Bab 1

Bzztt.. Bzztt... Bzzztt...

Suara getaran ponsel yang menggelegar memenuhi seisi ruangan yang saat itu begitu sunyi. Mariana Gojali melihat ke arah ponsel tersebut sambil mengantuk, ia lalu mengambilnya dari laci atas laci kecil di sisi tempat tidurnya. Ketika ia melihat nama yang muncul di layar ponselnya, dengan segera ia mengangkat panggilan tersebut.

Ia takut jika ia tidak segera mengangkatnya, maka panggilan tersebut akan di akhiri.

"Halo, Se-selamat pagi." Suaranya sedikit bergetar, ia jelas terdengar gugup dan cemas.

Entah mengapa, setiap saat menerima panggilan dari nomor tersebut, Mariana selalu gugup. Sekarang, meskipun ia tahu bahwa orang yang meneleponnya tidak dapat melihatnya, secara refleks ia merapikan rambutnya yang acak-acakan.

"Aku akan pulang hari ini," kata seorang pria yang memiliki nada suara rendah dari sisi lain telepon.

Jantung Mariana berdegup dengan kencang. Untuk beberapa saat ia tidak bisa mengatakan apapun, kemudian dengan terburu-buru ia mengajukan beberapa pertanyaan," Baiklah, apakah ada yang perlu kusiapkan? Kamu ingin makan apa? Apa aku harus menyiapkan sesuatu untuk-"

"Tidak, tidak perlu." Pria tersebut memotongnya dengan nada dingin, seolah ia berbicara dengan orang asing, dan bukan istrinya.

Pria yang meneleponnya di pagi hari itu adalah suaminya, namun karena sejak awal ia memperlakukan Mariana seperti itu, maka Ia sudah terbiasa akan sikapnya itu.

"Jerry Sitohang.." Sambil meletakan tangannya di perutnya, Mariana menggigit bibir bawahnya dan akhirnya memutuskan untuk memberitahukan suaminya tentang kabar baik yang belum sempat ia beritahukan sebelumnya. "Aku.. Sepertinya, aku..."

"Aku harus pergi sekarang, sudah dulu ya."

Jerry tiba-tiba mengakhiri panggilan tersebut.

Sambil terus memegang ponselnya, Mariana tersenyum getir dan menyelesaikan kalimat yang belum sempat ia ucapkan. "Sepertinya aku hamil."

Mariana dan Jerry sudah menikah untuk waktu yang cukup lama, mereka menikah sekitar tiga tahun lalu. Mariana tinggal bersama keluarga Sitohang, sedangkan suaminya, tinggal di Villa Daun Mas. Selama tiga tahun menikah, baru pertama kali mereka bisa tidur bersama, tepatnya di bulan lalu. Saat itu Jerry sangat mabuk sehingga alih-alih pulang ke Villanya, ia pulang ke tempat tinggal keluarga Sitohang. Gojali tahu, besar kemungkinan Jerry tidak ingat apapun yang terjadi malam itu.

Baru saja ia merasa kehadirannya dalam keluarga tersebut tidak di butuhkan, tanda diduga ternyata ia sedang mengandung.

Namun, Dia ragu untuk memberitahukan kabar tersebut kepada Jerry suaminya, karena ia tidak tahu bagaimana reaksi suaminya.

Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali dan berusaha untuk tidak memikirkan hal tersebut. Pada akhirnya, Mariana juga tidak begitu peduli dengan bagaimana cara Jerry memperlakukannya. Lagipula, Jerry telah memenuhi keinginan masa mudanya, yaitu menikahinya. Saat ini, hal itulah yang terpenting baginya.

Mariana turun dari ranjangnya lalu menuju ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan. Meskipun saat itu masih terlalu pagi untuk menyiapkan sarapan, ia takut jika suaminya kembali lebih cepat, dan saat Jerry kembali, ia belum selesai menyiapkan sarapannya.

Ia menyibukkan dirinya di dapur selama kurang lebih dua jam. Satu-persatu anggota keluarga Sitohang keluar dari kamarnya dan memasuki ruang makan, namun ia belum melihat suaminya.

Sepanjang hari, Mariana menghabiskan waktunya di lantai bawah, menyibukan dirinya dengan melakukan berbagai kegiatan rumah tangga. Saat malam tiba, ia merapikan meja makan, lalu memperhatikan pintu, menunggu anggota keluarga Sitohang pulang.

"Mariana, aku perhatikan kamu terus melihat ke arah pintu, ada apa? Apa Jerry pulang malam ini?" Nita Margaret, yang saat itu sedang duduk di ruang keluarga dan menonton TV, memperhatikan Mariana dengan penasaran.

"Iya."

Nita tidak menyukai jawaban santai dan singkat Mariana. "Kamu ini benar-benar wanita yang tidak sopan ya! Apa kamu tidak paham bagaimana cara yang tepat untuk memanggilku? Aku tahu aku bukanlah ibu kandung Jerry, namun tetap saja, kamu harus memperlakukanku dengan hormat, bukan?"

Bukannya merespon wanita tersebut, Mariana hanya menundukan kepala dan melanjutkan membersihkan meja makan. Selama tiga tahun pernikahannya dengan Jerry, Nita adalah orang yang paling banyak bersinggungan dengannya. Lama-kelamaan, ia mengerti bahwa lebih baik bagi dirinya untuk diam saat Nita menemukan kesalahan pada dirinya, karena selama ia tidak membantahnya, Nita akan meninggalkannya setelah beberapa saat. Sebaliknya, jika Mariana membalas perkataan Nita, maka Nita akan menceramahinya habis-habisan.

"Halo, aku sedang bicara padamu. Apa kamu ini bodoh ya?" Nita menaikkan nada bicaranya saat menyadari bahwa Mariana mengabaikannya.

"Kamu ini sudah menikah dengannya selama tiga tahun, tapi Jerry jarang sekali pulang ke rumah ini. Apa tidak sebaiknya kamu instropeksi diri?" Nita mendekati Mariana, lalu memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan jijik. "Tidak ada bagusnya sama sekali! Apa menurutmu Jerry akan tetap menikahimu jika bukan karena urusan politik dan kekuasaan yang dimiliki oleh keluargamu?"

Mariana mengepalkan tangannya untuk meredakan amarahnya dan terus mengabaikan Nita.

Para pelayan di ruangan itu melihat Mariana dengan simpati, namun apa daya, mereka tidak bisa melakukan apa-apa.

Melihat Mariana yang masih saja berdiam diri, Nita semakin mendominasi percakapan tersebut. "Kamu benar-benar jago berpura-pura ya! Biasanya juga kamu hanya tidur seharian dan baru bangun di siang bolong. Apa karena tahu bahwa Jerry akan pulang kerumah, sehingga kamu berpura-pura jadi istri yang baik hari ini?"

Mariana mengerutkan keningnya, namun ia tetap tidak menjawab pertanyaan Nita.

Sampai saat ini, tidak ada satu orang pun yang mengetahui kondisi kehamilan Mariana, ia ingin suaminya menjadi orang pertama yang mengetahuinya. Memang benar bahwa akhir-akhir ini ia cukup sering terlambat bangun, hal ini sepertinya dipengaruhi oleh kondisi kehamilannya.

"Huuh! Cepat atau lambat, Jerry pasti akan mengusirmu! Dia bukanlah orang yang bisa kamu kendalikan, dan kamu bukan wanita yang baik untuknya. Kalian berdua bukanlah pasangan yang cocok."

Setelah mengatakan hal tersebut, Tina menutup mulutnya dengan tangannya dan tersenyum, matanya begitu sipit saat ia tersenyum.

Pada saat itulah, para pelayan yang ada di ruang keluarga membungkukkan badan mereka dan berkata," Tuan, anda sudah kembali."

Mendengar para pelayan menyambut seseorang pulang, wajah Tina berubah.

Perlahan ia memalingkan wajahnya untuk melihat siapa yang ada di depan pintu. Ketika ia melihat Jerry berdiri di depan pintu, wajahnya menjadi pucat. Lalu ia kembali sadar, dan bergegas pergi ke lantai atas.

Setelah melihat Nita yang melarikan diri dari tempat itu dengan gugup, Mariana berjalan menuju pintu tempat pria itu berdiri.

"Kamu sudah pulang. Apa kamu merasa lelah? Kamu ingin makan sesuatu?" Mariana berjalan mendekatinya dan melepaskan mantel Jerry, sudah menjadi tugasnya sebagai istri untuk melayani suami. Meskipun Jerry jarang sekali pulang ke rumah, namun saat ia pulang, Mariana akan memastikan bahwa ia melayaninya dengan baik.

Jerry masih berdiri di depan pintu dan belum bergerak sedikitpun. Wajahnya tidak menunjukan ekspresi apapun, sehingga sulit bagi orang di sekitarnya untuk tahu apakah ia sedang marah atau senang.

Yang jelas, saat Mariana membantunya melepas mantelnya, ia tidak mengangkat tangannya. Meskipun sebenarnya Jerry tidak suka jika Mariana melayaninya, namun paling tidak Jerry tidak menolak Mariana. Tapi hari ini, Mariana merasakan suasananya yang sedikit janggal.

"Ada apa?" Mariana mengangkat wajahnya, untuk bisa melihat wajah tampan suaminya sambil berusaha menebak apa yang ada di dalam pikiran Jerry. "Apa mungkin karena kamu terlalu lelah? Ayo kita ke lantai atas. Akan ku siapkan air panas di bak mandi agar kamu bisa mandi dan bersantai."

Jerry masih membisu, ia juga tidak melihat ke arah Mariana sama sekali.

Setelah berdiam untuk waktu yang cukup panjang, akhirnya ia melangkah maju dan berkata," Temui aku di kamar. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."

Sambil melihat punggung suaminya saat berjalan ke lantai atas, Mariana merasa lebih gugup dari pada biasanya. Sebenarnya, ia sudah merasa tidak nyaman sejak ia menerima telepon dari suaminya pagi ini. Kali ini benar-benar rasa gugup yang berbeda dari yang biasa Mariana alami saat ia berada di dekat suaminya, biasanya ia gugup karena senang bisa bertemu dengan Jerry.

Setelah menghabiskan waktu cukup lama di lantai bawah, akhirnya Mariana memberanikan diri untuk naik ke lantai atas dan menemui Jerry.

Pintu kamar tidur mereka terbuka, dan Jerry berdiri di depan jendela sambil membelakangi Mariana.

Ia sosok yang tinggi, dengan perawakan yang sangat ideal, seperti patung yang di pahat dengan baik. Pria yang sempurna ini tidak lain adalah suaminya sendiri! Sering kali Mariana merasa bahwa ini semua tidak nyata, namun di sisi lain, ia juga sangat senang dan bangga akan hal ini.

"Jerry, aku sudah membuatkanmu makan malam. Ayo makan dulu. Semua yang kusiapkan adalah makanan favoritmu." Mariana masuk ke ruangan tersebut dengan nampan di tangannya.

Ketika mendengar suaranya, Jerry segera berbalik untuk melihat wajah cantik istrinya. "Ada sesuatu yang sebenarnya sudah lama kupikirkan. Dan akhirnya, hari ini aku bisa mengambil keputusan."

Mariana menghindari kontak dengan mata Jerry, dan mendekati Jerry dengan senyum di wajahnya. "Ayo kita makan dulu."

Mariana tersenyum malu. Ia mencoba menghindari apa yang hendak dikatakan oleh suaminya.

Lalu Jerry berjalan ke arah Mariana. Ia menghentakan kakinya dengan keras, langkahnya sangat tegas hingga seolah-olah meninggalkan tanda-tanda kemarahan.

Mariana segera menaruh nampan yang ia bawa, dan berpaling untuk pergi meninggalkan Jerry. "Makanlah sesuatu dulu. Akan kuambilkan segelas air untukmu."

Mariana berusaha secepat mungkin untuk melarikan diri, namun Jerry tidak memberinya kesempatan. "Ayo kita cerai."

Seketika Mariana merasa seolah ruang dan waktu di sekitarnya membeku. Dengan membelakangi Jerry, ia membatu dan tidak dapat bergerak sedikitpun.

Setelah terdiam untuk beberapa saat, Mariana lalu berjalan keluar kamar dengan tergesa-gesa, seolah tidak mendengar apa yang baru saja Jerry katakan. "Aku ke lantai bawah dulu untuk mengambil sesuatu."

Bab 2

Seketika Mariana mulai berbicara, dia menyadari bahwa dia tidak dapat menyembunyikan emosinya dengan baik. Suaranya terdengar bergetar saat dia keluar dari ruangan.

"Perjanjian perceraian sudah disiapkan. Aku akan memberi kamu uang ganti rugi atas semua yang telah kamu lakukan selama tiga tahun terakhir." Sebelum dia pergi, Jerry meletakkan perjanjian perceraian di atas meja yang berada di depannya.

Mariana ingin berlari menuruni tangga, tetapi kakinya seolah terpaku di tempat dia berada sekarang.

Sekalipun dia berpura pura tidak mendengarnya ataupun menurutinya dengan menerima, dia tetap akan menceraikannya. Dia selalu bertindak seperti ini. Jika dia telah memutuskan untuk melakukan sesuatu hal, maka sudah pasti dia akan melakukannya.

Tiga tahun yang lalu, secara mengejutkan dia datang ke rumah keluarga Gojali dan memintanya dengan serius untuk menikah dengannya. Dia gembira sekali, karena perasaan cintanya yang terpendam terhadap pria tersebut terbalaskan dengan meminta dirinya untuk menikah dengannya. Tetapi pada malam pernikahan mereka, dia mengetahui bahwa pria yang menikahinya semata mata hanya untuk mengambil keuntungan atas kekuatan keluarga Gojali yang dapat membawanya dengan cepat naik ke puncak yang lebih tinggi.

Sekalipun, dia telah mengetahui alasan yang sebenarnya dari pernikahannya, dia tidak pernah menyesal menikah dengannya. Dia rela menikah dengannya dan menjadikan dirinya sebagai batu loncatan untuk karirnya. Saat itu, dia membayangkan jika nanti telah tercapai tujuannya maka dia akan diceraikannya. Dia berusaha menghibur dirinya sendiri dengan berpikir bahwa mungkin dia jatuh cinta padanya saat itu, tetapi yang membuatnya cemas, dia bahkan tidak pernah memberinya kesempatan. Jadi walaupun dia telah mempersiapkan diri untuk kemungkinan perceraian, dia tidak menyangka bahwa dia akan membicarakannya secepat ini.

Dengan kembali melihat ke arahnya, Mariana tenggelam dalam pikirannya. Setelah beberapa saat, dia tergagap dalam perkataannya, "Bisakah ... Bisakah kamu memikirkannya kembali?"

"Aku sudah memutuskan dengan seksama. Tanda tangani saja," Jerry menjawab dengan tidak sabar. "Aku akan memberimu seratus empat puluh milyar rupiah sebagai uang pesangon, serta rumah baru senilai delapan puluh enam milyar rupiah di Distrik Timur."

Uang pesangon?

Mariana tidak bisa mempercayai apa yang di dengarnya.

Akhirnya dia berbalik dan mengangkat kepalanya agar dapat melihat ke arah mata suaminya, yang lebih tinggi darinya. "Uang pesangon?" Dia berkata dengan tidak percaya.

Apakah mereka memiliki hubungan antara majikan dengan karyawan? Bagaimana dia bisa menyebut ini sebagai uang pesangon? Sungguh kejam dia menggunakan dua kata ini.

"Pada hari pernikahan kita, aku telah memberitahumu alasan mengapa aku menikahimu. Ini bukanlah suatu pernikahan yang sebenarnya. Akan lebih tepat untuk mengatakan bahwa kita memiliki hubungan antara majikan dengan karyawan. Jadi, aku akan membayar kamu upah kerja selama tiga tahun ini. Kemudian setelah itu, hubungan kita selesai." Pria tinggi dan tampan yang berada di depannya menatap lurus ke arahnya dengan sikap yang sudah tidak memperdulikannya. Matanya yang hitam pekat tanpa disertai emosi, tetapi sepertinya bisa menyedotnya masuk ke dalam.

"Upah karyawan?" Mariana berkata sambil bergumam pada dirinya sendiri. "Kamu benar, Kita hanya memiliki hubungan antara majikan dengan karyawan."

Dia tersenyum pahit, tetapi Jerry tidak menanggapinya sama sekali.

Dia berjalan menuju ke arahnya selangkah demi selangkah, kemudian dia duduk di sofa, sambil mengambil perjanjian itu, dan membacanya dengan cermat.

Melihat dia membaca surat cerai tersebut tanpa protes, akhirnya Jerry dapat duduk dengan santai di hadapannya. "Kesepakatan tersebut sudah sangat jelas. Jika kamu menginginkan sesuatu yang lain, kamu bisa mengatakannya kepadaku. Aku akan memberikannya padamu."

Tidak luput dari perhatian Mariana, terlukis pada wajahnya suatu kelegaan hati dengan senyuman yang mengejek pada bibirnya tepat setelah dia setuju dengan dirinya.

Tanpa mengatakan apapun, dia mencoret bagian dari perjanjian yang melibatkan penyerahan aset, dan dengan segera memberikan tanda tangan pada namanya.

"Kamu tidak perlu membayar uang pesangon. Kita secara resmi bercerai." Dengan cara yang sopan dia mendorong kertas perjanjian tersebut di depannya.

Jerry sedikit mengangkat alisnya, ketika dia melirik bagian dari perjanjian yang telah di coret. Dari semua skenario yang telah dia bayangkan, dia tidak menyangka bahwa Mariana sendiri yang akan menolak atas penyerahan aset rumah mewah tersebut.

"Apa kamu yakin?" Matanya dipenuhi dengan perasaan tidak percaya saat dia melihat Mariana yang sudah berdiri dihadapannya.

Mariana berbalik badan dan berjalan ke lemari ketika dia menjawabnya, "Keluarga Gojali tidak akan kekurangan uang. Sejak aku menikahimu dengan dengan rela tiga tahun lalu, aku tidak akan mau untuk menerima uang pesangon."

Lagi pula, jika dia menerimanya, itu sama saja dengan mengakui bahwa mereka hanya memiliki hubungan antara majikan dengan karyawan selama tiga tahun terakhir ini.

Dia lebih baik memilih untuk menyerahkan semua hal yang berkaitan dengan materi di dunia ini, jika itu memberikan suatu arti bahwa mereka menjadi suami dan istri selama tiga tahun.

Jerry yang duduk di kursi sofa memperhatikannya mengemasi barang miliknya tanpa berkata apapun.

Mariana melipat semua pakaian yang ada di lemari dengan rapi dan memasukkannya ke dalam koper, bersama dengan beberapa sisa barang yang ada di kamar.

Dengan sengaja dia mengemasi barangnya dengan sangat lambat karena dia ingin tinggal sedikit lama disini. Dia telah tinggal sendirian di kamar ini selama hampir tiga tahun. Pada awalnya, dia merasa gelisah sendirian, tetapi setelah beberapa tahun, dia mulai menyukainya. Sekarang, dia enggan untuk pergi. Tidak menjadi masalah seberapa lambat dia berkemas, dia tidak punya pilihan selain pergi.

Ketika dia telah menyelesaikannya, dia berdiri dengan kopernya dan bersiap untuk pergi tanpa mengatakan apapun atau bahkan menatapnya.

"Biarkan aku mengantarmu pulang." Jerry, yang telah menunggunya dengan sabar saat dia berkemas, seketika berbicara.

"Tidak, terima kasih. Aku masih punya uang untuk pulang naik taksi," kata Mariana dengan nada sinis. Setiap kali dia merasa takut, dia akan bersandiwara seolah dia mampu untuk menjaga dirinya sendiri, tetapi yang terjadi dia akan melukai dirinya sendiri. Untuk kali ini tidak ada perbedaan.

Dengan koper berada di tangannya, dia turun ke bawah. Koper itu begitu besar sehingga sulit baginya untuk mengangkatnya sendiri, tetapi dia bersikeras untuk tidak meminta bantuan pada siapa pun. Suara gaduh dari koper yang diseret ketika dia menuruni anak tangga menarik perhatian dari semua orang yang berada di rumah itu.

"Mariana, kamu mau pergi kemana? Sekarang sudah larut malam." Felix Sitohang yang menggunakan piyama bertanya, dengan mencondongkan tubuh ke tangga dan melihat ke bawah.

Dia mengangkat kepalanya untuk melihat ayah Jerry, kemudian Mariana tersenyum dan berkata, "Paman Felix, silahkan kembali tidur. Ini sudah larut."

"Mariana, ada apa denganmu? Kemana kamu akan pergi?" Mendengar dia memanggilnya dengan sebutan "Paman Felix," Felix terkejut mendengarnya. Dia bergegas menuruni tangga, tetapi dihentikan oleh Nita.

Patricia melanjutkan membawa barang bawaannya ke bawah tanpa menjawabnya.

Tiga tahun yang lalu, ketika dia baru saja menikah dan masuk di dalam keluarga Sitohang, dia banyak berlatih untuk mengumpulkan keberaniannya sampai dia dapat memanggilnya dengan sebutan "Ayah." Dari semua anggota keluarga Sitohang, dia memiliki hubungan yang baik dengan ayah Jerry, yaitu Felix. Tentu saja, bahwa dia akan sangat merindukannya.

Dengan susah payah, Mariana akhirnya meninggalkan rumah dengan barang bawaannya, hal ini menjadikan para pelayan di rumah itu menjadi bingung.

Jerry, yang masih duduk di kamar lantai atas, dengan tenang tanpa ekspresi mendengar percakapan mereka dengan jelas.

Ruangan itu selalu terlihat agak kosong, tetapi sekarang setelah Mariana mengambil semua barangnya, ruangan itu menjadi tampak lebih kosong dari sebelumnya. Melihat ruangan yang besar itu, entah kenapa Jerry seketika merasa kesal.

Untuk sekian waktu yang lama, dia ragu untuk berbicara dengannya tentang perceraian, karena dia berpikir bahwa dia akan menghiraukannya dan memohon padanya untuk tidak menceraikannya. Tetapi yang mengejutkannya, dia menerimanya tanpa ada perlawanan. Akan tetapi, untuk beberapa alasan, penerimaannya yang siap membuatnya merasa tersesat dan gelisah. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.

Dalam tiga tahun terakhir, dia telah tidur di kamar ini tidak lebih dari lima malam. Dia tidak pernah berhubungan intim dengan Mariana, dan mereka jarang sekali bertemu. Jadi mengapa dia tidak bisa merasa santai sekarang? Sebaliknya, dia tidak dapat melupakan malam pertama setelah pernikahannya, ketika mereka tidur di ranjang yang sama. Dia terus mengingat ketika Mariana bergegas pergi ke Villa Daun Mas hanya untuk merapikan kamarnya setelah bekerja.

Semakin dalam Jerry memikirkan kenangan ini, semakin dia merasa kesal hatinya. Bagaimanapun, dia tidak bisa menghentikannya. Wajah Mariana terus melintas di benaknya.

Dalam kekacauan pikirannya, dia berdiri dan menendang meja kayu bundar, tetapi dia tidak bisa begitu saja menghilangkan debar jantungnya yang berdetak kencang.

Sudah tengah malam ketika Mariana tiba di rumah keluarga Gojali. Semua anggota keluarga Gojali telah tertidur lelap.

Bab 3

Ketika dia telah sampai di rumah, dengan perlahan dia menyeret kopernya menaiki tangga, dan dia sudah sangat kelelahan sedangkan anak tangga yang harus dinaikinya cukup banyak. Pada akhirnya, dia tinggalkan kopernya begitu saja dan naik ke atas sendirian.

Setelah kembali ke kamarnya, dirinya menjadi lebih tenang dan perlahan ketegangannya mulai kempis seperti balon. Dia merasa seakan dirinya tidak berdaya.

Dia menghempaskan dirinya ke atas tempat tidur, dan setelah sekian lama dia mencoba untuk tidur, tetap saja dia tidak bisa tertidur. Semua kenangan yang di lewatinya selama tiga tahun di rumah keluarga Sitohang terus menerus terlintas di benaknya, dan diikuti oleh kenangan tentang Jerry.

Ketika dia masih kecil, dia pernah di dorong ke dalam kolam. Dia tidak akan jatuh cinta padanya dan menerima lamaran pernikahannya, jika pada saat itu Jerry tidak mengulurkan tangannya untuk menyelamatkan dirinya. Kemudian, semuanya tidak akan berakhir seperti ini.

Tetapi apa gunanya berpikir tentang kejadiannya itu "jika"? Apa yang telah terjadi biarkan itu telah terjadi. Yang akan menjadi suatu masalah nanti, adalah sekarang dia sedang hamil.

Ketika dia mengingat anak yang berada di dalam kandungannya, Mariana merasa tidak berdaya, dan senyum yang mengejek dirinya sendiri muncul pada wajahnya.

Dia mengetahui bahwa jika dia memanfaatkan anak itu sebagai bagian dari negosiasi untuk meminta Jerry tinggal bersamanya, maka dia akan segera menyeretnya ke rumah sakit untuk mengugurkan kandungannya.

Dia tidak cukup bodoh untuk berpikir bahwa pria yang tidak memiliki perasaan cinta padanya akan meneruskan hidup bersamanya hanya karena anaknya yang belum lahir.

Pria yang ambisius seperti Jerry tidak akan pernah mau melakukan itu. Selain itu, dia tidak akan merendahkan harga dirinya untuk mencoba mengikatnya dengan seorang anak. Kehidupan seperti itu juga akan menjadi sangat menyedihkan.

Dengan semua pikiran yang mengalir di kepalanya, Mariana tidak dapat tertidur hingga fajar menyingsing.

Tidak sampai setengah jam kemudian, pintunya terbuka dengan keras, dan suara lelaki yang kasar terdengar di telinganya.

"Kenapa kamu pulang? Mengapa juga kamu membawa begitu banyak barang bawaan?"

Mariana masih sangat mengantuk sehingga dia tidak ingin bangun sama sekali. Dengan mata yang masih tertutup, dengan malas dia menjawab, "Jerry dan aku telah memutuskan untuk bercerai."

Setelah tertegun diam selama beberapa detik, Leo Gojali menjadi sangat murka. "Maksud kamu apa? Mengapa kamu bercerai? Bangun dan jelaskan!"

Selimut di tubuh Patricia di tarik dan di buang ke lantai oleh Leo. Merasakan hawa dingin yang mengenai tubuhnya, akhirnya Mariana membuka matanya kemudian melihat dengan pandangannya yang samar seseorang dengan sosok tinggi dan besar berada di depannya.

"Bangun! Aku akan menunggumu di bawah. Turun sekarang!" Tanpa menunggu Mariana untuk bangun, Leo pergi, luapan amarahnya tidak dapat dikuasainya, dia berjalan dengan makian dan kutukan keluar dari mulutnya.

Patricia menghela nafasnya. Dia sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi.

Dia bangkit dari tempat tidurnya, mengenakan mantel tipis, dan turun ke bawah.

Ayahnya, Leo, ibu tirinya, Yolanda Purbasari, dan saudara tirinya, Linda Gojali, semuanya telah berkumpul.

Bahkan sebelum dia berada di depan mereka, Leo berteriak, "Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Jerry? Siapa yang meminta cerai duluan?"

Mariana menundukkan kepalanya untuk fokus pada anak tangga, yang tampak tidak jelas di depan matanya. Sebelum dia dapat mengucapkan sepatah kata, Yolanda, yang duduk di samping ayahnya, berkata, "Ya, sepertinya tidak ada masalah di antara mereka. Mengapa mereka mendadak bisa bercerai begitu saja? Ini sedikit mencurigakan."

Apa yang telah dikatakan Yolanda membuat Leo memikirkannya. Setelah beberapa saat, dia bertanya, "Jerry yang meminta cerai, benar?" Dia ingat bahwa tiga tahun yang lalu, ketika Jerry datang kepadanya dengan tujuan melamar Mariana untuk menikah dengannya, Mariana luar biasa merasakan kegembiraan yang seakan menjadikan dirinya seperti terbang diatas awan. Cintanya pada Jerry sudah jelas, jadi tidak masuk akal baginya jika dirinya yang meminta cerai.

Mariana berjalan ke ayahnya dan menatapnya. "Tidaklah menjadi masalah siapa yang mengajukan cerai. Fakta yang terjadi, kami sudah bercerai sekarang."

Melihat sikap ayahnya, dia sedikit kecewa. Dia sudah merasa tertekan. Mengapa ayahnya tidak berusaha menghiburnya dengan sambil menyelidiki alasan perceraiannya? Apakah itu sungguh menjadi hal yang penting? Itu sama sekali bukanlah persoalan yang penting baginya.

Leo menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Tetapi seketika itu juga, dia memikirkan sesuatu dan bertanya padanya dengan terburu buru, "Bagaimana dengan asetnya? Bagaimana cara kamu membaginya? Karir Jerry sangat berkembang pesat dalam tiga tahun ini. Aku memikirkan kalau kekayaannya sekarang sudah melebihi beberapa kali lipat dari kita keluarga Gojali!"

Saat dia berbicara tentang kesuksesan Jerry selama tiga tahun terakhir, Leo yang cerdas terlihat menyipitkan matanya. Sepertinya dia tidak salah dalam menilai Jerry. Ketika Jerry mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Mariana, Leo berpikir bahwa dia akan mencapai kesuksesan yang besar di masa depan. Tentu saja, Jerry ternyata jauh lebih berhasil daripada yang dia bayangkan sebelumnya. Hanya dalam waktu tiga tahun, dia tidak hanya mendapatkan pijakan yang kuat di pasar besar, tetapi dia juga telah mengembangkan Grup Sitohang menjadi konglomerat terbesar di sini. Dia juga telah mendirikan cabang perusahaan di luar negeri.

Mariana hanya dapat menunduk dan tidak menjawab. Semangat yang dia miliki seketika hilang.

Yolanda dan Linda saling bertukar pandang dan sambil tersenyum menghina. "Mariana, apakah kamu menyerahkan semua asetmu dan kembali tanpa membawa apapun?" tanya Linda.

Ketika Leo mendengar perkataan ini, dia terkejut. Dia memandang kearah Mariana dengan tatapan dingin dan bertanya, "Apakah itu benar?"

"Ya." Dengan tanpa keraguan, Mariana menatap ayahnya dan menganggukan kepalanya.

Selama beberapa detik, Leo meliriknya tanpa ekspresi sedikitpun. Kemudian, ketika perkataan itu akhirnya meresap ke dalam hatinya, dia menjadi marah. "Kamu anak perempuan yang tidak berbakti! Mengapa kamu menyerahkan semua aset kamu?"

Dia melompat dari kursi sofa dan bergegas berlari ke arah Mariana. "Apakah kamu melakukan sesuatu yang salah terhadap keluarga Sitohang? Kalau tidak, mengapa kamu menyerahkan semua aset?"

"Dia menawariku uang, tapi aku tidak menginginkannya," jawab Mariana tegas, dan menatap lurus ke mata ayahnya tanpa rasa takut sedikit pun.

Dia sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh keluarga Gojali. Apalagi dia sudah terbiasa menjadi sasaran atas kekecewaan ayahnya. Semua orang di keluarga ini selalu meremehkan dirinya karena dia terlalu rendah hati.

Leo sangat marah sampai ingin menampar putrinya, tetapi dia akhirnya menahan amarahnya dan berdiri tegak. "Berapa banyak uang yang dia tawarkan padamu?"

Dia tidak ingin membuang waktu lagi untuk percakapan ini, jadi dia memberinya jawaban yang jujur. "Dua ratus tiga puluh miliar rupiah."

Mendengar ini, kemarahan Leo melonjak naik dan hampir saja ingin menampar wajah putrinya, tetapi dia menarik telapak tangannya yang terangkat dan mundur beberapa langkah. Kemudian, dia kembali duduk lemas di kursi sofa dengan semua kekuatannya yang telah meninggalkannya. "Dua ratus tiga puluh miliar rupiah? Apakah dia menganggapmu sebagai pengemis di jalanan?"

Melihat sikap Leo, Yolanda menjadi kompor dengan menambahkan beberapa perkataan agar situasi menjadi panas. "Grup Sitohang sekarang bernilai 1, 090 triliun rupiah. Meskipun itu adalah kekayaan atas seluruh anggota keluarga Sitohang, tetapi setidaknya Jerry harus memiliki seratus empat puluh triliun rupiah di tangannya. Dia mendapatkan semua uang itu setelah dirinya menikahi Mariana. Maka memang sudah seharusnya itu dibagi rata di antara mereka setelah bercerai! dan betul angka tersebut senilai dua ratus tiga puluh miliar rupiah. "

Yolanda kemudian terdiam dengan ragu. Semua orang mengetahui apa yang sebenarnya ingin dia katakan.

Linda duduk dengan diam di sana, menghitungnya untuk waktu yang lama di kepalanya sebelum akhirnya dia menarik lengan Yolanda. "Ibu, apakah betul sekarang Jerry sudah menjadi orang kaya?"

Tiga tahun yang lalu, Jerry baru saja kembali pulang ke negaranya setelah dari luar negeri. Saat itu, perusahaan kecilnya hanya bernilai empat puluh tiga milyar rupiah saja. Tetapi hanya dalam kurun waktu tiga tahun, telah terjadi kenaikan jumlah yang mengerikan.

Yolanda tidak memperdulikan atas pertanyaan putrinya. Dia melirik ke arah Leo dan Mariana kemudian melanjutkan perkataannya, "Tapi karena mereka sudah bercerai dan Mariana telah menolak uang itu, maka tidak ada lagi yang dapat dibicarakan."

"Tidak mungkin! Putriku telah bekerja keras seperti pelayan untuk keluarga Sitohang selama tiga tahun, tetapi sungguh berani sekali dia menceraikannya tanpa memberinya sepeser uang? Dia pasti bermimpi jika dia bisa lolos dari masalah ini! Sekalipun jika dia mempekerjakan seorang pelayan dan kemudian dia memecatnya, maka seharusnya dia membayar uang pesangon!"

Perkataan Leo menusuk hati Mariana seperti pisau. Tampaknya keputusan orang yang berada di sekitarnya, apakah itu Jerry atau ayahnya, semuanya hanya ingin untuk mendapatkan keuntungan darinya.

Dia hanya seperti pion dalam permainan yang mereka lakukan.

Meskipun dia sudah mengetahui hal ini, dia tidak merasa terluka atas tindakan Jerry. Tetapi mengapa ayahnya sendiri yang memperlakukan dirinya seperti ini?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED