Bab 1

Jangan Punya Anak

RAHASIA TIGA HATI 1

Part 1 Jangan Punya Anak

"Nggak usah punya anak dulu. Mama nggak setuju."

Livia tercekat di balik pintu saat mendengar mama mertuanya bicara dengan Bre di ruang keluarga. Niatnya hendak masuk bergabung, tapi akhirnya hanya mematung di balik dinding.

"Kenapa, Ma?"

"Mama nggak sudi punya cucu keturunan dari orang gila." Ucapan ibu mertuanya bagai belati tajam yang menusuk tepat di ulu hati Livia. Wanita yang sangat ia sayangi tega berkata begitu di belakangnya. Wajar saja sebenarnya. Sebab Bu Rika memang tidak menyukainya sejak dulu. Wanita itu setengah hati merestui hubungan putranya dengan Livia. Namun kata 'gila' itu lebih menyakitkan dari apapun.

Mengingat kenangan itu, Livia menghela nafas panjang sambil menatap langit yang beranjak senja.

Meski sudah setengah tahun yang lalu perkataan itu diucapkan sang mertua. Bagi Livia masih terasa sakitnya. Dulu dia diterima dengan setengah hati, makanya tidak heran kalau sekarang ingin disingkirkan secara perlahan. Apalagi setelah bisnis keluarganya hancur, difitnah, dan orang tuanya terpuruk. Livia tidak dianggap lagi di keluarga suaminya. Mereka bilang, sekarang sudah tidak selevel lagi.

Siapa yang gila? Ayahnya bukan orang gila. Dia hanya mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) dan mengidap sakit jantung. Setelah banyak kejadian mengerikan dilalui. Untung Livia tidak mengalami depresi seperti ayahnya. Bre yang selalu membantu dan menguatkan agar dirinya bisa tetap berdiri tegak, setelah peristiwa kelam itu terjadi.

Namun sampai kapan Bre bisa bertahan membelanya, sementara mama terus merongrongnya. Setelah papanya tiada, Bre tidak mungkin akan meninggalkan sang mama. Meninggalkan usaha yang dikelola bersama kakak lelakinya.

Livia sendiri kian terasa asing di rumah besar mertua.

"Mbak Livia, dicari bapak." Seorang laki-laki setengah baya menghampiri Livia yang duduk di kursi belakang rumah.

"Iya, Pak Tamin," jawab Livia pada lelaki yang selama ini ia bayar untuk merawat dan menemani sang papa. Satu-satunya orang yang masih setia pada keluarganya, setelah kehidupan mereka runtuh.

Livia masuk ke ruang keluarga di mana ayahnya duduk di dekat jendela memandang langit sore. "Ayah, mau sesuatu?"

Pak Rosyam menggeleng. "Nggak. Ayah pikir kamu sudah pulang."

"Belum."

"Nanti Bre mencarimu."

"Dia tahu aku di sini."

Tiap kali memandang ayahnya, airmata Livia rasanya hendak tumpah. Lelaki yang dulunya sangat gagah, kini terpuruk setelah kehilangan istri, putri sulungnya, dan usaha yang mereka bangun selama ini juga hancur.

Ayah dan anak diam menikmati semilir angin sore. Seminggu dua sampai tiga kali, Livia akan mengunjungi ayahnya setelah pulang dari kantor.

Tadi hendak pamitan pada Bre, tapi di cegah oleh asisten suaminya. "Pak Bre, sedang meeting bersama Pak Ferry, Bu Kenny, dan Bu Agatha. Beliau tidak bisa diganggu, Bu Livia."

Padahal sudah di luar jam kerja, tapi ingin bertemu suaminya saja dilarang. Livia tidak heran, asistennya Bre memang sudah didoktrin oleh mama mertuanya. Semua orang diminta memusuhinya supaya Livia tidak kerasan di kantor atau pun di rumah besar mereka. Hanya Mbak Kenny, istri dari kakak ipar yang masih baik dan peduli padanya.

Dan parahnya lagi, keluarga seolah ingin mendekatkan Bre pada Agatha.

[Mas, aku nggak langsung pulang. Aku akan mengantarkan ayah ke dokter malam ini.] Itu pesan yang dikirim Livia pada Bre. Namun suaminya tidak membalas sampai sekarang.

Kadang ia merasa posisinya sangat terjepit di sana. Bre sendiri super sibuk sekarang. Pulang ke rumah sudah dalam keadaan sama-sama lelah.

Pernikahan yang belum genap dua tahun ini sudah mulai hilang kehangatannya. "Nggak usah diambil hati perkataan mama." Itu kalimat sama, yang selalu diucapkan Bre padanya.

"Habis Maghrib kita berangkat ke dokter, Yah. Ingat kan kalau jadwal Ayah kontrol ke dokter hari ini?"

"Ayah sudah nggak apa-apa, Liv. Nggak perlu kontrol lagi."

"Nggak bisa. Dokter bilang Ayah masih harus kontrol sampai kondisi Ayah benar-benar pulih."

"Kalau kamu repot. Biar ayah di antarkan Pak Tamin saja."

"Aku nggak repot."

"Ayah nggak enak selalu ngrepotin kamu. Sungkan sama Bre."

"Nggak apa-apa. Ayah nggak usah ada perasaan nggak enakan. Ini kewajiban aku mastiin ayah kembali pulih," jawab Livia untuk menenangkan sang ayah. Setelah mengalami PTSD, Pak Rosyam selalu dilanda kecemasan dan ketakutan yang berlebihan. Makanya Livia tidak mungkin akan menceritakan permasalahan rumah tangganya pada sang ayah, agar Pak Rosyam tidak down lagi.

Livia bangkit dari duduknya. "Aku mau mandi dulu."

Selesai salat Maghrib, Livia langsung mengantarkan sang ayah ke tempat praktek dr. Pasha Rizqullah Iqbal, SpKJ. Seorang psikiater yang sejak awal memang menangani permasalahan Pak Rosyam. Menangani kesehatan mental, rehabilitatif dengan pemberian konseling, psikoterapi, dan memberikan obat-obatan.

Setelah mengantarkan ayahnya pulang, Livia kembali ke rumah mertuanya. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun suasana di sana masih terang benderang. Mobil Ferry ada di carport. Kalau akhir pekan begini, kakak ipar dan keluarga kecilnya memang menginap di sana.

"Kamu pisah saja sama Livia. Daripada nama keluarga kita ikut tercoreng atas apa yang berlaku pada keluarganya. Sejak awal mama kan sudah bilang, mereka ini keluarga nggak bener. Curang dan akhirnya sekarang hancur sendiri."

Livia tercekat di ujung tangga. Kembali terpukul atas ucapan mama mertuanya. Tidak menyangka malam itu mereka berkumpul untuk membahas kembali tentang perceraian yang sudah berulangkali disarankan pada Bre.

"Usaha kita pun kena imbas dari kejadian itu. Mau nggak mau dia harus setuju untuk bercerai dengamu," lanjut Bu Rika.

"Jangan khawatir, Ma. Saya setuju!" jawab Livia dengan nada tegas sambil melangkah menghampiri mereka. Berusaha bersikap tenang, meski dalam dada sakitnya tiada terkira.

Mereka semua kaget melihat Livia yang tiba-tiba muncul di sana. Terlebih Bre yang duduk di samping kakaknya.

"Aku nggak setuju," jawab Bre menatap tajam istrinya. Jelas saja ia terkejut dengan jawaban Livia.

"Livia saja setuju kenapa kamu nggak?" Bu Rika menatap putranya.

"Keluarga kita ikut menanggung malu karena kasus keluarganya." Ferry menatap sinis pada Livia.

Mendengar ucapan kakak iparnya, Livia menelan ludah. Melonggarkan tenggorokan yang tersekat karena menahan geram. Dia tidak akan melakukan pembelaan. Percuma saja bicara. Sebagai sebuah keluarga, harusnya mereka berpihak padanya. Tapi justru memusuhi. Harusnya mereka menguatkan tapi malah hendak turut menghancurkannya.

Mereka semua sedang lupa sekarang ini. Siapa dulu yang membantu keluarga Bre bangkit dari kebangkrutan, kalau bukan ayahnya. Sekarang jangankan diberi jabatan di perusahaan, Livia direndahkan di sana. Bahkan untuk asisten Bre, mereka memilih orang lain. "Kamu nggak usah banyak ikut campur dalam perusahaan, daripada usaha kami hancur." Ferry berkata padanya, pasca tragedi menimpa keluarga Livia.

Kenny yang iba melihat Livia, hanya diam tidak bisa berbuat apa-apa.

"Silakan urus perceraian kami. Saya nggak akan mempersulit. Saya akan menandatanganinya nanti." Selesai bicara, Livia berbalik dan menuruni tangga.

Bre bangkit, mengejar, dan menahan tangan istrinya. "Kamu mau ke mana? Kamar kita ada di atas."

"Aku mau pulang ke rumah ayahku."

"Aku nggak ngizinin kamu meninggalkan rumah ini." Bre menarik lengan istrinya dan mengajaknya masuk kamar.

"Kenapa menahanku. Keluargamu sudah nggak ngizinin aku menjadi bagian dari mereka lagi." Livia berkaca-kaca.

"Aku nggak akan menceraikanmu. Sampai kapanpun."

"Lebih baik kita berpisah saja. Pernikahan macam apa yang kita jalani ini. Sejak awal mereka nggak setuju Mas menikahiku. Mereka semakin membenci dengan kasus yang menimpa keluargaku. Mereka mempercayai fitnah yang ditujukan pada keluargaku, pada kakakku. Mamamu melarang kita punya anak. Aku nggak dihargai di sini. Dan Mas nggak mungkin meninggalkan rumah ini. Jadi lebih baik kita luluskan saja permintaan mereka."

Bre menatap Livia. "Kita nggak akan bercerai apapun yang terjadi."

"Hampir dua tahun kita menikah. Sampai detik ini, Mama Rika tetap nggak menyukaiku. Bahkan melarangku hamil anakmu. Mama Rika nggak ingin keturunannya lahir dari perempuan sepertiku. Kami sekarang memang miskin. Tapi ayahku nggak gila."

"Aku tahu."

"Tahu apa? Mas, pun takut aku mengandung anakmu, kan?"

Mereka saling pandang. Livia tersenyum getir melihat Bre diam tidak menjawab. Dulu mereka antusias untuk segera memiliki anak, tapi dua bulan menikah, mama mertuanya bilang agar dirinya jangan hamil dalam waktu dekat. "Biar Bre fokus untuk menyelesaikan S2-nya yang sempat tertunda. Bre juga baru kehilangan ayahnya dan perusahaan sedang tidak baik-baik saja."

Livia mengerti dan memaklumi alasan itu. Namun setelah setahun berlalu, mama mertuanya tetap tidak mengizinkan dirinya hamil dengan alasan yang sangat menyakitkan.

"Baiklah, kita planning untuk punya anak mulai sekarang. Nggak usah pedulikan apa kata mama." Bre berdiri dan membuka laci meja rias. Sekotak 'pengaman' yang selalu tersedia di sana dibuangnya ke tempat sampah.

"Bre." Suara Ferry memanggil dari luar kamar. "Agatha sudah sampai bersama papanya. Kutunggu kamu di bawah."

Bre memandang Livia. "Aku turun dulu. Ada hal yang perlu kami bahas."

Selesai bicara, Bre meninggalkan kamar. Tinggal Livia yang duduk termenung di tepi pembaringan. Mereka datang jam sepuluh malam. Sepenting apa permasalahan yang hendak mereka bicarakan, sampai tidak sabar menunggu esok pagi.

Wanita itu jatuh meringkuk di tepi ranjang. Malas hendak menguping pembicaraan mereka. Daripada nanti membuatnya lebih sakit hati. Rasanya sudah tidak sanggup lagi ia tinggal di sana. Harusnya dulu ia tidak memaksakan diri masuk keluarga Hutama. Namun cinta dan sikap Bre yang terus meyakinkannya, membuat Livia tidak ragu untuk terus maju. Nyatanya makin ke sini, kian menyiksa batinnya sendiri.

***L***

Livia memperhatikan Bre yang tengah berpakaian. Suaminya bilang kalau pagi ini akan berangkat ke Madiun bersama kakaknya. Ada pekerjaan yang harus mereka selesaikan. Urgent.

"Aku akan ke rumah ayah setelah Mas berangkat."

"Oke. Aku akan menjemputmu nanti." Bre mendekat. Memeluk dan mengecup kening istrinya cukup lama.

Setelah Bre keluar, Livia beranjak ke Balkon dan memperhatikan suaminya dari sana. Ternyata Bre tidak hanya pergi berdua dengan Ferry, tapi dengan Kenny dan mamanya juga.

***L***

"Stop, Livia. Kamu tidak sedang latihan, tapi ingin menghabisiku." Seorang laki-laki berperawakan tinggi dan gagah menghentikan gerakan Livia yang membabi buta dalam melancarkan pukulan.

"Mustahil aku bisa melukaimu, Coach." Wanita itu bergerak mundur dan duduk di bangku panjang samping rumahnya. Dilepaskan hand wrap atau pelindung tangan untuk menghindari dari cedera saat latihan Muay Thai.

"Kamu kenapa?" tanya pria tampan yang kini duduk di hadapannya.

"Nggak apa-apa, Coach," jawab Livia sambil mengatur napasnya.

"Sudah kubilang kan, jangan panggil coach. Aku nggak nglatih lagi sekarang. Hanya sesekali saja datang ke tempat latihan. Aku datang ke sini juga untuk jenguk Om Syam, bukan adu kesaktian sama kamu."

Livia manarik napas dalam-dalam sambil mengelap peluh di pelipisnya. Sore ini udara kota Surabaya panas. Kemudian ia menatap Alan. Laki-laki dihadapannya ini adalah kekasih kakaknya sebelum saudara satu-satunya itu meninggal. Dia seorang design grafis juga pelatih Muay Thai.

"Ada yang ingin kamu ceritakan padaku?"

"Mas Alan, mau mendengarnya?"

"Tentu. Ada apa?"

Livia diam. Rasanya tidak pantas ia menceritakan permasalahan pribadinya dengan Bre pada Alan. Walaupun laki-laki itu banyak tahu tentang penerimaan keluarga Bre terhadapnya. Livia bukan menantu yang diinginkan mereka.

"Livia," panggil Alan.

"Mas Alan kenal Agatha, kan?"

"Ya. Kenapa?"

"Nggak ada apa-apa, Mas. Aku mau mandi dulu. Gerah." Langkah Livia terhenti ketika ada suara mobil memasuki halaman rumah.

Next ....

Selamat membaca.

Selamat datang di cerbung RAHASIA TIGA HATI. Kisah kehidupan perempuan tangguh, Livia. Jangan lupa subscribe dan rate bintang lima ya. Makasih.

Bab 2

Apa yang mereka rahasiakan?

RAHASIA TIGA HATI

Part 2 Apa yang mereka rahasiakan?

"Hai, Din," sapa Livia berjalan menghampiri seorang wanita yang baru turun dari mobil.

"Liv, aku mau ngomong sebentar." Dina yang tampak tegang menarik tangan Livia dan mengajaknya duduk di teras rumah.

Wanita itu mengeluarkan ponselnya di saku celana. Kemudian menunjukkan sebuah foto dari galeri. Degup jantung Livia bergemuruh melihatnya. Apalagi ketika menyaksikan video di mana Bre berinteraksi dengan seorang gadis yang sangat ia kenal. Karena video itu diambil dari kejauhan, makanya tidak begitu jelas dengan apa yang mereka lakukan. Namun ia tahu siapa perempuan itu.

"Kamu ngambil video ini di mana?"

"Aku tadi nganterin roti di Restoran Tamimi. Kaget juga saat melihat Bre dan keluarganya makan di sana bersama keluarga Agatha, tapi kamunya nggak ada. Lebih kaget lagi saat mereka seperti sedang melakukan pembicaraan serius. Tapi entah apa aku nggak tahu."

Livia lemas dan gemetar. Padahal tadi pagi Bre pamitan hendak ke Madiun. Jadi mereka telah merencanakan sesuatu untuk hari ini.

Dina pun khawatir. Dalam perjalanan tadi ia bingung juga. Haruskah Livia diberitahu atau tidak. Pada akhirnya ia mampir juga di rumah Pak Rosyam saat melihat ada Livia duduk di samping rumah bersama Alan.

"Liv, aku sebenarnya nggak sampai hati ngasih tahu kamu. Tapi kalau diam, mereka semakin semena-mena sama kamu."

"Nggak apa-apa, Din. Makasih banyak sudah ngasih tahu aku." Suara Livia bergetar.

"Kirimkan video itu padaku."

"Iya. Aku kirim." Dina mengirim ke nomernya Livia. "Aku tadi nggak bisa mendekat karena mereka berada di ruangan yang dibooking secara private. Aku curiga, mereka ngadain acara lamaran, Liv."

"Bisa jadi." Mengingat peristiwa tadi malam, mungkin saja hal itu terjadi.

Dina merangkul sahabatnya dan tidak bisa berkata apa-apa untuk menenangkan. Sebab hatinya sendiri kebingungan dan sakit dengan apa yang dialami oleh Livia. Dina tahu semua cerita hidup wanita itu.

"Om di mana?" Dina menatap ke dalam rumah. Khawatir ayahnya Livia mendengar percakapan mereka.

"Ayah di mushola kalau jam segini."

"Kalau gitu aku pamit dulu, ya."

"Iya." Livia menghapus air matanya.

Aku nggak tahu mau bilang apa sama kamu. Tapi aku yakin, kamu tahu apa yang akan kamu lakukan."

Keduanya menatap sore yang cerah. Matahari masih bersinar terang kendati sudah pukul empat.

"Mas Alan, sudah di sini sejak tadi."

"Iya, nyambangi ayah."

"Baik banget dia. Perhatian sama calon mertua yang nggak jadi."

Livia tersenyum tipis. Jauh berbeda dengan Bre yang tidak seperhatian itu pada mertuanya.

"Aku pulang dulu, Liv. Khawatir anakku nangis. Waktu aku tinggal tadi dia masih tidur."

"Makasih kamu udah ngasih tahu aku."

Dina menepuk bahu sahabatnya, lantas beranjak dari sana. Melangkah ke samping rumah untuk menyapa Alan. "Mas Alan, aku mau pulang dulu. Maaf, nggak nyamperin. Buru-buru soalnya."

"Oke, nggak apa-apa. Hati-hati kalau nyetir."

"Iya, Mas. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Livia masih mematung memperhatikan mobil sahabatnya yang bergerak pergi. Kalau sopir yang biasa mengantarkan pesanan sibuk, Dina sendiri yang akan pergi mengantar. Usahanya bersama sang ibu sekarang berkembang pesat.

"Kenapa mematung di sini?" Alan menghampiri.

"Nggak apa-apa, Mas. Aku mau mandi dulu."

"Kalau gitu aku juga mau pamit. Sampaikan salam pada Om, maaf nggak nunggu beliau pulang."

"Iya, nanti aku sampaikan." Livia menjawab seraya mengangguk. Tak terasa sebulir air bening menetes di pipinya. Buru-buru Livia menghapus dengan ujung jemari.

"Ada apa?" Alan tidak jadi beranjak pergi. Perasaannya mengatakan kalau ada yang tidak beres dengan Livia.

Bukannya menjawab, Livia menangis. Alan mengajaknya duduk di bangku halaman samping, supaya tidak terlihat oleh orang yang lewat di jalan depan.

Untuk beberapa lama, Alan membiarkan Livia dalam tangisnya hingga wanita itu berhenti dan menghapus air matanya. Sekuat apapun hatinya, rasanya begitu sakit mendengar apa yang disampaikan oleh Dina tadi. Kenapa Bre begitu tega padanya. Padahal jelas tadi pagi pamit hendak ke Madiun. Ternyata masih ada di Surabaya.

Setelah menarik napas panjang, Livia menceritakan tentang kemelut yang akhir-akhir ini kian menyiksanya. Dia harus maju atau mundur. Sebenarnya sangat tidak terima jika ayahnya dipandang buruk oleh keluarga Bre. Sang ayah tak mungkin curang dengan rekan bisnisnya yang sekarang justru berkomplot dengan keluarga mertuanya.

"Jangan ambil keputusan dalam keadaan emosi. Kamu bisa membahasnya ini dengan Bre." Alan mencoba menenangkan, walaupun ia menduga kalau keluarga Bre sendiri yang sebenarnya menghancurkan bisnis Pak Rosyam. Sebab sejak awal ia tahu kalau Bre hendak dijodohkan dengan Agatha.

"Apa mungkin mereka menyuruh Bre menikah diam-diam, Mas?"

Dua insan itu saling bersipandang. Alan tidak ingin menjawab yang bisa menambah runyam keadaan.

"Selidiki dulu, ya. Jangan cepat mengambil kesimpulan. Jika kamu butuh teman cerita, jangan sungkan menghubungiku. Kamu nggak mungkin cerita sama ayahmu."

"Makasih, Mas," jawab Livia dengan suara serak.

"Kalau gitu. Aku pulang dulu."

"Hu um. Hati-hati."

Alan memakai jaketnya. Kemudian melangkah ke arah motor besar yang terparkir di depan garasi rumah Pak Rosyam.

Laki-laki membunyikan klakson kemudian bergerak meninggalkan Livia yang masih berdiri di sana.

Ketika hendak masuk rumah, mobil Bre memasuki halaman. Laki-laki itu turun dan tersenyum manis pada istrinya.

"Cepatnya Mas pulang dari Madiun?" tanya Livia ketika Bre menghampiri. Untuk menguak sesuatu, Livia harus bersabar dan menahan emosi. Seperti mereka yang bermain cantik di belakangnya.

"Iya. Setelah urusan selesai kami langsung pulang."

"Oh." Livia masuk rumah diikuti Bre. "Aku buatin kopi?"

"Nggak usah. Aku sudah ngopi tadi."

"Ya udah kalau gitu aku mau mandi." Livia meninggalkan Bre yang duduk sendirian di ruang tamu.

Livia membiarkan air shower membasahi dari ujung kelapa hingga ke seluruh raganya. Tangannya mengepal jika ingat satu tahun terakhir ia menjalani hidup di bawah tekanan mertuanya. Yang lebih menyakitkan, ketika ia dilarang hamil, Bre pun mendukung mamanya. Disaat ia menghindari pemakaian kontrasepsi, Bre yang memakai pengaman. Bukankah itu sebuah persetujuan? Dengan alasan belum siap punya anak. Lucu sekali alasan itu, karena secara mental dan finansial mereka pasti siap. Mereka bisa membayar baby sitter untuk membantu merawat anak.

Apa setelah ini Livia akan tetap sabar, mendiamkan perlakuan mereka yang mulai terang-terangan hendak menyingkirkannya?

Selesai mandi dan salat asar, Livia membawakan segelas teh hangat untuk Bre.

"Ayah ke mana?"

"Ke mushola."

Bre meraih gagang gelas dan menyesap teh hangat. Livia diam. Dia tidak akan membahas sesuatu yang akan membuang tenaga. Sekarang ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan di restoran Tamimi beberapa jam yang lalu. Untuk beberapa waktu ke depan, Livia harus menebalkan muka dan menulikan telinga, agar tahu apa yang sebenarnya mereka rencanakan di belakangnya.

Livia bangkit dari duduknya dan melangkah ke kamar. Ponselnya tengah di charge di sana dan ia harus menyimpan dulu video yang dikirimkan oleh Dina sebelum Bre menemukannya.

Pelukan Bre dari belakang mengangetkan Livia. Untung saja ia sudah menyimpan video itu dengan aman.

Tangan Bre yang mulai nakal ditepiskan olehnya. Kalau dulu dengan senang hati ia akan menyambut bahkan membalasnya. Sekarang moodnya telah lenyap sejak semalam. Lelaki yang ia kira bisa memperjuangkannya, ternyata begitu lemah dalam membela istrinya.

Lelaki itu tidak putus asa, karena semalam keinginannya terpatahkan begitu saja. Livia tidak mau bangun dikala ia masuk kamar usai berbincang dengan keluarga Agatha.

Kembali Bre mencoba lagi, tapi Livia tetap menepis tangannya. "Bukan waktu yang tepat, Mas. Sebentar lagi Maghrib." Wanita itu melepaskan diri dan beranjak ke jendela kamar. Suasana di luar sudah merambah senja.

"Kamu harus membayarnya malam ini."

Livia tidak menanggapi. "Aku mau wudhu dulu."

Kisah mereka tidak diwarnai lagi oleh kehangatan dan kebebasan bercerita. Dulu Livia bisa mengerti saat dilarang punya anak karena Bre masih harus menyelesaikan S2 dan sedang membangun karirnya. Namun sekarang, ada alasan lain yang terlalu mengada-ada dan menyakitinya.

***L***

Sudah beberapa hari ini ia melihat Agatha datang ke kantor. Gadis itu masih menyapanya seperti biasa. Tidak ada yang aneh. Bahkan masih sempat menawarinya untuk makan siang bersama.

"Mbak Agatha, kapan nih?" Pertanyaan penuh teka-teki dari seorang staf yang duduk tepat di samping Livia, bertanya pada Agatha yang sedang berbincang dengan sekretaris pribadi Bre.

Livia pura-pura tidak mendengarnya. Ia sibuk meneliti laporan keuangan yang baru saja di selesaikan. Namun telinganya tajam mendengarkan. Perasaannya tak enak. Ada sesuatu yang sedang mereka rencanakan.

"Nanti kukabari," jawab gadis itu.

"Beneran jangan lupa. Aku tunggu pokoknya."

"Siipp."

Setelah itu hentakan stiletto Agatha terdengar meninggalkan ruangan.

Livia baru mengangkat wajahnya. Memandang ke arah sekretaris pribadi Bre yang saat itu tengah menatapnya dan buru-buru mengalihkan perhatian pada layar laptop.

Berkas yang sudah dimasukkan ke dalam map bening, dibawa Livia ke ruangan Kenny. "Silakan di cek, Mbak."

"I-iya. Nanti aku cek." Kenny selalu gugup jika didekati oleh Livia. Semenjak kepergian mereka hari Sabtu, Kenny berusaha menghindarinya.

"Mbak, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Apa?" jawab Kenny tanpa memandang istri dari iparnya.

"Hari Sabtu kemarin Mbak ikut pergi ke mana?"

"Ke Madiun."

"Bener ke Madiun?"

Kenny mengangguk. Wanita itu terlihat gelisah saat Livia masih duduk di hadapannya. Terlihat sekali ia serba salah. Padahal Livia hanya diam menunggu laporannya selesai di tanda tangani.

Wanita yang biasanya selalu ramah dan mengajaknya bercerita, kini diam saja. Dan tergesa-gesa mengecek angka dan menandatanganinya.

"Nggak usah buru-buru, Mbak. Dicek betul-betul. Kalau ada kesalahan, dikira kita berkomplot nanti," ujar Livia yang membuat Kenny makin salah tingkah.

"Kamu bisa pergi. Nanti kalau ada yang perlu dibenahi, akan Mbak panggil."

Livia bangkit dari duduknya dan meletakkan amplop putih di atas meja. "Ini surat resign-ku, Mbak. Aku mau berhenti kerja dan mencari pekerjaan lain."

Baru Kenny menatap wanita cantik yang berdiri di hadapannya. "Kenapa?"

"Mbak Kenny, kan sudah tahu alasannya. Aku permisi dulu." Livia meninggalkan ruangan. Ia memutuskan pergi sebelum apa yang dirahasiakan darinya terkuak.

Beberapa saat setelah duduk di kursinya. Sekretaris Bre menghampiri. "Bu Livia, Pak Bre meminta ibu untuk datang ke ruangannya."

Tanpa menjawab, Livia bangkit dari duduknya dan melangkah ke ruangan sang suami.

"Apa maksudnya ini?" Bre menunjuk amplop putih di atas meja. Rupanya Kenny langsung memberitahu Bre tadi.

"Surat pengunduran diri," jawab Livia tenang.

"Aku nggak akan menyetujui."

"Saya nggak butuh persetujuanmu, Pak. Surat pengunduran diri hak mutlak karyawan yang ingin berhenti kerja. Dan ini menjadi tanggung jawab atasan untuk mengakui dan menerima keputusan itu."

"Kamu masih punya tanggungjawab yang harus kamu bereskan di sini."

"Hari ini, saya sudah menyelesaikan semuanya."

Bre menghela nafas berat. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Livia. Meraih pinggang langsing istrinya hingga merapat dengan tubuhnya. "Apa maksudmu untuk berhenti kerja?"

"Aku dapat pekerjaan lain dengan gaji yang lumayan. Aku butuh itu untuk membiayai pengobatan ayahku yang tidak bisa dicover oleh asuransi kesehatannya."

"Aku selalu memberimu cukup uang tiap bulan. Apa itu kurang?"

"Aku nggak akan menggunakan uangmu untuk pengobatan ayahku."

"Aku nggak pernah melarangmu."

"Tapi aku yang nggak mau." Livia masih ingat bagaimana mama mertuanya berkata kalau Pak Rosyam hanya menjadi benalu dalam hidup putranya.

Mereka saling pandang dengan jarak yang begitu dekat. Livia berusaha melepaskan diri hingga panggutan itu mengangetkannya. Karena pada saat yang bersamaan, pintu ruangan di ketuk dari luar.

Next ....

Selamat membaca 🥰

Selamat menyambut dan menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1445 H, kepada teman-teman yang sedang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin, ya 🙏 Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT.

Bab 3

Biar Dia Pergi

RAHASIA TIGA HATI

Part 3 Biar Dia Pergi

"Apa-apaan kalian. Ini kantor bukan kamar?" Bu Rika berkata dengan tatapan marah dan benci pada menantunya.

Livia menarik diri dari rangkulan sang suami.

"Nggak tau tempat dan situasi ya kalian. Kamu juga nggak sadar posisi, Livia. Di kantor kamu dan Bre sebagai apa. Nggak punya attitude." Omelan menyembur dengan angkuhnya dari mulut Bu Rika.

"Ma, kami nggak melakukan apapun yang memalukan. Livia istriku," bantah Bre.

"Maaf, saya permisi dulu. Hari ini saya akan memastikan semua pekerjaan dan tanggungjawab saya selesai, Pak Bre. Besok saya sudah nggak ngantor lagi. Permisi!" Livia berkata dan mengangguk sopan pada atasannya.

Bu Rika terkejut mendengar ucapan Livia. "Maksudmu apa?"

"Saya resign, Bu Rika. Permisi."

"Tunggu, Liv!" Bre menahan Livia yang hampir menggapai pintu. "Aku nggak ngizinin kamu berhenti kerja."

"Saya punya hak untuk resign ketika rasa nyaman sudah tidak ada lagi dalam lingkup pekerjaan saya. Anda tidak berhak mencegah saya, Pak Bre," jawab Livia formal.

"Nggak bisa. Di sini kamu ikut aturanku."

"Biarkan kalau dia ingin berhenti. Masih banyak staf yang lebih potensial dari Livia," sahut Bu Rika.

Livia segera membuka pintu dan pergi dari sana. Bersikap seperti tidak terjadi apa-apa di hadapan para staf lainnya. Meski hatinya tersayat-sayat. Mama mertua yang ia anggap sebagai pengganti ibunya, tidak seperti yang ia harapkan selama ini.

Pura-pura bahagia dan baik-baik saja itu sungguh menyiksa. Padahal para karyawan juga pada tahu bagaimana hubungan Livia dengan keluarga mertuanya. Nyaris staf yang menginginkan kenaikan jabatan, yang mencari muka, berpihak pada keluarga Bre dan turut menjaga jarak darinya. Namun staf rendahan yang jujur dan tidak suka menjilat, jatuh iba padanya. Walaupun begitu mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa, selain diam. Karena mereka juga sangat butuh pekerjaan. Membela Livia tidak ada untungnya.

Dengan perasaan campur aduk, Livia meneliti pekerjaan yang harus diselesaikannya. Dia tidak boleh pergi meninggalkan tanggungjawab.

Kenny yang hendak ke ruangan Fery memperhatikan Livia dengan perasaan bersalah. Tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Ketika tengah fokus meneliti laporan di layar laptop, sekretaris Bre menghampiri sambil membawakan setumpuk berkas.

"Ini apa?" tanya Livia.

"Pak Bre, menyuruh Bu Livia untuk memeriksa dokumen ini sebelum di arsipkan."

"Nggak bisa. Ini bukan tugasku. Aku staf keuangan di sini. Lagipula besok aku sudah resign," jawab Livia tanpa menatap Tina, sekretaris Bre. Dia kembali fokus pada layar bening di hadapannya.

Gadis itu terkejut dengan pengakuan Livia yang hendak berhenti kerja. "Tapi Pak Bre yang menyuruh saya mengantarkan berkas ini pada, Bu Livia."

"Saya nggak peduli. Bilang sama Pak Bre kalau saya menolak tugas darinya."

Tina diam mematung. "Kamu kembalikan atau biarkan saja di situ dan nggak akan aku kerjakan."

Akhirnya Tina membawa berkas itu pergi. Livia hanya melirik sekilas punggung Tina yang menjauh. Dia tidak peduli dan takut sekarang. Meski di kiri kanan, banyak telinga menajamkan pendengaran.

Jika bicara tentang cinta, tidak ada orang yang ingin berpisah dari insan yang sangat dicintainya. Namun bertahan dalam keadaan tidak dihargai, juga bukan pilihan yang tepat. Dia mencintai Bre semenjak mereka duduk di bangku kuliah. Usia mereka selisih tiga tahun.

"Livia, kamu tahu apa tugas seorang staf?" Tiba-tiba saja Bre sudah berdiri dan mengagetkan istrinya.

"Tugas staf mematuhi instruksi dari atasannya. Kenapa kamu menolak perintahku," lanjut pria yang memakai kemeja warna abu-abu dan menatapnya lekat.

"Pak Bre, jangan lupa. Beberapa bulan yang lalu posisi saya sebagai sekretaris Pak Bre sudah diganti dengan Mbak Tina. Saya bekerja di bawah perintah Bu Kenny sekarang ini."

"Aku atasan kalian dan kamu nggak bisa menolak perintahku. Hari ini kamu masih staf di sini."

Livia melepaskan mouse di tangannya dan fokus menatap sang suami. Ini hanya alasan Bre saja supaya ia tidak bisa resign seperti rencananya.

"Oke, saya akan mengerjakan dan menyelesaikan hari ini juga. Besok saya bukan lagi karyawan di sini." Livia bangkit dari duduknya untuk menghampiri Tina dan meminta berkas tadi agar diberikan padanya.

Semua telinga menajamkan pendengarannya, karena mata mereka tidak berani memandang apa yang terjadi antara bos dan istrinya.

Setelah berkas di antar, Livia fokus untuk menyelesaikan. Rupanya tidak hanya setumpuk, tapi Tina mengirimkan setumpuk lagi. Melihat itu Livia ingin menangis. Namun ia tahan setengah mati agar jangan sampai menumpahkan air mata.

Kenapa Bre begitu kejam padanya. Semenjak ia menyetujui perceraian yang diucapkan mama mertuanya malam itu, membuat Bre marah pada Livia. Namun apa arti pertemuan dengan keluarga Agatha waktu itu. Bukankah Bre pun ada di sana?

Ketika tengah melamun, asisten Bu Rika menghampiri. "Bu Livia, ditunggu ibu di ruangannya."

Tanpa menjawab, Livia segera berdiri dan masuk ruangan mama mertuanya.

"Saya senang kamu mengundurkan diri." Baru masuk ruangan, Livia langsung disambut perkataan demikian oleh ibu mertuanya. "Saya harap, pertimbangkan juga untuk berpisah dari putra saya. Saya nggak ingin anak saya hidup dengan anak seorang pecundang seperti ayahmu."

Darah Livia mendidih mendengar kalimat terakhir mertuanya. "Ayah saya tidak seperti itu. Itu semua fitnah untuk menghancurkan keluarga saya."

Bu Rika tersenyum sinis. "Semua sudah terbukti, nggak usah kamu membela diri. Saya menyesal membiarkan Bre menikah denganmu. Kamu tinggalkan perusahaan, kamu tinggalkan juga rumah saya."

Netra Livia berkaca-kaca mendengar kalimat menyakitkan dari seorang ibu. "Jangan khawatir, Bu Rika. Saya kabulkan permintaan Anda. Permisi."

Livia kembali ke meja kerjanya dengan hati hancur untuk kesekian kalinya. Namun sekuat hati, ia menahan diri agar tidak menunjukkan kerapuhan itu dihadapan banyak orang.

***L***

"Liv, kamu nggak makan dulu." Bre kembali berdiri di hadapannya waktu break istirahat dan makan siang.

Wanita itu menggeleng.

"Kutunggu di ruanganku. OB akan membawakan makananmu ke sana." Selesai bicara Bre melangkah kembali ke ruang pribadinya. Saat itu ruangan memang sepi karena para staf tengah istirahat. Hanya Livia yang tersisa.

Namun hingga beberapa menit kemudian, Livia tidak kunjung menyusul. Bre kembali ke luar menghampiri. "Kamu mau aku suapi di sini?" kata Bre jengkel.

"Saya nggak ingin dianggap tidak memiliki attitude, Pak Bre. Saya bisa makan sendiri nanti," jawab Livia dengan nada formal dan terus fokus memilah berkas.

Bre menghela nafas panjang. Ternyata Livia tidak menyerah dan benar-benar ingin pergi meninggalkan perusahaan. Ia sebenarnya juga menyadari, kalau perlakuan keluarganya sudah kelewat batas pada istrinya. Namun ia pun meyakini kalau ayah mertuanya yang selama ini bermain curang dalam berbisnis.

Livia terus bekerja tanpa mempedulikan Bre yang berdiri di depannya.

"Kamu benar-benar ingin berhenti?"

"Ya," jawab Livia singkat. Nanti kalau sudah di rumah, ia akan memberitahu apa yang diucapkan mama mertuanya tadi.

"Kamu dapat pekerjaan di mana?"

Diam. Livia tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu, karena sebenarnya dia belum mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Namun ia yakin, Alan pasti bisa membantunya.

"Liv, kenapa diam?"

"Pada akhirnya nanti kamu akan tahu, Mas. Maaf, jangan ganggu aku. Biar kuselesaikan pekerjaan ini."

"Alan yang membantumu mendapatkan pekerjaan itu?" Bre terus mengejar pertanyaan sampai ia mendapatkan jawaban. Namun Livia tidak menjawabnya.

Orang yang paling dekat dengan sang istri adalah Alan dan Dina. Kalau Dina jelas tidak mungkin karena dia ibu rumah tangga yang hanya membantu ibunya mengelola toko roti. Sudah pasti Alan yang membantu Livia.

Bre pergi dengan perasaan kecewa. Sedangkan Livia terus fokus bekerja meski pikirannya ke mana-mana. Bagaimana caranya menjelaskan tentang kondisi rumah tangganya sekarang. Ia takut ayahnya akan kambuh lagi.

"Liv, kamu nggak pulang?" tanya Kenny yang menghampirinya sore itu. Ketika ruangan sepi karena para pekerja sudah pada pulang.

"Pekerjaanku belum selesai, Mbak."

"Kamu serius mau berhenti kerja?"

Livia mengangguk. Kenny kemudian melangkah pergi. Namun tidak lama kemudian kembali sambil membawakan burger dan teh manis. "Makanlah dulu, sejak tadi kamu nggak beranjak dari meja kerjamu."

"Makasih. Mbak, sudah repot-repot belikan aku makanan."

Kenny menarik satu kursi dan duduk di hadapan Livia.

"Apa rencanamu setelah berhenti dari sini?"

"Mencari pekerjaan lain."

"Keadaan akan semakin rumit, Liv. Kamu bekerja di lain tempat, tapi kamu masih tetap tinggal di rumah mama."

"Aku akan pulang ke rumah ayahku, Mbak."

Kenny terkejut.

"Aku tahu, keluarga telah merencanakan sesuatu yang besar di belakangku. Aku juga tahu kalau hari Sabtu kemarin kalian nggak pergi ke Madiun." Ucapan Livia membuat Kenny kembali terkesiap. Livia tahu dari mana, tidak mungkin Bre yang cerita.

"Liv, jangan bercerai," ucap Kenny pelan.

"Apa yang Mbak tahu dan tidak kuketahui?"

"Tanyakan pada Bre. Mbak pulang dulu." Wanita itu bergegas meninggalkan Livia sendirian. Ia pun khawatir kalau Fery akan memergokinya bicara dengan Livia selesai meeting nanti.

Sikap wanita itu membuat Livia makin yakin kalau ada rahasia besar yang mereka sembunyikan. Benarkah antara Bre dan Agatha hari Sabtu kemarin lamaran. Kalau benar terjadi, kenapa Bre tidak menyetujui untuk bercerai dengannya. Jadi tidak perlu sembunyi-sembunyi seperti ini.

Berulangkali Livia menarik napas dalam-dalam untuk melonggarkan pernapasan. Orang lain melihatnya begitu tangguh, tapi yang sebenarnya perasaan telah remuk redam. Dia menahan semuanya agar sang ayah tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Livia tidak ingin ayahnya kembali mengalami tekanan batin yang akan membahayakan kesehatan dan keselamatannya.

Sesekali ia bercerita pada Alan atau Dina. Hanya pada mereka berdua, Livia bisa terbuka menceritakan kemelut yang dialaminya.

Namun esok atau lusa, sang ayah pasti curiga kenapa ia pulang membawa pakaiannya. Pada akhirnya akan tahu apa yang ia sembunyikan selama ini. Livia cemas. Sebelum ayahnya diberitahu, lebih baik ia konsultasi dulu dengan dokter Pasha. Untuk memastikan kondisi ayahnya benar-benar siap menerima kenyataan yang akan diungkapkannya.

Livia mengeluarkan ponsel dari laci meja kerja. Menghubungi dokter Pasha.

"Assalamu'alaikum, Livia." Dokter itu langsung mengangkat teleponnya.

"Wa'alaikumsalam, Dok. Maaf, kalau saya menganggu."

"Ada apa? Apa ada masalah dengan Pak Rosyam?"

"Nggak, Dok. Ayah saya baik-baik saja. Saya ingin menemui dokter besok. Tapi kalau dokter Pasha tidak sibuk."

"Oh, mau ngajak saya breakfast?"

Livia tertawa. Dokter di seberang juga tertawa renyah.

"Saya ingin konsultasi mengenai ayah saya, Dok."

"Oke. Pagi ya, sebelum saya berangkat ke rumah sakit."

"Iya."

"Oke, saya tunggu besok pagi jam tujuh."

"Makasih, Dokter. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Sebelum memberitahu, memang lebih baik ia konsultasi dulu dengan dokter yang paham betul bagaimana psikologis ayahnya sekarang ini.

Bre yang baru selesai meeting kaget melihat Livia sendirian, masih sibuk di meja kerjanya. Jadi istrinya belum pulang?

Next ....

Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED