Malam itu, Flora melangkah pelan memasuki ruangan yang dipenuhi suara tawa dan musik keras. Pesta lajang untuk sahabatnya, Zeanne, sedang berlangsung dengan meriah. Flora sebenarnya bukan tipe gadis yang suka keramaian seperti ini, tetapi demi menghormati Zeanne, dia datang juga.
Zeanne, yang mengenakan gaun merah mencolok, segera melihat Flora dan melambai dengan antusias. "Flora! Akhirnya kamu datang juga!" serunya sambil berjalan cepat ke arahnya.
Flora tersenyum tipis. "Iya, aku datang. Aku nggak mungkin melewatkan acara penting ini buatmu."
Zeanne memeluknya erat, "Aku tahu ini bukan acara yang kamu suka, tapi aku senang banget kamu bisa di sini. Kamu tahu, pesta ini nggak akan lengkap tanpa sahabat terbaikku."
Flora tersenyum lagi, kali ini lebih tulus. "Kamu memang tahu aku nggak nyaman di tempat ramai seperti ini, tapi demi kamu, Ze, aku akan bertahan."
Zeanne tertawa lepas. "Kamu selalu begitu, Flora. Selalu ada buatku, meskipun terkadang aku minta hal-hal yang aneh."
Flora menatap Zeanne, melihat betapa bahagianya sahabatnya itu. Meskipun pesta ini bukan dunianya, Flora merasa senang bisa ada di sana, bersama Zeanne di momen penting hidupnya. "Yang penting kamu bahagia, Ze. Itu yang paling penting buatku."
Zeanne mengangguk, lalu menarik Flora ke tengah kerumunan. "Ayo, mari kita buat malam ini jadi malam yang nggak akan terlupakan!"
Zeanne menarik tangan Flora dengan semangat, membawa sahabatnya itu menuju tengah ballroom yang luas, dihiasi lampu kristal yang berkilauan. Mereka berada di salah satu hotel paling megah di pusat kota, tempat pesta itu digelar dengan segala kemewahannya.
Flora memandangi sekeliling, sangat terpesona oleh gemerlap cahaya dan dekorasi yang tampak elegan, tetapi suasana pesta yang hingar-bingar tetap membuatnya sedikit gelisah.
Suara dentuman musik berdentam keras, seolah memantul dari dinding-dinding ballroom. Aroma alkohol yang menyengat perlahan memenuhi udara, bercampur dengan parfum mahal para tamu.
Flora mencoba bersikap tenang, meski jelas ini bukan dunia yang ia kenal. Dia hanya ingin malam ini cepat berlalu, demi bisa mendukung Zeanne yang sedang menikmati momen spesialnya.
Tanpa terlalu memikirkan, Flora meraih sebuah gelas dari nampan yang dipegang oleh seorang pelayan yang melintas. Matanya masih teralihkan oleh Zeanne yang tertawa bersama teman-teman lain, jadi dia tak terlalu memerhatikan minuman apa yang sedang ia pegang.
Dalam sekejap, Flora menenggak isinya. Cairan dingin itu mengalir dengan lancar, tetapi sedikit rasa asam di akhir membuatnya tersadar.
Flora menurunkan gelasnya perlahan, dan baru menyadari bahwa ia baru saja meminum segelas wine.
"Aduh," bisiknya pelan pada dirinya sendiri.
Dia bukan peminum, dan fakta bahwa dia tanpa sengaja menenggak alkohol membuatnya sedikit panik.
Namun Zeanne terlalu sibuk menikmati pesta untuk menyadari apa yang baru saja terjadi. Flora menatap gelas kosong di tangannya, berpikir apa yang seharusnya ia lakukan selanjutnya.
"Flora, ayo ikut dansa!" teriak Zeanne yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
Flora menggelengkan kepala dengan lembut, mencoba menolak ajakan Zeanne. "Aku nggak bisa, Ze, rasanya kepalaku mulai pusing," katanya, suaranya nyaris tenggelam dalam dentuman musik.
Namun, Zeanne tak menyerah. Dengan senyum lebar, dia tetap menggandeng tangan Flora, menyeretnya ke tengah kerumunan yang semakin ramai.
"Ayolah, cuma sebentar!" Zeanne berseru, tak menyadari perubahan pada sahabatnya.
Flora berusaha mengikuti, tapi setiap langkah yang ia ambil terasa semakin berat. Pandangannya mulai kabur, lampu-lampu di ballroom yang berkilauan tampak berputar-putar di sekelilingnya. Kepalanya berkunang-kunang, dan suara tawa serta musik tiba-tiba terdengar semakin jauh, seperti dari ujung terowongan.
Dia mencoba menarik napas dalam-dalam, tapi tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan. "Ze ... aku-" Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya limbung, dan dia hampir terjatuh.
Namun, tepat pada saat itu, Flora merasa tubuhnya tertahan oleh sesuatu yang kuat. Seseorang telah menangkapnya sebelum dia terjatuh ke lantai.
Flora membuka mata yang berat dan menatap ke atas, hanya untuk menemukan dirinya bersandar pada dada seseorang-seseorang dengan tubuh kekar yang tidak ia kenali.
"Kau baik-baik saja?" tanya suara bariton yang terasa asing di telinganya.
Flora mencoba menjawab, tapi kepalanya semakin berputar. Dia tidak tahu siapa pria itu, tetapi rasa aman yang tiba-tiba muncul dari genggaman erat di punggungnya membuatnya sedikit tenang di tengah kekacauan.
Zeanne, yang baru menyadari situasi sahabatnya, bergegas menangkup kedua pipi Flora dengan wajah panik.
"Flora! Astaga, apa yang terjadi?" Zeanne berjongkok di samping Flora, matanya terbelalak khawatir.
Pria yang menahan Flora dengan hati-hati membantunya duduk di kursi terdekat. "Dia butuh air dan udara segar," kata pria itu dengan tenang.
Flora hanya bisa mengangguk pelan, mencoba menenangkan diri di tengah rasa pusing yang masih menguasai tubuhnya. "Aku tadi nggak sengaja minum wine, Ze."
Pria berwajah khas Eropa itu menatap Zeanne dengan penuh keseriusan, lalu berkata, "Aku akan membawa dia keluar untuk mendapatkan udara segar. Dia butuh istirahat." Nada suaranya tenang dan meyakinkan, membuat Zeanne sedikit lega di tengah kepanikannya.
Zeanne melihat pria itu, mencoba mencari tanda-tanda yang mencurigakan, tetapi ia terlihat sangat percaya diri dan meyakinkan.
Selain itu, Zeanne yakin, tidak mungkin ada penyusup di pesta yang diadakan di lingkaran kalangan kelas atas ini. Semuanya sudah diatur dengan ketat, dan tamu-tamu yang hadir adalah orang-orang yang dikenal baik.
Dengan satu helaan napas, Zeanne mengangguk.
"Baiklah, tapi tolong pastikan dia baik-baik saja. Aku percaya padamu," kata Zeanne sambil mengelus punggung Flora yang masih terkulai lemah.
Pria itu mengangguk tanpa banyak bicara lagi, lalu dengan cekatan mengangkat Flora dalam gendongannya, tubuhnya yang kekar dengan mudah menahan berat tubuh Flora yang terlihat semakin lemas.
Dia membawa Flora keluar dari ballroom dengan langkah pasti, seakan tahu persis ke mana tujuannya. Di luar ballroom, suara dentuman musik dan gemerlap lampu semakin redup, tergantikan oleh dinginnya angin malam.
Tak ada yang memperhatikan saat pria itu melangkah ke arah parkiran hotel. Tanpa sedikitpun keraguan, ia menuju sebuah mobil mewah yang terparkir di sudut. Ketika pintu mobil terbuka, Flora, yang setengah sadar, mendapati dirinya dengan cepat dipindahkan ke dalam mobil oleh pria tersebut. Ia mencoba berkata sesuatu, tapi bibirnya terlalu berat untuk bergerak.
Pria itu duduk di kursi pengemudi, memandang Flora yang masih dalam keadaan setengah sadar melalui cermin spion. Dengan satu gerakan halus, tangannya menyalakan mesin, dan mobil itu melaju perlahan keluar dari area hotel.
Tidak ada yang tahu ke mana tujuan pria itu, dan tak ada seorang pun yang menyadari bahwa Flora telah dibawa pergi jauh.
Mobil melesat dengan cepat, meninggalkan area hotel mewah.
"Kau sudah ada dalam genggamanku malam ini!" batin pria misterius itu.
Tak lama setelah mobil mewah itu melaju, akhirnya berhenti di depan hotel lain yang tak kalah megah. Flora, yang mulai setengah sadar, merasakan dinginnya angin malam saat pria misterius itu membuka pintu dan kembali menggendongnya keluar.
Tubuhnya terasa lemah, tetapi kepalanya sudah mulai berusaha memahami apa yang terjadi. Dia mencoba meronta, menggerakkan tangannya untuk melepaskan diri, tapi tenaganya masih terlalu lemah dibandingkan kekuatan pria itu.
Pria misterius itu tak menunjukkan tanda-tanda terganggu oleh gerakan Flora. Dengan mudah, dia membawa tubuhnya ke dalam lobi hotel yang berkilauan dengan kemewahan. Para staf hotel menatap mereka sekilas, tapi tak ada yang mencurigai sesuatu. Pria itu tampak sangat percaya diri, seolah ini adalah hal yang wajar.
Sesampainya di meja resepsionis, dia berbicara singkat dengan petugas, dan tanpa banyak pertanyaan, pria itu memesan kamar kelas atas di lantai tertinggi hotel.
Tatapan ramah dari petugas resepsionis menyiratkan penghormatan, mengesankan bahwa pria itu adalah tamu yang sering datang atau seseorang yang sangat penting.
Flora mulai semakin sadar, dan kali ini dia benar-benar berusaha melawan. Tubuhnya meronta dengan lebih kuat, tapi genggaman pria itu tetap kokoh. Dia berbisik pelan, suaranya hampir tak terdengar, "lepaskan aku ...."
Namun, pria itu tidak menggubrisnya. Dia hanya mempercepat langkahnya menuju lift yang membawa mereka langsung ke lantai paling atas. Flora, yang kini sepenuhnya sadar akan bahaya, berusaha keras menahan napas dan menenangkan diri, meski rasa takut mulai menjalari seluruh tubuhnya.
Setiap detik terasa seperti ancaman, dan semakin lama, semakin jelas bagi Flora bahwa pria ini memiliki rencana lain yang tak pernah dia bayangkan.
Begitu mereka sampai di lantai paling atas, pintu lift terbuka dengan bunyi halus. Pria itu melangkah keluar, masih menggendong Flora dengan erat, menuju kamar yang sudah ia pesan.
Dengan suara yang sangat lembut, tetapi menakutkan, dia berkata, "tenang saja, jangan panik atau malah akan menyusahkan dirimu sendiri."
Flora yang kian dilanda ketakutan, dengan segenap kekuatan yang tersisa, nekat menggigit lengan pria kekar yang menggendongnya. Giginya menancap kuat, berharap bisa membuatnya terlepas dari genggaman.
Pria itu mengerang pelan, rasa sakit jelas tergambar di wajahnya. Flora terus menggigit sampai akhirnya pria itu melepaskannya tepat saat dia hendak menempelkan kartu akses ke pintu kamar hotel.
Tubuh Flora jatuh ke lantai dengan keras, tapi dia segera bangkit, terengah-engah, menatap pria itu dengan penuh ketakutan dan kemarahan. "Siapa kamu sebenarnya?" Suaranya bergetar, bercampur antara takut dan bingung.
Pria itu menatap Flora sejenak, ekspresinya dingin dan tak terbaca. Dia perlahan mengusap lengan yang digigit Flora, lalu tersenyum tipis, senyum yang tampak mengintimidasi. "Aku ...," katanya pelan. "Adalah pria yang seharusnya kau layani malam ini."
Flora terdiam, tubuhnya membeku mendengar jawaban itu. Otaknya berputar cepat, mencoba memahami maksud ucapannya.
"Apa maksudmu?!" Flora mundur perlahan, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. "Apa yang kau inginkan dariku?" tanyanya lagi dengan suara bergetar.
Pria itu berdiri beberapa langkah di depannya, matanya menatap tajam ke arah Flora. "Apa yang kuinginkan? Kau sudah tahu jawabannya. Kau hanya perlu menyerah tanpa banyak tanya."
Pria itu menatap Flora dengan sorot mata yang lebih serius. "Orang tuamu meninggalkanmu sebagai jaminan atas uang yang meraka pinjam dariku. Mereka meninggalkan banyak utang. Utang yang tidak pernah bisa mereka lunasi sebelum mereka meninggal."
Flora terdiam, hatinya seketika bergetar mendengar nama mendiang orang tuanya disebut. "Apa yang kau bicarakan?" tanyanya, suaranya terdengar lirih. "Aku ... aku tidak tahu apa-apa tentang utang mereka."
Pria itu mendekat lagi, kali ini tidak ada lagi senyum di wajahnya. "Kau mungkin tidak tahu, tapi itu tidak mengubah kenyataan. Keluargamu berhutang banyak, dan sebagai anak mereka, tanggung jawab itu jatuh padamu. Kau harus melunasi utang-utang mereka!"
Flora menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Aku tidak punya uang banyak. Aku bahkan tidak tahu berapa besar utangnya," ucapnya dengan suara pelan, hampir berbisik.
Pria itu berhenti tepat di hadapan Flora, menatapnya tajam. "Itulah sebabnya kau di sini, Flora. Sebagai penebus utang orang tuamu, kau harus bersedia menjadi pelayanku. Kalau kau tidak mau, maka kau harus menemukan cara untuk melunasi semua utang itu sendiri. Dan percayalah, jumlahnya sangat besar. Kau tidak akan pernah bisa membayarnya sendirian."
Flora merasa seakan lantai di bawah kakinya runtuh. Rasa takut mulai berubah menjadi kepanikan. "Ini tidak adil! Aku tidak tahu apa-apa tentang utang itu ... b-bagaimana mungkin kau meminta aku untuk membayarnya dengan ... dengan cara ini?!"
Pria itu menatapnya tanpa belas kasihan. "Adil atau tidak, ini kenyataan. Kau punya dua pilihan, Flora ... melunasi utang keluargamu dengan uang yang aku yakin kau tidak punya, atau ... dengan menyerahkan tubuhmu padaku."
Flora merasa tubuhnya gemetar. Dua pilihan itu sama-sama mustahil dan menakutkan.
Pria itu memasang senyum smirk yang membuat Flora semakin merinding. "Aku sangat yakin kau tak bisa melunasi utang itu, Flora. Jadi malam ini, tubuhmu adalah penebusnya." katanya dengan nada rendah nan mengancam.
Flora semakin pucat, wajahnya tampak ketakutan, tapi tubuhnya terasa kaku, seolah tidak bisa bergerak. Otaknya berteriak untuk lari, tapi kakinya seakan tertanam di tempat.
Dia mencoba mencari kata-kata yang pas untuk penolakan, tapi tak ada satu pun yang bisa keluar dari bibirnya. Napasnya semakin cepat, dadanya terasa sesak, dan rasa panik semakin menguasainya.
Pria itu tidak mempedulikan keterkejutan dan ketakutan yang jelas terpampang di wajah Flora. Dengan gerakan cepat dan kasar, dia menarik tangan Flora, menyeretnya masuk ke dalam kamar hotel.
Flora hampir tersandung saat pria itu membawanya masuk, tapi pria itu tak melepaskan genggamannya.
Pintu kamar tertutup rapat di belakang mereka dengan suara yang berat, dan tak lama setelah itu. terdengar bunyi klik kunci pintu. Flora melihat ke arah pintu yang kini terkunci, seolah itu adalah penghalang terakhir yang mengurungnya di dalam perangkap ini.
Flora mencoba menarik tangannya, meronta, tetapi kekuatan pria itu jauh lebih besar.
"Tolong ... lepaskan aku! Aku akan berusaha bayar utangnya, katakan jumlahnya dan akan aku usahakan!" teriak Flora, matanya mulai berkaca-kaca.
Namun, pria itu sama sekali tak mau menaruh iba, malah menatapnya dengan tatapan yang semakin menakutkan.
Dia mendekat ke Flora, membungkuk sedikit untuk menatap langsung ke dalam manik bening itu. "Jangan coba melawan. Flora. Semakin kau melawan, semakin sulit bagimu. Ini adalah bagian dari kesepakatan. Orang tuamu sudah menentukan nasibmu sebagai jaminan mereka!"
"Aku janji akan cari uang, atau pinjaman. Aku mohon ... lepaskan aku malam ini, aku tidak akan kabur ke mana-mana," rintih wanita cantik dalam balutan dress selutut berwarna hitam itu.
"Siapa yang memintamu untuk melakukan penawaran, hm? Aku tak butuh itu, yang ku butuhkan adalah ... tubuhmu malam ini!"
Lucas menyeringai melihat raut ketakutan di wajah Flora, matanya penuh dengan niat yang gelap.
Dalam sekejap, tanpa peringatan, ia menarik Flora lebih dekat dan mencium bibir ranum itu dengan brutal. Ciuman itu penuh kekerasan, seolah ingin menguasai tanpa peduli pada protes dan ketakutan yang jelas terpampang di wajah cantik itu.
"Berhenti! Tolong, jangan!" isak Flora, suaranya bergetar di antara tangis yang tak tertahankan.
Dia meronta, mencoba mendorong tubuh Lucas agar menjauh. Kedua tangannya memukul dada pria itu sekuat tenaga, tetapi tidak cukup untuk melepaskan diri dari cengkeramannya.
Lucas dengan dingin dan tanpa belas kasihan, mencengkeram kedua pergelangan tangan Flora dan menahannya kuat-kuat di atas kepalanya, memaksa gadis itu berhenti melawan.
"Diam, Flora," bisiknya dengan suara rendah, tetapi penuh ancaman. "Kau tidak akan menang melawanku."
Tangisan Flora semakin keras, tubuhnya terasa semakin lemah. Ia tahu, di bawah kekuatan Lucas, dia tak bisa berbuat banyak. Meski begitu, hatinya tidak ingin menyerah.
Lucas mengangkat tubuh Flora dengan mudah, menggendongnya menuju ranjang hotel yang luas.
Dalam sekejap, dia menghempaskan Flora ke atas kasur putih, membuat tubuh mungil itu sedikit memantul. Flora bahkan belum sempat bangkit ketika Lucas sudah mendekat, menundukkan tubuh untuk mengurungnya di bawah bayangan tubuh kokoh nan besar.
"Kita lakukan malam ini, Flo. Penuhi kamar hotel ini dengan desahanmu, aku mau mendengar seperti apa seksinya suaramu," bisik Lucas.
Lucas mendekatkan wajahnya, menyentuhkan bibirnya dengan penuh gairah ke pipi dan dahi Flora.
Ciumannya terasa panas, sementara Flora hanya bisa memalingkan wajahnya, ketakutan besar menyelimuti dirinya sekarang. Tangannya berusaha menutupi wajahnya, tetapi Lucas terus mendesak, seolah tidak memberi ruang bagi Flora untuk bernapas.
Pria itu menegakkan tubuh, melapas dasi yang lantas ia gunakan untuk mengikat kedua pergelangan tangan Flora.
"Begini lebih baik," gumamnya saat berhasil menyatukan kedua tangan Flora di atas kepala. "Tanganmu itu hanya menggangguku!"
"Aku mohon ... jangan lakukan ini padaku. Tolong jangan siksa aku, aku mohon ...," rintih Flora, yang tentu saja tak mampu meraih rasa iba Lucas.
Lucas menatap Flora dengan senyum menggoda, suaranya rendah bernada dingin. "Kau tahu, Flora, ada sesuatu yang sangat menarik tentangmu. Aku bahkan sudah mengincarmu sejak lama. Sejak ... kematian kedua orang tuamu. Dan baru malam ini aku bisa membawamu setelah menyusup ke dalam hotel itu."
Setiap kata yang keluar dari mulutnya seakan memicu rasa takut yang semakin menguat dalam diri Flora.
Flora tak sanggup menjawab, hanya air mata yang menjadi saksi betapa tersiksanya ia malam ini. Manik bening itu membelalak saat lagi-lagi Lucas mendekatkan wajah padanya, kali ini lidah hangat itu menyapu leher jenjangnya.
"Tunggu ... jangan!" serunya dengan nada panik, dadanya berdegup kencang.
Flora berusaha menggerakkan kakinya, tetapi lagi-lagi Lucas langsung menindih dan membuatnya kembali tak berdaya.
Ciuman itu turun ke bahu, sedikit gigitan kecil hingga menimbulkan bercak merah yang Lucas tinggalkan di sana. Flora meraung dalam tangisnya saat Lucas menciptakan banyak kissmark di kulit mulusnya, kulit yang tak pernah tersentuh oleh pria manapun itu kini ternoda oleh Lucas.
"Aaah ...." Flora mendesah tanpa sengaja saat Lucas menggoda telinganya, membuat pria itu terkekeh senang.
"Aku sudah bilang, kan? Kau akan suka dengan permainanku malam ini," bisik Lucas, sambil terus menyapu telinga mungil itu menggunakan lidah hangatnya.
Flora sekuat mungkin menggigit bibir bawahnya, tak peduli sakit dan perih. Yang penting baginya, jangan sampai desahannya lolos lagi.
Dengan gerakan cepat, Lucas merobek dress hitam yang membalut tubuh Flora, membuat kain itu koyak dan jatuh, menampakkan tubuh mungil yang kini hanya terbalut underwear.
Flora tertegun, seluruh wajahnya memerah karena malu dan ketakutan.
"Berhenti, Lucas! Ini tidak benar!" teriaknya di sela-sela isak tangis.
"Apanya yang tidak benar, hm?" tanya Lucas sambil tangannya menyusup ke balik punggung, melepas tautan kain penyangga buah dada.
Lucas melemparkan kain itu, bersamaan dengan Flora yang memalingkan wajah saat dua gundukan sintalnya terekspos di hadapan pria asing.
"Wow ... sepetinya masih ranum. Apa belum ada pria lain yang menyentuhnya?" Lucas mengelus pucuk merah di atas gundukan sintal itu, ibu jari dan jari telunjuknya bergerak memilin dengan lembut. "Aku suka bentuknya."
Entah sudah sebanyak apa air mata yang tumpah, Flora tak peduli. Bahkan jika bisa, ia ingin pingsan saja daripada harus menahan semua penderitaan ini.
Setiap inci tubuhnya disentuh oleh pria asing, membuatnya merasa sangat ternoda.
Lucas mengulum buah dada sebelah kanan, sambil tangan kanannya meremas buah dada sebelah kiri.
"Jangan perlakukan aku seperti ini, aku mohon ... apa kau tidak punya adik perempuan, atau saudara perempuan? Ibumu perempuan, kan? Bagaimana kalau mereka ada di posisiku, apa kau tidak sakit hati?! Aku sebatang kara, tidak punya siapa-siapa. Dan kau dengan teganya merenggut mahkotaku," bisik Flora, suaranya serak lantaran terlalu banyak menangis.
Lucas menghentikan gerakannya, alisnya terangkat sebelah dengan pandangan menukik tajam. "Harus berapa kali aku ingatkan kalau kau itu jaminan utang mendiang orang tuamu. Bahasa kasarnya, kau sudah dijual padaku dan kau adalah barang yang ku beli!"
Lucas mengatakan itu sambil kedua tangannya terus meremas dua gundukan sintal yang menggantung indah di dada Flora, ia tak mempedulikan ribuan air mata yang menetes di pipi tirus itu.
Lucas beranjak turun, menarik kain segitiga yang menutupi inti tubuh Flora. Jemarinya bergerak cepat melepas kain itu, lantas melemparkan asal ke lantai.
Ia melirik Flora yang kini memejamkan mata, tetapi air mata masih bisa mendesak keluar.
Lucas tak peduli, ereksinya sudah sangat naik malam ini. Tanpa berlama-lama lagi, ia mendekatkan wajah pada pangkal paha dan mulai mengaduk area kewanitaan Flora hingga basah dan lembab.
"Sshhh ...!"
"Jangan ditahan, Flo. Mendesahlah, suaramu sangat seksi," bisik Lucas.
Lidahnya terus berputar, menusuk-nusuk di dalam sana dan sesekali Lucas memberikan gigitan kecil pada benjolan kecil seperti kacang di dalam sana.
"Ooough ... Aaahhh ...." Flora mendesah panjang tanpa bisa ditahan, diiringi isak tangis yang semakin meledak.
Tubuhnya menggelinjang hebat saat cairan cintanya tumpah karena ulah Lucas. Deru napasnya tersengal-sengal, kepalanya mendadak pusing detik itu juga.
Tak ingin menunggu lebih lama, Lucas langsung menanggalkan semua pakaian yang ia kenakan. Lantas memasukkan ereksinya yang sudah menegang sempurna ke dalam inti tubuh Flora.
"Aah ... Fuck! Sempit sekali, Flo!" racaunya, sambil terus mendorong miliknya agar bisa masuk.
Hingga akhirnya selaput dara itu robek juga, Lucas membenamkan ereksinya di dalam liang kewanitaan Flora.
Desahannya beriringan dengan tangisan Flora, seakan itu adalah sebuah musik yang mengalun indah di telinganya.
"Kau harus mengandung benihku, Flo!"