Brumm ... Brumm ... Brumm ...
Suara motor saling bersahut-sahutan. Beberapa motor itu telah berjejer rapi di depan sang wasit.
"Ayo, Cinta. Kamu pasti menang, Sayang!"
Cinta menoleh ke arah suara, dia tersenyum tipis di balik helmnya. Farel, kekasihnya selalu memberikan support untuknya.
"Tiga ... dua ... satu, go!"
Semua motor pun saling melaju, mencari posisi agar menjadi yang terdepan. Cinta salah satunya. Wanita itu sangat lihai mengendarai motornya, menyalip beberapa motor, dan kini posisinya berada yang paling terdepan.
Cinta berteriak senang. Tidak ada yang bisa menandinginya, selama ini dialah yang selalu menjadi nomor satu, walaupun hanya dia sendiri sebagai wanita.
Ponsel Cinta terus berdering membuat Cinta menggeram kesal. Sedikit lagi dia akan mencapai finish, tapi ponselnya terus saja berdering, membuat Cinta mengumpat keras.
Cinta menoleh ke belakang, motor yang lainnya masih jauh, bahkan tak terlihat. Dengan buru-buru Cinta mengeluarkan ponselnya yang berada disaku celananya. Cinta mendengkus keras ketika ayahnya yang meneleponnya.
"Halo," jawab Cinta dengan malas.
"Kamu di mana? Ini sudah malam. Pulang cepat!" bentak Ricko dari seberang sana.
Cinta memutar bola matanya malas.
"Aku sibuk!" jawab Cinta ketus.
"Pokoknya Ayah bilang pulang ya pulang. Kamu itu perempuan, nggak baik keluyuran malam-malam! Ayah tunggu kamu di rumah, setengah jam belum pulang, siap-siap saja uang sakumu Ayah tahan."
"Yah, jangan gitu dong-- ah, sial!" decak Cinta ketika sambungan telepon itu terputus.
Cinta melihat sudah banyak motor yang berlalu lalang, rasanya juga percuma jika dia akan melanjutkan, karena Cinta yakin pasti dia akan kalah. Daripada dia menanggung malu, lebih baik dia berputar arah, mencari jalan pintas agar tak ada yang melihatnya.
Sepanjang perjalanan, Cinta selalu mengumpat keras, bagaimana tidak, ayahnya menggagalkan rencananya yang sudah dia rencanakan secara matang-matang. Rasanya sia-sia karena dia sudah bekerja dengan keras, dan sialnya perjuangannya seketika lenyap karena telepon dari ayahnya.
Harusnya tadi Cinta mematikan ponselnya agar tak ada yang mengganggu konsentrasinya, nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi, apa boleh buat.
Kini Cinta sudah berada di depan rumahnya, berkali-kali wanita itu menghela napas panjang, entah kenapa ketika ingin memasuki rumah itu membuat hatinya sedih.
Sedih karena tak ada lagi omelan bundanya yang setiap hari dia dengar. Sedih karena tak ada lagi senyuman hangat dari sang ayah, dan juga sedih karena saat ini ada orang asing yang tengah berbahagia di atas penderitaannya.
Cinta menundukkan kepalanya, berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri bahwa dia adalah wanita yang kuat. Masuk ke rumah ini berarti dia harus kuat mental, siap mendapat tatapan sinis dari ayahnya, siap mendapat cemoohan dari mama sambungnya, dan juga siap difitnah oleh saudara tirinya.
Cinta kembali menatap lurus ke depan, berjalan mendekat menuju ke arah pintu, kemudian membuka pintu itu secara perlahan.
Sudah dia duga, ayahnya sedang berdiri tak jauh dari hadapannya dengan melipatkan kedua tangannya, akan tetapi saat ini ayahnya tidak sendiri, ada seorang pria yang Cinta tidak kenal.
Tatapan Cinta dan pria itu pun bertemu, pria itu tersenyum lebar pada Cinta, sedangkan Cinta melengos.
"Aku sudah pulang," ujar Cinta pelan.
"Kamu terlambat 45 menit, sesuai perjanjian, uang saku akan Ayah potong!" tandas Ricko.
Cinta menatap Ricko dengan tajam seraya tersenyum kecut. Wanita itu menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Ya, potong saja sepuas hati Ayah, lebih baik Ayah tidak usah lagi memberikanku uang saku. Owh, kenapa tidak sekalian Ayah usir saja aku, biar Ayah puas dengan keluarga baru Ayah," cerca Cinta sambil tersenyum pongah.
"Cinta!" hardik Ricko.
Cinta melihat pria itu tengah menenangkan ayahnya, tanpa berlama-lama wanita itupun langsung pergi meninggalkan mereka berdua, mengabaikan teriakan ayahnya yang terus saja memanggil namanya.
Saat ini tujuannya hanya satu, yaitu kamar. Di mana tempat wanita itu untuk berkeluh kesah, menjerit, tertawa, menangis, maupun bahagia. Hanya kamarnya yang menjadi saksi bisu tentang bagaimana suasana hatinya.
Cinta membuka pintu kamar itu dengan tergesa, lalu menutupnya dengan sekencang mungkin, biarlah jika terdengar oleh Ricko, biar Ricko tahu bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
"Ya Tuhan, anak itu," gumam Ricko sambil memijit kepalanya yang terasa sakit.
"Om tidak apa-apa? Sebaiknya kita duduk saja," tawar pria itu.
Ricko mengangguk pelan, mereka berdua pun berjalan menuju sofa.
"Om bingung harus bagaimana lagi agar Cinta nurut dengan kata-kata Om. Jujur saja Om takut jika Cinta terjebak terlalu jauh dalam dunia malamnya," keluh Ricko.
Pria itu diam saja, tak berani mengucapkan satu kata pun. Walau bagaimanapun juga dia tak berhak mencampuri perdebatan antara ayah dan anak itu. Biarlah dia menjadi pendengar yang baik.
"Aku yakin kalau Cinta tak akan seperti itu, Om," jawab pria itu setelah terdiam cukup lama.
Ricko menatap pria itu dengan pandangan tak terbaca.
Sabda Pramudya, pria itu adalah teman masa kecil Cinta, ketika Cinta masih kecil, tak henti-hentinya putrinya berceloteh mempunyai teman baik seperti Sabda.
Namun, seiring berjalannya waktu mereka akhirnya berpisah. Orang tua Cinta memutuskan untuk pindah agar ekonomi mereka semakin maju.
Dan kini mereka berdua dipertemukan kembali, Sabda melihat tatapan Cinta yang begitu terluka ketika mata mereka saling bertemu. Entahlah, Sabda hanya menduga saja, dan Sabda yakin bahwa Cinta saat ini tidak mengenalnya. Terlihat sangat jelas ketika cara Cinta menatapnya. Dulu Cinta menatapnya dengan senyum lebarnya, sekarang wanita itu menatapnya dengan dingin.
Cinta yang dia kenal periang kini sangat jauh berbeda.
"Om juga berpikir seperti itu, tapi ...."
Ricko menggeleng pelan sambil menunduk, bagaimana bisa dia akan berpikir positif, sedangkan pergaulan Cinta yang cukup bebas.
"Aku kenal Cinta dari kecil, jadi aku tahu seperti apa sifat Cinta, meskipun wanita itu keras kepala, akan tetapi dia pasti akan menurut apa kata orang tuanya," imbuh Sabda.
Ricko tertawa pelan ketika mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Sabda.
"Ya, kau benar, Sabda. Cinta itu keras kepala, meskipun demikian dia akan menuruti semua perintahku. Jika aku bilang iya maka dia akan melakukannya, dan jika aku bilang tidak pasti tidak akan dia kerjakan. Hanya saja itu dulu, sekarang telah berbeda," jelas Ricko dengan suara lirih.
Ya, Sabda melupakan satu fakta bahwa yang dia ingat ketika Cinta masih kecil, jelas sangat berbeda dengan Cinta yang sudah dewasa. Benar yang dikatakan oleh Ricko, semuanya tampak berbeda.
"Jadi, kamu sudah tahu, kan, kenapa Om panggil kamu sini?" tanya Ricko sambil menatap Sabda.
Sabda menggeleng. "Tidak, Om," jawab Sabda kalem.
Ricko menghela napas panjang. "Sabda," panggil Ricko.
"Ya, Om?"
"Tujuanku memanggilmu ke sini untuk menjaga Cinta, mengikuti ke mana Cinta pergi, dengan siapa dia pergi, dan apa saja yang Cinta lakukan selama berada di luar rumah. Kamu mau, kan, Sabda? Membantu Om agar Cinta tidak salah arah?"
Cinta berdecak kesal karena sedari tadi Sabda selalu saja mengikutinya. Entah rencana apa lagi yang Ricko lakukan kali ini, tetap saja tidak akan bisa membuat Cinta seperti dulu lagi.
"Kamu ini maunya apa sih, dari tadi ngikutin aku terus, nggak capek?" tanya Cinta dengan ketus.
Sabda menggeleng sambil tersenyum, membuat Cinta memutar bola matanya malas. Sudah berkali-kali dia berusaha untuk mengelabuhi Sabda, tapi tetap saja pria itu selalu tahu rencananya. Apakah cara Cinta gampang ditebak?
Cinta kembali melajukan motornya, sesekali dia melirik kaca spion untuk melihat Sabda. Cinta tersenyum licik, dia yakin bahwa kali ini pasti rencananya akan berhasil. Cinta menatap jalanan dengan senyum menyeringai, beruntung karena keadaan sedang mendukungnya, jalanan tampak sepi, dengan kecepatan tinggi dia melajukan motornya. Cinta tersenyum puas karena tak lagi melihat motor Sabda di belakangnya.
"Kubilang juga apa, kenapa kamu masih saja bebal, lihat sendiri akibatnya," kata Cinta sambil tertawa puas.
Tawa itu tak berlangsung lama, kini mata Cinta melotot karena melihat motor Sabda sedang menghadang jalannya. Cinta langsung memberhentikan motornya dengan perlahan, wanita itu masih tak percaya dengan apa yang saat ini dilihatnya. Sesekali Cinta mengucek matanya untuk memastikan bahwa semua yang dia lihat memang benar.
Cinta melihat Sabda tersenyum tipis, Cinta yakin kalau saat ini Sabda sedang menertawakannya.
"K--kau," ucap Cinta terbata.
Sabda turun dari motornya, pria itu berjalan ke arah Cinta.
"Hei, kenapa dari dulu kamu tidak berubah, selalu saja meremehkan orang lain."
Cinta mengerjapkan matanya berkali-kali, baru kali ini dia mendengar suara pria yang ada di hadapannya, karena sedari awal mereka bertemu, Sabda tak pernah berbicara. Bahkan Cinta mengira jika Sabda bisu. Suara Sabda terdengar sangat sejuk ditelinga Cinta. Wanita itu menatap Sabda cukup lama, dan tatapan itu pun dibalas oleh Sabda. Seakan mempunyai sihir, Cinta dibuat terpesona.
"Dan juga, kenapa kalau berkendara harus ngebut-ngebut, kamu nggak takut terluka atau kecelakaan, gitu?" tanya Sabda.
Cinta tersenyum kecut, justru itu yang dia inginkan, mungkin jika dia sudah tak ada di dunia ini lagi, ayahnya akan hidup dengan tenang bersama keluarga barunya.
"Ya bagus dong," jawab Cinta sewot.
Sabda mengerutkan keningnya, pria itu menatap Cinta heran.
"Kenapa berbicara seperti itu? Nggak baik. Sekarang tujuanmu ingin ke mana, biar aku yang antar, ayahmu sudah berpesan padaku agar aku menjagamu dengan baik. Pergi sehat, pulang selamat. Karena mulai saat ini kamu adalah tanggung jawabku. Suka tak suka, itulah kenyataannya," jelas Sabda.
Cinta memberengut kesal, tak suka dengan ucapan Sabda.
"Owh, jadi kamu mata-mata ayahku? Ck! Dibayar berapa sama ayahku sampai-sampai kamu menyetujui permintaannya?" tanya Cinta dengan tangan bersedekap.
"Ini bukan perihal bayaran, Cinta, kamu sekarang adalah tanggung jawabku," jawab Sabda dengan suara tenang.
Cinta tertawa pelan, dia menatap Sabda dengan sinis, rasanya berdebat dengan pria itu tak ada gunanya. Cinta berniat pergi dari situ, akan tetapi kunci motornya dicabut lebih dulu oleh Sabda.
"Hei, kau! Kembalikan kunci motorku, lancang sekali kamu ini!" bentak Cinta.
Sabda mengedikkan bahunya acuh, pria itu langsung memasukkan kunci motor itu disaku celananya.
"Tujuanmu ingin ke mana, ikutlah bersamaku."
Gigi Cinta gemeletuk, wanita itu tampak menghela napas berkali-kali seperti sedang menahan amarah. Masih tak terima dengan perlakuan Sabda yang bertindak sesuka hatinya.
"Oke, kalau itu maumu. Baiklah, bertindaklah sesuka hatimu seperti ayahku memperlakukanku," ujar Cinta pelan.
Sabda ingin menyela, akan tetapi Cinta sudah pergi dari hadapannya. Dengan langkah lebar Sabda menuju motornya.
"Kita akan pergi ke mana?" tanya Sabda antusias.
"Club," jawab Cinta cuek.
Seketika raut wajah Sabda langsung berubah.
***
Bingar musik mengalun begitu keras, membuat Sabda menutupi kedua telinganya. Mungkin, Cinta sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Berbeda dengan Sabda, ini adalah pertama kalinya dia memasuki tempat itu.
"Kalau nggak kuat lebih baik kamu pulang saja," ledek Cinta.
Sabda menggeleng tegas, membuat Cinta mengedikkan bahunya acuh.
"Oke, terserah kamu saja. Aku mau happy-happy dulu sama temanku, semoga betah ya," ucap Cinta, mata wanita itu mengerling nakal.
Wanita itu berbalik, mengacungkan jari tengahnya ke atas, membuat Sabda geleng-geleng kepala sembari mengusap dada.
'Ya Tuhan, inikah Cinta yang dulu aku kenal? Kenapa sangat berbeda,' batin Sabda.
Sabda duduk di balik kerumunan manusia yang sibuk meliukkan tubuhnya, akan tetapi matanya tak pernah lepas untuk melihat Cinta. Pria itu memandang Cinta dengan perasaan tak menentu. Ada rasa sesak dalam dadanya ketika dia melihat Cinta tampak mabuk, seperti tak sadarkan diri. Entah mengapa, perasaannya ikut hancur.
Sabda melihat ada seorang lelaki yang tengah membujuk Cinta untuk meminum air yang Sabda tak tahu itu air apa. Awalnya terlihat biasa saja, tetapi semakin lama tampak mencurigakan.
Cinta sedang tidak baik-baik saja, Sabda pun berdiri dari duduknya, mendekati Cinta yang tengah bersama teman-temannya. Tangan Sabda mencegah Cinta agar tidak kembali meminum minuman itu.
Cinta mendongak, tersenyum manis pada Sabda. Seketika ingatan Sabda terlempar pada masa lalu. Ya, dia sangat ingat siapa pemilik senyuman itu. Cinta tersenyum padanya, membuat hati Sabda terasa menghangat.
"Cinta, kita pulang."
"Apa?! Nggak denger!" teriak Cinta.
Sabda menghela napas. Jelas saja tidak dengar karena di tempat itu tampak riuh.
"Kita pulang," bisik Sabda tepat ditelinga Cinta.
"Woi! Elo ngapain deketin cewek gue, hah!"
Sabda menoleh ke arah sumber suara. Menatap pria yang tak dikenalnya dari atas sampai bawah. Dari cara berpakaian saja sudah bisa ditebak jika pria itu memiliki sifat tempramen.
Sabda tak menjawab, dia segera membopong Cinta yang saat ini sudah tak sadarkan diri.
"Heh! Gue lagi ngomong sama elo! Cewek gue mau dibawa ke mana?!"
Langkah Sabda terhenti. "Siapapun anda, saya tidak ada urusannya dengan anda, saya hanya berurusan dengan Cinta," jawab Sabda tegas.
Pria itu berjalan mendekat, menatap Sabda dengan garang.
"Lo belum tau siapa gue? Oke, kenalan dulu, gue Farel, kekasihnya Cinta, puas lo!" bentak Farel.
Sabda tersenyum kecut. "Hanya kekasih, tidak lebih."
Mata Farel membulat. "Gue kekasihnya, sedangkan elo bukan siapa-siapanya. Biar gue aja yang bawa Cinta pulang!"
Ketika Farel ingin mengambil tubuh Cinta, Sabda langsung mundur beberapa langkah, dia menatap Farel dengan tajam.
"Ya, saya memang bukan kekasihnya. Asal anda tahu bahwa Cinta adalah ... calon istri saya!"
Farel mematung di tempat. Terdiam cukup lama untuk mencerna apa yang diucapkan oleh Sabda. Tak lama kemudian Farel tertawa terbahak-bahak.
"Elo nggak bisa nipu gue," sarkas Farel.
Sabda mengedikkan bahunya. "Mau percaya atau tidak itu bukan urusan saya. Jika anda ragu dengan kata-kata saya, bisa anda tanyakan sendiri pada Cinta besok hari, permisi," pamit Sabda.
Sabda pergi meninggalkan club itu dengan perasaan berkecamuk. Masih tak percaya jika inilah makanan sehari-hari Cinta. Baru satu tempat yang Cinta tuju. Apakah ada hal lain lagi yang lebih mengejutkan Sabda?
Bersambung.
Cinta berdecak kesal karena sedari tadi Sabda selalu saja mengikutinya. Entah rencana apa lagi yang Ricko lakukan kali ini, tetap saja tidak akan bisa membuat Cinta seperti dulu lagi.
"Kamu ini maunya apa sih, dari tadi ngikutin aku terus, nggak capek?" tanya Cinta dengan ketus.
Sabda menggeleng sambil tersenyum, membuat Cinta memutar bola matanya malas. Sudah berkali-kali dia berusaha untuk mengelabuhi Sabda, tapi tetap saja pria itu selalu tahu rencananya. Apakah cara Cinta gampang ditebak?
Cinta kembali melajukan motornya, sesekali dia melirik kaca spion untuk melihat Sabda. Cinta tersenyum licik, dia yakin bahwa kali ini pasti rencananya akan berhasil. Cinta menatap jalanan dengan senyum menyeringai, beruntung karena keadaan sedang mendukungnya, jalanan tampak sepi, dengan kecepatan tinggi dia melajukan motornya. Cinta tersenyum puas karena tak lagi melihat motor Sabda di belakangnya.
"Kubilang juga apa, kenapa kamu masih saja bebal, lihat sendiri akibatnya," kata Cinta sambil tertawa puas.
Tawa itu tak berlangsung lama, kini mata Cinta melotot karena melihat motor Sabda sedang menghadang jalannya. Cinta langsung memberhentikan motornya dengan perlahan, wanita itu masih tak percaya dengan apa yang saat ini dilihatnya. Sesekali Cinta mengucek matanya untuk memastikan bahwa semua yang dia lihat memang benar.
Cinta melihat Sabda tersenyum tipis, Cinta yakin kalau saat ini Sabda sedang menertawakannya.
"K--kau," ucap Cinta terbata.
Sabda turun dari motornya, pria itu berjalan ke arah Cinta.
"Hei, kenapa dari dulu kamu tidak berubah, selalu saja meremehkan orang lain."
Cinta mengerjapkan matanya berkali-kali, baru kali ini dia mendengar suara pria yang ada di hadapannya, karena sedari awal mereka bertemu, Sabda tak pernah berbicara. Bahkan Cinta mengira jika Sabda bisu. Suara Sabda terdengar sangat sejuk ditelinga Cinta. Wanita itu menatap Sabda cukup lama, dan tatapan itu pun dibalas oleh Sabda. Seakan mempunyai sihir, Cinta dibuat terpesona.
"Dan juga, kenapa kalau berkendara harus ngebut-ngebut, kamu nggak takut terluka atau kecelakaan, gitu?" tanya Sabda.
Cinta tersenyum kecut, justru itu yang dia inginkan, mungkin jika dia sudah tak ada di dunia ini lagi, ayahnya akan hidup dengan tenang bersama keluarga barunya.
"Ya bagus dong," jawab Cinta sewot.
Sabda mengerutkan keningnya, pria itu menatap Cinta heran.
"Kenapa berbicara seperti itu? Nggak baik. Sekarang tujuanmu ingin ke mana, biar aku yang antar, ayahmu sudah berpesan padaku agar aku menjagamu dengan baik. Pergi sehat, pulang selamat. Karena mulai saat ini kamu adalah tanggung jawabku. Suka tak suka, itulah kenyataannya," jelas Sabda.
Cinta memberengut kesal, tak suka dengan ucapan Sabda.
"Owh, jadi kamu mata-mata ayahku? Ck! Dibayar berapa sama ayahku sampai-sampai kamu menyetujui permintaannya?" tanya Cinta dengan tangan bersedekap.
"Ini bukan perihal bayaran, Cinta, kamu sekarang adalah tanggung jawabku," jawab Sabda dengan suara tenang.
Cinta tertawa pelan, dia menatap Sabda dengan sinis, rasanya berdebat dengan pria itu tak ada gunanya. Cinta berniat pergi dari situ, akan tetapi kunci motornya dicabut lebih dulu oleh Sabda.
"Hei, kau! Kembalikan kunci motorku, lancang sekali kamu ini!" bentak Cinta.
Sabda mengedikkan bahunya acuh, pria itu langsung memasukkan kunci motor itu disaku celananya.
"Tujuanmu ingin ke mana, ikutlah bersamaku."
Gigi Cinta gemeletuk, wanita itu tampak menghela napas berkali-kali seperti sedang menahan amarah. Masih tak terima dengan perlakuan Sabda yang bertindak sesuka hatinya.
"Oke, kalau itu maumu. Baiklah, bertindaklah sesuka hatimu seperti ayahku memperlakukanku," ujar Cinta pelan.
Sabda ingin menyela, akan tetapi Cinta sudah pergi dari hadapannya. Dengan langkah lebar Sabda menuju motornya.
"Kita akan pergi ke mana?" tanya Sabda antusias.
"Club," jawab Cinta cuek.
Seketika raut wajah Sabda langsung berubah.
***
Bingar musik mengalun begitu keras, membuat Sabda menutupi kedua telinganya. Mungkin, Cinta sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Berbeda dengan Sabda, ini adalah pertama kalinya dia memasuki tempat itu.
"Kalau nggak kuat lebih baik kamu pulang saja," ledek Cinta.
Sabda menggeleng tegas, membuat Cinta mengedikkan bahunya acuh.
"Oke, terserah kamu saja. Aku mau happy-happy dulu sama temanku, semoga betah ya," ucap Cinta, mata wanita itu mengerling nakal.
Wanita itu berbalik, mengacungkan jari tengahnya ke atas, membuat Sabda geleng-geleng kepala sembari mengusap dada.
'Ya Tuhan, inikah Cinta yang dulu aku kenal? Kenapa sangat berbeda,' batin Sabda.
Sabda duduk di balik kerumunan manusia yang sibuk meliukkan tubuhnya, akan tetapi matanya tak pernah lepas untuk melihat Cinta. Pria itu memandang Cinta dengan perasaan tak menentu. Ada rasa sesak dalam dadanya ketika dia melihat Cinta tampak mabuk, seperti tak sadarkan diri. Entah mengapa, perasaannya ikut hancur.
Sabda melihat ada seorang lelaki yang tengah membujuk Cinta untuk meminum air yang Sabda tak tahu itu air apa. Awalnya terlihat biasa saja, tetapi semakin lama tampak mencurigakan.
Cinta sedang tidak baik-baik saja, Sabda pun berdiri dari duduknya, mendekati Cinta yang tengah bersama teman-temannya. Tangan Sabda mencegah Cinta agar tidak kembali meminum minuman itu.
Cinta mendongak, tersenyum manis pada Sabda. Seketika ingatan Sabda terlempar pada masa lalu. Ya, dia sangat ingat siapa pemilik senyuman itu. Cinta tersenyum padanya, membuat hati Sabda terasa menghangat.
"Cinta, kita pulang."
"Apa?! Nggak denger!" teriak Cinta.
Sabda menghela napas. Jelas saja tidak dengar karena di tempat itu tampak riuh.
"Kita pulang," bisik Sabda tepat ditelinga Cinta.
"Woi! Elo ngapain deketin cewek gue, hah!"
Sabda menoleh ke arah sumber suara. Menatap pria yang tak dikenalnya dari atas sampai bawah. Dari cara berpakaian saja sudah bisa ditebak jika pria itu memiliki sifat tempramen.
Sabda tak menjawab, dia segera membopong Cinta yang saat ini sudah tak sadarkan diri.
"Heh! Gue lagi ngomong sama elo! Cewek gue mau dibawa ke mana?!"
Langkah Sabda terhenti. "Siapapun anda, saya tidak ada urusannya dengan anda, saya hanya berurusan dengan Cinta," jawab Sabda tegas.
Pria itu berjalan mendekat, menatap Sabda dengan garang.
"Lo belum tau siapa gue? Oke, kenalan dulu, gue Farel, kekasihnya Cinta, puas lo!" bentak Farel.
Sabda tersenyum kecut. "Hanya kekasih, tidak lebih."
Mata Farel membulat. "Gue kekasihnya, sedangkan elo bukan siapa-siapanya. Biar gue aja yang bawa Cinta pulang!"
Ketika Farel ingin mengambil tubuh Cinta, Sabda langsung mundur beberapa langkah, dia menatap Farel dengan tajam.
"Ya, saya memang bukan kekasihnya. Asal anda tahu bahwa Cinta adalah ... calon istri saya!"
Farel mematung di tempat. Terdiam cukup lama untuk mencerna apa yang diucapkan oleh Sabda. Tak lama kemudian Farel tertawa terbahak-bahak.
"Elo nggak bisa nipu gue," sarkas Farel.
Sabda mengedikkan bahunya. "Mau percaya atau tidak itu bukan urusan saya. Jika anda ragu dengan kata-kata saya, bisa anda tanyakan sendiri pada Cinta besok hari, permisi," pamit Sabda.
Sabda pergi meninggalkan club itu dengan perasaan berkecamuk. Masih tak percaya jika inilah makanan sehari-hari Cinta. Baru satu tempat yang Cinta tuju. Apakah ada hal lain lagi yang lebih mengejutkan Sabda?
Cinta masih betah dalam tidurnya. Matanya terasa berat, kepalanya tampak pusing dan rasa kantuknya lebih dominan dibandingkan dengan silaunya matahari yang menembus kelopak matanya.
"Bangun!"
Cinta mendengar suara berat seseorang yang sangat dia kenali, akan tetapi Cinta tak menghiraukan ucapan pria itu.
Wanita itu malah semakin mengeratkan pelukannya pada bantal guling serta menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
"Bangun!" sentak Ricko.
Cinta membuka matanya, dengan gerakan lambat, dia bangkit, lalu menguap lebar tanpa memperdulikan dengan siapa dia sedang berhadapan. Perlahan wanita itupun sadar, Cinta menatap ayahnya serta lelaki yang menurut Cinta sangat menyebalkan. Sabda!
Cinta mendesis lirih, sejak kapan ayahnya mau menginjakkan kakinya di kamar Cinta lagi?
Cinta melihat Ricko sedang berkacak pinggang serta menatap dia dengan tajam.
"Jadi begini ya kelakuan kamu setiap hari. Keluyuran nggak jelas, balapan liar, terus tadi malam apa, hah?! Kamu mabuk-mabukan dengan pria sialan itu, beruntung ada Sabda, jika tidak, apa yang akan terjadi padamu. Ck! Cinta ... Cinta ... Harus berapa kali Ayah bilang sama kamu, jangan dekat dengan laki-laki berandalan itu, dia membawa pengaruh buruk untukmu. Tidak bisakah kamu seperti Kezia. Contohlah dia, wanita kalem, lemah lembut, dan yang paling penting dia nggak neko-neko seperti kamu yang sangat urakan!" sarkas Ricko.
"Cukup!" bentak Cinta. Wanita itu menatap ayahnya dengan perasaan terluka. "Sebenarnya anak Ayah itu siapa? Kenapa Ayah selalu membeda-bedakan aku dengan Kezia. Apa Ayah tidak mengerti perasaanku?"
Ricko menghela napas panjang, memijit pelipisnya pelan. "Ayah tidak membandingkan kamu dengan Kezia. Ayah hanya berharap jika kamu seperti Kakakmu, nggak lebih."
Cinta tersenyum kecut.
'Itu sama saja, Ayah,' batin Cinta.
Cinta bangun dari ranjangnya, berjalan menuju kamar mandi, menghiraukan ucapan ayahnya yang selalu membanggakan Kezia. Wanita itu menutup pintu kamar mandi dengan kasar, membuat Ricko maupun Sabda terhenyak.
Sabda memahami bagaimana perasaan Cinta, Sabda yakin jika saat ini Cinta sangat membutuhkan teman yang benar-benar peduli padanya. Pria itu berjanji dalam hati akan membawa Cinta ke jalan yang lebih baik, meskipun susah, Sabda akan tetap berusaha.
"Ck! Dasar anak durhaka, lihatlah tingkahnya. Biar seperti itu dia tak ingin disalahkan, jelas Kezia lebih baik dari pada anak itu," decak Ricko.
Sabda heran dengan ucapan Ricko, kenapa pria paruh baya itu lebih mengutamakan anak tirinya? Bukankah seharusnya Ricko membela Cinta?
"Cinta seperti itu pasti ada alasannya, Om. Aku yakin itu," bela Sabda.
"Apapun masalahnya, anak itu sekarang susah untuk diatur. Pokoknya aku nggak mau tau, kamu atur saja Cinta, kepalaku selalu pusing jika harus berhadapan dengan Cinta, sifatnya sangat jauh berbeda dengan bundanya yang lemah lembut."
Samar-samar Cinta mendengar suara ayahnya, wanita itu menjatuhkan tubuhnya dilantai, hatinya teriris ketika ayahnya mengucapkan bahwa Kezia lebih baik dari Cinta.
Cinta menangis dalam diam, selalu saja begini, sebenarnya apa salah Cinta, sampai-sampai wanita itu dibenci oleh ayahnya sendiri. Dia begini juga karena ayahnya yang tak pernah adil padanya, Ricko selalu mengedepankan istri barunya.
"Bunda, aku ingin ikut denganmu, aku sungguh tidak sanggup dengan perlakuan ayah," lirih Cinta.
***
"Kamu yang namanya Sabda?"
Sabda mendongak, menatap wanita cantik itu dengan mengernyit heran. Pasalnya dia tak kenal dengan wanita yang ada di hadapannya. Selama Sabda berada di rumah ini, dia belum pernah melihat wanita itu.
"Ya," jawab Sabda singkat.
Wanita itu tersenyum lebar, mengulurkan tangan, akan tetapi Sabda tak membalasnya. Akhirnya wanita itupun kembali menurunkan tangannya. Malu, karena Sabda tak merespon.
"Kenalin, aku Kezia."
Sabda hanya manggut-manggut, tak berniat untuk menjawab, pria itu lebih mementingkan ponselnya. Toh wanita itu juga sudah mengetahui namanya. Kezia yang melihatnya pun mendengkus sebal.
Sejak kapan ada pria yang menolak pesonanya? Bahkan selama ini banyak laki-laki yang bertekuk lutut padanya, termasuk kekasih Cinta. Tapi mengapa Sabda berbeda.
"Aku sudah siap!"
Sabda mendongakkan kepalanya, pria itu tersenyum lebar sembari berdiri dari duduknya, semua itu tak luput dari penglihatan Kezia, wanita itu mengepalkan tangannya.
"Yuk," kata pria itu.
"Kamu mau kemana?" tanya Kezia sambil menatap Cinta sinis.
"Bukan urusanmu!" tandas Cinta, wanita itu juga menatap Kezia dengan sengit.
"Ck! Jadi sekarang kamu mempunyai security? Manja banget sih kamu," ejek Kezia.
Cinta tak menjawab ucapan Kezia, jika dia terus meladeni Kezia, yang ada urusannya malah semakin panjang. Karena wanita itu sangat pandai bersilat lidah, dan berakhir Ricko yang menyalahkan Cinta.
Cinta berlalu dari Kezia, pun sama halnya dengan Sabda. Pria itu juga tak betah berlama-lama berhadapan dengan wanita itu, Sabda tak suka melihat cara berpakaian Kezia, menurutnya, Kezia seperti memakai pakaian kurang bahan.
Kezia memperhatikan mereka berdua dengan mata memanas. Dia sungguh tidak terima karena penolakan dari Sabda, dan juga dia tak suka karena ada yang menjaga Cinta. Kezia memang tidak suka dengan Cinta, apapun yang Cinta miliki selalu dia rebut, termasuk kekasihnya, Farel. Saat ini mereka memang tengah menjalin hubungan gelap.
Kezia tersenyum licik, apa yang dia inginkan harus terpenuhi, meski dengan cara kotor sekalipun.
***
"Kenapa kamu tidak melawan?"
Cinta melirik Sabda sekilas, kemudian wanita itu kembali menatap lurus ke depan.
"Kenapa? Berurusan dengannya sama halnya untuk membawaku ke dalam masalah yang sangat besar, dan pastinya ayah akan membela dia," jawab Cinta lirih.
"Sekali-kali memang harus melawan, jika sudah seperti itu dia akan ngelunjak, dan dia sesuka hati mengolok-olok kamu karena melihat ketidakberdayaanmu. Jangan membuat hatimu terus terluka, sekali saja kita egois," ujar Sabda. Nada bicara pria itu terdengar emosi.
Cinta menggeleng. "Bahkan kamu sudah melihat bagaimana reaksi ayahku saat membelanya. Saat ini aku sungguh tidak penting dihati ayah. Mau melawan pun rasanya juga percuma. Entahlah, aku ini dianggap anak atau tidak dengan dia."
Sabda menghela napas panjang, menurutnya, masalah keluarga Cinta sungguh rumit. Kalau seperti ini terus, Cinta pasti merasa tertekan. Pantas saja kehidupan Cinta berubah, semua akar masalahnya terletak pada Ricko yang tidak adil dengan anak-anaknya.
"Apa karena ayahmu, kamu jadi seperti ini?" tanya Sabda pelan.
"Menurutmu?" Cinta balik bertanya.
Tak perlu dijawab pun Sabda sudah tahu, pria itu hanya ingin memastikan saja bahwa dugaannya memang tepat.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini? Apakah kamu tidak ingin berubah?" pancing Sabda.
Cinta tak menoleh sedikitpun ke arah Sabda, wanita itu tengah asyik melihat pemandangan di sepanjang jalan melalui kaca. Sabda menggigit bibir bawahnya karena tak mendapat jawaban. Wajar saja, pertanyaan Sabda memang terlalu sensitif.
Sabda pun memutuskan untuk diam, tak ingin mengusik ketenangan Cinta. Namun baru beberapa detik mereka terdiam, Cinta akhirnya kembali bersuara.
"Sampai aku menemukan pasangan yang tepat."