Bab 2

Apa yang mereka rahasiakan?

RAHASIA TIGA HATI

Part 2 Apa yang mereka rahasiakan?

"Hai, Din," sapa Livia berjalan menghampiri seorang wanita yang baru turun dari mobil.

"Liv, aku mau ngomong sebentar." Dina yang tampak tegang menarik tangan Livia dan mengajaknya duduk di teras rumah.

Wanita itu mengeluarkan ponselnya di saku celana. Kemudian menunjukkan sebuah foto dari galeri. Degup jantung Livia bergemuruh melihatnya. Apalagi ketika menyaksikan video di mana Bre berinteraksi dengan seorang gadis yang sangat ia kenal. Karena video itu diambil dari kejauhan, makanya tidak begitu jelas dengan apa yang mereka lakukan. Namun ia tahu siapa perempuan itu.

"Kamu ngambil video ini di mana?"

"Aku tadi nganterin roti di Restoran Tamimi. Kaget juga saat melihat Bre dan keluarganya makan di sana bersama keluarga Agatha, tapi kamunya nggak ada. Lebih kaget lagi saat mereka seperti sedang melakukan pembicaraan serius. Tapi entah apa aku nggak tahu."

Livia lemas dan gemetar. Padahal tadi pagi Bre pamitan hendak ke Madiun. Jadi mereka telah merencanakan sesuatu untuk hari ini.

Dina pun khawatir. Dalam perjalanan tadi ia bingung juga. Haruskah Livia diberitahu atau tidak. Pada akhirnya ia mampir juga di rumah Pak Rosyam saat melihat ada Livia duduk di samping rumah bersama Alan.

"Liv, aku sebenarnya nggak sampai hati ngasih tahu kamu. Tapi kalau diam, mereka semakin semena-mena sama kamu."

"Nggak apa-apa, Din. Makasih banyak sudah ngasih tahu aku." Suara Livia bergetar.

"Kirimkan video itu padaku."

"Iya. Aku kirim." Dina mengirim ke nomernya Livia. "Aku tadi nggak bisa mendekat karena mereka berada di ruangan yang dibooking secara private. Aku curiga, mereka ngadain acara lamaran, Liv."

"Bisa jadi." Mengingat peristiwa tadi malam, mungkin saja hal itu terjadi.

Dina merangkul sahabatnya dan tidak bisa berkata apa-apa untuk menenangkan. Sebab hatinya sendiri kebingungan dan sakit dengan apa yang dialami oleh Livia. Dina tahu semua cerita hidup wanita itu.

"Om di mana?" Dina menatap ke dalam rumah. Khawatir ayahnya Livia mendengar percakapan mereka.

"Ayah di mushola kalau jam segini."

"Kalau gitu aku pamit dulu, ya."

"Iya." Livia menghapus air matanya.

Aku nggak tahu mau bilang apa sama kamu. Tapi aku yakin, kamu tahu apa yang akan kamu lakukan."

Keduanya menatap sore yang cerah. Matahari masih bersinar terang kendati sudah pukul empat.

"Mas Alan, sudah di sini sejak tadi."

"Iya, nyambangi ayah."

"Baik banget dia. Perhatian sama calon mertua yang nggak jadi."

Livia tersenyum tipis. Jauh berbeda dengan Bre yang tidak seperhatian itu pada mertuanya.

"Aku pulang dulu, Liv. Khawatir anakku nangis. Waktu aku tinggal tadi dia masih tidur."

"Makasih kamu udah ngasih tahu aku."

Dina menepuk bahu sahabatnya, lantas beranjak dari sana. Melangkah ke samping rumah untuk menyapa Alan. "Mas Alan, aku mau pulang dulu. Maaf, nggak nyamperin. Buru-buru soalnya."

"Oke, nggak apa-apa. Hati-hati kalau nyetir."

"Iya, Mas. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Livia masih mematung memperhatikan mobil sahabatnya yang bergerak pergi. Kalau sopir yang biasa mengantarkan pesanan sibuk, Dina sendiri yang akan pergi mengantar. Usahanya bersama sang ibu sekarang berkembang pesat.

"Kenapa mematung di sini?" Alan menghampiri.

"Nggak apa-apa, Mas. Aku mau mandi dulu."

"Kalau gitu aku juga mau pamit. Sampaikan salam pada Om, maaf nggak nunggu beliau pulang."

"Iya, nanti aku sampaikan." Livia menjawab seraya mengangguk. Tak terasa sebulir air bening menetes di pipinya. Buru-buru Livia menghapus dengan ujung jemari.

"Ada apa?" Alan tidak jadi beranjak pergi. Perasaannya mengatakan kalau ada yang tidak beres dengan Livia.

Bukannya menjawab, Livia menangis. Alan mengajaknya duduk di bangku halaman samping, supaya tidak terlihat oleh orang yang lewat di jalan depan.

Untuk beberapa lama, Alan membiarkan Livia dalam tangisnya hingga wanita itu berhenti dan menghapus air matanya. Sekuat apapun hatinya, rasanya begitu sakit mendengar apa yang disampaikan oleh Dina tadi. Kenapa Bre begitu tega padanya. Padahal jelas tadi pagi pamit hendak ke Madiun. Ternyata masih ada di Surabaya.

Setelah menarik napas panjang, Livia menceritakan tentang kemelut yang akhir-akhir ini kian menyiksanya. Dia harus maju atau mundur. Sebenarnya sangat tidak terima jika ayahnya dipandang buruk oleh keluarga Bre. Sang ayah tak mungkin curang dengan rekan bisnisnya yang sekarang justru berkomplot dengan keluarga mertuanya.

"Jangan ambil keputusan dalam keadaan emosi. Kamu bisa membahasnya ini dengan Bre." Alan mencoba menenangkan, walaupun ia menduga kalau keluarga Bre sendiri yang sebenarnya menghancurkan bisnis Pak Rosyam. Sebab sejak awal ia tahu kalau Bre hendak dijodohkan dengan Agatha.

"Apa mungkin mereka menyuruh Bre menikah diam-diam, Mas?"

Dua insan itu saling bersipandang. Alan tidak ingin menjawab yang bisa menambah runyam keadaan.

"Selidiki dulu, ya. Jangan cepat mengambil kesimpulan. Jika kamu butuh teman cerita, jangan sungkan menghubungiku. Kamu nggak mungkin cerita sama ayahmu."

"Makasih, Mas," jawab Livia dengan suara serak.

"Kalau gitu. Aku pulang dulu."

"Hu um. Hati-hati."

Alan memakai jaketnya. Kemudian melangkah ke arah motor besar yang terparkir di depan garasi rumah Pak Rosyam.

Laki-laki membunyikan klakson kemudian bergerak meninggalkan Livia yang masih berdiri di sana.

Ketika hendak masuk rumah, mobil Bre memasuki halaman. Laki-laki itu turun dan tersenyum manis pada istrinya.

"Cepatnya Mas pulang dari Madiun?" tanya Livia ketika Bre menghampiri. Untuk menguak sesuatu, Livia harus bersabar dan menahan emosi. Seperti mereka yang bermain cantik di belakangnya.

"Iya. Setelah urusan selesai kami langsung pulang."

"Oh." Livia masuk rumah diikuti Bre. "Aku buatin kopi?"

"Nggak usah. Aku sudah ngopi tadi."

"Ya udah kalau gitu aku mau mandi." Livia meninggalkan Bre yang duduk sendirian di ruang tamu.

Livia membiarkan air shower membasahi dari ujung kelapa hingga ke seluruh raganya. Tangannya mengepal jika ingat satu tahun terakhir ia menjalani hidup di bawah tekanan mertuanya. Yang lebih menyakitkan, ketika ia dilarang hamil, Bre pun mendukung mamanya. Disaat ia menghindari pemakaian kontrasepsi, Bre yang memakai pengaman. Bukankah itu sebuah persetujuan? Dengan alasan belum siap punya anak. Lucu sekali alasan itu, karena secara mental dan finansial mereka pasti siap. Mereka bisa membayar baby sitter untuk membantu merawat anak.

Apa setelah ini Livia akan tetap sabar, mendiamkan perlakuan mereka yang mulai terang-terangan hendak menyingkirkannya?

Selesai mandi dan salat asar, Livia membawakan segelas teh hangat untuk Bre.

"Ayah ke mana?"

"Ke mushola."

Bre meraih gagang gelas dan menyesap teh hangat. Livia diam. Dia tidak akan membahas sesuatu yang akan membuang tenaga. Sekarang ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan di restoran Tamimi beberapa jam yang lalu. Untuk beberapa waktu ke depan, Livia harus menebalkan muka dan menulikan telinga, agar tahu apa yang sebenarnya mereka rencanakan di belakangnya.

Livia bangkit dari duduknya dan melangkah ke kamar. Ponselnya tengah di charge di sana dan ia harus menyimpan dulu video yang dikirimkan oleh Dina sebelum Bre menemukannya.

Pelukan Bre dari belakang mengangetkan Livia. Untung saja ia sudah menyimpan video itu dengan aman.

Tangan Bre yang mulai nakal ditepiskan olehnya. Kalau dulu dengan senang hati ia akan menyambut bahkan membalasnya. Sekarang moodnya telah lenyap sejak semalam. Lelaki yang ia kira bisa memperjuangkannya, ternyata begitu lemah dalam membela istrinya.

Lelaki itu tidak putus asa, karena semalam keinginannya terpatahkan begitu saja. Livia tidak mau bangun dikala ia masuk kamar usai berbincang dengan keluarga Agatha.

Kembali Bre mencoba lagi, tapi Livia tetap menepis tangannya. "Bukan waktu yang tepat, Mas. Sebentar lagi Maghrib." Wanita itu melepaskan diri dan beranjak ke jendela kamar. Suasana di luar sudah merambah senja.

"Kamu harus membayarnya malam ini."

Livia tidak menanggapi. "Aku mau wudhu dulu."

Kisah mereka tidak diwarnai lagi oleh kehangatan dan kebebasan bercerita. Dulu Livia bisa mengerti saat dilarang punya anak karena Bre masih harus menyelesaikan S2 dan sedang membangun karirnya. Namun sekarang, ada alasan lain yang terlalu mengada-ada dan menyakitinya.

***L***

Sudah beberapa hari ini ia melihat Agatha datang ke kantor. Gadis itu masih menyapanya seperti biasa. Tidak ada yang aneh. Bahkan masih sempat menawarinya untuk makan siang bersama.

"Mbak Agatha, kapan nih?" Pertanyaan penuh teka-teki dari seorang staf yang duduk tepat di samping Livia, bertanya pada Agatha yang sedang berbincang dengan sekretaris pribadi Bre.

Livia pura-pura tidak mendengarnya. Ia sibuk meneliti laporan keuangan yang baru saja di selesaikan. Namun telinganya tajam mendengarkan. Perasaannya tak enak. Ada sesuatu yang sedang mereka rencanakan.

"Nanti kukabari," jawab gadis itu.

"Beneran jangan lupa. Aku tunggu pokoknya."

"Siipp."

Setelah itu hentakan stiletto Agatha terdengar meninggalkan ruangan.

Livia baru mengangkat wajahnya. Memandang ke arah sekretaris pribadi Bre yang saat itu tengah menatapnya dan buru-buru mengalihkan perhatian pada layar laptop.

Berkas yang sudah dimasukkan ke dalam map bening, dibawa Livia ke ruangan Kenny. "Silakan di cek, Mbak."

"I-iya. Nanti aku cek." Kenny selalu gugup jika didekati oleh Livia. Semenjak kepergian mereka hari Sabtu, Kenny berusaha menghindarinya.

"Mbak, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Apa?" jawab Kenny tanpa memandang istri dari iparnya.

"Hari Sabtu kemarin Mbak ikut pergi ke mana?"

"Ke Madiun."

"Bener ke Madiun?"

Kenny mengangguk. Wanita itu terlihat gelisah saat Livia masih duduk di hadapannya. Terlihat sekali ia serba salah. Padahal Livia hanya diam menunggu laporannya selesai di tanda tangani.

Wanita yang biasanya selalu ramah dan mengajaknya bercerita, kini diam saja. Dan tergesa-gesa mengecek angka dan menandatanganinya.

"Nggak usah buru-buru, Mbak. Dicek betul-betul. Kalau ada kesalahan, dikira kita berkomplot nanti," ujar Livia yang membuat Kenny makin salah tingkah.

"Kamu bisa pergi. Nanti kalau ada yang perlu dibenahi, akan Mbak panggil."

Livia bangkit dari duduknya dan meletakkan amplop putih di atas meja. "Ini surat resign-ku, Mbak. Aku mau berhenti kerja dan mencari pekerjaan lain."

Baru Kenny menatap wanita cantik yang berdiri di hadapannya. "Kenapa?"

"Mbak Kenny, kan sudah tahu alasannya. Aku permisi dulu." Livia meninggalkan ruangan. Ia memutuskan pergi sebelum apa yang dirahasiakan darinya terkuak.

Beberapa saat setelah duduk di kursinya. Sekretaris Bre menghampiri. "Bu Livia, Pak Bre meminta ibu untuk datang ke ruangannya."

Tanpa menjawab, Livia bangkit dari duduknya dan melangkah ke ruangan sang suami.

"Apa maksudnya ini?" Bre menunjuk amplop putih di atas meja. Rupanya Kenny langsung memberitahu Bre tadi.

"Surat pengunduran diri," jawab Livia tenang.

"Aku nggak akan menyetujui."

"Saya nggak butuh persetujuanmu, Pak. Surat pengunduran diri hak mutlak karyawan yang ingin berhenti kerja. Dan ini menjadi tanggung jawab atasan untuk mengakui dan menerima keputusan itu."

"Kamu masih punya tanggungjawab yang harus kamu bereskan di sini."

"Hari ini, saya sudah menyelesaikan semuanya."

Bre menghela nafas berat. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Livia. Meraih pinggang langsing istrinya hingga merapat dengan tubuhnya. "Apa maksudmu untuk berhenti kerja?"

"Aku dapat pekerjaan lain dengan gaji yang lumayan. Aku butuh itu untuk membiayai pengobatan ayahku yang tidak bisa dicover oleh asuransi kesehatannya."

"Aku selalu memberimu cukup uang tiap bulan. Apa itu kurang?"

"Aku nggak akan menggunakan uangmu untuk pengobatan ayahku."

"Aku nggak pernah melarangmu."

"Tapi aku yang nggak mau." Livia masih ingat bagaimana mama mertuanya berkata kalau Pak Rosyam hanya menjadi benalu dalam hidup putranya.

Mereka saling pandang dengan jarak yang begitu dekat. Livia berusaha melepaskan diri hingga panggutan itu mengangetkannya. Karena pada saat yang bersamaan, pintu ruangan di ketuk dari luar.

Next ....

Selamat membaca 🥰

Selamat menyambut dan menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1445 H, kepada teman-teman yang sedang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin, ya 🙏 Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT.

Bab 3

Biar Dia Pergi

RAHASIA TIGA HATI

Part 3 Biar Dia Pergi

"Apa-apaan kalian. Ini kantor bukan kamar?" Bu Rika berkata dengan tatapan marah dan benci pada menantunya.

Livia menarik diri dari rangkulan sang suami.

"Nggak tau tempat dan situasi ya kalian. Kamu juga nggak sadar posisi, Livia. Di kantor kamu dan Bre sebagai apa. Nggak punya attitude." Omelan menyembur dengan angkuhnya dari mulut Bu Rika.

"Ma, kami nggak melakukan apapun yang memalukan. Livia istriku," bantah Bre.

"Maaf, saya permisi dulu. Hari ini saya akan memastikan semua pekerjaan dan tanggungjawab saya selesai, Pak Bre. Besok saya sudah nggak ngantor lagi. Permisi!" Livia berkata dan mengangguk sopan pada atasannya.

Bu Rika terkejut mendengar ucapan Livia. "Maksudmu apa?"

"Saya resign, Bu Rika. Permisi."

"Tunggu, Liv!" Bre menahan Livia yang hampir menggapai pintu. "Aku nggak ngizinin kamu berhenti kerja."

"Saya punya hak untuk resign ketika rasa nyaman sudah tidak ada lagi dalam lingkup pekerjaan saya. Anda tidak berhak mencegah saya, Pak Bre," jawab Livia formal.

"Nggak bisa. Di sini kamu ikut aturanku."

"Biarkan kalau dia ingin berhenti. Masih banyak staf yang lebih potensial dari Livia," sahut Bu Rika.

Livia segera membuka pintu dan pergi dari sana. Bersikap seperti tidak terjadi apa-apa di hadapan para staf lainnya. Meski hatinya tersayat-sayat. Mama mertua yang ia anggap sebagai pengganti ibunya, tidak seperti yang ia harapkan selama ini.

Pura-pura bahagia dan baik-baik saja itu sungguh menyiksa. Padahal para karyawan juga pada tahu bagaimana hubungan Livia dengan keluarga mertuanya. Nyaris staf yang menginginkan kenaikan jabatan, yang mencari muka, berpihak pada keluarga Bre dan turut menjaga jarak darinya. Namun staf rendahan yang jujur dan tidak suka menjilat, jatuh iba padanya. Walaupun begitu mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa, selain diam. Karena mereka juga sangat butuh pekerjaan. Membela Livia tidak ada untungnya.

Dengan perasaan campur aduk, Livia meneliti pekerjaan yang harus diselesaikannya. Dia tidak boleh pergi meninggalkan tanggungjawab.

Kenny yang hendak ke ruangan Fery memperhatikan Livia dengan perasaan bersalah. Tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Ketika tengah fokus meneliti laporan di layar laptop, sekretaris Bre menghampiri sambil membawakan setumpuk berkas.

"Ini apa?" tanya Livia.

"Pak Bre, menyuruh Bu Livia untuk memeriksa dokumen ini sebelum di arsipkan."

"Nggak bisa. Ini bukan tugasku. Aku staf keuangan di sini. Lagipula besok aku sudah resign," jawab Livia tanpa menatap Tina, sekretaris Bre. Dia kembali fokus pada layar bening di hadapannya.

Gadis itu terkejut dengan pengakuan Livia yang hendak berhenti kerja. "Tapi Pak Bre yang menyuruh saya mengantarkan berkas ini pada, Bu Livia."

"Saya nggak peduli. Bilang sama Pak Bre kalau saya menolak tugas darinya."

Tina diam mematung. "Kamu kembalikan atau biarkan saja di situ dan nggak akan aku kerjakan."

Akhirnya Tina membawa berkas itu pergi. Livia hanya melirik sekilas punggung Tina yang menjauh. Dia tidak peduli dan takut sekarang. Meski di kiri kanan, banyak telinga menajamkan pendengaran.

Jika bicara tentang cinta, tidak ada orang yang ingin berpisah dari insan yang sangat dicintainya. Namun bertahan dalam keadaan tidak dihargai, juga bukan pilihan yang tepat. Dia mencintai Bre semenjak mereka duduk di bangku kuliah. Usia mereka selisih tiga tahun.

"Livia, kamu tahu apa tugas seorang staf?" Tiba-tiba saja Bre sudah berdiri dan mengagetkan istrinya.

"Tugas staf mematuhi instruksi dari atasannya. Kenapa kamu menolak perintahku," lanjut pria yang memakai kemeja warna abu-abu dan menatapnya lekat.

"Pak Bre, jangan lupa. Beberapa bulan yang lalu posisi saya sebagai sekretaris Pak Bre sudah diganti dengan Mbak Tina. Saya bekerja di bawah perintah Bu Kenny sekarang ini."

"Aku atasan kalian dan kamu nggak bisa menolak perintahku. Hari ini kamu masih staf di sini."

Livia melepaskan mouse di tangannya dan fokus menatap sang suami. Ini hanya alasan Bre saja supaya ia tidak bisa resign seperti rencananya.

"Oke, saya akan mengerjakan dan menyelesaikan hari ini juga. Besok saya bukan lagi karyawan di sini." Livia bangkit dari duduknya untuk menghampiri Tina dan meminta berkas tadi agar diberikan padanya.

Semua telinga menajamkan pendengarannya, karena mata mereka tidak berani memandang apa yang terjadi antara bos dan istrinya.

Setelah berkas di antar, Livia fokus untuk menyelesaikan. Rupanya tidak hanya setumpuk, tapi Tina mengirimkan setumpuk lagi. Melihat itu Livia ingin menangis. Namun ia tahan setengah mati agar jangan sampai menumpahkan air mata.

Kenapa Bre begitu kejam padanya. Semenjak ia menyetujui perceraian yang diucapkan mama mertuanya malam itu, membuat Bre marah pada Livia. Namun apa arti pertemuan dengan keluarga Agatha waktu itu. Bukankah Bre pun ada di sana?

Ketika tengah melamun, asisten Bu Rika menghampiri. "Bu Livia, ditunggu ibu di ruangannya."

Tanpa menjawab, Livia segera berdiri dan masuk ruangan mama mertuanya.

"Saya senang kamu mengundurkan diri." Baru masuk ruangan, Livia langsung disambut perkataan demikian oleh ibu mertuanya. "Saya harap, pertimbangkan juga untuk berpisah dari putra saya. Saya nggak ingin anak saya hidup dengan anak seorang pecundang seperti ayahmu."

Darah Livia mendidih mendengar kalimat terakhir mertuanya. "Ayah saya tidak seperti itu. Itu semua fitnah untuk menghancurkan keluarga saya."

Bu Rika tersenyum sinis. "Semua sudah terbukti, nggak usah kamu membela diri. Saya menyesal membiarkan Bre menikah denganmu. Kamu tinggalkan perusahaan, kamu tinggalkan juga rumah saya."

Netra Livia berkaca-kaca mendengar kalimat menyakitkan dari seorang ibu. "Jangan khawatir, Bu Rika. Saya kabulkan permintaan Anda. Permisi."

Livia kembali ke meja kerjanya dengan hati hancur untuk kesekian kalinya. Namun sekuat hati, ia menahan diri agar tidak menunjukkan kerapuhan itu dihadapan banyak orang.

***L***

"Liv, kamu nggak makan dulu." Bre kembali berdiri di hadapannya waktu break istirahat dan makan siang.

Wanita itu menggeleng.

"Kutunggu di ruanganku. OB akan membawakan makananmu ke sana." Selesai bicara Bre melangkah kembali ke ruang pribadinya. Saat itu ruangan memang sepi karena para staf tengah istirahat. Hanya Livia yang tersisa.

Namun hingga beberapa menit kemudian, Livia tidak kunjung menyusul. Bre kembali ke luar menghampiri. "Kamu mau aku suapi di sini?" kata Bre jengkel.

"Saya nggak ingin dianggap tidak memiliki attitude, Pak Bre. Saya bisa makan sendiri nanti," jawab Livia dengan nada formal dan terus fokus memilah berkas.

Bre menghela nafas panjang. Ternyata Livia tidak menyerah dan benar-benar ingin pergi meninggalkan perusahaan. Ia sebenarnya juga menyadari, kalau perlakuan keluarganya sudah kelewat batas pada istrinya. Namun ia pun meyakini kalau ayah mertuanya yang selama ini bermain curang dalam berbisnis.

Livia terus bekerja tanpa mempedulikan Bre yang berdiri di depannya.

"Kamu benar-benar ingin berhenti?"

"Ya," jawab Livia singkat. Nanti kalau sudah di rumah, ia akan memberitahu apa yang diucapkan mama mertuanya tadi.

"Kamu dapat pekerjaan di mana?"

Diam. Livia tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu, karena sebenarnya dia belum mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Namun ia yakin, Alan pasti bisa membantunya.

"Liv, kenapa diam?"

"Pada akhirnya nanti kamu akan tahu, Mas. Maaf, jangan ganggu aku. Biar kuselesaikan pekerjaan ini."

"Alan yang membantumu mendapatkan pekerjaan itu?" Bre terus mengejar pertanyaan sampai ia mendapatkan jawaban. Namun Livia tidak menjawabnya.

Orang yang paling dekat dengan sang istri adalah Alan dan Dina. Kalau Dina jelas tidak mungkin karena dia ibu rumah tangga yang hanya membantu ibunya mengelola toko roti. Sudah pasti Alan yang membantu Livia.

Bre pergi dengan perasaan kecewa. Sedangkan Livia terus fokus bekerja meski pikirannya ke mana-mana. Bagaimana caranya menjelaskan tentang kondisi rumah tangganya sekarang. Ia takut ayahnya akan kambuh lagi.

"Liv, kamu nggak pulang?" tanya Kenny yang menghampirinya sore itu. Ketika ruangan sepi karena para pekerja sudah pada pulang.

"Pekerjaanku belum selesai, Mbak."

"Kamu serius mau berhenti kerja?"

Livia mengangguk. Kenny kemudian melangkah pergi. Namun tidak lama kemudian kembali sambil membawakan burger dan teh manis. "Makanlah dulu, sejak tadi kamu nggak beranjak dari meja kerjamu."

"Makasih. Mbak, sudah repot-repot belikan aku makanan."

Kenny menarik satu kursi dan duduk di hadapan Livia.

"Apa rencanamu setelah berhenti dari sini?"

"Mencari pekerjaan lain."

"Keadaan akan semakin rumit, Liv. Kamu bekerja di lain tempat, tapi kamu masih tetap tinggal di rumah mama."

"Aku akan pulang ke rumah ayahku, Mbak."

Kenny terkejut.

"Aku tahu, keluarga telah merencanakan sesuatu yang besar di belakangku. Aku juga tahu kalau hari Sabtu kemarin kalian nggak pergi ke Madiun." Ucapan Livia membuat Kenny kembali terkesiap. Livia tahu dari mana, tidak mungkin Bre yang cerita.

"Liv, jangan bercerai," ucap Kenny pelan.

"Apa yang Mbak tahu dan tidak kuketahui?"

"Tanyakan pada Bre. Mbak pulang dulu." Wanita itu bergegas meninggalkan Livia sendirian. Ia pun khawatir kalau Fery akan memergokinya bicara dengan Livia selesai meeting nanti.

Sikap wanita itu membuat Livia makin yakin kalau ada rahasia besar yang mereka sembunyikan. Benarkah antara Bre dan Agatha hari Sabtu kemarin lamaran. Kalau benar terjadi, kenapa Bre tidak menyetujui untuk bercerai dengannya. Jadi tidak perlu sembunyi-sembunyi seperti ini.

Berulangkali Livia menarik napas dalam-dalam untuk melonggarkan pernapasan. Orang lain melihatnya begitu tangguh, tapi yang sebenarnya perasaan telah remuk redam. Dia menahan semuanya agar sang ayah tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Livia tidak ingin ayahnya kembali mengalami tekanan batin yang akan membahayakan kesehatan dan keselamatannya.

Sesekali ia bercerita pada Alan atau Dina. Hanya pada mereka berdua, Livia bisa terbuka menceritakan kemelut yang dialaminya.

Namun esok atau lusa, sang ayah pasti curiga kenapa ia pulang membawa pakaiannya. Pada akhirnya akan tahu apa yang ia sembunyikan selama ini. Livia cemas. Sebelum ayahnya diberitahu, lebih baik ia konsultasi dulu dengan dokter Pasha. Untuk memastikan kondisi ayahnya benar-benar siap menerima kenyataan yang akan diungkapkannya.

Livia mengeluarkan ponsel dari laci meja kerja. Menghubungi dokter Pasha.

"Assalamu'alaikum, Livia." Dokter itu langsung mengangkat teleponnya.

"Wa'alaikumsalam, Dok. Maaf, kalau saya menganggu."

"Ada apa? Apa ada masalah dengan Pak Rosyam?"

"Nggak, Dok. Ayah saya baik-baik saja. Saya ingin menemui dokter besok. Tapi kalau dokter Pasha tidak sibuk."

"Oh, mau ngajak saya breakfast?"

Livia tertawa. Dokter di seberang juga tertawa renyah.

"Saya ingin konsultasi mengenai ayah saya, Dok."

"Oke. Pagi ya, sebelum saya berangkat ke rumah sakit."

"Iya."

"Oke, saya tunggu besok pagi jam tujuh."

"Makasih, Dokter. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Sebelum memberitahu, memang lebih baik ia konsultasi dulu dengan dokter yang paham betul bagaimana psikologis ayahnya sekarang ini.

Bre yang baru selesai meeting kaget melihat Livia sendirian, masih sibuk di meja kerjanya. Jadi istrinya belum pulang?

Next ....

Bab 4

Pergi

RAHASIA TIGA HATI

- Pergi

"Kamu menungguku?" Bre menghampiri Livia.

"Aku menyelesaikan pekerjaanku."

"Sudah jam berapa ini? Kita pulang sekarang." Bre meraih lengan Livia.

"Aku sedang menyelesaikan pekerjaanku. Kalau Mas ingin pulang, silakan pulang lebih dulu. Nanti aku bisa pulang sendiri."

"Bisa dikerjakan lagi besok."

"Besok aku sudah tidak bekerja di sini lagi," jawab Livia, tangannya terus bekerja. Ia tidak peduli perutnya yang sudah menjerit-jerit minta asupan makanan.

"Kamu keras kepala."

Livia tidak menanggapi. Siapa yang mengajarinya seperti ini, kalau bukan sikap dari keluarga suaminya. Dia sudah berusaha menjadi menantu yang baik selama ini. Namun mama mertuanya tega mengatai kalau ayahnya seorang pecundang dan benalu yang membebani hidup Bre. Mereka sudah melupakan, siapa orang yang membantu mereka bangkit dari keterpurukan. Dan sekarang terang-terangan meminta Bre menceraikannya.

"Aku nggak ngizinin kamu resign."

Livia tidak peduli dengan ucapan Bre.

"Kita pulang sekarang!" Kembali Bre meraih lengan istrinya. Livia bergeming. Dia memperhatikan sekeliling. Suasana sudah sepi. Orang-orang yang meeting terdengar sudah keluar kantor.

"Biar kuselesaikan pekerjaan ini. Aku serius akan resign besok."

Bre duduk di depan istrinya.

"Berhenti kerja pilihan yang tepat bagiku. Aku sudah cukup bersabar dengan penghinaan keluargamu, Mas." Livia menatap serius suaminya.

"Mas, tahu apa yang dikatakan oleh Mama Rika tadi?"

Bre menatap lekat pada Livia. "Mama bicara apa?"

Livia memberitahukan semua yang dikatakan oleh Mama mertuanya. "Untuk kesekian kalinya aku merasakan sakit disaat ayahku dihina oleh keluargamu. Orang seenaknya bicara tanpa mau tahu sedalam apa luka yang kualami akhibat kata-katanya itu."

"Jangan dengarkan mamaku."

"Nggak bisa. Ini menyangkut harga diriku dan ayahku. Aku sudah bilang, kalau aku akan berhenti dari perusahaan dan akan keluar dari rumah kalian. Peran suami itu penting untuk menyelesaikan permasalahan, apalagi permasalahan antara aku dan keluargamu. Tapi selama ini Mas hanya menyuruhku untuk bersabar. Mau sampai kapan?

"Jangankan membawaku pergi dari sana dan kita bisa tinggal di tempat terpisah, untuk membelaku saja nggak bisa Mas lakukan. Ya, aku masih ingat. Mama Rika mau merestui pernikahan kita, tapi dengan syarat kalau kita akan tetap tinggal bersamanya. Tapi aku sudah nggak sanggup lagi. Aku nggak akan memaksamu mengajakku pergi dari sana, biarlah aku sendiri yang keluar."

Bre menghela nafas panjang. "Kamu masih ingat kan, Liv. Kalau aku keluar dari rumah itu, mama mengancam akan menyakiti dirinya sendiri."

Livia tersenyum miris. Baginya ancaman itu hanya sebuah omong kosong. Bagaimana mungkin Bu Rika akan menyakiti dirinya sendiri, sedangkan dia sangat sayang dengan hartanya, dengan dunianya, dengan teman sosialita, dan segala kesenangan. Itu hanya gertakan supaya Bre tidak meninggalkannya. Karena terlalu sayang pada sang mama, Bre tetap percaya dengan apapun yang diomongkan oleh mamanya.

"Biar aku saja yang keluar, Mas."

"Maksudnya apa?"

"Mama Rika menginginkan kita bercerai, kan?"

"Kita nggak akan bercerai."

"Mama Rika bisa nekat kalau aku tetap disampingmu." Livia memandang lekat suaminya. Kenapa Bre menolak perpisahan sementara sudah ada rencana lain dari pihak keluarga untuk dirinya.

"Aku tahu ada rencana besar yang kalian rahasiakan dariku," ujar Livia.

"Rencana apa?"

"Hari Sabtu kemarin, Mas nggak pergi ke Madiun. Kalian ada acara dengan keluarga Agatha, kan?"

Bre kaget. Livia mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto serta video yang dikirim oleh Dina. Bre tambah terkejut. Dari mana Livia mendapatkan gambar dan video itu. Tidak mungkin istrinya membuntuti ke mana ia pergi.

"Acara apa sampai aku nggak diajak atau hanya sekedar dikasih tahu?"

"Membahas pekerjaan."

"Bukan. Kalau bicara mengenai pekerjaan, pasti dilakukan di kantor. Lagian kenapa membahas pekerjaan tapi anak-anak kecil diajak serta. Di situ tampak ada kakaknya Agatha dan anak-anaknya. Juga ada anak-anak Mas Ferry. Kenapa kalau urusan pekerjaan tidak berterus terang saja padaku. Malah kalian bilang hendak pergi ke Madiun. Mas lamaran dengan Agatha?" Livia berkata dengan rasa sakit yang menyayat hati.

"Nggak," jawab Bre singkat.

"Kalian nggak mungkin jujur. Karena aku bisa menuntut secara pidana jika Mas menikah lagi secara diam-diam."

"Kalau aku bilang enggak, berarti enggak, Livia. Aku menolaknya." Bre berkata dengan nada tinggi.

Jawaban Bre kembali mengguris hati Livia. Kalimat 'aku menolaknya' bermakna memang mereka memiliki rencana untuk menjodohkan Bre dengan Agatha.

Hening. Livia masih menata hati agar bisa kembali bicara. Dadanya terasa sesak dan air mata hendak tumpah saja rasanya. Setelah menarik napas dalam-dalam, Livia kembali bicara. "Kalau gitu, kita keluar dari rumah mama dan tinggal bersama ayahku atau kita cari kontrakan sambil berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan mama."

Mendengar pilihan yang disampaikan Livia, Bre tidak bisa menjawab. Dia sangat menyayangi mamanya dan tidak mungkin akan meninggalkan rumah mereka. Jika Bre pergi, berarti harus keluar juga dari perusahaan yang telah membesarkan namanya.

Melihat suaminya diam, air mata Livia meluncur begitu saja ke pipi. Buru-buru dihapus dengan jemari. Ia paham kalau bagi Bre ini pilihan yang sulit. Padahal ia tidak menyuruh sang suami untuk durhaka pada mamanya. Livia ingin mengajaknya menepi sebentar untuk menenangkan diri dan menyelamatkan rumah tangga mereka. Memperbaiki hubungan dengan mertuanya kalau bisa.

Inikah yang dinamakan cinta? Cinta seperti apa jika takut berkorban. Bre tidak lagi segigih dulu memperjuangkannya.

Segera dikemasnya meja. Tidak perlu dilanjutkan lagi pekerjaannya.

"Kita bahas ini di rumah," ujar Bre.

Livia meraih tas di atas meja. Kemudian mengikuti Bre melangkah meninggalkan kantor.

Di dalam kendaraan, mereka saling diam tidak bicara apa-apa. Bre tidak langsung mengajaknya pulang ke rumah, tapi mampir dulu ke sebuah restoran untuk makan malam.

"Mau makan apa?" tanya Bre.

"Nasi goreng."

Bre memesan dua porsi nasi goreng seafood dan dua gelas jus apel. Selama menunggu pesanan datang sampai mereka selesai makan, tidak ada perbincangan mengenai percakapan di kantor tadi. Bre mengalihkan perhatian dengan membicarakan tentang pekerjaan.

Sampai rumah disambut wajah sinis Bu Rika. Wanita itu memanggil putranya sedangkan Livia langsung naik ke kamarnya. Mandi dan salat isya. Tangisnya tumpah di atas sajadah. Luka yang kian berdarah-darah. Ia mohon pengampunan pada Rabb-nya jika kali ini menyerah pada pernikahannya. Ia harus siap kehilangan lelaki yang sangat dicintai.

Bre masuk kamar setelah Livia berbaring di ranjang. Laki-laki itu segera mandi dan menyusul istrinya. Memeluk, menciumi, hingga naluri kelelakiannya menuntut lebih dari itu.

Livia menghindar dan bangkit dari pembaringan. Membuka laci meja riasnya. "Pakai pengaman, Mas."

"Nggak perlu. Setelah kita punya anak, mama pasti bisa luluh." Mendengar penolakan suaminya, Livia mematung. Kenapa baru sekarang memiliki pemikiran seperti itu. Disaat semuanya sudah berada di ujung tanduk.

"Nggak akan segampang itu. Mama nggak hanya membenciku, tapi juga membenci ayahku. Dan Mas pun mempercayai kalau ayahku memang curang dan brengs*k. Aku nggak ingin anakku akan jadi sasaran kebencian selanjutnya. Mas, pakai atau kita nggak akan melakukannya."

Keinginan yang sudah di ubun-ubun kepala membuat Bre akhirnya menuruti Livia. Daripada dia tidak akan mendapatkan haknya. Sebagai istri, apapun yang terjadi tadi, tidak bisa menjadikan alasan untuk menolak.

***L***

"Apa maksudnya ini, Livia?" Bre kaget saat bangun tidur melihat koper sudah penuh pakaian.

"Seperti yang kubilang tadi malam, Mas. Aku ingin pulang ke rumah ayah," jawab Livia sambil membereskan meja riasnya.

"Aku nggak ngizinin kamu pergi."

"Mas, ingin menyiksaku di sini? Sedangkan mama sudah mengusirku."

Keduanya saling pandang. "Permasalahan kita akan senantiasa seperti ini, Mas. Sejak dulu mama memang nggak pernah menyukaiku. Apalagi sudah ada Agatha yang akan menjadi menantu idaman. Daripada kalian sembunyi-sembunyi dariku, lebih baik kita berpisah secara baik-baik."

Sepagi itu mereka kembali berdebat. Bre keukeh tidak mungkin meninggalkan rumah mamanya dan yakin kalau hati sang mama pasti bisa luluh pada akhirnya. Padahal Livia sudah secara terang-terangan diusir dari sana. "Jangan pergi. Aku akan bicara dengan mama lagi nanti. Pagi ini aku masih ada pertemuan penting dengan vendor."

"Mama Rika sudah bilang kalau aku mesti meninggalkanmu, meninggalkan rumah ini. Hari ini juga."

"Aku suamimu, aku yang melarangmu pergi. Tunggu aku pulang. Jika selangkah saja kamu meninggalkan rumah ini, berarti ... sudah jatuh talak satu padamu."

Livia bergetar mendengar ancaman Bre. Suaminya menatap lekat manik matanya. Mereka saling pandang untuk beberapa lama hingga bunyi ponsel Bre membuat laki-laki itu mengalihkan perhatian.

Tampaknya itu telepon penting yang membuat Bre tergesa-gesa mandi dan berganti pakaian. Kemudian mengecup kening Livia lalu keluar menuruni tangga.

"Ma, aku ke kantor sekarang," pamitnya menghampiri sang mama.

"Kamu nggak sarapan dulu."

"Nggak, Ma. Aku buru-buru." Setelah pamit, ia mendekati salah seorang ART. "Mbok, antarkan sarapan untuk Mbak Livia di kamar."

"Njih, Mas," jawab si mbok patuh.

Si mbok gemetaran saat mengangkat nampan sarapan untuk Livia, karena langkahnya diikuti oleh Bu Rika.

Livia membuka pintu kamar ketika Bu Rika mengetuk pintu dengan kasar. Si mbok langsung masuk dan menaruh sarapan di atas meja. Setelah ART-nya pergi, Bu Rika baru bicara. "Hmm, rupanya kopermu sudah siap. Sarapan dulu, lalu kamu tinggalkan rumah ini. Bre juga sudah setuju untuk menikah dengan Agatha nggak lama lagi. Sekarang kamu memilih pergi atau mau menjadi saksi pernikahan kedua suamimu," kata wanita itu sambil menatap tajam wajah Livia.

Tak terbayang lagi bagaimana sakitnya hati Livia. Penghinaan seperti apalagi ini.

Tanpa menjawab perkataan mertuanya, Livia melepaskan cincin pernikahan dari jari manisnya dan meletakkan di atas meja rias. Kemudian mengangkat koper keluar kamar. Tangannya menggantung di udara karena Bu Rika tidak menerima uluran tangannya.

"Assalamu'alaikum," ucap Livia kemudian menuruni tangga. Sambil melangkah ia merasakan lukanya berdarah-darah. Kakinya terus meninggalkan rumah besar dua tingkat, meski itu artinya talak Bre sudah jatuh terhadapnya.

***L***

Bre yang baru duduk di ruangannya berdecak lirih setelah berulang kali menelepon tapi tidak di respon oleh Livia. Padahal ponselnya aktif.

Laki-laki itu ganti menghubungi telepon rumahnya.

"Halo, Mbok. Mbak Livia sudah makan?"

"Be-belum, Mas," jawabannya terdengar gugup.

"Kenapa belum sarapan? Si mbok nganterin nasi ke kamar, kan?"

"Iya, Mas."

"Tolong panggilkan Mbak Livia, saya mau ngomong sama dia."

"M-maaf, Mas."

"Ada apa?"

"Mbak Livianya pergi setelah Mas Bre berangkat tadi."

"Pergi ke mana?" Bre panik.

"Saya nggak tahu, Mas. Mbak Livia pergi membawa kopernya."

Bre kaget dan mematikan panggilan. Kembali dihubunginya sang istri. Entah panggilan yang ke berapa, baru dijawab oleh Livia.

"Halo."

"Kamu di mana? Sudah aku bilang kalau jangan pergi. Tunggu aku bicara lagi pada mama." Bre benar-benar panik karena ingat apa ancaman yang dikatakan pada istrinya tadi pagi.

"Rumah itu milik siapa, Mas? Milik mama, kan? Kalau tuan rumah sudah tidak menginginkan aku di sana, apa aku harus memaksakan diri. Aku masih punya harga diri, Mas."

"Aku akan menjemputmu. Kamu di rumah ayah, kan?"

"Mas, masih ingat apa yang Mas bilang tadi pagi? Selangkah saja aku meninggalkan rumahmu, berarti sudah jatuh talak satu padaku. Nggak usah mencariku. Aku nggak di rumah ayah. Aku tetap akan pulang ke sana tapi tidak sekarang. Lepaskan aku sebelum kamu menikahi Agatha. Temui aku sekalian bawa akta cerai. Kutunggu, Mas."

Next ....

Selamat membaca 🥰

Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED