Bab 1

Di malam ketika Peter menikah dengan wanita lain, Nindy menghancurkan rumah tempat mereka bersama selama delapan tahun!

Pukul dua dini hari, Nindy terbangun karena sakit perut yang menusuk. Sambil meraba ranjang di sebelahnya yang dingin, Nindy baru sadar suaminya, Peter, masih belum pulang.

Rasa nyeri di perut bagian bawah semakin parah. Dengan tubuh bergetar, Nindy menelepon Peter.

Nada tunggu berlangsung lama, hingga akhirnya telepon tersambung. Belum sempat Nindy membuka mulut, suara seorang gadis terdengar di seberang.

"Kak Nindy, Peter sudah tidur. Kalau ada apa-apa, kamu cari dia besok saja, ya. Aku tutup dulu."

"Tunggu ... tunggu sebentar ...."

Perut yang terus meliuk-liuk kesakitan membuat setiap kata yang keluar dari bibir Nindy terasa seperti siksaan. Namun, lawan bicara sama sekali tidak peduli dan langsung memutuskan telepon. Saat dia mencoba menelepon lagi, hanya terdengar pesan kalau ponsel sudah dimatikan.

Nindy terengah-engah, perasaan seperti akan mati membuat seluruh tubuhnya gemetar hebat, air matanya mengalir dengan tak terbendung. Dia tidak ingin mati. Dia masih berusia 26 tahun, masih punya ayah dan ibu, masih punya Peter.

Dengan sekuat tenaga, Nindy menekan nomor darurat, lalu merangkak ke ruang tamu untuk membuka pintu utama. Sebelum kehilangan kesadaran, dia samar-samar mendengar suara sirene ambulans menggema di seluruh kompleks apartemen.

Diagnosis awal dokter adalah hamil ektopik dan harus segera dioperasi. Petugas medis perlu menghubungi keluarga, tetapi nomor Peter tetap tidak bisa tersambung.

"Kamu punya keluarga atau teman lain yang bisa dihubungi?" tanya seorang perawat muda sambil menatap Nindy yang pucat pasi dengan tatapan penuh rasa iba.

Nindy tersenyum pahit dan menggeleng pelan. Orang tuanya tidak tinggal di Kota Rubia, bahkan jika naik penerbangan paling pagi, mereka baru bisa sampai besok sore. Apalagi, kondisi ibunya lemah karena penyakit jantung. Dia tidak sanggup menerima berita yang syok.

Sahabat terbaiknya, Elvi, memang ada di kota ini. Namun, Elvi sedang hamil besar dan sudah masuk masa persalinan, Nindy tidak tega merepotkannya.

"Formulir persetujuan operasi ... biar aku saja yang tanda tangan," katanya lirih.

Operasi dilakukan semalaman. Saat Nindy tersadar, hari sudah berganti pagi. Seorang perawat segera menuangkan segelas air hangat begitu melihatnya membuka mata.

"Bu Nindy, akhirnya kamu sadar. Kamu nggak tahu betapa berbahayanya keadaanmu. Dokter bilang posisi kehamilan ektopikmu sangat buruk. Kalau operasinya terlambat sedikit saja, mungkin nyawamu sudah nggak bisa diselamatkan."

Nindy menyentuh perutnya, hati dipenuhi rasa sedih dan kecewa. Dua tahun dia dan Peter berusaha untuk hamil. Saat akhirnya berhasil, ternyata kandungannya adalah kehamilan ektopik.

Nindy menggenggam ponselnya erat-erat, air matanya berderai tiada henti. Setelah semalaman berlalu, Peter tidak pernah menelepon, bahkan tidak mengirim satu pesan pun.

Anak mereka sudah tiada, tapi ayah dari anak itu seharusnya tahu. Nindy pun menelepon Peter. Kali ini, Peter sendiri yang mengangkat.

"Sayang, aku ...."

"Nindy, aku tahu akhir-akhir ini aku mengabaikanmu, tapi aku benar-benar capek. Bi Bonita kemarin mengalami reaksi penolakan, kondisinya sangat buruk. Soal Sofie, nggak ada apa-apa di antara kami. Dia itu adikku, nggak mungkin mengancam posisimu sebagai istriku. Jangan ribut lagi, bisa nggak?"

Suara Peter terdengar sangat tidak sabar. Nindy terdiam menggenggam ponselnya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Setelah hening beberapa detik, Peter kembali bersuara, "Kenapa kamu diam saja? Nindy?"

"Aku ... aku hamil ektop ...."

Belum sempat Nindy menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara Sofie dari seberang yang panik bercampur isakan. "Peter, cepat datang lihat ibuku!"

"Sudah, sampai sini dulu."

Telepon langsung diputus.

Nindy menatap langit-langit. Mata yang sedari tadi sudah bengkak, kini kembali dibasahi air mata. Delapan tahun ... dia bersama Peter delapan tahun lamanya.

Delapan tahun itu mereka lewati bersama. Dari tahun terakhir SMA, bertahan dengan hubungan jarak jauh selama empat tahun kuliah, hingga akhirnya dua tahun lalu resmi menikah. Mereka pernah berjanji akan berusaha menyambut hadirnya seorang bayi bersama-sama.

Namun kini, hanya karena sahabat kecilnya yang baru pulang tiga bulan, Nindy seketika berubah menjadi istri pencemburu yang tak tahu diri di mata Peter.

"Hah!" Nindy tertawa getir. Sambil menutup matanya, dia tertawa dan menangis dalam waktu bersamaan.

Bab 2

Nindy sangat paham apa arti Sofia dan ibunya bagi Peter.

Saat Peter masih kecil, orang tuanya sibuk bekerja dan sering lembur. Hampir setiap hari Peter makan di rumah tetangganya, Bonita. Bonita adalah seorang ibu tunggal yang membesarkan Sofie seorang diri.

Sejak kecil hingga remaja, Peter dan Sofie selalu dipandang orang-orang sebagai sepasang kekasih masa kecil yang serasi. Semua orang yakin bahwa mereka berdua akan melangkah dari status teman masa kecil ke jenjang pernikahan.

Di tahun terakhir SMA, Sofie ikut ibunya pindah ke luar negeri dan kepergian itu berlangsung selama delapan tahun. Hingga tiga bulan lalu, Sofie kembali bersama ibunya yang divonis kanker pankreas, lalu mereka mencari Peter.

Sejak keduanya kembali, Peter mulai sering tidak pulang ke rumah. Jika ditanya alasannya, jawabannya selalu sedang di rumah sakit.

Karena memahami hubungan Peter dengan Sofie dan ibunya, Nindy tidak pernah mengeluh. Dia selalu percaya bahwa hubungan mereka berdua sangat kokoh, tidak akan terguncang hanya karena hadirnya sahabat kecil itu kembali.

Awalnya, Nindy bahkan ikut membantu menghubungi para ahli medis. Namun lambat laun, keberadaannya justru membuat Peter dan Sofie merasa tidak senang. Perlahan-lahan, setiap kali Nindy muncul, Sofie akan menangis dengan wajah penuh rasa tersakiti. Akhirnya, Peter meminta Nindy untuk tidak lagi datang ke rumah sakit.

Nindy benar-benar tidak mengerti apa kesalahannya. Dia tidak marah, tidak ribut, hanya menunggu dengan sabar hingga semuanya selesai. Dia berharap setelah Peter menyelesaikan semua urusan ini, mereka bisa kembali ke keadaan semula.

Namun, sikap Peter saat operasi kehamilan ektopiknya membuat keyakinan itu mulai goyah.

Sambil mengembuskan napas panjang, Nindy mengirim pesan singkat kepada Peter. Dia bahkan melampirkan hasil medis tentang kehamilan ektopiknya.

Di rumah sakit yang sama, Peter menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Sofie yang duduk di sampingnya ikut mendekat untuk melihat. Belum sempat Peter mengatakan apa pun, mata Sofie langsung memerah. Air matanya jatuh deras dan suaranya tercekat.

"Maaf, Peter, aku nggak seharusnya menghubungimu. Aku tahu Kak Nindy takut aku merebutmu darinya, jadi dia sengaja mengarang alasan yang nggak masuk akal ini. Aku dan Ibu yang sudah merusak hubungan kalian berdua. Maafkan aku."

Tadi sempat ada sekelebat rasa cemas di hati Peter, tapi setelah dipikir lagi, tiga bulan terakhir ini dia memang jarang pulang karena merawat Bonita yang sakit. Dia dan Nindy sudah lama tidak berhubungan sebagai suami istri.

Peter juga mengenal Nindy dan tahu betul bahwa Nindy tidak mungkin berselingkuh. Jadi, menurutnya, ini hanyalah ulah Nindy yang sedang mencari perhatian karena ingin membuktikan bahwa dirinya masih dicintai.

Peter mengusap kepala Sofie dengan halus, suaranya terdengar begitu lembut. "Ini bukan salahmu. Aku yang terlalu memanjakannya, sampai-sampai bisa mengarang kebohongan seperti ini."

"Terima kasih, Peter. Kalau bukan karena kamu, aku benar-benar nggak tahu harus bagaimana."

Dengan air mata masih mengalir, Sofie langsung terjun ke pelukan Peter. Peter menepuk lembut punggung Sofie, memberikan kenyamanan dan kepastian.

Setelah cukup lama menenangkan Sofie, barulah Peter sempat membalas pesan Nindy.

[ Nindy, umur Bi Bonita nggak lama lagi. Kamu tahu sendiri dia banyak menjagaku waktu aku masih kecil. Tolong kamu lebih pengertian. ]

[ Jangan lagi membuat keributan, apalagi mengatakan kebohongan kejam yang mengutuk dirimu sendiri dan anak kita di masa depan. Setelah semua ini berakhir, aku pasti akan menebusnya padamu. ]

Bab 3

Kekecewaan yang datang berkali-kali, pada akhirnya hanya butuh sebuah penyelesaian untuk benar-benar menjadi akhir dari sebuah cerita.

Nindy menghapus air matanya, lalu membalas pesan Peter hanya dengan satu kata.

[ Mm. ]

Namun dalam hatinya, dia sudah membuat keputusan.

Tiga hari kemudian, Nindy keluar dari rumah sakit. Selama waktu itu, Peter tidak mengirimkan kabar sedikit pun dan Nindy juga tidak lagi mencarinya.

"Bu Nindy, meskipun ini kehamilan ektopik, kamu tetap harus menjalani masa pemulihan seperti nifas. Setelah pulang nanti jangan kena air dingin, banyak makan makanan bergizi, dan istirahat yang cukup ya," pesan perawat dengan penuh perhatian.

Nindy menahan rasa perih di hatinya, lalu tersenyum tipis sambil berterima kasih. "Terima kasih, Bu. Saya akan menjaga diri."

Setelah berpamitan, Nindy melangkah keluar sendirian. Belum berjalan jauh, tiba-tiba terdengar suara memanggil dari belakang. "Nindy?"

Nindy menoleh dan melihat sahabat baiknya, Elvi, dengan perut yang sudah besar.

"Kamu ngapain di rumah sakit? Wajahmu pucat sekali," tanya Elvi cemas.

"Aku hamil," jawab Nindy datar, ekspresinya tenang seperti biasa. Elvi sempat ingin mengucapkan selamat, tetapi Nindy melanjutkan, "Tapi kehamilannya ektopik. Sudah dioperasi. Hari ini aku keluar dari rumah sakit."

"Kenapa kamu nggak bilang sama aku?!" Elvi sedikit kesal, tapi rasa kesalnya segera berubah jadi iba. Dia langsung menggenggam erat tangan Nindy.

"Eh? Terus Peter mana?"

Di mata teman-teman mereka semua, Peter selalu digambarkan sebagai sosok suami ideal yang sangat menyayangi istri dan tidak pernah tega membuat Nindy menderita. Melihat Nindy sendirian, Elvi jadi sangat terkejut.

"Dia lagi temani ibu Sofie di rumah sakit. Katanya nggak sempat mengurusku."

"Apa?"

Elvi terbelalak. Dia memang pernah mendengar kabar soal Peter dan sahabat kecilnya itu, tapi bagaimanapun juga, istrinya baru saja menjalani operasi kehamilan ektopik. Masalah sebesar ini ... kenapa dia malah tidak muncul?

"Sudahlah, semuanya sudah lewat," Nindy memaksa tersenyum tipis. "Kamu sendiri kenapa sendirian?"

"Hari ini jadwal kontrol terakhir, Kemal lagi ke kasir buat bayar," jawab Elvi.

Elvi sebenarnya masih ingin menanyakan soal hubungan Nindy dan Peter, tapi melihat wajah sahabatnya yang begitu pucat, dia menahan diri. Mobil online yang dipesan Nindy sudah hampir tiba, Elvi pun bersikeras menemaninya turun.

Begitu pintu lift terbuka, pemandangan di depan mata membuat mereka berdua sama-sama tertegun.

Sofie berdiri di sana, merangkul erat lengan Peter.

Keempat pasang mata itu saling bertemu. Keheningan hanya berlangsung sekejap.

Peter buru-buru menepis tangan Sofie dari lengannya, wajahnya langsung menggelap. "Nindy, aku sudah bilang dengan jelas di pesan. Kamu terus-terusan menguntit dan mengawasiku, apa kamu nggak capek? Sejak kapan kamu jadi nggak rasional begini?"

"Ka ... Kak Nindy, tolonglah." Suara Sofie pecah, lalu dia tiba-tiba berlutut di hadapan Nindy di tengah ramainya lobi rumah sakit. Air matanya bercucuran, isak tangisnya menggema.

"Sofie, bangun! Kenapa kamu sampai berlutut begitu?" Peter langsung menunduk dengan panik dan ingin menariknya.

"Peter, jangan halangi aku. Aku dan Ibu yang salah sama Kak Nindy. Tapi Kak Nindy, ibuku sudah hampir meninggal ... tolong kasihanilah, izinkan aku meminjam Peter selama waktu ini," Sofie terisak, bahkan mencoba menundukkan kepala hendak bersujud di depan Nindy.

Peter tidak berhasil menghentikannya, wajahnya justru semakin marah. Dia berbalik menatap Nindy dengan tajam.

"Nindy! Sofie dan Bi Bonita nggak pernah berbuat salah padamu, mereka bahkan nggak pernah menjelekkanmu sekali pun. Tapi kamu malah berbuat begini, mana hati nuranimu? Kamu benar-benar membuatku jijik!"

Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED