Bab 1

Seorang pemuda berusia 27 tahun tengah berjalan menelusuri perkebunan sawit milik PT. Nusa Bahtera yang berada di wilayah Kalimantan Selatan. Pemuda itu berpawakan tinggi tegap berkulit putih dan rambut cepak rapi. Sepintas mirip aktor korea Lee Min Ho.

Bagas Surya Atmaja namanya, aslinya orang Jawa dan lulusan S1 Biologi. Dalam perusahaan ia menjabat sebagai tenaga ahli dalam urusan riset dan pengembangan teknologi. Tugasnya adalah memastikan kualitas sawit yang digunakan untuk produksi, bagus.

"Bagas." Seorang wanita cantik memanggilanya.

"Kenapa Na? Ada masalah sama hasil lab minyak sawit kita?" tanyanya dingin.

"Oh enggak. Aku cuma mau ngajak kamu jalan-jalan. Mau ya?"

"Oh sorry, aku udah ada janji sama Ricky nanti malem. Kita ada urusan penting."

"Kamu tuh ya. Apa sih yang kurang dari aku?" Gadis bernama Nana mulai tersulut emosi.

"Aku ini cantik, langsing, putih dan anak orang kaya juga. Jangan lupa papahku salah satu dewan direksi di perusahaan. Bisa pecat kamu kalau kamu menolak aku."

"Terserah. Coba saja kalau berani. Akan aku pastikan nama baik perusahaan ini hancur. Jangan lupa aku punya kartu AS papah kamu," sinis Bagas.

"Dasar cowok guy. Sana pergi saja sama pacar cowokmu itu." Ungkap Nana benar-benar emosi.

"Kalau kamu gak tahu apa-apa, diem! Dan jangan bikin gosip ngaco. Atau aku laporin tingkah kamu di club sama papah kamu. Biar papah kamu tahu seberapa liar putrinya di luaran sana." Bagas kemudian pergi meninggalkan Nana.

"Brengsek kamu Bagas, lihat aja aku bakalan dapetin kamu." Teriak Nana frustasi.

****

Di sebuah rumah kontrakan yang berisi lima anggota laki-laki dimana dua orang tampan nan rupawan, dua orang biasa saja dan satu orang sangat-sangat biasa.

Kelimanya adalah perantauan dari luar Kalimantan. Ada Ricky dan Bagas yang berasal dari Jawa. Zidan dari Palembang, Hasan dari Padang dan Mateo dari Papua. Saat ini mereka sedang makan bersama sambil lesehan. Sesekali mereka mengobrol dan tertawa jika ada hal yang lucu.

"Kenapa kau Ky, muka kau pucat sekali?" Tanya Mateo yang paling tua disini. Mereka kompak memanggilnya abang padahal mateo orang Papua.

"Aku lagi dilema Bang, mau ngajuin mutasi ke Jawa atau enggak." Jawab pemuda bertubuh tinggi atletis berkulit eksotik khas lelaki Jawa.

"Kenapa galau? Kalau betah disini ya disini aja kalau mau balik Jawa ya balik Jawa aja. Repot sekali kau ini," ucap Mateo.

"Makanya aku bilang juga apa Ky, udah kamu nyari istri orang sini aja. Toh perawan Kalimantan cantik-cantik. Gak bakalan galau kamunya," sambung Zidan.

"Macam kalian semua tak tahu saja kalau Ricky ini gak mungkin nikah sama perempuan. Orang pacarnya Bagas. Ya kan Gas?"

Serempak semua orang tertawa. Iya karena Ricky dan Bagas sahabat karib yang sering bersama. Sama-sama tampan, mapan dan rupawan sekaligus sama-sama suka nolak perempuan. Jadilah ada gosip kalau mereka pasangan sejenis.

"Astaga Dan! Aku sama Ricky masih normal kali. Ampun deh, siapa sih yang nyebarin gosip enggak bener tentang kami? Udah lah Ky nikah kamu sana biar aku gak dicap homo lagi gara-gara kamu gak kawin-kawin." Bagas menyahut dengan santai.

"Enak aja, kenapa harus aku? Kamu aja yang nikah sana sama si Nana. Bukannya dia yang ngejar-ngejar kamu ya." Ricky tak mau kalah.

"Halah gak usah pada rebutan sapa yang mau kawin duluan. Aku yang bakalan kawin duluan. Soalnya lamaranku untuk Syarifah sudah diterima." Hasan yang awalnya diam akhirnya bersuara.

"Serius?" tanya keempatnya kompak.

"Seriburius. Bulan depan kita kawin," sambung Hasan.

"Alhamdulillah."

****

Bagas beberapa kali menyulut rokok namun baru menghisap sebentar langsung dimatikan. Terus berulang-ulang sampai habis setengah bungkus rokok.

Seseorang menepuk bahunya. Ia menoleh dan melihat Ricky sudah duduk disampingnya. Mereka menatap malam di bawah langit Borneo.

"Kasihan rokoknya. Kalau gak mau dihisap kasihkan ke yang lain aja. Kamu kan bukan perokok." Ricky memulai percakapan.

"Kamu mau?" Bagas menyerahkan bungkus rokoknya.

"Ckckck. Aku kan bukan perokok. Amnesia ya kamu," ucap Ricky sarkas.

Bagas hanya terkekeh mendengarnya.

"Ada masalah?" Ricky memasang muka serius.

"Seminggu ini aku mimpi ayah dan ibuku terus. Ayah melambaikan tanganku terus. Beliau berdiri di gerbang masuk rumah Eyang. Sedang ibu selalu terlihat menangis. Ada apa ya?" Bagas mulai bercerita.

"Aku bukan penafsir mimpi. Jadi aku gak tahu artinya," jawab Ricky.

"Kamu masih belum move on dari Lily?" Tanya Bagas mengalihkan pembicaraan.

"Gak akan pernah bisa Gas. Kadung bucin aku sama dia." Ricky tersenyum.

"Ckckck. Kayak gak ada cewek lain aja." Bagas menyeringai.

"Gak usah sok ngomongin move on sama aku kalau kamu sendiri malah lebih parah dari aku. Mending aku kangen sama mantan pacar tapi masih single. Lah kamu? Kangen sama istri orang. Lebih baik yang mana hayo?" Ricky tak mau kalah.

"Sial." Umpat Bagas sambil memukul lengan sahabatnya itu.

"Padahal udah 5 tahun Ky, aku masih gak bisa ngilangin rasa cintaku sama dia," ungkap Bagas.

"Apa yang kamu suka dari Seruni?"

"Entahlah. Hanya saja tingkah lakunya yang lemah lembut bikin aku teringat sama ibuku."

"Hem ... kamu melihat sosok ibumu dalam dirinya. Bukankah ibumu meninggal saat usiamu 10 tahun?"

"Iya. Aku mengenalnya saat aku mulai tinggal sama Eyangku. Pembawaannya yang anggun, tutur katanya yang halus dan hanya dia yang mau berteman denganku. Disaat semu keluarga menolakku. "

"Hati sangat rumit. Sebuah organ yang isinya tak bisa dihitung pakai ilmu apapun." Pikiran Ricky mulai menerawang jauh kepada seorang gadis cantik, mantan pacarnya.

"Mending kamu urus mutasimu Ky. "

Ricky menatap sahabat baiknya. Keningnya mengerut.

"Paling gak, di Jawa ada kedua orangtua yang menyayangimu. Walau mungkin kamu gak bisa balik sama Lily masih ada orangtua yang bisa kamu perjuangkan kebahagiaannya. Jangan sampai kamu nyesel kalau mereka udah gak ada. Aku bahkan gak tahu wajah ayahku karena beliau meninggal sebelum aku lahir. Ibu pun menyusulnya saat usiaku baru 10 tahun. Aku bahkan belum bisa membuatnya bangga." Bagas menghembuskan nafas pelan setelah mengucapkannya.

"Lari untuk menjauh ternyata belum pasti berhasil. Lihat saja kita berdua, mau lari sejauh apapun ternyata ujung-ujungnya mentok sama mantan," lanjut Bagas.

"Gagal move on." Kompak keduanya.

Keduanya tertawa miris mengingat kisah percintaan masing-masing. Lalu mereka beralih topik pembicaraan. Berusaha menghilangkan kesedihan masing-masing karena gagal move on dari pujaan hati. Memang benar ternyata melarikan diri dari masalah belum tentu adalah jalan terbaik. Mungkin dengan menghadapinya justru cara yang lebih jitu untuk move on.

Bab 2

Hentakan suara musik mengalun memekakkan gendang telinga. Hampir semua orang baik lelaki dan perempuan berbaur tanpa etika. Belum lagi bau minuman beralkohol yang mengganggu indera penciuman.

Seorang pemuda terlihat muak karena harus berada di tempat ini. Kalau bukan karena urusan pekerjaan malas sekali rasanya, dia menginjakkan kaki di tempat maksiat seperti sekarang.

"Oke Pak Toro kita sepakat dengan kerjasama kita kan?" ucap seorang pria berusia tiga puluh lima tahunan. Feri namanya.

"Saya sepakat. Pokoknya masalah pembukaan perkebunan baru, beres. Anda tinggal tunggu kabar baik dari saya," ucap Pak Toro.

Keduanya bersalaman. Setelah itu, Pak Toro menghampiri beberapa wanita penghibur dan asik bermain dengan mereka. Huh, dasar bos-bos perut gendut doyan perempuan! Umpat Bagas dalam hati.

Feri heran dengan raut muka Bagas.

"Kamu kenapa Gas, kecut amat mukanya." Feri memecah kebisuan diantara mereka.

"Kenapa sih Bang, harus ketemuan di tempat kayak gini? Kenapa gak di cafe atau restoran aja?"

"Hahaha. Kamu ini ya, udah lima tahun kerja disini gak tahu aja kelakuan bos-bos besar. Ya kayak gitu itu. Pak Toro contohnya."

"Ckckck. Besok-besok Bang Feri jangan ajak aku. Ajak orang lain. Pokoknya aku gak mau ikut lagi."

"Ah, sok suci kau Gas. Kelamaan gaul sama para ASN sok suci jadi kamu ikut-ikutan sok suci."

"Aku gak sok suci, Bang. Gak suka aja, aku ke tempat kayak gini. Dan jangan bawa temen-temen kontrakanku, Bang. Aku malah senang gaul sama mereka. Mereka itu gak banyak ulah." Memang semua teman kontrakan Bagas adalah ASN. Ricky guru SMA, Hasan di departemen pertanian, Zidan perawat di sebuah puskesmas sedangkan Mateo di dinas ketenagakerjaan.

"Hahahaha. Terserah kamu lah Gas. Pokoknya kita disini dulu sampai Pak Toro pergi."

"Astaga Bang, Pak Toro aja udah sibuk sendiri noh disana ngapain ditungguin? Kayak kita kurang kerjaan aja," sewot Bagas.

"Pokoknya kita tunggu beliau sampai keluar!" tegas Feri.

Tak berselang lama, seorang wanita cantik dengan rambut sebahu bergelombang. Menggunakan gaun panjang sexy yang menampakkan bahu mulusnya. Bahkan terdapat salah satu belahan gaun sampai ke paha kanan wanita tersebut. Jangan lupakan bibir tipis namun menggoda yang terpoles lipstik warna merah. Wanita itu menaiki panggung hiburan.

Sang biduan naik ke atas panggung mulai memperdengarkan suara emasnya. Suaranya begitu indah dan mempesona. Hampir semua lelaki yang memandangnya akan berkata kalau dia sangat cantik pun demikian dengan Bagas. Bagas sering berjumpa dengan wanita cantik tapi entah kenapa wanita ini sangat cantik. Bahkan Seruni saja yang menurut Bagas cantik, kalah cantik dengan sang biduan. Mau tak mau Bagas terhanyut oleh suara merdunya sedang matanya tertawan akan paras cantiknya. Hingga tak mampu berkedip sekalipun.

"Primadona sini itu." Seorang pria yang duduk tak jauh dari Bagas berbicara.

"Mawar namanya. Cantik ya," sahut temannya.

"Wah. Aku mau kenalan ah."

"Jangan mimpi kamu, dia itu kelasnya bos-bos besar bukan kacung macam kita."

"Ah. Sialan!" makinya.

Bagas hanya mendengarkan saja tanpa berniat ingin tahu lebih lanjut. Tapi tatapannya masih tertuju pada sang Mawar yang menjadi primadona bernama club 'Borneo Rasta'.

"Ternyata pria sok alim ada disini juga." Sinis suara perempuan. Nana begitu cemburu karena melihat Bagas tengah menatap sang biduan dengan tatapan terpesona. Sedang pada dirinya Bagas selalu menatapnya dingin.

Bagas tak mau menggubris wanita yang malam ini berbaju kurang bahan yang bahkan mengekspos d*da dan pahanya. Matanya tak pernah lepas dari sang biduan.

"Ckckck. Munafik kamu Gas."

"Lalu kamu apa, hem? Kalau aku munafik kamu sendiri apa?"

"Kamu ...." Nana mulai tersulut emosi.

"Beb. Kamu disini rupanya." Seorang laki-laki menghampiri Nana. Bahkan tanpa malu mencium pipinya.

"Halo Beb. Aku udah nunggu kamu." Ucap seorang lelaki berperawakan tinggi besar.

"Hai Beb, iya aku nunggu kamu. Yuk ah kita kesana aja." Ajak Nana sambil memeluk mesra pinggang teman lelakinya. Tak lupa memandang sinis ke arah Bagas.

"Dasar cewek gak bener!" umpat Baga.

***

"Ayolah Sayang, pergi sama saya ya? Kamu mau apa pun, aku kasih."

Nampak seorang bos besar tengah mencoba merayu sang biduan. Dan kegiatan mereka terekam oleh Bagas yang tengah berjalan menuju mobilnya.

"Maaf Pak Sanjaya tapi hari ini saya sibuk. Bapak tenang saja hubungi saya lagi kapan-kapan. Oke," ucap sang biduan dengan genit.

"Baiklah demi kamu Sayang." Ucap Pak Sanjaya sambil mengecup tangan sang biduan.

Kemudian pak Sanjaya berlalu menuju ke dalam club. Sedang raut muka sang biduan yang awalnya tersenyum manis langsung berubah sinis.

"Dasar tua bangka gila!" umpatnya pelan.

Sang biduan langsung bergegas ke mobilnya. Bahkan dengan sedikit berlari tanpa melihat dari arah samping kanannya Bagas berjalan dengan menunduk. Mereka akhirnya bertabrakan.

"Aw ... punya mata gak sih?" umpat sang wanita kasar.

"Situ yang gak punya mata." Bagas menjawab dengan tak kalah kasar.

Tampan. Mirip Lee Min Ho. Batin sang wanita merasakan kekaguman pada sang pria. Sang pria pun tak kalah terpesona pada wanita di depannya, cantik mirip Song Hye Kyoo, sexy lagi. Cukup lama mereka terdiam saling mengagumi dalam hati.

"Minggir!" Akhirnya sang wanita berkata kasar.

"Jalanan lebar. Kamu cukup geser bisa kan?" Bagas tak kalah kasar.

"Kenapa gak kamu aja yang geser?"

"Dasar gak punya etika. Sok cantik. Gak minta maaf lagi, udah tahu situ yang nabrak saya."

"Emang aku cantik. Semua orang juga tahu. Dan ngapain minta maaf, orang kamu juga salah. Jalan kok lihatnya kebawah." Sang biduan tak mau kalah.

"Ada apa Mawar?" Seorang pria lemah gemulai mendekat ke arahnya.

"Gak papa Bang. Udah yuk pulang," ajak Mawar.

"Oke Cin..Eh  ada abang ganteng. Boleh kenalan gak?"

Iwan nama pria itu. Ia langsung mendekati Bagas dan menoel dagunya. Bagas tentu saja syok dibuatnya.

"Jangan pegang-pegang!" bentak Bagas.

"Eleh-eleh si abang. Udah cakep, sangar lagi. Tipe aku banget," ucap si lemah gemulai, Iwan.

"Najis!" umpat Bagas.

"Hahahaha. Udahlah Bang, pulang yuk. Ngapain Abang main-main ma tuh cowok. Palingan serdadunya juga cepet KO."

"Eh, kamu! Bilang apa kamu? Dasar cewek murahan!"

"Aku emang murahan. Kenapa emangnya? Situ pengin nyoba main sama saya. Oke, tapi tarifku mahal."

"Cih ... jijik aku. Mending aku kelon sama kambing daripada sama kamu."

"Brengsek kamu!" Mawar mulai emosi.

"Apa?!" Bagas tak kalah emosi.

Kedua orang itu masih adu mulut di parkiran.

"Oke stop-stop. Udah yuk Cin kita pulang aja. Dah ganteng." Iwan mencubit gemas perut Bagas.

Bagas melotot marah sekaligus jijik. Dalam hati Bagas berjanji tidak akan mengunjungi tempat ini lagi dan semoga tidak ketemu dengan cewek itu lagi.

Bab 3

"Sepi banget Bang. Pada kemana?" Bagas baru sampai kontrakan.

"Kamu tahu sendiri, Hasan udah pindah ikut Syarifah, Ricky sibuk ngurusi mutasi, Zidan sibuk pedekate, ya cuma kamu sama abang yang free," ucap Mateo.

"Hahaha. Benar juga ya Bang. Bagas masuk dulu ya. Mau mandi."

"Oke. Mandi yang harum. Lumayan siapa tahu dirimu diapelin sama nyamuk betina. Hahaha.

Mateo tertawa sedangkan Bagas hanya geleng-geleng kepala. Bagas lalu masuk ke kamarnya, membersihkan badan dan berbaring. Melepas lelah setelah seharian bekerja.

Bulan-bulan ini Bagas sangat sibuk karena akan ada pengujian produk dari dinas kesehatan dan BPOM. Sebagai tenaga bagian riset dan teknologi, Bagas harus menyiapakan segala hal agar kualitas produk sesuai standar mutu. Pekerjaannya menjadi semakin menumpuk karena kemarin ada beberapa kesalahan dalam pelabelan waktu uji coba jadi Bagas dan timnya harus mulai menguji dari awal lagi.

Rasa lelah yang tak tertahankan akhirnya membawanya ke pulau mimpi. Dalam tidurnya Bagas tersenyum, entah dia sedang bermimpi apa hanya Bagas yang tahu.

***

"Aduh!" pekik Bagas karena terkena pintu mobil yang tiba-tiba terbuka.

"Makanya kalau jalan jangan ngelamun."

"Kamu lagi. Dasar cewek gak punya etika!"

"Dan kamu pria dingin arogan," balas Mawar.

Mereka lagi-lagi adu mulut tak peduli banyak pasang mata yang tengah melihat mereka di sebuah mall terbesar di kota provinsi.

"Gas, udah cukup. Ayok katanya mau cari HP," ajak Ricky. Ricky mengulas senyum tipis pada Mawar. Mawar tersenyum balik.

Mereka pun berpisah. Selama menuju kedalam mall, Bagas terus saja ngomel-ngomel tak jelas. Ricky hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah lakunya.

Setelah menemukan apa yang mereka cari. Mereka tengah duduk di bagian foodcourt.

"Gas, aku cari toilet dulu ya?"

"Oke." Ucap Bagas, tapi matanya tak mau lepas dari Hp.

Ricky menuju arah toilet, sampai disana dia mendengar kegaduhan di dalam sana. Ingin berusaha membantu tapi urung ia lakukan, akhirnya dia bersembunyi di balik dinding.

"Ckckck. Kamu tuh ya. Kenapa gak hati-hati sih Cin? Coba kalau kamu diapa-apain ma ni orang." Seorang lelaki berpembawaan kemayu namun saat ini terlihat garang baru saja memukul tengkuk lelaki yang ingin berbuat kurang ajar.

"Maaf Bang, aku kurang hati-hati," jawab wanita cantik penuh penyesalan.

"Udah abang bilang jangan pergi sendirian. Kalau mau pergi minta tolong sama abang atau minta ditemani sama Bara."

Sang wanita hanya menangis terisak. Akhirnya kemarahan Iwan surut dan kembali menjadi pria kemayu dan memeluk Mawar dengan penuh kasih sayang.

"Cup cup cup. Udah Cin ... gak papa. Gak usah nangis."

"Bang, Nawang capek, Nawang pengen pulang ke Tasik,Bang. Nawang pengen jadi orang biasa aja kayak dulu, Nawang kangen sama Bapak dan Ibu. Hiks ... hiks."

"Kamu tahu ini susah. Bos besar bakalan marah, kamu itu sumber uangnya. Lagian lunasi dulu tuh utang kamu! Ingat perjanjian kamu sama tuh lelaki."

"Nawang pengen pulang Bang. Nawang takut gak bisa jaga diri. Kalau ada Abang, Abang bisa jagain Nawang. Tapi kalau ada orang jahat kayak gini lagi gimana Bang? Nawang gak mau kehormatan Nawang diambil sama yang gak berhak Bang. Nawang emang banyak dosa. Tapi Nawang gak mau Zina."

"Udah kita pergi dulu aja dari sini ntar kalau ada orang lihat, kita bisa kena masalah. Kita pasti jadi tersangka utama karena ada di sekitar orang mati 'kan gawat. Yuk, pergi!"

"Tapi itu orang gak mati 'kan Bang?"

"Alah mati pun gak masalah, malah jadi mengurangi penjahat kelamin."

"Hahaha. Abang bisa aja."

"Udah ayok kita cepet pergi dari sini, mumpung  masih sepi. Dan hei kamu yang bersembunyi di pojok situ, kalau mau selamat jangan kasih tahu siapapun apa yang lihat dan dengar sama siapapun. Mengerti?"

Ricky terkejut karena ketahuan mengintip. Dia memilih menganggukkan kepala dan pergi menjauh. Bukan. Bukan karena takut adu fisik dengan Iwan. Dia cuma agak risih dengan penampilan Iwan yang ... hiiii ... bias gender. Raga pria tapi tampilan seperti kaum hawa, bagi Ricky itu lebih menakutkan daripada ketemu malaikat Izrail.

"Lama bener Ky," celetuk Bagas.

"Habis antri banget."

"Owh. Habis ini mau kemana?"

"Temani aku ngecek bengkel dulu ya?"

"Oke. Sekalian aku mau nengok kebun aku juga."

Mereka pun meninggalkan mall dan segera menuju tempat tujuan selanjutnya.

***

Hari ini pembukaan PT. Nusa Bahtera di Pontianak. Bagas akhirnya dipindahkan juga ke cabang ini. Sebenarnya Bagas tidak rela berpisah dengan teman satu kost-nya. Tapi mau bagaimana lagi, hidup terus berputar. Tak terasa satu tahun telah berlalu lagi. Genap 6 tahun 6 bulan dia di bumi Borneo.

Zidan sudah menikah dan membeli rumah Ricky. Bang Mateo sebentar lagi juga menikah. Ricky sudah balik ke Jawa dan sepertinya sedang asik liburan ke Pangandaran. Beberapa kali dia mengirim fotonya selama di Pangandaran. Ckckck. Pantas Ricky gagal move on, orang Lily itu cantik sekali. Bagas tersenyum melihat foto dua gadis dan satu lelaki. Dia yakin Lily itu yang ada di tengah karena tatapan mata sahabatnya begitu penuh cinta ke arahnya.

"Dasar bucin kau Ky." Bagas kemudian terkekeh.

Perhatian Bagas dari ponsel teralihkan ketika mendengar suara sang pembawa acara.

"Mari kita sambut sang biduan kita ... Mawar!" seru sang pembawa acara.

Seorang wanita cantik berpenampilan sexy melangkah menuju panggung. Dia mulai menyanyikan lagu dengan sepenuh penghayatan. Meski Bagas tidak menyukai wanita itu tapi mau tak mau dia memang mengakui pesona sang biduan. Tatapan matanya pun tak pernah bisa lepas dari sang biduan.

Di ujung meja lain. Nana menahan cemburu melihat tatapan Bagas pada sang primadona. Nana benci akan hal itu, karena Nana tak pernah mendapatkan tatapan kekaguman seperti itu dari Bagas.

"Kamu harus jadi milik aku Bagas. Bagaimana pun caranya," ucap Nana dengan senyum jahat.

Tepuk tangan disertai dengung pujian menyertai langkah Mawar yang tengah turun dari panggung.

"Gas."

"Pak Adi."

Kedua lelaki itu berjabat tangan kemudian ngobrol dalam satu meja.

"Gimana Gas di tempat baru? Betah?"

"Betah Pak."

"Syukurlah. Ngomong-ngomong kamu udah punya calon belum?"

Bagas memilih tersenyum dan tak menanggapi omongan Pak Adi.

"Kalau belum, anakku masih berharap sama kamu loh?"

Lagi, Bagas memilih tak menanggapi. Kedatangan para petinggi perusahaan menyelamatkan Bagas dari cecaran Pak Adi.

Bagas memincingkan matanya, karena melihat sosok wanita yang selalu membuatnya emosi jika bertemu sedang berjalan menuju ke mejanya.

"Kita gabung ya Pak Adi, Bagas."

"Iya, Pak."

Para petinggi itu membicarakan banyak hal. Termasuk Bagas pun ikut dalam obrolan. Sesekali pandangan mata Bagas dan Mawar bertemu namun mereka saling melengos. Mereka bahkan mampu berakting baik-baik saja.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED