Talak
RAHASIA TIGA HATI
- Talak
"Aku bisa merujukmu."
Livia tertawa. "Mas kira cerai dan rujuk itu bisa dibuat candaan. Sebentar bilang cerai sebentar bilang rujuk. Kalau cerai, cerai saja, Mas. Rumit hubungan kita. Sedikit saja Mas nggak bisa membelaku dan ayahku saat keluargamu menghina kami. Itu berarti, Mas pun setuju dengan penghinaan mereka yang merendahkan keluargaku."
Bre menghela nafas panjang. Dia lupa kalau Livia bukan perempuan yang gampang sekali diperdaya. Waktu masih kuliah dulu, dia cewek yang lembut, tapi keadaan yang menimpa keluarga membuatnya berubah menjadi perempuan yang tegas.
"Liv."
Livia sudah mematikan panggilannya. Bre kembali menghubungi tapi tidak di angkat. Beberapa pesan dikirim tapi juga diabaikan. Perasaannya kalang kabut. Ingat bagaimana dia begitu ceroboh memberikan ancaman pada Livia tentang talak. Dipikirnya, Livia tidak akan pergi karena apapun yang terjadi selama ini, Livia bertahan di sampingnya.
Bre mondar-mandir di ruangannya. Denting suara pesan membuatnya buru-buru menyambar ponselnya di atas meja.
[Aku nggak bisa membawa semua pakaianku. Tapi aku sudah berpesan pada Si Mbok, untuk membereskan lemari itu. Terserah pakaianku mau di apakan, dibuat lap juga nggak apa-apa.]
[Mau sampai kapan kita bertahan. Hubungan ini nggak akan membaik. Keluarga Mas nggak akan pernah bisa menerimaku. Apalagi mereka sudah memiliki pilihan sendiri dan mama bilang, Mas sudah menyetujuinya.] Livia mengirimkan dua pesan.
[Di mana aku bisa menemuimu sekarang?] Balas Bre.
[Jangan sekarang. Aku ada janji bertemu dengan seseorang.]
[Siapa?]
Livia tidak membalasnya. Bre melempar ponsel di atas meja. Tangannya mengusap kasar wajah sambil mendengkus kesal. Bodoh sekali, kenapa ia sampai menjatuhkan talak.
***L***
"Dokter, saya benar-benar minta maaf karena telat pagi ini. Padahal saya kemarin janji mau datang jam tujuh." Livia duduk di hadapan dokter Pasha dan merasa sangat bersalah. Akhirnya Livia menemui dokter Pasha di restoran depan rumah sakit.
"Nggak apa-apa." Dokter berpenampilan menawan dan penuh kharisma itu tersenyum ramah. Usianya sudah pertengahan tiga puluhan. Dia sangat baik pada keluarga Livia. Makanya memanggil wanita itu hanya dengan sebutan nama saja.
"Kenapa kamu bawa koper?" Dokter Pasha memandang koper di sebelah kursi Livia. "Kamu pergi dari rumah suamimu?"
Livia mengangguk pelan. Sebenarnya sungkan juga jika dokter itu tahu permasalahan pribadinya.
"Kamu sudah sarapan?"
"Sudah, Dok," jawab Livia berbohong. Malu kalau sampai dokter Pasha membelikannya sarapan.
"Oke, kalau gitu kamu mau minum apa?"
"Teh anget saja."
Dokter Pasha menjentikkan jarinya pada pelayan dan ia memesan dua teh hangat.
"Kenapa kamu pergi dari suamimu?" Dokter itu penasaran juga, padahal selama ini pun sering bertanya-tanya karena tidak pernah melihat suami Livia mendampingi Pak Rosyam ketika melakukan pemeriksaan padanya.
Livia diam sejenak. Sungkan hendak mengulas tentang rumah tangganya. Tapi jika ingin mendapatkan solusi, ia harus jujur. Akhirnya Livia menceritakan poin-poin penting mengenai permasalahannya dengan suami dan keluarganya.
"Saya mau pulang ke rumah ayah, tapi khawatir dengan kondisi psikologisnya, Dok. Saya takut, ayah saya shock dan kembali down."
"Perkembangan Pak Rosyam sangat baik, Liv. Dia sudah bisa menerima segala kejadian yang membuatnya syok dan trauma. Runtuhnya bisnis tidak begitu berpengaruh pada kondisi psikologis beliau. Yang membuat ayahmu nyaris depresi adalah kehilangan ibu dan kakakmu dalam waktu bersamaan dan begitu tragis."
Sudah pasti. Apalagi peristiwa itu terjadi tepat di depan matanya. Mereka sedang pergi ke Pacet saat itu. Selvia mengendarai mobil ayahnya bersama sang ibu. Sedangkan Pak Rosyam mengendarai mobil yang baru diambil dari Malang dan mengikuti di belakangnya. Namun siapa mengira, mobil yang dikendarai Selvia remnya blong dan tidak bisa di kendalikan hingga akhirnya masuk jurang.
Padahal yang diincar oleh pelaku adalah Pak Rosyam, tapi ternyata mobil itu dikendarai anak dan istrinya.
"Saran saya, pelan-pelan saja dikasih tahunya. Saya yakin beliau pasti bisa menerima kenyataan itu. Kalau misalnya ada apa-apa, kamu bisa menelepon saya. Insya saya usahakan untuk datang."
"Dok, makasih banyak. Saya jadi ngrepotin, Dokter."
"Nggak apa-apa, dengan senang hati saya akan membantumu. Terus sementara kamu mau ke mana? Atau langsung pulang?"
"Saya mau cari kamar kos untuk sementara."
"Jadi belum dapat kosan?"
"Belum."
"Saya ada teman yang keluarganya punya kos-kosan. Mau saya hubungkan?"
Livia malu kalau merepotkan dokter Pasha.
"Nggak usah, Dok. Saya punya teman yang bisa bantu saya."
"Beneran?"
"Iya."
"Kalau belum ada, saya teleponkan teman saya." Dokter Pasha mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Namun di cegah oleh Livia. "Nggak usah, Dok. Nanti saya telepon teman saya."
"Oke. Kalau gitu saya harus kembali ke rumah sakit. Para pasien sedang menunggu saya. Maaf, karena nggak bisa berlama-lama ngobrol sama kamu."
"Nggak apa-apa, Dok. Justru saya yang seharusnya minta maaf, karena mengganggu waktu, Dokter."
"Jangan sungkan. Kalau ada apa-apa segera telepon saja."
Livia mengangguk. "Makasih, Dok."
"Saya pergi dulu, ya." Dokter Pasha pamit setelah menyesap teh. Laki-laki itu melangkah keluar rumah makan setelah membayar minuman mereka.
Livia memperhatikan hingga dokter tegap itu menyeberang jalan. Dia sangat baik. Peduli ketika diajak konsultasi di luar tempat prakteknya padahal dia super sibuk.
Para pengunjung rumah makan memperhatikan Livia dengan koper besar di sebelahnya. Pesan yang dikirim pada Dina belum juga dijawab. Kalau pagi begini pasti dia sibuk dengan pesanan. Yang masuk justru pesan dari Bre. Kemudian Livia menelepon Alan.
"Assalamu'alaikum." Suara laki-laki itu di seberang.
"Wa'alaikumsalam. Mas Alan, di rumah apa di kantor?"
"Hari ini aku WFH, Livi. Nanti ada jadwal ngajar jam dua siang. Ada apa?"
"Mas, sibuk ya?"
"Ada projek yang sedang aku selesaikan. Tapi aku bisa sambil mendengarmu kalau kamu ingin cerita."
"Aku pergi dari rumah Mas Bre."
"Kamu serius?"
"Iya."
"Kamu di mana sekarang?"
"Aku di Rumah Makan Padang depan rumah sakit. Tadi aku ngirim pesan ke Dina belum dijawab. Mungkin dia belum sempat pegang ponsel. Rencananya aku mau cari kamar kos sementara, sambil menyiapkan mental untuk memberitahukan hal ini pada ayah."
"Tunggu di situ, kujemput!" Alan mematikan ponselnya. Livia duduk melamun dan berharap tidak ada kenalan suami atau mertua yang memergoki dia di sana.
Hampir setengah jam menunggu, akhirnya Alan sampai juga di restoran. Lelaki itu melangkah tergesa menghampiri Livia. "Maaf, nunggu lama. Macet tadi karena ada perbaikan jalan."
"Nggak apa-apa, Mas. Aku yang nggak enak karena ngrepotin, Mas Alan. Padahal Mas lagi kerja."
"Nggak apa-apa."
Alan seorang design grafis yang memang lebih sering bekerja secara work from home. Ke kantor jika ada meeting atau hal lain. Selain itu dia juga seorang dosen yang mengajar di universitas swasta meski seminggu hanya ada jadwal dua sampai tiga kali pertemuan saja. Jika ada waktu, dia pergi membantu temannya menjadi coach Muay Thai.
"Kamu sudah sarapan?"
"Belum, tapi aku udah pesen untuk di bungkus. Mas, sudah sarapan?"
"Sudah."
"Aku mau cari kosan, Mas. Untuk sementara saja kalau bisa." Livia juga menceritakan apa yang terjadi antara dirinya, Bre, dan keluarga suaminya.
"Jadi, Bre sudah menalakmu?"
"Ya. Tapi untuk hari ini aku belum bisa ngasih tahu ayah. Makanya untuk sementara aku mau cari kosan. Mas, bisa bantu aku?"
"Kamu ikut aku. Nanti kutanyakan sama satpam perumahan. Ada homestay di sana, semoga saja free dan nggak ada yang booking dalam seminggu ini."
Livia bernapas lega, meski itu pun belum pasti juga. Tapi ia yakin kalau Alan sudah tentu akan membantunya.
"Aku juga butuh pekerjaan, Mas. Mungkin ada lowongan di kantor, Mas Alan. Atau di tempat kenalannya, Mas."
"Soal pekerjaan bisa dipikirkan nanti saja setelah Om Syam tahu permasalahan kamu."
"Iya, tapi kalau ada lowongan segera kasih tahu aku. Khawatirnya nanti keduluan orang. Pengobatan dan gaji untuk Pak Tamin terus berjalan, Mas."
"Aku bisa bantu kamu."
"Tapi nggak bisa terus-terusan aku minta bantuan Mas, kan?"
"Itu dipikir nanti saja. Sekarang kita pergi dari sini," kata Alan setelah seorang pelayan mengantarkan pesanan Livia.
"Aku sudah membayarnya, Mas," cegah Livia ketika Alan hendak mengeluarkan dompetnya.
"Oke. Kita pergi sekarang."
Mereka keluar rumah makan dan langsung naik ke mobil Alan. Mobil milik almarhum papanya Alan yang sebenarnya jarang sekali di pakai pria itu. Alan lebih suka naik motor. Pulang menjenguk ibunya di desa pun sering naik motor.
Mobil berhenti di dekat pos satpam. Livia lega karena homestay yang biasa di sewa oleh para warga jika ada kerabat yang datang dan rumah mereka tidak muat, biasanya ketika mereka mengadakan acara hajatan, ternyata kosong untuk dua minggu ke depan.
Pak Satpam langsung menghubungi pemilik rumah. Tidak lama kemudian Livia sudah masuk homestay minimalis tepat di depan rumah Alan. Rumah yang ditinggali laki-laki itu sendirian karena mamanya memilih pulang ke kampung halaman setelah papanya Alan tiada.
"Aku pulang, ya. Nanti siang nggak usah pesen makanan. Biar sekalian aku pesankan."
"Makasih ya, Mas."
Alan mengangguk kemudian melangkah cepat kembali ke rumah karena harus segera menyelesaikan pekerjaan.
Homestay itu bersih dan tinggal menempati saja. Livia duduk di ruang tamu untuk sarapan. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan lebih seperempat.
***L***
Tinggal tiga hari di homestay, Livia lebih banyak melamun. Dina datang dua kali dan membawakan roti serta makanan lainnya. Dalam kesunyian justru semua kenangan dan kisah hidupnya muncul ke permukaan. Amat menyesakkan.
Alan yang setiap hari mengurusi makan dan minumnya. Livia makin tak enak karena merepotkan mantan kekasih almarhumah Selvia.
[Jangan pernah temui Bre lagi meski dia yang mengajakmu ketemuan. Surat perceraian akan segera diproses dan bulan depan Bre-Agatha lamaran.]
Livia tidak membalas pesan yang dikirim oleh mama mertuanya. Pesan dan telepon dari Bre juga tidak di angkat. Bu Rika leluasa mengancamnya karena tahu, Livia tidak akan melawan karena memikirkan kondisi ayahnya.
Baru saja Livia melihat postingan Agatha yang muncul di beranda media sosialnya.
MENUNGGU BULAN DEPAN.
Perasaan Livia terguris. Jadi beneran mereka mau lamaran. Selama ini Agatha memang diam. Bahkan tetap menegurnya dengan sikap biasa saja. Menulis sesuatu di wall pribadinya juga menggunakan bahasa kiasan. Sepertinya gadis itu tengah menjaga image-nya. Menyelamatkan reputasi agar tidak mendapatkan tuduhan sebagai perebut suami orang. Mereka semua sangat pandai bersandiwara.
Sedih. Bagaimana ia harus memberitahu ayahnya agar bisa segera pulang dan kembali bekerja. Supaya tidak kelamaan menjadi bebannya Alan.
Livia melihat Alan yang mengendarai motor baru saja memasuki rumahnya. Ia mengambil sekotak brownis kukus di atas meja dan membawanya ke rumah pria itu.
"Mas," panggil Livia pada Alan yang tengah membuka pintu.
"Hai, sini!"
"Ini ada brownis dari Dina. Siang tadi dia mampir ke sini lagi."
"Kan itu untuk kamu."
"Dina bawain buat, Mas Alan." Livia meletakkan brownies di atas meja. Kemudian pandangannya terpaku pada foto yang menempel di dinding ruang kerja Alan.
"Ya ampun, Mas Alan belum nurunin fotonya Mbak Selvi," seloroh Livia. "Kalau Mas masih nyimpen foto mantan, pasti cewek yang mau deketin Mas Alan udah mundur duluan."
Alan tersenyum sambil melepas sarung tangan. "Nanti kalau sudah ada pengganti, baru aku turunin."
"Memangnya Mas belum punya pacar lagi?"
Lagi-lagi Alan hanya menjawab dengan senyuman. Livia jadi terharu. Beruntung sekali kakaknya dicintai lelaki seperti Alan. Sudah meninggalpun Alan masih setia. Sementara dirinya tidak pernah merasakan bagaimana dibela suami sendiri.
"Besok aku akan menemui ayah, Mas. Aku harus jujur dengan keadaanku sekarang ini."
"Perlu kutemani?"
"Nggak usah. Aku udah banyak ngrepotin, Mas."
"Nggak apa-apa kalau kamu perlu teman."
"Makasih. Besok aku akan menemui ayah sendiri saja."
"Oke. Tapi kamu lihat dulu kondisi Om Syam bagaimana."
"Iya. Kalau gitu, aku balik dulu, Mas."
Alan mengangguk. Livia melangkah keluar. Ketika baru melewati pintu pagar, ia dikejutkan oleh mobil Bre yang berhenti tepat di depannya.
Next ....
Selamat membaca 🥰
Keributan Sore Itu
RAHASIA TIGA HATI
- Keributan Sore Itu
Livia terkejut begitu juga dengan Bre. Ia tidak menyangka bertemu wanita yang ingin dicarinya di sana. Niatnya tadi ingin menemui Alan untuk menanyakan keberadaan Livia. Justru bertemu wanita itu yang baru keluar dari rumah Alan.
Bre turun dari mobil dan melangkah menghampirinya. Rasa kaget tadi berubah menjadi tampang curiga di wajah lelaki tampan itu.
"Kenapa Mas di sini?" tanya Livia.
"Kamu kabur ke rumah Alan?" Bukannya menjawab, Bre berbalik tanya. Mereka saling menatap tajam. "Atau Alan yang membawamu kabur?"
"Jangan sembarangan kalau ngomong. Tahu kan apa alasan yang membuatku meninggalkan rumahmu, Mas."
"Aku kan sudah bilang, tunggu aku pulang dulu."
"Mamamu mengusirku. Jangan pura-pura tidak tahu. Nanti kutunjukkan semua pesan yang dikirim mamamu padaku."
Pada saat mereka berdebat, Alan menghampiri. Spontan Bre mengalihkan tatapan yang menunjukkan rasa tidak suka pada lelaki tampan dengan postur tegap menjulang. "Jangan berdebat di sini, kita bisa bicarakan di dalam rumah," kata Alan dengan suara tenang. Tidak enak jika didengar dan diperhatikan oleh tetangga perumahan.
"Kenapa kamu nggak memberitahuku kalau Livia ada bersamamu?" Bre menatap tajam Alan. "Kamu sengaja memanfaatkan keadaan untuk membawanya pergi, kan?"
"Kamu salah paham. Ayolah masuk rumah dulu, kita bisa bicara di dalam."
"Nggak usah. Aku mau mengajak istriku pulang," jawab Bre masih dengan nada tak bersahabat.
"Aku bukan istrimu lagi, Mas. Kamu ingat dengan talak yang telah kamu ucapkan, kan?"
"Selagi dalam masa iddah, aku berhak merujukmu."
"Aku nggak akan kembali. Keadaan kita tidak akan pernah berubah. Mas, nggak pernah membela kehormatanku saat dihina keluargamu. Kita cerai saja."
"Livi, please kita bisa bicarakan ini di dalam rumah. Nggak enak kalau masalah pribadi jadi tontonan orang." Alan kembali mengajak mereka bicara di dalam rumah.
"Ya, Mas," jawab Livia. Namun ketika hendak melangkah, tangannya di cekal oleh Bre. "Nggak perlu ke dalam. Aku ingin membawa Livia pulang."
"Lepasin." Livia menyentakkan tangannya hingga terlepas dari cekalan Bre. "Apa sih maumu, Mas. Heran aku dengan pendirianmu. Mas, ingin aku kembali tapi disisi lain Mas juga menyetujui perjodohan dengan Agatha."
"Aku sudah bilang kalau menolaknya."
"Mas, nggak tegas."
"Aku akan bicara dengan mama lagi kalau kamu ikut aku pulang."
Mereka saling tatap dan saling mengintimidasi. Sedangkan Alan membuang pandang ke arah lain. Dia tidak bisa terlalu dalam ikut campur urusan rumah tangga Bre dan Livia. Walaupun ia sangat memahami bagaimana perasaan Livia saat ini. Siapa yang bisa terima kalau ayahnya di hina.
"Mas, pulang saja. Aku nggak akan pernah kembali ke sana. Aku sudah siap bercerai darimu."
"Oh, kamu sudah keenakan tinggal sama mantan kekasih kakakmu di sini, makanya menolak kuajak pulang. Apa yang kalian lakukan selama tiga hari di sini?"
Baik Livia atau pun Alan sangat terkejut dengan ucapan yang bernada tuduhan dari Bre.
"Jangan sembarangan ngomong, Livi tinggal di homestay bukan di rumahku. Kamu bisa cek rumah itu. Livia butuh tempat tinggal sementara, menyiapkan mental untuk memberitahu ayahnya." Alan menunjuk rumah mungil minimalis di hadapannya.
Bre tersenyum sinis. "Jarak kalian tinggal, hanya beberapa meter saja. Nggak akan jadi penghalang untuk laki-laki dan perempuan tidur bersama."
Mendengar tuduhan itu membuat Livia menatap nanar Bre, dia tidak terima dengan tuduhan kotor itu. Sementara Alan yang berdiri tegak dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya, masih bersikap tenang. Bukan tak ingin membela diri, tapi percuma bicara dengan lelaki seperti Bre.
"Sembarangan kamu ngomong, Mas," hardik Livia dengan mata melotot tajam dan tangan mengepal di kedua sisi tubuhnya.
"Alan diam saja, berarti membenarkan ucapanku." Bre menatap Alan. Memancing amarah lelaki itu.
"Meski sekian lama kalian bersama, rupanya kamu nggak mengenali siapa Livi, Bre. Dia bukan perempuan murahan seperti yang ada dipikiranmu. Ternyata Livi memang tidak layak menjadi istri dari lelaki yang tidak tahu bagaimana memperjuangkannya." Setelah diam dengan semua tuduhan, akhirnya Alan meluapkan pembelaannya pada adiknya Selvia.
Bre marah dan melayangkan pukulan ke rahang Alan. Namun laki-laki itu dengan sigap bisa menghindarinya. Bre tidak terima saat pukulannya sia-sia di udara. Lelaki jago karate itu menyerang kembali Alan.
Livia cemas saat perdebatan tadi berujung pada perkelahian dua lelaki yang sama-sama jago bela diri. Serangan Bre yang membabi buta hanya dihindari oleh Alan tanpa melakukan balasan. Muay Thai termasuk bela diri yang paling keras di dunia, sehingga tidak sulit untuk menghindari atau menangkal pukulan Bre.
Wanita itu panik, apalagi dari beberapa rumah para ART yang memperhatikan dari balik pagar tampak ketakutan. Jam segitu para majikan mereka memang belum kembali dari bekerja.
"Hentikan, Mas!" teriak Livia.
Alan menjauh karena memang tidak mau menyerang balik, baginya percuma berkelahi dengan lelaki seperti Bre. Namun Bre yang tidak terima karena menyerang tanpa adanya perlawanan. Bagi Alan, apa yang ia kuasai bukan untuk menunjukkan kalau dirinya hebat dan kuat. Lagipula, jika ia bisa memukul dan melukai Bre, urusan bisa jadi lain kalau lelaki itu bersikap licik dengan melaporkannya ke polisi.
Melihat Bre terus mendesak, Livia yang geram. Dia mencuri kesempatan dan melakukan tendangan ke perut Bre, membuat laki-laki itu mundur ke belakang beberapa langkah.
"Kamu membelanya!" Bre menatap marah sambil memegangi perutnya.
"Iya. Kenapa? Mas, nggak terima!" jawab Livia. Walaupun jika berkelahi pun, ia tidak mungkin menang dari Bre.
Mendengar jawaban Livia, mata Bre merah menahan murka. Livia yang selama ini selalu mengalah padanya, kini terang-terangan membela lelaki lain.
Pada saat itu muncul beberapa bapak-bapak dari ujung gang. Mereka menghampiri karena mendengar ada keributan.
"Ada apa ini?" Seorang bapak bertubuh subur menegur lebih dulu. Menunjukkan rasa terganggu dengan apa yang terjadi.
"Dia membawa lari istri saya, Pak." Bre menunjuk Alan. "Bahkan mereka sudah tinggal serumah."
"Bohong, Pak. Mas Alan tidak membawa kabur saya. Saya yang pergi dari rumah karena saya sama suami sudah bercerai secara agama. Saya juga tidak tinggal serumah dengan Mas Alan. Tiga hari ini saya tinggal di homestay milik Pak Wuri," jawab Livia seraya menatap tajam Bre kemudian beralih pada lelaki bertubuh kerempeng, pemilik homestay.
"Iya. Mbak, ini yang kemarin menemui saya."
"Maaf Bapak-Bapak, kalau kami membuat keributan di sini. Sebenarnya ini hanya kesalahpahaman." Alan berkata sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada pada keempat laki-laki yang berdiri di tengah jalan.
"Kalau masalah pribadi, sebaiknya dibicarakan secara kekeluargaan, Mas Alan," ujar seorang bapak berkaus kuning.
"Ya, Pak. Maaf."
"Kami kenal baik Mas Alan dan almarhum papanya Mas Alan, saya yakin kalau Mas Alan nggak mungkin membawa kabur istri orang. Lagian masih banyak gadis yang ngejar-ngejar Mas Alan. Ngapain bikin masalah dengan membawa kabur istri orang." Pak Wuri membela Alan.
"Makasih, Pak Wuri."
Kemudian Pak Wuri dan bapak komplek lainnya meninggalkan tempat itu.
Bre serasa dikuliti di sana karena mereka lebih jelas mengenal siapa Alan daripada dirinya. Dibenahinya kemeja kemudian menghampiri Livia. "Nggak akan kubiarkan laki-laki manapun memilikimu," ancamnya.
"Jangan mengancamku, Mas. Aku nggak pernah takut sendirian. Kehidupan mengajariku tidak lemah saat dipatahkan."
Tatapan Bre meredup. Jujur saja, bagaimanapun kasarnya kalimat yang keluar dari bibirnya, tapi hatinya telah remuk redam. Kekasarannya hanya untuk menutupi luka dalam dada.
Seketika itu ia merasakan kehilangan arah. Bingung memilih sikap karena sudah terlanjur marah melihat Livia bersama Alan. Untuk merendah minta maaf, ego lebih menguasai dirinya.
"Aku tunggu akta cerai kita."
Bre tidak menanggapi ucapan Livia, ia langsung masuk ke dalam mobilnya setelah menatap sekilas pada Alan.
"Kamu nggak apa-apa?" Alan menghampiri Livia yang tengah menangis tanpa suara.
"Aku nggak apa-apa, Mas. Sekarang juga aku akan pulang ke rumah ayah. Daripada nanti timbul fitnah di antara kita. Mas Alan, nggak tahu apa-apa malah kena imbasnya."
"Kamu ingin memberitahu Om Syam sekarang?"
Livia mengangguk pelan. "Sekarang atau nanti, ayah tetap bakalan tahu juga."
"Kamu berkemas-kemas dulu, nanti kuantar."
Livia kembali ke homestay dan Alan masuk ke rumahnya.
Selesai berkemas, Livia meraih ponsel dan mengirimkan pesan dari Bu Rika pada Bre. Laki-laki itu tidak menjawab meski pesannya dilihat.
***L***
Pak Rosyam diam mematung setelah Livia menceritakan kemelut rumah tangganya. Netra lelaki itu berkaca-kaca. Sebenarnya dalam diamnya dia juga tahu bagaimana perlakuan keluarga Bre pada putrinya. Namun masih berharap bahwa rumah tangga mereka akan tetap baik-baik saja.
Setelah keruntuhan bisnisnya, pihak besan kian berubah dan menjaga jarak. Padahal dirinya hanya menjadi korban fitnah. Namun sayang, posisinya sangat lemah untuk melakukan pembelaan. Belum lagi kenangan pahit kehilangan istri dan anaknya waktu itu masih menjadi trauma yang dalam.
"Nggak apa-apa, Nduk. Ikhlaskan saja. Kelak kamu akan mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik lagi." Pak Rosyam membelai rambut putrinya.
Alan yang masih di sana, diam duduk di sofa. Tadi Livia minta tolong supaya ditemani bicara dengan ayahnya. Sebab jika terjadi apa-apa bisa memberikan pertolongan. Ternyata ayahnya tidak syok seperti yang ia takutkan. Walaupun jelas sekali dari wajahnya kalau dia sangat terpukul.
"Ayah, nggak usah khawatir. Aku baik-baik saja. Aku ikhlas jika pernikahanku selesai sampai di sini. Mereka boleh menghinaku, tapi aku nggak terima jika mereka menghina ayah." Livia memeluk lengan ayahnya.
"Maafkan ayah karena nggak bisa membelamu," ujar Pak Rosyam dengan suara serak.
"Nggak apa-apa. Ada Mas Alan yang membantuku. Yang penting sekarang ayah harus selalu sehat."
Sang ayah manggut-manggut, kemudian melepaskan kacamata dan menghapus air matanya.
"Aku juga minta tolong sama Mas Alan untuk mencarikan pekerjaan."
"Ayah nggak usah lagi pergi ke dokter. Ayah sudah jauh lebih baik sekarang ini, Liv."
"Tapi harus tetap kontrol untuk jantungnya, Ayah."
Pak Rosyam mengangguk pelan.
Setelah keadaan tenang, Alan pamitan. Dia mencium tangan Pak Rosyam lantas melangkah keluar di antar Livia. "Makasih banyak ya, Mas. Aku ngrepotin Mas Alan beberapa hari ini."
"Nggak apa-apa. Kalau ada sesuatu, segera hubungi aku."
"Hu um. Jangan lupa kalau ada lowongan pekerjaan untukku."
"Iya. Nanti aku kabari. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Livia masih berdiri di teras meskipun mobil Alan telah pergi. Akhirnya ia sampai juga di titik ini. Menyandang gelar janda tak lama lagi. Dia tidak akan mengemis untuk diperjuangkan oleh Bre. Laki-laki itu sudah jauh berubah ketimbang pada saat mereka berjuang untuk bisa menikah.
Sejak dulu Bu Rika memang tidak menyukainya. Entah apa alasannya. Mungkin karena dia lebih menyukai Agatha dan berharap perempuan itu yang menjadi menantunya. Atau ada alasan lain, Livia tidak tahu. Namun Alan pernah bilang, keluarga Bre pasti tahu banyak tentang runtuhnya bisnis keluarga Livia.
Agatha bukan wanita baru dalam hidup Bre. Mereka berteman semenjak masih sama-sama SMA. Tapi mereka kuliah di universitas yang berbeda. Bre bilang tidak pernah pacaran dengan gadis itu.
"Mbak Livia, bapak pingsan, Mbak!" teriakan Pak Tamin dari dalam rumah mengangetkan Livia.
Next ....
Selamat membaca 🥰
Jangan Pergi, Ayah
RAHASIA TIGA HATI
- Jangan Pergi, Ayah
Livia gelisah, sedih, takut, saat menunggu ayahnya yang sedang diperiksa. Tidak tenang duduk, ia berdiri dan mondar-mandir di depan ruang IGD. Ayahnya merupakan satu-satunya keluarga yang ia punya sekarang ini. Jika ayahnya pergi, runtuh sudah dunianya.
Pak Tamin juga cemas duduk di bangku logam. Dia sudah mengabdi pada Pak Rosyam puluhan tahun.
Hati Livia sedikit lega ketika melihat Alan berjalan cepat menghampirinya. Belum sampai di rumah Livia sudah menelponnya lagi, makanya berpatah balik langsung ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Om?"
"Masih diperiksa, Mas," jawab Livia menatap penuh harap pada Alan. Bahwa laki-laki itu bisa menemaninya melewati masa sulit ini.
"Duduklah, semoga nggak terjadi apa-apa pada Om." Alan mengajak Livia duduk di sebelah Pak Tamin.
Suasana mulai temaram karena hari beranjak senja. Namun para pembesuk masih terus hilir mudik di parkiran depan sana.
"Padahal ayah bilang tadi bilang baik-baik saja. Mas Alan, juga lihat bagaimana ayah tadi, kan?"
"Iya. Tapi beliau pasti sedih juga, Livi. Hanya beliau nggak ingin menunjukkan kesedihan itu padamu. Doakan saja, semoga tidak terjadi permasalahan serius pada Om."
Livia mengangguk lemah. Air matanya mengambang di pelupuk mata. Hidungnya pun berair karena menahan tangis dan sesaknya dada. "Aku nggak ingin kehilangan ayahku, Mas. Dialah satu-satunya yang aku punya. Aku nggak bisa sendirian tanpa ayah."
"Kamu juga memiliki aku. Aku akan bantu semampuku. Semoga Om Syam segera sadar dan tidak terjadi apa-apa terhadapnya."
"Hu um. Makasih ya, Mas."
Alan tersenyum. Dalam hati sedih juga. Entah sudah berapa kali ia duduk di ruang IGD seperti ini untuk menemani Livia menunggui ayahnya. Banyak kisah hidupnya terukir bersama keluarga Pak Rosyam.
Dulu kurang dua bulan lagi ia menikah dengan Selvia, tapi peristiwa naas itu terjadi dan menghancurkan mimpinya. Kejadian itu masih segar dalam ingatan dan sangat menyakitkan.
Seorang dokter yang memeriksa Pak Rosyam keluar dan mencari pihak keluarga. Spontan Livia dan Alan berdiri. "Saya anaknya Pak Rosyam, Dok. Bagaimana keadaan ayah saya?"
"Beliau sudah sadar, tapi perlu penanganan yang intensif. Suplai darah ke otaknya berkurang sangat drastis. Beliau mengalami serangan jantung dan ini sangat serius, makanya beliau harus mendapatkan perhatian medis, jadi harus rawat inap."
"Iya, Dok." Livia mengangguk. "Boleh saya menengok ke dalam?"
"Silakan dan segera tentukan untuk ruang perawatan." Selesai bicara, dokter itu melangkah meninggalkan mereka.
"Kamu jenguk Om Syam, biar aku yang ngurusi untuk kamar perawatan," kata Alan.
"Iya, Mas. Makasih banyak." Livia bergegas masuk ke dalam. Sedangkan Alan di dampingi Pak Tamin segera menemui petugas untuk memesan ruang perawatan Pak Rosyam.
Malam setelah kondisi stabil, laki-laki itu dipindahkan ke ruang perawatan. Pak Rosyam belum banyak bicara. Hanya netranya yang terus-menerus berembun.
Alan juga belum pulang. Tapi Pak Tamin yang pulang untuk mengurusi rumah yang tadi di tinggal begitu saja.
"Mas Alan, nggak apa-apa kalau mau pulang. Ayah sudah jauh lebih baik ini. Nanti Pak Tamin juga ke mari lagi." Livia bicara pada Alan.
"Iya. Jangan lupa, kamu harus makan. Supaya nggak sakit." Alan menatap nasi kotak di atas meja. Ia yang tadi keluar membelikan, tapi belum disentuh oleh Livia.
"Sebentar lagi kumakan."
"Vitamin C-nya juga kamu minum."
"Hu um. Makasih banyak, Mas. Karena selalu bantuin kami."
"Nggak usah mikirin hal itu. Selagi aku mampu, aku akan bantu kamu."
Livia terharu. Air matanya hendak tumpah makanya ia bergegas ke kamar mandi. Supaya ayahnya tidak melihatnya menangis. Beberapa menit kemudian ia kembali keluar dan ganti Alan bangkit dari duduknya untuk menghampiri Pak Roysam yang berbaring lemah. Tangan lelaki itu bergerak hendak menyentuh Alan tapi tidak mampu. Alan yang akhirnya menggenggam jemari Pak Rosyam.
"Makasih," ucap lelaki itu terbaca dari gerakan bibirnya.
"Sama-sama, Om. Semoga Om segera sehat dan bisa pulang ke rumah."
Pak Rosyam menarik napas dalam-dalam, seolah untuk mengumpulkan kekuatan bicara.
"Om nggak tahu bisa bertahan sampai kapan. Kalau terjadi sesuatu pada Om, titip Livia, ya." Suara yang lirih dan serak itu membuat Alan terharu mendengarnya. Ia mengangguk cepat.
"Kalau gitu saya pamit pulang dulu, Om. Insyaallah, setelah mandi saya akan kembali ke sini."
Pak Rosyam mengangguk lemah.
Alan melangkah keluar kamar diikuti oleh Livia. "Kalau Mas Alan capek, nggak usah ke sini lagi nggak apa-apa. Nanti Pak Tamin pasti ke mari lagi."
"Nggak apa-apa. Aku pulang untuk mandi dan ganti baju saja. Kamu mau dibawain cemilan apa?"
"Nggak usah, nasiku masih ada."
"Oke, kalau gitu aku pulang dulu. Jangan lupa segera makan."
Livia mengangguk. Setelah Alan berbelok di ujung lorong, ia baru masuk kembali ke kamar. Membenahi selimut ayahnya yang saat itu tengah memejam. Kemudian ia duduk di kursi dan membuka nasi yang dibelikan oleh Alan tadi.
Ketika tengah makan, Livia tidak menyadari kalau diperhatikan oleh ayahnya yang kembali membuka mata. Melihat putrinya, tak terasa sebutir air mata luruh di sudut netra. Kenapa ia tidak punya kekuatan untuk menjadi tameng bagi Livia. Satu-satunya anak yang masih ada. Justru malah menyusahkannya.
Pak Rosyam sangat sedih. Merasa bersalah menjadi ayah yang tidak berguna. Jika ia pergi untuk selamanya, siapa yang akan mendampingi putrinya? Namun kalau masih bertahan dalam keadaan seperti ini, hanya merepotkan Livia saja.
Jujur saja, ia lega kalau Livia lepas dari Bre. Daripada putrinya disiksa batin oleh mereka. Pak Rosyam sebenarnya curiga, kalau sang besan ikut campur dalam menumpas bisnisnya. Namun ia tidak memiliki bukti meski tahu banyak tentang mereka. Sekejam itu keluarga Bre.
Jam sebelas malam, Alan kembali sampai di rumah sakit. Ia heran saat melihat Livia duduk sendirian di depan kamar perawatan. Laki-laki itu menaruh tiga gelas teh hangat di kursi tempat duduk Livia. Wanita yang tengah melamun itu kaget, karena Alan sudah kembali menemuinya.
"Kamu nggak tidur?"
"Aku nggak bisa tidur, Mas. Pak Tamin yang nungguin papa di dalam."
"Kamu harus cukup istirahat biar nggak sakit."
"Aku juga pengen tidur, tapi nggak bisa."
"Di minum tehnya."
Livia mengambil segelas teh dan minum beberapa teguk. Kerongkongannya terasa hangat. Keduanya memandang ke arah yang sama. Pada pekat malam yang kelam.
"Makasih banyak ya, Mas. Kalau nggak ada Mas aku nggak tahu mau minta tolong sama siapa." Livia berkata lirih.
"Sudah kubilang. Aku akan membantu semampuku. Kamu jangan khawatir. Soal biaya rumah sakit, biar aku yang mengurusnya."
"Nggak usah, Mas. Aku masih punya uang. Nanti saja kalau butuh, aku minta tolong sama, Mas Alan."
"Oke," jawab laki-laki itu sambil melepaskan jaket dan memberikan pada Livia. "Pakaikah, udara makin dingin."
Hening.
"Bre nggak meneleponmu?" tanya Alan setelah diam beberapa saat.
"Nelepon dua kali, tapi nggak kuangkat. Tadi mereka sedang makan malam bersama keluarganya Agatha."
"Kamu tahu dari mana?"
"Dari story-nya Agatha."
"Kamu masih mencari tahu tentang mereka?"
Livia tersenyum getir. "Aku hanya ingin melihat apa yang mereka lakukan. Jika mereka seserius itu, berarti tak lama lagi kami akan segera bercerai."
Suara Livia terdengar sangat tegar, tapi Alan melihat ada kaca-kaca yang bersarang di netra Livia. Perceraian pasti membawa kepedihan. Apalagi mereka baru menikah belum genap dua tahun.
Alan pamitan pulang jam enam pagi setelah membelikan sarapan untuk mereka. Ia terburu-buru karena ada meeting hari itu.
"Pak Tamin, saya titip ayah, ya. Saya mau pulang mandi dan ganti baju." Livia berkata pada lelaki yang duduk di sebelah brankar ayahnya.
"Njih, Mbak. Ini kunci mobilnya."
Livia bergegas pergi setelah menerima kunci dari Pak Tamin. Ketika baru saja sampai di parkiran, ia berserempak dengan dokter Pasha. "Selamat pagi, Dok."
"Hai, Livia. Ayahmu opname?" tebak dokter Pasha. Karena sudah sangat mengenal tentang riwayat kesehatan Pak Rosyam.
"Iya, Dok. Ayah saya masuk rumah sakit kemarin sore."
"Kamu sudah memberitahu tentang permasalahan kamu?"
Livia mengangguk.
"Di kamar mana beliau di rawat? Nanti saya jenguk."
"Makasih banyak, Dok. Ayah ada di kamar Bougenville-05."
"Oke."
"Saya mau pulang dulu, Dok."
"Hati-hati, Livia."
"Makasih." Livia pulang mengendarai satu-satunya kendaraan yang masih mereka miliki. Harta yang tersisa hanya rumah dan mobil itu.
Dalam situasi seperti ini, Livia ingat ibu dan kakaknya. Mereka sudah tiada sekarang. meninggalkannya berjuang sendirian karena ayahnya pun dalam kondisi yang sangat lemah.
Dulu Selvia pernah bilang, "Carilah lelaki yang pandai menghargai dan melindungimu. Biar pun dia sederhana, tapi hidupmu jauh dari luka dan air mata."
Dan sungguh kakaknya beruntung dicintai lelaki seperti Alan. Yang tahu bagaimana mencintai dan menghargai pasangannya. Walaupun akhirnya sang kakak pergi, setidaknya ia pergi dalam kenangan yang indah. Makanya sampai sekarang pun Alan belum menggantinya dengan kehadiran wanita baru dalam hidupnya. Sementara dirinya mendapatkan lelaki yang tidak tahu bagaimana menjaga perasaan.
Alan memiliki paras yang tampan dan tubuh menawan sebagai seorang laki-laki. Manly. Tentunya banyak gadis di luar sana yang pasti menyukai. Namun setelah kepergian tunangannya, laki-laki itu masih bertahan sendirian. Sekarang usianya sudah tiga puluh tahun.
Mobil Livia langsung parkir di garasi. Ia masuk rumah dan segera mandi. Ketika tengah bersiap kembali ke rumah sakit, bel rumahnya berbunyi. Livia kaget, di depan pintu berdiri asistennya Bu Rika.
"Maaf, saya mengganggu, Mbak Livia. Bisa kita bicara sebentar. Saya mau menyampaikan pesan dari Bu Rika."
"Silakan duduk."
Livia mengajak gadis itu duduk di teras. "Ada apa?"
"Bu Rika telah menyiapkan seorang pengacara untuk mengurus perceraian Mas Bre dan Mbak Livia. Pengacara akan menemui Mbak Livia dalam beberapa hari ini. Bu Rika minta agar Mbak Livia jangan mempersulit proses di pengadilan."
"Bilang sama Bu Rika, nggak usah khawatir. Dengan senang hati saya akan menandatangani surat perceraian itu. Nggak usah pengacara itu menemui saya, untuk apa. Saya nggak akan datang ke sidang. Saya hanya menunggu akta cerai dikirim pada saya di alamat rumah ini. Tapi tunggu, kenapa Mbak yang disuruh menemui saya. Beliau kan menyimpan nomer saya."
"Saya nggak tahu, Mbak," jawab gadis itu.
"Apa takut kalau saya merekam percakapannya dan menyimpan chat-nya?"
Asisten Bu Rika diam.
"Bilang sama Bu Rika, nggak usah banyak drama. Dengan senang hati saya nggak akan mempersulit proses perceraian. Kenapa mereka takut kalau saya akan berulah. Katakan juga kalau rahasianya nggak bakalan saya bocorkan ke media jika perceraian kami terkuak. Saya juga nggak akan menyangkal apapun alasan dalam gugatan cerai itu. Walaupun nama saya akan di jelek-jelekan untuk mempermudah dikabulkannya perceraian."
Gadis itu mendengar ulasan panjang Livia. "Saya turut prihatin, Mbak," ujarnya kemudian.
Livia tidak menanggapi. Dia tidak mempercayai orang-orang di sekeliling keluarga B.
"Maaf, saya nggak bisa berlama-lama karena harus pergi."
"Iya. Kalau gitu saya permisi, Mbak." Gadis itu melangkah cepat keluar pagar. Di mana mobil dan sopir Bu Rika menunggu di sana.
Livia juga bersiap kembali ke rumah sakit. Mengutamakan kesembuhan ayahnya jauh lebih penting ketimbang meladeni drama mereka. Meski jujur saja, hatinya sangat sakit. Apalagi jika mengingat Bre. Lelaki yang sangat dicintainya ternyata makin menenggelamkannya dalam nestapa.
Sekarang Livia sadar dan sudah merasa cukup bertahan selama ini. Keluarga Bre menginginkan dia dan Bre bercerai, tapi mereka tidak ingin kemelut itu terbongkar ke luar.
Langkah Livia yang hendak ke garasi terhenti saat di luar pagar berhenti sebuah kendaraan warna silver.
Next ....
Selamat membaca 🥰