Efisiensi kerja pengacara Nindy sangat cepat, draf perjanjian cerai sudah jadi keesokan harinya.
Nindy hanya membaca sekilas dan merasa puas. Dia dan Peter tidak punya banyak aset bersama. Satu-satunya properti adalah apartemen luas yang dibeli Peter sebelum menikah. Namun untuk renovasi, dari desain, pengerjaan interior, hingga dekorasi, semuanya ditangani Nindy.
Uang yang dia keluarkan tidak kalah besar dari harga rumah itu sendiri. Itu bukan sekadar rumah, melainkan sarang cinta tempat dia menaruh seluruh impian. Setiap sudut dipenuhi harapannya untuk kehidupan pernikahan mereka. Termasuk kamar bayi yang sudah dia siapkan sejak lama. Itu adalah mahakarya yang paling dia banggakan seumur hidup.
Namun sekarang, saat menatap semuanya, dia hanya merasa geli dan pahit.
Tak mau lagi terjebak dalam kenangan, Nindy memutuskan mengakhiri masa cuti dan kembali bekerja, sekaligus menyiapkan surat pengunduran diri. Dia ingin berhenti dari pekerjaannya di kota asing ini, lalu pulang ke sisi kedua orang tuanya.
Begitu mobilnya berhenti di depan kantor, Nindy langsung melihat dua sosok yang paling tidak ingin dia jumpai. Peter berdiri dengan wajah penuh kekecewaan, sementara Sofie berdiri di belakangnya dengan mata berkaca-kaca.
"Nindy, aku harap kamu bisa meminta maaf dengan tulus sama Sofie. Aku yakin, kata-kata kejam itu bukan sungguh-sungguh keluar dari hatimu."
Peter datang bukan hanya untuk menuntut permintaan maaf, tapi juga ingin membicarakan soal permintaan terakhir Bonita agar Nindy mengerti mengapa dia harus menikahi Sofie.
Menatap mata Peter yang penuh tuduhan, Nindy malah tersenyum tipis dan merasa semuanya lucu. "Aku bicara apa memangnya? Apa yang sampai membuat Profesor Peter repot-repot jauh-jauh datang ke sini menemuiku?"
"Kamu masih mau menyangkal? Sofie, keluarkan ponselnya."
Sofie menggigit bibir, wajahnya penuh kepura-puraan. Dia menggeleng pelan, lalu tiba-tiba berjalan mendekat dan meraih erat lengan Nindy.
"Kak Nindy, kamu mau marah-marah ke aku, maki-maki aku, terserah. Aku nggak peduli. Tapi ibuku ... ibuku sudah nggak lama lagi. Keinginannya cuma satu, dia mau melihat aku menikah dengan Peter sebelum meninggal ...."
"Tunggu sebentar." Nindy menepis kasar tangan Sofie dan memotong ucapannya, "Memangnya aku maki kamu apa? Ngomong yang jelas."
"Aku ...." Wajah Sofie seketika pucat, tubuhnya gemetar bagaikan kelinci kecil yang ketakutan. Dia buru-buru bersembunyi di belakang Peter.
Melihat Sofie seperti itu, Peter langsung merasa Nindy telah bersalah. Dia maju selangkah untuk melindungi Sofie di belakangnya.
"Nindy, kamu benar-benar sudah keterlaluan! Sofie masih berusaha menjaga harga dirimu, apa lagi yang kamu inginkan? Kamu tega mengutuk ibunya supaya cepat mati, memaki dia sebagai wanita hina dan pelakor. Nindy, apa belasan tahun pendidikanmu itu sia-sia? Orang tuamu mengajarimu jadi seperti ini?"
Plaaak!
Tamparan keras mendarat di wajah Peter. Nindy mengerahkan seluruh tenaganya.
Peter terbelalak. Dia sama sekali tidak menyangka Nindy akan memukulnya. Matanya penuh keterkejutan. "Kamu berani mukul aku?"
"Iya." Nindy tersenyum dingin. "Sakit, ya?"
"Lalu kenapa? Ya, aku yang bilang dia itu wanita hina, aku yang bilang dia pelakor. Aku juga memang berharap ibunya cepat mati. Memangnya kenapa? Itu bukan ibuku, nggak ada hubungannya denganku sedikit pun."
"Tadi dia bahkan minta aku merestui kalian. Nggak masalah, ayo. Ke kantor catatan sipil saja, aku punya waktu kapan pun."
Tanpa memberi Peter satu pun tatapan lagi, Nindy langsung berbalik dan pergi dengan langkah mantap.
Peter hanya bisa terpaku menatap punggung ramping itu yang semakin jauh. Entah kenapa, hatinya dilanda kepanikan. Kenapa wajah Nindy terlihat begitu dingin dan tak acuh?
Kenapa ketika mendengar kabar dia akan menikahi Sofie, Nindy bisa setenang itu, bahkan menyetujuinya tanpa perlawanan? Apakah ini masih wanita yang dulu selalu manja padanya, selalu tersenyum hanya untuknya?
Sofie mendekat dan mengelus lembut pipi Peter dengan penuh kepura-puraan. "Peter, Kak Nindy cuma terlalu mencintaimu. Pasti dia nggak sengaja menamparmu. Kata-kata yang dia ucapkan juga pasti hanya karena marah."
"Nanti kalau suasana sudah reda, biar aku sendiri yang menemui Kak Nindy. Aku akan menjelaskandan meminta maaf padanya. Kalian pasti bisa kembali seperti dulu."
Suaranya lembut, hangat, dan menenangkan. Kata-katanya membuat suasana hati Peter yang tegang, berangsur-angsur kembali tenang. Dia pun mengangguk percaya. Dalam hatinya, Peter yakin, bagaimanapun juga, Nindy tidak mungkin benar-benar menceraikannya.
"Sudah benar-benar dipikirkan?" Herlina memegang surat pengunduran diri Nindy, masih merasa sayang jika dia pergi.
Nindy tersenyum sambil mengangguk. "Iya, aku satu-satunya anak perempuan, sementara kondisi orang tuaku juga kurang baik. Jadi, aku tetap memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan mengembangkan diri di sana."
"Lalu bagaimana dengan Pak Peter? Bagaimana dengan pekerjaannya?" Herlina tahu tentang hubungan Nindy. Empat tahun pacaran jarak jauh di universitas, setelah lulus Nindy menikah jauh di Kota Rubia. Bisa dibilang pasangan muda ini dulu hubungannya sangat kuat.
Terutama karena Peter adalah profesor termuda di Universitas Jaya, masa depannya cerah. Dia jelas tidak mungkin berhenti dari pekerjaannya.
"Aku akan bercerai."
"Cerai?"
Melihat ekspresi terkejut Herlina, Nindy hanya tersenyum tipis. "Iya, prosesnya sedang berjalan."
Kepribadian Nindy tenang dan dewasa, serta terlihat ramah, tetapi dia punya pendirian sendiri. Jika sudah memutuskan sesuatu, dia tidak akan menoleh ke belakang lagi.
"Baiklah, kalau begitu aku doakan masa depanmu cemerlang." Herlina tidak berusaha membujuk lagi, lalu menandatangani surat pengunduran diri itu.
Selama seharian penuh, Nindy sibuk menyelesaikan proses serah-terima pekerjaan. Malam harinya, perjanjian perceraian dikirim cepat ke kantornya. Setelah membaca semua pasal dengan teliti, Nindy langsung menandatangani tanpa ragu.
Malam itu, Herlina mengajak semua orang makan bersama untuk memberi perpisahan kepada Nindy.
Setelah makan, ada yang mengusulkan pergi ke karaoke. Nindy tidak menolak dan ikut bergabung juga.
Dulu, karena Peter tidak suka, Nindy jarang sekali ikut acara kumpul dengan rekan kerja. Dia selalu menghormati semua keinginan Peter, tapi pada akhirnya berakhir dengan begitu menyedihkan.
Seolah pas sekali dengan suasana, perpisahan itu berakhir dengan sebuah lagu "Perceraian Lara" yang dinyanyikan salah satu rekan.
Ketika Nindy pulang ke rumah, waktu sudah lewat tengah malam. Begitu membuka pintu, dia melihat Peter duduk di sofa sedang merokok.
Mendengar suara Nindy pulang, Peter buru-buru mematikan rokok dan berdiri, lalu menunjukkan wajah penuh penyesalan. "Maaf, aku nggak tahan dan akhirnya merokok di rumah."
"Nggak apa-apa." Nindy yang bahkan sudah tidak menginginkan rumah ini, tentu tidak akan peduli lagi apakah Peter merokok di ruang tamu atau tidak.
Setelah berganti sepatu, Nindy berjalan menuju kamar mandi. Namun, Peter mengadangnya. Malam itu, dia bersikeras ingin bicara baik-baik dengan Nindy.
"Nindy, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu." Nindy merasa lelah dam tidak punya tenaga lagi untuk bertengkar. Dia berdiri di tempat dan menatap Peter dengan tenang. "Iya, bilang saja."
Peter sempat mengira, sikapnya pagi tadi akan membuat Nindy marah dan tidak mau peduli padanya. Ditambah Nindy pulang larut malam, dia mengira Nindy sedang mengambek. Namun ternyata, Nindy begitu tenang.
Meski dalam hatinya masih ada rasa gelisah, tapi perkara ini tidak bisa ditunda lagi. "Bi Bonita sudah dikeluarkan surat peringatan kondisi kritis, dokter bilang bisa pergi kapan saja. Dia ... dia punya satu permintaan terakhir, dia berharap ...."
Peter merasa dirinya tidak salah, tapi kalimat berikutnya dia benar-benar tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Bagaimana dia bisa mengatakan pada istrinya bahwa dia harus menikahi wanita lain?
"Dia berharap kamu menjaga Sofie seumur hidup, ingin melihat kalian menikah?"
Kata-kata yang diucapkan Sofie tadi siang masih membekas di ingatan Nindy. Saat itu dia memilih diam, berharap Peter sendiri yang mengatakannya. Namun ternyata, Peter tahu sendiri kalau kalimat itu memang menyakitkan.
"Kamu sudah tahu?" Peter agak terkejut. Namun sejak kata-kata itu keluar, dia hanya bisa mencoba menjelaskan dengan tenang.
"Nindy, waktu kecil orang tuaku sibuk sekali. Pernah suatu kali aku sakit dan Bi Bonita yang menggendongku ke rumah sakit di malam hujan deras. Dia menjagaku tiga hari tiga malam tanpa tidur. Dia berjasa besar padaku, aku nggak tega melihatnya meninggal dengan penyesalan. Jadi, bisakah kamu ...."
Belum selesai Peter bicara, Nindy sudah memotong, "Kamu nggak perlu lanjutkan, aku setuju."
Selesai berkata, Nindy bahkan tersenyum sedikit. Senyum itu membuat awan gelap di hati Peter seketika berkurang.
Dengan gembira, dia langsung meraih Nindy ke dalam pelukannya. "Aku tahu, kamu pasti akan mengerti aku. Nindy-ku memang yang paling dewasa."
"Oh iya Nindy, aku dan Sofie hanya akan menikah secara formalitas, cukup lewat sebuah upacara saja. Aku nggak akan mengundang banyak teman. Tapi kalau ada orang yang bergosip, aku berharap kamu bisa membantuku menjelaskan."
Dalam tiga hari berikutnya, Peter tidak pernah pulang lagi. Nindy sudah membereskan semua barang-barangnya, lalu mengirimkannya ke rumah ibunya.
Setelah ragu cukup lama, akhirnya Nindy tetap menelpon ibunya. "Bu, beberapa hari lagi aku akan pulang."
"Hah? Kamu cuti? Peter ikut pulang juga?" Di seberang telepon, ibu Nindy terdengar sangat gembira.
"Nindy, bagaimana persiapan kalian untuk program hamil? Kamu harus banyak makan yang bergizi, tubuh sehat, supaya janinnya juga bisa kuat. Lalu bilang sama Peter, jangan merokok, jangan minum alkohol, juga jangan sering bergadang."
"Kamu nggak tahu nih, tetangga kita setiap hari pamer cucunya, katanya cucunya cantik. Hmph, anak Ibu juga secantik ini, menantu Ibu juga tampan, nanti kalau kamu punya bayi, pasti jauh lebih cantik dari cucunya itu."
Setiap kali menelpon, ibunya selalu punya banyak hal untuk diceritakan pada Nindy. Namun kali ini, mendengar celoteh dan nasihat ibunya, mata Nindy justru memerah.
Seakan mendengar isak tangis putrinya, suara ibu Nindy tiba-tiba berubah. "Nindy, kenapa? Kamu menangis? Ada apa sebenarnya?"
Nindy mengusap air matanya, lalu berkata jujur, "Bu, aku berencana cerai sama Peter."
Begitu kata-kata itu keluar, telepon di seberang sana hening sangat lama. Setelah sekian lama, barulah terdengar suara lembut ibunya lagi. "Kalau begitu, pulanglah. Ibu baru beli satu set seprai baru, motifnya pasti kamu suka."
"Baik, Bu."
Nindy merasa tidak sanggup lagi, dia berkata masih ada urusan lalu menutup telepon. Sambil bersandar di sofa, matanya menatap foto pernikahannya dengan Peter yang tergantung di dinding. Air matanya mengalir dengan dingin.
Lihatlah, Peter. Sekalipun tanpamu, di dunia ini masih ada orang yang mencintaiku tanpa syarat.
Tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi pesan yang menarik kembali pikirannya. Saat dibuka, ternyata itu adalah foto yang dikirim oleh Sofie.
Foto itu adalah foto pernikahan adat Sofie dan Peter. Sofie mengenakan gaun tradisional berwarna emas, dia tampak manis saat bersandar di sisi Peter. Peter juga memakai pakaian adat yang sama, seluruh tubuhnya memancarkan aura anggun dan berwibawa.
Nindy kembali mendongak menatap foto pernikahannya sendiri dengan Peter di dinding. Hatinya penuh dengan kepahitan. Delapan tahun hubungan yang dibinanya, ternyata hanyalah sebuah lelucon besar.
Dulu saat mereka menikah, Nindy juga pernah mengusulkan untuk mengambil foto pernikahan adat. Namun Peter menolak, katanya terlalu rumit dan dia tidak cocok memakai pakaian itu. Namun sekarang, dia bukan hanya memakainya, bahkan dengan senang hati berpose untuk difoto.
Benar saja, itulah bedanya antara "peduli" dan "tidak peduli".
Notifikasi kembali berbunyi, kali ini pesan lagi dari Sofie.
[ Kak Nindy, besok aku dan Peter menikah. Awalnya ingin mengundangmu, tapi emosi ibuku sedang nggak stabil, dia nggak ingin melihatmu. Jadi besok lebih baik kamu jangan datang. Nanti setelah selesai, aku dan Peter akan mengundangmu makan. ]
Betapa jelasnya cara pamer serta provokasinya itu. Nindy hanya menanggapinya dengan senyum dingin, lalu membalas.
[ Selamat ya. ]
Setelah mengirim balasan itu, Nindy langsung memasukkan Sofie ke dalam daftar blokir. Kemudian, dia menelepon sebuah perusahaan pembongkaran yang pernah bekerja sama dengannya.
Segala sesuatu di rumah itu adalah cinta dan jerih payahnya. Kini karena dia akan pergi, semua itu sudah tidak ada artinya lagi untuk ditinggalkan.
Keesokan harinya, di lokasi pernikahan. Yang datang hanyalah kerabat dan teman-teman keluarga Sofie.
Peter terus mencari sosok Nindy di antara para tamu. Namun dari awal upacara hingga selesai, dia tidak pernah melihat Nindy muncul.
Malam harinya, setelah mengantar Bonita kembali ke rumah sakit, Peter berniat pulang ke rumah. Sofie juga ingin ikut dengannya, katanya dia ingin mengucapkan terima kasih secara langsung pada Nindy.
Peter tidak menemukan alasan untuk menolak. Dalam pikirannya, dia dan Sofie bersih dan tidak ada yang perlu ditutupi.
Namun begitu Peter membuka pintu rumah, tubuhnya seakan disambar petir.
Seluruh ruangan rumah yang dulunya hangat itu kini kosong melompong. Semua dekorasi dan perabot sudah hilang, menyisakan dinding dan lantai kusam berwarna semen. Hanya ada beberapa kotak besar berisi barang-barang pribadi milik Peter yang diletakkan di tengah ruang tamu.
Di bawah tatapan terkejut Sofie, Peter berjalan mendekati kotak itu. Dengan tangan bergetar, dia mengambil sebuah amplop yang diletakkan di atasnya.
Ketika dibuka, di dalamnya ada surat perjanjian cerai yang sudah ditandatangani Nindy beserta rekam medis operasi kehamilan ektopik miliknya.