Larut malam, Rose Warhani berbaring di tempat tidur, napasnya cepat dan pipinya merah.
Suaminya, Yosan Santo, baru saja keluar minum-minum saat menghadiri beberapa pertemuan bisnis dan pulang ke rumah dalam suasana hati yang luar biasa ceria. Dia sangat bersemangat dan melakukannya lima kali dalam satu malam, membuatnya benar-benar kewalahan.
Pada ronde keempat, semua kondom sudah habis digunakan.
Pada ronde terakhir, Yosan memeluknya erat dengan mata merah Segala sesuatu di antara mereka berubah menjadi kabur karena panas dan kekacauan.
Memang enak kalau dia menuruti kemauannya tanpa menahan diri, tetapi Rose sendiri yang menanggung konsekuensinya.
Pada usia dua puluh delapan, Yosan berada di puncak hidupnya—sukses dalam bisnis dan memiliki kebutuhan biologis yang kuat.
Selama tiga tahun pernikahan mereka, dia selalu berhati-hati dalam menggunakan alat kontrasepsi.
Awalnya, Rose tidak pernah berpikir untuk hamil dan memiliki anak, tetapi selama enam bulan terakhir, ada sesuatu yang berubah. Dia mendapati dirinya sangat mendambakan kelahiran bayi bersama Yosan.
Yosan tidak hanya memiliki paras yang tampan dan tiada duanya, dia juga tahu persis apa yang harus dilakukan di ranjang. Dan sesekali, dia membisikkan kata-kata yang lembut dan manis, cukup untuk meluluhkannya.
Setahun yang lalu, Rose menyadari perasaannya terhadap Yosan telah berubah. Dari ketidakpedulian dan tidak merasakan apa pun menjadi rasa suka.
Lebih tepatnya, dia telah jatuh cinta padanya.
Namun, Yosan hanya memperlakukannya dengan hangat di ranjang. Ketika mereka tidak melakukan hal yang intim, pria itu bersikap dingin dan menjaga jarak seperti biasanya.
"Jangan lupa minum pil kontrasepsi," ucap Yosan dengan suara datar, menyadarkannya dari lamunannya. "Akan merepotkan jika kamu sampai hamil."
Rose hanya mengiakan dengan singkat, merasa patah semangat.
Dia tahu bahwa dirinya sedang datang bulan akhir-akhir ini, tetapi karena dia telah meminum alkohol, bahkan jika dia hamil, dia tidak akan bisa mempertahankan bayinya.
Namun, kata-kata Yosan masih menyakiti hatinya.
Yosan mengenakan piamanya dan berjalan ke kamar mandi.
Rose tidak mengalihkan tatapan sampai sosok tinggi pria itu benar-benar hilang dari pandangannya.
Tepat pada saat ini, dering ponsel tiba-tiba memecah kesunyian di ruangan itu.
Rose mengambil ponsel Yosan dan melihatnya. Nama "Rina" muncul di layar.
Rina Antoso, sekretaris Yosan, adalah seorang wanita yang tutur katanya lembut dan anggun dalam gerak-geriknya. Jangankan pria, bahkan wanita pun suka mendengarnya berbicara.
Kabarnya, Rina telah meninggalkan pekerjaan bergaji tinggi di Kota Kuno enam tahun lalu hanya untuk bekerja di dekat Yosan. Di depan umum, mereka berdua adalah atasan dan bawahan, tetapi sebenarnya mereka adalah sepasang kekasih.
Tiba-tiba, tangan Yosan terulur dan merampas ponsel dari tangan Rose.
"Rina," sapanya dengan hangat di telepon, suaranya penuh kasih sayang dan kegembiraan.
Rose lagi-lagi merasa ada beberapa tusukan, tepat ke jantungnya.
Ketika Yosan berbicara dengannya di telepon, pria itu hanya membicarakan hal-hal yang penting saja, nada bicaranya kaku dan tanpa kehangatan, tidak pernah selembut ini.
"Yosan, ada yang seseorang yang menindasku. Cepat datang dan tolong aku. Aku ada di Zero Club ...." Yosan tidak menjauh darinya saat dia menjawab panggilan, dan teriakan minta tolong Rina sampai ke telinga Rose dengan jelas.
"Aku akan segera tiba di sana," ucap Yosan dengan cepat. "Aku akan meminta seorang teman yang berlokasi dekat Zero Club untuk pergi dan membantumu terlebih dahulu. Temukan tempat yang aman dan kunci pintu. Apakah kamu sudah menelepon polisi ...?" Wajahnya berubah serius saat dia melangkah ke ruang ganti.
Rose duduk di sana, gemetar karena marah. Dia bahkan tidak repot-repot memakai sepatu sebelum mengikutinya masuk.
Hanya sebulan yang lalu, saat melakukan syuting di luar ruangan di pinggiran utara bersama kru TV-nya, mobil van yang mereka tumpangi keluar jalur dan terbalik ke dalam parit untuk menghindari truk sampah.
Meski tak ada seorang pun yang meninggal, tetapi semuanya terluka.
Kakinya terluka dan berdarah parah. Panik dan kesakitan, dia menelepon Yosan.
Namun, Yosan sedang menghadiri acara makan malam saat itu. Meski mendengar isak tangisnya, dia berkata dengan dingin, "Kalau kamu masih bisa menelepon, berarti kecelakaanmu tidak seserius itu." Dia lalu menutup telepon tanpa berpikir dua kali.
Namun sekarang, dia ada di sini—siap untuk bergegas menghampiri Rina saat dia masih mabuk, tanpa ragu-ragu. Apa lagi itu kalau bukan cinta sejati namanya?
Yosan segera berpakaian dan berjalan keluar dari ruang ganti, masih menggumamkan kata-kata menghibur di telepon dengan lembut. Rose tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Rina dengan jelas, tetapi dia bisa mendengar isak tangisnya yang terputus-putus.
Berdiri di depan pintu untuk menghentikan Yosan pergi, Rose menggigit bibir dan berkata, "Kamu terlalu banyak minum. Kamu tidak bisa mengemudi seperti ini."
"Apakah kamu cemburu, atau kamu khawatir padaku, hmm?" tanya Yosan sambil mengangkat dagunya dengan tatapan tajam.
Sorot mata Rose melembut dan dia berkata dengan tegas, "Aku khawatir padamu."
"Aku tidak membutuhkan kekhawatiran palsu itu," ucap Yosan sambil melepaskan wajahnya, suaranya tidak hangat.
Sebelum Rose sempat merespons, dia mendorongnya ke samping, membuatnya terhuyung dan jatuh ke lantai.
Lalu, tanpa ragu-ragu, dia berjalan melewatinya dan pergi.
Rose ditinggalkan sendirian di kamar besar itu, yang terasa kosong. Sama seperti tiga tahun pernikahannya.
Perasaan pahit dan sedih menyebar di hatinya, begitu kuatnya hingga seakan-akan memelintir organ di dalam tubuhnya. Sakitnya terasa di mana-mana, tetapi dia bahkan tidak bisa menangis.
Wajahnya pucat sepenuhnya dan matanya memerah karena dia berusaha keras menahan air matanya yang hampir keluar.
Dia tetap di sana, duduk di lantai dalam posisi yang sama untuk waktu yang lama, sampai kakinya mati rasa. Kemudian, dia akhirnya memaksakan diri untuk berdiri.
Dia tidak ingin kembali ke kamar tidur, jadi dia meringkuk di sofa, memejamkan mata, pikirannya kacau balau.
Tiba-tiba suara ponselnya berdering memecah kesunyian.
Nada tajam itu menariknya kembali ke kenyataan. Karena mengira Yosan-lah yang meneleponnya, dia segera bangkit dan bergegas dari ruang tamu ke kamar tidur, menjawab panggilan itu tanpa berpikir dua kali.
"Rose! Suamimu yang brengsek itu baru saja membuat keributan besar di Zero Club demi Rina! Dia memecahkan botol bir di atas kepala seorang pria, darah berceceran di mana-mana. Itu gila!"
Sahabat Rose, Putri Haryanto, sedang menelepon, suaranya penuh desakan.
Rose sedikit kesulitan bernapas, tetapi mencoba berpura-pura tenang dan bergumam, "Oh."
Dia tidak terkejut. Mengingat betapa pedulinya Yosan terhadap Rina, dia tidak akan terkejut bahkan jika pria itu membunuh seseorang.
Zero Club bukan sembarang klub, klub itu adalah klub swasta paling elit di Kota Jingga. Tempat itu merupakan tempat di mana Yosan dan beberapa temannya sering pergi untuk mencari hiburan.
Putri melanjutkan, "Seorang pria mabuk memojokkan Rina di dekat kamar mandi dan mencoba melecehkannya. Salah satu saksi mengatakan ada bekas ciuman di dadanya dan celana dalamnya telah diturunkan. Syukurlah Rina punya akal untuk mengunci diri di kamar kecil wanita sebelum keadaan menjadi lebih buruk ...."
Rose tidak mendengar sisa perkataan Putri, pikirannya melayang ke tempat lain. Akhirnya, Putri mengakhiri panggilan.
Panggilan telepon Putri telah menghapus seluruh rasa kantuknya, membuatnya menggenggam ponsel erat-erat hingga buku-buku jarinya memucat.
Bagaimana mungkin dia tidak marah mengenai hal ini?
Dia memaksakan diri untuk tetap tenang selama panggilan itu, berpegang teguh pada harga diri terakhir yang dimilikinya.
Dia mencoba mengalihkan perhatiannya dengan menggulir ponselnya, tetapi berita tentang perkelahian Yosan di Zero Club sudah menyebar di Internet.
Cerita-cerita tersebut menggambarkan Yosan sebagai seorang kekasih yang penuh gairah, seorang pria yang bersedia mempertaruhkan nyawanya demi wanita yang dicintainya, menggambarkannya sebagai sosok romantis yang berani dan mendominasi.
Semakin banyak Rose membaca, semakin marah dia jadinya. Dia tidak tahan lagi, jadi dia menyimpan ponselnya dan mematikan lampu tidur.
Dikelilingi oleh kegelapan, dia merasakan pikirannya menjadi lebih tajam.
Selama tiga tahun pernikahan mereka, Yosan belum pernah sekali pun mengumumkan hubungan mereka ke publik. Sebaliknya, dia menjalin hubungan asmara dengan beberapa wanita di klub tersebut. Rina, yang yakin akan sikap pilih kasihnya, selalu menggunakannya untuk memprovokasinya.
Pada saat ini, dia mendapati dirinya mempertanyakan pernikahannya dengan Yosan, pernikahan yang sudah membusuk dari dalam ke luar.
Suara pintu terbuka membuyarkan lamunannya. Dia melihat ponselnya sekilas, waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi.
Yosan kembali, tetapi dia tidak kembali ke kamar tidur mereka. Dia langsung masuk ke ruang kerja.
Rose turun dari tempat tidur, mengambil napas dalam-dalam sebelum berjalan menuju ruang kerja dan mengetuk pintu.
Tidak ada Jawaban.
Dia mengetuk lagi, kali ini memutar gagang pintu untuk membuka dan masuk.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk?" Suara Yosan tajam, ekspresinya langsung menjadi gelap karena interupsi yang tiba-tiba itu.
Rose ragu sejenak. Kemudian, dia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menatapnya. "Mari kita bercerai."
Hanya ada lampu meja yang redup menyala di ruang kerja menyinari wajah Rose, memperlihatkan campuran kesedihan mendalam dan tekad kuat yang belum pernah ada sebelumnya.
Dia mengucapkan kata "cerai" dengan seluruh tenaganya yang tersisa. Dia telah kehilangan semua harapan dalam pernikahannya.
Yosan menatapnya, sorot matanya tajam. "Rose, apakah kamu menyadari apa yang kamu katakan?"
"Ya." Rose menatap ke bawah, getaran gugup dalam suaranya mengandung sedikit rasa bersalah. "Aku ingin bercerai."
Wajah Yosan yang rupawan dipenuhi dengan ejekan saat dia menyalakan sebatang rokok, membiarkan asap putih mengepul di sekelilingnya.
Wajahnya yang tampan memiliki pesona misterius dalam cahaya yang redup, sedangkan matanya yang gelap tidak menunjukkan emosi apa pun.
Rose menekan kesedihan di dalam dirinya dan berkata, "Lebih baik kita berpisah lebih awal daripada tetap menjalani pernikahan tanpa cinta."
"Asetku akan selalu menjadi milikku karena perjanjian pranikah. Jika kita benar-benar bercerai, kamu tidak akan mendapat sepeser pun." Yosan mengisap rokoknya dalam-dalam dan mengetuk abu rokoknya.
Suara Rose datar, hampir tak melebihi sebuah bisikan. "Aku tahu."
Faktanya, dia telah tertimpa kekecewaan demi kekecewaan dalam pernikahan ini hingga yang tersisa hanyalah keputusasaan.
Kemanjaan Yosan yang tak terbatas terhadap Rina telah menghancurkan rasa sayang yang telah tumbuh dalam dirinya.
"Tiga tahun lalu, proyek energi baru Grup Santo di Kota Jingga itu juga ditempatkan di Kota Lina sebagai hadiah pernikahan untukmu. Investasi itu, yang bernilai lebih dari dua ratus miliar rupiah, membantu Arif menjadi kepala pemerintahan lokal di Kota Lina." Mata Yosan berubah dingin. "Sampai hari ini, proyek itu belum menghasilkan keuntungan, dan kamu siap menceraikanku?"
Wajah Rose berkedut, kata-katanya memukul bagian yang paling sakit.
Arif Setiawan adalah ayah tirinya. Tiga tahun lalu, investasi besar Grup Santo telah memberinya dorongan yang dibutuhkannya untuk mengalahkan tiga kandidat lain demi posisi saat ini.
Memutuskan untuk bercerai bukanlah hal yang mudah, itu adalah keputusan yang diambilnya setelah mempertimbangkan secara matang.
Meskipun dia masih merindukan sedikit kelembutan yang Yosan tunjukkan padanya, hatinya sakit setiap kali dia membayangkan pria itu berkelahi dengan seseorang demi Rina.
Dia tidak berencana untuk menolerirnya lagi.
"Kamu dan Rina bisa bersama sekarang. Aku tidak akan menghalangi jalanmu." Sudut bibir Rose melengkung ke atas, menyembunyikan segala keengganan dan rasa sakit yang dirasakannya.
"Rina dan aku tidak pernah merasa kamu menghalangi kami." Yosan dengan santai mengembuskan beberapa lingkaran asap.
Rose memperhatikan bahwa dia masih menyebut nama Rina dengan penuh kasih sayang, seolah-olah itu adalah hal terpenting di dunia.
Namun bagi Rose, kelembutannya hanya datang pada saat-saat paling intim di tempat tidur, di luar itu, pria tersebut selalu berbicara padanya dengan nada menjaga jarak.
Dia mengatupkan rahang. "Aku sudah muak hidup seperti ini, diperlakukan tanpa rasa hormat."
"Sepertinya kamu lupa bagaimana kamu menjadi istriku," ucap Yosan. Dia menyalakan sebatang rokok lagi, matanya penuh ejekan. "Katakan padaku dengan jujur, apakah kamu memenuhi syarat untuk berbicara kepadaku tentang rasa hormat?"
Rose langsung teringat pada malam hujan yang memalukan tiga tahun lalu.
Gelombang rasa sakit dan malu membanjiri hatinya.
"Kamu tahu persis akan seperti apa pernikahan ini sejak awal, tapi kamu masih berencana untuk menikah denganku, dan Arif mendapatkan jabatannya karena aku. Aturan pernikahan kita adalah, selama aku tidak mau bercerai, kamu hanya bisa menggertakkan gigi dan menanggung semua ini. Aku tidak peduli kamu dihormati atau tidak," lanjut Yosan, menyadari kesunyiannya.
Tubuh Rose bergetar sedikit, dan wajahnya tampak benar-benar pucat.
Ternyata di mata Yosan, pernikahan mereka hanyalah sebuah transaksi tanpa rasa hormat.
Awalnya, dia juga berpikir seperti itu. Namun entah kenapa, setelah dua tahun menikah, dia perlahan mulai percaya bahwa pernikahan ini mungkin berubah menjadi sesuatu yang nyata.
Dia menyadari bahwa dia seharusnya tidak mempunyai pikiran seperti itu.
Untungnya, perasaan apa pun yang mulai tumbuh dalam hatinya masih bisa dihancurkan sekarang.
Yosan mematikan rokoknya di asbak dan berjalan pergi.
Beberapa saat kemudian, Rose mendengar suara pancuran air mengalir di kamar mandi.
Pada saat ini, hatinya tenggelam dalam keputusasaan total.
Selama tiga tahun pernikahan mereka, mereka tidak pernah berjalan-jalan, menonton film, atau bahkan makan malam bersama seperti pasangan suami istri lainnya.
Satu-satunya saat mereka merasa dekat adalah ketika mereka berada di atas tempat tidur.
Dua tahun pertama pernikahan mereka penuh dengan perang dingin.
Baru pada tahun ketiga hubungan mereka berdua mulai sedikit berubah.
Yosan mulai menunjukkan sedikit kesabaran dan kelembutan padanya, sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Pria itu pernah mengucapkan beberapa kata-kata manis selama hari raya atau mengejutkannya dengan hadiah-hadiah kecil.
Perlahan-lahan, tanpa disadari, dia mulai menyukai Yosan, mencoba peduli padanya, dan mempelajari apa yang disukainya.
Dia tidak terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga, tetapi dia tetap belajar menyiapkan berbagai jenis sarapan untuknya.
Karena kehidupan mereka jarang bersinggungan kecuali di atas ranjang, dia hanya bisa menggunakan sarapan untuk membuat Yosan tetap tinggal beberapa menit lebih lama.
Meski dia tahu gagasan ini konyol dan menyedihkan, dia tetap tidak dapat menghentikan dirinya untuk melakukan hal itu.
Namun, harapan yang tersembunyi jauh di dalam hatinya selalu hancur oleh wanita bernama "Rina".
Jika Yosan mencintainya sedikit saja, kenapa dia masih menyembunyikan pernikahan mereka dari semua orang sampai sekarang?
Setelah Yosan selesai mandi, dia langsung berjalan ke kamar tamu di sebelah untuk tidur.
Rose kelelahan karena kurang tidur, tetapi dia tetap bangun pagi dan membuatkan Yosan teh susu kesukaannya sebelum berangkat kerja.
Dia bekerja sebagai pembawa berita keuangan di Jingga TV.
Dengan munculnya media Internet dalam beberapa tahun terakhir, stasiun TV tidak sepopuler sebelumnya, tetapi acara bincang-bincangnya masih mendapat rating tinggi, membuatnya termasuk sebagai selebriti lokal di Kota Jingga.
Setelah masuk dan berjalan ke kantornya, Rose mulai merasa lemah.
Dia membuka laci, mengambil kukis yang telah disiapkannya sebelumnya, memakan beberapa potong, dan akhirnya merasa lebih baik.
Berat badannya bertambah dengan mudah, terutama di bagian wajahnya.
Agar tetap tampil dengan baik di depan kamera, dia harus menjalani diet ketat.
Setiap hari, dia makan makanan sederhana seperti telur rebus, sayuran, dan daging sapi atau dada ayam tanpa lemak. Untuk seseorang yang memilik tinggi badan seratus enam puluh lima sentimeter, dia termasuk sangat kurus. Berat badannya hanya sekitar empat puluh sembilan kilogram sepanjang tahun.
Gula darahnya rendah, jadi dia tidak bisa bertahan tanpa sedikit makanan manis setiap hari.
Dengan sekitar dua puluh hari tersisa sebelum Tahun Baru, beban kerjanya meningkat tiga kali lipat.
Selain memiliki acara siaran langsung, Berita Finansial, dua kali seminggu, dia merekam acara bincang-bincang untuk persiapan. Sekarang, dia juga harus ikut mempersiapkan acara untuk pesta Tahun Baru.
Saat makan siang di kantin, dia mendengar beberapa rekan kerja bergosip dan mengetahui perkelahian Yosan di klub telah menjadi viral.
Kedua tangannya tidak bisa berhenti bergetar saat dia mengambil ponselnya untuk memeriksa media sosial.
Di dunia maya, orang-orang menggambarkan Yosan dan Rina seperti dalam kisah dongeng—sang triliuner yang menawan, dan sang Cinderella yang menyedihkan.
Banyak orang yang tidak tahu apa-apa tentang kebenaran sudah mendesak agar Yosan menikahi Rina.
Rose hanya makan beberapa gigitan dari makan siang ringan yang telah disiapkan sebelum kehilangan nafsu makannya.
Setelah pulang kerja, dia mampir ke apotek untuk membeli pil kontrasepsi darurat.
Dia meluangkan waktunya, dengan hati-hati memilih salah satu pil impor yang memiliki efek samping paling ringan.
Namun, saat dia hendak membayar, dia bertemu Yosan.
Pria itu tidak sendirian. Rina bersamanya.
Dahi Rina ditutupi perban sepanjang lebih dari tiga sentimeter dan ada beberapa luka cakar yang baru saja mengering di punggung tangan kanannya.
Tatapan lembut dan menyedihkan yang dia tunjukkan sudah cukup untuk membangkitkan keinginan pria mana pun untuk melindunginya.
Rina dan Yosan masuk ke apotek bersama, tertawa dan mengobrol. Mereka tampak seperti pasangan yang penuh kasih sayang.
Ini bukan pertama kalinya Rose melihat pemandangan semacam ini, tetapi dia masih merasa sangat tidak nyaman hingga hampir tidak bisa bernapas.
"Yosan." Dia mencoba untuk tetap tenang, menelan emosinya saat dia menyapanya dengan kaku.
Yosan hampir tidak memedulikannya, pandangannya tertuju pada kotak pil. "Ambil lebih dari satu, aku tidak mau hal yang tak diinginkan sampai terjadi."
Kata-katanya menusuk hatinya bagai pisau, tetapi dengan Rina yang berdiri di sana, dia tidak punya pilihan selain tetap tenang.
"Jangan khawatir. Tidak akan ada hal yang tak diinginkan terjadi," jawabnya sambil tersenyum palsu.
Orang sering mengatakan bahwa anak adalah hasil cinta, tetapi di mata Yosan, mereka tidak lebih dari sekadar hal yang tidak diinginkan.
Atau mungkin hanya anak-anak Rose saja yang dilihatnya seperti itu.
Jika anak-anak Rina yang bersamanya, segala sesuatunya mungkin akan sangat berbeda.
"Kebetulan sekali bisa bertemu denganmu di sini, Nona Rose," ucap Rina kepada Rose dengan sopan dan manis. "Tahukah kamu, terlalu banyak pil semacam itu dapat menyebabkan efek samping. Bahkan merek terbaik pun dapat mendatangkan menopause lebih awal dari yang kamu inginkan."
Meskipun Rina tahu Rose telah menikah dengan Yosan, dia tetap memanggilnya dengan sebutan "Nona Rose" setiap kali bertemu dengannya, tidak pernah mengakuinya sebagai istri Yosan.
Rose tahu Yosan-lah yang memberi Rina keberanian untuk bertindak seperti ini.
Dia berpikir jika Yosan dan Rina adalah pasangan yang bahagia, kenapa Yosan tidak menceraikannya dan menjadikan Rina sebagai istrinya?
Lagi pula, tiga tahun telah berlalu sejak mereka menikah, pengaruh apa pun yang pernah dimiliki Arif terhadap Yosan telah lama kehilangan pengaruhnya.
Rose tidak punya niat untuk berdebat dengan Rina. Dia berbalik untuk membayar obatnya.
"Yosan minum terlalu banyak tadi malam dan merasa tidak enak badan sepanjang hari ini," ucap Rina kepada Rose. "Bukankah seharusnya kamu lebih merawatnya sebagai istrinya?"
Teguran ringan itu terdengar di belakang Rose.
Dia berbalik perlahan dan menatap tajam ke arah Rina. "Ternyata kamu masih tahu bahwa aku adalah istri Yosan ...."
Rose berdiri tegap, matanya menatap tajam ke arah Rina dengan tekad yang tak tergoyahkan seperti seorang istri yang memergoki wanita simpanan dan suaminya.
Dia berkata, "Nona Rina, sebagai bawahan Yosan, kamu jelas tahu tentang hubunganku dengannya. Tapi kamu masih saja melewati batas dan terus menerus memprovokasiku. Apakah kamu benar-benar bodoh, atau kamu melakukan ini dengan motif tersembunyi?"
"Maaf, Nona Rose. Oh, maksudku Bu Rose," ucap Rina, buru-buru mengoreksi ucapannya sendiri, mengerutkan kening sambil menutupi bibirnya. "Aku yang salah. Aku minta maaf padamu. Tolong jangan dimasukkan ke dalam hati."
Dia memasang ekspresi polos yang rapuh, tampak sangat menyedihkan.
Rose tidak tertipu. Dia tahu persis apa yang dilakukan Rina—sengaja berpura-pura menyedihkan untuk mendapatkan simpati Yosan. "Aku tidak pantas menerima permintaan maafmu," ucapnya dengan nada sarkastis. "Jelas kamulah yang seharusnya mendapatkan simpati di sini—kasihan kamu, selalu menjadi korban."
"Yosan, Bu Rose masih menolak untuk memaafkanku ... dia pasti masih memikirkan apa yang terjadi di klub tadi malam," ucap Rina kepada Yosan. "Bisakah kamu membantuku menjelaskan semuanya padanya?"
Nada bicaranya yang manis menggelitik telinga Rose.
Rose merinding di sekujur tubuhnya dan sekilas melihat Yosan dari sudut matanya.
Yosan mengisap rokoknya perlahan, sorot matanya tanpa kehangatan. "Itu hanya fakta. Apa yang perlu dijelaskan?" ucapnya.
"Aku hanya khawatir dia akan mengira bahwa aku adalah pihak ketiga yang menghancurkan pernikahan kalian," ucap Rina, maksudnya jelas.
Tanpa ragu sedikit pun, Yosan menusuk jantung Rose lebih dalam dengan kata-katanya, "Rina, ambilkan obatku. Jangan buang-buang waktumu berbicara dengan orang yang tidak penting."
Ternyata di matanya, dibandingkan dengan Rina, Rose hanyalah orang yang tidak penting.
Rose menahan rasa jijik di dadanya dan berjalan keluar dari apotek tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Setelah menutup pintu mobil, tubuhnya terus bergetar sedikit saat memegang kemudi. Butuh dua kali percobaan yang gagal sebelum mesin akhirnya menyala.
Dia berulang kali mengatakan pada dirinya sendiri untuk tidak marah.
Tiga bulan lalu, pemeriksaan rutin mengungkapkan tumor kecil berukuran dua milimeter di payudara kirinya. Dia sudah menjadwalkan dengan dokter untuk menjalani janji pemeriksaan lanjutan besok pagi.
Penasaran dan sedikit cemas, dia bertanya kepada Putri, yang juga dokter kandungannya, kenapa seseorang yang berusia muda seperti dirinya bisa mengalami hal seperti itu.
Putri menjawab dengan pasti bahwa kebanyakan penyakit berasal dari stres dan kemarahan. Dan dalam kasus tumor Rose, dia yakin bahwa selalu dibuat marah oleh Yosan adalah penyebab penyakitnya.
Rose sempat menepisnya, dan menyebutnya omong kosong, tetapi jauh di lubuk hatinya, dia percaya.
Karena dialah satu-satunya yang tahu betapa besar penderitaan yang telah dia tanggung selama tiga tahun menikah dengan Yosan. Dia sudah dibuat marah oleh Yosan berkali-kali.
Jika perasaannya terhadap Yosan tetap jauh seperti tiga tahun lalu, dia tidak akan merasa sakit hati saat pria itu jajan di luar ke sana kemari. Dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena tiba-tiba, dia mulai peduli padanya.
Saat langit bertambah gelap, dia mendapati dirinya mengemudi tanpa tujuan dalam pikirannya, hanya membiarkan jalanan membawanya.
Pada saat inilah dia baru tersadar—selain Villa Nexus, dia tidak punya tempat tujuan di seluruh Kota Jingga.
Villa Nexus, yang disebut-sebut sebagai rumahnya bersama Yosan, sepenuhnya milik Yosan. Sebelum pernikahan, dia membuatnya menandatangani perjanjian pranikah, yang hanya memberinya hak sementara untuk tinggal di sana. Yosan bersikap dingin dan menjaga jarak terhadapnya, setiap kali dia memasuki Villa Nexus, dia merasa seperti tinggal di bawah atap orang lain.
Bahkan jika dia kembali, dia hanya akan sendirian di kamar yang sunyi dan kosong. Yosan jarang ada di sana, menghabiskan sebagian besar malamnya di acara-acara sosial dan tidak kembali sampai dini hari.
Agar dapat terhindar dari rasa sepi karena sendirian, Rose menjadikan kerja lembur sebagai rutinitas hariannya.
Dia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan setiap malam hanya untuk menghindari kekosongan di rumah. Kalau saja hari ini dia tidak perlu minum pil kontrasepsi darurat, mungkin dia masih duduk di kantornya sekarang.
Akhirnya, dia kembali ke Villa Nexus. Namun begitu dia membuka pintu, bau asap rokok yang menyengat tercium di hidungnya secara tak terduga.
Yosan berdiri di dekat jendela panorama di ruang tamu, berbicara di telepon.
Dengan memunggunginya, dia berdiri tegak dan tenang. Suaranya, meskipun rendah, membawa kehangatan lembut yang belum pernah dia dengar sebelumnya.
"Dr. Harjato mengatakan tidak akan ada bekas luka di dahimu. Tapi jika kamu masih khawatir, aku bisa membawamu pergi ke Kota Kuno lusa untuk menemui seorang ahli. Sekalipun bekas luka itu tetap ada, aku tidak akan mempermasalahkannya ...."
Di apotek, Rose melihat dahi Rina ditutupi lapisan kain kasa. Tidak diragukan lagi bahwa Yosan sedang berbicara di telepon dengan Rina.
Kelegaan kecil yang dirasakannya saat melihatnya pulang menguap. Dia diam-diam menaruh tas tangan dan mantelnya, lalu langsung berjalan ke kamar mandi.
Setelah mencuci wajahnya, saat dia mengoleskan pelembab, dia melihat Yosan muncul di pintu.
"Besok jam delapan, teman ibuku akan tiba di Kota Jingga. Aku ingin kamu menjemputnya di bandara," ucap Yosan dengan nada datar.
Rose menghela napas dalam hati. Setiap kali Yosan mengambil inisiatif untuk mencarinya, pasti tidak ada hal yang baik.
"Orang itu adalah teman baik ibuku dan juga salah satu mitra perusahaannya. Ambil cuti beberapa hari dan ajak dia berkeliling kota. Berapa pun uang yang kamu belanjakan, aku akan menggantinya." Tanpa menunggu jawaban, Yosan berbalik dan langsung berjalan menuju ruang kerja, dengan asumsi dia telah setuju.
Dada Rose terasa sesak. Air mata menggenang di matanya, dan dia melemparkan tisu sekali pakai yang dia gunakan untuk membersihkan wajahnya ke tempat sampah. "Minta orang lain untuk melakukan itu. Aku punya hal lain yang harus kulakukan besok."
Yosan bahkan tidak memandangnya. "Aku sudah mengatur semuanya. Budi akan mengurus urusan mengemudi dan makan. Kamu hanya perlu menemaninya dan mengobrol."
Matanya tidak pernah lepas dari layar komputer. Dia sama sekali tidak menganggap serius kata-kata sebelumnya.
Sambil menatapnya, Rose merasakan kemarahan membuncah dalam dadanya. "Aku ada janji dengan dokter untuk pemeriksaan lanjutan besok pagi."
"Pemeriksaan lanjutan apa?" tanya Yosan.
"Aku sudah pernah memberitahumu. Mereka menemukan tumor di payudara kiriku saat pemeriksaan terakhir. Besok waktunya untuk pemeriksaan lanjutan."
"Itu hanya tumor kecil. Menunggu dua hari lagi untuk pemeriksaan lanjutan tidak akan mengubah apa pun," jawab Yosan, masih menatap layarnya.
Rose mengatupkan rahang. "Tidak mudah bagiku untuk mendapatkan janji temu dengan spesialis ini. Aku tidak akan menjadwal ulang."
Yosan bahkan tidak mengedipkan mata. "Hubungan antara kamu dan ibuku selalu tegang. Jika kamu bisa menghibur temannya dengan baik, mungkin hubungan kalian berdua akan membaik."
Nada bicaranya tidak memberi ruang untuk negosiasi. "Sudah diputuskan."
Rose membuka mulutnya untuk protes, tetapi tatapan tegas di mata Yosan membuatnya terdiam. Setelah lebih dari sepuluh detik terdiam, dia berkata "Baiklah" dengan suara serak.
Setelah kembali ke kamar utama, dia menyentuh pipi dan menyadari pipinya sudah basah oleh air mata.
Pada saat ini, ponselnya berdering. Dia melirik layar, mengenali nomornya, dan menolak panggilan itu tanpa ragu-ragu.
Sesaat kemudian, nomor lain dari Kota Lina muncul di layar. Tanpa mengedipkan mata, dia memblokir nomor itu.
Malam ini, Yosan tetap berada di ruang kerja. Dia tidak sekali pun melangkah ke kamar tidur utama.
Ketika Rose bangun keesokan paginya, dia mendapati Yosan sudah mengenakan setelan jas, siap berangkat kerja.
Yosan tampak agak lelah, dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang menunjukkan pria itu mungkin tidak tidur nyenyak tadi malam.
Namun, rasa lelah itu tidak mengurangi ketampanan di wajahnya atau keanggunan seorang pria dewasa yang terlihat dari setiap gerakannya.
"Budi akan menunggumu di garasi dalam tiga puluh menit," ucapnya sambil memeriksa arlojinya sebelum melirik sebentar ke arahnya.
Itu adalah pandangan sekilas, hampir tak terasa oleh Rose sebelum dialihkan.
Saat Yosan meraih gagang pintu, Rose tidak dapat menahan diri untuk berkata, "Rina lebih pandai melayani orang daripada aku. Mungkin kamu sebaiknya membiarkan dia melakukan ini."
Yosan berhenti melangkah tetapi tidak menoleh untuk melihatnya. "Kamu tetap istriku. Jika Rina dikirim untuk melayani teman ibuku dan kabar itu tersebar, dia akan dicap sebagai wanita simpanan di luar sana."
Ternyata begitu. Dia memanfaatkannya untuk melindungi reputasi Rina.
Dia pasti tahu bahwa orang-orang yang mengetahui status perkawinannya telah bergosip tentang kejadian di Zero Club tadi malam, di mana dia telah memukuli seseorang demi Rina.
Saat pria itu menutup pintu di belakangnya, embusan angin dingin bertiup, membuat Rose menggigil dan segera tersadar.
Dalam perjalanan ke bandara, dia bertanya kepada Budi Wijaya, asisten Yosan, bagaimana Yosan akan menghadapi rumor yang berkembang tentangnya dan Rina di dunia maya.
Namun, Budi adalah orang yang cerdas. Dia hanya tersenyum sambil berpura-pura bodoh.
Tak peduli seberapa keras dia mendesak, Budi tetap tutup mulut mengenai masalah itu.
Di bandara, dia dan Budi menunggu sampai pukul sembilan. Lalu, Budi mendapat panggilan telepon, dan setelah percakapan singkat, dia mengerutkan kening. "Perubahan rencana," ucapnya kepada Rose. "Dia telah menunda perjalanannya. Dia akan datang ke Kota Jingga minggu depan."
Gelombang kemarahan melanda Rose, tetapi dia segera menutupinya. Dia tidak ingin kehilangan ketenangannya di hadapan Budi, jadi dia pura-pura tidak peduli.
Budi kemudian mengantarnya ke rumah sakit. Setelah memeriksa, dia melihat antrean panjang, sedikitnya ada belasan pasien di depannya.
Karena tidak punya pilihan lain, dia menunggu.
Setelah menerima hasil USG payudara, dia tidak dapat memahami gambarnya, tetapi teksnya jelas—tumor di payudara kirinya telah tumbuh hingga 2, 5 milimeter.
Kepanikan pun melanda. Tiga bulan yang lalu, ukurannya hanya 2, 0 milimeter.
Setengah milimeter tambahan itu sudah pasti bukan hal yang baik!