Bab 1

"Mas, kamu udah pulang?" tanya Nayla yang kini berjalan menuruni anak tangga.

Bayu segera mengarahkan pandangannya ke arah Nayla.

"Sayang, kamu darimana saja. Daritadi aku panggil kok nggak ada jawaban?" Pertanyaan yang terdengar begitu di paksakan bagi Nayla.

Saat Nayla sudah berdiri di hadapan Bayu. Pria tampan dengan jambang halus di dagunya itu segera mencium Nayla, istrinya.

"Aku baru saja merapikan kamar," jawab Nayla sambil tersenyum kecil.

"Siapa wanita ini, Mas?" Pandangan Nayla langsung terpaku saat melihat seorang wanita muda berdiri tidak jauh dari suaminya.

"Kenalkan, dia Indri sepupuku," ucap Bayu yang langsung menggeser tempatnya berdiri menjadi di sebelah Nayla.

"Dan ... Indri, kenalkan ini Nayla. Istri yang paling aku cintai sampai kapanpun."

Bayu langsung mencium pipi Nayla di hadapan Indri, membuat wajah Nayla memerah karena malu.

"Halo, Mbak. Aku Indri sepupu Mas Bayu." Indri mengulurkan tangannya.

Sepupu? Sejak kapan Mas Bayu memiliki sepupu bernama Indri? Dan kenapa selama ini ia tidak pernah menceritakannya kepadaku? Pertanyaan itu tiba-tiba terlintas di pikirannya.

"Kok aku nggak pernah tahu, ya, kalau kamu punya sepupu bernama Indri?"

Pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut Nayla membuat Bayu langsung salah tingkah.

"Itu karena Indri tinggal di desa, jadi kami jarang bertemu dan memang kurang akrab juga. Makanya aku juga jarang menceritakannya padamu."

Sebuah alasan yang terdengar sangat masuk akal, tapi entah kenapa hati Nayla berkata lain, seolah ada hal yang sedang berusaha di tutupi oleh Bayu, suaminya.

"Lagi pula apa pentingnya kamu tahu tentang Indri?"

Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari kejauhan.

"Tante Ratna." Indri segera menghampiri Ratna yang baru saja keluar dari kamarnya.

Pelukan hangat di berikan Ratna kepada Indri. Nayla yang melihat kedekatan ibu mertuanya dan Indri terasa begitu sakit, bagaimana tidak, hampir 3 tahun ia menjadi istri Bayu, Ratna tidak pernah memeluknya sehangat itu.

"Bagaimana kabar orang tuamu? Mereka sehat, 'kan?"

Ratna melepaskan pelukannya, ia kini menatap wajah Indri dengan penuh kasih sayang.

Sambil tersenyum kecil. "Papa dan Mama sehat kok, Tante. Kalau Tante sendiri bagaimana, sehat 'kan?" tanya Indri.

"Ya beginilah ... terkadang terasa jenuh harus berduaan dengan orang kampung, nggak se frekuensi." Ratna melirik ke arah Nayla yang masih berdiri di samping Bayu.

Nayla Saputri adalah seorang gadis lugu dari sebuah desa kecil, kehidupan sulit membuatnya memilih untuk mengadu nasib ke kota besar. Sampai akhirnya dewi keberuntungan berpihak padanya, Nayla yang saat itu bekerja sebagai seorang pelayan di sebuah restoran anpa sengaja bertemu dengan Bayu yang saat itu menghadiri sebuah acara kantor.

Pertemuan yang tidak sengaja tersebut rupanya membuat keduanya semakin dekat. Bayu yang begitu sangat mencintai Nayla memutuskan untuk menikahi gadis pujaannya itu walaupun tanpa restu sang ibu.

"Sayang, kamu yang sabar ya." Tangan Bayu tiba-tiba menggegam tangan Nayla dengan erat. Ia seolah merasakan apa yang di rasakan istrinya saat ini.

Nayla hanya menatap wajah suaminya dengan lembut, sebuah senyuman terlihat di bibir Nayla. Walaupun terkesan seperti di paksakan.

"Ma, bagaimana kalau kangen-kangenannya di lanjutkan nanti," ucap Bayu yang kini berdiri di samping Ratna. "Lebih baik kita biarkan Indri istirahat dulu."

"Kamu benar, Mama sampai lupa." Ratna tertawa lepas, dengan tangan terus menggegam tangan Indri.

"Eh, Nayla!" bentak Ratna. "Ngapain kamu masih bengong di situ? Cepat antar Indri ke kamarnya."

"I-iya , Ma." Nayla yang sedang melamun langsung tersentak mendengar suara bentakan Ratna. "Indri, ayo aku antar ke kamarmu."

"Terima kasih, Mbak," ucapnya lembut.

Keduanya segera berjalan beriringan meninggalkan ruang tamu. Namun, baru beberapa lagkah suara Ratna terdengar memanggil nama Nayla.

"Nayla." Suaranya sedikit lebih keras. "Setelah mengantar Indri cepat kamu masak makan malam, aku nggak mau kalau sampai makan malam hari ini terlambat lagi," suara Ratna terdengar seperti sebuah ancaman.

Nayla hanya tersenyum dan mengangguk, ia seolah sudah terbiasa dengan perlakuan Ratna, ibu mertuanya. Sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan ruang tamu bersama Indri.

"Ini kamarmu," ucap Nayla sambil membuka pintu kamar tamu. "Maaf jika kamarnya sedikit kurang rapi, karena aku belum sempat membersihkannya."

"Enggak apa-apa kok, Mbak. Kamar ini masih terlihat begitu rapi dan bersih," ucapnya. Indri menoleh ke arah Nayla sejenak kemudian mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.

"Yaudah kalau gitu aku keluar dulu, biar kamu bisa segera istirahat." Nayla berpamitan.

"Iya, Mbak. Makasih ya, sudah mau mengizinkan aku tinggal di sini."

"Kamu adalah keluarga Mas Bayu, jadi sudah sewajarnya kami memperlakukanmu dengan baik."

Nayla segera keluar dari kamar, dengan perlahan ia menutup pintu kamar.

"Ya ampun aku lupa belum menyiapkan air hangat dan pakaian untuk Mas Bayu." Nayla segera melangkah ke arah kamarnya. Sebuah kamar utama yang terletak di bagian paling ujung lantai dua.

Sejak menikah dengan Bayu, Nayla memang mengabdikan dirinya pada Bayu dan Ratna, mertuanya. Bagi Nayla apa yang ia lakukan itu adalah salah satu bentuk terima kasihnya kepada Bayu atas apa yang ia berikan selama ini. Walaupun Nayla tahu ia tidak lebih dari seorang pembantu di mata Ratna.

Pernah suatu hari Ratna mengatakan jika dirinya sampai kapanpun tidak akan menerima kehadiran Nayla sebagai menantunya. Karena bagi Ratna, Bayu berhak mendapatkan istri yang setara dengan mereka. Bukan hanya gadis kampung seperti Nayla.

Setelah beberapa saat Nayla sudah selesai menyiapkan air hangat untuk Bayu.

"Sebaiknya aku menemui Mas Bayu. Aku yakin dia pasti sudah lelah setelah seharian bekerja di kantor." pikirnya.

Nayla segera keluar dari kamarnya, ia langsung menuju ke ruang tamu.

Namun, baru saja kakinya menyentuh lantai bawah tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Samar-sama ia mendengar pembicaraan yang terjadi antara Bayu dan Ratna.

"Ingat ya, Mama nggak mau sampai ada yang tahu siapa Indri. Kamu harus memastikan semua ini aman," suara Ratna terdengar begitu pelan seperti berbisik.

"Mama tenang aja, aku bisa jamin nggak akan ada yang tahu tentang rencana kita."

Ucapan Bayu terdengar begitu meyakinkan.

"Rencana? Apa yang mereka rencanakan? Dan siapa sebenarnya Indri?"

Pertanyaan itu seolah terus berputar di kepala Nayla.

"Bagus kalau begitu kamu pastikan Indri merasa nyaman di rumah ini, dan pastikan juga istri kampungmu itu nggak menghancurkan semuanya."

Ratna menatap Bayu dengan tajam. Sementara Bayu hanya terlihat mengangguk kecil.

"Sebenarnya apa yang mereka rahasiakan dariku." Nayla mengeryitkan dahinya.

"Nayla! Sedang apa kamu di sana?!"

Tiba-tiba suara Ratna menggelegar, hingga membuat Nayla terkejut.

"A-aku hanya." Wajahnya terlihat begitu gugup. Nayla menghirup nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku hanya ingin menemui Mas Bayu."

"Mas, kamu mandi dulu sana! Nanti keburu airnya dingin." Nayla terus berusaha terlihat tenang untuk menghindari kecurigaan Ratna dan Bayu. "Kalau gitu aku ke dapur dulu untuk masak makan malam," ucap Nayla yang langsung meninggalkan ruang tamu.

"Terima kasih, Sayang." Bayu tersenyum ke arah Nayla.

Dengan cepat pandangan Bayu segera beralih ke Ratna. "Ma, aku mandi dulu." Bayu segera berdiri dari tempat duduknya. "Mama tenang aja Nayla nggak akan tahu tentang rencana kita."

Suara itu terdengar begitu pelan hampir tak terdengar. Sementara Ratna hanya bisa menggangguk kecil.

Bab 2

"Makanan kampung lagi."

Ratna memperhatikan menu makan malam yang sudah tersaji di hadapannya.

"Nayla, sampai kapan kamu akan menghidangkan makanan kampung seperti ini terus. Seharusnya sebagai seorang istri pengusaha sukses kamu harus bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan yang ada, bukan membawa kehidupan miskinmu masuk ke keluarga ini."

Kata-kata itu seperti pisau yang menyayat hati Nayla.

"Maaf, Ma. Nanti aku akan coba belajar memasak masakan modern seperti keinginan Mama," jawabnya dengan lembut.

"Enggak perlu, kamu pikir perutku ini bisa menunggu mu belajar. 3 tahun menikah aja kamu nggak mampu memberikan keturunan, apalagi memasak."

Nayla seketika terdiam, bibirnya terasa kaku. Ingin sekali Nayla menjawab setiap kata yang keluar dari mulut ibu mertuanya. Namun, rasanya kata-kata itu tertahan di kerongkongannya.

"Sayang," panggil Bayu dengan lembut. Namun, mampu membuat Nayla terkejut. "Tolong panggilkan Indri di kamarnya." Bayu tersenyum lembut.

Nayla hanya mengangguk kecil, ia segera berdiri dan meninggalkan meja makan.

Nayla yang sudah berdiri di depan kamar Indri langsung mengetuk pintu kamar dengan perlahan sambil memanggil nama Indri.

Tidak berapa lama Indri membuka pintu kamarnya. "Mbak Nayla. Ada apa?"

"Mas Bayu dan Mama sudah menunggu mu di meja makan."

Nayla berusaha tersenyum walaupun hatinya masih terasa begitu perih karena kata-kata Ratna.

"Oh, ok." jawabnya singkat.

Mereka segera berjalan ke arah meja makan.

"Selamat malam semua," sapa Indri yang sudah berdiri di dekat meja makan.

"Malam, Sayang. Ayo kita makan malam bersama!" Ratna mempersilahkan Indri untuk duduk.

"Terima kasih, Tante." Indri langsung menarik kursi yang ada di samping Bayu dan segera duduk.

Sementara Nayla terlihat mematung memperhatikan Indri. Bagaimana tidak, kursi yang digunakan Indri saat ini adalah kursi yang biasa ia gunakan selama menjadi istri Bayu.

"Tadi sore dia mengambil perhatian suami dan mertuaku, dan sekarang dia mengambil kursi yang seharusnya menjadi tempatku. Setelah ini apalagi yang akan ia ambil?" Pikir Nayla.

"Sayang, kamu kenapa?" Bayu segera menggenggam tangan Nayla.

"Enggak apa-apa, Mas." Nayla tersenyum, matanya terlihat melirik ke arah Indri.

"Maaf, ini tempat Mbak Nayla. Kalau gitu silahkan duduk, aku bisa pindah di tempat lain." Indri segera berdiri dari tempat duduknya. Namun, dengan segera Ratna memegang tangan Indri.

"Enggak perlu, sudah kamu duduk aja di kursi itu. Nayla bisa duduk di tempat lain," ucap Ratna sambil melirik Nayla.

"Tapi, Tante."

Belum sempat Indri menjawab Nayla segera memotong ucapannya. "Mama benar, aku bisa duduk di tempat lain." Nayla segera duduk di salah satu kursi berseberangan dengan Indri.

Beberapa saat suasana terasa hening, hanya ada gesekan sendok dan piring yang terdengar di ruangan itu. Nayla, sebenarnya enggan menikmati makanan di hadapannya, tapi demi agar tidak terlihat lemah di hadapan Ratna, Nayla berusaha untuk tetap menikmati setiap momen yang begitu menegangkan itu.

Sesekali Nayla berusaha melirik Indri dan Bayu secara bergantian.

"Mas, kamu coba deh opor ayam ini, rasanya enak banget." Indri tiba-tiba mengambil potongan opor ayam dan langsung meletakkan di piring Bayu.

"Ehm ... rasanya emang benar-benar enak," Bayu mengunyah suapan pertamanya. "Nayla memang pandai dalam hal mengurus rumah, tapi sayang dia nggak pandai dalam merawat tubuhnya."

Kata-kata itu tiba-tiba keluar begitu saja dari mulut Bayu tanpa ia sadari. Nayla merasakan sakit yang luar biasa di dalam dadanya, dadanya terasa semakin sesak mendengar ucapan Bayu.

"Eh, Nayla. Kamu dengar sendiri kan apa yang dikatakan Bayu, kamu itu pandainya dalam pekerjaan rumah alias pembantu. Dan bodoh dalam mengurus tubuhmu," Ratna menatapnya dengan penuh hinaan.

"Mama!" Bayu langsung menoleh ke arah Ratna.

"Sayang, aku minta maaf, ya. Aku nggak bermaksud menghinamu." Bayu segera meraih tangan Nayla dengan erat. Ia berusaha meyakinkan Nayla jika apa yang ia ucapkan barusan di luar kesadarannya.

Nayla segera melepas genggaman tangan Bayu. "Enggak apa-apa, Mas." ucapnya dengan tenang. Nayla segera berdiri dari tempat duduknya. "Maaf, aku permisi dulu."

Nayla langsung meninggalkan meja makan.

Tetap berada di meja makan bagi Nayla hanya akan menambah rasa sakit hati yang semakin dalam. Kedekatan antara Bayu dan Indri saja sudah membuat dadanya sesak, dan kini ia harus mendengar hinaan dari Bayu, suaminya sendiri.

"Apa aku seburuk itu, sampai Mas Bayu menghina fisikku di hadapan Indri?" Nayla bicara pada dirinya sendiri, ia memperhatikan penampilannya dari balik cermin.

Nayla yang dulu seorang gadis desa yang cantik dan berkulit bersih, kini berubah menjadi seorang ibu rumah tangga yang lusuh. Rambutnya yang dulu selalu tergerai indah, kini justru terlihat begitu lepek. Bagaimana tidak, sejak menikah dengan Bayu, pria itu tidak pernah memberikan uang untuk melakukan perawatan ataupun membeli beberapa keperluan make up.

Bayu selalu memberikan pendapatannya setiap bulan kepada Ratna, ibunya, dan itupun hanya cukup untuk keperluan satu bulan. Jika ada kekurangan dalam keperluan, maka Nayla yang harus mencari solusi untuk memenuhi semua kekurangan yang ada.

"Sayang, aku minta maaf ya. Aku nggak bermaksud untuk membuatmu tersinggung." Tiba-tiba Bayu sudah memeluk Nayla dari belakang.

Nayla hanya tersenyum kecil.

"Enggak apa-apa, Mas. Aku ngerti kok." Nayla segera berbalik menghadap Bayu. "ya udah sekarang kita istirahat yuk! Kamu pasti capek seharian bekerja."

Keduanya segera berjalan ke arah ranjang untuk segera tidur.

"Mas Bayu kemana, kok nggak ada?"

Nayla yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya terlihat bingung saat melihat Bayu tidak ada di tempat tidur.

"Apa mungkin dia di kamar mandi? Tapi sepertinya kamar mandi kosong."

Nayla berusaha mendengar suara kran air dari kejauhan.

Nayla segera bangun dari tempat tidur, ia melirik ke arah jam dinding. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari.

Nayla paham benar bagaimana kebiasaan Bayu, pria itu tidak pernah tidur sampai larut malam sekalipun itu karena pekerjaan. Bayu lebih memilih lelah di sore hari daripada harus menahan kantuk saat malam hari.

"Dimana Mas Bayu, apa mungkin ...." Nayla tiba-tiba terdiam, entah kenapa ingatannya langsung pada Indri.

Nayla yang penasaran dengan keberadaan suaminya memutuskan untuk keluar dari kamar dan mencari suaminya. Namun, baru saja ia turun dari ranjang tiba-tiba pintu kamar terbuka.

Bayu masuk ke dalam kamar dengan wajah yang sudah basah oleh keringat.

"Kamu dari mana, Mas? Kok kamu bisa keringetan gini?"

Nayla mengusap keringat yang menempel di dahi Bayu. Tidak hanya itu, sebagian baju Bayu juga sudah mulai basah karena keringat.

"Aku baru saja dari halaman belakang, sejak tadi aku nggak bisa tidur karena udaranya begitu panas." Bayu terlihat begitu tenang, ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda jika dirinya sedang berbohong.

Bayu langsung membuka baju piyama yang ia gunakan. Dan meletakkannya di keranjang pakaian kotor.

"Panas, kamar sedingin ini dia bilang panas?"

Nayla mengerutkan keningnya, ia menatap wajah Bayu dengan begitu lekat seolah mencari jawaban akan perkataan suaminya baru saja.

"Kenapa aku merasa Mas Bayu sedang menyembunyikan sesuatu dariku, tapi apa." Batinya sambil terus memperhatikan Bayu yang sudah berdiri di dekat lemari pakaian.

Bab 3

Suasana pagi di rumah terasa lebih hening dari biasanya. Nayla sibuk di dapur, memotong sayuran dengan penuh konsentrasi, sampai sebuah suara menyapanya dari belakang.

"Selamat pagi, Mbak."

Nayla menoleh sekilas dan mendapati Indri sudah berdiri di sampingnya, memperhatikan setiap gerakannya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Indri, kamu sudah bangun?" tanyanya santai.

Indri tersenyum tipis. "Mbak Nayla memang istri idaman. Pantas saja Mas Bayu sangat mencintai Mbak."

Nayla hanya membalas dengan senyum kecil sambil tetap melanjutkan pekerjaannya. Namun, kata-kata Indri berikutnya membuat tangannya terhenti.

"Mbak, pernah nggak kepikiran kalau Mas Bayu tiba-tiba mengkhianati Mbak?"

Seketika Nayla memalingkan wajahnya ke arah Indri, menatapnya dengan alis berkerut.

"Aku percaya sama Mas Bayu," jawabnya pelan namun tegas. "Aku yakin dia nggak akan mengkhianati aku."

Indri tersenyum miring, tatapannya berubah tajam. "Ya, bisa aja kan? Mas Bayu itu pria tampan, kaya, baik hati. Jujur aja, Mbak, mana ada wanita yang menolak pria seperti dia?" Indri menghela napas dramatis sebelum menambahkan, "Kalau dia bukan sepupuku, mungkin aku sendiri mau jadi istri keduanya."

Deg.

Nayla merasakan dadanya seperti dihantam sesuatu. Tangannya gemetar, dan pisau yang dipegangnya terjatuh ke meja.

"A-aku mau ke belakang dulu. Harus memeriksa cucian," gumam Nayla tergesa-gesa, berusaha melarikan diri dari situasi yang tiba-tiba menyesakkan.

Di ruang laundry, Nayla duduk di kursi kecil, menarik napas dalam-dalam. Kata-kata Indri terus terngiang di telinganya.

"Apa mungkin Mas Bayu tega mengkhianati aku?"

Dia mencoba menyangkal, tapi hatinya tahu, di luar sana banyak wanita yang pasti tergoda oleh Bayu. Dengan wajah tampan, harta berlimpah, dan statusnya sebagai CEO, pria seperti itu adalah incaran banyak orang.

"Tapi... tidak mungkin, kan? Mas Bayu bukan tipe pria seperti itu."

"Nayla! Sayang!" suara Bayu menggema di seluruh rumah.

Nayla buru-buru menghapus air matanya dan keluar menemui suaminya.

"Ada apa, Mas?"

"Sayang, kamu lihat kaos kesayanganku nggak? Aku sudah cari ke mana-mana tapi nggak ketemu."

Nayla mencoba mengingat. "Aku cari di ruang laundry dulu, ya."

Ia segera beranjak, meninggalkan Bayu yang masih berdiri di ruang makan. Kaos itu memang favorit Bayu, selalu ia kenakan sebelum memakai kemeja kerja. Namun, setelah menggeledah ruang laundry, kaos itu tidak ditemukan.

"Mas, kaosmu nggak ada," katanya ketika kembali.

"Aduh, di mana ya? Aku suka banget pakai kaos itu kalau cuaca panas."

Nayla menepuk lengan Bayu lembut. "Sudah, Mas mandi dulu aja. Aku cari lagi nanti."

Bayu tersenyum dan mengecup kening Nayla. "Kamu memang istri terbaikku."

Namun, sebelum Bayu sempat melangkah ke kamar, suara Indri tiba-tiba terdengar.

"Mas, ini kaosmu?"

Nayla langsung menoleh. Matanya membulat saat melihat Indri berdiri di tangga, memegang kaos favorit Bayu.

"Kaos Mas Bayu ada di Indri? Tapi... bagaimana bisa?"

Bayu menatap kaos itu, lalu mengernyit. "Iya, ini kaosku. Kok bisa ada di kamu?"

"Tadi aku nggak sengaja menemukannya di dekat kamarku," jawab Indri santai. "Karena kaos ini milik laki-laki, aku pikir pasti milik Mas."

Bayu meraih kaos itu, lalu melirik ke arah dapur, tepat ke arah Nayla yang diam memperhatikannya.

"Terima kasih ya," katanya cepat, sebelum bergegas ke kamar.

Nayla menggigit bibirnya, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdebar kencang.

"Aneh. Kamar Indri dan kamar kami berada di arah yang berbeda. Bagaimana mungkin kaos itu bisa sampai ke sana?"

Dia mencoba mencari alasan logis, tapi pikirannya terus dipenuhi dengan bayangan buruk.

"Ah, mungkin semua ini cuma kebetulan."

Namun, benarkah hanya kebetulan?

Nayla berusaha menepis pikirannya dan kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Tak lama kemudian, semua sudah berkumpul di meja makan, kecuali dirinya yang masih sibuk menata makanan.

"Nayla, cepat!" suara Ratna terdengar ketus.

"Iya, Bu. Sebentar lagi."

Beberapa saat kemudian, Nayla membawa piring-piring berisi nasi goreng dan telur ceplok ke meja makan. Namun, belum sempat ia duduk, suara tajam Ratna kembali terdengar.

"Kamu mau ngapain?"

Nayla menelan ludah. "A-aku juga mau sarapan, Ma."

Ratna mendengus sinis. "Sarapan? Lihat dirimu! Bau bawang, keringatan, jijik aku. Makan di dapur aja!"

Nayla mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan emosi yang mulai membara di dalam hatinya.

"Sayang, lain kali kalau mau makan bareng, bersihin dulu diri kamu," kata Bayu tanpa menoleh. "Kamu kelihatan dekil, bikin nggak selera makan."

Deg.

Sekarang, bukan hanya Ratna yang mempermalukannya, tapi juga suaminya sendiri. Bayu, pria yang selama ini membelanya, kini ikut menyudutkannya.

"Maaf, Mas..." suaranya bergetar. Air mata mulai berkumpul di sudut matanya.

"Ya udah, cepat sana ke dapur!" bentak Bayu.

Tanpa berkata lagi, Nayla beranjak dari kursinya.

Namun, baru saja ia melangkah ke dapur, suara Indri terdengar.

"Mas, makan dulu, jangan sampai gara-gara marah malah nggak nafsu makan." Indri mengambil telur ceplok dan meletakkannya di piring Bayu.

Beberapa detik kemudian, Indri mengambil suapan pertamanya. Namun, yang terjadi selanjutnya membuat semua orang di meja makan terkejut.

Indri tiba-tiba memuntahkan makanan dari mulutnya. Wajahnya berubah pucat, dan tangannya menggenggam lehernya seolah ada sesuatu yang salah.

"Indri, kamu kenapa?"

Bayu dan Ratna saling berpandangan, sementara Nayla yang berdiri di dapur menatap mereka dengan ekspresi penuh tanda tanya. Sesuatu yang aneh sedang terjadi.

"Makanan apa ini?!"

Indri melemparkan sendoknya ke piring dengan kasar, wajahnya penuh ekspresi jijik.

"Indri, ada apa? Makanannya nggak enak?" tanya Ratna penasaran.

"Tante coba aja sendiri," balas Indri sambil melipat tangan di dada.

Ratna dan Bayu saling berpandangan sebelum akhirnya ikut menyuapkan nasi goreng ke mulut mereka. Begitu rasa asin yang berlebihan memenuhi lidah, Ratna langsung memuntahkan makanan itu.

"Ya ampun! Ini nasi goreng atau garam murni?" Ratna mengernyit jijik.

"Nayla!" Bayu berteriak, suaranya menggema di seluruh rumah.

Tak lama, Nayla muncul dengan langkah tergesa-gesa.

"Ada apa, Mas? Kok teriak-teriak gitu?" tanyanya, wajahnya penuh kebingungan.

"Kamu bisa masak nggak sih? Buat nasi goreng aja nggak becus!" bentak Bayu, tatapannya tajam menusuk ke arah Nayla.

"Eh, Nayla, ini makanan atau sampah? Rasanya asin banget!" Ratna menimpali dengan nada menyindir.

"Asin?" Nayla mengerutkan kening.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED