirnya sampai juga dan kita segera mendirikan tenda dan tentu saja setelah melepas lelah dan ganti pakaian mba Ani langsung mengambil alih peralatan memasak dan juga logistik untuk meracik masakan dengan cita rasanya yang maknyus.

Saya pun izin buat nyobain toilet baru dan mushala baru di Pos 4 jalur Permadi Guci yang sempat viral di media sosial. Soalnya dahulu pas pendakian pertama belum ada mushala dan toilet. Dulu adanya cuma toilet alakadarnya cuma dari kayu dan dikelilingin sama karung untuk penutupnya serta kolam pancuran (yang jadi tempat camp kita namun gak ada airnya lagi alias kering serta di sampingnya ada spot untuk 3 tenda ukuran 2P).

Gelap pun mulai menggantikan terang dan bintang-bintang di langit mulai terlihat berkerlap kerlip. Sambil ditemani udara dingin kita pun menyantap makan malam dari chef andalan mba Ani. DImana kali ini menunya adalah nasi + sayur sop sosis potong ditambah tempe goreng serta sambal yang beli pas di warung dekat basecamp. Oya lupa satu lagi abon sapi maknyus yang di bawa mba Ani dari Jogja melengkapi makan malam kita.

Tentu saja sambil berkcengrama dengan hangat dan merencanakan kegiatan untuk besok pagi. Dan jelas saja besok pagi adalah waktunya summit attack. Namun karena mas Catur gak kuat sehingga ia memutuskan besok gak ikut summit attack. Lalu disusul mba Ani yang juga gak ikut summit attack karena udah pernah pas pendakian pertama via Jalur Permadi Guci ini (yang saya gagal summit).

Sementara mas Rona masih gak tau, "Kalau saya bangun ya gas summitnya, kalau gak bangu ya gak summit."

Kata mba Ani sih bakalan susah klau bangunin mas Rona jadi ya liat aja besok coba bangunin. Sampai titik ini saya ragu sih masa iya dua kali lewat Permadi Guci cuma sampai pos 4 aja. Akhirnya saya teringat sama anak-anak rombongan Bandung yang ngajakin summit bareng pas shalat Asar di mushala.

"Yah kalau gitu saya sendirian donk yang summit, ya udah gak apa-apa biar nanti saya summitnya bareng nak Bandung, tadi ngajakin summit bareng pas Asar."

Beres makan dan diskusi sekitar jam 9 malam kita semua siap-siap bobo. Saya satu tenda dengan mas Rona sementara mba Ani satu tenda dengan mas Catur karena kita bawa 2 tenda masing-masing isi 2P. Baru saja terlelap tiba-tiba dari jalur pendakian terdengar teriakan pendaki lain.

"Mba Ani.... Mba Aniii... Mba Aniii..." teriak pendaki.

Bersambung...

Bab 3

SELAIN menawarkan panorama alam yang indah, gunung juga menyimpan sejumlah misteri. Percaya ataupun tidak, hal-hal mistis sering tersaji dan dialami oleh para pendaki.

Sebagai gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Semeru, Gunung Slamet adalah salah satu spot favorit para pendaki yang banyak menyimpan sejumlah kisah horor. Salah satu yang paling legendaris adalah keberadaan Pos 4 pendakian yang dinamakan Samarantu.

Konon namanya sendiri merupakan akronim atau singkatan dari ‘Samar dan Hantu’, karena seringnya penampakan makhluk halus di pos yang bisa dijumpai jika seorang pendaki memilih rute pendakian jalur Bambangan. Selain itu, pos ini memiliki dua pohon super besar yang membentuk bak pilar gerbang yang diyakini menjadi salah satu pintu gerbang menuju dunia ghaib.

Kali ini sebuah kisah seram dari salah seorang pendaki Gunung Slamet yang terjadi di Pos Samarantu tersebut.

Bisri767’, yang mendaki bersama 2 orang temannya yakni Ilham, Faun serta keponakannya yang bernama Udin saat momentum H+4 lebaran tahun 2018.

Keangkeran pos 4 Samarantu yang telah menjadi rahasia umum bagi para pendaki juga diketahui olehnya, termasuk salah satu pantangan bahwa sebaiknya tidak mendirikan tenda dan beristirahat disana. Namun ia tetap memilih mendirikan tenda dan bermalam di pos keempat dari total 7 pos yang ada, dan disitulah semua berawal.

“Saat itu sekitar jam 16.00 WIB aku melalui pos 4 yang katanya angker dan tak boleh mendirikan tenda disitu. Bener kata-kata orang di pos memang angker dan ada 2 pohon berdiri berjajar yang katanya jalur menuju alam lain.Serem dan agak takut juga sih saat itu. Tapi biarlah masa bodoh yang penting aku gak aneh-aneh,” ungkapnya dikutip oleh MNC Portal Indonesia.

“Selepas melewati pos 4 sunggug aneh banget karena cuma ada aku dan keponaaku yang berjalan. Tadi sih rame tapi kenapa saat itu sepi banget. Aku dan keponaanku berjalan menyusuri jalur dengan langkah yang mulai melan karena kecapean. Fikiranku tak tenang dan cuma takut saat itu, lantunan zikir aku ucapakan dalam hati agar aku tak dikuasai ketakutan yang luar biasa.” jelas pendaki pria tersebut

Terpisah dengan Teman dan Dibuntuti Makhluk Halus

Selepas beristirahat dari pos 4, pendaki tersebut mengaku diikuti oleh seekor burung jalak yang selalu berkicau dan matanya selalu terfokus, seakan ia seperti mangsa dari burung jalak itu. Burung jalak itu jumlahnya cuma satu, itulah yang semakin membuat suasana seram. Saat itu sinar matahari tak mampu menembus rapatnya pohon-pohon yang menjulang tinggi padahal baru jam 17.00 WIB, tapi sudah gelap.

“Akhirnya aku memutuskan istirahat duduk untuk minum dan makan-makanan ringan. Saat itu juga keponaanku bilang padaku begini ‘mas mukamu pucet banget dan putih banget kayaknya mas hipo, mas gak apa-apa’, saat itu aku langsung bangun dari tempat dudukku dan bilang ‘ayo teruskan perjalanan jangan bicara apapu sampai pos 7’.” ucapnya.

Singkat cerita :

Aku mendaki sampai puncak dengan selamat dan mendirikan tenda di pos 7 dan turun dengan selamat juga. Inilah kejadian-kejadian yang ganjil. Saat pulang kami sambil ngobrol di dalam mobil. Pembicaraan diawali oleh keponaanku.

“Udin : mas kemaren saat di pos 5 waktu istirahat kenapa saat aku tanya mas diam saja ? ? ? Dan suruh aku diam ? ? ?

Aku : saat kamu tanya aku melihat sosok putih persis dibelakangmu, makanya aku langsung ajak jalan dan diam.

Udin : lhoo saat aku tanya, aku juga melihat sosok hitam tinggi dibelakang mas lhooo.”

Suasana dalam mobil seketika hening dan menakutkan..

Tiba-tiba Faun dan Ilham menyaut dan berkata : “saat di pos 5 kami jalan didepan kalian dan kami mengajak kalian jalan tapi kalian menyuruh kami duluan.”

“Padahal saat itu aku dan Udin tak melihat siapapun yang lewat di sekitar kami, dan cuma satu burung jalak menyeramkan saja yang kita lihat. Dapat disimpulkan ternyata aku dan Udin saat itu ada dialam yang berbeda. Syukur alhamdulillah aku ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena aku masih diberi keselamatan.”

Pendaki gunung Slamet tesesat dan masuk kampung gaib

pengalaman mistiknya saat mendaki gunung yang menurut sejarawan Belanda, J. Noorduyn, disebut sebagai Gunung Agung dalam naskah kuno tentang cerita petualangan Bujangga Manik.

Salah seorang pendaki tersebut bernama Awe. Usai menyelesaikan kuliahnya, Awe dan temannya memutuskan untuk merayakan kelulusan dengan mendaki gunung. Adapun gunung yang akan mereka daki adalah Gunung Slamet.

Salah seorang pendaki tersebut bernama Awe. Usai menyelesaikan kuliahnya, Awe dan temannya memutuskan untuk merayakan kelulusan dengan mendaki gunung. Adapun gunung yang akan mereka daki adalah Gunung Slamet.

Mereka berdua berangkat dari Bekasi dengan menggunakan transportasi bus. Sesampainya di Purwokerto, mereka menuju Desa Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, menggunakan kendaraan bak terbuka.

Setelah melakukan registrasi, mereka dan beberapa pendaki lain mendapatkan sebuah bibit pohon untuk ditanam di lereng Gunung Slamet. Kemudian, dimulailah pendakian Awe bersama temannya tersebut.

Tidak ada yang aneh selama pendakian tersebut. Semua berjalan dengan lancar. Sebagai informasi, banyak cerita beredar dari penduduk sekitar mengenai Pos 4 Samarantu bahwa di situlah gerbang ghaib atau pintu masuk menuju kerajaan ghaib.

"Saya pernah ngecamp di Samarantu, didatengin tiga kali berturut-turut, dengan orang yang sama, jadi entah itu orang, entah itu makhluk apapun itu, tapi dia datang, dia numpang duduk, dia pergi," ujarnya.

Singkat cerita, pendakian Awe dan temannya dilaluinya dengan aman tanpa adanya gangguan. Mereka bahkan sempat beristirahat di Samarantu dan tidak terjadi apa-apa hingga akhirnya mereka sampai di puncak Gunung Slamet.

Pengalaman mistik justru dialami Awe ketika ia dan temannya hendak turun dari Posko satu menuju Basecamp Bambangan. Saat itu, teman Awe kebetulan mendahuluinya karena terburu-buru. Di situ, Awe melihat seolah terdapat jalan bercabang yang mana tampak seperti sebuah gerbang.

"Semacam pohon, pohon Cemara. Cuma dia pas banget, Cemara itu kan besar ya, tapi ada ranting atau dahan yang keluar. Dan itu dua, kanan-kirinya sama dengan model ranting yang sama. Jadi, membentuk semacam kubah," jelasnya dalam video berdurasi 1 jam 20 menit.

Awe pun memilih salah satu dari cabang tersebut, ia memasuki jalan yang berbentuk seperti kubah. Begitu memasuki jalur itu, Awe merasa wajar karena rute yang dilaluinya dirasa sama dengan jalur yang pernah ia lalui. Sampai pada suatu titik, Awe merasa ada sebuah kejanggalan. Seingatnya, saat menuju Bambangan terdapat sawah-sawah dan jalan aspal. Namun, yang ia temui justru dua buah rumah gubuk yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Di sana, ia mendapati dua orang wanita yang tengah melakukan aktivitas.

"Kalau itu kan dua ya, depan, kanan-kiri, sama dua-duanya ibu-ibu, mereka itu lagi memilah kaya beras tapi bukan beras, di tampah tapi kaya bukan tampah," terangnya.

Lalu, Awe pun melanjutkan perjalanannya. Ia pun sampai di sebuah pasar. Hal aneh pun kembali dirasakan oleh Awe. Ia merasa orang-orang di keramaian pasar tak menghiraukan keberadaannya di sana. Awe bahkan sempat bertanya pada orang-orang di sana namun mereka menjawabnya dengan tersenyum. Hingga akhirnya, Awe bertemu dengan seorang pria dewasa dengan sorjan lusuh yang dikenakannya.

"Sepenglihatan saya seumuran ayah saya. Layaknya orang desa, dengan baju oblong warna putih, dengan celana panjang yang tidak sampai mata kaki, warna hitam, normal seperti bapak-bapak biasa," ceritanya.

Di antara orang-orang yang ditemuinya, sosok pria itulah yang memberikan Awe petunjuk. Sosok pria tersebut menjelaskan jalan mana yang harus dilalui untuk bisa sampai ke Bambangan.

"Mas salah jalan. Basecamp bisa lewat lurus, Mas. Harusnya tadi mas itu di sana lewat kanan, jangan lewat kiri," jelas pria itu.

"Terus saya lewat mana, Pak, sekarang kalau mau ke Basecamp?" tanya Awe.

"Yaudah nanggung, lurus aja," lanjut pria itu.

"Berapa lama Pak?" tanya Awe.

"Ya paling lebihnya satu jam karena muter," jelas pria itu.

Setelah itu, Awe pun mengikuti arahan dari pria yang ia temui. Anehnya, setelah menempuh perjalanan selama satu jam lamanya, Awe di hadapkan pada tempat semula yang ia lewati, yakni dua buah rumah gubuk dengan dua orang yang sedang melakukan aktivitas sama seperti sebelu

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED