“Happy Birthday, Rosemary-ku. Semoga kamu semakin cantik, sehat, banyak rezeki, dan sayang sama aku,” ujar suara seorang laki-laki di telepon.
Rosemary tersenyum senang. “Thank you, Wen,” balasnya dengan hati berbunga-bunga. “Tumben ngucapin selamat ulang tahun pagi-pagi begini. Biasanya tepat jam dua belas malam.”
“Sori, Sayang,” kata Owen mengungkapkan penyesalannya. “Aku ketiduran tadi malam. Capek sekali seminggu terakhir ini pulang malam terus karena memberikan les privat tambahan. Mau nolak nggak enak. Murid-muridku bergiliran mau ujian bahasa Mandarin. Aduh, guru les privatnya yang pusing kalau begini! Hehehe….”
“Pusing sekarang tapi hepi belakangan kan, Yang,” sindir gadis itu. “Nambah jadwal les berarti kan nambah pemasukan. Hehehe….”
Si pemuda tertawa keras. “Semua itu kulakukan kan buat masa depan kita, Rosemary-ku. I love you so much, tahu!” sergah laki-laki itu merayu.
“Gombal! Lagu lama.”
“Biar lama tapi tetap merdu, kan? Hahaha….”
Rosemary tertawa mendengar gurauan tersebut. Orang yang meneleponnya adalah Owen, pemuda tampan yang menjadi kekasihnya selama enam tahun terakhir. Mereka berkenalan semenjak gadis kelahiran kota Balikpapan, Kalimantan Timur itu duduk di bangku kuliah di kota Surabaya ini.
Owen adalah seniornya di kampus namun di jurusan yang berbeda. Pemuda itu mengambil jurusan Sastra Tionghoa atau Mandarin, sedangkan Rosemary menekuni jurusan Manajemen Pemasaran. Pemuda itu jatuh hati pada gadis cantik berambut hitam lurus panjang dan berkulit putih bersih itu semenjak melihatnya pertama kali saat orientasi mahasiswa baru.
Setelah melakukan pendekatan beberapa bulan dengan rutin mendatangi rumah kos Rosemary yang terletak persis di depan kampus, akhirnya pemuda berpostur tinggi tegap itu berhasil menaklukkan hati gadis pujaan hatinya tersebut. Hubungan mereka melewati pasang-surut sebagaimana kisah asmara anak muda pada umumnya.
Namun semenjak Owen lulus sebagai sarjana, ia mengambil keputusan untuk benar-benar serius pada Rosemary. Selain bekerja sebagai guru privat bahasa Mandarin bagi murid-murid SD hingga SMA, pemuda itu juga mencari nafkah sebagai penerjemah novel-novel dan games Cina. Pekerjaan kantoran sama sekali tidak menarik minatnya, meskipun tak sedikit perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja yang mahir berbahasa Mandarin.
Rosemary sendiri tidak merasa keberatan dengan profesi kekasihnya itu. Bahkan dia merasa kagum karena penghasilan yang diperoleh Owen setiap bulan melebihi pendapatannya sebagai sekretaris direktur pemasaran di sebuah showroom mobil terkemuka!
“Rose,” ucap Owen selanjutnya. “Nanti malam kamu mau kuajak makan di mana?”
Gadis itu terkekeh. Begitulah kebiasaan sang kekasih. Tak pernah memberi kejutan yang romantis bagi pasangannya. Dahulu Rosemary suka mempermasalahkan hal itu. Dia iri pada teman-temannya yang sering mendapatkan surprise dari kekasih mereka. Entah itu candle light dinner yang romantis ataupun kado yang spesial.
Tapi Owen tak pernah sekalipun melakukannya. Pemuda itu merasa lebih suka bertanya dulu pada kekasihnya mau makan di mana ataupun dibelikan kado apa. “Daripada kamu nantinya nggak suka dengan makanan ataupun kadonya, kan lebih baik aku menanyakannya dulu padamu,” kata pemuda itu beralasan setiap kali pacarnya komplain.
Sejalan dengan lamanya masa pacaran mereka, Rosemary akhirnya dapat menerima kelebihan dan kekurangan Owen apa adanya. Mungkin lebih baik begini, batin gadis itu berbesar hati. Tak ada kejutan yang menggembirakan maupun menyedihkan. Jadi semuanya transparan dan tak ada benih-benih kecurigaan sama sekali di antara kami berdua.
“Aku lagi pengen makan masakan Korea,” aku gadis itu berterus terang. “Ada restoran Korea baru buka di X-Mall.”
“Ok, deh. Nanti jam enam petang kamu kujemput di kos, ya. Sekarang aku mau lanjutin nerjemahin novel online bahasa Mandarin dulu. Kamu hati-hati berangkat ke kantor, ya. Bye.”
“Bye.”
Rosemary mematikan sambungan teleponnya. Dilihatnya jam di ponselnya menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit. Masih ada waktu empat puluh lima menit lagi untuk pergi ke kantor tempatnya bekerja dengan mengendarai mobil Expander hitam miliknya. Mobil itu dibelikan ayahnya dua tahun yang lalu sebagai hadiah ulang tahunnya. Menggantikan Toyota Avanza-nya yang sudah dipakainya semenjak duduk di bangku kuliah.
Ayah Rosemary adalah seorang pengusaha yang cukup sukses di Balikpapan. Toko bahan bangunan yang dimilikinya termasuk yang terbesar kedua di kota itu. Rosemary dan kedua adik perempuannya tak pernah mengalami kesulitan finansial semenjak lahir. Ibunya pun hidup bahagia sebagai seorang ibu rumah tangga yang sesekali datang ke Surabaya untuk berfoya-foya.
Sebenarnya ayahnya pernah menawari putri sulungnya itu untuk dibelikan sebuah rumah di kota Surabaya sehingga Rosemary dapat tinggal lebih nyaman. Namun gadis yang pada dasarnya lebih suka hidup sederhana itu menolak dengan halus.
“Biaya perawatan rumah kan nggak murah, Pa,” elaknya waktu itu. “Sayang kalau cuma dihuni Rosemary. Kalau dibikin kos-kosan nanti ribet ngurusnya. Rose lebih suka ngekos aja, Pa. Praktis, nggak repot.”
Sang ayah terpaksa mengikuti kehendak putri tertuanya itu. “Ya sudah. Tapi kamu tetap harus menerima mobil yang Papa belikan ya, Rose. Surabaya itu kota besar. Pergi kema-mana lebih leluasa naik mobil sendiri.”
Begitulah akhirnya Rosemary terpaksa menerima mobil Avanza yang dibelikan sang ayah. Pada zaman itu belum ada taksi online. Masih taksi komersial biasa yang tarifnya mengikuti argo dan kalau macet bisa tinggi sekali biayanya.
“Ah, sudah waktunya berangkat kerja,” kata gadis itu pada dirinya sendiri.
Dia lalu bangkit berdiri dari kursi meja riasnya dan melangkah ke arah pintu. Tiba-tiba terdengar ponselnya berbunyi nyaring tanda ada telepon masuk. Dibacanya nama yang tertera pada layar: Mama.
Gadis itu tersenyum. Kini giliran ibunda tercinta yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Diterimanya telepon tersebut dan menyapa ramah, “Halo, Ma.”
“Rosemary!” seru sang ibu di seberang sana. Lalu terdengar suaranya menangis terisak-isak.
Gadis itu tersentak. Kenapa Mama menangis? pikirnya keheranan. Kan aku sedang berulang tahun!
“Ada apa, Ma?” tanyanya cemas.
“Papamu…papamu…sudah tidak ada, Nak!”
Rosemary terbelalak. Kerongkongannya tiba-tiba tercekat. Dia tak sanggup mengeluarkan kata-kata. Sementara itu sang ibu melanjutkan ucapannya, “Papa terkena serangan jantung. Mama, Oliv, dan Nelly langsung membawanya ke rumah sakit. Tapi…tapi rupanya Papa sudah tak tertolong….”
Air mata Rosemary jatuh bercucuran. Teringat olehnya sang ayah yang begitu menyayanginya selama ini. Lukman Laurens , pria bertubuh tinggi besar dan berkumis tipis yang suka berbicara keras namun memiliki hati yang teramat lembut. Pria yang selalu menggendongnya di atas bahu kekarnya semasa kecil. Pria yang dengan berat hati melepasnya kuliah di kota Surabaya karena diterima di sebuah universitas ternama dengan jalur prestasi….
Kenapa Papa pergi secepat ini? protesnya dalam hati. Kenapa?! Aku bahkan tak sempat melihatnya di saat-saat terakhir beliau. Papa….
Tangis gadis itu pecah. Hatinya hancur berantakan. Pria yang pertama kali dicintainya di dunia ini pergi untuk selama-lamanya….
***
Hari itu Rosemary terpaksa mengajukan cuti dengan alasan harus segera kembali ke kampung halamannya karena sang ayah meninggal dunia. Atasannya langsung mengizinkan.
Untunglah penerbangan dari Surabaya menuju Balikpapan hari itu masih ada. Dengan segera gadis itu memilih jam yang tercepat dan menunggu di ruang keberangkatan bandara. Saat itulah dia baru sadar belum menghubungi kekasihnya.
Diraihnya ponselnya dan diteleponnya pemuda berambut cepak ala tentara itu. Tangisnya tumpah-ruah seketika begitu menceritakan musibah yang dialami keluarganya. Owen merasa sangat prihatin mendengarnya.
“Sabar ya, Sayang. Percayalah Tuhan akan selalu melindungimu sekeluarga. Oya, kenapa kamu tidak mengajakku untuk menemanimu ke Balikpapan?”
Sang kekasih tercengang mendengarnya. Iya, ya, pikirnya heran. Kenapa aku tidak mengajak Owen?
“Aku, aku lupa. Sori. Mungkin karena terlalu sedih kehilangan Papa. Tapi, murid-murid les privatmu nanti bagaimana? Mereka kan mau ujian.”
“Aku kan bisa pergi sehari semalam saja, Yang. Hari ini pergi bersamamu, besok balik ke Surabaya.”
“Oh, iya ya. Sori. Aku benar-benar kalut, Wen. Sampai nggak kepikiran begitu.”
“Nggak apa-apa, Yang. Kalau begitu, besok saja aku pergi ke Balikpapan, ya. Nggak usah dijemput. Aku kan sudah pernah pergi ke rumahmu dua kali dulu. Masih ingat, kok.”
“Thanks, Wen. Untung ada kamu. Kalau nggak, aku pasti lebih sedih lagi.”
Terdengar suara terkekeh di seberang sana. “Aku akan selalu menyediakan bahuku untukmu, Rosemary Laurens. Bukankah itu yang selalu kulakukan setiap kali kamu cengeng karena inilah, itulah….”
“Hehehe…, aku kan cuma cengeng di depanmu saja, Wen.”
“Yup! Karena kamu seorang gadis yang kuat. Aku yakin kamu dan keluargamu bisa melalui cobaan ini dengan tegar. Percayalah, badai pasti akan berlalu.”
Rosemary mulai dapat tersenyum. Betapa kalimat-kalimat sang kekasih bagaikan air dingin yang menyegarkan perasaannya.
“I love you, Owen Tanoe,” ucap gadis itu sepenuh hati. Perasaannya tenang sekarang.
“I know, Rosemary Laurens,” jawab kekasihnya singkat.
Tiba-tiba terdengar suara di mikrofon bandara menyatakan bahwa penumpang penerbangan menuju ke Balikpapan agar segera bersiap-siap untuk berangkat.
“Wen,” kata Rosemary kemudian. “Aku harus antri ambil boarding pass sekarang. Kalau sudah sampai Balikpapan, kamu kukabari lagi, ya.”
“Ok, Sayang. Hati-hati. Selamat jalan,” jawab Owen penuh perhatian.
Dua puluh menit kemudian Rosemary telah berada di dalam pesawat yang siap membawanya ke kampung halaman tercinta. Biasanya dia pulang ke Balikpapan setahun dua kali, yaitu saat liburan Idul Fitri dan Natal.
Kepulangannya selalu disambut dengan tawa bahagia keluarganya. Namun kali ini akan berbeda. Suasana dukacita yang akan menyambut kedatangannya. Tiba-tiba gadis itu merasa takut. Takut sekali….
***
“Papamu kena serangan jantung karena tokonya disita oleh bank, Nak,” tutur Martha, ibu Rosemary, menceritakan hal-ihkwal berpulangnya sang suami. Air matanya jatuh bercucuran. Matanya mulai tampak bengkak akibat seharian menangis. Hari sudah malam dan mereka sudah pulang ke rumah.
Jenazah Lukman masih berada di rumah sakit. Besok pagi baru akan dipindahkan ke tempat persemayaman jenazah. Saat inilah Martha akhirnya mencurahkan segenap perasaannya pada putri sulungnya. Mereka berdua sedang bercakap-cakap di dalam kamar tidur Martha.
Rosemary yang melihat ibunya begitu terpukul tak sanggup berkata-kata. Dia sebenarnya kaget sekali mengetahui toko warisan kakeknya itu disita oleh bank. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah toko selalu ramai dan omzetnya besar? Bagaimana mungkin Papa mempunyai hutang yang sangat besar sampai-sampai tak mampu melunasinya?
“Papamu ternyata punya perempuan simpanan. Seorang janda muda beranak dua! Perempuan binal itulah yang menghabiskan uang papamu dengan kebiasaannya berjudi. Bahkan papamu sendiri akhirnya terjerumus dalam perjudian juga!”
Rosemary ternganga. Papa…Papa berselingkuh dan berjudi? Benarkah itu? Aku tak percaya sedikitpun!
Martha yang menyaksikan ekspresi wajah putrinya yang seakan-akan tak mempercayai ceritanya menjadi geram.
“Kenapa kamu memandang Mama seperti itu, Rose? Apa kamu nggak percaya sama cerita Mama barusan? Papamu memang berselingkuh, berjudi, dan entah melakukan perbuatan tercela apa lagi di luaran. Harta kita habis, Nak. Habis! Toko sudah hilang. Sebentar lagi rumah ini juga akan disita oleh bank. Kita cuma punya mobil truk dan Xenia. Dua buah mobil lainnya sudah dijual papamu untuk menghidupi perempuan jahanam itu!” seru wanita itu histeris.
Rosemary bagaikan sedang bermimpi. Benarkah semua yang kudengar ini? Papaku yang baik hati dan selalu melindungiku setiap kali dimarahi Mama…. Benarkah seorang Lukman Tanoe sanggup melakukan perbuatan-perbuatan sehina itu?
Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Muncullah sesosok gadis cantik yang tak lain adalah Olivia, putri kedua Martha. Dengan sikap lembut dia mendekati ibunya. Dipeluknya tubuh wanita yang berguncang-guncang itu saking terpukulnya.
“Mama jangan sedih terus,” ucapnya menghibur. “Sudah capek kan seharian mengurusi ini-itu. Waktunya beristirahat, Ma. Besok kita masih harus mengatur kepindahan jenazah Papa dari rumah sakit ke ruang persemayaman. Mama butuh tenaga yang kuat besok. Sekarang tidur, yuk. Mau ditemani Oliv-kah?” tanya gadis itu semanis madu.
Olivia memang serupa sekali dengan ibu kandungnya. Penampilannya begitu feminin dan mampu menunjukkan sikap empati yang besar kepada orang lain. Hobi mereka pun sama, yaitu memasak, berdandan, dan berbelanja. Oleh karena itulah hubungan Martha lebih dekat dengan putri keduanya ini dibandingkan dengan putri-putrinya yang lain.
Dia tak membenci Rosemary. Namun tema pembicaraannya dengan putri pertamanya itu seringkali tidak nyambung. Rosemary suka membaca buku. Hobi yang diwarisinya dari sang ayah. Hal yang bukan merupakan kegemaran Martha karena membaca terlalu lama seringkali membuat bahunya terasa penat. Sedangkan Nelly, si putri bungsu yang masih berusia lima belas tahun, dianggap Martha masih terlalu kecil untuk mengetahui permasalahan orang dewasa.
Kepada Olivia-lah wanita itu selalu mencurahkan perasaannya, baik suka maupun duka. Dan gadis itu menjalankan perannya sebagai pendengar dan penghibur yang baik bagi wanita yang melahirkannya itu. Oleh karena itulah dia tahu persis semua persoalan yang terjadi di antara kedua orang tuanya selama ini.
“Kakakmu tidak percaya dengan cerita Mama, Oliv,” kata sang ibu mengadu. “Dikiranya Mama mengada-ada. Kamu tahu sendiri kan, dia selalu lebih dekat dengan Papa dibandingkan Mama.”
Rosemary mendengus masygul. Lagi-lagi aku yang disalahkan, keluhnya dalam hati. Ya sudahlah, tak ada ruginya kali ini aku meminta maaf lagi seperti yang sudah-sudah.
“Rose minta maaf, Ma,” pinta gadis itu dengan raut wajah prihatin. “Rose bukannya tidak percaya dengan cerita Mama. Cuma Rose tak menyangka Papa sanggup melakukan hal sekeji itu.”
“Itu karena kamu selama ini selalu menganggap dirinya begitu suci bagaikan seorang dewa!” sergah ibunya kembali histeris. “Selalu Mama yang kamu anggap buruk dan membuat ulah. Padahal…padahal Mama sangat tertekan menjadi istri papamu selama bertahun-tahun ini!”
Tangisan Martha kembali membahana. Tiba-tiba kepala Rosemary terasa pening. Betapa ingin dirinya bertemu ayah tercinta saat ini. Meminta penjelasan dari mulut pria itu sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
“Maaf, Kak. Bagaimana kalau Kakak keluar dulu?” pinta adiknya dengan sorot mata memohon. “Mama sedang emosional saat ini. Biar kuhibur dan kutemani sampai Mama tertidur. Nanti aku akan menemui Kakak di kamar. Bagaimana?”
Rosemary mengangguk menyetujui saran Olivia. Adiknya itu lebih memahami diri Mama. Dia pasti takkan kesulitan menenangkan ibu mereka itu.
Dengan lunglai Rosemary bangkit berdiri dan beranjak meninggalkan kamar tidur yang luas itu. Saat melangkah menuju pintu keluar, dia melewati foto berukuran besar dan berpigura warna keemasan.
Foto pernikahan Papa dan Mama, batinnya pedih. Ia menggigit bibirnya. Siapa sangka perkawinan yang kelihatannya harmonis dari luar itu menyimpan rahasia yang tak terduga! Papaku yang baik hati, bagaimana mungkin dirimu sanggup menyakiti keluarga ini begitu rupa? Kauhancurkan kenangan baik dalam benakku tentang dirimu. Kukira kau pria yang sempurna. Takkan pernah mengecewakan istri dan anak-anakmu. Ternyata dirimu sama saja dengan pria-pria kaya lainnya yang mudah takluk oleh perempuan lain!
Apakah semua pria memang seperti itu? Lalu bagaimana dengan Owen? Apakah dia kelak juga akan mengkhianatiku seperti ayah kandungku? batin gadis itu pilu. Hatinya bagai tersayat sembilu mengetahui ayahnya tidak sesempurna yang dibayangkannya selama ini. Lukman Laurens, seorang pengusaha kaya yang cukup terpandang di kota Balikpapan. Beristrikan seorang wanita cantik yang memberinya tiga orang putri yang santun dan terpelajar. Ternyata malah dirinya sendiri sebagai kepala keluarga yang mencoreng-moreng nama baik keluarga mereka!
Pantas saja Mama tadi bersikeras untuk mengkremasi jenazah Papa saja, tidak menguburkannya sebagaimana tradisi keluarga kami, pikir Rosemary. Barangkali Mama masih dendam atas pengkhianatan suaminya.
Gadis yang luar biasa bersedih itu meninggalkan kamar orang tuanya dengan lunglai. Ia berjalan menuju kamar tidurnya sendiri. Dihempaskannya tubuhnya di atas tempat tidurnya yang besar. Air matanya tak henti-hentinya mengalir. Hatinya terluka sekaligus rindu sekali pada ayahnya.
***
Esok paginya Rosemary menjemput kekasihnya di bandara. Owen terkejut sekali melihatnya. “Kan aku sudah bilang, Yang. Nggak usah dijemput. Aku tak ingin merepotkanmu. Masih banyak hal yang mesti kamu urus, kan,” cetusnya seraya mengecup dahi gadis yang dicintainya.
Rosemary menatap pemuda itu sedih. “Hanya inilah kesempatanku bisa berduaan denganmu, Wen,” ucapnya pilu. “Ada hal penting yang harus kuceritakan.”
“Ok, deh, Sayangku. Sekarang kita langsung berangkat saja menuju rumahmu, ya,” ajak pemuda itu sembari menggandeng tangan kekasihnya.
Beberapa saat kemudian kedua insan itu telah berada di dalam mobil Xenia, satu-satunya kendaraan peninggalan Lukman Laurens disamping sebuah truk yang biasanya mengangkut bahan-bahan bangunan dagangannya.
Rosemary mengemudikan mobil berwarna silver tersebut sambil bercerita tentang ayahnya. Owen yang mendengarnya terkejut sekali. Dia pernah dua kali bertatap muka dengan ayah kekasihnya itu. Kelihatannya ia seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab. Tak dinyana laki-laki itu menorehkan luka yang begitu mendalam di hati istri dan anak-anaknya.
“Setelah Mama tidur kemarin malam, Oliv masuk ke kamarku dan menceritakan semuanya. Ternyata dia dan Mama pernah memergoki Papa sedang bergandengan tangan dengan seorang perempuan muda di mal sekitar enam bulan yang lalu. Ada dua anak kecil bersama mereka waktu itu. Mama langsung beringas dan mempermalukan mereka semua di depan umum.”
“Wah,” komentar Owen spontan. Malah bikin seluruh dunia tahu tentang perselingkuhan suaminya, batinnya.
Seakan dapat membaca isi hati sang kekasih, Rosemary mengangguk. “Begitulah Mamaku, Wen. Orangnya impulsif. Kalau ada apa-apa, jarang sekali bisa menyembunyikan dalam hati. Tak peduli mereka sedang berada di depan umum, ia melabrak perempuan itu. Berteriak-teriak, bahkan sempat menjambak rambut panjangnya.”
Owen geleng-geleng kepala. Kayak adegan dalam sinetron saja, komentarnya dalam hati. Pasti menjadi tontonan orang banyak. Untung nggak sampai viral.
“Sejak saat itu sikap Papa terhadap Mama berubah total. Dia yang sebelumnya selalu mengalah kalau bertengkar, selanjutnya tidak lagi. Bahkan Papa berani mengancam akan menceraikan Mama kalau masih mengungkit-ungkit tentang perselingkuhannya. Papa mengaku selama ini merasa tertekan dengan sifat Mama yang terlalu menuntut. Papa berusaha sabar menghadapi kecerewetan Mama demi anak-anak. Tapi karena sudah ketahuan berselingkuh, ya sudah. Papa tak segan-segan lagi membentak Mama jika diperlukan.”
Air mata Rosemary mulai mengalir. Sang kekasih menepuk-nepuk bahunya. “Nggak usah dilanjutkan. Lain waktu saja,” katanya bijak. Dihapusnya air mata kekasihnya dengan tisu.
Gadis itu menggeleng kuat-kuat. “Kalau tidak menceritakannya padamu sekarang, aku bisa gila. Tak seorang pun di keluargaku yang bisa mendengar curahan hatiku seperti kamu, Wen. Sungguh….”
“Ok, ok. Ceritakan semuanya padaku. Tapi kurasa kita harus mencari tempat pemberhentian dulu, Sayang. Aku kuatir kamu nggak fokus menyetir kalau begini. Aku takut….”
Brakkk! Tiba-tiba sebuah truk menabrak mobil Rosemary keras sekali dari depan. Kemudian semuanya menjadi gelap….
***
“Mama, lihat. Jari-jemari Kak Rose bergerak-gerak. Dia sudah sadar!” seru Olivia kegirangan. Gadis itu tengah menemani ibunya menjaga Rosemary di rumah sakit. Sudah lima hari kakaknya itu dirawat di ruang ICU akibat kecelakaan lalu lintas setelah menjemput Owen dari bandara.
“Rose, ini Mama,” kata Martha berusaha menyadarkan putri sulungnya. “Kamu sudah sadar, Nak?”
“Aaah…,” ucap Rosemary lirih. Pandangannya masih agak kabur. Kepalanya terasa berat sekali. Sekujur tubuhnya kaku. Tempat apa ini? batinnya penuh tanda tanya. Nuansanya serba putih bersih. Apakah aku sudah mati?
Difokuskannya pandangannya pada dua orang yang berada di depannya. “Mama…Oliv…,” ujarnya mulai mengenali ibu dan adik kandungnya.
“Puji Tuhan. Terima kasih, Yesus. Kau kembalikan anakku!” seru Martha penuh rasa syukur. Ekspresi wajahnya berseri-seri. Sementara itu Olivia tampak berkaca-kaca saking terharunya. Kakaknya sudah sadar kembali setelah sepuluh hari mengalami koma!
“Kak Rose,” katanya sambil tersenyum. “Syukurlah Kakak sudah sadar. Sebentar Oliv panggilkan dokter untuk memeriksa Kakak.”
Gadis itu lalu keluar meninggalkan salah satu bilik ICU tersebut. Beberapa saat kemudian dia sudah kembali bersama seorang dokter laki-laki setengah baya dan perawat. Olivia lalu mengajak ibunya keluar sebentar agar Rosemary dapat diperiksa secara menyeluruh.
“Mama senang sekaligus takut, Liv,” bisik ibunya saat mereka sudah keluar dari bilik tersebut. “Kakakmu rupanya masih ingat mobil yang dikemudikannya ditabrak truk. Dia tadi bertanya tentang Owen….”
Hati Olivia bagaikan melompat keluar rasanya. Aduh, satu persoalan baru selesai. Eh, masih ada masalah lain, keluhnya dalam hati. Bagaimana caranya menjelaskan pada kakaknya bahwa pacarnya langsung meninggal dunia di lokasi kejadian kecelakaan itu?
***
Tiga bulan semenjak tersadarnya Rosemary dari koma, dia dirawat secara intensif di rumah sakit. Patah tulang di sekujur tubuhnya pelan-pelan dipulihkan dengan obat-obatan maupun fisioterapi. Sedangkan kondisi psikisnya yang terluka akibat kematian kekasihnya mendapatkan perawatan dari psikiater.
Semula ibu dan adik-adiknya bermaksud menyembunyikan kenyataan tentang Owen. Namun pertanyaan Rosemary yang tak henti-hentinya akhirnya membuat Martha menjadi tak tahan dan mengatakan yang sejujurnya.
“Owen sudah meninggal, Rose. Tepat di lokasi kejadian kecelakaan itu.”
Rosemary menatap ibunya seperti melihat hantu. Hatinya terasa hampa. Beberapa saat kemudian gadis itu berteriak-teriak histeris, “Tidak mungkin! Owen belum mati! Dia berjanji selalu menjagaku. Menemaniku di saat suka dan duka. Mama bohong. Bohong!”