Bab 1

Jasad istriku diturunkan dalam liang lahat, tangan ini terulur hendak menyambutnya. Sama seperti saat aku menyambutnya dengan senyum terkembang kala meminta kesediaannya untuk menikah denganku dulu. Waktu itu, aku menjanjikannya dunia beserta isinya, yang tak pernah kupenuhi.

Berjanji saat hati bahagia itu memang paling mudah.

Hanya kali ini, aku menyambutnya di bawah dengan berusaha tegar walau tanganku gemetar tak karuan. Dengan hembusan napas panjang dan hati getir meletakkannya dalam ceruk dan memiringkan tubuhnya ke arah kiblat.

Aku masih kuat.

Dibantu orang-orang lain aku mengubur tubuh istriku dengan gundukan tanah, hati-hati sekali takut menyakitinya. Takut menyakitinya? Mengapa baru sekarang aku memikirkannya? Selama ini aku lupa bertanya bagaimana keadaannya.

10 tahun lalu, diserahkannya padaku tanggungjawab atas istriku dari ayahnya saat aku berjanji di depan penghulu, tapi rupanya aku bukanlah lelaki atas sumpahku. Setelah ia dalam genggaman, tak lagi aku merepotkan diri memberikannya perhatian.

Tak pernah sekalipun bertanya kabarnya, bahkan enggan tiap membaca pesan darinya yang bertanya keberadaanku dan kapan aku pulang. Lebih-lebih harus mendengarkan cerita hari-harinya, setiap kali ia hendak bercerita aku mengabaikannya dan memilih nongkrong dengan teman-temanku saja.

Paling dia hanya akan mengeluh soal kerjaan rutinnya sebagai ibu rumah tangga dan menjaga anak-anak kami bertiga, lagu lama kaset rusak, aku bosan. Dia wanita yang kunikahi karena kepintarannya dulu, kini isi obrolan kami bukanlah lagi tentang ilmu terbaru tapi cerita sehari-hari yang tak memiliki bobot.

Dia pikir kerja di luar tak capek, bertemu dengan banyak rekan kerja dengan karakternya masing-masing yang bikin pusing kepala. Aku pulang mau istirahat, bukan mendengarkan masalah orang lain lagi.

Sehingga, jika kulihat ia mendekat hendak mulai mengeluh, maka aku memotongnya duluan dengan keluar ngopi ke rumah tetangga agar pikiranku rileks. Waktu itu aku merasa, rumah bukanlah rumah, tapi bara api, selalu panas. Belum lagi teriakan anak-anakku yang bersahutan tak henti-henti, telingaku penging dan memunculkan emosi.

Sengaja aku pulang tengah malam, saat mereka semua sudah tertidur, dengan demikian aku juga bisa langsung istirahat setibanya di rumah. Sebal sekali, padahal besok pagi harus mulai kerja lagi.

Tentang Ali, anak bungsu yang kehadirannya karena kesalahanku yang tak sempat memutus pers*ngg*maan kami saat aku mencapi klimaks, namun aku berdalih bahwa Ali adalah permintaanmu dulu saat kita masih sama-sama kuliah.

Aku masih ingat betul sorot mata tak terimamu waktu itu dan berkata.

“Itukan dulu waktu aku belum tahu repotnya menjaga anak kecil-kecil di waktu yang bersamaan! Bahkan Rayi masih kecil 15 bulan, dan Azka baru 4 tahun, bagaimana jika nanti aku hamil lagi? Sedang kau tak pernah di rumah membantuku merawat anak-anak?”

“Kalau hamil lagi ya rejeki, alhamdulillah.” Dalihku enteng sambil tersenyum padanya.

“Enteng banget ya Yah ngomongnya, kamu gak pernah tahu stressnya. Mengurus satu bayi saja sudah berat, ditambah lagi harus mengurusi kakak-kakaknya yang masih balita. Mereka juga butuh perhatian, tanganku cuma dua lho.”

“Bunda, semua itu akan terasa ringan jika kita melakukannya dengan ikhlas, apa yang bunda lakukan itu tak tampak nilainya, tapi disitulah letak ujiannya. Kalau bunda bisa ikhlas menjalaninya, balasannya surga.”

Aku tak lagi mendengar sanggahanmu waktu itu, saat kulirik mulutmu menganga kehabisan kata-kata. Dan itulah memang tujuanku, yaitu diammu.

Aku ingat, kau masih menyusui Rayi setelah hasil test pack mu menunjukkan garis dua. Juga rutin mengayuh sepeda untuk Azka, sulung kita yang baru masuk TK A karena kamu tak pandai membawa motor.

Hingga 5 bulan lamanya kau tetap memberikan hak ASI untuk anak kita yang kedua yang masih balita sembari menyicil tanah di kampung kelahiranku waktu itu, itupun karena inisiatif darimu.

Padahal aku merasa waktu itu masih belum siap untuk memiliki hutang, tapi kamu cerita jika ibuku bertanya kemana saja hasil kerjaku selama ini, maka demi memenuhi harapan orang tuaku kita menyicil tanah waktu itu.

Gajiku sangat mepet untuk hidup kita di kota penyangga Jakarta waktu itu, sehingga kamu berinisiatif untuk berjualan donat frozen ataupun yang siap santap untuk menambal sulam kebutuhan yang kurang.

Aku senang waktu itu, melihatmu keluar dari zona nyaman. Padahal kau melakukannya sembari mengurus rumah, Azka, Rayi dan juga jabang bayi dalam tubuhmu. Bergadang hingga tengah malam mengulen donat.

Tugasku adalah mencarikan pelanggan dari teman-temanku karena donat buatanmu memang enak, aku tak ingat bahwa tubuhmu entah bagaimana keadaannya waktu itu. Karena aku tidur sepanjang malam, tak pernah mengerti ceritamu yang mengeluh ingin rebahan tapi sudah disambut oleh tangisan Rayi 2 jam sekali setiap malam.

Aku ingat lagi, pernah kesal padamu yang masih tidur di pagi hari saat aku hendak berangkat kerja. Tak paham keluhanmu yang bilang habis begadang semalaman mengurus Azka yang demam dan Rayi yang bolak balik meminta asi.

Lebay sekali! Ngurus dua anak saja sudah seperti repotnya dokter memimpin operasi. Suami mau berangkat kerja malah tidur enak-enakan bukannya nyiapin bekal dan sarapan!

***

Lihatlah rapuhnya aku kini, saat ketiga anak kita yang masih sangat membutuhkan sosok bundanya menangis memegangi kedua tanganku sembari menatap gundukan tanah merahmu. Belum apa-apa batinku sudah lelah luar biasa.

Sesampainya di rumah, melihat dastermu tergantung di kastok membuatku tersedu sedan. Tumpah sudah semua tangisan, penyesalan, dan juga kekecewaan dari dalam diriku untukku sendiri. Kukunci pintu dan memeluk erat baju rumahmu yang dulu pernah kuprotes itu karena membuatmu tampak jelek dan tak memantik gairahku.

Wangi tubuhmu masih menempel di sana, bagaimana bisa wangi yang dulu menyebalkan ini kini membuatku candu? Kapan lagi aku dapat mengirup wangi tubuhmu secara langsung adinda? Mengapa kita tak lagi menyelesaikan semuanya dengan berbicara? Mengapa engkau memilih jalan pintas itu untuk pergi?

Bisa protes apalagi aku, karena terjawab jua mengapa kau memilih mengakhirinya. Dua hari lalu kau minta bicara, tapi lagi -lagi aku mengabaikannya karena janji futsalan dengan teman kantor.

Kau pintar, bicara denganmu adalah penghakiman atas tindakan-tindakanku yang salah. Bukan diskusi terbuka yang sehat antar dua insan manusia yang dewasa. Siapa juga yang mau disalah-salahi? Walaupun tindakanku memang salah.

Tapi kan aku imamnya? Terserah aku dong mau berbuat apa?

***

“Ayaaah... Buka pintunya... Kami lapeeer...” Rengekan Azka, diiringi tangisan Rayi dan juga si bungsu Ali.

Ah, tak bisakah mereka memberikanku waktu untuk sekedar berkabung sedih? Aku baru saja kehilangan istri, masih harus memikirkan kebutuhan mereka.

Seketika aku teringat, beginikah yang dirasakan istriku saat itu? Saat ia mengingatkan tangannya yang hanya dua? Saat ia stress ketika ketiganya membutuhkannya di waktu yang bersamaan?

Aku ingat, mereka belum makan dari kemarin, panggilan perut mereka saat ini adalah suatu kewajaran. Duh, susah sekali harus menekan emosi saat pikiran penuh oleh banyak hal lain.

Tak urung, kuseka juga airmata dan mengelus kepala mereka bertiga. Menuju dapur dan membuka kulkas untuk melihat bahan makanan yang tersedia. Saat membukanya, aku jatuh terduduk.

Kutemukan suratmu di sana.

-Untuk Suamiku.-

Begitu tulisan yang tertera di amplopmu, membuatku membukanya dengan tergesa-gesa, akhirnya aku mengetahui alasan kepergianmu, dengan demikian aku mendapat “penutupan” atas kalimat tanya besar dalam kepalaku 2 hari ini.

Jika kau membaca surat ini, artinya kau sudah lulus tahapan pertama menjadi seorang bapak, yang alpa kau lakukan 9 tahun ini.

Karena kau sudah lulus tahapan pertama, artinya tahapan selanjutnya pasti akan lebih mudah kau lalui. Berikut kujabarkan kebiasaan anak-anak kita, anggap ini kisi-kisimu melewati ujian hidup kedepan saat membersamai mereka.

Mereka makan dua kali sehari, makanan mereka tak susah-susah amat. Aku sudah tinggalkan beberapa sayuran lengkap dengan bumbunya agar kau tak kerepotan di 5 hari pertama, ingat-ingat resep dan takarannya ya! Karena setelah 5 hari tidak akan ada tutorial lagi.

Maaf ya,

Karena akhirnya aku memutuskan egois untuk mengambil cuti panjang yang tak pernah kau berikan.

Aku melirik beberapa plastik berisi sayuran yang sudah disiangi dan juga bumbu yang sudah dikupas beserta catatan kecil cara memasaknya. Tulisan tanganmu yang kembali membuat leleh airmataku.

Aku tak bisa bayangkan bagaimana kondisi mentalmu saat mempersiapkan semua ini. Apakah di sana lebih baik dibanding hidup denganku, adinda? Kau masih memikirkan kebutuhanku dan juga anak-anak kita bahkan saat hatimu kalut.

Ada ayam dan tempe ungkep juga kesukaan anak-anak. Telur dan juga nugget sebagai selingan hanya agar mereka mau makan. Maaf anak-anakmu makannya tak variatif dan mereka terbiasa dengan itu, tanganku cuma dua, Yah.

Azka gampang mimisan jika terlalu banyak pikiran dan istirahatnya kurang, pastikan dia cukup istirahat ya jika tak ingin kerepotan mengurus anak sakit. Jika musim berganti, pastikan mereka minum vitamin bintang-bintang yang mereka sukai itu.

Kaki Rayi gampang linu jika kelelahan, jika tak ingin bergadang mijetin semalaman, pastikan mengoleskan balsam di kedua kakinya jika sebelum tidur dia sudah tampak gelisah sembari menekuk kaki.

Ali belum bisa berbicara, tapi bahkan kakak-kakaknya yang belum remaja itu sendiri paham yang dia minta. Cobalah memahaminya dengan hati, bukan logika seperti yang biasanya kau lakukan dan berakhir memarahinya karena kau tak paham ia minta apa.

Mereka butuh dipahami olehmu yang dewasa, bukan justru belajar memahamimu. Jadi, seperti yang sering kau katakan dengan enteng saat aku sudah cerewet.

Sabarlah...

Begitu akhir dari suratmu yang kubolak balik karena tak percaya percakapan kita yang akhirnya baru kudengar (baca) ini berakhir begitu saja. Tapi tak ada. Tulisanmu hanya sampai situ saja.

“Ada lauk apa, Yah?” Azka menyapa dari balik bahuku ikut melongok isi dalam kulkas.

“Mm... Azka mau makan apa?”

“Ayam goreng aja, Yah.” Tatapan Azka tertuju pada kotak berisi potongan-potongan ayam yang sudah diungkep dan siap digoreng.

“Oke, Azka panggil adek-adek tunggu di meja makan ya?” titahku yang dijawabnya dengan anggukan kepala.

Wangi ayam saat digoreng memenuhi ruangan saat baru masuk di wajan yang panas.

“Horeee... Ayam goreng ya Bunda?” Rayi berlari menyusul ke dapur dan tercekat saat bukan orang yang dirindukan yang berdiri menunggu ayam matang. Ia berbalik menunduk lesu ke arah meja makan dan duduk menekuk kaki.

Bagaimana ini, aku tak memikirkan rasa kehilangan mereka dan sibuk berkubang dengan kesedihanku sendiri. Saat ayam itu sudah matang, aku menyiapkan makanan mereka.

Azka menatap ayam yang kugoreng dengan masygul, begitu juga Rayi.

“Ada apa, mas Azka? Rayi? Ayo makan, keburu dingin entar.”

“Azka biasanya di gorengkan paha sama bunda... Karena Azka gak pandai makan daging dada dan bagian yang banyak tulangnya.”

“Iya, Rayi juga sama Yah. Adek Ali juga, suka yang banyak kulitnya soalnya rasanya lebih enak.”

“Oh, ya sudah Ayah gorengkan lagi kalau begitu.”

“Gorengnya jangan terlalu kering ya Yah biar gak keras.”

Tak lupa Azka menambahkan instruksi. Baru kali ini aku tahu jika selera mereka berbanding terbalik denganku. Aku ingat, saat makan bersama waktu kuliah dulu kamu juga suka makan dada ayam sepertiku dengan alasan dagingnya bisa dapat lebih banyak.

Aku gak pernah ingat sejak kapan kamu beralih lebih menyukai bagian ceker, kepala dan leher.

Setelah kamu tiada kini baru aku tahu alasannya. Karena bagian-bagian terbaik telah kau berikan pada kami.

Sesak rasanya hati ini, apalagi mengingat sindiranku padamu yang sedang menggerogoti selipan daging di leher ayam.

“Meooong...” Demikian sindirku yang menerbitkan senyummu, aku benar-benar tak peka.

“Adinda, jangan ngadu sama Allah ya tentang kedzalimanku yang tak memperhatikanmu?”

Bab 2

Hari ini sangat melelahkan, setelah tidak bekerja beberapa hari, balik-balik kerjaan kantor semakin menumpuk. Teman se-tim hanya menyalamiku dan mengucapkan belasungkawa, namun tak ada yang berinisatif untuk menghandle pekerjaanku.

Rekan kerja yang sering kubantu dan lebih luangkan waktu, yang kuanggap lebih penting dari keluargaku kini baru kelihatan boroknya. Tapi siapalah aku, protes juga percuma, mereka bukan siapa-siapa.

Beginikah maksudmu saat mengeluh sakit dan aku tak membantumu beres-beres rumah? Aku dulu tak habis pikir kenapa kau memaksakan diri tetap mengerjakan semuanya jika akhirnya selalu kau barengi dengan ngomel-ngomel.

Mengapa kau tak istirahat saja? Padahal solusinya semudah itu.

“Bunda, sudah istirahat saja lho timbang merepet terus, penging kuping.”

“Kalau bukan aku yang mengerjakan, lalu siapa? Sampean?”

Dih, kena kan. Padahal maksudku bukan itu.

“Ya kalau memang mau dikerjakan, bisa gak tanpa ngomel-ngomel? Hari minggu ayah pengen istirahat, suasana tenang. Lagian, jika mengerjakan sesuatu dengan tidak ikhlas gitu malah ruginya dobel-dobel.”

“Gak bisa Yah, kerjaan ini kalau ditunda bukannya berkurang. Tapi makin menumpuk, dan kepalaku pening gak bisa istirahat kalau rumah berantakan.”

“Ya itu kesalahan bunda karena standarnya ketinggian...”

Dia terdiam sesaat menatapku yang asyik rebahan sembari main Hp, ada nelangsa yang tak dapat dideskripsikan terpancar dari sorot matanya saat kulirik sekilas, karena tak biasanya ada jeda saat kami bicara. 5 menit yang terasa panjang.

Dia terduduk sambil menunduk di pinggir kasur. Aku tak memedulikannya dan kembali sibuk berselancar di sosial media. Sempat kudengar tarikan ingus, lalu dengan lirih ia berkata.

“Iya, ekspektasiku terhadap suami juga ketinggian....”

Lalu setelah itu ia berlalu, aku tak ambil pusing apa yang ia katakan. Jika ia berharap dengan kata-katanya itu aku lalu berubah menjadi suami yang diharapkannya, maka ia salah. Harusnya ia tahu untuk tak berharap pada manusia, aku ya memang begini ini adanya sejak masih membujang. Kenapa baru protes sekarang?

Hari ini aku pulang dari kantor, membuka pintu hanya untuk melihat kekacauan dalam rumah. Sofa terbalik, pot bunga yang terguling dan menghamburkan isinya, mainan yang tersebar di mana-mana. Meja makan yang berantakan, beberapa makanan tumpah hingga ke lantai.

Belum lagi tangisan Ali dari dalam kamar, kudengar Azka berusaha mendiamkan adiknya.

“Sssh... Dek, adek lapar ya? Tunggu ayah pulang sebentar lagi ya? Mas tadi lihat gak ada nasi, habis buat kita sarapan tadi pagi. Mas belum bisa masaknya, maaf ya? Ali sabar sebentar lagi ya?”

Saat aku mengintip ke kamar, kulihat Azka memeluk sembari mengusap kepala adiknya dengan lembut. Hatiku hancur luas biasa melihat pemandangan mereka berdua.

Hari ini, aku meminta Azka untuk tak masuk sekolah lebih dulu, anak laki-lakiku berusia 8 tahun itu kuminta untuk menjaga adik-adiknya sampai aku menemukan tempat untuk menitipkan mereka saat aku bekerja.

Lihatlah, dia yang dipaksa dewasa. Kulihat Rayi tertidur di atas tumpukan bantal dengan posisi tertekuk dan meringis memegang perut.

Aku lupa, selepas sarapan tadi pagi tak membuatkan mereka nasi, bahkan sekedar menyiapkan makanan untuk mereka. Sedang karena kerjaan yang menumpuk membuatku lupa waktu dan baru pulang setelah jam menunjuk angka 10. Itupun karena security kantor yang mengingatkan jika lampu semua akan dimatikan.

Dzalimnya aku, aku berlari memeluk mereka bertiga, mengucapkan maaf yang tak putus-putus.

Inikah yang maksudmu aku tak pernah peka, adinda? Harus dengan ketiadaanmu lah yang dapat membuatku sadar?

Tring. Tring. Tring.

Suara notifikasi masuk secara beruntun di ponsel istriku saat baru kunyalakan. Sudah beberapa hari aku lelah mencari ponsel ini ke seluruh penjuru rumah, yang akhirnya kutemukan saat telah putus asa dan bertanya pada Ali, anakku yang masih belum bicara.

Aku merebahkan diri di sampingnya yang sedang sibuk bermain mobil-mobilan di karpet ruang tengah. Padahal niatku hanya bertanya sekenanya untuk menyuarakan pikiran yang suntuk, tak berharap ia akan mengerti.

“Huft, ponsel bunda kemana ya Ali? Ayah cari kemana-mana gak ketemu. Ditelepon juga gak nyambung.”

Selepasnya aku berkeluh kesah, ia lalu berdiri. Alisku mengernyit mengikuti langkah-langkah kecilnya, mau kemana dia? Apakah dia tahu di mana ponsel sang bunda berada?

Tak urung aku bangkit dan mengikutinya menuju kamar kecil di sudut belakang rumah yang disulap menjadi ruang setrika.

“Aaa! Aaa!” Tangan kecilnya menunjuk-nunjuk kabinet kecil tempat sang bunda biasa menaruh obat-obatan.

Hmm? Masak sih di sini? Sekelebatan pikiranku yang langsung terjawab tatkala kutemukan ponselmu di sana. Girangnya bukan main seperti perompak yang menemukan peti harta karun.

Kuusap-usap kepala Ali dengan senang, ini adalah pencapaian kita berdua. Diapun juga bertepuk tangan melihatku senang.

Benar katamu adinda, saat aku mulai belajar memahaminya, ia justru menjelma menjadi guru yang memberikanku pelajaran. Bukan sebaliknya, anak kecil yang belum bisa berbicara ini, justru lebih mengerti ayahnya yang merasa dewasa.

Kini setelah menyalakan kembali ponselmu, aku membiarkan seluruh pesan masuk hingga selesai. Dengan demikian ponsel usang keluaran lawasmu ini tak ngambek dan nge-hang.

Tatapanku tertuju pada penggalan obrolan antara kau dan ibuku, ada pesan yang belum sempat kau buka dari beliau, dan dari percakapannya tampak beliau sedang marah.

Apa yang terjadi antara kau dan ibuku, adinda?

Setelah seluruh notifikasi masuk, aku pertama kali membuka percakapan kalian.

[Gimana Mega? Amri pasti sudah gajian bulan ini, ingat janjimu melunasi hutang ibu yang 17 juta itu. Bagaimanapun juga, Amri itu masih harus berbakti pada ibunya, dan tugasmu lah sebagai istri untuk mendukung Amri untuk tetap menjalankan perintah agama.]

Hatiku tercekat membaca pesan dari ibu, hutang? Hingga 17 juta? Seingatku, tiap bulan aku sudah mengirimkan 5 juta sendiri untuk membantu kebutuhan rumah. Karena bapak sudah tidak bekerja, dan kakak perempuanku yang tinggal serumah bersama suami dan anak-anaknya kudengar juga selalu memberi jatah bulanan.

Lalu untuk apa uang 17 juta itu? Itu bukan jumlah yang sedikit. Untuk kebutuhan kami di sini aku memberi Mega 5 juta, belum dipotong cicilan tanah kami di kampungku. Kami kontrak di sini, dan untuk kelangsungan kontrakan mengandalkan dari bonusanku tiap akhir tahun. Jadi, bulanan kami benar-benar ngepas, bahkan kurang, seperti laporannya padaku.

[Iya Bu, tapi Mega hanya bisa mengirim 1 juta dulu. Karena kebutuhan lagi banyak, maaf ya bu belum bisa bantu banyak.]

[Mana cukup Mega, itu hanya untuk menutup bunganya saja. Jangan kau sembunyikan sendiri uang suamimu jika tak ingin disebut sebagai menantu durhaka.]

Sakit hatiku membaca pesan ibu untuk Mega. Selama ini, tak ada sedikitpun ia mengecilkan ibuku. Mega memang tak pernah tahu jika aku mengirim sendiri pada kedua orang tuaku. Yang Mega tahu, uang gaji dariku seluruhnya kuserahkan padanya. Ia sering cerita tak enak hati pada orang tuaku karena tak bisa memberi.

Kututupi dari Mega karena untuk mengurangi rasa iri hatinya, waktu itu aku hanya menimpali untuk tak terlalu mempermasalahkan kedua orang tuaku, kebutuhan kita dicukupi dulu.

Padahal diam-diam karena aku sudah lebih dulu memenuhi kebutuhan kedua orang tuaku itu.

Pikirku, karena ibu dan bapak sudah tak ada lagi tanggungan anak sekolah, jadi uang 5 juta untuk ukuran hidup di kampung sudah berlebih. Mengapa masih kurang hingga memiliki hutang belasan juta itu?

Ibu juga tahu aku menyembunyikan kirimanku padanya dari Mega, bukannya maklum ini malah memanfaatkan keadaan untuk meminta lebih. Kuamati percakapan mereka berdua sebelum-sebelumnya yang semakin membuat hatiku berdegup kencang.

Setiap bulan, di tanggal yang sama aku gajian ibu tak pernah absen menanyakan uang ke Mega, meminta bagian. Percakapan mereka tak pernah sedikitpun menyinggung tentang cucu, sekedar berbasa basi menanyakan kabar merekapun tidak. Isinya hanya uang, uang dan uang.

“Astagifirullahaladziiim...” gumamku dengan darah berdesir sembari mengusap wajah kasar.

Inikah yang harus dilalui istriku selama ini? Pantas dia begitu tak kenal lelah menerima pesanan donat hingga ratusan biji setiap hari, kupikir karena dia suka dengan uang yang akan didapatkannya, tapi karena terpaksa untuk menutupi kebutuhan yang kurang.

Malu sekali rasanya, ditutupinya aib suami bahkan dari keluarganya sendiri walau ia bersusah-susah sembari mengurusi ketiga anak kami yang sedang aktif-aktifnya...

Tak cukup sampai di situ, masih ada lagi percakapannya dengan bapakku yang setali tiga uang dengan ibu, meminta uang rokok 500 ribu, setiap bulan. Di tanggal yang sama juga dengan aku gajian, aku semakin geleng-geleng kepala. Ini menantunya, sudah seperti sapi perah saja oleh mereka.

Apakah ini yang membuatmu lelah dan memilih pergi, adinda? Mengapa engkau tak pernah cerita?

Tak tahu malunya aku, padahal aku yang tak pernah ada saat kau hendak buka suara.

Bab 3

Tring!

Suara ponselmu sekali lagi berdering yang menyadarkan lamunanku, kali ini pesan dari Kak Ita, kakak kandungku. Aku menggemeletukkan gigi, apakah kakakku juga sama seperti kedua orang tuaku? Menjadikanmu sapi perah? Jika iya, maka aku tak akan segan-segan membuat perhitungan.

Namun, saat kubuka pesan darinya, netraku semakin basah.

Aku memang sumbu pendek, lebih mudah berpikiran negatif ketimbang positif. Begitu banyak percakapan yang kalian lakukan berdua, aku tak tahu jika selama ini Kak Ita juga memendam lara atas kelakuan orang tua kita berdua.

Bedanya, Kak Ita terjebak di sana. Tak bisa kemana-mana.

[Dek, mengapa kau tinggalkan kakak dek? Kepada siapa lagi Kak Ita cerita jika bukan pada adek? Megaaa... Kasihan anak-anakmu lho dek... Kalau ekonomi kakak baik, pasti mereka bertiga sudah kakak jemput, tapi kau tahu sendiri kondisi kakak di sini sulit, nanti nasib anak-anakmu malah akan menyedihkan seperti anak-anakku.]

Demikian pesan dari Kak Ita sehari setelah kematianmu.

Apa sebenarnya yang disembunyikan oleh mereka berdua sehingga tak mengungkapkannya padaku?

Ada apa dengan kedua orang tuaku sehingga Kak Ita juga menderita?

Saat aku hendak mencari tahu duduk perkara, namun sepertinya percakapan kalian banyak yang terhapus yang membuatku tak bisa mencari lebih jauh.

Kulihat Kak Ita sedang online dan tanpa menunggu waktu segera menghubunginya. Deringan pertama terlewat tanpa diangkat oleh Kak Ita, padahal tadi statusnya online, apakah kakak menghindariku? Aku berhak tahu yang terjadi! Selama ini aku sudah ditinggalkan dalam bayang-bayang, kali ini aku tidak lagi ingin dipermainkan.

Maka kucoba untuk menghubungi lagi, kali ini diangkat oleh Kak Ita.

“Halo, Kak! Assalamu’alaikum...!”

“Oh, Am... Mm, anak-anak bagaimana? Sehat? Maaf kakak tidak bisa melayat, keuangan kakak sedang tidak baik Am, semoga kamu mengerti. Tapi do’a kakak tak putus-putus untuk Mega, anak-anak dan juga kamu.”

“Tidak usah basa-basi kak, aku mau tahu yang sebenarnya terjadi. Sebenarnya ada cerita apa yang Kakak dan istriku sembunyikan?”

“Usah pikirkan Am... Fokuslah membesarkan anak-anak, mereka membutuhkan perhatianmu sepenuhnya setelah kehilangan sosok bunda mereka.”

“Gak bisa! Aku merasa bodoh selama ini, tak tahu apa-apa. Padahal ini menyangkut keluargaku sendiri.”

“Telat Am... Kemana saja kamu selama ini? Mega menanggung semua sendiri.”

“Kakak jangan ikut campur ya. Itu urusanku dengan Mega. Sekarang yang kita bahas adalah Ibu dan Bapak, ada apa dengan mereka? Mengapa mereka bisa merongrong Mega dan juga Kak Ita?!”

“Maaf Am, selama ini Kakak diam karena tak ingin membebanimu seperti yang Mega amanatkan, nantilah kita cerita jika suasananya sudah baikan ya Am. Kak Ita pasti akan membuka semua. Ah! Ada Bapak datang...! Kakak gak bisa ngomong panjang lebar, Assalamau’alaikum.”

Klik.

“Wa’alaikumsalam...”

Sambungan telepon diputus sepihak oleh Kak Ita. Bukan jawab yang kudapat, tapi justru tanda tanya besar di kepala. Sebenarnya ada apa, sih? Mengapa Kak Ita seperti takut terhadap Bapak?!

Dua tahun ke belakang aku memang tak pulang saat lebaran, karena biaya membawa tiga anak menyebrang pulau 2 kali itu sangat mahal. Jadi kami memilih untuk mengirimkan saja uang yang segunanya untuk ongkos. Itupun atas permintaanmu karena tak enak pada ibu.

Terutama saat ibuku cerita jika rumah kami di kampung dijadikan sebagai tempat untuk acara reuni bagi saudara dari pihak ibu dan juga bapak, sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jadi aku mengalah, memendam rindu demi situasi aman tentram.

Jadi, aku tak pernah tahu situasi di kampung halaman. Hanya kamu yang rajin mengabariku sekelebatan tentang kabar ibu dan bapak karena kamu masih rajin berkomunikasi dengan mereka.

Dulu, aku tak pernah sadar bagaimana ibu dan bapak memperlakukanku. Kini, setelah rahasia mereka terkuak baru aku menyadari bahwa mereka rajin menghubungiku hanya saat dekat tanggal gajian saja, dengan mengirimkan daftar kebutuhan rumah tangga yang sudah habis. Aku pun hanya menimpali dengan janji untuk segera mengirimkan jika uang gajiku sudah masuk.

Aku tahu jika kamu tak pernah mengetahui komunikasiku dengan ibu dan bapak karena password ponselku yang tak kamu ketahui.

Sekarang kupikir-pikir lagi, jadi aku berjuang untuk siapa? Siapa yang sebenarnya lebih berhak kupenuhi kebutuhannya lebih dulu? Kamu dulu kunikahi karena cinta, tapi mengapa aku bisa begitu jengkel akan tingkah-tingkah kecilmu saat telah resmi kujadikan istri?

Padahal pengabdianmu padaku selama ini tak pernah kurang.

Kuremas rambutku kasar, pening rasanya kepala mengolah informasi-informasi baru yang kuterima.

“Ayaaah... Adek Ali pup Yah... Maaf mas Azka belum berani bersihin, takut gak benar caranya...” Lapor Azka padaku dengan tampang takut-takut.

Aku merasa tertampar, mengapa ia berkata demikian? Itukan memang bukan tanggungjawabnya?

“Iya, nanti Ayah yang bersihin ya mas. Tunggu pusing Ayah reda sebentar.”

“Ayah... Ayah jangan sakit, jangan pergi ninggalin kita yaaa... Azka janji jadi mas yang baik untuk adik-adik dan bantu ayah menjaga mereka. Tapi ayah jangan pergi juga seperti bundaaa... Huwaaa...”

Tangis Azka, sulungku berderai, ia yang hatinya begitu lembut kini patah. Kurangkul ia cepat, mengusap-usap kepalanya. Hal yang tak pernah kulakukan dulu, dan ajaibnya justru sakit kepalaku kini yang hilang berganti dengan perih mengetahui rasa kehilangannya.

Lelaki sekecil ini sudah kehilangan sosok bunda, aku tak bisa bayangkan bagaimana perasaannya.

“Cup. Cup. Cup. Ayah gak papa mas, baik-baik saja. Mas sudah hebat, sudah bisa menjaga adik-adik, ayah sangat bangga sama mas, bunda pasti juga bangga. Kalau Azka bersedih, nanti bunda juga nangis di sana. Kita sama-sama ikhlas ya mas?”

Ia mengangguk patuh dan mengusap air matanya yang berlinang, kini tangisnya memang sudah reda. Tapi anakan sungai di pipinya tak jua surut. Aku ingat, setelah dua minggu kepergianmu, baru kali ini ia menangis lagi.

“Mas kangen bunda...” lirihnya berucap.

Duh, rasa sakit yang mengiris sembilu, lebih-lebih saat Rayi juga mengekor di belakangnya dan mengucapkan hal yang sama.

“Rayi juga kangen bunda...”

Adinda, lihatlah aku yang sejak kepergianmu berubah menjadi laki-laki cengeng yang gampang mengeluarkan air mata. Serapuh itu aku tanpamu, adinda. Tak kuasa aku mempraktekkan teori parenting yang menyarankan agar orang tua harus menjadi kastil kokoh untuk anak-anaknya.

Susah sekali mengontrol emosiku.

Padahal dulu, aku paling jengkel melihat air matamu, yang kehabisan kata-kata tiap kali aku mengabari hendak ngopi di tetangga.

Kamu melihatku yang berlalu dengan entengnya, tak melihat keadaanmu yang berdiri sambil menyusui Ali yang masih bayi, sembari ditariki oleh Rayi yang meminta perhatianmu. Pun juga teriakan Azka dari kamar mandi yang minta diceboki.

Dzalim, sungguh sangat dzalim memang suamimu ini, adinda...

Jika bisa kuputar waktu, aku ingin kembali tepat di hari pernikahan kita. Memperbaiki waktu demi waktu yang telah kubuang percuma tanpa memperhatikanmu.

Drrrt... Drrrt...

Mode getar di ponselku mengakhiri isak tangis mengharu biru antara aku, Azka dan Rayi.

Kulihat nama yang memanggil.

Deg!

Bapak mertua.

Beliau tak datang saat penguburanmu karena tak kuasa menanggung malu ditinggalkan oleh anak mereka dengan cara yang tragis. Kini, ada apa gerangan beliau menghubungiku?

“Assalamu’alaikum, Pak...”

“Wa’alaikumsalam. Amri, besok datang ke rumah. Bapak mau bicara.”

Klik.

Sambungan telepon diputus.

Singkat saja. Tapi mampu membuatku merasa bersalah dari nada bicaranya.

Pasrah, karena aku memang salah. Besok aku akan memenuhi permintaan beliau sembari membawa anak-anak. Semoga dengan hadirnya anak-anak mampu meluluhkan amarah beliau padaku.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED