"Sekarang sudah larut malam, tidurlah."
Suara pria yang dalam dan memesona itu tiba-tiba bergema sehingga menyadarkan Megan Axelle dari lamunannya. Ketika mendongak, matanya bertemu dengan mata suaminya yang dalam dan penuh emosi yang tidak bisa dibacanya.
Megan menarik ujung gaunnya dengan gugup, jantungnya berdetak semakin cepat.
Sejak memasuki ruangan ini, dia duduk di tepi tempat tidur dan tidak banyak bergerak. Karena mempertahankan postur ini untuk waktu yang lama, punggungnya menjadi kaku. Dia bahkan belum melepas gaun pengantinnya. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan atau harapkan.
Baru setelah pria itu keluar dari kamar mandi, dia sadar bahwa mereka akan menghabiskan malam pertama mereka sebagai pasangan suami istri. Malam ini tidak ditakdirkan untuk menjadi malam yang biasa.
Ketika memikirkan hal ini, seluruh tubuhnya gemetar. Dia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mengenal suaminya dengan baik. Bagaimanapun, dia hanyalah seorang pengganti wanita lain.
Sebagai anak haram dari keluarga kaya, dia dipaksa menggantikan kakak tirinya untuk menikah dengan pria miskin ini demi menyelesaikan pertunangan yang telah diatur oleh para tetua dari kedua keluarga.
Dia akan memperoleh mahar yang cukup besar dari pernikahan ini. Dengan uang itu, dia bisa melunasi biaya pengobatan ibunya dan adiknya bisa melanjutkan sekolah, sehingga seluruh keluarganya bisa hidup sejahtera. Seluruh beban ini diletakkan di pundaknya.
Karena menyadari bahwa hidupnya kini telah berubah, Megan menarik napas dalam-dalam dan berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh gemetar sambil berkata, "Aku ... aku juga akan mandi ...."
Mendengar kata-kata ini, mata pria itu sedikit melebar.
Megan buru-buru masuk ke kamar mandi. Saat hendak mengunci pintu, dia baru menemukan bahwa pintu kayu yang lusuh tersebut tidak memiliki kunci. Dia pun menelan ludah. Meskipun kehidupannya sebelumnya tidak mudah, itu tidak seburuk ini.
Tidak lama kemudian, air mata menggenang di matanya. Dia ingin menangis dan menumpahkan kekesalannya, tetapi, dia hanya bisa berdiri di kamar mandi untuk sejenak dan tidak berani melepas bajunya.
Pria di luar sepertinya mengerti apa yang sedang dipikirkannya, jadi dia berkata dengan suara yang dalam, "Aku akan keluar untuk merokok, tenang saja."
Megan tampak sedikit lega. Untuk memeriksa apakah pria itu benar-benar keluar, dia bersandar di pintu dan mendengarkan dengan saksama. Langkah kaki pria itu berangsur-angsur menjauh dan terdengar suara pintu berderit saat ditutup. Setelah itu, dia tidak mendengar apa-apa lagi dari balik pintu.
Sehari sebelum pernikahan mereka, angin topan yang ganas menyapu seisi kota. Beberapa papan reklame berukuran besar terseret dan pohon-pohon besar yang tumbang terlihat di mana-mana. Terlepas dari semua kesulitan ini, pernikahan Megan tetap berlangsung.
Tidak ada mobil pernikahan yang indah untuk menjemputnya. Oleh karena itu, dia harus berjalan cukup jauh hanya untuk menaiki minibus yang tidak mencolok untuk mengantarnya pergi ke desa ini. Jalan berlumpur menodai sepatu dan gaun pengantinnya sehingga semuanya terlihat sangat berantakan.
Beberapa tetua yang percaya pada takhayul mengatakan bahwa menikah dalam kondisi seperti itu hanya akan memberikan masa depan yang menyedihkan. Akan tetapi, Megan sudah lama tidak memedulikan kebahagiaannya sendiri. Jadi, apa pun yang terjadi di masa depan, dia pikir baginya itu sama saja.
Setelah selesai mandi, dia berjalan keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut. Tampaknya suaminya belum kembali dari merokok di luar.
Saat melihat sekeliling rumah yang hanya terdapat dua kamar, dia menemukan ada beberapa tempat yang bocor. Meskipun agak bobrok, rumah ini akan terlihat lebih baik setelah diperbaiki dan dibersihkan. Akhirnya, Megan bisa tersenyum tipis. Dia memutuskan untuk merapikan kamar sebelum suaminya kembali.
Akan tetapi, saat dia sedang berlutut di atas seprai untuk merapikan tempat tidur, pria itu tiba-tiba muncul.
Saking terkejutnya, dia lupa bahwa dirinya hanya mengenakan handuk mandi. Dengan gerakannya yang tiba-tiba saat berbalik, dia tidak menyadari bahwa handuk itu sudah merosot ke bawah. Karena merasa sedikit kedinginan, Megan menjerit dan segera menutupi dadanya dengan tangan setelah menyadari apa yang baru saja terjadi.
Akan tetapi, sebelum dia bisa menutupi dirinya, pria itu sudah melihat tubuh telanjangnya dengan jelas.
Karena panik, Megan menarik selimut di tempat tidur untuk menutupi tubuhnya. Saking malunya, wajahnya memerah.
Tidak dapat melupakan pemandangan yang baru saja dilihatnya, pria itu menelan ludah dan sorot matanya menjadi lebih dalam dan rumit. Kali ini, dia berjalan secara perlahan ke sampingnya dan berbicara dengan suara rendah dan serak yang entah bagaimana menyiratkan sedikit keintiman. "Ini sudah larut, ayo tidur."
Sebelumnya, pernyataannya terdengar seperti saran belaka, tetapi kali ini, seolah-olah menjadi suatu keharusan.
Jantung Megan berdebar sangat kencang sampai-sampai serasa hampir melompat keluar dari rongganya. Dengan mata terpejam, tiba-tiba dia merasakan sebuah lengan melingkari pinggangnya. Perlahan dan pasti, dia jatuh ke pelukan pria itu saat punggungnya ditekan ke dada pria itu.
Pikiran Megan menjadi kosong, tubuhnya gemetar saat merasakan dada yang panas dan keras saat ini sedang menempel di punggungnya. Dia juga mendengar suara detak jantung kuat yang berirama. Maskulinitas pria itu menyelimuti tubuhnya.
Dia menarik napas dalam-dalam dan berharap tindakan ini bisa membuatnya sedikit tenang. Akan tetapi, dia mendapati anggota tubuhnya masih kaku seperti sebelumnya.
Sebelum tangannya menyentuh kulit Megan, tiba-tiba pria itu berhenti dan bertanya, "Apa kamu tahu siapa aku?"
Megan tercengang karena tidak menyangka akan mendengar pertanyaan seperti ini. Itu hanyalah sebuah pertanyaan sederhana, tetapi ada implikasi di baliknya.
Dia adalah suaminya dan saat ini adalah malam pernikahan mereka. Wajar bagi mereka untuk mewujudkan pernikahan mereka.
Akan tetapi, karena saking gugupnya, Megan menjawab pertanyaan itu secara harfiah, "A-aku tahu ... kamu adalah Zayden Wilgunadi."
Saat mendengar jawaban Megan, pria itu merasa sangat geli sehingga tersenyum tipis.
Zayden Wilgunadi .... Yah, hanya itu yang dia tahu.
Faktanya, bukan Megan satu-satunya yang menyembunyikan rahasia. Pria ini bukanlah Zayden Wilgunadi yang sebenarnya, yang seharusnya menjadi mempelai pria. Sama seperti Megan yang bukan Winona Axelle, yang seharusnya menjadi mempelai wanita.
Sejak pria itu melihat Megan, sebenarnya dia tahu bahwa wanita ini hanyalah pengganti, sama seperti dirinya. Meskipun dia tidak tahu alasan pasti mengapa Winona diganti, dia berasumsi bahwa seseorang yang lahir dari keluarga kaya tidak akan pernah mau menikah dengan orang miskin.
Namun, sekarang itu tidak terlalu penting. Megan menggantikan mempelai wanita yang sebenarnya dan dia menggantikan mempelai pria. Selain itu, untuk beberapa alasan, dia akan terus menggunakan identitas Zayden untuk waktu yang lama. Jadi, mulai sekarang dan untuk waktu yang lama, dia adalah Zayden dan Zayden adalah dia.
"Zayden ...."
Ketika mendengar Megan memanggil, dia tersadar kembali, lalu menundukkan kepala dan bertemu dengan mata Megan yang indah dan berbinar. Ekspresi Megan yang malu-malu dan lembut benar-benar membuatnya terpikat dan tergila-gila.
Megan menggigit bibir saat dia melingkarkan lengan di leher pria itu secara perlahan dan berkata, "Maaf, aku terlalu gugup .... Tentu saja, sekarang kamu adalah suamiku, aku akan berusaha untuk beradaptasi dengan hal ini. Omong-omong ... kita bisa mulai."
Bulir-bulir keringat sudah terbentuk di ujung hidung Megan. Dia berusaha untuk bersikap biasa saja, tetapi seluruh tubuhnya gemetar sehingga gerakannya tampak sangat canggung.
Jantung Zayden berdetak kencang ketika melihat Megan hendak mencium bibirnya, tiba-tiba dia memegang tangan Megan dan mendorong wanita itu menjauh dengan lembut.
Megan tercengang, dia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Wajahnya masih memerah dan matanya membelalak bingung.
Bukankah dia baru saja berinisiatif untuk mengambil langkah pertama? Mengapa pria ini tiba-tiba mendorongnya menjauh?
Kemudian, Zayden menatap Megan dan berkata, "Kita tidak perlu terburu-buru. Sepertinya kamu lelah, sekarang tidur saja lebih dulu."
"Zayden, aku ...."
"Kurasa kamu perlu waktu untuk membiasakan diri dengan kehidupan baru ini. Aku tidak akan memaksamu jika kamu belum siap, aku tidak akan mempersulitmu sampai kamu sudah terbiasa hidup denganku," ucapnya sambil berbaring di satu sisi tempat tidur dan membelakangi Megan.
Melihat punggung Zayden yang telanjang, Megan juga berbaring dan linglung. Dia bahkan tidak menyadari berapa lama waktu telah berlalu, tetapi akhirnya dia mendengar pria itu mendengkur ringan.
Menyadari bahwa Zayden sudah tertidur lelap, akhirnya Megan memiliki kesempatan untuk mengamatinya dengan saksama.
Dia sangat tampan dengan rahang yang tegas, sepasang alis yang tebal dan maskulin, serta lengan yang berotot yang semakin menekankan betapa sempurna bentuk tubuhnya.
Ketika memikirkan hal ini, wajah Megan langsung memerah lagi. Saat jantungnya mulai berdetak kencang, dia buru-buru memalingkan wajah karena takut akan membangunkan Zayden.
Akhirnya, Megan mulai mengantuk. Akan tetapi, pikirannya masih diliputi kekesalan atas kata-kata kasar yang dia terima dari Winona dan ibunya sebelum menikah.
Mereka mengatakan padanya bahwa Keluarga Wilgunadi memiliki hubungan yang baik dengan mereka sejak puluhan tahun yang lalu, sehingga kedua keluarga membuat kesepakatan untuk bersatu. Akan tetapi, setelah Keluarga Wilgunadi tiba-tiba bangkrut dan jatuh miskin, mereka bersembunyi di desa di pegunungan kecil.
Zayden, putra dari Keluarga Wilgunadi, terkenal sebagai seorang preman yang sangat mengerikan. Rumor mengatakan bahwa dia telah bolak balik keluar masuk penjara.
Winona berkata dengan angkuh, "Seorang bajingan? Bagaimana bisa aku menikah dengan orang seperti itu? Kamu lebih cocok menikah dengan Zayden. Bukankah ibumu tidur dengan banyak pria? Bahkan, adikmu adalah anak haram! Sekarang, menikahlah dengannya. Orang sepertimu hanya pantas mendapatkan seorang bajingan!"
Sikap ayahnya juga tidak lebih baik, dengan nada dingin, dia berkata, "Meg, pikirkan baik-baik. Menikahlah dengan Zayden untuk menggantikan Winnie, dan Ayah akan memberimu cukup uang untuk melunasi biaya pengobatan ibumu."
Ibu Winona juga menimpali sambil menoyor pelipisnya dengan kuat, "Untuk apa kamu ragu? Menikah dengan orang seperti dia sudah cukup untuk wanita jalang sepertimu! Kamu bahkan bisa menyandang gelar sebagai putri berharga dari Keluarga Axelle! Jangan jadi anak yang tidak tahu berterima kasih!"
Megan tersentak bangun dari mimpi buruknya. Dia bernapas dengan panik dengan jantung yang berdebar kencang. Kemudian, dia menyadari hari sudah siang dan Zayden, yang seharusnya tidur di sampingnya, telah menghilang.
Setelah mengenakan pakaian, Megan berjalan menuju halaman. Tepat seperti dugaannya, dia mendapati Zayden sedang olahraga pagi di sana.
Dengan bertelanjang dada, Zayden sedang melatih otot tangan dengan mengangkat barbel secara bergantian. Otot-ototnya begitu kencang, seperti bebatuan yang berjejer di sekujur tubuhnya.
Keringatnya bersinar saat memantulkan sinar matahari yang terbit. Melihatnya dengan hati-hati, Megan merasa seperti sedang menatap seorang prajurit Spartan.
Dengan sedikit rona merah di wajahnya, Megan menyapanya, "Apa kamu bangun sepagi ini setiap hari?"
Zayden meliriknya dan mengangguk dengan cuek, lalu lanjut berolahraga.
Megan mulai melihat sekeliling. Tempat itu tidak terlalu besar, tetapi agak berantakan. Di sana terdapat karung pasir, sarung tinju, tongkat bisbol, dumbel, dan berbagai barang lain yang berserakan di mana-mana. Tempat itu seperti tempat gimnastik di luar ruangan.
Saat mengingat rumor bahwa Zayden telah keluar masuk penjara beberapa kali, dia merasa gugup. Dia tidak berani menanyakan kebenaran dari rumor tersebut. Akan tetapi, dilihat secara fisik, terlihat jelas bahwa pria itu sanggup melawan siapa pun.
Di mata Megan, pria ini terlihat begitu misterius. Dia bertanya-tanya Zayden sebenarnya orang yang seperti apa tanpa bergantung pada rumor tak berdasar itu.
Hanya saja, dia mendengar bahwa sebagian besar pria di daerah itu menganut budaya patriarki sampai-sampai memukuli istri mereka menjadi hal yang normal, terutama ketika mereka sedang mabuk. Oleh karena itu, Megan tidak berani bertindak gegabah.
Sambil menggigit bibir, Megan mengerahkan keberanian untuk menghampiri Zayden dan bertanya, "Umm ... apa kamu sudah sarapan?"
Beberapa saat kemudian, Zayden menjawab dengan nada datar, "Belum, kamu bisa memasak untuk kita berdua."
"Oke, serahkan padaku," ucap Megan sambil mengangguk, lalu berlari ke dapur.
Sebenarnya dia jago memasak dan itu merupakan salah satu keahlian yang dia banggakan. Tidak butuh waktu lama baginya untuk memasak sepanci bubur, telur ceplok, dan sepiring tumis daging sapi khusus untuk Zayden.
Begitu masuk ke dalam rumah, Zayden langsung duduk di meja makan. Saat mendongak, dia melihat mata Megan yang tersenyum dan jantungnya seketika berdetak kencang.
Seolah ingin menghargai Megan yang sudah bekerja keras, Zayden mengambil sepotong daging sapi dan meletakkan daging itu di piringnya.
Kening Megan berkerut. Karena dia memasak daging itu khusus untuk Zayden, dia hendak menolak. Akan tetapi, Zayden berkata dengan suara rendah, "Kamu juga harus makan daging, kamu membutuhkan lebih banyak protein karena tubuhmu kurus sekali."
"Oh, oke ...," ucap Megan sambil mengerutkan bibir dan tidak berani menolak lagi.
Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan Zayden.
Pertama, dia ingin meminta maaf atas apa yang terjadi semalam. Semua pria pasti sangat ingin bercinta dengan istri baru mereka di malam pernikahan mereka. Namun, dia bertindak seolah-olah Zayden memaksanya walaupun dia tahu pria itu tidak melakukannya.
Kedua, dia ingin bertanya pada Zayden tentang rencana masa depannya. Karena sekarang mereka adalah pasangan yang sah, mereka harus membicarakan mengenai apa yang akan mereka lakukan mulai sekarang.
Selain itu, dia juga tidak tahu apa pekerjaannya dan bagaimana pria itu menghasilkan uang untuk menghidupi keluarga barunya. Dengan kata lain, ada banyak hal yang perlu mereka ketahui tentang satu sama lain.
Akan tetapi, Zayden tetap menunduk dan fokus pada sarapannya. Setiap kali dia menyendokkan makanan ke mulutnya, kapalan di buku-buku jarinya terlihat jelas. Kemungkinan besar, kulitnya terkikis karena meninju karung pasir berulang kali.
Ketika melihat hal ini, Megan menelan kembali kata-kata yang ingin dia ucapkan karena ketakutan.
Sarapan pertama setelah hari pernikahan mereka terasa begitu lama dan sunyi. Megan tentu saja merasa sangat tidak nyaman. Akan tetapi, dia tidak bisa melarikan diri dari kenyataan. Sejak mereka menikah, tidak ada kata mundur.
"Omong-ngomong, apa hari ini kamu senggang?" Akhirnya, Megan memberanikan diri untuk memecah kesunyian yang canggung.
Karena tidak menyangka akan ditanya seperti itu, Zayden sedikit terkejut. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin pergi ke pusat kota untuk mengembalikan gaun pengantinku ke toko tempat aku menyewanya," jawab Megan sambil tersenyum gugup.
Wajah Zayden membeku sesaat. Dia sama sekali tidak peduli tentang pernikahan ini. Dia bahkan tidak tahu bahwa gaun pengantin yang dikenakan oleh Megan adalah gaun sewaan.
Bagi kebanyakan wanita, menikah adalah peristiwa terbesar dalam hidup mereka. Karena ingin menghargai dan mengingat momen itu, kebanyakan wanita akan membeli gaun pengantin dan menyimpannya sebagai kenang-kenangan.
Saat memikirkan hal ini, mata Zayden sedikit menyipit. Timbul perasaan aneh yang tidak bisa dijelaskan di dalam hatinya.
Saat melihatnya terdiam lagi, Megan buru-buru menjelaskan, "Aku tidak memintamu untuk menemaniku, aku bisa mengembalikan gaun pengantin itu sendiri. Kamu bisa menangani urusanmu jika kamu sibuk. Jadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkanku."
"Baiklah kalau begitu." Zayden menerima tawarannya dan membiarkan Megan menangani urusannya sendiri.
Karena sekarang mereka tampak lebih seperti teman sekamar daripada pasangan. Belum ada sedikit pun keintiman bagi mereka untuk disebut sebagai pasangan.
Setelah membersihkan gaun pengantin yang kotor, Megan mengemasnya dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian, dia berangkat naik bus beberapa kali sebelum tiba di toko gaun pengantin. Dia berangkat pagi-pagi sekali, tetapi dia baru tiba pada siang hari.
Selama persiapan pernikahan, kecuali uang mahar yang dijanjikan ayahnya secara lisan, Keluarga Axelle sama sekali tidak membantunya. Oleh karena itu, dia harus mencari sendiri sampai dia menemukan gaun pengantin di toko ini yang sesuai dengan gayanya dan harga yang wajar.
Toko itu tidak besar, tetapi karyawan di toko itu bersikap sangat angkuh. Apa lagi untuk orang seperti Megan yang hanya menyewa gaun pengantin, mereka dengan mudah memandang rendah dirinya.
Jadi, ketika menerima gaun pengantin sewaan itu, salah satu asisten toko berkata dengan jijik, "Nona, apa menurutmu kami bisa menyewakan gaun pengantin ini lagi? Lihat saja betapa kotornya gaun ini! Apa kamu menerima gaun ini dalam kondisi seperti ini?"