Hari ini sangat melelahkan, setelah tidak bekerja beberapa hari, balik-balik kerjaan kantor semakin menumpuk. Teman se-tim hanya menyalamiku dan mengucapkan belasungkawa, namun tak ada yang berinisatif untuk menghandle pekerjaanku.
Rekan kerja yang sering kubantu dan lebih luangkan waktu, yang kuanggap lebih penting dari keluargaku kini baru kelihatan boroknya. Tapi siapalah aku, protes juga percuma, mereka bukan siapa-siapa.
Beginikah maksudmu saat mengeluh sakit dan aku tak membantumu beres-beres rumah? Aku dulu tak habis pikir kenapa kau memaksakan diri tetap mengerjakan semuanya jika akhirnya selalu kau barengi dengan ngomel-ngomel.
Mengapa kau tak istirahat saja? Padahal solusinya semudah itu.
“Bunda, sudah istirahat saja lho timbang merepet terus, penging kuping.”
“Kalau bukan aku yang mengerjakan, lalu siapa? Sampean?”
Dih, kena kan. Padahal maksudku bukan itu.
“Ya kalau memang mau dikerjakan, bisa gak tanpa ngomel-ngomel? Hari minggu ayah pengen istirahat, suasana tenang. Lagian, jika mengerjakan sesuatu dengan tidak ikhlas gitu malah ruginya dobel-dobel.”
“Gak bisa Yah, kerjaan ini kalau ditunda bukannya berkurang. Tapi makin menumpuk, dan kepalaku pening gak bisa istirahat kalau rumah berantakan.”
“Ya itu kesalahan bunda karena standarnya ketinggian...”
Dia terdiam sesaat menatapku yang asyik rebahan sembari main Hp, ada nelangsa yang tak dapat dideskripsikan terpancar dari sorot matanya saat kulirik sekilas, karena tak biasanya ada jeda saat kami bicara. 5 menit yang terasa panjang.
Dia terduduk sambil menunduk di pinggir kasur. Aku tak memedulikannya dan kembali sibuk berselancar di sosial media. Sempat kudengar tarikan ingus, lalu dengan lirih ia berkata.
“Iya, ekspektasiku terhadap suami juga ketinggian....”
Lalu setelah itu ia berlalu, aku tak ambil pusing apa yang ia katakan. Jika ia berharap dengan kata-katanya itu aku lalu berubah menjadi suami yang diharapkannya, maka ia salah. Harusnya ia tahu untuk tak berharap pada manusia, aku ya memang begini ini adanya sejak masih membujang. Kenapa baru protes sekarang?
Hari ini aku pulang dari kantor, membuka pintu hanya untuk melihat kekacauan dalam rumah. Sofa terbalik, pot bunga yang terguling dan menghamburkan isinya, mainan yang tersebar di mana-mana. Meja makan yang berantakan, beberapa makanan tumpah hingga ke lantai.
Belum lagi tangisan Ali dari dalam kamar, kudengar Azka berusaha mendiamkan adiknya.
“Sssh... Dek, adek lapar ya? Tunggu ayah pulang sebentar lagi ya? Mas tadi lihat gak ada nasi, habis buat kita sarapan tadi pagi. Mas belum bisa masaknya, maaf ya? Ali sabar sebentar lagi ya?”
Saat aku mengintip ke kamar, kulihat Azka memeluk sembari mengusap kepala adiknya dengan lembut. Hatiku hancur luas biasa melihat pemandangan mereka berdua.
Hari ini, aku meminta Azka untuk tak masuk sekolah lebih dulu, anak laki-lakiku berusia 8 tahun itu kuminta untuk menjaga adik-adiknya sampai aku menemukan tempat untuk menitipkan mereka saat aku bekerja.
Lihatlah, dia yang dipaksa dewasa. Kulihat Rayi tertidur di atas tumpukan bantal dengan posisi tertekuk dan meringis memegang perut.
Aku lupa, selepas sarapan tadi pagi tak membuatkan mereka nasi, bahkan sekedar menyiapkan makanan untuk mereka. Sedang karena kerjaan yang menumpuk membuatku lupa waktu dan baru pulang setelah jam menunjuk angka 10. Itupun karena security kantor yang mengingatkan jika lampu semua akan dimatikan.
Dzalimnya aku, aku berlari memeluk mereka bertiga, mengucapkan maaf yang tak putus-putus.
Inikah yang maksudmu aku tak pernah peka, adinda? Harus dengan ketiadaanmu lah yang dapat membuatku sadar?
Tring. Tring. Tring.
Suara notifikasi masuk secara beruntun di ponsel istriku saat baru kunyalakan. Sudah beberapa hari aku lelah mencari ponsel ini ke seluruh penjuru rumah, yang akhirnya kutemukan saat telah putus asa dan bertanya pada Ali, anakku yang masih belum bicara.
Aku merebahkan diri di sampingnya yang sedang sibuk bermain mobil-mobilan di karpet ruang tengah. Padahal niatku hanya bertanya sekenanya untuk menyuarakan pikiran yang suntuk, tak berharap ia akan mengerti.
“Huft, ponsel bunda kemana ya Ali? Ayah cari kemana-mana gak ketemu. Ditelepon juga gak nyambung.”
Selepasnya aku berkeluh kesah, ia lalu berdiri. Alisku mengernyit mengikuti langkah-langkah kecilnya, mau kemana dia? Apakah dia tahu di mana ponsel sang bunda berada?
Tak urung aku bangkit dan mengikutinya menuju kamar kecil di sudut belakang rumah yang disulap menjadi ruang setrika.
“Aaa! Aaa!” Tangan kecilnya menunjuk-nunjuk kabinet kecil tempat sang bunda biasa menaruh obat-obatan.
Hmm? Masak sih di sini? Sekelebatan pikiranku yang langsung terjawab tatkala kutemukan ponselmu di sana. Girangnya bukan main seperti perompak yang menemukan peti harta karun.
Kuusap-usap kepala Ali dengan senang, ini adalah pencapaian kita berdua. Diapun juga bertepuk tangan melihatku senang.
Benar katamu adinda, saat aku mulai belajar memahaminya, ia justru menjelma menjadi guru yang memberikanku pelajaran. Bukan sebaliknya, anak kecil yang belum bisa berbicara ini, justru lebih mengerti ayahnya yang merasa dewasa.
Kini setelah menyalakan kembali ponselmu, aku membiarkan seluruh pesan masuk hingga selesai. Dengan demikian ponsel usang keluaran lawasmu ini tak ngambek dan nge-hang.
Tatapanku tertuju pada penggalan obrolan antara kau dan ibuku, ada pesan yang belum sempat kau buka dari beliau, dan dari percakapannya tampak beliau sedang marah.
Apa yang terjadi antara kau dan ibuku, adinda?
Setelah seluruh notifikasi masuk, aku pertama kali membuka percakapan kalian.
[Gimana Mega? Amri pasti sudah gajian bulan ini, ingat janjimu melunasi hutang ibu yang 17 juta itu. Bagaimanapun juga, Amri itu masih harus berbakti pada ibunya, dan tugasmu lah sebagai istri untuk mendukung Amri untuk tetap menjalankan perintah agama.]
Hatiku tercekat membaca pesan dari ibu, hutang? Hingga 17 juta? Seingatku, tiap bulan aku sudah mengirimkan 5 juta sendiri untuk membantu kebutuhan rumah. Karena bapak sudah tidak bekerja, dan kakak perempuanku yang tinggal serumah bersama suami dan anak-anaknya kudengar juga selalu memberi jatah bulanan.
Lalu untuk apa uang 17 juta itu? Itu bukan jumlah yang sedikit. Untuk kebutuhan kami di sini aku memberi Mega 5 juta, belum dipotong cicilan tanah kami di kampungku. Kami kontrak di sini, dan untuk kelangsungan kontrakan mengandalkan dari bonusanku tiap akhir tahun. Jadi, bulanan kami benar-benar ngepas, bahkan kurang, seperti laporannya padaku.
[Iya Bu, tapi Mega hanya bisa mengirim 1 juta dulu. Karena kebutuhan lagi banyak, maaf ya bu belum bisa bantu banyak.]
[Mana cukup Mega, itu hanya untuk menutup bunganya saja. Jangan kau sembunyikan sendiri uang suamimu jika tak ingin disebut sebagai menantu durhaka.]
Sakit hatiku membaca pesan ibu untuk Mega. Selama ini, tak ada sedikitpun ia mengecilkan ibuku. Mega memang tak pernah tahu jika aku mengirim sendiri pada kedua orang tuaku. Yang Mega tahu, uang gaji dariku seluruhnya kuserahkan padanya. Ia sering cerita tak enak hati pada orang tuaku karena tak bisa memberi.
Kututupi dari Mega karena untuk mengurangi rasa iri hatinya, waktu itu aku hanya menimpali untuk tak terlalu mempermasalahkan kedua orang tuaku, kebutuhan kita dicukupi dulu.
Padahal diam-diam karena aku sudah lebih dulu memenuhi kebutuhan kedua orang tuaku itu.
Pikirku, karena ibu dan bapak sudah tak ada lagi tanggungan anak sekolah, jadi uang 5 juta untuk ukuran hidup di kampung sudah berlebih. Mengapa masih kurang hingga memiliki hutang belasan juta itu?
Ibu juga tahu aku menyembunyikan kirimanku padanya dari Mega, bukannya maklum ini malah memanfaatkan keadaan untuk meminta lebih. Kuamati percakapan mereka berdua sebelum-sebelumnya yang semakin membuat hatiku berdegup kencang.
Setiap bulan, di tanggal yang sama aku gajian ibu tak pernah absen menanyakan uang ke Mega, meminta bagian. Percakapan mereka tak pernah sedikitpun menyinggung tentang cucu, sekedar berbasa basi menanyakan kabar merekapun tidak. Isinya hanya uang, uang dan uang.
“Astagifirullahaladziiim...” gumamku dengan darah berdesir sembari mengusap wajah kasar.
Inikah yang harus dilalui istriku selama ini? Pantas dia begitu tak kenal lelah menerima pesanan donat hingga ratusan biji setiap hari, kupikir karena dia suka dengan uang yang akan didapatkannya, tapi karena terpaksa untuk menutupi kebutuhan yang kurang.
Malu sekali rasanya, ditutupinya aib suami bahkan dari keluarganya sendiri walau ia bersusah-susah sembari mengurusi ketiga anak kami yang sedang aktif-aktifnya...
Tak cukup sampai di situ, masih ada lagi percakapannya dengan bapakku yang setali tiga uang dengan ibu, meminta uang rokok 500 ribu, setiap bulan. Di tanggal yang sama juga dengan aku gajian, aku semakin geleng-geleng kepala. Ini menantunya, sudah seperti sapi perah saja oleh mereka.
Apakah ini yang membuatmu lelah dan memilih pergi, adinda? Mengapa engkau tak pernah cerita?
Tak tahu malunya aku, padahal aku yang tak pernah ada saat kau hendak buka suara.
Tring!
Suara ponselmu sekali lagi berdering yang menyadarkan lamunanku, kali ini pesan dari Kak Ita, kakak kandungku. Aku menggemeletukkan gigi, apakah kakakku juga sama seperti kedua orang tuaku? Menjadikanmu sapi perah? Jika iya, maka aku tak akan segan-segan membuat perhitungan.
Namun, saat kubuka pesan darinya, netraku semakin basah.
Aku memang sumbu pendek, lebih mudah berpikiran negatif ketimbang positif. Begitu banyak percakapan yang kalian lakukan berdua, aku tak tahu jika selama ini Kak Ita juga memendam lara atas kelakuan orang tua kita berdua.
Bedanya, Kak Ita terjebak di sana. Tak bisa kemana-mana.
[Dek, mengapa kau tinggalkan kakak dek? Kepada siapa lagi Kak Ita cerita jika bukan pada adek? Megaaa... Kasihan anak-anakmu lho dek... Kalau ekonomi kakak baik, pasti mereka bertiga sudah kakak jemput, tapi kau tahu sendiri kondisi kakak di sini sulit, nanti nasib anak-anakmu malah akan menyedihkan seperti anak-anakku.]
Demikian pesan dari Kak Ita sehari setelah kematianmu.
Apa sebenarnya yang disembunyikan oleh mereka berdua sehingga tak mengungkapkannya padaku?
Ada apa dengan kedua orang tuaku sehingga Kak Ita juga menderita?
Saat aku hendak mencari tahu duduk perkara, namun sepertinya percakapan kalian banyak yang terhapus yang membuatku tak bisa mencari lebih jauh.
Kulihat Kak Ita sedang online dan tanpa menunggu waktu segera menghubunginya. Deringan pertama terlewat tanpa diangkat oleh Kak Ita, padahal tadi statusnya online, apakah kakak menghindariku? Aku berhak tahu yang terjadi! Selama ini aku sudah ditinggalkan dalam bayang-bayang, kali ini aku tidak lagi ingin dipermainkan.
Maka kucoba untuk menghubungi lagi, kali ini diangkat oleh Kak Ita.
“Halo, Kak! Assalamu’alaikum...!”
“Oh, Am... Mm, anak-anak bagaimana? Sehat? Maaf kakak tidak bisa melayat, keuangan kakak sedang tidak baik Am, semoga kamu mengerti. Tapi do’a kakak tak putus-putus untuk Mega, anak-anak dan juga kamu.”
“Tidak usah basa-basi kak, aku mau tahu yang sebenarnya terjadi. Sebenarnya ada cerita apa yang Kakak dan istriku sembunyikan?”
“Usah pikirkan Am... Fokuslah membesarkan anak-anak, mereka membutuhkan perhatianmu sepenuhnya setelah kehilangan sosok bunda mereka.”
“Gak bisa! Aku merasa bodoh selama ini, tak tahu apa-apa. Padahal ini menyangkut keluargaku sendiri.”
“Telat Am... Kemana saja kamu selama ini? Mega menanggung semua sendiri.”
“Kakak jangan ikut campur ya. Itu urusanku dengan Mega. Sekarang yang kita bahas adalah Ibu dan Bapak, ada apa dengan mereka? Mengapa mereka bisa merongrong Mega dan juga Kak Ita?!”
“Maaf Am, selama ini Kakak diam karena tak ingin membebanimu seperti yang Mega amanatkan, nantilah kita cerita jika suasananya sudah baikan ya Am. Kak Ita pasti akan membuka semua. Ah! Ada Bapak datang...! Kakak gak bisa ngomong panjang lebar, Assalamau’alaikum.”
Klik.
“Wa’alaikumsalam...”
Sambungan telepon diputus sepihak oleh Kak Ita. Bukan jawab yang kudapat, tapi justru tanda tanya besar di kepala. Sebenarnya ada apa, sih? Mengapa Kak Ita seperti takut terhadap Bapak?!
Dua tahun ke belakang aku memang tak pulang saat lebaran, karena biaya membawa tiga anak menyebrang pulau 2 kali itu sangat mahal. Jadi kami memilih untuk mengirimkan saja uang yang segunanya untuk ongkos. Itupun atas permintaanmu karena tak enak pada ibu.
Terutama saat ibuku cerita jika rumah kami di kampung dijadikan sebagai tempat untuk acara reuni bagi saudara dari pihak ibu dan juga bapak, sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jadi aku mengalah, memendam rindu demi situasi aman tentram.
Jadi, aku tak pernah tahu situasi di kampung halaman. Hanya kamu yang rajin mengabariku sekelebatan tentang kabar ibu dan bapak karena kamu masih rajin berkomunikasi dengan mereka.
Dulu, aku tak pernah sadar bagaimana ibu dan bapak memperlakukanku. Kini, setelah rahasia mereka terkuak baru aku menyadari bahwa mereka rajin menghubungiku hanya saat dekat tanggal gajian saja, dengan mengirimkan daftar kebutuhan rumah tangga yang sudah habis. Aku pun hanya menimpali dengan janji untuk segera mengirimkan jika uang gajiku sudah masuk.
Aku tahu jika kamu tak pernah mengetahui komunikasiku dengan ibu dan bapak karena password ponselku yang tak kamu ketahui.
Sekarang kupikir-pikir lagi, jadi aku berjuang untuk siapa? Siapa yang sebenarnya lebih berhak kupenuhi kebutuhannya lebih dulu? Kamu dulu kunikahi karena cinta, tapi mengapa aku bisa begitu jengkel akan tingkah-tingkah kecilmu saat telah resmi kujadikan istri?
Padahal pengabdianmu padaku selama ini tak pernah kurang.
Kuremas rambutku kasar, pening rasanya kepala mengolah informasi-informasi baru yang kuterima.
“Ayaaah... Adek Ali pup Yah... Maaf mas Azka belum berani bersihin, takut gak benar caranya...” Lapor Azka padaku dengan tampang takut-takut.
Aku merasa tertampar, mengapa ia berkata demikian? Itukan memang bukan tanggungjawabnya?
“Iya, nanti Ayah yang bersihin ya mas. Tunggu pusing Ayah reda sebentar.”
“Ayah... Ayah jangan sakit, jangan pergi ninggalin kita yaaa... Azka janji jadi mas yang baik untuk adik-adik dan bantu ayah menjaga mereka. Tapi ayah jangan pergi juga seperti bundaaa... Huwaaa...”
Tangis Azka, sulungku berderai, ia yang hatinya begitu lembut kini patah. Kurangkul ia cepat, mengusap-usap kepalanya. Hal yang tak pernah kulakukan dulu, dan ajaibnya justru sakit kepalaku kini yang hilang berganti dengan perih mengetahui rasa kehilangannya.
Lelaki sekecil ini sudah kehilangan sosok bunda, aku tak bisa bayangkan bagaimana perasaannya.
“Cup. Cup. Cup. Ayah gak papa mas, baik-baik saja. Mas sudah hebat, sudah bisa menjaga adik-adik, ayah sangat bangga sama mas, bunda pasti juga bangga. Kalau Azka bersedih, nanti bunda juga nangis di sana. Kita sama-sama ikhlas ya mas?”
Ia mengangguk patuh dan mengusap air matanya yang berlinang, kini tangisnya memang sudah reda. Tapi anakan sungai di pipinya tak jua surut. Aku ingat, setelah dua minggu kepergianmu, baru kali ini ia menangis lagi.
“Mas kangen bunda...” lirihnya berucap.
Duh, rasa sakit yang mengiris sembilu, lebih-lebih saat Rayi juga mengekor di belakangnya dan mengucapkan hal yang sama.
“Rayi juga kangen bunda...”
Adinda, lihatlah aku yang sejak kepergianmu berubah menjadi laki-laki cengeng yang gampang mengeluarkan air mata. Serapuh itu aku tanpamu, adinda. Tak kuasa aku mempraktekkan teori parenting yang menyarankan agar orang tua harus menjadi kastil kokoh untuk anak-anaknya.
Susah sekali mengontrol emosiku.
Padahal dulu, aku paling jengkel melihat air matamu, yang kehabisan kata-kata tiap kali aku mengabari hendak ngopi di tetangga.
Kamu melihatku yang berlalu dengan entengnya, tak melihat keadaanmu yang berdiri sambil menyusui Ali yang masih bayi, sembari ditariki oleh Rayi yang meminta perhatianmu. Pun juga teriakan Azka dari kamar mandi yang minta diceboki.
Dzalim, sungguh sangat dzalim memang suamimu ini, adinda...
Jika bisa kuputar waktu, aku ingin kembali tepat di hari pernikahan kita. Memperbaiki waktu demi waktu yang telah kubuang percuma tanpa memperhatikanmu.
Drrrt... Drrrt...
Mode getar di ponselku mengakhiri isak tangis mengharu biru antara aku, Azka dan Rayi.
Kulihat nama yang memanggil.
Deg!
Bapak mertua.
Beliau tak datang saat penguburanmu karena tak kuasa menanggung malu ditinggalkan oleh anak mereka dengan cara yang tragis. Kini, ada apa gerangan beliau menghubungiku?
“Assalamu’alaikum, Pak...”
“Wa’alaikumsalam. Amri, besok datang ke rumah. Bapak mau bicara.”
Klik.
Sambungan telepon diputus.
Singkat saja. Tapi mampu membuatku merasa bersalah dari nada bicaranya.
Pasrah, karena aku memang salah. Besok aku akan memenuhi permintaan beliau sembari membawa anak-anak. Semoga dengan hadirnya anak-anak mampu meluluhkan amarah beliau padaku.