Antara jodoh dan kematian tidak ada yang tahu kapan dia datang meminang kita. Kita pun tidak tahu kepada siapa, kapan dan di mana hati kita berlabuh. Teruntuk hati, kapan pun kamu memilih, berdoalah semoga kamu tidak terpatahkan lagi.
Kata pujangga, hidup tanpa cinta bagai taman tidak berbunga. Ternyata, memang benar begitu adanya. Baik, itu cinta sesama manusia maupun cinta kepada Sang Khalik.
Allah, ia maha membolak-balikkan hati manusia. Sekeras apa pun kita mencintai, jika ia bukan jodoh kita maka ia akan tetap pergi. Sekeras apapun kita membenci dia yang terkadang sering menyakiti, jika goresan takdir membuatmu harus bersatu. Kita tidak akan bisa membantah bukan?
Berharap lah kepada sang pemilik hati, agar langkah selalu diridhoi ....
Berharap lah kepada sang pemilik Arsy, semoga langkah yang kita jalani tidak mengalami kepatah hatian yang terus berlalu.
Tiada manusia, tanpa hati. Tiada manusia yang bisa hidup indah tanpa cinta. Pemilik cinta, labuhkan hati ini sepenuhnya kepada-Mu.
~~~~
Kisah Muhammad Hafiz al-Faruq, yang tertulis di halaman pertama ini. Hafiz tidak pernah menyangka jika dirinya akan mengagumi sosok siswi yang sering menjadi bulan-bulanan teman-temannya.
Hafiz menatap dari kejauhan sosok siswi yang kini sering terpatri di setiap doa yang terpanjatkan. Wajah ayu itu kini duduk di tanah dengan air wajah yang mengiris hati siapa pun yang melihatnya.
"Gara-gara lo, Haikal jadi sering ngebandingin gue sama lo. Katanya Hafizah lebih cantik dari lo." Seorang siswi berbaju ketat itu membentak Hafizah. "Padahal gue 'kan pakai skincare Korea yang mahal itu!" lanjutnya dengan raut wajah heran.
Ditempatnya Hafiz ingin sekali tertawa mendengar pujian secara tidak langsung itu. "Anak muda zaman sekarang, pacaran diutamakan, ck ck," gumam Hafiz.
Pandangannya tidak luput sedikit pun dari kejadian itu. Bukan hanya sekali Hafiz melihat ini. Namun, hari-hari yang lain pun. Bukan tidak ingin menindaklanjuti, tetapi salah satu siswi diantaranya adalah orang yang berperan.
Terkadang, seseorang yang keras harus dilembutkan agar lunak. Jika ikut-ikutan diberi kekerasan, biasanya akan lebih menjadi-jadi dari sebelumnya. Hafiz tidak mau Hafizah kenapa-napa.
"Jangan diem lo, jawab pakai skincare apa?!" Perempuan dengan name tag Yulisa Maharani itu membentak.
"Aa-aku cuma pakai bedak biasa ko, beneran." Hafizah menjawab.
Ardela ikut berjongkok dihadapan Hafizah. Ia menjambak rambut dibalik kerudung itu dengan kasar, sehingga membuat Hafizah mendongakkan kepalanya. Hafizah meringis, perih, pusing ia rasakan.
"Kalau jawab yang bener!" desis Ardela tajam.
Sosok ketua gang buli itu semakin memperkencang jambakan pada rambut Hafizah. "Hesss, Kak Del, bohong itu dosa. Jadi, aku jawab bener," balas Hafizah, tangannya dengan kuat menahan tubuh agar tidak tertarik ke belakang.
"Berani ngelawan ya, Lo!"
Plak!
Rasa panas menjalar di wajah Hafizah. Tubuhnya seketika bergetar. Rasa sakit di wajah dan rambutnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Setetes bulir bening itu terjatuh.
'Ya Allah ... sabarkanlah Fizah,' gumam hatinya.
Yulisa lalu tambah menginjak punggung tangan Hafizah, menambah sakit yang menjalar di relung hati. Bel masuk menandakan habisnya waktu istirahat pun berbunyi. Mereka pergi dengan tatapan sinis. Hanya satu di antara tiga orang itu yang tidak ikut-ikutan membentak dan melakukan kekerasan.
Siswi bername tag Fazaya Sharma itu hanya memperhatikan dengan wajah datar, Hafizah mendongak melihat Fazaya. "Lain kali jangan sendiri." Tersirat nada tidak suka terdengar kentara.
Anehnya, Hafizah merasa itu adalah teguran yang menyiratkan kekhawatiran secara tidak langsung. Fazaya menyampaikan pesan, 'Jaga diri dan lebih hati-hati.' Hafizah menangkap itu.
Setelah kepergian gang yang selalu menjadikannya bahan bualan. Hafizah menangis tergugu, sendiri. Tidak ada yang berani melawan atau membela kepada Hafizah. Semuanya, seolah-olah tidak melihat kejadian apapun.
Meskipun begitu, Hafizah akan selalu pura-pura terlihat baik-baik saja. Tersenyum getir, ia berhenti menangis. "Hafizah kuat, masa gitu aja nangis, dasar cengeng!" Lalu, ia tertawa pelan-menertawakan diri sendiri.
Hafiz tetap memperhatikan Hafizah. Hatinya terusik ketika Hafizah mengulum senyum lurus. Meskipun, bukan senyum ke arahnya. Namun, senyum itu menunjukkan gejolak kepedihan yang butuh sebuah dukungan.
Apalagi, ketika mendengar gumaman terakhir Hafizah. Ia menyemangati dirinya sendiri lalu tersenyum. Rasanya, Hafiz ingin berdiri di sampingnya, menghapus air mata yang terjatuh itu dan menggantinya dengan seuntai kebahagiaan.
"Sabar Khumairoh Kecilku, semoga takdir memudahkan niatku. Jangan pernah menyerah, percayalah aku selalu ada di sini, untukmu."
"Cinta yang sesungguhnya, akan selalu menerima apapun kekurangan pasangannya. Sedangkan, cinta yang hanya sekadar bisikan syaitan atau penasaran hanya menginginkan kesempurnaan."
~Sahmura Yang Redup
Riuh angin menyapa sejuknya saat baskara belum sempurna menampakkan diri. Sunrise terukir begitu indah di langit sana. Daun-daun tertiup ke sana kemari, saat angin menjumpai tanpa henti.
Allah ... Sebegitu indah kah ciptaan-Mu ini. Meskipun, pagi ini cuaca dingin yang datang menerpa. Tidak mendung, pun tidak hujan. Tidak berpisah, pun tidak bersatu-umpama cinta yang sering dikata.
Menatap gugup rumah di depannya Hafiz melangkah pelan. Saat ia masih kecil, sering sekali datang ke rumah ini bersama kedua orangtuanya yang kini telah dijemput sang Ilahi. Rumah itu tidak jauh beda dari sebelumnya.
Gerbang yang tidak terlalu tinggi, taman kecil beserta ayunan berukuran sedang nangkring di pinggir rumah. Hafiz mengembangkan senyumnya, ini rumah sisiwi yang ia kagumi. Siapa lagi jika bukan Hafizah Putri Amaliyah.
Dengan langkah pelan, Hafiz menghampiri sang pejaga. Hafiz hanya bisa datang di pagi hari, karena setelah mengajar nanti Hafiz mempunyai agenda kuliah dan membantu mengembangkan usaha cafe milik almarhum sang Ayah.
"Semangat Hafiz! Kamu pasti bisa," gumamnya sumringah.
Ia mengucapkan salam kepada Pak Satpam yang berjaga itu. "Pagi, Pak. Saya ingin bertemu dengan Bapak Faris Satya Prawinata, apakah benar ini rumahnya?" tanya Hafiz sekadar basa-basi.
Pak Satpam mengangguk. "Iya, Mas. Apakah sudah ada janji?"
Gelengan Hafiz menjadi jawaban. "Saya anak sahabat lamanya, Pak." Hafiz mengiringi dengan senyuman.
"Ohh, Nak Hafiz?" tanyanya ragu.
Pak satpam merasa familiar dengan wajah Hafiz. Ternyata, ini adalah anak kecil yang dulu sering mengusilinya. "Iya, Pak. Bapak melupakan saya hiks," drama Hafiz dengan pura-pura mengusap air mata.
Pak satpam terkekeh lalu memeluk Hafiz. "Alhamdulillah, Nak Hafiz sekarang udah besar ya. Padahal, baru tiga belas tahun kemarin kita main."
Keduanya pun terus mengobrol Sono. Beratahun-tahun tidak bertemu membuat mereka ingin mengulang masa indah bersama yang pernah terjadi di masa lalu. Jika ada yang mengatakan, kenangan selalu pahit, maka orang itu belum pernah merasakan indahnya cinta karena Allah.
"Anak usil, ayo bapak anterin. Makin ganteng aja, padahal dulu kucel banget kaya bebek goreng kecap!" serunya mengejek.
"Enak dong, Pak!" antusias Hafiz. Ia sendiri jadi ngiler.
"Bukan enak, tapi itemnya yang dituju!" tawanya pecah apalagi ketika melihat anak usil itu tersenyum paksa.
"Yang penting ta'atnya kepada Allah, Pak. Kita harus mencontoh Bilal bin Rabah. Meskipun parasnya kalah ganteng dengan Abu Lahab, tetapi Bilal dirindukan bidadari surga. Masyaa Allah, beruntung engga tuh, Pak, bisa poligami lebih dari lima nanti di surga," jelas Hafiz penuh kemenangan.
Niat hati ingin mengusili malah diceramahi. "Iya, deh anak usil yang udah pinter!" puji Pak satpam seraya merangkul pundak anak majikan lamanya.
"Doain ya, Pak," kata Hafiz tiba-tiba saat tepat di depan pintu.
Dahi pak satpam dengan nama Geodi di seragamnya itu mengeryit. "Kaya yang mau ngelamar anak gadis aja!" jawabnya diiringi kekehan.
"Emang iya," jawab Hafiz enteng.
"Hah?!" Geodi membulatkan matanya tidak percaya. Sedangkan Hafiz tersenyum geli tanpa dosa.
****
Rintik hujan bedenting bersatu dengan genting rumah. Hafizah terdiam ia teringat kejadian tadi, di mana Hafiz mengantarkannya pulang sekolah. Senyum itu terbit begitu manis. Hafizah senang, boleh tidak Hafizah baper?
Hafizah tidak tahu rasa apa ini, entah hanya bisikan syaitan berkedok cinta ataukah memang benar-benar cinta? Hafizah menjadi resah sekarang. Memang Hafiz mau bersama perempuan seperti Hafizah?
Tok tok tok
Ketukan pintu terdengar mengalun melewati gendang telinga Hafizah. Munculah sosok bidadari tanpa sayap yang selama ini sering memberikan kasih sayang tiada henti kepada Hafizah.
"Sayang, Hafizah ...," panggil Bunda Maya Alamayiah.
Hafizah menengok. "Bunda," jawabnya dan memeluk orang yang ia panggil Bunda itu.
Bunda Maya mengelus puncak kepala anaknya dengan lembut penuh kehangatan. Belaian yang paling dirindukan oleh sang anak dari Ibunya. Hafizah beruntung telah mendapatkan itu.
Terkadang kehidupan yang kita kira sempurna, itu belum tentu benar, dan terkadang kehidupan yang kita kira tidak Sempurna juga belum tentu itu tidak.
Apapun takdir yang tergores di lauhul Mahfuz, kita patut mensyukurinya. Walau bagaimanapun Rabb kita tahu yang terbaik untuk kita jalani.
"Turun yuk, Nak. Ada tamu!" ajak Bunda Maya seraya melepaskan pelukannya.
Bunda Maya melihat anaknya tidak mengerti pun berbicara lembut, "Nanti juga Fizah tahu siapa."
Rumah berukuran kelas sedang itu jarang sekali kedatangan tamu malam, tetapi malam ini kedatangan dan Hafizah juga dipanggil. Mana mungkin teman Hafizah, ia tidak punya teman di sekolah itu. Malah sebaliknya, mereka menjauhi Hafizah.
Hafizah menghela napas ketika Bunda Maya merangkul bahunya dan tersenyum tipis. "Siapp deh, demi Bunda."
"Dasar modus mau coklat," balas Bunda Maya seraya mendelik.
Hafizah terkekeh. "Tempe aja, Bun."
Saat sudah berada di ruang tamu Hafizah terkejut melihat orang yang ia kagumi kini tengah duduk diantara paman dan Ayahnya. "Loh, Pak Hafiz?" tanyanya refleks.
Atensi mereka pun kini tertuju kepada Hafizah. Hafiz hanya membalas sekilas dengan senyuman manis. Hati Hafizah terasa berdegup lebih kencang dari biasanya. Apakah Hafizah sedang di alam kabulnya doa?
Hafizah dan Bunda Maya ikut duduk. Perasaan Hafizah semakin gelisah, diliputi juga rasa senang. Bolehkah Hafizah berharap kedatangan Hafiz untuk meminang dirinya? Astagfirullah ... Hafizah tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Kedatangan saya ingin meminang putri dari Bapak Faris yaitu Hafizah yang jika diterima akan disandingkan dengan Hafiz. Apakah Hafizah berkenan?" Similar Sarwana mengutarakan niatnya.
Deg!
Perasaan Hafizah kini campur aduk. Ia kini serius sedang dipinang oleh gurunya sendiri. Jika ini mimpi tolong bangunkan Hafizah segera! Ia tidak ingin berlanjut dengan harapan semu.
"Bagaimana Hafizah, apakah kamu mau menjadi pelengkap iman saya?" tanya Hafiz, jangan lupakan senyuman manis yang tidak luntur sejak tadi.
Hafizah tidak tahu harus menjawab apa sekarang. "Pa-pak Hafiz kenapa mau sama Hafizah, padahal Fizah masih sekolah belum bisa apa-apa?"
Hafiz menunduk. "Maaf sebelumnya, karena saya sering mencuri nama kamu disetiap doa yang saya panjatkan. Keteduhan matamu, keshalihanmu membuat saya merasa surga begitu dekat." Hafiz menatap Hafizah intens. "Hafizah .... saya tulus mencintai kamu. Saya tidak ingin terlalu lama memendam ini, saya takut syaitan melerai perasaan ini menjadi melewati batasan." Hafiz menjelaskan.
Senyum tidak bisa lagi Hafizah tahan. Hatinya sungguh merasa terbang melayang jauh. "Hafizah, saya In Syaa Allah akan berusaha menjadi imam yang baik buat kamu. Bukankah pernikahan itu termasuk Sunnah Rasulullah? Saya tidak ingin menunda niat baik, padahal saya sudah siap."
"Jadi, bagaimana, Sayang? Kamu mau?" Bunda Maya ikut menimpali.
Hafiz telah menjelaskan semuanya kepada Hafizah kini dirinya tinggal menunggu jawaban Hafizah. Rasanya atmosfer ruangan ini terasa sangat mencekah dada Hafiz. Tidak bisa dipungkiri Hafiz takut penolakan itu terlontarkan. Hafiz akan hancur jika itu benar.
Hafiz tidak ingin menjadi laki-laki yang mengorbankan harga dirinya hanya untuk mengajak perempuan berpacaran. Hafiz mempunyai impian untuk menikah muda, dan hatinya memilih kepada siswinya yang manis ini.
'Oh Allah ..., saya mohon lancarkan lah. Jika kini aku terjatuh semoga aku bisa bangkit kembali.' Hafiz membatin.
Hafiz tidak ingin kecewa dengan pencapaian yang ia perjuangkan. Maka, setiap apapun yang ia lakukan, tidak lupa Allah terlibatkan. Hafiz tidak ingin membuat Rabb-Nya cemburu, yang bisa membuat kekecewaan nantinya datang menghampiri.
"Hafizah masih banyak kekurangan, Pak Hafiz," lesu Hafizah semakin menunduk.
"Cinta yang sesungguhnya, akan selalu menerima apapun kekurangan pasangannya. Sedangkan, cinta yang hanya sekadar bisikan syaitan atau penasaran hanya menginginkan kesempurnaan." Dengan cepat Hafiz membalas.
"Maaf Pak hafiz, tapi Hafizah tidak bisa ...."
"Yang sering memberikan bunga dan coklat nyatanya bakalan kalah sama yang memberi akad."
~Sahmura Yang Redup 🥀
"Maaf Pak Hafiz, Hafizah tidak bisa ...." keluhnya. Namun, dibalik itu ia menahan senyum.
"Kena-" Hafiz yang akan bicara dengan cepat dipotong Hafizah.
"Hafizah tidak bisa menolak, Pak!" Ia tanpa sadar berseru senang.
Hati yang sedari tadi menahan gejolak kecewa kini perlahan menerbitkan kebahagian. Hafizah menerima Hafiz dan pastinya Hafiz sangat senang. Kini terasa kupu-kupu seperti berterbangan di perut keduanya.
Serempak ruangan itu mengucapkan hamdalah. Selain mencintai Hafizah, Hafiz juga diperintahkan untuk melakukan sesuatu. Diantara mereka ada yang senang. Namun, seperti menyembunyikan sesuatu. Senyuman miring itu tidak terlihat oleh siapapun kecuali mahluk selain manusia diruangan itu.
"Ayah, tapi Hafizah khawatir. Hafizah masih kecil, apakah bisa menikah dalam usia dini? Terus bagaimana dengan sekolah Hafizah Ayah?" tanyanya lesu.
Semua orang terdiam memikirkan hal itu. "Kita akan berusaha, Sayang. Jika dengan menikah bisa membuat Hafizah lebih dekat dengan Allah, Ayah ikhlas agar terjauh dari zina juga. Hafizah, Ayah hanya berdoa, semoga Hafiz bisa menjadi laki-laki yang lebih baik dari Ayah, lebih bisa menjaga Hafizah. In Syaa Allah, niat baik akan dipermudah Allah, aamiin Ya Allah." Ayah Faris menjawab.
Hampir semuanya terharu mendengar penuturan Ayah Faris. Hafiz tersenyum lembut, "In Syaa Allah, saya akan menjaga amanah ini sebaik mungkin, Om."
Hafizah memeluk Ayahnya. "Ayah tetap laki-laki terbaik yang aku temukan. Makasih Ayah dan Bunda udah besarin Hafizah."
Mengelus puncak kepala Anaknya Ayah Faris lakukan. "Iya, Sayang."
****
Setelah melalui proses panjang. Akhirnya, pernikahan Hafiz dan Hafizah akan dilaksanakan malam ini. Menikah diusia dini memang tidak mudah, Hafiz yang berusia sembilan belas tahun dan Hafizah berusia 16 tahun.
Sekarang hari terakhir Hafizah sekolah di Minggu ini, sebelum tiga hari ke depan dirinya akan izin dengan alasan ada acara keluarga. Memang benar bukan begitu adanya?
Langkah itu diiringi senyuman manis. Hafiz yang melihat Hafizah langsung mendekatinya. "Pulang bersama saya, yuk calon Istri!" Hafiz mengajak.
Dengan malu-malu Hafizah mengangguk. "Boleh, calon Pak Suami," katanya pelan.
Mereka jalan beriringan dengan jarak yang tidak terlalu dekat. "Pak Hafiz, Hafizah tunggu di depan ya, malu." Setelah mendapat anggukan geli dari Hafiz, Hafizah lantas pergi.
"Pakai pelet apa, sih, Lo Hafizah? Sampai Pak Hafiz bisa natap lo penuh cinta? Padahal kemana-mana cantikan juga gue!" hina Ardela.
Hafizah beristigfar, menundukkan kepalanya dalam. "Emangnya aku engga boleh merasakan jatuh cinta ya? Pak Hafiz 'kan bukan siapa-siapa kalian. Kenapa kalian larang?" lirih Hafizah berusaha untuk tidak takut.
"Ya, jelas salahlah! Karena lo itu pakai cara licik! Buktinya Pak Hafiz mau sama bocah ingusan kaya lo?!" sinis Yulisa dan mendorong kencang bahu Hafizah.
Hafizah hampir saja terhuyung. "Makanya jaga diri, patuh dong kalau dibilangin!" delik Fazaya sebelum ketiganya melangkah pergi.
Tidak lama Hafiz datang mengklakson mobilnya. "Ayo!"
Hafizah kembali tersenyum, ia mengangguk dan memasuki jok belakang. Hafiz yang mengerti mereka bukan mahrom pun tidak mempermasalahkannya.
"Maharnya yakin mau surah Ar-Rahman sama cincin aja?" tanya Hafiz sambil menggoda.
Hafiz mengangguk. "Itu aja Pak Hafiz, Hafizah tidak ingin memberatkan," ungkapnya tulus.
Hafiz terkekeh. "Itu sudah kewajiban saya, Hafizah. Oh iya, saya mau bertanya boleh?"
Hafizah mengiyakan. "Kamu ... pernah pacaran?" Hafizah menggeleng. "Apakah kamu terpaksa menikah dengan saya?"
Hafizah menggeleng lagi dengan cepat. "Hafizah ikhlas, ko, Pak Hafiz." Hafizah khawatir.
"Apa itu artinya kamu mencintai saya?" Pertanyaan itu membuat pipi Hafizah merona. Hafizah malu ....
Rasanya jika Hafiz menggoda terus, ia ingin tenggelam saja. 'Bunda, tolong Hafizah terbang!' teriak batinnya.
"Kamu sakit, Fizah? Kenapa merah gitu pipinya?" tanya Hafiz melihat ke kaca tengah.
Hafizah memalingkan wajahnya. "Barusan jatuh, gara-gara Bapak," jawab Hafizah setangah kesal.
Hafiz tertawa renyah. "Ko bisa jatuh, Fizah? Jatuh kemana? Apanya yang jatuh?" cerca Hafiz.
Hafizah mendengus. "Hati saya jatuh ke hati Bapak. Sebel, deh. Godain Hafizah mulu," gerutunya malu.
"Ini baru pendaftaran, Hafizah. Nanti setelah selesai akad baru mulai ya."
Pekataan Hafiz terdengar ambigu di telinga Hafizah. Mulai, mulai apa? "Hah, mulai apa, Pak?" tanyanya polos.
Hafiz malah ketawa semakin keras. Tawanya membuat hati Hafizah semakin melayang, mata teduh Hafiz menyipit. Hafizah berharap Hafiz hanya miliknya sampai ajal menjemput nanti.
"Rahasia."
****
Gadis cantik berbalut gamis putih dengan hijab senada itu kini sedang duduk dengan tangan gemetar. Atmosfer ini terasa canggung. Mulai malambini status Hafizah akan bertambah.
Laki-laki yang sedang menjabat tangan Ayahnya itu berkata tegas setelah menghela nafasnya dalam. "Saya terima nikah dan kawinya Hafizah Putri Amaliyah binti Faris Satya Prawinata dengan mahar tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi?"
"Sah?"
"Sah!"
"Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir."
Artinya: mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan.
Setelah akad selesai Hafiz menghampiri Hafizah yang sedang menunduk bahagia disebelah Bunda Maya. Hafiz ikut tersenyum melihat itu. Hatinya kini berdetak lebih cepat.
Hafiz kini mempunyai tanggung jawab yang lain, yaitu menjadi Imam Hafizah. Rasanya seperti mimpi. Namun, ini memang terjadi.
Hafiz menyodorkan tangganya ke depan Hafizah. Hafizah menatap Hafiz. "Ini buat apa, Pak?" tanyanya dengan polos seraya melihat uluran tangan itu.
Bunda Maya menepuk jidat. "Ya Allah punya anak gini amat."
Hafizah cengengesan. Lalu, dengan bantuan Bunda Maya, Hafizah menyalimi Hafiz. Sedangkan Hafiz memegang ubun-ubun istrinya seraya membaca doa. "Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."
Mereka saling tatap setelah melakukan ritual itu. Semua orang menggoda keduanya apalagi dari pihak sang Bunda yang sangat ramah. Bahkan, mereka pun sangat mendukung Hafizah menikah muda dengan Hafiz. Karena kebaikan orang tuanya dulu.
"Bolehkah saya menge .... cup kamu?" tanyanya dengan kalimat tertahan.
Hafizah terdiam. "Emangnya kalau udah nikah boleh kecup-kecupan ya, Pak? Bukannya, bukan mahrom?" Ia bertanya dengan wajah lugu.
Bunda Maya yang menjadi nyamuk lagi-lagi dibuat malu oleh anaknya. "Boleh dong, Sayang ...," gemasnya.
Hafiz hanya memegang kepalanya sambil terkekeh gemas. Hafizah menunduk malu. "Ya-yaudah," katanya dengan suara tertahan.
Hafiz mendekatkan wajahnya ke kening Hafizah. "Ekh, Pak Hafiz, tapi jangan lama-lama ya, malu ...."
Hafiz mengangguk, lalu mengecup kening Hafizah lama. Hafizah memejamkan mata, menikmati sensasi aneh yang menjalar disekejur tubuhnya.
Bunda Maya sudah ngacir dan digantikan dengan sorakan godaan. Hafiz melepaskan kecupannya setelah mendengar godaan semakin menjadi-jadi. Hafizah yang malu langsung memeluk tubuh Pak suami. Wajah meronanya hanya dilihat oleh Hafiz.
"Lanjut di kamar aja, Fiz!"
"Akh, bikin jomblo baper aja!"
"Udah hey udah, dosa!"
"Udah halal, kecuali kalau kamu yang lakuin, 'kan jomblo!"
"Jadi, pengin nikah muda!"
****
Acara pernikahan itu diakhiri dengan makan bersama, keluarga yang hadir pun satu persatu pulang. Bunda Maya dan Ayah Faris pun sudah beristirahat di kamar mereka.
Kini Hafiz dan Hafizah duduk bersebelahan di ranjang. Hafizah kebingungan. Apakah memang dirinya perlu tinggal satu ranjang dengan Hafiz? Rasanya, Hafizah belum mau dan belum terbiasa.
Walau bagaimanapun Hafizah hanya sering tidur dengan Ayah dan Bundanya saja. Mengigit bibir sebentar, Hafizah melirik Hafiz.
"P-pak Hafiz tidurnya di mana?" Duh, Hafizah pertanyaan unfaedah apa itu?
Hafiz tersenyum menatap Hafizah. Hafiz tahu pasti Hafizah belum siap, meskipun hanya sekadar tidur seranjang aja. Jadi, ia menjawab, "Ada kasur lantai atau karpet?" tanyanya.
Hafizah menahan nafas dan mengangguk. Ia beranjak ke dekat lemari dan mengambil karpet berbulu di sana. Melihat Hafizah kesusahan, Hafiz beranjak membantu.
"Saya tidur di sini aja," kata Hafiz seraya mulai membenahi tempat tidurnya.
Hafizah mengangguk pelan. Apa ini perbuatan dosa? Hafizah yang tidak tahu apa-apa hanya bisa terus berpikir. Hafizah dengan ragu berbaring di atas ranjang setelah Hafiz berbaring.
"Selamat malam, Khumairoh Kecilku," ujarnya manis.
Hafizah hanya menahan malu. "Kembali Pak Hafiz," jawabnya lirih.
Hafiz telah terlelap beberapa menit yang lalu. Sedangkan Hafizah hanya berbaring gelisah. Ini ada yang kurang dari biasanya. Haruskah Hafizah membangunkan Hafiz hanya untuk membantunya menjalankan ritual?
"Pak Hafiz," panggilnya.