Bab 1

Duk!

Anak usia empat belas tahun itu terduduk. Tinju yang dilepaskan anak lain, yang berusia sama dengannya mendarat telak di dadanya.

Meski darah mengalir dari hidungnya, tapi, tapi Yang Shao dan kawannya Wang Yan tidak menjadi iba. Yang ada mereka semakin menindas anak itu.

"Ternyata kamu hanya seorang lemah! Pemain musik rumah hiburan, dengan bibi seorang pramuria, yang tidak tahu malu itu!"

Wan Yan meludah sekali lagi ke wajah anak bernama Li Wei.

Dia hanya diam, tak berani melawan. Yang Shao dan Wang Yan ini, adalah murid-murid dari Sekolah Beladiri yang belakangan naik daun di Kota Shuimiao mereka.

Masalahnya hanya sepele.

Hanya karena seorang gadis bernama Chen Xin, yang memuja Li Wei atas kepandaiannya bermain musik Erhu, Wang Yan ini merasa cemburu. Dia telah lama memendam hasrat, menjadikan Chen Xin sebagai kekasih.

Sayangnya Chen Xin, seorang gadis yang lembut dan sangat berminat dengan seni musik. Pada suatu malam, di acara seorang bangsawan, Li Wei dengan bibinya diundang. Dia memainkan musik Erhu, sementara sang bibi menari tarian opera sederhana.

Semua penonton terpukau, kedua bibi dan ponakan itu menjadi bintang malam itu. Chen Xin terpesona dengan permainan musik Li Wei. Dia langsung mengajak Li Wei berbincang malam itu.

Sayangnya malam itu hadir di acara tersebut. Sebagai anak seorang bangsawan kecil, orang tuanya di undang, dan anak itu di ajak.

"Aku akan membunuh pemusik rumah bordil itu!" Batin Wang Yang, ketika melihat gadis pujaannya ngobrol dengan Li Wei.

Li Wei tersadar dari lamunan, ketika Wang Yang menamparnya.

Plak!

Kumpulan bintang langsung penuh di kepala, Li Wei hampir pingsan. Wang Yan menggunakan kekuatan, hasil berlatih bela dirinya.

"Aku tak ingin melihatmu, mendekati Chen Xin lagi." Ini adalah peringatan. Dan...

Buk!

Tak puas dengan semua itu, Wang Yan menginjak dada Li Wei. Anak itu hampir muntah darah. Kali ini dia kehilangan kesadarannya.

Wang Yang dengan Yang Shao pergi meninggalkan sosok Li Wei, tak sadarkan diri di lorong sepi. Beruntung seorang tetangga menemukannya, yang dalam kondisi kritis itu.

Di Rumah Obat Tabib Kwee.

"Beruntung anak ini di bawa tepat waktunya. Jika saja terlambat, aku akan angkat tangan. Nyawanya pasti sudah tak tertolong lagi." Kata Tabib Kwee serius, mengakhiri pengobatannya.

Sementara perempuan setengah baya itu, Wei Fang menangisi keadaan Li Wei.

Ketika Li ei membuka matanya, "beruntung kamu diselamatkan Tabib Kwee. Berterima kasih pada sang tabib." Bibi Fang itu membelai kepala Li Wei, yang masih terlihat bingung.

++++++

Malam itu di belakang panggun Lotus Blossom,

“Saatmu untuk tampil anak muda,” pria pemandu acara itu memberi kode pada Li Wei.

Tanpa terlihat gugup, Li Wei naik ke pentas. Ia duduk, dan tatapannya serius menatap tali dawai dan busur alat gesek di tangan. Ia memejamkan mata, membayangkan musim gugur yang sendu. Lagu lagu “Kisah Cinta di Musim Gugur” terdengar mengalun di seantero ruangan hiburan Lotus Blossom.

Perempuan muda maupun setengah tua hilir mudik mencari pelanggan. Laki-laki hidung belang mabuk dengan arak Choujiu, arak yang dibuat dari sari bunga jeruk dan beras ketan.

“Secawan lagi tuan?” kata Wei Fang manja. Ia menggelendot di pangkuan laki-laki hidung belang itu. Germo Mei Ling pemilik usaha Lotus Blossom memberi target agar semua pramuria memasarkan minuman arak, agar pelanggan menghabiskan uang mereka di sana.

Li Wei baru saja menyelesaikan empat lagu berturut-turut. Semua bertepuk tangan sesudahnya. Gadis-gadis pramuria itu memuji-muji Li Wei sebagai bakat dan talenta pemusik yang jarang ditemui di Shuimiao.

Ayah Li Wei seorang pemusik Erhu yang handal dan sering mengisi pertunjukan musik di kota mereka, sedangkan ibunya adalah penyanyi opera keliling yang memiliki suara emas. Ketika terjadi perang antara Kekaisaran di Benua Longwu, kehidupan Li Wei berubah. Li Tan ayahnya tewas ketika di medan perang, sementara Mei Ling ibunya menutup mata setelah tiga berjuang melawan infeksi demam tinggi akibat terserang wabah penyakit menular.

Sejak kematian dua orang tuanya, Li Wei hidup dengan bibinya Wei Fang, adik ibunya yang bekerja sebagai pramuria di rumah hiburan Lotus Blossom Tea Room itu.

++++++

Waktupun berlalu dengan cepat. Ini adalah bulan Monyet Emas versi Kalender Longwu, masa ketika musim gugur telah lewat. Pada tahun ini, tepat empat tahun ayah dan ibu Li Wei meninggal.

Bibi Wei Fang seperti terbangun dari tidur. Ia sadar kalau pesonanya memudar.

"Lihatlah.. kecantikanmu memudar. Kerutan mulai muncul di wajahmu." Cibir mucikari Mei Ling pada suatu waktu. Bibi Wei Fang menjadi panik. Kecantikan adalah modal utama seorang pramuria. Bersamaan dengan itu, tak lama kemudian Wei Fang sudah tidak lagi menjadi diva di Lotus Blossom. PEmasukan tentunya berkurang.

Tagihan-tagihan mulai berdatangan dan pembayaran tagihan banyak yang tertunda.

Ketika itu, Wei Fang mengeluh pada Li Wei. "Kita harus berhemat! Rezeki ku tidak lagi seperti masa muda lalu. Aku berpikir, kita akan pindah ke tempat yang lebih kecil!"

Li Wei kecil hanya mengangguk ketika itu.

Suatu ketika Bibi Wei Fang meminta Li Wei untuk mengisi acara dengan bermain musik Erhu, di Lotus Blossom Tea Room tempat dia bekerja. Awalnya Li Wei berusaha menolak dengan segala dalih. "Apakah legal seorang anak di bawah umur mengisi acara musik di rumah hiburan semacam Lotus Blossom?" tanya Li Wei cemberut.

Wei Fang tetap dengan aksinya.

Ia membutuhkan uang untuk membayar tagihan yang lama menunggak. "Li Wei kecil. Tak usah kuatir. Bibi telah mengaturnya. Dengan perawakan tinggi ini, kamu akan terlihat seperti pemuda dua puluh satu tahun!”

Malam itu juga, Li Wei mengisi acara di Lotus Blossom. Ia didandani dua pramuria kawan Wei Fang, agar terlihat dewasa.

"Kamu sungguh tampan." Xin Yue terkikik.

"Aku tak akan menduga kalau kamu berusia empat belas tahun, jika berpakaian seperti ini." Li Hua, pramuria satunya memuji tak kalah genit.

Penampilan Perdana Li Wei di Panggung Hiburan Lotus Blossom

Ketika gesekan Erhu terakhir di mainkan, suara-suara memuji keterampilan Li Wei. "Sungguh permainan musik yang indah!" Mainkan musikmu sekali lagi!" Suara tepuk tangan tak henti-henti mengakhiri penampilan Li Wei.

Sejak malam itu Mucikari Mei Ling meminta Li Wei secara rutin tampil dalam pertunjukan musik di rumah hiburan itu secara teratur. Setelah memperoleh bayaran, Li Wei menjadi keenakan. Ia menyimpan sebagian uangnya, setelah disisihkan membantu Wei Fang membayar kontrakan rumah.

“Aku harus menabung. Dengan uang ini, kelak aku akan meninggalkan Kota Shuimiao ini. Jika terus-terusan hidup disini, lama-lama aku akan berakhir tragis. Kalau tidak menjadi pecandu alkohol, paling-paling menjadi seorang penjudi!”

Li Wei memendam keinginan untuk pindah ke kota yang lebih besar. Dan jalan keluar untuk disorot banyak orang, adalah menjadi sosok ahli beladiri – sosok yang dapat bekerja di pihak kekaisaran sebagai militer.

+++

Lotus Blossom Tea Room, malam ini.

Sejak dari tadi ketika masih tampil diatas pentas, Li Wei memperhatikan ada sosok yang mencolok. Dia mengenakan jubah hitam panjang lengkap dengan tudung yang menyembunyikan penampilan wajahnya hingga terkesan misterius. Sosok itu menatapnya, seolah memberi sihir, tak mau berpaling sedikitpun.

"Apakah anda mengenal sosok bertudung itu?" tanya Li Wei pada Li Hua.

Li Hua - pramuria memanjangkan leher. "Sosok bertudung itu? Hm aku tidak mengenalnya. Orang datang dan pergi dari tempat ini dengan cepat bukan? Manalah aku tahu siapa sosok menyeramkan itu."

Sementara itu, di atas panggung Xin Yue, pramuria teman bibinya tampil di panggung pertunjukan tarian erotis yang ia namai ‘Sang Dewi’

Aula Lotus Blossom Tea Room meledak sorak dan kehebohan.

Sosok misterius bertudung itu tiba-tiba menghilang di tengah ramainya pesta, dan Li Wei cepat melupakan sosok berpenampilan menyeramkan, tapi unik itu.

Tengah malam telah lewat, ketika Li Wei berjalan kaki pulang ke rumahnya, di perkampungan padat di pinggiran kota, perkampungan kumuh tempat tinggal rakyat kebanyakan.

Langit tengah malam itu tampak kelam. Angin berhembus, dingin terasa. Suasana sepi, dan orang-orang telah tidur menarik selimut tinggi-tinggi – mengusir dingin.

Tuk - tuk - tuk! Suara kentongan petugas kota terdengar, memecah hening, memberi tahu, ini adalah waktu periode Zi atau jam 23.00 – 01.00.

Bibi Wei Fang malam ini akan menginap bersama seorang pelanggan, sementara Li Wei pulang berjalan kaki dengan Xin Yue dan Li Hua. Rumah mereka berdekatan.

“Li Wei kecil., bibi tidak pulang malam ini!” kata Wei Fang, meminta Xin Yue dan Li Hua pulang Bersama ponakannya.

Li Wei menyindir. "Bawalah uang yang banyak, bukan bekas air mata dan lebam bekas gebukan!"

Wei Fang cemberut, Ketika Li Wei dan dua kawannya meninggalkan dia di gerbang Lotus Blossom.

Li Wei masih saja melamun. Tiba-tiba angin berhembus kencang, membuat rambut tiga orang itu berantakan. Rembulan muncul tiba-tiba, dan bayang ketiganya memanjang di jalanan.

“Apa yang kau lakukan?” Xin Yue memaki angin yang merusak tatanan rambutnya. Sebaliknya Li Wei menelengkan kepala. Ia fokus mendengar suara jubah berdesir tertiup angin.

Wush! Li Wei mendongak keatas.

Ia terbelalak. Saat itu sosok berjubah - lengkap bertudung, berdiri misterius di bubungan deretan rumah di seberang jalan.

"I-tu sosok di Lotus Blossom tadi.” Li Wei mencolek Li Hua.

“D-dialah yang ku maksud tadi, Ketika masih di aula rumah hiburan!" kata Li Wei terbata.

Li Hua terhipnotis, ia penasaran. Li Hua mendongak dan ternganga antara ngeri, juga takjub.

Xin Yue yang paling penakut diantara semua, ia menjerit kecil.

Sosok itu berdiri angkuh berlatar belakang sinar rembulan. Sementara kumpulan awan hitam berlalu cepat, membuat sinar Rembulan dan Bintang-bintang, terlihat terang menyorot sosoknya.

“D-dia terlihat mengerikan! Mirip seperti iblis!” desis Li Wei panik. Bulu tengkuknya merinding seketika.

Saat itu Li Wei baru sadar. Dari balik tudung gelap itu, dua bola mata berkilat menatap melekat pada Li Wei.

“Tatapannya mengerikan, menghipnotisku untuk berteriak.” Li Wei panik.

“Apakah ia akan menyiksa, alih-alih membunuhku?” Li Wei berniat mengambil langkah seribu. Tapi kakinya terasa kaku, dan sulit digerakkan.

“Tolong…”

BERSAMBUNG.

Bab 2

Li Wei berteriak minta tolong melihat sosok di bubungan yang terlihat megah itu,seolah akan melumatnya. “T-tolongg aku!” tapi yang terdengar hanya desisan tidak jelas. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya.

“Aku akan mati!” tangis Li Wei di dalam hati, Ketika sosok bertudung itu terlihat melayang, dengan dua jari yang arahkan ke dirinya, tepatnya ke jidat diantara dua keningnya.

Suara desiran jubahnya menambah rasa takut Li Wei yang seperti terhipnotis. Sementara Xin Yue dan Li Hua sejak awal tadi telah lari meninggalkan Li Wei.

“Tahan Gerakan!” Dua sosok lainnya seketika muncul dari balik malam. Mereka menyambar cepat ke arah sosok bertudung itu. Suara lolongan pedang di tangan pasangan pendatang baru ini terdengar, menyusul hembusan angin pedang, dingin terasa sampai di jarak dimana Li Wei mematung.

Trang! Telapak tangan sosok tampak bertudung membentur dua aura pedang pendatang baru itu, meledak dalam suara yang keras. Sosok bertudung terlempar ke belakang, dan langsung melakukan gerakan salto. Kakinya mendarat ringan di atas bubungan rumah lainnya.

Sementara dua sosok itu, terlempar dan membentur atap rumah. Riu dan menimbulkan kegaduhan. Dua sosok itu cepat-cepat berdiri. Penampilan mereka tak kalah mentereng di banding sosok bertudung itu.

Dua pendatang baru itu, laki-laki dan perempuan berdiri dengan angkuh. Pedang putih Panjang mereka berkilauan di bawah sinar rembulan. Wajah mereka seputih salju,dengan rambut berwarna emas dan bola mata sebiru langit jernih. Jubah putih mereka berkibar melebar seakan-akan keduanya adalah malaikat dengan sayap putih dan besar itu.

Ketika Li Wei sementara kagum akan dua pendatang baru dengan kecantikan dan ketampanan asing itu, tatkala tiba-tiba mereka mengayunkan pedang. Gerakannya sangat indah, terlihat seperti tarian perang. Elok tapi berbahaya! Semua tidak menimbulkan suara sama sekali, mengancam figur bertudung itu.

Li Wei hampir melolong, ketika ia melihat dua pendatang berjubah putih itu menebas dengan cepat ke figure bertudung hitam itu. Tatapan horornya, ekspresinya ketakutan. Ia seolah-olah berpihak pada figure bertudung itu. “Awas!” itu seakan kata yang ingin di ucapkan Li Wei.

Tapi dia hanya membisu, dan mata berbicara. Figur bertudung paham akan sorot mata Li Wei. Bibirnya membentuk kata, “terima kasih” dan ia menghentakan kakinya. Seketika tubuhnya melayang indah, melompat tinggi terhindar tusukan pedang dua pendatang berjubah putih.

Suara pedang berdecit, Ketika dua kekuatan pedang menghantam tempat kosong.

Duar! Bau hangus ledakan pukulan pedang menyebar kemana-mana. Suasana seketika kacau balau.

Xin Yue dan Li Hua, dua pramuria itu melolong dari ujung Lorong.

“Tolong! Tolong!

Ada penjahat menyerang kami! Seseorang tolonglah kami!”

Malam pun menjadi ricuh.

Rupa-rupanya dua pramuria itu tidak pulang. Melainkan keduanya menyaksikan kejadian itu diam-diam dari jauh sana. Suara teriakan mereka berdua, sontak menimbulkan kehebohan. Jendela toko dan rumah di sepanjang lorong sepi itu, mendadak berderit, dan kepala-kepala tersembul penuh rasa ingin tahu.

“Ada apa?

Apa yang terjadi?

Demi Kura-kura Hitam. Siapa yang bertempur itu?”

Sebagian ketakutan, hanya mengintip dari balik tirai. Sebagian yang berani, mereka keluar dan turun ke jalan untuk menonton pertunjukan itu.

Melihat serangannya gagal, perempuan pendatang baru berjubah putih menjadi marah."Jangan lari !" suaranya membentak marah. Sedangkan jubah putih

yang satunya tampak menghentakkan kaki. Ia pun melayang, berusaha mengejar figure bertudung di angkasa.

Mati kau!

Pedang di tangan jubah putih, terayun dan menyodok ke arah punggung figure bertudung. Ia melepaskan pedang itu, yang melenggang terbang, seolah satu benda bernyawa. Pedangnya tidak memberi kesempatan figure bertudung melarikan diri.

Suara pedang itu berdecit, dan angin berdesir mengandung kekuatan Energi Mingzhu – energi umum yang berlaku di kalangan praktisi Benua Longwu. Figur bertudung menjadi serius seketika.

Tanpa sadar, Li Wei berteriak memberi tanda bahaya. "Jaga punggung!" teriaknya keras.

Pria bertudung hitam mendengus dingin. Sekali lagi ia menoleh ke arah Li Wei dengan sorot mata berterima kasih. Sesudahnya ia menelengkan kepalanya. Tangannya melambai. Dan suara cicitan senjata rahasia – jarum emas beracun melesat ke arah jubah putih. Semuanya mengunci sepuluh nadi kematian di tubuh si jubah putih.

"Xiao Yao! Hati-hati senjata rahasia!" teriak sosok jubah putih yang satunya. Ia memberi peringatan tentang adanya Xuao Yao – sepuluh jarum emas beracun.

Pria jubah putih itu terpaku. Ia tak sempat lagi menghindar. Tangannya keburu melakukan serangan kosong.

“Mati aku!” ia melolong.

Pada saat yang sama, perempuan berjubah putih melakukan serangan darurat, membantu kawannya. Ia menghentakkan kaki. Tubuhnya melesat secepat peluru. Pedangnya di putar, berniat membantu pria itu terhindar dari jarum emas beracun.

Ia dengan cepat telah berada di belakang kawannya yang nahas itu. Sambil mengayunkan pedang ia memaki.

"Dasar Siluman!"

Pedang perempuan jubah putih menghantam rangkuman jarum emas racun, yang lantas luluh, rontok ke tanah. Akan tetapi,

Arrgh!

Ada dua jarum beracun itu yang lolos dari hantaman pedang gadis itu. Dengan leluasa, masing-masing jarum menyasar, masuk ke jalan darah dua sosok berjubah putih itu. Racun di jarum emas amatlah cepat bekerja. Bau amisnya tercium tipis kemana mana. Kemungkinan dua pasangan berjubah putih itu, sudah tewas, setidaknya sekarat.

“Tidak semudah itu, jika ingin mengalahkanku!” figure bertudung hitam, tersenyum sinis melihat dua pasangan jubah putih jatuh, menghantam atap rumah penduduk. Suara ribut semakin membuat banyak orang keluar dan menonton.

Ketika figure bertudung tengah tersenyum kemenangan, tanpa ia sangka-sangka, pedang itu melesat dari arah jatuhnya dua sosok berjubah putih tadi. Cepat, tak bersuara, hanya kerlipan sinar pedang tatkala tertimpa Cahaya rembulan

Crack!

“K-kalian sungguh licik!”

Suara cekikikan licik terdengar dari arah jatuhnya dua pasangan tadi. “Setidaknya, di akhir kematian ini, aku dapat mengajakmu sama-sama menghadap raja neraka.”

Diam sesudahnya. Itu adalah kata-kata terakhir, juga tenaga terakhir yang dilontarkan perempuan itu. Ia tewas sesudahnya.

Bagaimana dengan sosok bertudung itu? Ia pun terjatuh. Tak bersuara sesudahnya. Pedang itu menghantam tepat ke bagian dadanya.

Keadaan hening. Penduduk kota mulai berani merapat. Mereka mencari-cari, tapi tak menemukan jenazah tiga sosok yang bertempur tadi. Komentar Pun dilontarkan.

"Mereka menghilang dengan cepat. Jago-jago pedang dan ahli sihir dari kaum petarung, tidak menyisakan jejak mereka sedikitpun!"

Yang lain menimpali. "Dan kita beruntung. Bisa menyaksikan pertunjukan menakjubkan, dengan Cuma-Cuma."

Malam menjelang pagi, tapi penduduk yang terkesan dengan pertarungan tadi, masih saja berdiskusi. L Wei memutuskan untuk pulang. Cukup sudah ia terkejut-kejut. Saatnya istirahat.

Ia membatin, dengan keinginan yang besar setelah menyaksikan kejadian tadi. “Besok aku akan mengunjungi Sekolah Jalur Merpati. Uang tabunganku telah cukup. Aku akan melamar, dan menjadi praktisi, mirip keahlian jago-jago tadi!”

++++++

Li Wei tak dapat memejamkan mata sedikitpun. Ia berusaha mengingat gerakan serta teknik meringankan tubuh yang didemonstrasikan tiga orang tadi. Tapi selalu gagal. Itu karena dia tak memiliki energi di perutnya, Energi Mingzhu pengolah kekuatan pertempuran.

Li Wei tengah berlatih, mencoba meniru-niru Gerakan pedang dan ginkang tiga sosok tadi, pada saat itu ia mendengar suara-suara aneh.

Krak - krak !

“Di belakang rumah! Apakah itu pencuri?” batinnya sambil mengambil golok dan lampion alat penerang, memberanikan diri ke belakang. Halaman belakang rumahnya tidaklah besar. Hanya ada satu bangunan kayu kecil yaitu kendang yang cukup untuk memelihara lima hewan seperti unggas atau domba.

Krak !

Dan Li Wei semakin waspada. “Betul tebakanku. Suara itu asalnya dari dalam kandang!" batinnya semakin berani.

“Ada golok di tanganku, buat apa mesti ketakutan?” batinnya memberanikan diri. Ia pun membuka pintu kandang itu.

Sreek!

Suara engsel besi di pintu kandang berderit keras. Itu semakin menambah ketegangan Ketika ia merasakan kehadiran makhluk hidup, spontan ia berteriak.

"Siapa disana?" teriak Li Wei sambil mengayunkan golok dengan Gerakan acak. Gerakan seseorang yang tak tahu teknik beladiri.

Dan bayangan itu muncul di depan mata. Li Wei tertegun. Ia terdiam beberapa detik. Itu adalah sosok yang akrab ia lihat ketika pertempuran di atas bubungan jalan sepi tadi. Figur bertudung yang mengintainya sejak dari Lotus Blossom, hingga pertempuran di jalanan sepi.

“K-kamu belum mati?” tanya Li Wei gugup. Bulu tengkuknya meremang. Kepala nya membesar, wajahnya terasa kesemutan, kebas. “Ia akan membunuhku!” Li Wei melompat.

“Tolong aku!”

Li Wei malang itu menjatuhkan lampion di dalam kendang. Ia berteriak ketakutan, meminta pertolongan Wei Fang bibinya. Tapi sang bibi tidak ada di rumah. Ia sendirian saja. Ingin rasanya Li Wei menghilang kedalam tanah, menghindari makhluk berwajah seram, tapi berkepandaian tinggi itu. Dalam hatinya bertanya-tanya. Kepada siapa ia harus meminta tolong, di rumah yang sepi sendirian itu.

BERSAMBUNG

Bab 3

Delapan tahun yang lalu di Kota Shuimiao.

“Sejak awal dunia ada, telah terdapat lima benua di dalamnya.” Pria itu menjelaskan dengan serius.

“Sayangnya keberadaan masing-masing benua terpisahkan dengan jarak yang sangat jauh, tak mungkin dilintasi orang biasa. Dan kemampuan melintas antar benua, hanya dimiliki golongan elit saja.” Tutur Li Tan sambil di menatap anak kecil di hadapannya.

Li Wei kecil, duduk sambil terpaku mendengar kisah yang diceritakan ayahnya Li Tan. Ketika ia berusia enam tahun. Li ei sangat senang mendengar kisah-kisah kepahlawanan, apalagi tentang hero seperti kaum Sage.

Li Tan melanjutkan cerita. “Tersebutlah lima benua besar di dunia itu, namanya Benua Xianjing, Benua Longwu, Benua Zhuoguo, Benua Tianming, dan Benua Hengcheng. Lima benua iniDunia berada pada Universe yang disebut Nebula.”

Dan inti kisah Li Tan sehingga membuat Li Wei kecil tertarik, adalah tentang para Sage, manusia setengah dewa. Mereka adalah ahli pengelola Energi Mingzhu – untuk pertempuran fisik, dan juga Energi Nebula, untuk melakukan aksi tempur secara sihir.

“Mereka disebut Kaum Sage. Manusia setengah dewa, yang dapat terbang!” kata Li Tan dengan dramatis.

Li Wei membuka mulutnya, melongo terkagum-kagum. “Benarkah? Adakah kehidupan semacam itu? Manusia yang dapat terbang?” tanyanya, tidak percaya.

“Tentu saja ada saying.” Jawab Li Tan pada Li Wei, anaknya.

“Lanjutkan ayah!. Li Wei ingin mendengar kelanjutan cerita itu!” seru si anak kecil.

“Baiklah kalau kamu masih tertarik. Litan Tersenyum dan melanjutkan kisahnya.

“Benua Longwu tempat tinggal kita, adalah benua yang kaya aliran Energi Mingzhu, juga Energi Nebula. Tak kalah kuat dibanding benua lainnya di dunia ini.”

“Itu sebabnya. Untuk menjadi penguasa, raja atau yang terhebat di Benua Longwu, seseorang haruslah kuat. Mampu mengolah energi Mingzhu menjadi kekuatan, lebih bagus lagi jika ia adalah pengelola Nebula.

Sayang nya bakat pengolah energi Nebula sudah mulai jarang untuk saat ini.” Pungkas Li Tan sambil di perhatikan tak berkedip mata dari sang putra.

++++++

Ada lima Kekaisaran di Benua Longwu, dimana semua penguasa adalah ahli dalam mengolah energi Nebula.

Pertama Kekaisaran Drakonia di Barat, Negara asing yang diperintah keluarga kerajaan yang erat dengan makhluk legendaris, Naga. Konon mereka adalah keturunan ras naga.

Dua. Kekaisaran Solary di Timur, dimana sekte penyihir pengendali elemen api yang berkuasa disana. Kaisar Solary tak lebih dari boneka dan kaum penyihir lah yang mengendalikan negri ini.

Tiga. Kekaisaran Glacius di Utara. Penguasanya seorang Kaisar penyihir gelap ; seorang Warlock yang ahli sihir hitam.

Empat, Kekaisaran Venturia di dataran Tengah. Sekte rahasia pengendali angin yang berkuasa di sana. Konon Kaisar Venturia merupakan bagian dari kelompok rahasia itu.

Lima - Kekaisaran bernama Terra. Di Kekaisaran Terra dipimpin ratu yang mengendalikan elemen tanah. Itu sebabnya di Terra, tanaman subur dan sumber daya melimpah. Pengaruh sihir sang Ratu lah yang menopang energi di Terra selalu berputar dan menghasilkan tanaman yang melimpah, membuat rakyat sejahtera.

Li Tan tinggal di Kekaisaran Terra, tepatnya di Kota Shuimiao – salah satu provinsi di antara sepuluh provinsi di Terra.

Kota Shuimiao ada di tepi Samudra Longwan – menyebabkan Kota Shuimiao menjadi tempat persinggahan para pedagang antar pulau kecil di sekitar Benua Longwu.

++++++

Li Tan mengakhiri kisahnya, Ketika ia melihat mata Li Wei hampir tertutup.

“Ceritakan lagi tentang mahluk-mahluk legenda laut,seperti Longxu dan lain-lain,” pinta Li Wei merengek.

Li Tan mengelus rambut Wei kecil. Katanya membujuk, “hari telah larut. Besok ayah akan melanjutkan cerita tentang makhluk legendaris dari Samudra Longwu.” Li Wei kecil menutup mata dan tertidur.

Sesekali dalam tidurnya. Li Wei mengigau. “Ayah. Aku akan menjadi Sage satu hari nanti.” Li Tan hanya tersenyum , sesudahnya membelai kepala anak kesayangannya dan ikut tertidur. Mei Ling istrinya tersenyum Bahagia di suatu ruang. Ia menyulam dengan hati Bahagia. Anak dan ayah itu saling menyayang.

+++

Li Wei berlari dengan nafas memburu. Ia sangat takut sampai-sampai dia lupa menutup pintu rumah.

"Itu adalah, makhluk laut yang separuh naga juga separuh ikan itu." Li Wei tersengal-sengal.

Longxu adalah makhluk sakral, disembah para nelayan yang asalnya dari lautan. Sosoknya terlihat seperti naga, namun badannya bersisik kecil mirip seperti ikan.

"Bagaimana dengan nasibku? Apakah makhluk akan memakan ku?"

Bunyi Langkah di arah belakang membuat Li Wei sadar. Ia belum menutup pintu itu. Dan Tiba-tiba sosok bertudung itu muncul dari kehampaan.

Mula-mula hanya asap putih tipis. Dan dengan cepat membentuk figure yang selalu membayangi Li Wei.

“Tolong. Jangan santap aku.” Li Wei melolong. Tapi tak ada orang lain di dalam rumahnya. Ia berlari ke sudut, dan sosok Longxu itu seperti angin, selalu menempel mengikutinya.

“Pergi!. Kumohon.” Tak sedikitpun ada dipikiran Li Wei bahwa Longxu adalah makhluk sacral yang sering menolong kaum nelayan.

Ketika Li Wei terdesak di sudut dan Longxu mendekatnya, "tolong... Jangan santap aku. Aku masih ingin hidup."

Dan lagi dagingku tak enak. Aku manusia fana belaka. Tak menguasai energi Mingzhu seperti yang anda duga.” Li Wei mulai meratap, berharap Longxu itu iba.

Mendadak Longxu itu berbicara dalam Bahasa manusia. Katanya terdengar kesal. "Bodoh sekali! Apakah kamu sedemikian tololnya? Tak pernah mendengar cerita Longxu adalah sahabat manusia?” Sosok bertudung itu terkekeh sesudahnya. Li Wei dianggapnya lucu.

Dengar anak bodoh. Kaum nelayan memuja kami. Aku kecewa jika kau menganggap kami adalah monster penyantap manusia." Suaranya melemah. Mungkin karena luka pedang yang ditembak perempuan berjubah putih, menjelang kematiannya.

Li Wei melihat darah, menetes basah di lantai. “Ah ia lemah. Aku tak perlu takut.” Seketika dia menjadi lebih berani.

Tanya Li Wei rileks sesudahnya. "Lantas apa maksud Tuan sebenarnya? Aku tahu anda telah membuntuti aku sejak dari rumah hiburan itu. Kemudian muncul di jalan sepi dan bertempur melawan dua jubah putih. Bukankah anda mengincar untuk menyantap ku?”

Longwu itu tertawa. “Kamu sungguh pandai membuat lelucon, anak kecil. Longwu sekarat ini, hampir kehabisan nafas, tak tahan dengan kepolosanmu.” Longxu itu terbatuk.

Sesudah batuknya reda, ia melanjutkan riwayatnya. "Pertempuran di jalan sepi tadi bukan yang pertama kali. Semua praktisi itu bekerja sama, beramai-ramai mereka mengeroyokku demi Mutiara Energi yang aku miliki." Pungkasnya. Ia memerhatikan perubahan di wajah Li Wei. Tapi tak ada yang berubah. “Anak bodoh ini bahkan tak tahu apa itu Mutiara energi. Bagus kalau begitu!”

"Mutiara Energi? Maafkan aku tuan. Aku tak mengerti maksud anda!" tanya Li Wei jujur.

Longxu sekali lagi tertawa keras. Ia sangat senang. "Ternyata pilihanku tidak salah. Kamu adalah masih polos dan tidak serakah.” Batuk-batuk lagi. Darah keluar basah di lantai.

“Tuan, istirahatlah di kamar Li Wei.” Kata Li Wei khawatir.

Longxu menepis. Ia melanjutkan ceramahnya. “Tahukah kamu? Aku secara acak menemukanmu di rumah hiburan itu, ketika terdesak mencoba bersembunyi dari kejaran ahli pedang dan ahli sihir kelompok berjubah putih itu.”

Saat melihatmu pertama kali, aku sudah merasa, kamu adalah pewaris Mutiara energiku yang paling cocok. Aku tak ingin mati sia-sia. Aku juga tak ingin Mutiara Energiku jatuh ke tangan manusia-manusia serakah!" Longxu itu sekali lagi batuk dan memuntahkan seteguk darah.

Ia menatap Li Wei lekat. “Kemarilah anak muda. Ada yang ingin ku berikan padamu.”

Meski tak ingin terlibat masalah, tapi Li Wei iba dengan sosok itu. “Ia sudah akan mati. Alangkah baiknya aku mengikuti keinginan orang yang tak lama lagi hidup di dunia ini.”

Li Wei mendekat. Longxu meminta ia menelengkan kepalanya. Dan benda itu tahu-tahu telah di suap Longxu, masuk ke dalam perutnya. Glek - glek

Li Wei tak kuasa, Ketika benda bulat, asin dan anyir itu lolos begitu saja ke dalam lambungnya. Li Wei melompat mundur. I marah. "Demi apapun. Apa yang anda lakukan?” anyir itu tak jua hilang, penuh di mulutnya

“Tolong! Aku kepingin muntah" Li Wei berusaha muntah tapi tak bisa.

Longxu menjepit dua jari, dan ia menotok Li Wei agar tak memuntahkan benda bulat dan anyir, yang sekarang membuat lambung hangat. Pandangannya mengabur. Li Wei merasa seperti oleng terombang-ambing diatas kapal di lautan.

“Mengapa anda meracuniku? Padahal aku bersikap baik pada anda.” Li Wei terkulai di lantai. Samar-samar ia mendengar berkata.

“Jutaan orang di Benua Longxu rela mati, hanya demi Mutiara Energi yang kau anggap menjijikan tadi anak bodoh. Ingatlah aku, Ketika kelak kamu merasakan manfaat Mutiara energiku!” semua memudar.

"Mutiara Energi apa itu? Jika itu adalah benda yang sakti, mengapa sekarang aku akan mati?" Li Wei tak sadarkan sesudahnya.

Apakah Li Wei akan mati, ataukah memperoleh satu berkah dari Longxu itu?

BERSAMBUNG.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED