Bola mata Kala membulat sempurna saat melihat beberapa lelaki berjas hitam menjemput di dalam kamar. Perlahan, Kala bisa melihat ada lima lelaki yang sedang menatapnya. Kelima lelaki itu memakai kacamata hitam. Semua memiliki wajah yang sangat menyeramkan. Bagaikan gigolo yang akan memangsanya.
“Nona Kala?” serunya. Kala yang duduk sambil memeluk lututnya segera menatap lelaki berjas hitam yang sedang berdiri beberapa sentimeter dari tubuhnya. Kaki Kala bergetar. Dia sedikit ketakutan namun Kala berusaha menatap kelima lelaki asing itu.
“Tuan kami sudah menikahi anda, anda adalah istrinya sekarang,” jawabnya. Kala menghela napas panjang. Seakan ada bongkahan besar yang berada di tengorokannya saat ini. Bagaimana bisa dia sudah menikah dengan lelaki asing yang tidak dikenalnya?
“Tuan Robert sudah memerintahkan bahwa anda adalah istri kedua dari tuan kami,” sambungnya lagi. Perlahan, air mata Kala menetes di pipi. Ini adalah rencana dari pamannya yang tidak pernah Kala inginkan. Dia tidak ingin dijual kepada lelaki yang tidak dikenalnya.
Menjadi perempuan kedua? Menjadi istri kedua? Ini bagaikan mimpi. Ya, mimpi buruk untuknya.
“Aku tidak mau!” ucap Kala, dia berusaha memberontak.
“Nona, anda tidak bisa melawan kami. Ayahmu telah menjual dirimu kepada kami!” ucap lelaki itu. Kala menyeka air matanya. Dia menghunuskan pandangan tajam kepada lelaki yang berusaha menariknya.
“Dia bukan ayahku!”
“Nona, kami hanya tahu bahwa tuan Robert telah menyetujui pernikahan anda dengan tuan kami!”
“Ibu anda sedang berada di rumah sakit dan perempuan itu merupakan tahanan buat kami!” sambungnya. Kala spontan menoleh ke arah lelaki itu. Ada kebencian yang ada di matanya.
Sejak tiba di Nevada, Kala segera menuju rumah sakit Valley Hospital Las Vegas. Kala tiba-tiba lemas saat melihat ibunya terbaring tidak berdaya. Bola mata Kala kembali memanas mengingat hal itu. Dia berusaha mencengkram gaunnya dengan erat. Dengan sekuat tenaga, Kala berusaha berdiri.
“Ikuti kami nona atau kami akan memaksa anda untuk mengikuti kami dengan cara kasar!” sahut suara lelaki itu. Kala menghela napas panjang.
Hari ini, setelah Robert menamparnya dan menyuruhnya keluar dari rumah milik orang tuanya sendiri, ternyata lelaki itu juga menjualnya kepada lelaki asing.
“Sial!”
“Aku akan membunuhmu, Robert!” gerutu Kala dalam hati.
“Aku berjanji, aku akan membunuhmu!” ucap Kala geram. Dia terpaksa harus mengikuti kelima lelaki berjas hitam itu. Kala dengan pelan masuk ke dalam mobil. Tangannya diikat dengan erat. Seakan dia adalah tahanan yang hina. Kala membenci hal seperti ini.
Di dalam mobil, lelaki berkacamata itu sesekali menatapnya.
“Nona, tuan kami akan menemui nona malam ini,” ucapnya kemudian. Kala acuh, dia tidak ingin mengikuti perintah lelaki itu. Di dalam mobil, Kala menatap keluar jendela. Malam yang indah dengan jalan yang tertutup salju. Kala harus menerima kenyataan pahit ini.
Sepulang dari Manchester untuk menyelesaikan studinya. Kala bertemu dengan Robert. Setelah bertemu lelaki paruh baya itu, Kala malah mendapatkan perlakuan yang tidak enak. Robert menamparnya. Kala hanya ingin tahu kronologis ayahnya meninggal saat ditembak oleh lelaki asing di dalam rumahnya sendiri.
Kala yang tidak terima diperlakukan kasar akhirnya melawan Robert. Namun lelaki itu malah menyekapnya dan menjualnya kepada lelaki asing untuk dijadikan istri kedua.
“Nona!”
Kala spontan menyeka air matanya yang menetes di pipi. Membayangkan nasibnya, Kala malah bermuram durja.
“Tuan kami tidak bisa bertemu dengan anda malam ini. Dia akan bertemu dengan anda besok,” jelas lelaki itu lagi. Kala tidak peduli. Bagi Kala, dia ingin bebas dan kembali ke Manchester untuk memulai hidupnya lagi.
“Aku ingin pulang!” ucap Kala lirih. Bola matanya berkabut.
“Tidak bisa Nona! Tuan Robert sudah setujuh dengan pernikahan nona dan tuan Willian,” sambungnya. Kala membulatkan matanya.
“Lelaki itu bernama William?” sahut Kala kemudian. Tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Semua terdiam. Tidak ada yang berani menjawab.
“Katakan, mengapa lelaki itu ingin menjadikanku istrinya?”
“Istri kedua? Aku tidak mau!”
Kala menghunuskan pandangan tajam kepada seluruh lelaki yang berada di dalam mobil. “Sudah sampai Nona!” ucap salah satu pengawal. Kelima lelaki itu kemudian turun. Kala mengikutinya dari belakang.
Suhu begitu dingin, Kala hanya memakai gaun tipis. Dia perlu pakaian tebal atau dia akan mati. Kelima pengawal itu kemudian membawahnya ke dalam sebuah ruangan yang penuh dengan ornament Italia kuno.
“Bibi Gagi, tolong ganti pakaian nona ini!” sahut salah satu pengawal. Kala menatap perempuan paruh baya yang sedang memandanginya.
“Dia adalah istri tuan William yang terbaru,” ucapnya. Kelima pengawal itu kemudian pergi.
“Nona, biar aku melepaskan tali itu,” ucap perempuan paruh baya yang bernama Gagi. Kala menganggukan kepala. Tangannya sangat sakit diikat bagaikan binatang yang akan kabur. Kala berjanji, jika dia bertemu dengan Robert, lelaki itu akan musnah di tangan Kala.
“Saya siapkan baju untuk nona,” ucap perempuan paruh baya itu lagi. Kala duduk di ruangan. Ada sebuah kasur super king yang sangat mewah.
Di mana dia sekarang?
Di mana lelaki yang menjadikannya istri kedua? Pikirnya.
Selang beberapa menit, perempuan itu datang lagi dan memberikan beberapa pakaian tebal. “Nona harus berganti pakaian. Setelah itu, nona akan memakai beberapa wewangian karena tuan William sangat suka wewangian,” ucap bibi Gagi.
Kala mengambil pakaian itu dan menatap parfum yang diletakkan di sampingnya.
“Apakah lelaki itu adalah maniak wewangian?”
Apapun itu, dia harus berada di rumah ini dan akan kabur jika waktu mendukungnya. Setelah berganti pakaian, Kala mencoba mencari tahu siapa tuan William. Apakah lelaki itu adalah kenalan Robert? Jika iya, Kala bisa menemukan Robert dan akan membunuhnya.
***
“Apakah perempuan itu sudah berada di rumah?”
“Sudah Tuan,” sahut suara itu. William berjas hitam sedang berdiri dan menatap wajah pengawalnya yang bernama Dedi.
“Kau tahu kan, di mana Esmeralda berada? Mengapa istriku belum datang?” tanya William dengan suara penuh penekanan. Istrinya -Esmeralda- yang sedang ke Las Vegas tidak pernah datang kembali.
“Saya tidak tahu, tuan William,” ucap Dedi. Lelaki itu adalah asisten kepercayaan William.
“Sepertinya nona Esmeralda sedang mengadakan jumpa fans,” sambungnya.
William berdecak lidah. Dia membenci rencana Esmeralda yang menyuruhnya menikah lagi untuk mendapatkan keturunan.
“Oke, kamu sudah bisa keluar Dedi. Pastikan perempuan yang dibayar Esmeralda itu tidak kabur dari rumah!” gerutu William. Dedi menundukan sedikit tubuhnya lalu berjalan keluar dari ruangan bosnya itu.
William mengusap wajahnya secara kasar. Dia mencintai Esmeralda. Perempuan itu adalah cinta pertamanya. Tapi entah mengapa, istrinya malah memilih perempuan lain untuk dijadikan istri kedua.
“Uhft!” William menghela napas panjang.
Sudah lima tahun pernikahan dengan Esmeralda, William belum dikarunia buah hati sampai saat ini. Saat William mengajak Esmeralda untuk berhenti dari dunia modelnya, perempuan itu menolak dan bahkan menyuruh William untuk menceraikannya.
William tidak ingin, Esmeralda adalah cinta pertamanya. William tidak bisa berpaling semudah itu kepada perempuan lain.
Desakan Tuan Velmor membuat William menyetujui rencana Emeralda untuk menyewa rahim perempuan lain demi melahirkan anak mereka. Mendengarkan rencana Esmeralda itu, William menolak dengan tegas.
Namun melihat Esmeralda menangis, William tidak tega dan akhirnya menyetujui rencana istrinya. William mengambil ponselnya. Dia segera menghubungi bibi Gagi.
“Halo, di mana perempuan itu?” sahut William segera.
“Tuan, dia ada di dalam kamar. Perempuan itu terus menangis,” ucap bibi Gagi yang menatap Kala dari balik celah pintu.
“Menangis? Mengapa dia menangis?” tanya William terheran.
“Saya tidak tahu, tuan William,” ucap bibi Gagi. William menghela napas panjang. Sepertinya perempuan yang dipilih istrinya adalah perempuan yang lemah. Baru saja sampai di rumah, perempuan itu malah menangis di dalam kamar.
“Oke bibi Gagi, pastikan dia tidak kabur!” ucap William. Dia lalu memutuskan sambungan telepon. William duduk di kursi sambil memijit pelipisnya yang terasa memanas.
“Esmeralda, mengapa kau melakukan ini?” batinnya.
Bersambung …
Kala terbangun dan menatap tubuhnya di atas ranjang super king. Kala mencoba turun dan berjalan menyusuri ruangan kamarnya yang sangat besar. Bahkan kamar itu lebih besar dari rumahnya yang berada di Manchester.
“Nona Kala?”
Kala yang sedang asik memandangi lukisan spontan menoleh ke belakang dan menatap bibi Gagi sedang menyiapkan gaun untuknya.
“Tuan William akan datang, saya sudah menyediakan baju untuk hari ini.”
Perempuan itu menunjukan gaun kepadanya. Kala menatap gaun berwarna biru yang diletakkan di samping tempat tidur.
“Apakah aku harus menggunakannya?”
Bibi Gagi menganggukan kepala. “Tentu saja, Nona!”
“Apa ada masalah?”
Kala menghela napas panjang. Pakaian itu terlalu mewah. Kala tidak suka memakai gaun. “Apakah lelaki itu berumur tua?” tanya Kala segera sebelum perempuan paruh baya itu pergi meninggalkannya. Bibi Gagi terdiam cukup lama.
“Mengapa dia menjadikanku istri keduanya? Di mana istri pertamanya? Apakah dia tidak akan marah?” cercah Kala. Dia menyipitkan matanya menatap perempuan paruh baya itu. Kala harus mendapatkan jawaban. Kala harus tahu apa motif dari lelaki itu.
Apakah dia pria tua yang haus akan belaian? Pikirnya.
“Nona, Tuan William adalah lelaki yang baik. Dia mencintai istri pertamanya,” jawabnya. Alis Kala bertautan. Dia menatap bibi Gagi dengan ekspresi bingung.
“Lalu, mengapa dia ingin menjadikanku istri keduanya?”
Bibi Gagi mengigit bibir bawahnya. Dia bingung harus berkata apa. Dia kemudian keluar dari dalam kamar sebelum Kala bertanya banyak hal.
Brak!
Pintu tertutup, Kala menghela napas frustasi. Dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan segera berganti pakaian. Gaun yang diberi perempuan itu terlalu tipis. Kala tidak suka terlihat seksi.
“Lelaki yang mencintai istrinya, tapi mengapa dia ingin menjadikanku istri kedua?” pikirnya kemudian.
“Ini bodoh sekali!” gerutunya. Setelah berpakaian, Kala tidak lupa menyemprotkan beberapa wewangian ke tubuhnya. Menurut bibi Gagi, lelaki itu menyukai wewangian. Apakah dia dipersipkan untuk tidur dengannya?
“Oh tidak, mengapa nasibku terlalu buruk seperti ini?” batinnya.
***
William masih berada di dalam kamarnya. Hari ini, Esmeralda mengatakan bahwa dia harus bertemu dengan perempuan bernama Kala.
“Sayang!” ucap William sambil berjalan ke arah istrinya itu. William tidak lupa mengelus pipi Esmeralda. Istrinya itu sedang sibuk merias wajahnya.
Merasakan sentuhan hangat suaminya di bagian sensitif, Esmeralda kemudian membalikan badan dan menatap William.
“Ada apa sayang?”
Esmeralda berdiri dari kursi riasnya lalu melingkarkan tangannya di leher William. “Kamu akan bertemu dengan perempuan itu lalu bercinta.” Bisiknya. William menghela napas kasar ke udara. Dia tidak ingin perempuan lain berada di kehidupan mereka. Ide Esmeralda benar-benar gila.
“Bagaimana kalo kita program hamil saja? Aku ingin kamu yang melahirkan anakku, bukan perempuan lain,” bisik William. Dia tidak lupa mengecup pipi hingga kecupan itu mengarah ke leher Esmeralda. Membuat Esmeralda mengeliat manja di dalam pelukannya.
William selalu bisa membuat Emeralda bersikap manja. Kecupan William beralih ke bibir Esmeralda. Ciuman itu begitu hangat dan penuh kasih sayang. Esmeralda sangat seksi pagi ini bahkan William sudah tidak sabar untuk menyatukan cinta dengan istri kesayangannya itu.
“Sayang!”
“Sudah … ah … aku akan …,” desah Esmeralda di dalam kenikmatannya. William melepaskan ciumanya, dia menatap Esmeralda dengan lekat.
“Aku tidak ingin berbagi cinta dengan orang lain, sayang. Aku ingin dengan kamu!”
Esmeralda spontan meletakkan telunjuknya di bibir William. Deru napas lelaki itu jelas terdengar di telinganya.
“Kau tahu kan, aku tidak pernah ingin melahirkan anak,” tukasnya. Esmeralda menatap manik mata William.
“Aku sudah menandatangani kontrak di sebuah perusahaan, dia akan memutuskan kontrak jika aku hamil,” jelas Esmeralda.
“Aku tidak akan merusak tubuhku,” sambungnya lagi.
“Sayang, aku bisa memberimu uang yang banyak, aku bahkan bisa membayarkan ganti rugi itu!”
Esmeralda menggelengkan kepala tidak setuju. Dia melepaskan pelukannya dari William lalu berjalan menuju jendela besar yang berada di dalam kamar mereka.
“William, kamu tahu kan bahwa sejak dulu, aku ingin menjadi model!”
“Aku tahu, aku harus melahirkan penerus untuk keluargamu. Tapi bukan sekarang! Ayahmu selalu mendesakku dan aku tidak suka hal itu!”
William berjalan di belakang istrinya, dia memeluk Esmeralda dari belakang. Kecupan di punggung membuat Esmeralda merasakan sensasi yang berbeda, William selalu berhasil menyentuh titik yang dia sukai.
Tangan William bergerilya manja menyentuh bagian sensitive yang diinginkannya. Tidak lupa, William spontan membalikan tubuh Esmeralda dan mengecup leher istrinya lalu beralih ke gundukan yang begitu membuatnya bergairah. William memberikan bekas kepemilikan di tempat itu.
“William … jika kau seperti ini, aku tidak akan …ah … William,” ucap Esmeralda yang sudah mabuk di dalam sentuhan suaminya. William menarik gaun istrinya ke atas secara nakal.
“Kau sudah pergi sangat lama, apakah kau tidak tahu sayang bahwa aku merindukanmu?” bisik William dengan deru napasnya yang memburu. Esmeralda mencoba mencengkram bahu lelaki itu.
“William, kau harus pakai pengaman. Aku tidak memakai …,”
“Tidak perlu sayang, aku ingin …,”
Tangan William mulai menurunkan baju Esmeralda namun secepat kilat perempuan itu mendorongnya menjauh.
“Aku harus segera pergi, ada pemotretan hari ini, sayang!” ucap Esmeralda sambil merapikan gaunnya.
“Temui perempuan itu, William. Katakan tujuan kita!” ucap Esmeralda sebelum menutup pintu kamar. William mengusap wajahnya secara kasar. Dia tidak bisa menahan hasratnya kepada istrinya pagi ini. Mengapa Esmeralda selalu menolak bercinta?
***
Kala membulatkan matanya saat bunyi langkah kaki itu semakin terdengar. Ekor matanya menatap pintu yang setengah terbuka. Jantung Kala berdetak lebih cepat. Apakah lelaki itu akan menemuinya di kamar?
“Nona Kala?” sahut suara itu. Kala spontan menoleh ke sumber suara. Dia menatap salah satu pengawal sedang berdiri di depan pintu. Kala menghela napas panjang.
“Tuan William sudah berada di dalam kamar, Nona seharusnya bertemu pagi ini!”
Demi apapun, Kala tidak ingin. Bagaimana kalo lelaki itu adalah lelaki tua? Bagaimana kalo lelaki itu segera meminta haknya? Kala tidak ingin.
“Nona!” sahut suara lelaki itu saat Kala terdiam cukup lama.
“Baiklah, aku akan ke sana!”
Kala berjalan dan mengikuti langkah kaki para pengawal itu. Deru napas Kala berkejaran. Dia panik bukan main. Kala harus pergi dari rumah ini. Dia tidak ingin berada di antara manusia asing yang memperlakukannya seperti budak.
“Nona, tuan ada di dalam.”
Kala berhenti di sebuah kamar yang penuh dengan ornament Italia. Kala menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan pelan.
“Masuklah!” suara bariton itu terdengar dengan jelas. Jantung Kala berdetak lebih cepat. Tangan Kala bergetar saat dia mencoba membuka pintu dengan pelan.
Klek~
Bola mata Kala membulat sempurna saat menatap wajah seorang lelaki. Dia bukan lelaki tua melainkan lelaki yang sangat tampan. Wajahnya sangat dingin dan tatapannya begitu tajam. Ada apa dengannya?
“Kau~”
“Duduk dan dengarkan aku, banyak hal yang kau harus pahami!” titahnya. Kala merasa bulu kuduknya berdiri. Dia sangat ketakutan saat ini.
“Apa yang kau inginkan?”
“Tubuhmu!” balasnya secepat mungkin. Kala masih saja berdiri di depan pintu. Dia mencengkram gaunnya dengan erat. Tubuhnya menegang dan langkah kaki lelaki itu semakin dekat menghampirinya.
Bersambung …
Bola mata William membulat sempurna saat menatap seorang perempuan muda sedang berdiri ketakutan di depannya. Bekas air mata jelas terlihat di pipi manisnya. Bibir perempuan itu tipis dengan kulit yang putih bersih. Matanya menatap dengan tajam. Perempuan itu terlihat sangat asing.
“Kau gadis yang disuruh istriku?”
Kala menggelengkan kepala. “Maksudmu apa? Aku tidak mengerti!”
Willliam beranjak dari tempatnya berdiri lalu bergegas berjalan mendekati Kala yang berdiri di balik pintu. Kala mencengkram gaunnya. Lelaki itu memiliki wajah tampan namun tatapannya begitu tajam.
“Perempuan yang akan melahirkan anak untukku!” tegasnya. Kala memundurkan tubuhnya saat William berdiri beberapa sentimeter di depannya.
Kala membuang pandangannya. “Aku tidak mau!”
“Lalu, buat apa kau di sini jika kau tidak mau?”
Kala mengigit bibir bawahnya karena ketakutan. William kemudian meletakkan tangannya di pipi Kala. Tubuh perempuan itu seakan menegang. William menyentuh bagian rambut Kala yang terurai panjang. Memperhatikan ornament wajah perempuan itu.
“Kita akan melakukannya,” bisik William pelan dengan deru napas yang memburu. Bola mata Kala terbelalak. Aroma maskulin dari tubuh lelaki itu benar-benar menganggunya saat ini.
“M-melakukan apa?”
William menghela napas panjang. “Melakukan hubungan suami istri, kau adalah istriku dan malam ini aku akan melakukan tugasku!”
Tangan lelaki itu sangat dingin. Kala bisa merasakan tangan William yang sangat asik menyentuh pipinya dan membuat darahnya berdesir.
“Mengapa kau ingin menjadikanku istri kedua?” sahut Kala segera. Dia menghunuskan pandangan tajam ke arah William. Deru napas lelaki itu jelas terdengar di telinganya. Dia bisa merasakan William menyentuh pipi hingga lehernya dengan lembut.
Entah mengapa Kala merasakan sensasi yang berbeda. “Karena istriku ingin melakukan itu!”
“Bodoh!”
“Mana ada perempuan yang ingin dimadu!” sergap Kala segera. Dia menepis tangan lelaki itu dari pipinya. William memundurkan tubuhnya dari Kala saat perempuan itu memberontak.
William kembali berjalan menuju meja kerjanya lalu duduk dan melipatkan kakinya di atas sana. “Jangan pernah mengatakan bodoh kepada istriku!”
“Lalu, apa namanya kalo bukan bodoh? Perempuan mana yang ingin suaminya tidur dengan lelaki lain?”
“Ini konyol!”
Kala mengepal tangannya dengan kuat. Entah keberanian dari mana dia bisa mengatakan semua ini. Senyum kecut terlihat jelas di wajah William.
“Katakan sekali lagi kalo istriku bodoh, aku akan membunuhmu!” ancamnya. Kala tidak takut, dia malah menatap William dengan ekspresi menantang.
“Dia istri yang bodoh!” balas Kala secepat mungkin. Wajah William memerah. Dia berdiri lalu berjalan mendekati Kala.
“Sekali lagi kau mengatakan itu, kau akan menyesal memiliki mulut!”
“Gadis bodoh!”
William menangkup pipi Kala dan membuat perempuan itu menjerit kesakitan. “Sakit!”
“Ah, kau melukai wajahku!” rintih Kala. Tangan lelaki itu begitu keras menangkup wajahnya.
“Temui Esmeralda dan kau akan mengerti maksudku itu,” ucap William lalu bergegas berjalan menuju pintu.
“Aku bahkan tidak berselerah menyentuhmu jika bukan karena permintaan istriku!”
Brak!
***
Esmeralda melipat tangannya di dada saat melihat Kala sedang duduk di depannya. Perempuan itu sangat manis dan sangat muda dari dirinya. Tentu saja Esmeralda sedikit khawatir, namun dia memilih Kala karena perempuan itu bersedia melahirkan bayi untuk keluarga kecilnya.
“Kau hanya perlu melahirkan bayi untuk kami. Setelah itu, kau bisa pergi!” ucap Esmeralda. Kala yang duduk di depan perempuan itu menatap secangkir capucciono yang sudah disediakan bibi Gagi untuknya.
“Aku tidak mau!”
“Kau tidak bisa mengatakan hal itu!” balas Esmeralda. Perempuan cantik itu lalu mengambil kopi miliknya dan menyeruput dengan hati-hati.
“Sama saja aku menyewakan rahimku,” ucap Kala segera.
“Ya, tentu saja. Kau melakukan itu!” spontan Esmeralda menjawab. Kala menghela napas kasar di udara. Dia menatap Esmeralda yang tampak tenang. Kala bahkan bingung, apakah perempuan itu tidak mencintai suaminya? Mengapa dia begitu mudah menyuruh orang lain untuk tidur dengan suaminya?
“Kau harus melakukan itu, aku sudah membawah Robert atas semua ini,” ucap Esmeralda sambil mengeser secarik kertas di hadapan Kala.
“Dia bukan ayahku!”
“Aku tidak peduli!” balas Esmeralda dengan tatapan tajam.
“Baca perjanjian ini dan jelaskan kepadaku jika kau sudah setuju untuk tidur dengan suamiku!” ucap Esmeralda. Kala menghela napas panjang. Sepertinya perempuan cantik itu sudah kehilangan gairah kepada suaminya. Mengapa menyuruh perempuan lain untuk tidur?
“Kau harus melahirkan bayi untuk suamiku, lalu setelah itu kau harus mengajukan surat cerai,” jelas Esmeralda. Dia menatap tajam ke arah Kala.
“Cerai?”
“Hai, cerai?”
Esmeralda menganggukan kepala. “Jangan pernah berharap lebih dari suamiku, jangan pernah berharap untuk dimiliki sepenuhnya,” sambungnya lagi.
“Ini konyol!” batin Kala.
“Bagaimana kalo aku jatuh cinta?” ucap Kala segera. Entah dari mana dia berani mengatakan demikian. Bola mata Esmeralda membulat sempurna mendengarkan hal itu.
“Aku akan membunuhmu!”
“Tanda tangani kontrak ini lalu pergilah ke kamarmu!” ucap Esmeralda. Kala menatap lekat-lekat surat perjanjian itu. Dadanya terasa sesak
“Oke!” ucap Kala kemudian. Dia lalu menandatangani surat perjanjian yang disodorkan Esmeralda. Kala menghela napas lega saat Esmeralda segera mengambil kertas itu lalu bergegas pergi. Perempuan berbody sintal itu terlihat tampak terburu-buru.
“Dedi, perintahkan dia untuk berdandan cantik malam ini!” ucap Esmeralda. Perempuan itu lalu bergegas menghilang dari balik pintu.
***
Kala duduk di bibir ranjang sambil terus menatap ponselnya. Untung saja dia berhasil mengambil ponselnya dan menyembunyikan benda itu di dalam bajunya.
“Antoni, angkat teleponnya!”
“Kau harus membebaskan aku!” gerutu Kala kemudian. Dia sudah mengunci kamar dan tidak ada seorang pun yang bisa masuk.
“Antoni! Kau di mana? Seharusnya kau tahu bahwa aku sudah sampai di Las Vegas dan di sekap di rumah ini,” ucap Kala. Namun panggilannya tidak pernah diterima oleh Antoni. Kala berdecak lidah.
“Antoni, tolong bebaskan aku!” gerutu Kala. Tangannya bergetar dan air mata membanjiri pipinya saat ini. Antoni adalah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya.
Tok … Tok …
Kala spontan menyimpan ponsel itu di bawah kasur. Dia berusaha bersikap tenang saat langkah kaki seorang lelaki begitu dekat menghampirinya.
“Nona Kala, waktunya untuk makan siang!” ucap suara itu. Kala bergegas membukan pintu. Ada Dedi dan bibi Gagi yang menatapnya dari balik pintu. Kedua pengawal itu tersenyum menatap Kala.
“Nona harus memakan makanan bergizi, ini adalah susu yang bagus untuk kesuburan anda,” jelas bibi Gagi. Kala mengambil makan siangnya lalu bergegas menutup pintu.
“Nona Kala, jangan lupa untuk memeriksa masa subur!” ucap bibi Gagi sebelum Kala menutup pintu.
Kala duduk sambil mengusap wajahnya frustasi. Ini mimpi buruk, mimpi yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Terjebak di sebuah rumah dan mengharuskannya menjadi istri kedua dari lelaki yang kejam.
“Aku harus bagaimana?” batinnya.
Kala menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan pelan. Memberikan pasokan oksigen ke tubuhnya.
“Robert, kau akan mendapatkan balasannya!” gumam Kala dengan penuh emosional.
Bersambung …