"Makanan kampung lagi."
Ratna memperhatikan menu makan malam yang sudah tersaji di hadapannya.
"Nayla, sampai kapan kamu akan menghidangkan makanan kampung seperti ini terus. Seharusnya sebagai seorang istri pengusaha sukses kamu harus bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan yang ada, bukan membawa kehidupan miskinmu masuk ke keluarga ini."
Kata-kata itu seperti pisau yang menyayat hati Nayla.
"Maaf, Ma. Nanti aku akan coba belajar memasak masakan modern seperti keinginan Mama," jawabnya dengan lembut.
"Enggak perlu, kamu pikir perutku ini bisa menunggu mu belajar. 3 tahun menikah aja kamu nggak mampu memberikan keturunan, apalagi memasak."
Nayla seketika terdiam, bibirnya terasa kaku. Ingin sekali Nayla menjawab setiap kata yang keluar dari mulut ibu mertuanya. Namun, rasanya kata-kata itu tertahan di kerongkongannya.
"Sayang," panggil Bayu dengan lembut. Namun, mampu membuat Nayla terkejut. "Tolong panggilkan Indri di kamarnya." Bayu tersenyum lembut.
Nayla hanya mengangguk kecil, ia segera berdiri dan meninggalkan meja makan.
Nayla yang sudah berdiri di depan kamar Indri langsung mengetuk pintu kamar dengan perlahan sambil memanggil nama Indri.
Tidak berapa lama Indri membuka pintu kamarnya. "Mbak Nayla. Ada apa?"
"Mas Bayu dan Mama sudah menunggu mu di meja makan."
Nayla berusaha tersenyum walaupun hatinya masih terasa begitu perih karena kata-kata Ratna.
"Oh, ok." jawabnya singkat.
Mereka segera berjalan ke arah meja makan.
"Selamat malam semua," sapa Indri yang sudah berdiri di dekat meja makan.
"Malam, Sayang. Ayo kita makan malam bersama!" Ratna mempersilahkan Indri untuk duduk.
"Terima kasih, Tante." Indri langsung menarik kursi yang ada di samping Bayu dan segera duduk.
Sementara Nayla terlihat mematung memperhatikan Indri. Bagaimana tidak, kursi yang digunakan Indri saat ini adalah kursi yang biasa ia gunakan selama menjadi istri Bayu.
"Tadi sore dia mengambil perhatian suami dan mertuaku, dan sekarang dia mengambil kursi yang seharusnya menjadi tempatku. Setelah ini apalagi yang akan ia ambil?" Pikir Nayla.
"Sayang, kamu kenapa?" Bayu segera menggenggam tangan Nayla.
"Enggak apa-apa, Mas." Nayla tersenyum, matanya terlihat melirik ke arah Indri.
"Maaf, ini tempat Mbak Nayla. Kalau gitu silahkan duduk, aku bisa pindah di tempat lain." Indri segera berdiri dari tempat duduknya. Namun, dengan segera Ratna memegang tangan Indri.
"Enggak perlu, sudah kamu duduk aja di kursi itu. Nayla bisa duduk di tempat lain," ucap Ratna sambil melirik Nayla.
"Tapi, Tante."
Belum sempat Indri menjawab Nayla segera memotong ucapannya. "Mama benar, aku bisa duduk di tempat lain." Nayla segera duduk di salah satu kursi berseberangan dengan Indri.
Beberapa saat suasana terasa hening, hanya ada gesekan sendok dan piring yang terdengar di ruangan itu. Nayla, sebenarnya enggan menikmati makanan di hadapannya, tapi demi agar tidak terlihat lemah di hadapan Ratna, Nayla berusaha untuk tetap menikmati setiap momen yang begitu menegangkan itu.
Sesekali Nayla berusaha melirik Indri dan Bayu secara bergantian.
"Mas, kamu coba deh opor ayam ini, rasanya enak banget." Indri tiba-tiba mengambil potongan opor ayam dan langsung meletakkan di piring Bayu.
"Ehm ... rasanya emang benar-benar enak," Bayu mengunyah suapan pertamanya. "Nayla memang pandai dalam hal mengurus rumah, tapi sayang dia nggak pandai dalam merawat tubuhnya."
Kata-kata itu tiba-tiba keluar begitu saja dari mulut Bayu tanpa ia sadari. Nayla merasakan sakit yang luar biasa di dalam dadanya, dadanya terasa semakin sesak mendengar ucapan Bayu.
"Eh, Nayla. Kamu dengar sendiri kan apa yang dikatakan Bayu, kamu itu pandainya dalam pekerjaan rumah alias pembantu. Dan bodoh dalam mengurus tubuhmu," Ratna menatapnya dengan penuh hinaan.
"Mama!" Bayu langsung menoleh ke arah Ratna.
"Sayang, aku minta maaf, ya. Aku nggak bermaksud menghinamu." Bayu segera meraih tangan Nayla dengan erat. Ia berusaha meyakinkan Nayla jika apa yang ia ucapkan barusan di luar kesadarannya.
Nayla segera melepas genggaman tangan Bayu. "Enggak apa-apa, Mas." ucapnya dengan tenang. Nayla segera berdiri dari tempat duduknya. "Maaf, aku permisi dulu."
Nayla langsung meninggalkan meja makan.
Tetap berada di meja makan bagi Nayla hanya akan menambah rasa sakit hati yang semakin dalam. Kedekatan antara Bayu dan Indri saja sudah membuat dadanya sesak, dan kini ia harus mendengar hinaan dari Bayu, suaminya sendiri.
"Apa aku seburuk itu, sampai Mas Bayu menghina fisikku di hadapan Indri?" Nayla bicara pada dirinya sendiri, ia memperhatikan penampilannya dari balik cermin.
Nayla yang dulu seorang gadis desa yang cantik dan berkulit bersih, kini berubah menjadi seorang ibu rumah tangga yang lusuh. Rambutnya yang dulu selalu tergerai indah, kini justru terlihat begitu lepek. Bagaimana tidak, sejak menikah dengan Bayu, pria itu tidak pernah memberikan uang untuk melakukan perawatan ataupun membeli beberapa keperluan make up.
Bayu selalu memberikan pendapatannya setiap bulan kepada Ratna, ibunya, dan itupun hanya cukup untuk keperluan satu bulan. Jika ada kekurangan dalam keperluan, maka Nayla yang harus mencari solusi untuk memenuhi semua kekurangan yang ada.
"Sayang, aku minta maaf ya. Aku nggak bermaksud untuk membuatmu tersinggung." Tiba-tiba Bayu sudah memeluk Nayla dari belakang.
Nayla hanya tersenyum kecil.
"Enggak apa-apa, Mas. Aku ngerti kok." Nayla segera berbalik menghadap Bayu. "ya udah sekarang kita istirahat yuk! Kamu pasti capek seharian bekerja."
Keduanya segera berjalan ke arah ranjang untuk segera tidur.
"Mas Bayu kemana, kok nggak ada?"
Nayla yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya terlihat bingung saat melihat Bayu tidak ada di tempat tidur.
"Apa mungkin dia di kamar mandi? Tapi sepertinya kamar mandi kosong."
Nayla berusaha mendengar suara kran air dari kejauhan.
Nayla segera bangun dari tempat tidur, ia melirik ke arah jam dinding. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari.
Nayla paham benar bagaimana kebiasaan Bayu, pria itu tidak pernah tidur sampai larut malam sekalipun itu karena pekerjaan. Bayu lebih memilih lelah di sore hari daripada harus menahan kantuk saat malam hari.
"Dimana Mas Bayu, apa mungkin ...." Nayla tiba-tiba terdiam, entah kenapa ingatannya langsung pada Indri.
Nayla yang penasaran dengan keberadaan suaminya memutuskan untuk keluar dari kamar dan mencari suaminya. Namun, baru saja ia turun dari ranjang tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Bayu masuk ke dalam kamar dengan wajah yang sudah basah oleh keringat.
"Kamu dari mana, Mas? Kok kamu bisa keringetan gini?"
Nayla mengusap keringat yang menempel di dahi Bayu. Tidak hanya itu, sebagian baju Bayu juga sudah mulai basah karena keringat.
"Aku baru saja dari halaman belakang, sejak tadi aku nggak bisa tidur karena udaranya begitu panas." Bayu terlihat begitu tenang, ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda jika dirinya sedang berbohong.
Bayu langsung membuka baju piyama yang ia gunakan. Dan meletakkannya di keranjang pakaian kotor.
"Panas, kamar sedingin ini dia bilang panas?"
Nayla mengerutkan keningnya, ia menatap wajah Bayu dengan begitu lekat seolah mencari jawaban akan perkataan suaminya baru saja.
"Kenapa aku merasa Mas Bayu sedang menyembunyikan sesuatu dariku, tapi apa." Batinya sambil terus memperhatikan Bayu yang sudah berdiri di dekat lemari pakaian.
Suasana pagi di rumah terasa lebih hening dari biasanya. Nayla sibuk di dapur, memotong sayuran dengan penuh konsentrasi, sampai sebuah suara menyapanya dari belakang.
"Selamat pagi, Mbak."
Nayla menoleh sekilas dan mendapati Indri sudah berdiri di sampingnya, memperhatikan setiap gerakannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Indri, kamu sudah bangun?" tanyanya santai.
Indri tersenyum tipis. "Mbak Nayla memang istri idaman. Pantas saja Mas Bayu sangat mencintai Mbak."
Nayla hanya membalas dengan senyum kecil sambil tetap melanjutkan pekerjaannya. Namun, kata-kata Indri berikutnya membuat tangannya terhenti.
"Mbak, pernah nggak kepikiran kalau Mas Bayu tiba-tiba mengkhianati Mbak?"
Seketika Nayla memalingkan wajahnya ke arah Indri, menatapnya dengan alis berkerut.
"Aku percaya sama Mas Bayu," jawabnya pelan namun tegas. "Aku yakin dia nggak akan mengkhianati aku."
Indri tersenyum miring, tatapannya berubah tajam. "Ya, bisa aja kan? Mas Bayu itu pria tampan, kaya, baik hati. Jujur aja, Mbak, mana ada wanita yang menolak pria seperti dia?" Indri menghela napas dramatis sebelum menambahkan, "Kalau dia bukan sepupuku, mungkin aku sendiri mau jadi istri keduanya."
Deg.
Nayla merasakan dadanya seperti dihantam sesuatu. Tangannya gemetar, dan pisau yang dipegangnya terjatuh ke meja.
"A-aku mau ke belakang dulu. Harus memeriksa cucian," gumam Nayla tergesa-gesa, berusaha melarikan diri dari situasi yang tiba-tiba menyesakkan.
Di ruang laundry, Nayla duduk di kursi kecil, menarik napas dalam-dalam. Kata-kata Indri terus terngiang di telinganya.
"Apa mungkin Mas Bayu tega mengkhianati aku?"
Dia mencoba menyangkal, tapi hatinya tahu, di luar sana banyak wanita yang pasti tergoda oleh Bayu. Dengan wajah tampan, harta berlimpah, dan statusnya sebagai CEO, pria seperti itu adalah incaran banyak orang.
"Tapi... tidak mungkin, kan? Mas Bayu bukan tipe pria seperti itu."
"Nayla! Sayang!" suara Bayu menggema di seluruh rumah.
Nayla buru-buru menghapus air matanya dan keluar menemui suaminya.
"Ada apa, Mas?"
"Sayang, kamu lihat kaos kesayanganku nggak? Aku sudah cari ke mana-mana tapi nggak ketemu."
Nayla mencoba mengingat. "Aku cari di ruang laundry dulu, ya."
Ia segera beranjak, meninggalkan Bayu yang masih berdiri di ruang makan. Kaos itu memang favorit Bayu, selalu ia kenakan sebelum memakai kemeja kerja. Namun, setelah menggeledah ruang laundry, kaos itu tidak ditemukan.
"Mas, kaosmu nggak ada," katanya ketika kembali.
"Aduh, di mana ya? Aku suka banget pakai kaos itu kalau cuaca panas."
Nayla menepuk lengan Bayu lembut. "Sudah, Mas mandi dulu aja. Aku cari lagi nanti."
Bayu tersenyum dan mengecup kening Nayla. "Kamu memang istri terbaikku."
Namun, sebelum Bayu sempat melangkah ke kamar, suara Indri tiba-tiba terdengar.
"Mas, ini kaosmu?"
Nayla langsung menoleh. Matanya membulat saat melihat Indri berdiri di tangga, memegang kaos favorit Bayu.
"Kaos Mas Bayu ada di Indri? Tapi... bagaimana bisa?"
Bayu menatap kaos itu, lalu mengernyit. "Iya, ini kaosku. Kok bisa ada di kamu?"
"Tadi aku nggak sengaja menemukannya di dekat kamarku," jawab Indri santai. "Karena kaos ini milik laki-laki, aku pikir pasti milik Mas."
Bayu meraih kaos itu, lalu melirik ke arah dapur, tepat ke arah Nayla yang diam memperhatikannya.
"Terima kasih ya," katanya cepat, sebelum bergegas ke kamar.
Nayla menggigit bibirnya, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdebar kencang.
"Aneh. Kamar Indri dan kamar kami berada di arah yang berbeda. Bagaimana mungkin kaos itu bisa sampai ke sana?"
Dia mencoba mencari alasan logis, tapi pikirannya terus dipenuhi dengan bayangan buruk.
"Ah, mungkin semua ini cuma kebetulan."
Namun, benarkah hanya kebetulan?
Nayla berusaha menepis pikirannya dan kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Tak lama kemudian, semua sudah berkumpul di meja makan, kecuali dirinya yang masih sibuk menata makanan.
"Nayla, cepat!" suara Ratna terdengar ketus.
"Iya, Bu. Sebentar lagi."
Beberapa saat kemudian, Nayla membawa piring-piring berisi nasi goreng dan telur ceplok ke meja makan. Namun, belum sempat ia duduk, suara tajam Ratna kembali terdengar.
"Kamu mau ngapain?"
Nayla menelan ludah. "A-aku juga mau sarapan, Ma."
Ratna mendengus sinis. "Sarapan? Lihat dirimu! Bau bawang, keringatan, jijik aku. Makan di dapur aja!"
Nayla mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan emosi yang mulai membara di dalam hatinya.
"Sayang, lain kali kalau mau makan bareng, bersihin dulu diri kamu," kata Bayu tanpa menoleh. "Kamu kelihatan dekil, bikin nggak selera makan."
Deg.
Sekarang, bukan hanya Ratna yang mempermalukannya, tapi juga suaminya sendiri. Bayu, pria yang selama ini membelanya, kini ikut menyudutkannya.
"Maaf, Mas..." suaranya bergetar. Air mata mulai berkumpul di sudut matanya.
"Ya udah, cepat sana ke dapur!" bentak Bayu.
Tanpa berkata lagi, Nayla beranjak dari kursinya.
Namun, baru saja ia melangkah ke dapur, suara Indri terdengar.
"Mas, makan dulu, jangan sampai gara-gara marah malah nggak nafsu makan." Indri mengambil telur ceplok dan meletakkannya di piring Bayu.
Beberapa detik kemudian, Indri mengambil suapan pertamanya. Namun, yang terjadi selanjutnya membuat semua orang di meja makan terkejut.
Indri tiba-tiba memuntahkan makanan dari mulutnya. Wajahnya berubah pucat, dan tangannya menggenggam lehernya seolah ada sesuatu yang salah.
"Indri, kamu kenapa?"
Bayu dan Ratna saling berpandangan, sementara Nayla yang berdiri di dapur menatap mereka dengan ekspresi penuh tanda tanya. Sesuatu yang aneh sedang terjadi.
"Makanan apa ini?!"
Indri melemparkan sendoknya ke piring dengan kasar, wajahnya penuh ekspresi jijik.
"Indri, ada apa? Makanannya nggak enak?" tanya Ratna penasaran.
"Tante coba aja sendiri," balas Indri sambil melipat tangan di dada.
Ratna dan Bayu saling berpandangan sebelum akhirnya ikut menyuapkan nasi goreng ke mulut mereka. Begitu rasa asin yang berlebihan memenuhi lidah, Ratna langsung memuntahkan makanan itu.
"Ya ampun! Ini nasi goreng atau garam murni?" Ratna mengernyit jijik.
"Nayla!" Bayu berteriak, suaranya menggema di seluruh rumah.
Tak lama, Nayla muncul dengan langkah tergesa-gesa.
"Ada apa, Mas? Kok teriak-teriak gitu?" tanyanya, wajahnya penuh kebingungan.
"Kamu bisa masak nggak sih? Buat nasi goreng aja nggak becus!" bentak Bayu, tatapannya tajam menusuk ke arah Nayla.
"Eh, Nayla, ini makanan atau sampah? Rasanya asin banget!" Ratna menimpali dengan nada menyindir.
"Asin?" Nayla mengerutkan kening.