Bab 1

Hari ini ulang tahunku yang ke delapan belas. Hadiah yang sangat aku dambakan adalah kehadiran Papa. Sudah setahun Papa mengurus proyek di Kalimantan. Semalam Papa menelepon akan pulang pagi hari ini. Namun, hingga hari menjelang sore, sosok yang dinantikan kehadirannya belum juga tampak.

Aku berjalan mondar mandir dari ruang TV ke teras. Berbagai kemungkinan terlintas dalam pikiranku. Mungkin Papa batal datang. Atau, pesawat yang ditumpangi Papa mengalami masalah. Tidak! Semoga itu tidak terjadi.

Sudah hampir jam lima sore, tapi Mama tidak ikut cemas sepertiku. Mama duduk di depan TV menyaksikan drama India di salah satu TV swasta. Sepertinya artis-artis berwajah tampan itu lebih berarti dari kehadiran papa.

"Daripada mondar mandir, mending ke kamar dan tidur. Mungkin Papa batal datang," ujar Mama santai.

"Mama nggak cemas? Kalau Papa batal datang gara-gara ditahan istri mudanya, gimana coba?"

Mama memukul kepalaku dengan remote yang dipegangnya. Padahal aku hanya bercanda. Mama memang tidak bisa diajak bercanda jika menyangkut istri muda.

"Sassy ke kamar. Kalau papa batal datang, Sassy tak akan memaafkannya." Aku melangkah naik ke lantai dua. Kubuka pintu kamar dan segera menghempaskan tubuh di atas tempat tidur. Semoga papa tidak seperti lagu dangdut yang sering dinyanyikan Bi Ina—Bang Toyib.

Aku mengambil ponsel, lalu menyumbat telinga dengan earphone. Lagu-lagu ceria menjadi pilihanku untuk mengusir kegalauan memikirkan Papa. Mataku terpejam, kepala bergoyang-goyang mengikuti irama.

Beberapa menit kemudian, pipiku ditepuk pelan oleh telapak tangan yang kasar. Aku membuka mata dan menemukan Papa sedang tersenyum hangat. Kulepaskan earphone dan membuangnya sembarangan. Aku bangun dan memeluk laki-laki paruh baya kesayanganku.

"Papa membuatmu cemas?" tanya Papa setelah aku melepas pelukan. Keningku dikecup.

"Sassy pikir Papa batal datang."

"Papa sengaja." Aku menyipitkan mata. Papa memencet hidungku. "Turun, yuk! Ada hadiah untuk putri Papa yang pesek."

Hidungku tidak pesek. Papaku suka mengatakan sesuatu hal yang berkebalikan. Badanku kurus dibilang gemuk. Rambutku lurus dipanggil kribo. Pipiku tirus dikata tembem. Papa memang aneh.

Papa merangkul bahuku dan melangkah ke ruang tamu. Di sana sudah ada seorang laki-laki yang berdiri membelakangi kami. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Dia sedang memandangi lukisan keluargaku yang terpajang di dinding.

"Tio!" Papa memanggilnya pelan. Dia menoleh. "Ini Sassylia, putri saya."

"Hai!"

Dia mengulurkan tangan sambil tersenyum, tapi aku tak menyambut uluran tangannya. Bukan sok alim, tapi pesonanya membuatku lupa berkedip dan menyapa. Bagaimana aku bisa berkedip, jika makhluk Tuhan di depan ini teramat memesona. Mata cokelat terangnya mengingatkan aku pada seseorang, tapi tidak tahu siapa. Aku juga tidak peduli. Hidungnya terlalu mancung untuk ukuran orang Indonesia, mungkin dia berdarah campuran. Cambang halus di rahangnya yang kokoh. Lalu, bibirnya... Astaga! Kenapa pikiranku jadi mesum saat melihat bibirnya? Terbayang kiss scene dalam drama Korea

Apa dia hadiah ulang tahunku? Oh, Tuhan! Kembalikan kesadaranku. Aku memang tergiur oleh pesonanya, tapi kalau dia merupakan hadiah ulang tahun, mungkin Papa sudah gila. Papa tidak mungkin menjodohkan aku dengan laki-laki ini. Lalu, aku akan dinikahkan dengannya setelah tamat dari SMA. Oh, tidak! Aku tidak suka kisah cintaku muluk seperti itu.

Lamunanku buyar saat papa menarik tanganku dan duduk di sampingnya. Laki-laki itu juga ikut duduk di sofa lain yang berhadapan dengan kami. Senyuman tak lagi menghiasi bibirnya. Aku menarik napas, lalu merunduk. Apa kelakuanku barusan membuatnya enek? Semoga saja tidak.

"Silakan!"

Aku mendongak melihat Mama yang meletakkan dua cangkir di atas meja. Ini kebiasaan Mama, tidak pernah mengizinkan Bi Ina membuat teh untuk Papa. Setelah itu Mama ikut duduk di sampingku.

Papa mengambil teh menyuruputnya. Begitu pun laki-laki itu. Lalu, Papa mengusap punggung tanganku. Aku dapat mendengar tarikan napasnya yang berat.

"Apa Mama dan Sassy setuju jika Tio tinggal di sini?" tanya papa.

"Dia tinggal bareng kita, Pa?" tanyaku riang. Itu artinya aku bisa melihatnya tiap hari. Aku menggigit bagian bawah. Aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

"Dia akan tinggal jika kalian setuju. Papa tidak maksa."

"Aku setuju," jawabku cepat. Tapi ... "Arrght!!!" Aku mengusap paha yang baru dicubit mama.

"Kenapa harus tinggal di sini?" tanya Mama tanpa peduli padaku yang memandang kesal padanya.

"Wasiat neneknya. Dia tidak punya keluarga lagi. Selama di sana, neneknya selalu baik pada Papa. Kalau Mama tidak setuju, izinkan dia menginap malam ini saja. Besok Papa akan bantu dia cari tempat tinggal."

"Bukan gitu, Pa. Dia laki-laki, sedangkan Papa tidak bersama kami di sini." Mama memberi alasan yang masuk akal. Apa kata tetangga nanti.

"Papa tidak kembali lagi ke Kalimantan. Proyek di sana sudah selesai."

Mataku melebar. Aku memeluk Papa dan berteriak gembira. Mama kembali mencubitku, kali ini pinggang yang jadi korban.

"Apaan sih, Ma? Ini hadiah ulang tahun yang paling indah. Jangan melarang Sassy berbahagia. Oke?" ujarku tanpa melepas pelukan.

"Papa masih punya hadiah yang lain." Papa melepas pelukanku dan mengambil sesuatu dalam dompetnya. "Nih! Kunci mobil."

"Sassy belum bisa nyetir dan belum ada SIM" Aku menerima kunci dengan bibir cemberut. Bukankah selama ini papa selalu melarangku belajar menyetir. Katanya tidak akan mengizinkan aku menyetir, tapi kenapa memberi hadiah mobil. Mungkin setahun di Kalimatan membuatnya mengubah keputusan.

"Papa tidak mengizinkanmu menyetir sendiri. Inilah fungsi Tio di sini. Dia akan selalu mengantar kemana pun kau pergi."

Astaga!

"Maksud Papa dia jadi sopir di sini?" Papa malah menjewer telingaku. Apa yang salah dengan pertanyaanku? Kalau dia yang menyetir berarti dia sopir, kan? Kenapa Papa menjewer telingaku.

"Papa sudah anggap dia seperti anak sendiri. Itu artinya dia kakakmu."

"Oke." Kakak ketemu besar bisa dipacarin, kan? Aku melihat ke arah laki-laki itu. Dia menyunggingkan senyuman tipis.

"Jadi, gimana? Apa Mama masih keberatan?" tanya Papa pada Mama lagi. Semoga Mama setuju. Kalau pun mama tidak setuju malam ini, aku akan merayunya nanti. Apa pun caranya, Mama harus setuju laki-laki itu tinggal di sini. Dan, anggukan kepala Mama membuatku berbinar.

Besok aku pasti jadi pusat perhatian di sekolah. Teman-teman yang centil akan iri padaku. Di depan Papa aku pasti menganggapnya sebagai kakak, tapi bersama teman-teman akan kukenalkan sebagai tunangan. Dan, dia harus menurutiku. Bagaimana pun caranya nanti.

"Sekarang kamu antar dia ke kamar di samping kamarmu. Lalu, kalian bersiap-siap kita akan makan malam di luar."

Aku berdiri dan mengajak laki-laki itu. Dia berdiri dan menyeret kopernya mengikuti langkahku. Kami naik ke lantai dua dalam diam. Apa dia pendiam, ya? Okelah, aku yang akan agresif kalau dia hanya diam. Tiba di depan kamar, aku membuka pintunya dan menyilakan dia masuk. Aku tetap berdiri di samping pintu. Dia melangkah mendekat, lalu menarik tanganku masuk ke dalam kamar.

Dadaku bergemuruh. Mataku terbelalak, tak percaya dengan sikapnya yang tak terduga. Padahal aku pikir dia pendiam dan pemalu. Nyatanya, dia berani menarikku. Sepertinya aku telah tertipu oleh pesonanya. Lihatlah sekarang, dia malah memojokkanku. Kedua tangannya menumpu di dinding, mengunci pergerakanku. Matanya memandangku tajam.

"Kau terpesona denganku?" tanyanya bangga. Aku hanya mampu menelai air liur. Aku tak sanggup berkata-kata dengan jarak wajah sedekat ini. Napasnya terdengar jelas di telingaku. "Wajahku memang layak dipandang hingga liurmu merembes."

Aku mendorong dadanya, tapi ia bergeming. Ini di luar kemungkinan yang aku pikirkan. Dia ternyata lebih percaya diri dari yang aku bayangkan.

"Aku mau mandi. Seharusnya kamu juga." Sekali lagi aku mencoba mendorongnya.

"Baiklah!" Dia meniup wajahku. Aku meremang. "Kita lanjutkan setelah wangi."

Dia membukakan pintu dan menyilakan aku keluar. Saat aku melangkah keluar, dia meremas pantatku. Aku berbalik ingin menamparnya, tapi dia sudah menutup pintu. Oke, aku cabut semua perkataan tadi. Dia memang tampan, tapi kelakuannya munafik. Bagaimana mungkin dia begitu pendiam di hadapan Papa, lalu berubah menjadi laki-laki mesum saat sendiri. Tuhan, lindungi aku. Mungkin besok hari-hariku akan suram. Aku memang menginginkannya, tapi bukan seperti ini.

Bab 2

Sekali lagi aku menarik rasa terpesona pada laki-laki bernama Tio. Semalam dengan beraninya dia masuk ke kamarku setelah Papa dan Mama tidur. Ketika aku hendak berteriak, dia membekap mulutku. Katanya, dia hanya ingin mengucapkan selamat tidur. Katanya lagi, dia tidak tertarik dengan gadis bertubuh kurus dan berdada rata sepertiku. Kurang ajar! Dadaku rata karena masih dalam masa pertumbuhan.

Hari ini dia akan mengantarku ke sekolah. Dengan sikapnya yang manis, dia membukakan pintu mobil bagian depan. Aku malah membuka pintu belakang tak peduli padanya.

Mobil melaju menembus jalanan yang belum terlalu padat. Aku pura-pura sibuk membaca novelnya Tere Liye. Aku tak lagi berminat dekat dengan si Tio. Tidak mungkin juga aku ingin dia pergi dari rumah kami. Bukankah kemarin aku yang paling bahagia dengan keputusan Papa.

"Kenapa cemberut? Gadis cantik itu harus selalu tersenyum, biar kecantikannya semakin terpancar," ujarnya memecah keheningan.

Entah kenapa kupingku jadi panas. Aku malas mendengar ocehannya. Pokoknya, rasa terpesonaku kemarin telah berubah menjadi rasa jijik. Rupa itu memang memesona, tapi sikap kurang ajarnya membuatku muak. Aku ingin mengadu pada Papa. Namun, urung karena katanya Papa tidak mungkin percaya dengan kata-kataku. Iya juga, sih. Semalam pas makan di resto, dia bisa membuat Mama yang baru kenal tersanjung padanya. Nah, apalagi Papa yang sudah mengenal lama.

Aku mendesah kesal. Andai tidak ada larangan membawa ponsel ke sekolah, pasti akan kusetel lagu-lagu happy, dan menyumbat telinga dengan earphone. Sayangnya, ponsel yang kuharapkan menemani perjalanan ini tersimpan manis di laci meja kamar.

Mobil berhenti di depan gerbang sekolah, tapi aku memintanya masuk ke dalam. Hari ini aku ingin memberinya pelajaran. Dia menuruti, lalu memarkirkan mobil di tempat parkir.

"Bukain!" perintahku sok arogan. Dia keluar dan membukakan pintu mobil. Sebelum keluar, kumasukkan novel ke dalam tas dan mengeluarkan buku Biologi.

"Silakan Putri berdada rata!"

Aku turun dan memandang kesal padanya yang sedang tersenyum usil. Setelah dia menutup pintu, aku menyandarkan tubuh ke badan mobil. Dengan sikap sok galak, aku pura-pura sibuk membaca . Dia juga ikut melakukan hal yang sama.

"Sassy!" Aku menoleh ke asal suara. Zara berjalan mendekatiku. Di belakang Zara juga ada Kalina bersama tiga temannya. Mereka memandang ke arah kami dengan rupa yang sok imut. Aku tahu mereka terpesona dengan Tio. Semoga mereka mendekati kami. Dengan begitu, aku bisa mempermalukan laki-laki kurang ajar ini?

"Dia siapa, Sy?" tanya Zara berbisik di telingaku.

Pertanyaan Zara tidak kujawab. Aku melirik ke arah Tio yang mengumbar senyum pada Kalina dan tiga temannya. Mereka mendekati Tio, mengulurkan tangan mengajak kenalan. Tidak lupa dengan sikap centil mereka yang membuatku enek.

"Hentikan kecentilan kalian!" Mereka menatap padaku, termasuk Tio dan Zara. "Dia memang ganteng, tapi ganteng aja nggak cukup. Dia tuh cuma sopir. SOPIR. Dia cuma numpang hidup di keluargaku."

Mata Tio melebar. Seperti dugaanku, senyumannya seketika lenyap. Dia menatap tajam padaku. Sedangkan aku tersenyum penuh kemenangan. Aku mengambil kunci mobil dari tangannya dengan mudah, lalu mengajak Zara ke kelas. Akan kubiarkan dia menunggu hingga pulang sekolah.

"Kamu bukan Sassy yang aku kenal," protes Zara. Sudah kuduga dia akan memberi nasihat panjang lebar. Jadi, sudah kusiapkan jawaban untuk membantahnya.

"Memangnya apa yang salah dengan profesi sopir?" lanjut Zara. "Bagiku, yang penting dia adalah laki-laki yang mau bekerja. Kamu harusnya ..."

"Dia udah kurang ajar padaku, Zara." Aku menyela sebelum nasihat Zara melebar kemana-mana. "Awalnya aku terima dia dengan baik. Udahlah, nggak usah bahas dia. Aku sedang emosi jiwa. Jangan menambah kekesalanku."

🍂🍂🍂

Pukul empat belas tiga puluh bel pulangan berbunyi. Zara dengan cekatan menarik tanganku agar segera keluar dari kelas. Dari tadi dia juga bawel karena aku tak menawari Tio makan siang. Dia sendiri yang membeli makanan, lalu mengantar pada laki-laki berambut ikal itu. Bahkan dia menghabiskan jam istirahat bersama Tio. Huh, kesal

Saat aku dan Zara tiba di tempat parkir, Kalina dan tiga temannya sudah ada di sana. Seperti biasa, Kalina tidak berhenti berbicara. Namun, Tio tak pedulikan ocehannya. Laki-laki berengsek itu malah asyik dengan ponsel-nya.

"Sy, boleh aku numpang sampai halte depan?" tanya Zara ragu-ragu. Aku menggeleng. Senyum Zara lenyap di bibir tipisnya.

"Aku ngantar kamu sampai rumah, Zara." Gadis itu berbinar. Ia berlari mendekati mobil.

"Minggir! Kami mau pulang." Kalina menatap kesal pada Zara. Apalagi senyum Tio mengembang saat melihat Zara. Dia membukakan pintu depan untuk gadis itu. "Nggg ... aku di belakang aja."

Tio mendorongnya masuk. "Nyonya muda menolak duduk di depan."

Aku membuka pintu belakang, lalu menutupnya dengan kasar. Tidak lupa wajahku diubah seganas mungkin. Zara menoleh, menatapku sejenak. Kepalanya menggeleng pelan, tapi tak mengatakan apa-apa. Kemudian dia menghadap lagi ke depan.

"Di mana alamatmu, Ra?" tanya Tio saat mobil mulai melaju.

"Walaupun dia bilang, kamu nggak mungkin tahu jalannya," jawabku meremehkan. "Jalan aja! Ntar diarahin."

"Saya memang tidak tahu, tapi sekarang zaman sudah canggih, Nyonya muda," balas Tio dengan menekankan kata Nyonya muda. Zara tertawa mendengar jawaban Tio dan menganguk setuju. Aku mendengus sebal. Kualihkan pandangan ke luar melalui jendela. Berharap gedung-gedung dan pohon perdu di tepi jalan menjadi sesuatu yang indah untuk dipandang.

Sepanjang perjalanan Zara dan Tio asyik berbagi cerita. Sesekali Zara tertawa terbahak-bahak saat mendengar cerita Tio yang lucu. Cerita laki-laki berengsek itu memang lucu, tapi tidak mungkin aku ikutan tertawa. Yang bisa kulakukan hanya diam meskipun kemarahan sedikit meluap.

"Di kampung kami, ada seorang ibu ditinggal mati suaminya. Saat di pemakaman, si ibu tak berhenti menangis. 'Biarkan aku ikut dengannya. Aku tak tahan hidup sendiri.' Begitu kata si ibu sambil berusaha masuk ke liang kubur. Orang-orang sibuk menahan tubuh si ibu. Ustadz yang mengurus jenazah jadi marah. Dia meminta orang-orang melepaskan si ibu. Tidak usah ditahan, biarkan dia masuk menemani suaminya. Seketika si ibu berhenti menangis, lalu pulang menahan malu."

Hampir saja aku ikut tertawa bersama Zara yang terbahak. Kutarik napas yang dalam, lalu mengembuskan perlahan. Cerita lucu memang selalu membuatku tertarik. Namun, acara humor di TV Indonesia rata-rata membuatku mual. Candaan para pelawak itu tidak jauh-jauh dari hinaan dan sindiran tak bermoral. Juga, laki-laki yang memakai pakain perempuan. Mungkin menurut orang lain lucu, tapi bagiku itu lelucon murahan.

Mobil berhenti di depan rumah sederhana yang asri, rumah Zara. Sahabatku itu melepas seatbelt, lalu keluar dari mobil. Aku melakukan hal yang sama. Pulang bersama Tio bukan menjadi tujuanku sekarang. Aku ingin di sini, bersama Zara. Biarkan si Tio-Tio itu pulang sendiri.

"Kamu pulang aja. Aku masih main di rumah Zara. Ntar aku pulang naik taksi," ucapku datar.

"Tidak, Nyonya muda. Saya akan tunggu. Saya tidak mungkin pulang sendiri," bantahnya seraya keluar dari mobil.

Aku memandang nyalang padanya. Dia menatapku tanpa senyum. Zara mendekat. Dia menepuk pelan bahuku.

"Aku setuju dengan Kak Tio. Biar dia nunggu di dalam aja. Yuk!"

Aku berbalik dan memandang tajam pada Zara. Tanganku terkepal. Bibirku terkatup. Gigi-gigiku bergemelutuk. Rahangku mengeras. Napasku berpacu. Hatiku semakin kesal. Zara mengernyit dan menggaruk kepalanya.

"Ya udah, ajak dia masuk dan ngobrol sepuasnya," kataku dengan kasar, lalu berjalan menjauhi mereka. Kenapa Zara tidak mengerti? Aku ingin laki-laki itu pulang karena tak ingin melihat rupanya. Kenapa Zara berharap si berengsek itu masuk ke dalam rumahnya? Padahal aku ingin cerita tentang betapa munafiknya si Tio.

"Sassy!" Zara mengejarku. Aku terus berjalan tak menggubrisnya. "Aku nggak ngerti, deh. Kenapa kamu marah banget ama Kak Tio? Padahal dia baik banget, lho."

Aku berhenti melangkah. Kutatap wajah sang sahabat dengan mata nyalang. "Iya. Dia memang baik. Baik banget hingga Zara yang aku kenal bertahun-tahun, lebih memilih laki-laki berengsek itu daripada teman sendiri."

"Bukan gitu, Sy. Oke, aku tahu pasti ada sesuatu yang salah. Apa yang sudah dia lakukan hingga membuat temanku ini marah-marah?"

"Bukankah kamu lebih asyik ngobrol dengannya? Lanjutin aja! Nggak usah sok peduli padaku." Zara menahan tanganku saat aku hendak melangkah pergi. Aku tepis tangannya, lalu menyetop ojek yang kebetulan lewat. Tidak kupedulikan Zara yang berteriak memanggil.

Selama enam tahun bersahabat dengan Zara, tak pernah kami bertengkar. Walaupun aku sering kesal padanya karena hobi sekali memberi petuah seperti nenek. Meski rambutku sering dijambak karena suka usil, tidak pernah aku berteriak seperti tadi.

Aku menghapus air mata yang menetes. Kenapa aku harus marah-marah pada Zara yang tidak mengerti apa-apa. Yang Zara tahu, Tio itu baik karena tak berlaku kurang ajar padanya. Sikap Tio pada Zara sama seperti sikapnya pada Mama dan Papa.

Aku ingin meminta maaf pada Zara. Aku ingin merengkuh ke dalam pelukannya yang hangat. Aku ingin menceritakan penderitaan ini semenjak ada Tio. Dia sahabatku yang selalu siap mendengar segala keluhan. Kehadirannya sudah seperti alat serbaguna.

Nanti saja di rumah, aku akan meneleponnya dan meminta maaf. Sekarang aku ingin menjauh dari laki-laki kutu kupret itu. Aku ingin cepat-cepat tiba di rumah, lalu masuk ke kamar dan mengunci pintu. Aman. Dia tidak mungkin mencongkel grendelnya, kan?

Kenapa ada manusia seperti Tio. Munafik. Bermuka dua. Memang, tidak ada manusia yang sempurna—satu sisi baik dan sisi lainnya buruk. Masing-masing manusia memiliki kedua sifat itu. Bagaimana kita menyikapi dengan menonjolkan bagian yang ingin dikenali orang. Jika ingin jadi jahat, tonjolkan sifat kejahatan yang ada di dalam dirimu. Sebaliknya, jika ingin menjadi baik, maka seharusnya tampilkan sisi kebaikannya.

Sebuah mobil berwarna merah semakin mendekati ojek yang kutumpangi. Itu mobilku. Laki-laki berengsek itu memaksa si tukang ojek menepi. Dia turun dari mobil, memberikan selembar uang sepuluh ribu pada tukang ojek, lalu menarik tanganku mengikutinya.

Bisakah kalian menelpon Thor? Aku ingin meminjam palunya. Kepala laki-laki bernama Tio ini minta digetok.

Bab 3

Sepanjang jalan kami hanya diam. Aku terus menatap keluar, masih menahan kesal. Hingga mobil akhirnya berhenti di garasi rumah. Aku keluar lalu membanting pintu mobil. Tio yang sudah keluar memandang tajam padaku.

Apa pedulinya? Bukahkah ini mobil dari Papa untukku? Suka-suka pemiliknya dong. Terserah mau kuapakan mobil ini. Dia tidak pantas memberiku tatapan tajam seperti itu.

Aku berjalan melewatinya yang masih berdiri memandangku. Dengan sengaja aku menginjak kakinya yang hanya memakai sandal. Aku menyeringai mendengarnya meringis.

"Papa?! Kok udah pulang?" Aku mengernyit melihat Papa berdiri di teras. Matanya memerah melihat ke arahku. Aku yakin, Papa melihat tindakanku tadi.

"Masuk! Papa mau bicara." Terdengar nada kemarahan dalam intonasinya. Ketakutan tiba-tiba menyergapku. Kenapa Papa marah? Apa karena aku menginjak kaki Tio? Tidak mungkin. Lagi pula, sejak kapan Papa marah-marah dengan perkara sepele seperti ini?

Aku berjalan gontai dalam kebingungan dengan sikap Papa. Tiba di ruang tengah, sudah ada Mama yang duduk di sana. Kutanyakan Mama dengan isyarat mata. Mama hanya mengangkat bahu, tidak tahu. Papa dan Tio berjalan bersisian. Mereka melangkah ke arah aku dan mama. Papa merangkul bahu Tio. Mereka terlihat lebih akrab dari yang aku bayangkan. Perlakuan Papa pada Tio, seperti ayah dan anak.

"Sassy, kenapa kamu sengaja membuat Tio menunggu?" Papa memulai introgasi setelah duduk di sofa yang sama dengan Tio. "Dia bisa jalan-jalan selama kamu belajar. Kenapa kamu sengaja membawa kunci? Dia bukan kacungmu. Dia bagian dari keluarga kita."

Aku menarik napas berat, lalu merunduk diam tak menjawab pertanyaan Papa. Percuma saja aku cerita tentang alasan melakukan itu. Seperti kata Tio, Oapa tidak mungkin percaya.

"Sassy, Apa kupingmu tuli? Atau, mulutmu minta dijahit?" Aku mendongak dan menatap kesal pada Tio. "Besok Papa tidak mau hal ini terulang. Ingat, ya! Dia bukan budak di rumah kita. Dia bagian dari keluarga kita."

Nada bicara papa yang kasar mengiris hatiku. Tega-teganya Papa bicara kasar padaku demi laki-laki bermuka dua ini. Baru kali ini Papa berkata kasar padaku. Aku mengerjap, menahan air mata yang hendak menetes. Kutarik napas perlahan.

"Baiklah, Pa. Berikan saja mobil itu padanya. Dia bisa jalan-jalan kapan pun dia mau. Enggak perlu repot-repot ngantar aku. Masih banyak bus yang bisa aku tumpangi," ucapku datar seraya melangkah menjauh, menaiki tangga.

"Sassy, Papa belum selesai bicara."

Teriakan papa tidak kuhiraukan. Air mataku sudah menetes. Rasanya perih. Kenapa Papa bicara kasar padaku. Selama ini Papa selalu bersikap lembut. Kesalahanku tidak diselesaikan dengan teriakan, tapi dengan nasihat bijak yang penuh kelembutan.

Siapa laki-laki itu? Kenapa Papa membelanya sedemikian rupa. Apa dia anak Papa yang lain? Astaga! Kenapa aku berpikir seperti itu. Jika dia anak Papa dari perempuan lain, artinya Papa selingkuh. Bagaimana cara selingkuhnya? Jarak umurku dengan Tio mungkin hanya beberapa tahun. Aku belum tahu pasti berapa usianya. Kira-kira dua puluh tiga tahun, kalau tidak salah tebak. Masa papa sudah punya anak yang lain sebelum kehadiranku. Astaga! Kenapa aku malah mikir seperti ini?

"Pa, Sassy tidak salah. Saya yang salah karena membuatnya marah."

Aku berhenti melangkah saat mendengar suara berat Tio. Apa dia akan mengakui sikap kurang ajarnya? Semoga setelah itu papa menendang pantatnya.

"Tidak usah membela dia Tio. Kamu bukan kacungnya dia."

Percuma. Papa sudah terinfeksi virus munafiknya si Tio. Papa sudah yakin kalau dia laki-laki baik yang tidak mungkin berbuat jahat. Lebih baik masuk ke kamar dan tidur. Tidak ada gunanya  menangisi nasib. Kukunci pintu kamar, lalu menghempaskan tubuh di atas tempat tidur. Biasanya Papa akan datang dan merayuku bila sedang kesal seperti sekarang. Kali ini aku yakin, Papa tidak akan melakukan itu lagi.

Entah sudah berapa lama aku tertidur. Kamar yang tadi masih terang sudah menjadi gelap. Artinya sekarang sudah malam. Aku terbangun karena mendengar suara panggilan Mama. Aku tahu Mama tidak ikut berkata kasar, tapi tetap saja tidak kujawab panggilannya. Kalau aku membuka pintu untuk Mama, pasti ada Papa. Pokoknya aku tidak ingin bertemu Papa sebelum Papa datang dan merayuku seperti biasa.

Tak ada suara panggilan Mama. Mungkin bosan karena aku diamkan. Beberapa saat kemudian, pintu kembali digedor. Kali ini suara Papa yang terdengar memanggilku. Aku tersenyum senang, tapi masih tetap diam. Sebelum Papa merayuku, pintu tidak akan kubuka.

"Sayang, buka pintunya! Papa minta maaf, Anak jelek. Jangan suka ngambek ntar jerawatan, lho."

Senyumku mengembang. Kubukakan pintu dan mendapati Papa berdiri di depan. Tangan kanannya memegang piring berisi nasi dan lauk. Sedangkan tangan kiri memegang segelas air.

Tio menghampiri kami. Dia mengambil alih bawaan papa. "Biar saya saja, Pa. Ayo, Pesek. Aku suapin."

Hah? Kenapa dia mirip Papa? Sudah tahu hidungku mancung, kenapa memanggil pesek. Bibirku kembali cemberut. Papa mencubit pipiku kemudian beranjak pergi, meninggalkan aku yang masih berdiri di depan pintu. Tio sudah masuk.

Ketika melihat aku masuk, Tio menepuk lantai di sampingnya. Dia memintaku duduk melantai. Dengan wajah yang masih kesal, aku menuruti perintahnya.

"Kamu belum pernah makan sambil duduk melantai begini, kan? Coba, deh. Makan dengan melantai seperti ini lebih nikmat."

Aku hanya diam mendengarnya. Tatapan tajamku padanya membuat dia berhenti mengoceh. Hanya ada senyum jahil di bibirnya.

"Mulutmu ember juga, ya? Ngapain ngaduh ke Papa segala. Kayak anak kecil," ujarku geram. Dia menggaruk kepalanya, lalu mendengus.

"Tadi pukul satu papa telepon, ngajak makan siang bareng. Masa aku harus pergi dengan taksi? Terpaksa aku cerita sejujurnya."

Aku membuang muka mendengar penjelasannya. Bukankah dia munafik? Kenapa sulit baginya berbohong pada Papa. Seharusnya dia bisa memberikan alasan yang lain, kan?

"Aku minta maaf atas sikap tidak sopan yang kulakukan padamu. Maafin aku, ya! Aku janji tidak akan mengulang lagi." Dia menangkupkan kedua tangannya di dada, memohon.

"Nggak percaya!" bantahku singkat.

"Terserah. Yang penting aku sudah minta maaf. Kamu bisa memberiku hukuman sesuka hatimu," ujarnya tanpa memandang padaku.

Aku diam, memikirkan hukuman yang pantas untuknya. Seru juga kalau bermain-main. Dia sudah bersedia dihukum. Hukuman apa, ya kira-kira. Oke, mikir Sassy.

"Apa kamu bersedia jadi pesuruhku?" tanyaku ragu. "Nggak pakai ngaduh ke Papa, ya!"

Dia tertawa terbahak-bahak. "Aku tidak mengaduh, hanya berkata jujur."

"Apa kamu sedang memproklamirkan bahwa kamu orang yang jujur? Kalau gitu, jujurlah! Apa kamu sudah biasa berlaku kurang ajar pada perempuan?" tanyaku lagi.

Dia merunduk, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Helaan napasnya terdengar berat. Kemudian dia mendongak dan menatapku.

"Kamu makan dulu, deh!" serunya sambil mengarahkan sendok yang sudah terisi ke mulutku. Aku menggeleng.

"Jawab dulu!"

"Kamu orang pertama," jawabnya tanpa ragu. "Maafin aku. Entah kenapa tiba-tiba muncul keinginan untuk jahilin kamu. Aku takut banget kalau kamu ngaduh."

Aku melihat mata cokelatnya yang berair, mencoba mencari kebenaran di sana. Kenapa matanya berair? Apa dia laki-laki cengeng. Ah, memalukan.

"Lupain aja. Aku pegang janjimu, tidak mengulang lagi," kataku mengakhiri perseteruan kami. "Apa kamu bersedia jadi pesuruhku?"

"Apa pun itu, Nyonya muda."

Aku tersenyum licik. "Tugas pertama, suapin aku!"

"Dengan senang hati, Nyonya muda."

Dia menyuapiku dalam diam. Aku mengajaknya bicara, tapi dia melarang. Katanya, boleh berbicara asalkan mengenai pujian terhadap makanan. Juga, memuji Tuhan yang telah menganugerahkan makanan tersebut. Jadi, aku memilih diam.

"Aku mau mandi. Ntar aku panggil lagi, ya!" Dia mengangguk, lalu berdiri. Aku menahan tangannya. "Maafin aku, ya!"

"Untuk apa?"

"Pokoknya kamu maafin aku, aku maafin kamu. Okey?" Aku masih memandang wajahnya yang sendu. "Mau jadi temanku?"

Dia mendongak dan menyambut uluran tanganku. Senyumnya kembali tersungging.

"Teman tapi mesra. Boleh dicoba."

Aku melotot. Dia terbahak dan berlari keluar.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Rumit

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED