Bab 2

Lukas Layton, salah satu Pastur yang sangat mengenal Jordan dan sering bertemu Mamanya, terkejut melihat Mary Helena dan Siggy didorong hingga terjatuh ke lantai. 

“Oh, kalian tidak apa-apa? Ayo berdirilah,” Lukas membantu menarik lengan Mary Helena dan Siggy yang bergegas bangkit membantu Nyonya majikannya. 

Mary Helena menatap Pastur yang menolongnya, “Apakah Anda mengenali Jordan, Pastur?” tanyanya pelan dan terlihat sangat sedih pada matanya. 

“Tentu saja. Jordan adalah siswa yang sangat jenius. Seharusnya Jordan adalah Pastur muda dengan nilai paling tertinggi lulus hari ini. Kita juga sudah pernah bertemu sebelumnya, Nyonya Mary Watanabe,” sahut Lukas sopan. 

“Saya Lukas, Lukas Layton.” tambah sang Pastur memperkenalkan dirinya sendiri pada Mary Helena juga Siggy. 

Lukas membawa Mary Helena dan Siggy yang telah selesai memunguti makanan yang tadi dia bawa untuk Jordan, ikut tumpah ke lantai saat anak buah Ben Horik mendorong mereka terjatuh ke lantai.

“Katakan Pastur, Jordanku tidak melakukan seperti tuduhan yang disebutkan dalam aula sana. Jordanku tidak melakukan zina dan pembunuhan 'kan, Pastur?” Mary Helena bertanya dengan wajah sangat sedih menatap mata Pastur di depannya yang tetap tersenyum hangat. 

“Saya juga terkejut mendengar pemberitaan tersebut. Tetapi saya juga tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi. Maafkan saya, Nyonya!”

Kepala Mary Helena menggeleng dan airmatanya kembali merebak sehingga Siggy segera memberikan sapu tangan ke tangan Nyonya majikannya itu yang selalu anggun dalam bersikap. 

“A-apakah Jordanku dijebak dan dibunuh, Pastur? Kenapa? Apa salah anakku? Apakah salah menjadi murid yang pintar? Jordan tidak mungkin melakukan zina dan pembunuhan, apalagi bunuh diri! Saya tidak bisa percaya …”

“Bunuh diri? Siapa yang mengatakan hal seperti itu pada kalian?”Lukas memotong ucapan Mary Helena dan bertanya pada kedua wanita yang dia tatap bergantian di depannya tersebut.

“Penjaga yang tadi mendorong kami mengatakan jika Jordan bunuh diri, Pastur.” Siggy memberikan jawaban. 

Kini kepala Lukas yang menggeleng dengan tatapan rumit. 

“Jordan kabur dan tidak seorang pun yang mengetahui kemana perginya saat dia menginap di luar asrama tadi malam. Semua barang-barang dan pakaiannya ada di kamar dalam asramanya.” tutur Lukas yang kini dia mengetahui seperti ada permainan jebakan untuk murid jenius yang sangat patuh pada perintah Tuhan tersebut. 

Sejak pembicaraan bertiga tersebut, Siggy pulang sendiri ke rumah Mary Helena di pedesaan. Sedangkan Mary Helena bersama Pastur Lukas tidak pernah terlihat lagi juga tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan mereka. 

--

“Aku bukan penjahat! Aku tidak berzina juga tidak membunuh!” protes Jordan saat sampan yang membawa dirinya telah tiba dalam lorong di pulau. 

Jordan di dorong oleh pengemudi sampan agar turun ke tanah bebatuan lembab juga sangat licin, dimana tiga orang juga datang menjemputnya turun dari sampan. 

“Ya, kamu bebas berkata apa pun di sini, Jordan Smith Watanabe! Tidak akan ada seorangpun yang percaya pada ucapanmu, mungkin dinding-dinding batu ini juga tidak!” cetus salah satu dari tiga orang yang terlihat berpakaian parlente pada Jordan.

“Kenalkan saya adalah Langley tanpa nama belakang, hanya Langley! Well, selamat datang di penjara dimana tempat para penjahat terhebat negri ini berakhir di sini. Mari saya antarkan Anda pada ruangan Anda,” tambah Langley sambil memberi kode pada pengemudi sampan agar segera pergi berlalu. 

Dua orang yang datang bersama Langley, memegangi lengan Jordan dan membawa pria itu menaiki tangga batu serta lorong demi lorong gelap mengikuti Langley yang berjalan paling depan. 

“Bagaimana Jordan? Saya memilihkan ruangan paling bagus untukmu. Di sini kamu bisa melihat sinar matahari, sapa tau kamu ingin berdoa sambil melihat sinar!” cetus Langley setelah dia membuka ruangan yang pastinya berdinding batu dan memiliki jendela sangat tinggi yang bisa melihat sinar matahari di bagian langit-langitnya. 

Jordan terdiam, matanya memindai sekelilingnya yang tidak terdapat apapun dalam ruangan tersebut. 

Tidak ada apapun! Termasuk tempat tidur ataupun kursi duduk kecuali rantai-rantai yang tergantung menjulur dari langit-langit pada salah satu sisi ruangan.

“Oh ya, di penjara ini, kami memiliki peraturan memberikan hadiah pada semua tahanan kami di sini. Hadiah pertama adalah saat kedatangan dan hadiah berikutnya diberikan pada hari ulang tahun masing-masing tahanan.” tutur Langley dengan senyum tipis menyeringai pada bibirnya menatap Jordan yang masih muda tetapi terlihat sangat tampan. 

Satu telapak tangan Langley menengadah ke samping bahunya dan anak buahnya memberikan cambuk ke tangan kepala penjara di pulau tersebut. 

Kedua anak buah Langley menarik tubuh Jordan untuk mengaitkan tangan dan kakinya pada rantai yang membuat tubuh Jordan seperti huruf X dimana kedua pergelangan tangan dan kakinya terikat pada rantai. 

“Tidak! Aku sungguh tidak bersalah! Aku di jebak!” teriak Jordan namun dirinya tidak kuasa melawan kedua anak buah Langley yang menyeringaikan senyum masam menanggapi perkataan Jordan.

“Berteriaklah, panggil Tuhanmu agar dia menolongmu dan membawamu keluar dari sini dalam bentuk kematian!” ucap Langley sinis berdesis jijik pada Jordan. 

Langley mendapat diperintah untuk menghukum Jordan hingga babak belur memohon kematian, sama seperti semua para tahanan yang di penjara pulau ini. 

Langley mengayunkan cambuk di tangannya ke punggung Jordan sebanyak dua puluh dua kali sesuai dengan usia pria muda itu. 

“Bagaimana? Apakah sudah ada tanda-tanda Tuhanmu akan datang?” ejek Langley sinis melihat wajah Jordan sudah banjir keringat bercampur airmata. 

Bibir Jordan sudah tidak bisa lagi berteriak namun dalam hatinya dia memanggil Tuhan dan yakin akan cintaNYA selalu. 

“Ach, saya lupa mengatakan …setiap kamu ulang tahun, hadiah cambukanmu akan bertambah sesuai dengan usiamu.”

Selesai berkata pada Jordan, Langley langsung pergi keluar dengan senyum tersungging cerah pada wajahnya dan kedua anak buahnya melepaskan borgol pada kedua tangan dan kaki Jordan yang membuat tubuh pria muda itu jatuh menggelosor pada lantai tanah berbatu. 

“Tuhan, apa yang Engkau inginkan untuk aku pelajari dari kejadian ini?” gumam Jordan sambil merapalkan doa-doa agar dia bisa mengalihkan rasa perih, ngilu dan sakit pada punggungnya yang sudah berdarah-darah dicambuk Langley. 

Mata Jordan melihat ke arah langit-langit ruangannya yang sudah gelap gulita. Tidak ada cahaya apa pun dalam ruangan tempatnya di kurung tersebut yang berarti sudah malam hari. 

“Mama …Tuhan, tolong lindungi dan jaga Mamaku. Hanya dia yang aku punya selain Engkau, Tuhan.” monolog Jordan masih tetap kuat dengan keyakinannya jika Tuhan tidak akan pernah meninggalkan siapapun yang menyebut namaNYA. 

Pintu baja ruangan Jordan di gedor dari luar dan pada bagian bawah pintu terbuka sedikit yang petugas mendorong kasar mangkuk berisi soup ke dalam ruangan Jordan. 

Sebagian kuah soupnya ikut tumpah karena didorong kasar oleh petugas dan hanya menyisakan sedikit yang tentunya tidak akan mengenyangkan sama sekali. 

“Makan, jika Anda masih ingin hidup dan melihat sinar matahari esok hari!” teriak penjaga dari luar pintu dengan suara keras pada Jordan. 

Dengan merangkak, menahan perih, ngilu dan sakit pada punggungnya, Jordan mengambil manggok dan meminum isinya yang lebih banyak berisi air tersebut sambil tetap menelungkup. 

Jordan tidak bisa bangun berdiri ataupun duduk, tulang-tulang punggungnya sungguh sangat perih akibat dicambuk oleh Langley, seakan tulang belulang pada tubuh Jordan patah dibuatnya. 

Jordan kembali tertidur setelah meminum soup yang seperti air kotor dengan rasa sangat tawar tersebut hingga bangun terperanjat ketika pintu ruangannya kembali di gedor dan hari sudah terang terlihat pada jendela kaca di langit-langit ruangannya.

Bab 3

Jordan menemukan sebuah batu yang dia banting dan pukulkan agar meruncing. Dengan batu tersebut Jordan membuat coretan untuk menghitung hari pada dinding batu. Telah dua tahun berlalu sejak Jordan pertama kali di bawa ke penjara terpencil yang terletak dalam pulau pada tengah lautan.

Tubuh Jordan yang semula gagah dan tampan, kini sudah semakin kurus dan ringkih. Rambut Jordan tumbuh gondrong, pun juga bulu-bulu di wajahnya melebat kasar tidak beraturan yang terlihat sangat menyeramkan bagi yang melihatnya.

“Tuhan, bagaimana jika diriku bosan memohon dan berdoa padamu? Aku tau Engkau tidak akan berkekurangan manusia yang akan meng-agungkan namamu. Tapi aku mohon, berikan aku petunjukmu …apa pesan yang Engkau inginkan untuk aku pahami dengan kejadian yang menimpaku ini?"

Jordan duduk bersandar dan menengadahkan wajahnya melihat ke langit-langit kamar yang terlihat bintang-bintang bercahaya redup masuk ke dalam ruangannya.

“Aku tidak menyesali hidupku. Tapi tolong jaga dan lindungi Mamaku, Tuhan!” pinta Jordan yang dadanya seperti membengkak karena sangat merindukan Mary Helena, Mamanya.

“Aku tidak pernah mengenal Papaku. Jadi, tolong ...jangan sampai aku melupakanmu, Tuhan. Kuatkan apa yang telah Engkau tanam di dalam diriku.”

Sungguh Jordan sangat ingin menyerah dari semua doa dan harapannya yang telah dua tahun dia panjatkan namun tidak ada tanda-tanda dia akan dibebaskan. Apalagi di adili, karena sejak awal Jordan dimasukkan ke dalam ruangan sempit dan lembab itu, tidak satu kalipun dia dibawa keluar.

Jordan melihat ke dinding batu yang berarti esok adalah hari ulang tahunnya yang ke dua puluh empat, berarti dia akan menerima hadiah dua puluh empat cambukan esok hari.

Jordan masih duduk bersandar pada dinding batu yang entah panas atau dingin, sungguh tidak bisa lagi dia bedakan. Tubuhnya juga seperti telah kebal akan debu dengan ruangan yang tentu saja sangat bau menyengat akibat cairan dan kotorannya sendiri di bagian sudut.

Kelopak mata Jordan mulai memberat dari melihat bintang dari langit-langit ruangannya, napasnya juga berhembus pelan saat matanya sudah terpejam rapat.

“Mama!” panggil Jordan saat melihat wanita yang sangat cantik dan anggun sedang memetik buah bluberry di halaman belakang rumahnya.

Mary Helena mengangkat wajahnya dan tersenyum ceria menatap Jordan. Bergegas Mary Helena meletakkan keranjang ke atas tanah dan menyongsong Jordan yang berlari ke arahnya.

“Aku sangat merindukanmu, Mam!” bisik Jordan terisak di atas bahu Mary Helena begitu dia berhasil memeluk wanita cantik yang sangat dia cintai tersebut.

Mary Helene merenggangkan pelukannya, kedua tangannya terulur untuk meraba wajah Jordan.

“Apakah harimu sulit, Jordan? Wajahmu terlihat sangat kurus, apakah kamu tidak makan dengan baik?” tanya Mary Helena dengan airmata menggantung di pelupuk matanya.

Jordan mengecup kedua mata Mamanya tersebut penuh haru.

“Aku baik-baik aja. Mama terlihat sangat cantik dan aku sangat mencintaimu!”

Mary Helena tersenyum dan tertawa kecil mendengar pujian Jordan yang sangat polos dan selalu jujur.

Mata Mary Helena melihat ke arah seseorang yang datang di belakang Jordan.

“Dia, Papamu!” bisik Mary Helena sambil tersenyum pada seseorang yang dibelakang Jordan.

Jordan spontan menoleh ke belakang sambil tetap memeluk pinggang ramping Mamanya. Namun karena sinar matahari bersinar sangat cerah, Jordan gagal melihat wajah pria yang kini berdiri di depannya tersebut, meski bisa merasakan pelukan hangatnya.

Jordan berusaha merenggangkan wajahnya untuk melihat wajah Papanya, tetapi matanya sangat silau akan cahaya matahari yang menusuk matanya.

“Aku tidak bisa melihatmu …” bisik Jordan yang kembali direngkuh oleh lengan Papanya dengan sangat erat.

“Papa selalu hidup di dalam dirimu, Jordan! Papa bangga padamu! Tumbuhlah semakin kuat dan percayalah Tuhan akan selalu menolongmu, bersukacitalah, anakku!”ucap Keigo Watanabe, Papa Jordan sambil mendaratkan kecupan dalam ke samping kening Jordan.

Keigo juga meraih Mary Helena untuk dia peluk bersama Jordan, hingga terdengar suara memekakkan telinga di telinga Jordan yang membuat Papa dan Mamanya tiba-tiba menghilang, lenyap.

Jordan terkejut dan menyadari penjaga baru saja melemparkan roti ke dalam ruangannya beserta mangkok soup yang rasanya mungkin jauh lebih buruk dari menelan air laut.

“Terima kasih, Tuhan! Engkau sudah mempertemukanku dengan Mama dan Papa.” gumam Jordan akan mimpi kedua orangtuanya.

Meskipun kerinduan yang menggantung berat dalam rongga dada Jordan akan Mamanya belum puas, dia tetap berterima kasih karena Tuhan juga telah menghadirkan Papanya dalam mimpinya. Pelukan dari pria yang sangat dicintai oleh Mamanya itu juga masih terasa hangat di pundak Jordan.

Perlahan, tangan Jordan meraba wajahnya sendiri yang terasa sangat kasar bagi telapak tangannya yang juga kasar.

Jordan mengambil roti yang dilemparkan penjaga dan meniupnya dari debu tanah dan pasir, lalu melahapnya begitu saja yang kemudian dia meminum habis soup di mangkoknya tanpa mengingat rasanya sama sekali.

Jordan mengambil batu yang dia gunakan untuk menulis dan membuat tulisan 'terima kasih Tuhan' pada dinding dengan ujungnya diberi angka dua puluh empat sesuai dengan hari ulangtahunnya hari ini.

Sebelum tengah hari, pintu baja ruangan Jordan di gedor kencang dan terdengar suara kunci pada pintu di putar yang akhirnya terbuka.

Jordan bisa merasakan angin lembut berdesakan masuk melalui pintu ke ruangannya yang sejenak menyegarkan penciumannya.

“Apa kabar, Jordan?” sapa Langley sambil tertawa kecil dan hidungnya berjengit mencium aroma busuk di ruangan Jordan.

“Cepat gantung dia di rantai!” perintah Langley tidak sabar pada bawahannya yang langsung menurut patuh.

Plakk! …plakkk!!

Suara cambukan mendarat pada punggung Jordan dan membuat tubuhnya bergetar meski bibirnya telah enggan berteriak kesakitan.

“Berteriaklah, Jordan! Atau memang kau sudah menikmati ayunan cambukku?” cetus Langley sembari tertawa kecil mengayunkan cambuk tinggi-tinggi dan sekuat tenaga mendaratkannya ke punggung Jordan.

Kepala Jordan tertunduk, matanya terpejam namun giginya tetap menggigit bibirnya kuat-kuat. Jordan merasa malu untuk berteriak jika semalam dia telah diberikan hadiah bertemu kedua orangtuanya oleh Tuhan melalui mimpinya.

Jordan juga mengingat bagaimana perjuangan Yesus dalam memberikan pemahaman pada manusia dan berakhir DIA dikhianati serta mengalami penyiksaan berat.

Melihat reaksi Jordan yang tetap tidak mau berteriak, Langley semakin beringas mencambuk punggung Jordan. Tubuh Langley sampai melompat heboh dan tertawa girang memprovokasi saat ujung cambuknya mengoyakkan pakaian lusuh Jordan hingga mengalirkan darah pada kulit punggungnya yang telah terkelupas.

“Siram dia!” titah Langley pada anak buahnya karena Jordan tidak mengangkat wajahnya sejak dia mulai mencambuk.

Anak buah Langley segera mengguyurkan dua ember air laut ke tubuh Jordan yang membuat bibir pemuda itu berdesis pilu.

Punggung yang terluka dan disiram air laut asin, tentu saja membuat seluruh syaraf pada tubuh Jordan terkesiap terkejut juga sangat perih luar biasa sampai ke tulang belulangnya.

“Ha ha ha …kau tidak bisa pura-pura kuat padaku, Jordan! Berteriak dan bernyanyilah! Panggil Tuhanmu yang Agung itu agar dia menyaksikanmu sang pezina dan pembunuh ini menebus dosanya!” ejek Langley meremehkan keyakinan Jordan.

Langley masih terus mencambuki Jordan meski telah mengayunkan dua puluh empat kali yang dihitung oleh Jordan dalam hatinya.

“Anda telah mencambukku lebih dari dua puluh empat kali, Langley! Berhentilah sebelum lengan Anda merasa lelah!” cetus Jordan mantap mengucapkan kata-katanya tanpa tersendat atau pun terbata.

Mendengar ucapan Jordan, Langley yang sudah bersiap mengayunkan cambuknya sangat tinggi, tidak bisa menghentikan ujung cambuknya dari melukai punggung Jordan yang kali ini pemuda itu berteriak mengaduh pilu. Darah menyembur mengucur deras dari bekas luka cambukan di punggung Jordan yang semakin membuat Langley tertawa puas.

Bibir Langley tersenyum penuh kemenangan, dia menjatuhkan cambuknya yang dipungut oleh anak buahnya.

“Berikan dia pakaian ganti dan bersihkan ruangan ini!” perintah Langley sambil menatap tajam kedua anak buahnya yang mengangguk cepat tanpa berbicara.

“Satu kali seminggu, kalian harus membersihkan ruangan ini! Memberikannya pakaian ganti dan air laut dua ember untuk dia mandi! Jika tidak, maka kalianlah yang akan menemaninya berada di sini. Paham?”

Langley melangkah ke arah samping Jordan dan mencengkeram dagu pemuda itu yang dia tengadahkan.

"Masih belum mau menyerah dan mengakui jika dirimu adalah pendosa terkutuk?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED