Bab 3

Biar Dia Pergi

RAHASIA TIGA HATI

Part 3 Biar Dia Pergi

"Apa-apaan kalian. Ini kantor bukan kamar?" Bu Rika berkata dengan tatapan marah dan benci pada menantunya.

Livia menarik diri dari rangkulan sang suami.

"Nggak tau tempat dan situasi ya kalian. Kamu juga nggak sadar posisi, Livia. Di kantor kamu dan Bre sebagai apa. Nggak punya attitude." Omelan menyembur dengan angkuhnya dari mulut Bu Rika.

"Ma, kami nggak melakukan apapun yang memalukan. Livia istriku," bantah Bre.

"Maaf, saya permisi dulu. Hari ini saya akan memastikan semua pekerjaan dan tanggungjawab saya selesai, Pak Bre. Besok saya sudah nggak ngantor lagi. Permisi!" Livia berkata dan mengangguk sopan pada atasannya.

Bu Rika terkejut mendengar ucapan Livia. "Maksudmu apa?"

"Saya resign, Bu Rika. Permisi."

"Tunggu, Liv!" Bre menahan Livia yang hampir menggapai pintu. "Aku nggak ngizinin kamu berhenti kerja."

"Saya punya hak untuk resign ketika rasa nyaman sudah tidak ada lagi dalam lingkup pekerjaan saya. Anda tidak berhak mencegah saya, Pak Bre," jawab Livia formal.

"Nggak bisa. Di sini kamu ikut aturanku."

"Biarkan kalau dia ingin berhenti. Masih banyak staf yang lebih potensial dari Livia," sahut Bu Rika.

Livia segera membuka pintu dan pergi dari sana. Bersikap seperti tidak terjadi apa-apa di hadapan para staf lainnya. Meski hatinya tersayat-sayat. Mama mertua yang ia anggap sebagai pengganti ibunya, tidak seperti yang ia harapkan selama ini.

Pura-pura bahagia dan baik-baik saja itu sungguh menyiksa. Padahal para karyawan juga pada tahu bagaimana hubungan Livia dengan keluarga mertuanya. Nyaris staf yang menginginkan kenaikan jabatan, yang mencari muka, berpihak pada keluarga Bre dan turut menjaga jarak darinya. Namun staf rendahan yang jujur dan tidak suka menjilat, jatuh iba padanya. Walaupun begitu mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa, selain diam. Karena mereka juga sangat butuh pekerjaan. Membela Livia tidak ada untungnya.

Dengan perasaan campur aduk, Livia meneliti pekerjaan yang harus diselesaikannya. Dia tidak boleh pergi meninggalkan tanggungjawab.

Kenny yang hendak ke ruangan Fery memperhatikan Livia dengan perasaan bersalah. Tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Ketika tengah fokus meneliti laporan di layar laptop, sekretaris Bre menghampiri sambil membawakan setumpuk berkas.

"Ini apa?" tanya Livia.

"Pak Bre, menyuruh Bu Livia untuk memeriksa dokumen ini sebelum di arsipkan."

"Nggak bisa. Ini bukan tugasku. Aku staf keuangan di sini. Lagipula besok aku sudah resign," jawab Livia tanpa menatap Tina, sekretaris Bre. Dia kembali fokus pada layar bening di hadapannya.

Gadis itu terkejut dengan pengakuan Livia yang hendak berhenti kerja. "Tapi Pak Bre yang menyuruh saya mengantarkan berkas ini pada, Bu Livia."

"Saya nggak peduli. Bilang sama Pak Bre kalau saya menolak tugas darinya."

Tina diam mematung. "Kamu kembalikan atau biarkan saja di situ dan nggak akan aku kerjakan."

Akhirnya Tina membawa berkas itu pergi. Livia hanya melirik sekilas punggung Tina yang menjauh. Dia tidak peduli dan takut sekarang. Meski di kiri kanan, banyak telinga menajamkan pendengaran.

Jika bicara tentang cinta, tidak ada orang yang ingin berpisah dari insan yang sangat dicintainya. Namun bertahan dalam keadaan tidak dihargai, juga bukan pilihan yang tepat. Dia mencintai Bre semenjak mereka duduk di bangku kuliah. Usia mereka selisih tiga tahun.

"Livia, kamu tahu apa tugas seorang staf?" Tiba-tiba saja Bre sudah berdiri dan mengagetkan istrinya.

"Tugas staf mematuhi instruksi dari atasannya. Kenapa kamu menolak perintahku," lanjut pria yang memakai kemeja warna abu-abu dan menatapnya lekat.

"Pak Bre, jangan lupa. Beberapa bulan yang lalu posisi saya sebagai sekretaris Pak Bre sudah diganti dengan Mbak Tina. Saya bekerja di bawah perintah Bu Kenny sekarang ini."

"Aku atasan kalian dan kamu nggak bisa menolak perintahku. Hari ini kamu masih staf di sini."

Livia melepaskan mouse di tangannya dan fokus menatap sang suami. Ini hanya alasan Bre saja supaya ia tidak bisa resign seperti rencananya.

"Oke, saya akan mengerjakan dan menyelesaikan hari ini juga. Besok saya bukan lagi karyawan di sini." Livia bangkit dari duduknya untuk menghampiri Tina dan meminta berkas tadi agar diberikan padanya.

Semua telinga menajamkan pendengarannya, karena mata mereka tidak berani memandang apa yang terjadi antara bos dan istrinya.

Setelah berkas di antar, Livia fokus untuk menyelesaikan. Rupanya tidak hanya setumpuk, tapi Tina mengirimkan setumpuk lagi. Melihat itu Livia ingin menangis. Namun ia tahan setengah mati agar jangan sampai menumpahkan air mata.

Kenapa Bre begitu kejam padanya. Semenjak ia menyetujui perceraian yang diucapkan mama mertuanya malam itu, membuat Bre marah pada Livia. Namun apa arti pertemuan dengan keluarga Agatha waktu itu. Bukankah Bre pun ada di sana?

Ketika tengah melamun, asisten Bu Rika menghampiri. "Bu Livia, ditunggu ibu di ruangannya."

Tanpa menjawab, Livia segera berdiri dan masuk ruangan mama mertuanya.

"Saya senang kamu mengundurkan diri." Baru masuk ruangan, Livia langsung disambut perkataan demikian oleh ibu mertuanya. "Saya harap, pertimbangkan juga untuk berpisah dari putra saya. Saya nggak ingin anak saya hidup dengan anak seorang pecundang seperti ayahmu."

Darah Livia mendidih mendengar kalimat terakhir mertuanya. "Ayah saya tidak seperti itu. Itu semua fitnah untuk menghancurkan keluarga saya."

Bu Rika tersenyum sinis. "Semua sudah terbukti, nggak usah kamu membela diri. Saya menyesal membiarkan Bre menikah denganmu. Kamu tinggalkan perusahaan, kamu tinggalkan juga rumah saya."

Netra Livia berkaca-kaca mendengar kalimat menyakitkan dari seorang ibu. "Jangan khawatir, Bu Rika. Saya kabulkan permintaan Anda. Permisi."

Livia kembali ke meja kerjanya dengan hati hancur untuk kesekian kalinya. Namun sekuat hati, ia menahan diri agar tidak menunjukkan kerapuhan itu dihadapan banyak orang.

***L***

"Liv, kamu nggak makan dulu." Bre kembali berdiri di hadapannya waktu break istirahat dan makan siang.

Wanita itu menggeleng.

"Kutunggu di ruanganku. OB akan membawakan makananmu ke sana." Selesai bicara Bre melangkah kembali ke ruang pribadinya. Saat itu ruangan memang sepi karena para staf tengah istirahat. Hanya Livia yang tersisa.

Namun hingga beberapa menit kemudian, Livia tidak kunjung menyusul. Bre kembali ke luar menghampiri. "Kamu mau aku suapi di sini?" kata Bre jengkel.

"Saya nggak ingin dianggap tidak memiliki attitude, Pak Bre. Saya bisa makan sendiri nanti," jawab Livia dengan nada formal dan terus fokus memilah berkas.

Bre menghela nafas panjang. Ternyata Livia tidak menyerah dan benar-benar ingin pergi meninggalkan perusahaan. Ia sebenarnya juga menyadari, kalau perlakuan keluarganya sudah kelewat batas pada istrinya. Namun ia pun meyakini kalau ayah mertuanya yang selama ini bermain curang dalam berbisnis.

Livia terus bekerja tanpa mempedulikan Bre yang berdiri di depannya.

"Kamu benar-benar ingin berhenti?"

"Ya," jawab Livia singkat. Nanti kalau sudah di rumah, ia akan memberitahu apa yang diucapkan mama mertuanya tadi.

"Kamu dapat pekerjaan di mana?"

Diam. Livia tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu, karena sebenarnya dia belum mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Namun ia yakin, Alan pasti bisa membantunya.

"Liv, kenapa diam?"

"Pada akhirnya nanti kamu akan tahu, Mas. Maaf, jangan ganggu aku. Biar kuselesaikan pekerjaan ini."

"Alan yang membantumu mendapatkan pekerjaan itu?" Bre terus mengejar pertanyaan sampai ia mendapatkan jawaban. Namun Livia tidak menjawabnya.

Orang yang paling dekat dengan sang istri adalah Alan dan Dina. Kalau Dina jelas tidak mungkin karena dia ibu rumah tangga yang hanya membantu ibunya mengelola toko roti. Sudah pasti Alan yang membantu Livia.

Bre pergi dengan perasaan kecewa. Sedangkan Livia terus fokus bekerja meski pikirannya ke mana-mana. Bagaimana caranya menjelaskan tentang kondisi rumah tangganya sekarang. Ia takut ayahnya akan kambuh lagi.

"Liv, kamu nggak pulang?" tanya Kenny yang menghampirinya sore itu. Ketika ruangan sepi karena para pekerja sudah pada pulang.

"Pekerjaanku belum selesai, Mbak."

"Kamu serius mau berhenti kerja?"

Livia mengangguk. Kenny kemudian melangkah pergi. Namun tidak lama kemudian kembali sambil membawakan burger dan teh manis. "Makanlah dulu, sejak tadi kamu nggak beranjak dari meja kerjamu."

"Makasih. Mbak, sudah repot-repot belikan aku makanan."

Kenny menarik satu kursi dan duduk di hadapan Livia.

"Apa rencanamu setelah berhenti dari sini?"

"Mencari pekerjaan lain."

"Keadaan akan semakin rumit, Liv. Kamu bekerja di lain tempat, tapi kamu masih tetap tinggal di rumah mama."

"Aku akan pulang ke rumah ayahku, Mbak."

Kenny terkejut.

"Aku tahu, keluarga telah merencanakan sesuatu yang besar di belakangku. Aku juga tahu kalau hari Sabtu kemarin kalian nggak pergi ke Madiun." Ucapan Livia membuat Kenny kembali terkesiap. Livia tahu dari mana, tidak mungkin Bre yang cerita.

"Liv, jangan bercerai," ucap Kenny pelan.

"Apa yang Mbak tahu dan tidak kuketahui?"

"Tanyakan pada Bre. Mbak pulang dulu." Wanita itu bergegas meninggalkan Livia sendirian. Ia pun khawatir kalau Fery akan memergokinya bicara dengan Livia selesai meeting nanti.

Sikap wanita itu membuat Livia makin yakin kalau ada rahasia besar yang mereka sembunyikan. Benarkah antara Bre dan Agatha hari Sabtu kemarin lamaran. Kalau benar terjadi, kenapa Bre tidak menyetujui untuk bercerai dengannya. Jadi tidak perlu sembunyi-sembunyi seperti ini.

Berulangkali Livia menarik napas dalam-dalam untuk melonggarkan pernapasan. Orang lain melihatnya begitu tangguh, tapi yang sebenarnya perasaan telah remuk redam. Dia menahan semuanya agar sang ayah tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Livia tidak ingin ayahnya kembali mengalami tekanan batin yang akan membahayakan kesehatan dan keselamatannya.

Sesekali ia bercerita pada Alan atau Dina. Hanya pada mereka berdua, Livia bisa terbuka menceritakan kemelut yang dialaminya.

Namun esok atau lusa, sang ayah pasti curiga kenapa ia pulang membawa pakaiannya. Pada akhirnya akan tahu apa yang ia sembunyikan selama ini. Livia cemas. Sebelum ayahnya diberitahu, lebih baik ia konsultasi dulu dengan dokter Pasha. Untuk memastikan kondisi ayahnya benar-benar siap menerima kenyataan yang akan diungkapkannya.

Livia mengeluarkan ponsel dari laci meja kerja. Menghubungi dokter Pasha.

"Assalamu'alaikum, Livia." Dokter itu langsung mengangkat teleponnya.

"Wa'alaikumsalam, Dok. Maaf, kalau saya menganggu."

"Ada apa? Apa ada masalah dengan Pak Rosyam?"

"Nggak, Dok. Ayah saya baik-baik saja. Saya ingin menemui dokter besok. Tapi kalau dokter Pasha tidak sibuk."

"Oh, mau ngajak saya breakfast?"

Livia tertawa. Dokter di seberang juga tertawa renyah.

"Saya ingin konsultasi mengenai ayah saya, Dok."

"Oke. Pagi ya, sebelum saya berangkat ke rumah sakit."

"Iya."

"Oke, saya tunggu besok pagi jam tujuh."

"Makasih, Dokter. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Sebelum memberitahu, memang lebih baik ia konsultasi dulu dengan dokter yang paham betul bagaimana psikologis ayahnya sekarang ini.

Bre yang baru selesai meeting kaget melihat Livia sendirian, masih sibuk di meja kerjanya. Jadi istrinya belum pulang?

Next ....

Bab 4

Pergi

RAHASIA TIGA HATI

- Pergi

"Kamu menungguku?" Bre menghampiri Livia.

"Aku menyelesaikan pekerjaanku."

"Sudah jam berapa ini? Kita pulang sekarang." Bre meraih lengan Livia.

"Aku sedang menyelesaikan pekerjaanku. Kalau Mas ingin pulang, silakan pulang lebih dulu. Nanti aku bisa pulang sendiri."

"Bisa dikerjakan lagi besok."

"Besok aku sudah tidak bekerja di sini lagi," jawab Livia, tangannya terus bekerja. Ia tidak peduli perutnya yang sudah menjerit-jerit minta asupan makanan.

"Kamu keras kepala."

Livia tidak menanggapi. Siapa yang mengajarinya seperti ini, kalau bukan sikap dari keluarga suaminya. Dia sudah berusaha menjadi menantu yang baik selama ini. Namun mama mertuanya tega mengatai kalau ayahnya seorang pecundang dan benalu yang membebani hidup Bre. Mereka sudah melupakan, siapa orang yang membantu mereka bangkit dari keterpurukan. Dan sekarang terang-terangan meminta Bre menceraikannya.

"Aku nggak ngizinin kamu resign."

Livia tidak peduli dengan ucapan Bre.

"Kita pulang sekarang!" Kembali Bre meraih lengan istrinya. Livia bergeming. Dia memperhatikan sekeliling. Suasana sudah sepi. Orang-orang yang meeting terdengar sudah keluar kantor.

"Biar kuselesaikan pekerjaan ini. Aku serius akan resign besok."

Bre duduk di depan istrinya.

"Berhenti kerja pilihan yang tepat bagiku. Aku sudah cukup bersabar dengan penghinaan keluargamu, Mas." Livia menatap serius suaminya.

"Mas, tahu apa yang dikatakan oleh Mama Rika tadi?"

Bre menatap lekat pada Livia. "Mama bicara apa?"

Livia memberitahukan semua yang dikatakan oleh Mama mertuanya. "Untuk kesekian kalinya aku merasakan sakit disaat ayahku dihina oleh keluargamu. Orang seenaknya bicara tanpa mau tahu sedalam apa luka yang kualami akhibat kata-katanya itu."

"Jangan dengarkan mamaku."

"Nggak bisa. Ini menyangkut harga diriku dan ayahku. Aku sudah bilang, kalau aku akan berhenti dari perusahaan dan akan keluar dari rumah kalian. Peran suami itu penting untuk menyelesaikan permasalahan, apalagi permasalahan antara aku dan keluargamu. Tapi selama ini Mas hanya menyuruhku untuk bersabar. Mau sampai kapan?

"Jangankan membawaku pergi dari sana dan kita bisa tinggal di tempat terpisah, untuk membelaku saja nggak bisa Mas lakukan. Ya, aku masih ingat. Mama Rika mau merestui pernikahan kita, tapi dengan syarat kalau kita akan tetap tinggal bersamanya. Tapi aku sudah nggak sanggup lagi. Aku nggak akan memaksamu mengajakku pergi dari sana, biarlah aku sendiri yang keluar."

Bre menghela nafas panjang. "Kamu masih ingat kan, Liv. Kalau aku keluar dari rumah itu, mama mengancam akan menyakiti dirinya sendiri."

Livia tersenyum miris. Baginya ancaman itu hanya sebuah omong kosong. Bagaimana mungkin Bu Rika akan menyakiti dirinya sendiri, sedangkan dia sangat sayang dengan hartanya, dengan dunianya, dengan teman sosialita, dan segala kesenangan. Itu hanya gertakan supaya Bre tidak meninggalkannya. Karena terlalu sayang pada sang mama, Bre tetap percaya dengan apapun yang diomongkan oleh mamanya.

"Biar aku saja yang keluar, Mas."

"Maksudnya apa?"

"Mama Rika menginginkan kita bercerai, kan?"

"Kita nggak akan bercerai."

"Mama Rika bisa nekat kalau aku tetap disampingmu." Livia memandang lekat suaminya. Kenapa Bre menolak perpisahan sementara sudah ada rencana lain dari pihak keluarga untuk dirinya.

"Aku tahu ada rencana besar yang kalian rahasiakan dariku," ujar Livia.

"Rencana apa?"

"Hari Sabtu kemarin, Mas nggak pergi ke Madiun. Kalian ada acara dengan keluarga Agatha, kan?"

Bre kaget. Livia mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto serta video yang dikirim oleh Dina. Bre tambah terkejut. Dari mana Livia mendapatkan gambar dan video itu. Tidak mungkin istrinya membuntuti ke mana ia pergi.

"Acara apa sampai aku nggak diajak atau hanya sekedar dikasih tahu?"

"Membahas pekerjaan."

"Bukan. Kalau bicara mengenai pekerjaan, pasti dilakukan di kantor. Lagian kenapa membahas pekerjaan tapi anak-anak kecil diajak serta. Di situ tampak ada kakaknya Agatha dan anak-anaknya. Juga ada anak-anak Mas Ferry. Kenapa kalau urusan pekerjaan tidak berterus terang saja padaku. Malah kalian bilang hendak pergi ke Madiun. Mas lamaran dengan Agatha?" Livia berkata dengan rasa sakit yang menyayat hati.

"Nggak," jawab Bre singkat.

"Kalian nggak mungkin jujur. Karena aku bisa menuntut secara pidana jika Mas menikah lagi secara diam-diam."

"Kalau aku bilang enggak, berarti enggak, Livia. Aku menolaknya." Bre berkata dengan nada tinggi.

Jawaban Bre kembali mengguris hati Livia. Kalimat 'aku menolaknya' bermakna memang mereka memiliki rencana untuk menjodohkan Bre dengan Agatha.

Hening. Livia masih menata hati agar bisa kembali bicara. Dadanya terasa sesak dan air mata hendak tumpah saja rasanya. Setelah menarik napas dalam-dalam, Livia kembali bicara. "Kalau gitu, kita keluar dari rumah mama dan tinggal bersama ayahku atau kita cari kontrakan sambil berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan mama."

Mendengar pilihan yang disampaikan Livia, Bre tidak bisa menjawab. Dia sangat menyayangi mamanya dan tidak mungkin akan meninggalkan rumah mereka. Jika Bre pergi, berarti harus keluar juga dari perusahaan yang telah membesarkan namanya.

Melihat suaminya diam, air mata Livia meluncur begitu saja ke pipi. Buru-buru dihapus dengan jemari. Ia paham kalau bagi Bre ini pilihan yang sulit. Padahal ia tidak menyuruh sang suami untuk durhaka pada mamanya. Livia ingin mengajaknya menepi sebentar untuk menenangkan diri dan menyelamatkan rumah tangga mereka. Memperbaiki hubungan dengan mertuanya kalau bisa.

Inikah yang dinamakan cinta? Cinta seperti apa jika takut berkorban. Bre tidak lagi segigih dulu memperjuangkannya.

Segera dikemasnya meja. Tidak perlu dilanjutkan lagi pekerjaannya.

"Kita bahas ini di rumah," ujar Bre.

Livia meraih tas di atas meja. Kemudian mengikuti Bre melangkah meninggalkan kantor.

Di dalam kendaraan, mereka saling diam tidak bicara apa-apa. Bre tidak langsung mengajaknya pulang ke rumah, tapi mampir dulu ke sebuah restoran untuk makan malam.

"Mau makan apa?" tanya Bre.

"Nasi goreng."

Bre memesan dua porsi nasi goreng seafood dan dua gelas jus apel. Selama menunggu pesanan datang sampai mereka selesai makan, tidak ada perbincangan mengenai percakapan di kantor tadi. Bre mengalihkan perhatian dengan membicarakan tentang pekerjaan.

Sampai rumah disambut wajah sinis Bu Rika. Wanita itu memanggil putranya sedangkan Livia langsung naik ke kamarnya. Mandi dan salat isya. Tangisnya tumpah di atas sajadah. Luka yang kian berdarah-darah. Ia mohon pengampunan pada Rabb-nya jika kali ini menyerah pada pernikahannya. Ia harus siap kehilangan lelaki yang sangat dicintai.

Bre masuk kamar setelah Livia berbaring di ranjang. Laki-laki itu segera mandi dan menyusul istrinya. Memeluk, menciumi, hingga naluri kelelakiannya menuntut lebih dari itu.

Livia menghindar dan bangkit dari pembaringan. Membuka laci meja riasnya. "Pakai pengaman, Mas."

"Nggak perlu. Setelah kita punya anak, mama pasti bisa luluh." Mendengar penolakan suaminya, Livia mematung. Kenapa baru sekarang memiliki pemikiran seperti itu. Disaat semuanya sudah berada di ujung tanduk.

"Nggak akan segampang itu. Mama nggak hanya membenciku, tapi juga membenci ayahku. Dan Mas pun mempercayai kalau ayahku memang curang dan brengs*k. Aku nggak ingin anakku akan jadi sasaran kebencian selanjutnya. Mas, pakai atau kita nggak akan melakukannya."

Keinginan yang sudah di ubun-ubun kepala membuat Bre akhirnya menuruti Livia. Daripada dia tidak akan mendapatkan haknya. Sebagai istri, apapun yang terjadi tadi, tidak bisa menjadikan alasan untuk menolak.

***L***

"Apa maksudnya ini, Livia?" Bre kaget saat bangun tidur melihat koper sudah penuh pakaian.

"Seperti yang kubilang tadi malam, Mas. Aku ingin pulang ke rumah ayah," jawab Livia sambil membereskan meja riasnya.

"Aku nggak ngizinin kamu pergi."

"Mas, ingin menyiksaku di sini? Sedangkan mama sudah mengusirku."

Keduanya saling pandang. "Permasalahan kita akan senantiasa seperti ini, Mas. Sejak dulu mama memang nggak pernah menyukaiku. Apalagi sudah ada Agatha yang akan menjadi menantu idaman. Daripada kalian sembunyi-sembunyi dariku, lebih baik kita berpisah secara baik-baik."

Sepagi itu mereka kembali berdebat. Bre keukeh tidak mungkin meninggalkan rumah mamanya dan yakin kalau hati sang mama pasti bisa luluh pada akhirnya. Padahal Livia sudah secara terang-terangan diusir dari sana. "Jangan pergi. Aku akan bicara dengan mama lagi nanti. Pagi ini aku masih ada pertemuan penting dengan vendor."

"Mama Rika sudah bilang kalau aku mesti meninggalkanmu, meninggalkan rumah ini. Hari ini juga."

"Aku suamimu, aku yang melarangmu pergi. Tunggu aku pulang. Jika selangkah saja kamu meninggalkan rumah ini, berarti ... sudah jatuh talak satu padamu."

Livia bergetar mendengar ancaman Bre. Suaminya menatap lekat manik matanya. Mereka saling pandang untuk beberapa lama hingga bunyi ponsel Bre membuat laki-laki itu mengalihkan perhatian.

Tampaknya itu telepon penting yang membuat Bre tergesa-gesa mandi dan berganti pakaian. Kemudian mengecup kening Livia lalu keluar menuruni tangga.

"Ma, aku ke kantor sekarang," pamitnya menghampiri sang mama.

"Kamu nggak sarapan dulu."

"Nggak, Ma. Aku buru-buru." Setelah pamit, ia mendekati salah seorang ART. "Mbok, antarkan sarapan untuk Mbak Livia di kamar."

"Njih, Mas," jawab si mbok patuh.

Si mbok gemetaran saat mengangkat nampan sarapan untuk Livia, karena langkahnya diikuti oleh Bu Rika.

Livia membuka pintu kamar ketika Bu Rika mengetuk pintu dengan kasar. Si mbok langsung masuk dan menaruh sarapan di atas meja. Setelah ART-nya pergi, Bu Rika baru bicara. "Hmm, rupanya kopermu sudah siap. Sarapan dulu, lalu kamu tinggalkan rumah ini. Bre juga sudah setuju untuk menikah dengan Agatha nggak lama lagi. Sekarang kamu memilih pergi atau mau menjadi saksi pernikahan kedua suamimu," kata wanita itu sambil menatap tajam wajah Livia.

Tak terbayang lagi bagaimana sakitnya hati Livia. Penghinaan seperti apalagi ini.

Tanpa menjawab perkataan mertuanya, Livia melepaskan cincin pernikahan dari jari manisnya dan meletakkan di atas meja rias. Kemudian mengangkat koper keluar kamar. Tangannya menggantung di udara karena Bu Rika tidak menerima uluran tangannya.

"Assalamu'alaikum," ucap Livia kemudian menuruni tangga. Sambil melangkah ia merasakan lukanya berdarah-darah. Kakinya terus meninggalkan rumah besar dua tingkat, meski itu artinya talak Bre sudah jatuh terhadapnya.

***L***

Bre yang baru duduk di ruangannya berdecak lirih setelah berulang kali menelepon tapi tidak di respon oleh Livia. Padahal ponselnya aktif.

Laki-laki itu ganti menghubungi telepon rumahnya.

"Halo, Mbok. Mbak Livia sudah makan?"

"Be-belum, Mas," jawabannya terdengar gugup.

"Kenapa belum sarapan? Si mbok nganterin nasi ke kamar, kan?"

"Iya, Mas."

"Tolong panggilkan Mbak Livia, saya mau ngomong sama dia."

"M-maaf, Mas."

"Ada apa?"

"Mbak Livianya pergi setelah Mas Bre berangkat tadi."

"Pergi ke mana?" Bre panik.

"Saya nggak tahu, Mas. Mbak Livia pergi membawa kopernya."

Bre kaget dan mematikan panggilan. Kembali dihubunginya sang istri. Entah panggilan yang ke berapa, baru dijawab oleh Livia.

"Halo."

"Kamu di mana? Sudah aku bilang kalau jangan pergi. Tunggu aku bicara lagi pada mama." Bre benar-benar panik karena ingat apa ancaman yang dikatakan pada istrinya tadi pagi.

"Rumah itu milik siapa, Mas? Milik mama, kan? Kalau tuan rumah sudah tidak menginginkan aku di sana, apa aku harus memaksakan diri. Aku masih punya harga diri, Mas."

"Aku akan menjemputmu. Kamu di rumah ayah, kan?"

"Mas, masih ingat apa yang Mas bilang tadi pagi? Selangkah saja aku meninggalkan rumahmu, berarti sudah jatuh talak satu padaku. Nggak usah mencariku. Aku nggak di rumah ayah. Aku tetap akan pulang ke sana tapi tidak sekarang. Lepaskan aku sebelum kamu menikahi Agatha. Temui aku sekalian bawa akta cerai. Kutunggu, Mas."

Next ....

Selamat membaca 🥰

Bab 5

Talak

RAHASIA TIGA HATI

- Talak

"Aku bisa merujukmu."

Livia tertawa. "Mas kira cerai dan rujuk itu bisa dibuat candaan. Sebentar bilang cerai sebentar bilang rujuk. Kalau cerai, cerai saja, Mas. Rumit hubungan kita. Sedikit saja Mas nggak bisa membelaku dan ayahku saat keluargamu menghina kami. Itu berarti, Mas pun setuju dengan penghinaan mereka yang merendahkan keluargaku."

Bre menghela nafas panjang. Dia lupa kalau Livia bukan perempuan yang gampang sekali diperdaya. Waktu masih kuliah dulu, dia cewek yang lembut, tapi keadaan yang menimpa keluarga membuatnya berubah menjadi perempuan yang tegas.

"Liv."

Livia sudah mematikan panggilannya. Bre kembali menghubungi tapi tidak di angkat. Beberapa pesan dikirim tapi juga diabaikan. Perasaannya kalang kabut. Ingat bagaimana dia begitu ceroboh memberikan ancaman pada Livia tentang talak. Dipikirnya, Livia tidak akan pergi karena apapun yang terjadi selama ini, Livia bertahan di sampingnya.

Bre mondar-mandir di ruangannya. Denting suara pesan membuatnya buru-buru menyambar ponselnya di atas meja.

[Aku nggak bisa membawa semua pakaianku. Tapi aku sudah berpesan pada Si Mbok, untuk membereskan lemari itu. Terserah pakaianku mau di apakan, dibuat lap juga nggak apa-apa.]

[Mau sampai kapan kita bertahan. Hubungan ini nggak akan membaik. Keluarga Mas nggak akan pernah bisa menerimaku. Apalagi mereka sudah memiliki pilihan sendiri dan mama bilang, Mas sudah menyetujuinya.] Livia mengirimkan dua pesan.

[Di mana aku bisa menemuimu sekarang?] Balas Bre.

[Jangan sekarang. Aku ada janji bertemu dengan seseorang.]

[Siapa?]

Livia tidak membalasnya. Bre melempar ponsel di atas meja. Tangannya mengusap kasar wajah sambil mendengkus kesal. Bodoh sekali, kenapa ia sampai menjatuhkan talak.

***L***

"Dokter, saya benar-benar minta maaf karena telat pagi ini. Padahal saya kemarin janji mau datang jam tujuh." Livia duduk di hadapan dokter Pasha dan merasa sangat bersalah. Akhirnya Livia menemui dokter Pasha di restoran depan rumah sakit.

"Nggak apa-apa." Dokter berpenampilan menawan dan penuh kharisma itu tersenyum ramah. Usianya sudah pertengahan tiga puluhan. Dia sangat baik pada keluarga Livia. Makanya memanggil wanita itu hanya dengan sebutan nama saja.

"Kenapa kamu bawa koper?" Dokter Pasha memandang koper di sebelah kursi Livia. "Kamu pergi dari rumah suamimu?"

Livia mengangguk pelan. Sebenarnya sungkan juga jika dokter itu tahu permasalahan pribadinya.

"Kamu sudah sarapan?"

"Sudah, Dok," jawab Livia berbohong. Malu kalau sampai dokter Pasha membelikannya sarapan.

"Oke, kalau gitu kamu mau minum apa?"

"Teh anget saja."

Dokter Pasha menjentikkan jarinya pada pelayan dan ia memesan dua teh hangat.

"Kenapa kamu pergi dari suamimu?" Dokter itu penasaran juga, padahal selama ini pun sering bertanya-tanya karena tidak pernah melihat suami Livia mendampingi Pak Rosyam ketika melakukan pemeriksaan padanya.

Livia diam sejenak. Sungkan hendak mengulas tentang rumah tangganya. Tapi jika ingin mendapatkan solusi, ia harus jujur. Akhirnya Livia menceritakan poin-poin penting mengenai permasalahannya dengan suami dan keluarganya.

"Saya mau pulang ke rumah ayah, tapi khawatir dengan kondisi psikologisnya, Dok. Saya takut, ayah saya shock dan kembali down."

"Perkembangan Pak Rosyam sangat baik, Liv. Dia sudah bisa menerima segala kejadian yang membuatnya syok dan trauma. Runtuhnya bisnis tidak begitu berpengaruh pada kondisi psikologis beliau. Yang membuat ayahmu nyaris depresi adalah kehilangan ibu dan kakakmu dalam waktu bersamaan dan begitu tragis."

Sudah pasti. Apalagi peristiwa itu terjadi tepat di depan matanya. Mereka sedang pergi ke Pacet saat itu. Selvia mengendarai mobil ayahnya bersama sang ibu. Sedangkan Pak Rosyam mengendarai mobil yang baru diambil dari Malang dan mengikuti di belakangnya. Namun siapa mengira, mobil yang dikendarai Selvia remnya blong dan tidak bisa di kendalikan hingga akhirnya masuk jurang.

Padahal yang diincar oleh pelaku adalah Pak Rosyam, tapi ternyata mobil itu dikendarai anak dan istrinya.

"Saran saya, pelan-pelan saja dikasih tahunya. Saya yakin beliau pasti bisa menerima kenyataan itu. Kalau misalnya ada apa-apa, kamu bisa menelepon saya. Insya saya usahakan untuk datang."

"Dok, makasih banyak. Saya jadi ngrepotin, Dokter."

"Nggak apa-apa, dengan senang hati saya akan membantumu. Terus sementara kamu mau ke mana? Atau langsung pulang?"

"Saya mau cari kamar kos untuk sementara."

"Jadi belum dapat kosan?"

"Belum."

"Saya ada teman yang keluarganya punya kos-kosan. Mau saya hubungkan?"

Livia malu kalau merepotkan dokter Pasha.

"Nggak usah, Dok. Saya punya teman yang bisa bantu saya."

"Beneran?"

"Iya."

"Kalau belum ada, saya teleponkan teman saya." Dokter Pasha mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Namun di cegah oleh Livia. "Nggak usah, Dok. Nanti saya telepon teman saya."

"Oke. Kalau gitu saya harus kembali ke rumah sakit. Para pasien sedang menunggu saya. Maaf, karena nggak bisa berlama-lama ngobrol sama kamu."

"Nggak apa-apa, Dok. Justru saya yang seharusnya minta maaf, karena mengganggu waktu, Dokter."

"Jangan sungkan. Kalau ada apa-apa segera telepon saja."

Livia mengangguk. "Makasih, Dok."

"Saya pergi dulu, ya." Dokter Pasha pamit setelah menyesap teh. Laki-laki itu melangkah keluar rumah makan setelah membayar minuman mereka.

Livia memperhatikan hingga dokter tegap itu menyeberang jalan. Dia sangat baik. Peduli ketika diajak konsultasi di luar tempat prakteknya padahal dia super sibuk.

Para pengunjung rumah makan memperhatikan Livia dengan koper besar di sebelahnya. Pesan yang dikirim pada Dina belum juga dijawab. Kalau pagi begini pasti dia sibuk dengan pesanan. Yang masuk justru pesan dari Bre. Kemudian Livia menelepon Alan.

"Assalamu'alaikum." Suara laki-laki itu di seberang.

"Wa'alaikumsalam. Mas Alan, di rumah apa di kantor?"

"Hari ini aku WFH, Livi. Nanti ada jadwal ngajar jam dua siang. Ada apa?"

"Mas, sibuk ya?"

"Ada projek yang sedang aku selesaikan. Tapi aku bisa sambil mendengarmu kalau kamu ingin cerita."

"Aku pergi dari rumah Mas Bre."

"Kamu serius?"

"Iya."

"Kamu di mana sekarang?"

"Aku di Rumah Makan Padang depan rumah sakit. Tadi aku ngirim pesan ke Dina belum dijawab. Mungkin dia belum sempat pegang ponsel. Rencananya aku mau cari kamar kos sementara, sambil menyiapkan mental untuk memberitahukan hal ini pada ayah."

"Tunggu di situ, kujemput!" Alan mematikan ponselnya. Livia duduk melamun dan berharap tidak ada kenalan suami atau mertua yang memergoki dia di sana.

Hampir setengah jam menunggu, akhirnya Alan sampai juga di restoran. Lelaki itu melangkah tergesa menghampiri Livia. "Maaf, nunggu lama. Macet tadi karena ada perbaikan jalan."

"Nggak apa-apa, Mas. Aku yang nggak enak karena ngrepotin, Mas Alan. Padahal Mas lagi kerja."

"Nggak apa-apa."

Alan seorang design grafis yang memang lebih sering bekerja secara work from home. Ke kantor jika ada meeting atau hal lain. Selain itu dia juga seorang dosen yang mengajar di universitas swasta meski seminggu hanya ada jadwal dua sampai tiga kali pertemuan saja. Jika ada waktu, dia pergi membantu temannya menjadi coach Muay Thai.

"Kamu sudah sarapan?"

"Belum, tapi aku udah pesen untuk di bungkus. Mas, sudah sarapan?"

"Sudah."

"Aku mau cari kosan, Mas. Untuk sementara saja kalau bisa." Livia juga menceritakan apa yang terjadi antara dirinya, Bre, dan keluarga suaminya.

"Jadi, Bre sudah menalakmu?"

"Ya. Tapi untuk hari ini aku belum bisa ngasih tahu ayah. Makanya untuk sementara aku mau cari kosan. Mas, bisa bantu aku?"

"Kamu ikut aku. Nanti kutanyakan sama satpam perumahan. Ada homestay di sana, semoga saja free dan nggak ada yang booking dalam seminggu ini."

Livia bernapas lega, meski itu pun belum pasti juga. Tapi ia yakin kalau Alan sudah tentu akan membantunya.

"Aku juga butuh pekerjaan, Mas. Mungkin ada lowongan di kantor, Mas Alan. Atau di tempat kenalannya, Mas."

"Soal pekerjaan bisa dipikirkan nanti saja setelah Om Syam tahu permasalahan kamu."

"Iya, tapi kalau ada lowongan segera kasih tahu aku. Khawatirnya nanti keduluan orang. Pengobatan dan gaji untuk Pak Tamin terus berjalan, Mas."

"Aku bisa bantu kamu."

"Tapi nggak bisa terus-terusan aku minta bantuan Mas, kan?"

"Itu dipikir nanti saja. Sekarang kita pergi dari sini," kata Alan setelah seorang pelayan mengantarkan pesanan Livia.

"Aku sudah membayarnya, Mas," cegah Livia ketika Alan hendak mengeluarkan dompetnya.

"Oke. Kita pergi sekarang."

Mereka keluar rumah makan dan langsung naik ke mobil Alan. Mobil milik almarhum papanya Alan yang sebenarnya jarang sekali di pakai pria itu. Alan lebih suka naik motor. Pulang menjenguk ibunya di desa pun sering naik motor.

Mobil berhenti di dekat pos satpam. Livia lega karena homestay yang biasa di sewa oleh para warga jika ada kerabat yang datang dan rumah mereka tidak muat, biasanya ketika mereka mengadakan acara hajatan, ternyata kosong untuk dua minggu ke depan.

Pak Satpam langsung menghubungi pemilik rumah. Tidak lama kemudian Livia sudah masuk homestay minimalis tepat di depan rumah Alan. Rumah yang ditinggali laki-laki itu sendirian karena mamanya memilih pulang ke kampung halaman setelah papanya Alan tiada.

"Aku pulang, ya. Nanti siang nggak usah pesen makanan. Biar sekalian aku pesankan."

"Makasih ya, Mas."

Alan mengangguk kemudian melangkah cepat kembali ke rumah karena harus segera menyelesaikan pekerjaan.

Homestay itu bersih dan tinggal menempati saja. Livia duduk di ruang tamu untuk sarapan. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan lebih seperempat.

***L***

Tinggal tiga hari di homestay, Livia lebih banyak melamun. Dina datang dua kali dan membawakan roti serta makanan lainnya. Dalam kesunyian justru semua kenangan dan kisah hidupnya muncul ke permukaan. Amat menyesakkan.

Alan yang setiap hari mengurusi makan dan minumnya. Livia makin tak enak karena merepotkan mantan kekasih almarhumah Selvia.

[Jangan pernah temui Bre lagi meski dia yang mengajakmu ketemuan. Surat perceraian akan segera diproses dan bulan depan Bre-Agatha lamaran.]

Livia tidak membalas pesan yang dikirim oleh mama mertuanya. Pesan dan telepon dari Bre juga tidak di angkat. Bu Rika leluasa mengancamnya karena tahu, Livia tidak akan melawan karena memikirkan kondisi ayahnya.

Baru saja Livia melihat postingan Agatha yang muncul di beranda media sosialnya.

MENUNGGU BULAN DEPAN.

Perasaan Livia terguris. Jadi beneran mereka mau lamaran. Selama ini Agatha memang diam. Bahkan tetap menegurnya dengan sikap biasa saja. Menulis sesuatu di wall pribadinya juga menggunakan bahasa kiasan. Sepertinya gadis itu tengah menjaga image-nya. Menyelamatkan reputasi agar tidak mendapatkan tuduhan sebagai perebut suami orang. Mereka semua sangat pandai bersandiwara.

Sedih. Bagaimana ia harus memberitahu ayahnya agar bisa segera pulang dan kembali bekerja. Supaya tidak kelamaan menjadi bebannya Alan.

Livia melihat Alan yang mengendarai motor baru saja memasuki rumahnya. Ia mengambil sekotak brownis kukus di atas meja dan membawanya ke rumah pria itu.

"Mas," panggil Livia pada Alan yang tengah membuka pintu.

"Hai, sini!"

"Ini ada brownis dari Dina. Siang tadi dia mampir ke sini lagi."

"Kan itu untuk kamu."

"Dina bawain buat, Mas Alan." Livia meletakkan brownies di atas meja. Kemudian pandangannya terpaku pada foto yang menempel di dinding ruang kerja Alan.

"Ya ampun, Mas Alan belum nurunin fotonya Mbak Selvi," seloroh Livia. "Kalau Mas masih nyimpen foto mantan, pasti cewek yang mau deketin Mas Alan udah mundur duluan."

Alan tersenyum sambil melepas sarung tangan. "Nanti kalau sudah ada pengganti, baru aku turunin."

"Memangnya Mas belum punya pacar lagi?"

Lagi-lagi Alan hanya menjawab dengan senyuman. Livia jadi terharu. Beruntung sekali kakaknya dicintai lelaki seperti Alan. Sudah meninggalpun Alan masih setia. Sementara dirinya tidak pernah merasakan bagaimana dibela suami sendiri.

"Besok aku akan menemui ayah, Mas. Aku harus jujur dengan keadaanku sekarang ini."

"Perlu kutemani?"

"Nggak usah. Aku udah banyak ngrepotin, Mas."

"Nggak apa-apa kalau kamu perlu teman."

"Makasih. Besok aku akan menemui ayah sendiri saja."

"Oke. Tapi kamu lihat dulu kondisi Om Syam bagaimana."

"Iya. Kalau gitu, aku balik dulu, Mas."

Alan mengangguk. Livia melangkah keluar. Ketika baru melewati pintu pagar, ia dikejutkan oleh mobil Bre yang berhenti tepat di depannya.

Next ....

Selamat membaca 🥰

Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED