"Om jaga kesehatan ya di sana, aku bakal nunggu om pulang, makasih udah kasih aku baju, mainan dan yang lainnya.
Tapi sekarang om sudah mau pergi lagi, aku harap om gak lupain aku! Jangan lupain aku ya om, please! Kalau pulang kabarin juga! Dadah Om Nicky! Aku tunggu <3"
Sebuah tulisan di kertas yang hampir robek sebagian, ia tutup kembali lalu menggantungkannya, surat kecil itu sudah usang dimakan usia.
Sudah bertahun-tahun berlalu, waktu terasa begitu lambat sangat lambat. Ia beharap bisa pulang lebih cepat, namun ia mengurungkan niatnya agar bisa lebih lama tinggal di kampung halaman.
Setelah lulus ini, pria bernama Nicky itu akan pergi lagi untuk melanjutkan S2, ia ingin menjadi dokter spesialis bedah dan itu akan memakan waktu yang lama lagi.
Jadi dia akhirnya sampai di titik ini, dimana dia pulang membawa prestasi besar tak lupa dia juga mempersiapkan beberapa hadiah untuk semua orang, termasuk ibunya.
Dan yang lebih membahagiakannya sekarang, ibunya sedang hamil. Ia tak sabar memiliki adik.
Sekarang Nicky masih berada di pesawat, mungkin sebentar lagi akan mendarat, dia berharap anak itu ikut menjemput seperti di mana dia ikut mengantarnya, kabarnya setelah mengantar anak itu jatuh sakit.
Pasti anak itu sudah besar, ia ingin tau setinggi apa dia sekarang. Namun saat sampai wajahnya yang semulanya senang saat turun dari pesawat mendadak kecewa, padahal ia sudah berharap anak itu ikut.
Tak apa, selama ia di sini ia akan mengunjungi anak itu kapan pun. Gadis kecil yang membuat dia merasa bahagia dalam waktu singkat, anak itu bernama Puspita.
.
.
Sebuah suara memotong dari dapur, begitu cepat seakan mereka akan mati bila mana, potongan itu tak kunjung siap. "Buruan doang Puspita! Acaranya mau mulai sore ini."
"Iya ini juga mah, emang ada apa sih?" tanya seorang gadis yang di kuncir kuda pada bagian rambutnya, tahun ini dia memasuki dunia putih abu-abu, yang mana orang bilang paling banyak kenangan di sana.
Baru beberapa saat yang lalu dia pulang sekolah, dan di suruh sang nyonya besar untuk memasak pesanan, majikan mereka yang ingin berbagi pada sesama.
Hampir 800 nasi kotak wanita itu siapkan sendiri dan gilanya itu selesai dalam waktu 2 Hari, dengan dia yang tidak tidur bersama ibunya.
Setelah dia lulus SD, ibunya membuka bisnis nasi kota dan pesanan untuk acara lainnya, hingga sekarang dan sialnya dia ke timpaan capeknya karena harus membantu wanita itu jika ada pesanan.
Ya walau sering di kasih uang lebih besar, tetap saja capek yang ia rasakan.
Ia sekarang memotong timun dan wortel untuk acar, setelah di atas sudah dia memberikan baskom berisi irisan kedua bawah itu pada ibunya. "Nih!"
"Nah pinter, sekarang bungkusin sounnya ya!" ujar sang ibunda yang membuat gadis bernama Puspita menghembuskan nafas kasar sambil memasang wajah masam. Mau di tolak takut di kutuk, gak di tolak dia yang capek, nasibnya memang.
"Mah!" panggil Puspita kala tengah memasukan mie putih yang sudah di beri bumbu itu, tak lupa kasih kecap yang lumayan banyak sehingga menghasilkan warna coklat pekat yang menggiurkan.
"Hhhmm, apa?" tanya ibunya yang kini sedang membumbui acar itu.
"Nyonya ada apa sih, pesan segini banyak? Buat acara 3 bulanannya ya?" tanya Puspita, ya wanita yang duduk di kursi roda itu sekarang tengah mengandung 2 bulan lebih, dengar-dengar kembar juga.
Ayah gadis itu bekerja sebagai tukang kebun di rumah wanita yang mereka sebut "Nyonya" itu.
"Ngacok kamu, 2 bulan aja belum genap," ucap ibunya yang membuat Puspita nampak berpikir lagi.
Sekarang sudah ada 10 buah soun yang ia bungkus, karena sudah terbiasa sejak dulu, bergerak cepat pun tak masalah.
"Lah terus? Buat apa dong? Ah aku tau sekarang tuan bos dapet bisnis baru, ya kan?" tanya Puspita kembali menebak dan terlihat senang karena jawabannya kali ini pasti benar.
"Sok tau kamu, emang kamu gak tau hubungan suami istri kayak gimana?" tanya ibunya yang kini menaruh acar yang sudah ada cabe rawit hijau utuh bercampur bersama timun dan wortel itu.
"Enggak, emang kenapa?" tanya Puspita polos, padahal ayahnya kerap kali bercerita pada ibunya soal kedua majikan itu, tapi seperti Puspita yang rangking 1 dari bawah itu memang benar-benar bodoh untuk mencerna sesuatu.
"Mereka tuh gak pernah akur, bahkan sering berantem, masa kamu gak tau? Ayah kamu sering cerita juga kalau ada kejadian pertengkaran mereka."
"Hahaha." Tawa Puspita yang tiba-tiba membuat ibunya menatap sang putri heran, sekarang ia lihat sudah ada 30 bungkus yang gadis berumur 16 tahun itu buat.
"Kenapa kamu ketawa?"
"Mama, mama, mana ada suami isteri yang bertengkar tiap hari, tiap malam punya anak, bahkan anaknya mau 3 lagi, gak masuk akal banget."
Pletak! Sebuah centong kayu berbentuk sedikit kotak di atasnya, mendarat tepat di kepala Puspita dan tentu saja biang keroknya sang ibunda tercinta.
"Kamu tuh ya, tentu aja karena tuan bos itu pemaksa, tapi mama juga heran sih kata orang tuan bos itu mandul, tapi kok anaknya jadi banyak ya?"
Puspita mengangguk setuju, pikiran ibunya walau yang baru saja terkena pukulan dia, rupanya yang berpikir lebih normal itu ibunya.
"Ah mama tau, pasti bayi tabung, iya itu pasti."
Puspita sekarang berpikir juga, mungkin saja sih, tapi ia tak mau ambil pusing yang penting bagaimana caranya agar ini selesai dalam waktu singkat. Sekarang saja sudah jam 1 siang dan bungkusan mereka masih banyak.
"Oh iya, mama lupa kasih tau kamu. Kalau sebenarnya pesanan makanan sebanyak ini, untuk menyambut tuan muda yang pulang."
Prang! Sendok di tangan Puspita jatuh. "Tuan muda mau pulang mah?"
"Iya, kamu tuh kenapa sih? Bikin mama kaget aja?" tanya ibunya yang heran, tak lama wajah anaknya yang semula syok mendadak tersenyum lebar.
Dengan cepat dia memasukan soun itu, dengan kekuatan penuh membuat ibunya heran. Tak lama ia ingat tentang kejadian masa lalu dimana mereka berdua bersama dalam waktu singkat lalu berpisah dengan rasa sedih yang membekas.
Setelah pulang anak itu sakit selama 2 hari, itupun jika tidak di infus mungkin nyawanya sudah tak tau lagi, dengar-dengar anak itu telah menyelesaikan sarjana kedokteran nilai kelulusan yang tinggi.
Entah wanita beruntung mana yang akan menikahinya, padahal kalau di ingat-ingat melanjutkan pekerjaan ayahnya saja, dia bisa begitu banyak uang, kenapa harus menjadi dokter?
"Pita!" panggil ibunya yang membuat gadis yang sudah membuat hampir 70 bungkus itu menatap ibunya heran.
"Mama harap kamu jangan terlalu dekat dengan Tuan muda! Bagaimana pun kita ini berbeda, nak!"
Mendengar hal itu, entah kenapa hati Puspita sakit, dia pun mengangguk sambil menunduk, memasukkan mie panjang itu lebih lambat dari pada sebelumnya.
Malamnya Puspita berdandan dan memakai parfum lebih banyak, sehingga ia tercium sangat wangi. Ibunya yang hendak masuk kamarnya terkejut dengan aroma wangi yang begitu banyak hingga ia menutup hidung.
"Puspita! Pita!" teriak ibunya, yang membuat gadis yang baru masuk SMA itu keluar dari kamar, dan aroma itu semakin menjadi-jadi, sontak saja wanita paruh itu tau siapa biang kerok dari masalah ini. "Kamu kenapa pakai parfum banyak banget, mau kemana lagi itu?"
"Mau ke acara Om mah, emang wangi banget ya?" tanya Puspita yang sekarang mencium aroma tubuhnya.
"Iya, wanginya bikin mama enek, mending kamu ganti baju sana, kalau gak mau satu pesta pusing karena aroma kamu itu, ih wanginya udah kayak kuburan baru," ucap ibunya sambil menggidik ngeri, membuat Puspita memanyunkan bibirnya.
"Jahat sekali," ucapnya yang kembali masuk kamar untuk berganti pakaian, hingga ibunya sadar kalau dengan kata putrinya yang akan pergi ke pesta.
"Puspita!" ucap ibunya yang sekarang menggedor-gedor pintu kamarnya.
"Ih apa sih mah? Orang lagi ganti baju juga ini."
"Kamu tadi mau kemana?" tanya ibunya lagi, yang membuat gadis itu terdiam beberapa detik, padahal tadi siang wanita itu sudah melarangnya agar tidak terlalu dekat, tapi saat ia berkata akan pergi ke pesta wanita itu nampak biasa saja.
"Ke Om."
"Kan mama udah bilang, jangan deket-deket sama keluarga majikan ayah kamu! Kok kamu gak paham-paham sih?"
Tiba-tiba pintu terbuka menampakkan puspita dengan cemberutnya yang begitu bawah, tak lupa pipi chubby yang tak hilang sampai sekarang. "Tapi dia om aku mah."
Pletak! Sebuah sentilan di kening membuat sang pemilik kesakitan dan mengisap tanda merah yang ibunya buat. "Kamu tuh ya dasar ngeyel banget, bukan apa-apa Puspita kalau sampai kamu buat masalah pekerjaan ayah kamu taruhannya, mungkin nyawa juga sama."
Wajah Puspita nampak terkejut mendengarnya. "Nyawa?"
"Ah sudah lupakan, intinya kamu gak boleh pergi!"
"Mama, cuma sebentar aja! Aku janji jadi anak yang baik," rayunya sambil mengedipkan matanya berulang kali, agar wanita yang melahirkannya ini iba.
"Kamu punya uang mau ke sana?" tanya ibunya yang dibalas gelengan kepala dari Puspita.
Tangannya mengambil dompet yang ada di saku celana, lalu memberikan gadis itu 1 lembar uang kertas merah yang bertuliskan uang 100 ribu. "Nih! Awas aja kalau buat ulah!"
"Makasih mah, mama yang terbaik," ucap Puspita yang memeluk tubuh ibunya lalu menciumnya berulang kali sebelum benar-benar pergi dari rumah.
Sedangkan ibunya yang mendapatkan itu hanya menggeleng sambil tersenyum, ia harap anaknya tak memiliki perasaan apapun pada tuan muda itu, jika iya maka akan sulit mengatasinya.
.
.
Puspita menggenggam kotak coklat yang isinya jam tangan bernilai uang yang diberikan sang ibu, ia kemari mengendarai motor tua milik ayahnya.
Tapi kata ibunya uang hasil usaha mereka ia kumpulkan untuk membeli motor yang lebih bagus dan memperbaiki rumah mereka, karena gaji ayahnya hanya mampu untuk makan sehari-hari jadi itulah kenapa ibunya melakukan semua pekerjaan itu.
Ia masuk kedalam rumah megah itu, ruangan yang ricuh sama seperti 8 tahun yang lalu. Akan tetapi kali ini orangnya lebih banyak, membuat Puspita gugup, dia merapihkan pakaiannya yang terlihat begitu kampungan di tengah-tengah banyak manusia yang berpakaian serba mewah.
Dia berjalan mencari sosok yang ia cari, namun yang ada beberapa orang yang ia lewati nampak memperhatikan dandanannya, Puspita merasa menjadi sangat kecil di tengah mereka.
Kata satpam acara penyambutannya sudah berakhir tadi, sekarang hanya tinggal menikmati hidangan yang tersedia dan musik biola yang indah juga klasik.
Sedangkan tak jauh dari sana Nicky meminum wine segar yang tersedia di beberapa meja di sekitarnya, dan ia mengambil satu untuk dirinya sendiri.
Ibunya yang tengah hamil muda merasa mual yang menyiksa hingga tak bisa hadir, membuat Nicky merasa sangat kesepian di tengah ratusan manusia didepannya.
Ayahnya juga menyambut beberapa tamu, tak lama ia melihat asisten ayahnya yang tengah setia berdiri dibelakangnya. "Paman Angga!"
"Ya Tuan?"
"Duduklah paman!" ujar Nicky yang membuat Angga duduk di sampingnya.
"Apa ibu dan ayah masih belum baikan?" tanya Nicky yang penasaran sejak dulu, tapi mereka seakan menutup rapat apa yang terjadi pada kedua orang itu.
"Maaf Tuan, tidak baik membicarakan masalah keluarga di tempat ramai seperti ini!"
"Baiklah ayo kita ketempat lain!" ujar Nicky yang menarik tangan pria yang lumayan banyak uban putih di kepalanya.
"Maaf Tuan, saya masih ada urusan, saya permisi!" ucap Angga yang beranjak dari duduknya, menunduk lalu pergi begitu saja membuat Nicky menatapnya jengkel.
"Lagi, lagi dan lagi seperti ini, sebenarnya apa yang terjadi sih?" tanya Nicky yang kini memijat keningnya, karena bingung.
Saat sedang kesal seorang pria gendut dengan beberapa wanita datang menghampirinya, membuat Nicky bingung tapi ia meladeninya dengan senyuman yang dibuat senatural mungkin.
Sebagai orang di sini memang datang memberikan ucapan selamat atas prestasi yang ia buat, tapi bagi Nicky pria gendut yang ada di depannya inilah yang paling gila.
"Nicky! Nicky memang jika bibit unggul tak pernah salah," ucap pria itu sambil memberikan tangan guna menjabat tangan, tentu saja dengan cepat Nicky membalasnya dengan bungkukan yang sedikit rendah.
"Terimakasih Tuan--"
"Kamu melupakanku? Tuan par!" ujarnya yang membuat kerutan di dahi Nicky, ia akan mencari tau orang ini tapi sebelumnya ia harus bersikap seramah mungkin, ya walau ayahnya terkesan lebih serius.
"Ah iya Tuan par, aku lupa maaf."
"Belajarlah yang rajin! Aku dengar kamu ingin melanjutkan kuliah S2mu ya?"
"Iya tuan."
Pria bertubuh gempal itu menepuk-nepuk pundaknya. "Seandainya aku memilih anak berbakat sepertimu, aku pasti akan sangat senang hahaha."
Nicky hanya tersenyum mendengarnya hal itu, namun yang membuat dia lebih risih, tatapan perempuan yang bersamanya terlihat begitu murahan, dia membuat wajah menggoda tapi Nicky sama sekali tak tertarik.
Mereka jalang pria sialan ini.
"Anda terlalu berlebihan, Tuan."
Mereka tertawa beberapa detik hingga pria gendut itu memperhatikan seluruh wanita yang bersamanya. "Sayang-sayangku, ayo kita pergi!"
"Tuan! Aku ingin beberapa saat lagi di sini."
"Iya kakiku pegal."
"Iya aku juga."
Mereka berceloteh dengan mendayu-dayu membuat Nicky menghembuskan nafas kasar sambil menggeleng, entah apa yang mereka lakukan.
"Baiklah kalian di sini dulu, temani Tuan Nicky! Kali saja dia butuh pelepasan hahaha."
Nicky tersenyum simpul, dalam hatinya berkata "Siapa juga yang mau barang bekas darimu."
Pria itu pergi meninggalkan 5 wanita itu dihadapannya dan tanpa ia duga mereka semua mengelilingi tubuhnya bahkan ada yang dibawah meraba kaki.
Dia yang berusia 24 tahun yang saat di luar negeri hanya ada belajar dalam otaknya, hingga ia tak terlalu memikirkan perempuan membuat dia tampak jijik dengan wanita-wanita itu. "Apa yang kalian lakukan?"
"Tuan muda, kenapa anda terlihat begitu polos? Bukankah usia seperti anda sedang matang-matangnya?" tanya salah satu dari mereka, membuat Nicky bingung. Matang memang dia buah?
Beberapa orang melihat itu membuat Nicky merasa malu. "Lepaskan aku!"
"Hei jalang sialan!" teriak seorang gadis dari kerumunan orang itu, mereka semua melihatnya hingga seorang wanita dengan dua orang di belakang datang dengan wajah angkuh.
Nicky tau siapa itu, mereka baru saja berkenalan. Gadis yang mendapatkan sendok emas sejak lahir seperti dirinya nampak sangat menyukainya, entah apa yang akan terjadi lagi nanti.
Sedangkan Puspita berjalan kearah kerumunan orang yang nampak ricuh, dengan rasa gugup dia memberanikan diri untuk bertanya. "Maaf itu ada apa ya?"
Wanita yang ada di sampingnya menatap rendah Puspita, namun tak lama dia menjawabnya. "Beberapa gadis Tengah memperebutkan Tuan muda."
"Tuan muda?" tanyanya memastikan.
"Iya, Nicky anak tuan Archer."
Puspita terdiam sebentar hingga dia menunduk sambil tersenyum. "Terimakasih, nona."
Gadis itu mencoba mencari cerah agar bisa melihat pria yang ia cari dan tunggu selama 8 tahun tersebut. Hingga ia sampai di kerumunan yang paling depan namun wajah pria itu tak terlihat karena banyak wanita yang menghalanginya.
Ia melihat bagaimana cantiknya, juga aksesoris yang sangat mahal itu membuat Puspita menunduk dengan hadiah yang ada di tangannya.
Ia merasa tak pantas berada di sini, apa ia pulang saja?
"Puspita!" ucap seseorang pria yang sekarang menggeser beberapa wanita itu, dan menatapnya dengan senyuman.
Puspita melihatnya, pandangan mereka bertemu dan sekarang ia paham kenapa mereka meributkan pria itu, dia sangat tampan.
Nicky memandang beberapa wanita yang tengah ribut di hadapannya, mereka dengan wajah tak niat, bahkan ada yang dari mereka menjambak rambut satu sama lain.
Ia tak mengerti mengapa mereka meributkan dirinya, hingga semua nampak memperhatikan mereka, Nicky tak berniat melerai mereka, bahkan ayahnya saja entah kenapa.
Biarkan saja mereka lakukan apa yang mereka mau, ia sama sekali tak perduli.
Dia meminum wine lagi dalam sekali tegukan dan air berwarna merah itu habis diminumnya, ia memperhatikan gelas dengan bentuk seperti terompet ini, sebenarnya barang unik seperti gelas ini bagusnya menjadi pajangan dari pada menjadi sungguhan.
Dari celah gelas di depannya, ia melihat di antara mereka semua, ada gadis dengan rambut yang mengepang panjang ke bawah menatap hal didepannya dengan wajah sedih.
Dia memegang sebuah kota didepannya dengan erat, wajahnya yang chubby mengingatkan dia dengan seseorang. Melihat tubuh gadis itu berbalik ia hanya tau satu nama. "Puspita!"
Ia berjalan melewati kerumunan wanita yang entah memperebutkan apa, hingga ia berada di depan gadis yang tinggi mungkin hanya sampai dadanya.
Pandangan mereka bertemu, Nicky memikirkan kesempatan ini untuk kabur dari wanita-wanita rese itu. Dengan cepat dia berjalan mendekati Puspita dan menariknya pergi. "Ayo kita pergi, ada sesuatu yang harus aku katakan."
Tangannya tiba-tiba di tarik, membuat Puspita menatap tak percaya. Perlahan-lahan tapi pasti langkah itu semakin cepat, hingga mereka pergi ke area taman belakang rumah itu.
"Huh, mereka benar-benar," ucap Nicky lega, sedangkan Puspita hanya menatap terpesona pada pria di depannya. Pria yang tadi baru saja menghembuskan nafas lega mantapnya dengan ramah. "Maaf ya, namamu siapa?"
Puspita terkejut, ia kira pria ini menyebut namanya karena kenal, tapi kenapa dia bertanya lagi? Karena tak ada jawaban Nicky menggaruk kepalanya tak gatal. "Aku tadi menyebut namamu karena ingat dengan adik kecilku, dan kesempatan untuk kabur juga, mereka benar-benar gila? Apa yang mereka inginkan dariku, iyakan?"
Puspita hanya tersenyum, senyuman tipis itu entah kenapa membuat jantung Nicky berdetak. Gadis pendek itu sangat manis dengan senyuman lembut miliknya. "Mungkin mereka sangat menyukai anda, Tuan muda."
Nicky mengangguk memang tak aneh, diluar negri pun dia juga kadang menjadi pacar impian para kaum hawa, tapi yang lebih brutal di negara sendiri. "Tapi aku tidak menyukai mereka."
"Lalu seperti apa yang anda suka?"
Pria itu terdiam sebentar mendengar pertanyaan gadis yang ada didepannya. "Aku suka gadis yang ... Manis."
Puspita hanya tertawa kecil mendengarnya, biasanya pria menginginkan wanita yang cantik, bertubuh seksi dan sesuatu yang binal tentang bagian tubuh mereka.
Beberapa teman sekolahnya bicara seperti itu, tentang type ideal mereka tapi kenapa didepannya ini berbeda. "Apa anda suka dengan gadis yang banyak gula di wajahnya?"
"Ah bukan seperti itu maksudku, imut. Aku suka gadis yang imut, oh iya kamu belum jawab tentang namamu?" tanya Nicky, dari semua orang hanya gadis ini yang berpakaian paling sederhana dan terkesan kampungan.
"Puspita!"
"Hah?" tanya Nicky tak percaya.
"Namaku Puspita, Om!" ucap Puspita yang tersenyum lebar, rupanya dia banyak berubah sehingga Nicky tak mengenalinya.
Wajahnya masih mematung tak percaya, hingga dia mendekat kearah wajah Puspita membuat gadis yang baru menginjak usia lebih dewasa lagi itu, memundurkan wajahnya karena terkejut. "Om mau apa?"
Tiba-tiba kepalanya dipegang Nicky yang membuat Puspita menutup matanya, dia belum siap ciumannya akan di rebut. Hingga satu menit berlalu tak ada apapun yang terjadi, membuat gadis itu kembali membuka matanya.
Ia terkejut dengan wajah Nicky yang masih ada didepannya. "Om ngapain sih?"
"Hah, aku melewatkan banyak hal tentang kamu Puspita, kamu jadi sangat besar dalam waktu singkat."
"Singkat? 8 tahun itu singkat?" tanya Puspita yang tak percaya. "Dan Om terlihat begitu dewasa, ada bulu halus juga di wajah."
Puspita memegang wajah Nicky yang membuat pria itu memandangnya lekat, karena tatapan itu buru-buru Puspita melepaskannya, ia merasa akan ada sesuatu yang meledak di dadanya.
Dia sangat tampan dan matanya juga begitu indah saat memandang, membuat dia gugup juga salah tingkah dalam satu waktu.
Nicky mengusap lembut rambut Puspita sambil tersenyum, tinggi tubuh yang berbeda jauh membuat Nicky harus membungkuk untuk melihat wajah gadis yang dulu sama kecil seperti sekarang. "Apa kamu merindukan Om, hhhmm?"
Puspita yang malu dengan perasaan menunduk sambil mengangguk, entah kenapa dia takut melihatnya, apa karena sudah dewasa jadi ia merasa sensasi aneh ini. "Iya aku kangen sama Om."
"Om juga kangen, dan apa ini?" tanya Nicky yang mengambil kota hitam dari tangan Puspita, gadis yang terkejut karena hadiah murahnya di ambil buru-buru meraihnya kembali, ia takut Nicky akan kecewa dengan barang yang ia berikan.
"Om itu bukan apa-apa, sini hin!" ujarnya yang meraih tangan Nicky yang begitu tinggi untuk di raih.
Nicky masih meledek dengan tangan yang mengacung lebih tinggi lagi, perbedaan tinggi yang jauh membuat Puspita benar-benar tak bisa meraihnya sama sekali.
Hingga gadis itu menyerah dan terdiam sambil memanyunkan bibirnya, pipinya juga ikut menggembung karena aksi itu. "Sudahlah, lagi pula itu emang buat om kok."
Nicky menurunkan tangannya, memandang kotak itu. "Buat om?"
"Iya, aku beli gak mahal jadi aku malu," ucap Puspita yang sekarang menyembunyikan seluruh tangannya di punggung.
Nicky membukanya, lalu dia tersenyum.
Cukup lama Puspita menunduk tak berani melihat, pria yang dulu sangat baik padanya. Entah kenapa sekarang ia takut kalau empatinya membuat dia salah paham pada rasa dalam dirinya.
"Lihat, bagus tidak?" tanya Nicky yang membuat Puspita melihat kearahnya, sekarang terlihat tangannya memakai jam tangan yang ia beli tadi.
"Harganya cuma 100 RB, Om."
Nicky terdiam beberapa detik, lalu mengeluarkan uang yang ada di saku celananya, beberapa lembar merah ada di sana. Nicky mengerti 5 lembar uang ke tangan Puspita yang membuat gadis itu heran. "Apa ini om?"
"Kamu jual jam tangan ini sama om, kan?"
Mendengar itu, Puspita menatapnya kesal dan haran. Ia mendorong uang itu dengan wajah tak bersahabat. "Bukan om, aku beli itu harganya 100 rb, maksud aku kalau om gak nyaman udah jangan pakai gitu, bukan aku jual jam tangan!"
"Oh, om kira kamu jualan," balas Nicky yang kini menarik tangan gadis itu dan memberikan uang yang tadi di tolak oleh Puspita, secara kasar dia letakan di telapak tangannya lalu setelah itu membuat tangan itu mengepal. "Buat jajan!"
"Om banyak uang sekali ya, sampai ngasih aku uang Mulu?"
"Emang banyak sih, ini cuan secuil dari uang om di rekening, kenapa? Kurang banyak?" tanya Nicky, yang membuat Puspita menarik tangannya.
"Sudahlah, tak ada gunanya bicara sama orang kaya, taunya cuma uang-uang terus."
Puspita pergi membuat Nicky nampak heran dengan aksi itu, bukannya anak itu yang mulai bertanya, dia hanya menjawab saja. "Apa anak sekarang memang tak jelas?"
.
Pesta berjalan dengan lancar bagaimana semestinya, pesanan yang begitu banyak itu sudah di berikan ke beberapa panti asuhan, panti jompo juga pengemis di pinggir jalan, sebelum pesta ini berlangsung.
Sekarang jam 1 dini hari, Puspita nampak membantu membereskan kekacauan dengan pelayan yang lainnya, Nicky yang sekarang bersama ibunya berdiri menatap setiap hal yang mulai di rapihkan.
Wanita yang selalu duduk di kursi roda sepanjang hari itu, keluar untuk menyapa tamu yang hendak pulang, dia takut akan ada rumor aneh jika ia tidak keluar sama sekali.
Mereka nampak memperhatikan Puspita, yang dengan rajin membantu yang lain, juga tatapan Nicky yang begitu lekat.
"Anak itu cepat sekali besar ya?" tanya ibunya yang membuat Nicky terdiam, sambil mengembangkan nafas.
Entah kenapa sering kali terdengar suara batuk dari bibir ibunya, belum lagi tubuhnya yang semakin kurus. Ia sedikit ragu kalau ibunya akan melahirkan nantinya.
"Iya, mah. Aku tadi gak tau kalau itu Puspita," ucapnya sambil tersenyum.
"Kamu mau berpacaran dengan dia?" tanyanya ibunya yang serius, membuat Nicky tak paham.