"Aaaaa gila! Dari kemarin mimpi cewek kembar 4 mulu dan sekarang mimpi jatuh dari langit?"
Aku berada di atas lautan yang luas dan sangat jauh dari pulau. Ada pulau yang terlihat, namun sangat jauh sekali karena hanya telihat sangat kecil padahal posisiku dari ketinggian. Hanya terlihat lautan biru yang sangat luas dan tidak ada satu kapal pun yang terlihat.
"Woi! Kenapa realistis sekali? Angin ini, lalu aroma lautnya begitu terasa. Bagaimana bisa? Mati aku! Ini jauh sekali dari daratan!" Aku panik sekali karena jatuh dari tempat yang tinggi dan dengan cepat meluncur ke bawah. Agar tidak terjadi cidera saat terjun di air, aku meringkuk dengan memegang kakiku dan aku arahkan kaki duluan yang di bawah.
Cedlung brussh
Aku masuk ke dalam laut, sangat jauh sekali hingga tekanan air terasa cukup keras di tubuhku. Air laut yang dingin, terasa sangat asin di lidahku dan begitu perih saat aku membuka mata. Air laut yang berada di bawahku begitu luas dan sangat gelap, saat aku lihat ke atas, ternyata hanya sedikit cahaya yang tembus sampai sini. Aku segera berenang menuju permukaan, namun tidak bisa menggapai permukaan kembali, padahal aku yang bisa berenang dengan lancar. Tubuhku lemas, kepalaku pusing, dadaku sesak dan perlahan pucat karena kehabisan oksigen. Tidak lama kemudian, tubuhku dengan sendirinya berusaha menghirup udara, namun yang masuk ke dalam tubuhku hanyalah air. Karena hal itu, alhasil kesadaranku mulai menghilang.
....
"Woi bangun bangun!" teriak seseorang dengan suara cewek sambil menyenggol lenganku. Saat aku bangun, terlihatlah seorang gadis berusia 17 an tahun yang berdiri di sampingku sambil menyilangkan lengannya. Kepalaku terasa pusing, hidungku bagian dalam terasa sakit karena kemasukan air.
"Woyy! Hallo?" Dia menyadarkanku yang sedang terpana dengan parasnya yang begitu cantik.
Cinta pada pandangan pertama? Hahaha gila diriku ini.
"Ehhhh aku masih hidup!?" Aku teringat momen terakhir kali saat aku tenggelam.
"Selamat datang di surga, tuan!" Gadis itu sedikit menunduk sambil memperbaiki rambutnya yang menjuntai ke bawah. Wajahnya yang tirus, matanya hijau cerah dihiasi bulu mata yang lentik, bibirnya tipis yang berwarna merah muda alami.
"Permisi, neraka di sebelah mana ya? Kelihatannya saya salah masuk," ucapku menanggapi candaannya.
"Ngomong-ngomong, bisa kau tutupi itu dulu?" Dia berdiri kembali lalu menunjuk ke arah selangkanganku.
"Ehh, kemana pakaianku?" Aku melihat tubuhku yang benar-benar telanjang bulat, dengan panik aku tutupi kemaluanku dengan kedua tanganku. Aku baru ingat, bahwa sudah telanjang saat terjun dari langit tadi.
"Lah, itu kan pakaianmu, kenapa tanya kepadaku?" Segera dia balik badan.
"Lia!?" ucapku kaget saat melihat papan status yang ada di atas kepalanya. Aku juga baru menyadari, tulisan dan bahasa yang kami gunakan untuk berbicara tadi bukanlah bahasa dari dunia asalku.
Nama: Lia
Ras : Manusia
Umur : 16 tahun
Jumlah sihir : 126
Kekuatan : 879
Kecepatan : 1,2ms
"Bagaimana bisa kau tau namaku?" Dia berbalik badan dengan kagetnya.
"Aku pun bingung, kenapa bisa muncul tulisan nama, ras, umur, hahh jumlah sihir?" Sambil aku tunjuk tulisan yang ada di atasnya. Tentu itu membuatku kaget, malahan aku sempat berfikir ulang, apa benar ini berada di surga?
"Mmm, sihir apa yang kau gunakan? Setahuku, sihir penafsiran tidak dapat menjelaskan nama seseorang." Lia mikir keras karena setahu dia tidak ada sihir seperti ini.
"Mana aku tahu, muncul begitu saja!" Aku jawab dengan nada agak tinggi karena merasa aneh. Apa kemungkinan aku reinkarnasi di dunia sihir? Lalu penyebabnya apa? Apa aku sudah mati? Walau ada ingatan kehidupanku, namun ingatan terakhir kali masih buram.
"Ngomong-ngomong, ini di mana?" Aku lihat-lihat sekitar, pantai pasir putih yang cukup luas, tapi tidak aku lihat adanya sampah plastik sedikitpun.
"Desa nelayan bagian paling ujung dari kerajaan Lamris, lalu dari mana asalmu?" Lia berjongkok di depanku, sepertinya dia sudah merasa pegal berdiri.
"Aku tidak tahu, tidak ada ingatanku," ucapku ngeles, mana mungkin aku beritahu dari dunia lain kan?
"Hmm kalau begitu, untuk saat ini sebaiknya ikut saja ke rumahku." Dia berdiri lagi sambil mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri, namun tidak aku raih. Mana mungkin kan aku raih, kedua tanganku digunakan untuk menutupi badanku.
"Lalu pakaianku?" tanyaku bingung, aku hanya telanjang bulat dengan kedua tangan menutupi selangkanganku.
"Cari apalah buat menutupinya, lagi pula itumu juga kecil, jadi tidak sulit menutupinya." Menunjuk ke arah selangkanganku lagi sambil tertawa kecil.
"Ini efek kedinginan, coba saja kalau sudah normal, kamu pasti akan tercengang!" Aku segera berdiri sendiri, aku panik karena Lia sudah mulai berjalan menjauh.
"Iya iya, buruan ikut aku!" Dia berhenti dan menengok sebentar.
Aku tengok kanan kiri, untung saja ada pohon pisang dan langsung aku ambil daunnya untuk menutupiku.
"Kasihan sekali kau pohon, maaf ya aku ambil daunmu," pohon yang masih lumayan kecil dan sendirian di pasir pantai. Mungkin pohon ini memang ditakdirkan untukku, terima kasih banyak pohon.
"Tunggu aku!" teriakku panik, segera aku lilitkan melingkar seperti rok di perutku sampai menutupi bagian bawah tubuhku. Karena daunnya cukup kecil, jadi hanya bisa menutupi bagian di atas lutut. Setelah selesai melilitkan daun di tubuhku, aku segera berlari mengejar Lia.
....
Tidak jauh dari pantai, ada desa nelayan yang cukup kecil. Bangunan rumah di sini seperti rumah panggung yang di bagian bawahnya digunakan untuk barang-barang menangkap ikan. Walau hanya ada belasan warga, namun aku sangat malu karena mereka melihat ke arahku semua. Setiap kali aku melangkahkan kakiku, benda itu berayun menyentuh pahaku. Rasanya begitu tidak nyaman, ada sesuatu yang menggantung bebas.
"Ada apa dengan orang gila itu?" mungkin begitu pikir mereka.
"Buruann di mana rumahmu?" Aku menarik lengan baju milik Lia, seperti anak kecil meminta jajan kepada orang tuanya.
"Sabar, itu ada di sana." Lia menunjuk sebuah rumah yang cukup kecil, terbuat dari kayu dan beratapkan seng. Ada nenek-nenek di depan rumah itu dengan ekspresi kaget melihatku, tentu saja karena aku bugil.
"Lia siapa dia?" Nenek itu tergesa-gesa menghampiri kami, dia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Aku tadi menemukannya terdampar di pinggiran pantai. Oh iya, siapa namamu?" Lia dengan santainya berjalan menuju rumahnya.
"Namaku Al," dengan perasaan malu, canggung harus bagaimana.
"Ayo masuk, lalu basuhlah tubuhmu dulu. Saya carikan pakaian untukmu, Lia antar tuan Al ke kamar mandi." Nenek itu mendorongku untuk segera masuk ke rumahnya.
"Siall, rumah panggung dan aku harus menaiki tangga itu dengan keadaan seperti ini?" batinku.
Dengan hati-hati aku menaiki tangga, semoga saja tidak ada orang yang melihat pusaka milikku. Rumah dengan 2 kamar, ruang tamu dan dapur di bagian belakang. Dari pintu depan, langsung ada lorong sampai ke belakang rumah yang menuju ke dapur dan kamar mandi.
"Kemarilah! Buruan mandi, baumu seperti ikan." Lia tunjukkan kamar mandi yang berada di belakang rumah.
"Uhh bener juga," aku baru menyadarinya karena dari tadi hanya perasaan bingung dan malu saja.
....
Selesainya mandi, nenek itu sudah membawakan handuk dan pakaian yang cukup besar untukku.
"Ini pakailah, mungkin sedikit kebesaran." Nenek meletakkan pakaian di depan pintu kamar mandi lalu segera pergi.
"Terima kasih banyak." Segera aku ambil pakaiannya saat nenek sudah pergi.
Sedikit kebesaran? Ini besar banget, aku jadi seperti jamet. Ahh biarlah, daripada bugil, lagian udara di sini panas.
....
Selesainya berpakaian, mereka sudah menungguku di ruang tamu. Ruang tamu masih beralaskan tikar yang cukup tipis.
"Duduklah kemari tuan Al!" Nenek menyuruhku duduk di sampingnya.
"Dari mana asal tuan Al?" tanya nenek saat aku sudah duduk di depan mereka.
"Aku tidak tahu nek, aku tidak ingat, yang aku ingat hanya namaku saja,"
"Oh iya nek, dia bisa menggunakan sihir yang aneh. Dia bisa tau namaku hanya dengan melihatku saja," Lia terlihat begitu semangat.
"Benarkah?" neneknya malah berekspresi datar.
"Iya, Lia dan nenek Lona kan?" tanyaku untuk memberi bukti.
"Luar biasa kan!? Lalu sihir apalagi?" Lia terlihat antusias sekali, bahkan sambil mendekatkan tubuhnya kepadaku. Aku dapat melihat dengan jelas wajahnya yang begitu manis, dadaku langsung berdetak kencang.
"Aku tidak tahu, bahkan baru kali ini mendengar adanya sihir." Sambil memundurkan badanku untuk menjauh dari Lia yang ada tepat di depan mukaku.
"Kau bisa membaca?" tanya Lia.
"Bisa, kenapa?"
"Aku punya sobekan buku mantra yang aku temukan. Sebentar, aku carikan dulu." Lia berdiri lalu menuju ruangan yang mungkin saja kamarnya. Tidak lama kemudian Lia kembali sambil membawa satu lembar kertas yang cukup usang.
"Ini lihatlah!" Lia segera duduk di sampingku dan memberikan kertas itu kepadaku.
"Sihir dapat digunakan dengan membayangkan sambil melafalkan mantra, namun dapat juga hanya membayangkannya saja. Contohnya sihir api, imajinasikan api lalu baca mantra 'Dengan'." Baru aku mau mulai membaca mantra, Lia sudah merebut kertas itu.
"Kau ingin membakar rumah kami!? Cobalah di luar!" Sambil mengangkat kertas itu seperti ingin memukulkannya kepadaku.
"Maaf maaf,"
Kami segera keluar menuju belakang rumah, terdapat lahan terbuka yang cukup luas. Aku membuat jarak yang cukup jauh dari rumah lalu membaca lagi mantra itu.
"Dengan kekuatan yang dapat menyucikan dosa, bakar lah musuh di depanku! Bola api!"
Terjadi ledakan hingga membuatku terpental, untung saja beralaskan pasir pantai yang cukup lembut.
"Apa sudah benar seperti itu?" Aku melihat ke arah Lia dan neneknya, aku bingung kenapa jadi ikut terkena ledakan.
"Sepertinya bukan, yang aku tahu saat berkunjung di kerajaan dulu seharusnya muncul bola api." Lia memperagakan bola bulat di tangannya.
"Coba sihir lain!" lanjut Lia.
"Lia temani tuan Al ya, nenek mau masak." Nenek segera meninggalkan kami.
Lalu aku coba sihir air, angin dan tanah, bahkan saat hanya imajinasikan saja dan belum baca mantra, semua berakhir dengan ledakan hingga membuatku babak belur dan membuat bajuku sobek-sobek.
"Sial! Setelah berada di dunia sihir kenapa aku tidak bisa menggunakan sihir?" Umpatku dalam hati.
"Sudahlah jangan dipaksakan!" Lia mendatangiku lalu menepuk pundakku dan dengan muka lesu, aku menuruti kata-kata nya.
"Tuan Al berhenti dulu! Ganti baju lalu mari makan bersama, nanti bisa dicoba lagi," nenek memanggil kami dari pintu belakang dengan masih membawa centong sayur.
"Baik nek," jawab kami secara bersamaan dan Lia segera menarikku masuk ke rumah. Saat masuk rumah, aku mencium aroma yang tidak asing. Masakan yang dihidangkan ternyata gulai ikan kakap.
"Masakan dengan bumbu khas Indonesia kenapa bisa dihidangkan di sini!? Lah, bahkan ada nasi juga ternyata!?" ucapku dalam hati.
"Mohon maaf nek, ini gulai kan?"
"Maaf kan saya, apa kurang cocok dengan lidah tuan?" Nenek Lona terlihat panik.
"Bukan begitu, cocok banget malahan dan juga tolong jangan panggil aku tuan,"
"Makanan ini resepnya dari Yang Mulia Ratu negara ini." Sambil membagikan piring kepada kami.
"Ratu? Jadi dari kerajaan ya?" Aku malah duduk bersama Lia dan melupakan berganti baju.
"Bukan tuan, tapi dari Yang Mulia Ratu negara Danirmala,"
"Hah!? Maksudnya bagaimana?"
"Jadi ini wilayah kerajaan Lamris, namun kerajaan Lamris merupakan bagian dari Negara Danirmala," terangnya.
"Ohh," mungkin saja yang dimaksud kerajaan di sini adalah provinsi.
"Mau sampai kapan kalian ngobrol terus? Aku sudah lapar ini, ayo kita makan!" Lia terlihat cemberut memperhatikan kami.
"Maaf maaf,"
"Ayo mari dimakan Tuan," nenek
Saat aku makan ternyata benar-benar rasa khas Indonesia, tidak aku sangka kalau ini ada di dunia lain. Setelah kenyang, aku baru sadar dengan bajuku yang belum diganti, segera aku meminta Lia untuk mencarikan baju.
"Nanti kalau latihan buka bajumu, jangan merusak baju ayahku!" Lia dengan pandangan tajamnya sambil menarik bajuku.
"Bilang saja ingin melihat tubuh telanjangku." Sedikit aku naikkan bajuku dan memperlihatkan perutku yang terbentuk cukup bagus.
"Kepedean sekali kau, padahal kecil." Diperagakan jari telunjuk dan jempol seperti capit.
"Itu karena kedinginan," aku mengelak karena malu.
"Sudah sudah, Lia jangan ribut," tegur nenek yang sedang mebereskan piring kami.
"Kok aku?" Lia terlihat sedikit kesal dengan cepat menengok ke arah neneknya sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Maaf nek." Aku sambil sedikit tersenyum ke arah Lia.
"Nenek mau cuci piring dulu, Lia temani tuan Al saja." Nenek berdiri sambil membawa piring kotor lalu menuju dapur.
"Yaaa," Lia dengan cueknya, Lia menarik tanganku untuk masuk ke kamarnya, dia langsung mencarikan baju untukku.
"Oh iya, ngomong-ngomong kalian tinggal hanya berdua saja?" Aku berusaha mengalihkan kekesalan Lia.
"Ayahku sedang melaut, kalau ibuku meninggal saat melahirkanku," Lia
"Maaf, turut berdukacita,"
"Tidak apa-apa, lagi pula ibuku meninggal saat aku lahir dan juga ada nenek yang menggantikannya, jadi aku tidak begitu merasa kehilangan," ucap Lia dengan santainya. Memang telihat biasa saja dari ekspresi wajah Lia, dan juga rasa kesal tadi sepertinya tidak benar-benar kesal.
____
Kota sihir Mala
Di dalam ruang singgasana, terdapat 7 singgasana dengan singgasana yang di tengah kosong, sedangkan 6 yang lainnya diduduki oleh 5 orang (Noe- Ratu Elf, Nay- Ratu Druid, Nia- Ratu Peri, Noa- Ratu Es dan Violet- Naga bayang) dan satu anak kecil (Erin- Ratu Vampir). Mereka semua memakai pakaian putih yang tertutup lengkap dengan topeng.
"Yang mulia Ratu!" Tiba-tiba saja muncul seorang pria dengan pakaian rapi seperti bangsawan Eropa. Seluruh mata pria itu hitam, dengan 2 garis merah menyilang yang bercabang pada setiap ujungnya. Karena tidak menyadari kehadiran pria itu, sang Naga bayang langsung saja melancarkan serangannya ke arah pria itu.
"Yang mulia Ratu!" Tiba-tiba saja muncul seorang pria dengan pakaian rapi seperti bangsawan Eropa. Seluruh mata pria itu hitam, dengan 2 garis merah menyilang yang bercabang pada setiap ujungnya. Karena tidak menyadari kehadiran pria itu, sang Naga bayang langsung saja melancarkan serangannya ke arah pria itu.
Bruussshh
Angin berhembus sangat kencang karena tendangan sang naga berhasil ditangkis oleh pria itu.
"Siapa kau!? Kenapa bisa masuk kemari!?" Mereka semua terkejut dan segera berdiri sambil mengeluarkan auranya yang sangat besar kecuali Erin sang Ratu Vampir.
"Tenang saja, dia roh panggilan milik Al," ucap sang Ratu Vampir dengan santai dan masih duduk di singgasana. Sang Naga bayang dan para ratu kembali duduk di singgasananya, sedangkan demon itu kembali menundukkan kepalanya.
"Kenapa kami tidak tau sama sekali!? Kamu juga sudah tau kenapa tidak memberitahu kami!?" Nia sang Ratu Peri terlihat marah kepada Erin.
"Bisa masuk kemari tanpa diketahui, berarti memang benar, tapi kenapa bisa menahan serangan Violet!?" Noe sang Ratu Elf melihat ke arah Erin dengan bingung.
"Roh yang berevolusi jadi ras demon? Bukankah seharusnya jadi undead ya?" Noa sang Ratu Es melihat ke arah demon itu sambil memegang dagunya sendiri.
"Memangnya Al mau yang biasa-biasa saja?" Erin.
"Tuan Al telah dibangkitkan kembali!" tanpa basa-basi, demon itu membuat mereka semua terdiam.
"Di mana tuan sekarang!?" Violet sang Naga bayang dengan auranya yang paling besar tiba-tiba saja sudah berada di depan demon itu lagi sambil menarik kerah bajunya.
"Mohon maaf, saya belum mengetahui lokasi Tuan Al," Demon itu masih menundukkan kepala.
"Noe, bagaimana keputusanmu?" Violet melepaskan genggamannya dan melihat ke arah Ratu Elf.
"Sudah jelas! Kerahkan pasukan ASU untuk mencarinya!" Noe segera berdiri lalu menghilang.
____
Kerajaan Buto
Kota raksasa di tengah hutan lebat dan ada bangunan seperti candi besar di tengah-tengahnya.
Wuuuussssh Brukkk
Ada raksasa yang terjun tepat di depan bangunan candi itu. Debu bertebaran, namun anehnya lantai batu yang jadi tempat mendaratnya itu tidak hancur, bahkan tidak retak sedikitpun. Raksasa tadi segera berlari menuju pintu masuk candi, namun pintu masuknya jauh lebih kecil dari badan raksasa itu.
Crrrrtas
Listrik mengalir di tubuh raksasa itu dan langsung berubah menjadi seukuran manusia. Walau di bagian luar terlihat seperti bebatuan candi biasa, namun bagian dalamnya sangat megah.
"Yang mulia Cakil gawat!" Raksasa tadi dengan panik mendekati sang Raja raksasa yang sedang bersantai di singgasana. Raja raksasa memangku kedua Ratunya di singgasana yang tinggi dan besar itu. Tidak hanya para Ratu, namun Rajanya sendiri memakai banyak perhiasan emas.
"Hohoho jangan panik, kalem kalem, jadi ada apa?" Cakil sang Raja Raksasa sambil menenangkan anak buahnya.
"Hamba dapat kabar kalau Raja kegelapan telah bangkit!" Raksasa itu berlutut, melapor kepada Rajanya dengan nafas masih tersengkal-sengkal.
"Haaaa? Aduh aduh bagaimana ini?" Sang Raja berdiri dan mondar-mandir kebingungan.
"Izinkan saya menarik mundur pasukan yang berada di benua Cora,"
"Ya iya mundur saja, nyawa itu mahal harganya. Jangan sampai mati konyol seperti Victor, si vampir bodoh itu hahaha." Raja Raksasa kembali duduk di singgasananya.
"Baik Yang Mulia, saya permisi." Raksasa itu berdiri dan langsung berlari pergi.
____
Gereja suci kota Cahaya
Kota yang indah dengan bangunan Eropa abad pertengahan. Tepat di tengah kota, ada gereja besar yang digunakan sebagai gereja pusat para penganut Dewi Cahaya. Di dalam gereja yang sangat besar itu, berdirilah sang Pendeta cahaya yang bernama Hiu Hiulus. Sang Pendeta memakai jubah putih panjang dengan songkok yang tinggi di kepalanya.
"Tuan!" Seorang laki-laki berjubah serba hitam bahkan tidak terlihat mukanya berlutut di depan Pendeta cahaya.
"Saya mendengar kabar, bahwa Raja kegelapan telah bangkit kembali," ujar pria tersebut.
"Jauhi benua Cora! Fokus saja penaklukkan benua Danirmala," Hiu Hiulus terlihat santai namun tegas.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi." Pria itu menghilang begitu saja. Setelah bawahannya pergi, Hiu Hiulus langsung lemas lalu duduk.
"Gawat, kenapa iblis itu muncul kembali?"
____
Setelah matahari terbenam, karena masih penasaran dengan sihir, aku melanjutkan latihanku. Untung saja cahaya bulan saat ini sedang bersinar terang.
"Baiklah, aku akan lanjut latihan." Aku berjalan keluar rumah.
"Masih belum menyerah?" Lia mengikutiku.
"Mana mungkin aku menyerah semudah itu,"
"Baiklah, kalau begitu semangat! Aku mau mandi dulu." Lia kembali masuk ke rumah sambil tersenyum ke arahku.
"Terima kasih," jawabku dengan muka memerah karena senyumannya.
"Aduh senyumannya manis sekali, disemangati cewek secantik dia membuat semangatku langsung meluap-luap." batinku bahagia.
....
"Kenapa hanya sihir penafsir saja yang bisa aku gunakan? Ahhhhh membingungkan, apa mungkin mataku ini istimewa?"
"Penglihatan jarak jauh!" Sambil melototkan mataku.
"Wihh berhasil," penglihatan milikku jadi membesar, bahkan semut di tanah sampai terlihat dengan jelas. Setelah itu, aku coba memandangi lautan untuk memastikan seberapa jauh jangkauannya.
"Lebih jauh, lebih jauh, ehh kok awan? Oh iya bumi kan bulat berarti harus dari tempat yang tinggi, andai saja bisa teleport ke atas bukit itu." Saat memandangi atas bukit dan mengimajinasikan diriku berada di sana, tiba-tiba saja aku berpindah di atas bukit itu.
"Seriusan berhasil!? Mantap jiwaa!" Aku memandangi desa nelayan yang berada di bawah bukit lalu memandangi lautan yang luas. Tiba-tiba muncul lagi ide bagus di kepalaku, aku segera melihat ke arah rumah Lia.
"Mata tembus pandang! Penglihatan jarak jauh!"
"Muehehe mari kita lihat Lia sedang apa?" Dengan gabungan dua penglihatan itu, aku bisa melihat dengan jelas Lia yang sedang mandi, bahkan terlihat seperti sedang berada di dalam kamar mandi itu bersama Lia.
"Woohhh, tubuhnya walau masih dalam masa berkembang namun sangat proporsional, kulitnya yang coklat bersih, pinggang ramping, dadanya yang sedang namun bulat dan putingnya berwarna merah muda indah sekali." Aku terpana melihat dia, jelas sekali bahkan saat pertama kali melihatnya, aku sudah jatuh cinta kepada Lia.
"Sudah sudah! Apa yang aku pikirkan!?" Sambil menampar pipiku sendiri, lalu saat aku melihat ke arah lautan, ada gurita besar yang menyerang sebuah kapal.
"Hahh, kenapa gurita sebesar itu!? apa harus aku tolong nelayan itu? Tapi bagaimana? Ahh masa bodoh lah!" Dengan nekat aku berteleport menuju kapal itu.
"Siapa kau? Kenapa tiba-tiba ada di sini?" Para awak kapal itu kaget dengan kehadiranku yang tiba-tiba berada di tengah-tengah mereka.
"Awas menyingkir dari sana!" seorang pria dengan pawakan tinggi besar penuh otot berteriak kepadaku. Ternyata monster gurita itu melancarkan serangan ke arahku, aku panik dengan reflek membuat posisi tangan menangkis.
Cetass duas duas
Serangannya tidak mengenaiku, ternyata terbentuk penghalang besar menahan serangan tadi. Tidak berlama-lama, aku segera mencoba teleportasi untuk kapal beserta nelayan itu ke pantai, tak kusangka ternyata berhasil.
"Apa yang terjadi!?" Mereka semua terkejut menyadari sudah berada di garis pantai.
"Maaf, aku pindahkan ke pantai,"
"Bagaimana bisa!?"
"Dengan sihir," aku bingung mau bagaimana menjelaskan kepadanya.
"Terima kasih banyak karena menyelamatkan nyawa kami." Pria besar tadi mendekatiku.
"Tidak apa-apa, aku hanya kebetulan lihat kalian diserang saja,"
"Saya Bob!" Sambil mengulurkan tangannya dan kami bersalaman.
"Saya Al."
"Kau seorang petualang kah?" tanyanya.
"Bukan,"
"Ohh, penyihir yang dikirim kerajaan?"
"Bukan juga,"
"Pokoknya sekarang ikutlah ke rumahku, akan aku masakkan hasil tangkapan kali ini." Sembari menarik tanganku.
"Woy kalian urus kapal! Lalu bawa saja ikannya ke rumahku," paman Bob berteriak kepada anak buahnya.
Apa sudah menjadi tradisi di sini ya, ada orang asing diajak ke rumah.
....
"Apa apaan monster tadi itu?" tanyaku di perjalanan.
"Monster gurita, tidak kami sangka dia berada di sini," ucapnya santai.
"Jadi biasanya tidak ada?"
"Perairan kami selalu aman, bagaimana nasib nelayan di sini apabila monster itu berdiam di sana?"
Saat aku sadari, ternyata kami mengarah ke rumah Lia.
"Ehh anda ayahnya Lia?"
"Ehhh sudah kenal dengan anakku?" Kami berdua sama-sama kaget dan saling pandang beberapa saat.
"Hahaha bisa kebetulan sekali ya," lanjutnya.
Apa yang akan dia lakukan kalau tahu sebelum menyelamatkan dia, aku mengintip anaknya yang sedang mandi. Ya, pertukaran yang impas bagiku, melihat tubuh indah Lia dengan nyawa ayahnya.
"Ayah kenapa di sini? Kenapa bisa bersama Al!?" Lia berada di depan rumah segera mendekati kami, mungkin saja mencariku karena aku tidak ada.
"Banyak yang terjadi, mari masuk dulu!" Paman Bob menarik kami berdua untuk masuk ke dalam rumah.
...