Bukan dia tak mencintaiku, hanya saja aku yang terlalu mencintainya.
-Anantha-
****
Samuel Dirgantara, ketua OSIS SMA KARTIKA yang terkenal sangat disiplin dan kejam dalam memberikan hukuman. Samuel bahkan sering memberikan hukuman pada kekasihnya sendiri, yaitu Anantha. Siswi bandel yang sering kali bolos pelajaran.
"Samuel!" Pria dengan keringat yang banjir di wajahnya, setelah selesai bermain basket menoleh ke arah seorang gadis yang berlari kecil menghampirinya.
"Buat kamu," Anantha tersenyum manis memberikan minuman yang baru saja ia beli di kantin untuk kekasihnya.
Dengan senang hati Samuel menerimanya, meneguk air itu hingga tersisa setengah. Anantha mengeluarkan sapu tangannya mengusap keringat yang membanjiri wajah tampan kekasihnya.
"Nanti kamu jadi nganterin aku pulang?" tanyanya.
Samuel mengangguk, mengulas senyum tipis ke arah Anantha. "Tungguin di depan, gue rapat OSIS bentar!" ucap Samuel.
"Oke, jadi jalan sekalian?" tanya Anantha kembali.
"Samuel!" Atensi keduanya beralih pada Deka yang melambai agar Samuel kembali bermain.
Samuel menganggukkan kepalanya, menepuk kepala Anantha pelan. "Jadi, buruan masuk kelas jangan sampai Bu Retno hukum karena ketahuan bolos!" teriak Samuel.
Anantha menyengir lebar, Samuel tahu saja jika dia izin ke kamar mandi tapi justru pergi ke kantin hanya untuk membelikan minuman untuknya. Anantha membawa tubuhnya berbalik kembali ke kelas setelah sebelumnya sempat menatap Samuel yang tengah bermain basket.
"Samuel, jangan pernah bosan untuk jatuh cinta sama Anantha ya? Karena Anantha sudah mencintai Samuel sangat jauh."
Bukan segera kembali ke kelas, Anantha justru kembali berbelok ke kantin. Ia malas masuk ke kelas Bu Rina yang memang cukup membosankan. Selain ia harus bertemu dengan rumus kimia ia pun harus mendengarkan promosi bimbel yang tidak ada habisnya.
"Mang, bakso satu ya!" pesan Anantha.
Ia mengambil duduk yang tidak terlihat dari luar, Anantha memainkan ponselnya dan sudah banyak mendapat pesan dari temannya. Anantha tidak perduli meski ia sudah di paksa untuk masuk lantaran guru menyebalkan itu sudah menyadari kepergiannya yang terlalu lama.
"Kalau di hukum tinggal di jalanin, sekolah tinggal berapa bulan aja. Lumayan nyari kenangan!" kekeh Anantha.
Matanya berbinar saat bakso yang ia pesan sudah di antarkan. Anantha segera memakannya, tanpa dia sadari ada sorot mata tajam yang sedari tadi memperhatikannya. Di suapan terakhirnya, Anantha sampai tersedak lantaran seseorang menggebrak mejanya sangat keras.
"ANANTHA PUTRI ATMAJA, LARI 5 PUTARAN SEKARANG JUGA!" teriakan melengking itu berasal dari Pak Beni, guru piket yang mencari siswi bolos seperti Anantha.
"Pak, jahat banget sih. Anantha sampai tersedak nih!" ucap Anantha setelah menghabiskan minumannya.
Pak Beni berkacak pinggang menatap tajam ke arah siswi nakalnya satu ini. "BAPAK NGGAK PERDULI, KE LAPANGAN SEKARANG JUGA ATAU BAPAK PANGGIL PAPA KAMU KE SEKOLAH!" teriak Pak Beni.
Anantha sampai tutup telinga mendengarnya, ia menunjukkan cengiran lebarnya segera bangkit dari duduknya.
"Aduh, bapak nggak usah repot-repot manggil papa saya ke sini. Kan yang sekolah di sini saya bukan papa saya, lagian nih pak, papa saya itu orangnya sibuk tiap hari kerjaannya di kantor numpuk. Nggak kayak bapak siang-siang gini masih bisa jalan-jalan, ke kantin lagi!"
"ANANTHA!"
Anantha tertawa puas, segera kabur dari jangkauan Pak Beni. Untung saja baksonya tadi sudah ia bayar. Anantha tersenyum saat melihat Samuel dan teman-temannya masih berada di lapangan.
Anantha menguncir tinggi rambutnya sebelum berlari mendekat ke arah Samuel. Dahi pria itu berkerut saat melihat Anantha kembali bukannya masuk ke kelas. Kebingungannya terjawab sudah setelah melihat kedatangan Pak Beni dengan penggaris panjangnya.
"Halo sayang!" sapa Anantha, memberikan ciuman jauh pada Samuel.
Samuel menghela napas panjang, masih saja tidak berubah. Kenakalan Anantha justru semakin menjadi semenjak mereka kelas 12. Pak Beni yang lelah setelah mengejar Anantha duduk di dekat Samuel dan teman-temannya.
"Samuel, kamu urus siswi nakal ini! Bapak mau kembali ke ruang guru. Jangan biarin dia kabur sebelum lari lima putaran!" perintah Pak Beni.
"Baik, Pak."
Pak Beni meninggalkan lapangan, setelah memberi peringatan kembali pada Anantha. "Kalau kamu buat ulah lagi, bapak akan panggil papa kamu ke sekolahan!" ancamnya.
Anantha menjulurkan lidahnya mengejek Pak Beni setelah guru itu berbalik. Ia sudah merasa lelah meski baru dua putaran saja. Anantha beralih menatap Samuel yang memberikan tatapan tajam kepadanya. Jangan harap setelah ini ia terbebas begitu saja, Samuel pasti akan memberikan ceramah panjang lebar kepadanya.
"El, pacar lo bisa bertolak belakang gini sama sifat lo!" kekeh Deka.
Samuel menghunuskan tatapan tajamnya membuat Deka langsung terdiam. "Gue duluan, baik-baik sama pacar lo anak orang itu!" bisik Deka sebelum berlari meninggalkan Samuel.
"Semangat, Anantha!" teriak Deka, yang mendapat acungan jempol dari Anantha.
Anantha mengusap dahinya yang sudah banjir keringat, kakinya sudah tidak kuat untuk berlari lagi. Padahal masih kurang dua putaran lagi, ia yang baru makan pun tenaganya sudah terkuras habis. Memang Pak Beni menyebalkan, tidak tanggung-tanggung jika memberikan hukuman. Mana segala mengancam akan panggilan orang tua lagi.
"Samuel, capek!" teriak Anantha. Ia tidak lagi berlari, berjalan pun sudah hampir terjatuh.
Samuel melipat kedua tangannya di dada menatap tajam ke arah Anantha. "Lo yang buat salah harus berani tanggung konsekuensinya. Gue udah bilang jangan bolos kelas, Anantha!"
"Tapi aku lapar, Samuel. Masa kamu mau biarin aku mati kelaparan di kelas, lagian jamnya Bu Rina kosong hari ini!" bohong Anantha.
"Bu Rina yang bilang Pak Beni kalau lo pergi ke kamar mandi nggak balik-balik. Nggak usah buat alasan untuk menutupi kesalahan lo, Anantha!" tegas Samuel.
Anantha memajukan bibirnya kesal, Samuel tidak berpihak kepadanya. Ia menggoyangkan lengan Samuel pelan. "Udah ya hukumannya, nanti bilang aja ke Pak Beni kalau aku udah lari lima putaran. Aku udah nggak kuat Samuel, aku capek. Nanti kalau asma aku kambuh gimana!" ucap Anantha dengan wajah sedih.
Samuel memberikan air minumnya yang masih tersisa setengah kepada Anantha. Setelahnya ia berlari ke lapangan menggantikan hukuman Anantha. Gadis dengan rambut kuncir kuda itu terdiam, ia tersenyum tipis. Seperti biasanya Samuel menggantikan hukumannya.
"Ketosnya SMANKA romantis banget sih!" teriak Anantha tanpa malu.
Samuel menghembuskan napas kasar, ia menyugar rambutnya ke belakang. Menatap Anantha yang senyum-senyum sendiri. Samuel melempar handuk kecil di bahunya tepat di wajah Anantha.
"Terakhir kali gue gantiin hukuman lo, kalau sampai lo di hukum lagi. Tanggung sendiri!" cetusnya.
Anantha terkekeh, ia berjalan di sebelah Samuel menggoyangkan lengan pria itu pelan. "Dari dulu juga Samuel bilangnya gitu, tapi setiap kali Anantha di hukum Samuel masih bantu," kekehnya.
Samuel menghentikan langkahnya membuat Anantha juga berhenti. Ia mendongak menatap Samuel yang jauh lebih tinggi darinya. Tatapan Samuel masih tidak bersahabat membuat Anantha sedikit merasa takut.
"Jangan selalu bergantung sama gue, Anantha!" tekan Samuel.
"Kenapa? Samuel udah nggak cinta lagi sama Anantha? Kenapa Anantha nggak boleh bergantung sama Samuel," cecar Anantha.
Matanya menatap lekat netra abu milik Samuel. Hatinya terasa berdesir mendengar pernyataan Samuel barusan. Anantha sudah overthinking, apakah Samuel sudah tidak mencintainya lagi? Apakah Samuel mulai bosan dengan sikapnya?
"Karena kita nggak ada yang tahu, sampai kapan gue bisa ada buat lo!
Bertemu kamu adalah part paling indah dan paling menyakitkan dalam hidupku. Meski begitu aku tetap ingin kamu sebagai peran utamanya dalam buku itu.
****
Anantha menendang batuan kecil di sekitar kakinya mulai bosan menunggu Samuel yang tak kunjung datang. Sesuai janji mereka tadi, setelah pulang sekolah Samuel akan mengantarnya pulang. Lebih tepatnya mereka akan jalan sebelum pulang, sudah hampir setengah jam Anantha menunggu dan dia sudah mulai bosan.
"Emang osis lebih penting dari gue? Sialnya emang iya. Kapan ya gue punya cowok yang selalu jadiin gue prioritas, nggak perduli sama apapun intinya gue yang nomor satu. Bahagia banget hidup gue!" gumam Anantha.
"Kalau gue yang jadi pacar lo keinginan lo itu akan terwujud!" celetuk seorang pria dengan dasi yang di ikat di kepala. Ia melempar senyuman lebar ke arah Anantha, senyuman yang sangat indah. Dia Zero Adipatma, ketua basket SMA BHAKTA dan merupakan tetangga Anantha.
Anantha menatapnya sinis melipat kedua tangannya di dada. "Woi, tetangga sebelah ngapain lo ke sini? Jemput cewek lo?" cetus Anantha, dia memang tidak pernah bersikap baik pada Zero.
"Iya, lo cewek gue!" Zero melepas helm full facenya menyugar rambutnya ke belakang, sembari mengedipkan satu matanya ke arah Anantha.
"Najis banget! Nggak usah sok kecakepan jadi cowok, cewek lo cewek lo sorry ya. Anantha yang cantiknya kayak bidadari udah punya cowok namanya Samuel Dirgantara!" ucap Anantha dengan bangga.
Zero tersenyum tipis. "Kalau semesta mendukung, bentar lagi gue yang akan jadi pacar lo!" ucap Zero.
Anantha mendelikkan matanya memukul lengan Zero kesal. "Enak aja, jangan do'ain yang enggak-enggak. Anantha nggak akan punya pacar lagi selain Samuel!" tekan Anantha.
Lagi-lagi Zero melempar senyuman yang terlihat menyebalkan di mata Anantha. "Kita lihat aja, bagaimana cara semesta bekerja. Gue sama lo ada kemungkinan untuk bersama atau nggak, kan enak nanti kalau nikahan tinggal jalan kaki nggak perlu sewa mobil!" goda Zero.
"Tetangga sebelah! Jangan sembarangan ya kalau ngomong, udah sana pergi ngapain sih ke sini sekolah lo kan di sana!" usir Anantha.
Zero kembali mengenakan helmnya ia sempat melempar senyum miring ke arah Samuel yang baru saja datang. "Anantha, gue udah bilang sama semesta kalau hari ini dan hari-hari selanjutnya Anantha harus bahagia!"
Anantha tertegun mendengar ucapan Zero, ia menggelengkan kepalanya pelan. "Semesta semesta, Zero emang udah sinting!" kesalnya.
Kekesalannya hilang begitu melihat Samuel datang dengan motornya. "Sorry," ucap Samuel sembari memakaikan helm di kepala Anantha.
"Selalu ada kata maaf untuk Samuel, udah selesai rapatnya? Nggak nunggu lama kok, kalau untuk Samuel mau di suruh nunggu bertahun-tahun juga Anantha siap," ucapnya dengan senyuman manis di bibirnya.
"Udah, bentar lagi udah pergantian ketua osis, kalau udah lengser nggak akan ada rapat lagi dan lo nggak perlu nunggu gue lagi!"
Mendengar penjelasan Samuel, Anantha terlihat sangat bahagia. Itu artinya waktu Samuel akan tersisa banyak untuknya. Anantha segera naik ke motor Samuel, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Samuel.
"Mau jalan ke mana?" tanya Anantha.
"Keliling Bandung, gue mau ngenalin ke Bandung kalau gue punya cewek yang cantik namanya Anantha. Dia cewek paling bandel, paling ngeselin, dan paling gue cintai!" ucap Samuel lirih di akhir.
Anantha tak dapat menahan senyuman di bibirnya ia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Samuel. Merasakan indahnya suasana Bandung sore ini, terlebih pria yang bersamanya.
"Samuel, semesta hari ini indah ya?" Anantha sedikit mencondongkan kepalanya agar Samuel mendengar ucapannya.
"Semesta gue selalu indah, karena lo semesta gue, Anantha!" ucap Samuel dengan lantang.
Anantha tak dapat menyembunyikan rasa bahagia dalam hatinya. Samuel mencintainya secara ugal-ugalan. Samuel membuat ia merasa menjadi wanita paling beruntung di kota ini. Kota Bandung, kota yang banyak cinta di dalamnya.
Samuel menghentikan motornya di penjual bakso pinggir jalan. "Mau makan di sini?" tawar Samuel.
Anantha menganggukkan kepalanya, makanan favoritnya adalah bakso. Tidak perduli di mana pun tempatnya asal bersama Samuel, tempat itu terasa indah. Samuel memesan dua porsi bakso untuk mereka sedangkan Anantha sudah mencari duduk.
"Samuel, tahu nggak kenapa aku suka makan bakso?" tanya Anantha.
Samuel terdiam lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Setahu gue lo suka semuanya, bakso bukan makanan spesial buat lo. Partner makan baksonya yang spesial!"
Anantha tertawa mendengarnya. "Dih kepedean jadi orang, siapa yang bilang kamu spesial!" ledek Anantha.
Cekrek
Samuel tersenyum tipis melihat foto yang ia ambil, sangat manis. Senyuman Anantha sangat indah, Samuel selalu senang mengabadikan setiap detiknya bersama Anantha.
"Ih, pasti jelek. Hapus nggak! Lain kali kalau mau ngefoto bilang dulu dong biar aku bisa pose!" protes Anantha.
Samuel justru memasukkan ponselnya ke dalam saku, menatap Anantha lekat. "Lo selalu cantik Anantha," ucap Samuel.
Anantha memalingkan wajahnya yang memerah. Untungnya bakso mereka datang, Anantha yang memang sudah lapar langsung saja memakannya.
"Tadi yang sama lo siapa? Zero?" tanya Samuel.
Anantha menganggukkan kepalanya. "Iya, anak sekolah sebelah. Kamu juga kenal dia kan tetangga rumah aku!" ucap Anantha.
"Jangan deket-deket sama dia," ucap Samuel.
Anantha memincingkan matanya menatap intens ke arah Samuel. "Kenapa? Cemburu kalau Zero ngedeketin aku? Kamu takut kalau aku jadi suka sama dia?" goda Anantha.
Samuel mengangguk, dia tanpa gengsi mengatakan itu. "Gue nggak suka cewek gue deket sama cowok lain."
Anantha tersenyum lebar, mengacungkan jempolnya ke arah Samuel. "Samuel tenang aja, Anantha selalu jaga hati buat Samuel. Anantha nggak akan biarin cowok yang Anantha sayang bersaing sama orang lain!" kekehnya.
Samuel tersenyum tipis mengacak rambut Anantha gemas. "Good, selesai makan gue anterin pulang." Anantha mengangguk segera menghabiskan makanannya.
Di perjalanan pulang banyak hal menarik yang Samuel dan Anantha lihat. Salah satunya pasangan kakek nenek yang terlihat tengah suap-suapan. "Samuel, nanti kita bisa sampai seperti mereka nggak ya?" tanya Anantha.
"Mungkin, kita usahain!" jawabnya singkat.
Motor Samuel sudah berhenti di depan rumah Anantha. Ia melepaskan helm yang Anantha kenakan merapikan rambut Anantha yang berantakan. "Langsung mandi jangan tiduran dulu, tugas lo kerjain. Jangan sampai Pak Beni beneran manggil papa lo ke sekolah!" peringat Samuel.
Anantha mengangguk, ia menatap Samuel intens. "Nggak mau mampir dulu? Nggak mau ketemu sama mama? Mama kangen loh sama kamu," ucap Anantha alasan, padahal ia yang tidak ingin berpisah dengan Samuel.
"Titip salam ke Tante, gue masih ada urusan jadi nggak bisa mampir. Besok gue jemput, sebelum setengah tujuh lo udah harus siap. Kalau lama gue tinggal!"
"Siap! Sampai rumah jangan lupa telepon, Anantha nunggu kabar keselamatan dari Samuel." Samuel terkekeh menepuk kepala Anantha pelan.
"Masuk sana, baru gue pergi." Anantha mengangguk segera masuk ke dalam rumah sembari melambaikan tangan ke arah Samuel.
Setelah memastikan Anantha masuk, baru Samuel melajukan motornya pergi. Samuel tersenyum tipis, ia senang setelah menghabiskan waktunya bersama Anantha. Melihat gadis itu bahagia membuat Samuel turut bahagia. Anantha adalah segalanya untuk Samuel, dia sudah menjadi rumah tempat Samuel pulang.
"Anantha, semoga semesta selalu mendukung kita berdua!"
Orang baru atau orang lama pemenangnya? Orang dia sahabatnya.
****
"Woi, Anantha bangun. Masih pagi juga udah molor!" Anya menggoyangkan lengan Anantha kuat agar gadis itu segera terbangun lantaran guru jam pertama sudah datang.
"Anya, Anantha masih ngan---" ucapan Anantha terpotong lantaran ia melihat siluet mata tajam Pak Beni. Anantha menyengir lebar, segera menegakkan tubuhnya seakan siap menerima pelajaran pagi ini.
"Selamat pagi anak-anak, hari ini kalian kedatangan siswi baru. Silahkan perkenalkan diri!" ucap Pak Beni pada seorang siswi perempuan yang baru saja masuk ke kelas mereka.
"Halo semuanya, gue Viola Adesta pindahan dari SMA Pelita semoga kita bisa berteman baik."
Siswi dengan nama Viola mengulas senyum tipis, wajahnya sangat cantik, tubuhnya menjulang tinggi, bak model terkenal di televisi.
"Viola kamu bisa duduk di depan Anantha!" ucap Pak Beni karena depan Anantha memang bangku kosong.
Anantha dan Anya saling pandang ia melempar senyum tipis saat Viola tersenyum ke arah mereka. "Gue Viola," kenalnya.
"Tau, lo kan baru aja kenalan!" cetus Anya membuang muka, ia terlihat tidak menyukai Viola. Anantha sampai menyikut lengannya pelan, merasa tak enak dengan teman barunya itu.
"Santai dong, An. Baru juga kenal udah ngegas aja!" bisik Anantha.
Viola memutar bola matanya malas, fokus dengan penjelasan Pak Beni di depan. Akhirnya bel istirahat berbunyi, Anantha yang sudah lapar langsung menarik tangan Anya agar segera berdiri. Di ikuti Jihan, teman baiknya yang duduk di belakang Anantha.
"Viola, lo mau bareng ke kantin?" ajak Anantha, melihat di kelas tidak ada yang mengajaknya.
"Ck, ngapain sih lo ngajak dia!" cetus Anya, ia menatap sinis ke arah Viola.
Anantha sendiri bingung kenapa Anya sampai begitu membenci Viola padahal mereka baru saja bertemu. "Anya, kasihan dia nggak ada yang nemenin," ucap Anantha.
"Yaudah lo pergi aja sama dia, gue bisa pergi sendiri!" Kedua mata Anantha membulat melihat Anya benar-benar meninggalkannya.
"Gue nggak ke kantin, lo pergi aja sama Kak Anya." Dahi Anantha berkerut, mendengar Viola memanggil Anya dengan embel-embel Kak.
Belum sempat bertanya Jihan sudah lebih dulu menarik tangannya untuk pergi. "Han, menurut lo Anya kenapa?" tanya Anantha.
Terdengar helaan napas panjang dari Jihan, ia menepuk dahinya pelan. "Masa lo lupa sih, Anantha. Kalau Viola adik tirinya Anya bukannya dia pernah nunjukin fotonya ke kita!" jelas Jihan.
Kedua mata Anantha membulat, makanya ia merasa tak asing dengan wajah Viola. Ternyata dia adalah saudara tiri Anya. Pantas saja jika Anya terlihat sangat tidak menyukainya.
Anantha menghampiri meja Anya yang saat ini tengah makan sendirian. "Anya, sorry!" ucapnya memelas.
Melihat Anya yang hanya mendiamkannya membuat Anantha tak menyerah. Ia masih memohon agar Anya memaafkannya. "Gue benaran nggak tahu, gue lupa juga. Maafin ya," rengek Anantha.
"Buruan pesen makan keburu bel masuk!" ucap Anya. Anantha tersenyum lebar, ia langsung duduk dengan nyaman karena Jihan yang sudah memesankan makanan untuknya.
Anantha mengedarkan pandangannya ke arah kantin, matanya tertuju pada meja paling ujung belakang. Melihat gerombolan Samuel, tetapi tidak ada pria itu di sana. Karena rasa penasarannya, Anantha pun menghampiri meja itu.
"Deka, Samuel kemana?" tanya Anantha pada pria setengah bule tersebut.
"Loh, dia bilang tadi mau ke kelas lo." Anantha terkejut mendengarnya, apakah Samuel berniat menemui dirinya.
Ia pun segera pergi dari sana setelah mengucapkan terima kasih. Anantha bahkan tidak memperdulikan makanannya yang sudah Jihan pesankan. Tujuannya saat ini adalah kelas untuk mencari keberadaan Samuel.
Baru di depan pintu, langkah Anantha terhenti melihat Samuel yang tengah mengobrol dengan Viola. Keduanya terlihat sangat akrab, bahkan Samuel mengobrol santai dengan Viola seperti saat ia mengobrol dengannya.
"Samuel," panggil Anantha. Melangkahkan kakinya masuk ke dalam, berhadapan dengan Samuel dan juga Viola.
"Kamu, kenal sama Viola?" tanya Anantha.
Samuel mengangguk. "Dia sahabat gue dari kecil, Viola dia---"
"Gue udah kenal, Anantha kan?" tanya Viola, meski tadi Anantha belum memperkenalkan diri.
Anantha mengangguk, tersenyum manis ke arah Viola. Ia dengan sengaja melingkarkan tangannya di lengan Samuel. "Pacarnya Samuel," tekannya.
Viola tersenyum tipis sempat melihat ke arah tangan Anantha yang menggandeng tangan Samuel mesra. "Kata Deka tadi kamu ke kelas nyariin aku, kenapa?" tanya Anantha.
"Oh, gue nyariin Viola." Jawaban dari Samuel membuat Anantha sangat kesal, tidak bisakah Samuel mengatakan iya saja daripada membuat Anantha malu di hadapan Viola.
"Oh," balasnya singkat melepaskan rangkulannya pada lengan Samuel.
Samuel tersenyum tipis, justru mengenggam tangan Anantha erat. "Udah makan belum?" tanyanya.
Anantha menggelengkan kepalanya melirik ke arah Viola singkat. "Tadinya mau makan tapi karena kamu nggak ada di kantin jadi aku nyariin kamu, ternyata lagi ngapel!" sindirnya.
"Nggak usah ngajak ribut! Viola cuma sahabat gue, ayo ke kantin gue nggak mau lo ada alasan lagi buat bolos!" ucap Samuel, menarik tubuh Anantha agar segera pergi.
"Viola lo nggak ke kantin sekalian?" tanya Samuel.
Viola menggelengkan kepalanya pelan. "Aku udah dibawain mama bekal, kamu tahu sendiri kalau aku nggak bisa makan sembarangan, El."
Samuel mengangguk. "Gue pergi dulu, kalau ada apa-apa kabarin gue!" Viola menggangguk dengan senyuman manis di bibirnya.
Anantha yang mendengar itu memajukkan bibirnya kesal. Mengapa Samuel sangat perhatian pada Viola. Apakah Samuel pernah menyukainya?
"Kenapa bibir lo monyong gitu?" tanya Samuel sembari mencubit kedua pipi Anantha.
Anantha menatap Samuel sinis. "Kili idi ipi-ipi kibirin gie!" cibir Anantha menirukan ucapan Samuel dengan nada mengejek.
"Punya pacar baru, Mas?" sinisnya.
"Dia cuma sahabat gue, Anantha. Lo pacar gue," tekan Samuel.
Anantha menghembuskan napas kasar. "Cuman sahabat tapi kok perhatian banget? Kalau ada rasa bilang," sindirnya.
"Suka banget nyari penyakit, nanti nanges!" ejek Samuel balik. Anantha semakin kesal mendengarnya, bukan membujuk Samuel justru semakin kompor.
"Ngeselin, samperin aja sahabat kamu itu. Aku bisa ke kantin sendiri!" Anantha mendorong tubuh Samuel kesal.
Namun, dorongan Anantha seakan tak berarti apa-apa. Tubuh Samuel tetap di tempat tidak berpindah sama sekali. Samuel menarik tubuh Anantha sampai menabrak dada bidangnya menatap wajah gadis itu lekat.
"Dia cuma sahabat gue Anantha, nggak lebih! Lo pacar gue dan gue cuma sayang sama lo, jadi nggak usah mikir yang nggak-nggak!" Samuel mengetuk dahi Anantha pelan.
Jarak wajah mereka sangat dekat, membuat detak jantung Anantha berdebar sangat kencang. Anantha buru-buru mendorong tubuh Samuel lalu membalikkan tubuhnya. Menyentuh dadanya yang berdebar-debar.
Samuel justru terkekeh melihatnya merangkul bahu Anantha membawanya menuju kantin. Tidak akan Samuel biarkan Anantha kelaparan sehingga menjadi alasan dia untuk bolos.
"Gue nggak mau denger kabar kalau lo di hukum lagi!" peringat Samuel.
Anantha menghela napas panjang. "Samuel, sebenarnya kalau Anantha di hukum itu bukan karena Anantha nakal tapi karena bentar lagi Anantha lulus jadi Anantha mau buat kenangan yang banyak di sekolah ini. Apalagi kalau Anantha di hukum Samuel selalu gantiin hukuman Anantha. Itu namanya romantis!"
"Ngeles sekali lagi, bibir gue yang akan buat lo diem!" sarkas Samuel.