Peter merasa dirinya sudah cukup merendah. Dia tidak mengerti apa lagi yang membuat Nindy begitu marah.
"Nindy, sebenarnya kamu masih mau aku gimana? Semua pesan yang kamu kirim ke Sofie sudah aku lihat. Iya, aku memang tumbuh besar bersama Sofie, tapi perasaanku padanya hanya sebatas kakak dan adik."
"Kenapa kamu harus selalu memikirkan kami seolah-olah hubungan kami kotor? Soal Bi Bonita, dia sama seperti ibuku sendiri. Aku bahkan nggak marah waktu kamu bohong soal kehamilan ektopik. Kamu datang ke rumah sakit memata-matai aku, aku pun masih bisa memaafkanmu. Bisa nggak kamu berhenti membuat masalah tanpa alasan?"
"Aku lelah. Pergilah," jawab Nindy dengan suara datar.
"Kamu ... suruh aku pergi?"
Peter tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ini rumah mereka berdua. Jika dia diusir, harus pergi ke mana lagi?
Namun belum sempat dia bertanya lebih lanjut, ponselnya yang tergeletak di samping berbunyi nyaring. Peter menahan emosinya, lalu segera mengangkat.
"Peter, ibuku muntah darah ... cepatlah datang, aku takut sekali!" Suara Sofie di ujung telepon terdengar panik dan menangis.
Peter langsung bangkit dari ranjang. "Jangan takut, aku segera ke sana."
Nindy hanya mendengarkan suara Peter sibuk memakai pakaian, lalu suara pintu dibuka dan ditutup rapat. Dia menutup matanya, seolah kelelahan sudah menelan seluruh tubuhnya.
Di rumah sakit, Peter menggenggam erat tangan Bonita, wajahnya dipenuhi kekhawatiran. Bonita membuka mata yang sudah keruh dan menatap Peter dengan pandangan memohon.
"Peter ... satu-satunya hal yang nggak bisa membuatku tenang sebelum mati adalah Sofie. Aku tahu permintaan ini terlalu berlebihan, tapi aku mohon ... bisakah kamu menikahi Sofie, lalu menjaganya seumur hidup?"
Kata-kata itu membuat Peter tertegun. Dia memang bisa berjanji menjaga Sofie, tapi bagaimana mungkin dia menikahinya? Bukankah dia pernah bersumpah, tak akan pernah meninggalkan Nindy?
Melihat Peter tampak ragu, Bonita mendadak batuk hebat. Darah segar sekali lagi memenuhi tisu yang disodorkan Peter.
Sofie menangis keras sambil berusaha menenangkan ibunya, "Ibu, Peter sudah nikah, jangan persulit dia lagi ...."
"Tapi jelas-jelas ... kalian berdua itu jodoh dari lahir. Semua salah Ibu, salah Ibu yang dulu bawa kamu ke luar negeri ... salah Ibu ...."
Melihat Bonita terengah-engah dan emosinya semakin tak terkendali, Peter akhirnya tidak ragu lagi. Dia menggenggam erat tangan Sofie dan berkata, "Bi Bonita, aku janji. Aku akan menikah dengan Sofie dan menjaganya seumur hidup."
"Kamu ... kamu sumpah ... kamu harus sumpah ...."
Entah dari mana datangnya tenaga, Bonita mencengkeram kerah kemeja Peter dengan kuat.
Peter tidka punya pilihan, dia pun mengangkat tiga jari. "Aku bersumpah, aku akan menikahi Sofie. Kalau aku mengingkari kata-kata ini, biarlah aku mati mengenaskan."
Mendengar ucapannya, wajah tua Bonita yang penuh keriput akhirnya tersenyum lega. "Hidupku sudah nggak lama lagi ... kalian harus menikah sebelum aku pergi ...."
Begitu selesai bicara, Bonita kembali jatuh pingsan karena terlalu banyak menguras tenaga.
Di luar rumah sakit, Peter duduk di bangku panjang. Jarang sekali dia terlihat merokok seperti sekarang.
Sofie datang membawa dua gelas kopi, lalu duduk di sampingnya.
"Peter, aku tahu permintaan ibuku terlalu berlebihan. Tapi dia sebentar lagi pergi, aku nggak mau dia mati dengan penyesalan. Tenang saja, ini hanya pernikahan palsu. Aku sendiri yang akan jelaskan pada Kak Nindy."
Peter menggeleng pelan. "Nggak usah, aku yang akan bicara. Nindy itu baik, dia nggak akan marah."
"Dia benar-benar nggak akan marah? Tapi ... dia ...." Sofie menggantungkan kalimatnya.
"Ada apa dengan dia? Dia kirim pesan lagi ke kamu?"
Sebelum Sofie sempat menjawab, Peter meraih ponselnya dan membuka aplikasi WhatsApp.
[ Nindy: Sofie, dasar wanita hina. Kenapa ibumu belum mati juga? ]
Membaca pesan itu, Peter hampir saja membanting ponsel. Dia tidak percaya Nindy bisa sekejam ini. Nindy bukanlah orang seperti itu.
"Peter, jangan marah ... Kak Nindy cuma terlalu mencintaimu." Sofie terisak, wajahnya dibasahi oleh air mata.
Peter mematikan rokoknya, lalu langsung menarik Sofie ke dalam pelukannya. "Dia sudah keterlaluan. Aku akan pastikan dia minta maaf padamu."
Sofie mengangguk pelan dengan suara serak. Namun di balik bahunya, mata Sofie berkilat penuh kemenangan.
Efisiensi kerja pengacara Nindy sangat cepat, draf perjanjian cerai sudah jadi keesokan harinya.
Nindy hanya membaca sekilas dan merasa puas. Dia dan Peter tidak punya banyak aset bersama. Satu-satunya properti adalah apartemen luas yang dibeli Peter sebelum menikah. Namun untuk renovasi, dari desain, pengerjaan interior, hingga dekorasi, semuanya ditangani Nindy.
Uang yang dia keluarkan tidak kalah besar dari harga rumah itu sendiri. Itu bukan sekadar rumah, melainkan sarang cinta tempat dia menaruh seluruh impian. Setiap sudut dipenuhi harapannya untuk kehidupan pernikahan mereka. Termasuk kamar bayi yang sudah dia siapkan sejak lama. Itu adalah mahakarya yang paling dia banggakan seumur hidup.
Namun sekarang, saat menatap semuanya, dia hanya merasa geli dan pahit.
Tak mau lagi terjebak dalam kenangan, Nindy memutuskan mengakhiri masa cuti dan kembali bekerja, sekaligus menyiapkan surat pengunduran diri. Dia ingin berhenti dari pekerjaannya di kota asing ini, lalu pulang ke sisi kedua orang tuanya.
Begitu mobilnya berhenti di depan kantor, Nindy langsung melihat dua sosok yang paling tidak ingin dia jumpai. Peter berdiri dengan wajah penuh kekecewaan, sementara Sofie berdiri di belakangnya dengan mata berkaca-kaca.
"Nindy, aku harap kamu bisa meminta maaf dengan tulus sama Sofie. Aku yakin, kata-kata kejam itu bukan sungguh-sungguh keluar dari hatimu."
Peter datang bukan hanya untuk menuntut permintaan maaf, tapi juga ingin membicarakan soal permintaan terakhir Bonita agar Nindy mengerti mengapa dia harus menikahi Sofie.
Menatap mata Peter yang penuh tuduhan, Nindy malah tersenyum tipis dan merasa semuanya lucu. "Aku bicara apa memangnya? Apa yang sampai membuat Profesor Peter repot-repot jauh-jauh datang ke sini menemuiku?"
"Kamu masih mau menyangkal? Sofie, keluarkan ponselnya."
Sofie menggigit bibir, wajahnya penuh kepura-puraan. Dia menggeleng pelan, lalu tiba-tiba berjalan mendekat dan meraih erat lengan Nindy.
"Kak Nindy, kamu mau marah-marah ke aku, maki-maki aku, terserah. Aku nggak peduli. Tapi ibuku ... ibuku sudah nggak lama lagi. Keinginannya cuma satu, dia mau melihat aku menikah dengan Peter sebelum meninggal ...."
"Tunggu sebentar." Nindy menepis kasar tangan Sofie dan memotong ucapannya, "Memangnya aku maki kamu apa? Ngomong yang jelas."
"Aku ...." Wajah Sofie seketika pucat, tubuhnya gemetar bagaikan kelinci kecil yang ketakutan. Dia buru-buru bersembunyi di belakang Peter.
Melihat Sofie seperti itu, Peter langsung merasa Nindy telah bersalah. Dia maju selangkah untuk melindungi Sofie di belakangnya.
"Nindy, kamu benar-benar sudah keterlaluan! Sofie masih berusaha menjaga harga dirimu, apa lagi yang kamu inginkan? Kamu tega mengutuk ibunya supaya cepat mati, memaki dia sebagai wanita hina dan pelakor. Nindy, apa belasan tahun pendidikanmu itu sia-sia? Orang tuamu mengajarimu jadi seperti ini?"
Plaaak!
Tamparan keras mendarat di wajah Peter. Nindy mengerahkan seluruh tenaganya.
Peter terbelalak. Dia sama sekali tidak menyangka Nindy akan memukulnya. Matanya penuh keterkejutan. "Kamu berani mukul aku?"
"Iya." Nindy tersenyum dingin. "Sakit, ya?"
"Lalu kenapa? Ya, aku yang bilang dia itu wanita hina, aku yang bilang dia pelakor. Aku juga memang berharap ibunya cepat mati. Memangnya kenapa? Itu bukan ibuku, nggak ada hubungannya denganku sedikit pun."
"Tadi dia bahkan minta aku merestui kalian. Nggak masalah, ayo. Ke kantor catatan sipil saja, aku punya waktu kapan pun."
Tanpa memberi Peter satu pun tatapan lagi, Nindy langsung berbalik dan pergi dengan langkah mantap.
Peter hanya bisa terpaku menatap punggung ramping itu yang semakin jauh. Entah kenapa, hatinya dilanda kepanikan. Kenapa wajah Nindy terlihat begitu dingin dan tak acuh?
Kenapa ketika mendengar kabar dia akan menikahi Sofie, Nindy bisa setenang itu, bahkan menyetujuinya tanpa perlawanan? Apakah ini masih wanita yang dulu selalu manja padanya, selalu tersenyum hanya untuknya?
Sofie mendekat dan mengelus lembut pipi Peter dengan penuh kepura-puraan. "Peter, Kak Nindy cuma terlalu mencintaimu. Pasti dia nggak sengaja menamparmu. Kata-kata yang dia ucapkan juga pasti hanya karena marah."
"Nanti kalau suasana sudah reda, biar aku sendiri yang menemui Kak Nindy. Aku akan menjelaskandan meminta maaf padanya. Kalian pasti bisa kembali seperti dulu."
Suaranya lembut, hangat, dan menenangkan. Kata-katanya membuat suasana hati Peter yang tegang, berangsur-angsur kembali tenang. Dia pun mengangguk percaya. Dalam hatinya, Peter yakin, bagaimanapun juga, Nindy tidak mungkin benar-benar menceraikannya.
"Sudah benar-benar dipikirkan?" Herlina memegang surat pengunduran diri Nindy, masih merasa sayang jika dia pergi.
Nindy tersenyum sambil mengangguk. "Iya, aku satu-satunya anak perempuan, sementara kondisi orang tuaku juga kurang baik. Jadi, aku tetap memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan mengembangkan diri di sana."
"Lalu bagaimana dengan Pak Peter? Bagaimana dengan pekerjaannya?" Herlina tahu tentang hubungan Nindy. Empat tahun pacaran jarak jauh di universitas, setelah lulus Nindy menikah jauh di Kota Rubia. Bisa dibilang pasangan muda ini dulu hubungannya sangat kuat.
Terutama karena Peter adalah profesor termuda di Universitas Jaya, masa depannya cerah. Dia jelas tidak mungkin berhenti dari pekerjaannya.
"Aku akan bercerai."
"Cerai?"
Melihat ekspresi terkejut Herlina, Nindy hanya tersenyum tipis. "Iya, prosesnya sedang berjalan."
Kepribadian Nindy tenang dan dewasa, serta terlihat ramah, tetapi dia punya pendirian sendiri. Jika sudah memutuskan sesuatu, dia tidak akan menoleh ke belakang lagi.
"Baiklah, kalau begitu aku doakan masa depanmu cemerlang." Herlina tidak berusaha membujuk lagi, lalu menandatangani surat pengunduran diri itu.
Selama seharian penuh, Nindy sibuk menyelesaikan proses serah-terima pekerjaan. Malam harinya, perjanjian perceraian dikirim cepat ke kantornya. Setelah membaca semua pasal dengan teliti, Nindy langsung menandatangani tanpa ragu.
Malam itu, Herlina mengajak semua orang makan bersama untuk memberi perpisahan kepada Nindy.
Setelah makan, ada yang mengusulkan pergi ke karaoke. Nindy tidak menolak dan ikut bergabung juga.
Dulu, karena Peter tidak suka, Nindy jarang sekali ikut acara kumpul dengan rekan kerja. Dia selalu menghormati semua keinginan Peter, tapi pada akhirnya berakhir dengan begitu menyedihkan.
Seolah pas sekali dengan suasana, perpisahan itu berakhir dengan sebuah lagu "Perceraian Lara" yang dinyanyikan salah satu rekan.
Ketika Nindy pulang ke rumah, waktu sudah lewat tengah malam. Begitu membuka pintu, dia melihat Peter duduk di sofa sedang merokok.
Mendengar suara Nindy pulang, Peter buru-buru mematikan rokok dan berdiri, lalu menunjukkan wajah penuh penyesalan. "Maaf, aku nggak tahan dan akhirnya merokok di rumah."
"Nggak apa-apa." Nindy yang bahkan sudah tidak menginginkan rumah ini, tentu tidak akan peduli lagi apakah Peter merokok di ruang tamu atau tidak.
Setelah berganti sepatu, Nindy berjalan menuju kamar mandi. Namun, Peter mengadangnya. Malam itu, dia bersikeras ingin bicara baik-baik dengan Nindy.
"Nindy, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu." Nindy merasa lelah dam tidak punya tenaga lagi untuk bertengkar. Dia berdiri di tempat dan menatap Peter dengan tenang. "Iya, bilang saja."
Peter sempat mengira, sikapnya pagi tadi akan membuat Nindy marah dan tidak mau peduli padanya. Ditambah Nindy pulang larut malam, dia mengira Nindy sedang mengambek. Namun ternyata, Nindy begitu tenang.
Meski dalam hatinya masih ada rasa gelisah, tapi perkara ini tidak bisa ditunda lagi. "Bi Bonita sudah dikeluarkan surat peringatan kondisi kritis, dokter bilang bisa pergi kapan saja. Dia ... dia punya satu permintaan terakhir, dia berharap ...."
Peter merasa dirinya tidak salah, tapi kalimat berikutnya dia benar-benar tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Bagaimana dia bisa mengatakan pada istrinya bahwa dia harus menikahi wanita lain?
"Dia berharap kamu menjaga Sofie seumur hidup, ingin melihat kalian menikah?"
Kata-kata yang diucapkan Sofie tadi siang masih membekas di ingatan Nindy. Saat itu dia memilih diam, berharap Peter sendiri yang mengatakannya. Namun ternyata, Peter tahu sendiri kalau kalimat itu memang menyakitkan.
"Kamu sudah tahu?" Peter agak terkejut. Namun sejak kata-kata itu keluar, dia hanya bisa mencoba menjelaskan dengan tenang.
"Nindy, waktu kecil orang tuaku sibuk sekali. Pernah suatu kali aku sakit dan Bi Bonita yang menggendongku ke rumah sakit di malam hujan deras. Dia menjagaku tiga hari tiga malam tanpa tidur. Dia berjasa besar padaku, aku nggak tega melihatnya meninggal dengan penyesalan. Jadi, bisakah kamu ...."
Belum selesai Peter bicara, Nindy sudah memotong, "Kamu nggak perlu lanjutkan, aku setuju."
Selesai berkata, Nindy bahkan tersenyum sedikit. Senyum itu membuat awan gelap di hati Peter seketika berkurang.
Dengan gembira, dia langsung meraih Nindy ke dalam pelukannya. "Aku tahu, kamu pasti akan mengerti aku. Nindy-ku memang yang paling dewasa."
"Oh iya Nindy, aku dan Sofie hanya akan menikah secara formalitas, cukup lewat sebuah upacara saja. Aku nggak akan mengundang banyak teman. Tapi kalau ada orang yang bergosip, aku berharap kamu bisa membantuku menjelaskan."