"Hiks.. Hiks.. Hiks.."
Dua orang anak kecil menangis terpaku di depan meja belajarnya. Saat ini, mereka berdua tengah menatap foto seorang ibu yang di pajang di dinding. Tidak lama, seseorang datang sambil mengusap lembut rambut dua orang anak kecil itu.
"Dek, ibu baik-baik saja. Kita hanya perlu mendoakannya." ucap anak gadis yang berusia 25 tahun itu. Matanya berlinang melihat foto wajah sang ibu.
Di tambah, kedua adik kembar menangis karena mengingat ibunya, membuat hati sang reporter ternama itu hancur. Disaat titik karirnya mencapai puncak, dirinya malah kehilangan seorang ibu yang sangat berarti dalam hidupnya. Dia terpaksa mengambil cuti beberapa hari untuk menemani adik-adiknya di rumah.
"Sebaiknya malam ini tidur lebih awal. Besok kakak akan bawa kalian jalan-jalan. Mau beli es krim yang besarkan?" goda Yuna sambil mencubit pipi temben sang adik. Saat ini, usia adik kembarnya sudah menginjak angka tujuh. Sedang berada di fase gemes-gemesnya.
"Baik, Kak." ucap mereka kompak. Mereka berdua lalu berjalan ke tempat tidur dan menutup diri dengan selimut. Anak yang penurut sekali. Yuna sampai tersenyum melihat kelakuan adiknya begitu baik.
Setelah menemani sang adik beristirahat, Yuna keluar dan tak sengaja melihat pintu kamar ibunya terbuka. Dia melangkah masuk, menyusuri sudut kamar ibunya dengan tatapan sendu. Nafasnya sesak mengingat wajah ibunya yang selalu tersenyum di depannya.
"Ibu, sebenarnya apa yang terjadi?" ucap Yuna seketika. Reflesh air matanya jatuh mengalir di kedua pipinya secara bersamaan. Hatinya hancur berkeping-keping. Tidak ada sepatah suara selain suara tangisan. Walau dirinya sudah dewasa, rasa sakit kehilangan masih bisa dia rasakan. Bahkan dirinya yang paling merasakan sakit di antara semua orang.
"Ibu.. Ibu.. Hiks.. Hiks.. Hiks.."
Yuna menyentuh tempat tidur, dimana ibunya sering berbaring. Menyentuh tempat duduk dimana ibunya sering merias wajah. Karena tidak terlalu fokus, Yuna sampai menabrak lemari kecil di dekat meja rias ibunya. Sebuah buku pun terjatuh ke lantai.
"Buku harian." Ucap Yuna yang membaca sampul buku itu.
Yuna berhenti menangis dan berjongkok mengambil buku itu. Wajah sendunya menjadi kebingungan. Selama ini, dirinya tidak sempat memeriksa tulisan ibunya. Bahkan Yuna tidak pernah melihat ibunya menulis di buku. Lalu, tanpa sengaja, Yuna menemukan sebuah buku di kamar ibunya.
"Apa selama ini, ibu selalu mencurahkan isi hatinya ke dalam buku harian ini?" tanya Yuna yang membolak balikkan buku di tangannya.
Rasa penasaran dengan isinya membuat tangan Yuna segera membuka lembaran buku sang ibu. Awalnya, senyum Yuna terpancar melihat tulisan ibunya yang sangat indah, mengalahkan tulisannya sendiri. Namun, ketika dirinya membaca tulisan sang ibu, betapa terkejutnya Yuna. Ibunya yang selama ini selalu tampil dengan senyuman menyambut anaknya, malah mendapat penderitaan terdalam.
Inilah kisah sang ibu yang akan di ungkapkan Yuna satu per satu. Rahasia dibalik senyum ibunya, terbuka perlahan demi perlahan.
Penderitaan pertama yang ditulis ibunya dimulai sejak Yuna belum lahir di dunia ini.
**
**
**
"Aku hamil!" teriak Rani Ramadhani, salah satu siswa kebanggaan sekolahnya. IQ nya hampir mencapai angka sempurna. Bukan hanya itu, dia juga memiliki rupawan yang cantik. Semua siswa laki-laki takjub dengan kecantikan alaminya. Dari sini lah kesalahannya.
Rani pacaran dengan anak berandalan, anak kepala sekolah yang memiliki wajah tampan menawan. Tetapi sikapnya justru berbanding terbalik dengan Rani. Cinta yang sudah membuat Rani buta, menyerahkan apa yang tidak seharusnya dia serahkan pada laki-laki munafik seperti Bram.
"Lalu? kenapa?" tanya Bram sambil tersenyum kecut. Mereka berdua sedang berada di klinik sekolah karena Rani jatuh pingsan saat sedang berolahraga.
"Kau harus tanggung jawab. Aku tidak mau pulang, aku takut mendapat amarah dari orang tuaku!" kata Rani terdengar memohon. Lagi-lagi Bram tertawa terkekeh.
"Tanggung jawab? Kau menyuruhku bertanggung jawab? Memangnya kau siapa? Kau hanya pacar bagiku, bukan calon istriku. Pacar bisa aku ganti dan aku buang jika sudah tidak membutuhkannya." Jelas Bram dengan suara di tekan. Nada suaranya begitu mengancam membuat Rani syok mendengarnya.
"Bram, kau harus tanggung jawab. Kesalahan ini bukan hanya kesalahanku, tetapi kesalahamu juga." bela Rani yang kukuh pendirian.
"Hei, Sang bidadari hatiku. Apa kau tahu, dirimu pacar yang keberapa? Kau berada di urutan 54. Aku masih punya banyak pacar sembunyi di sekolah ini yang mungkin juga mengalami hal sama denganmu. Hamil!" tegas Bram sambil tertawa.
"Apa?"
Rani membuka mulutnya, tidak percaya semua itu. Pacarnya, Bram rupanya bukan orang yang setia. Rani salah menilai selama ini. Dia pikir, Bram adalah anak yang baik meski sikap Bram tidak mengatakan itu. Terkadang, justru anak nakal lah yang paling pemberani dan bertanggung jawab.
"Bram.." Panggil Rani sambil memegang tangan Bram. Dia ingin Bram menjelaskan jika apa yang dikatakannya barusan adalah salah. Bram hanya bercanda, pikir Rani. Tetapi, Bram menghempas tangan Rani, lalu menarik kepala Rani dan berbisik.
"Sejauh ini, aku hanya mempermainkan perempuan saja. Siapa suruh kau kau tergoda dengan wajahku yang tampan. Sekarang kau dapat imbasnya. Jadi, apa yang terjadi padamu, bukan salahku. Semuanya salahmu, kau sendiri yang memberikan barang berhargamu padaku. Walaupun aku memintanya, setidaknya kau bisa menolak jika dirimu benar-benar wanita baik-baik." kata Bram sebelum keluar dari klinik.
Tubuh Rani menjadi lemas, dirinya tidak punya tenaga dan energi. Air matanya jatuh bercucuran, hatinya rusak, begitupun dengan tubuhnya saat ini.
"Bram..." teriak Rani seorang diri.
Sepulang sekolah, anak kebanggaan sekolah itu berjalan pulang ke rumah. Tubuhnya gemetar ketika berdiri tepat di depan rumahnya. Tangannya tidak bisa diangkat memegang gang pintu. Rasa takut, marah, dan sedih, menyatu dalam dirinya.
"Apa yang harus aku lakukan? Tidak memberitahu siapapun?" ucap Rani yang panik. Keringat dingin bercucuran di dahi dan lehernya. Di tambah, pintu rumahnya di buka sang ibu, sementara dirinya belum siap.
"Ran, tolong bantu ibu ambil jemuran diluar. Ibu lagi memasak di dalam." kata sang ibu dengan senyum manis sebelum berbalik masuk.
Siang ini, langit di tutupi awan hitam. Sebentar lagi, hujan akan turun membasahi apapun yang ada di bawahnya. Hal ini mengingatkan Rani dengan dirinya. Dia sama seperti itu.
"Ran! Cepat ambil!" teriak sang ibu dari dalam. Rani adalah anak kedua dari keluarga sederhana. Semua kebutuhan hidup keluarganya serba cukup. Ayahnya bekerja kantoran dengan gaji yang tidak seberapa. Sementara ibunya tukang jahit di rumah. Itupun, ibunya tidak punya pelanggan menentu. Ya, semua di tentukan oleh rezeki masing-masing.
Rani memilih tidak memberitahu ibunya dan menyembunyikan kehamilannya dari keluarganya. Cukup dirinya yang tahu dan hanya dirinya yang boleh menderita.
Keesokan harinya, Yuna mendatangi sekolah dimana ibunya pernah bersekolah di sana. Dia berjalan anggun memasuki kantor sekolah. Tatapannya menjurus ke tiap guru yang ada di sana.
"Anda reporter Yuna? Silahkan lewat sini!" salah seorang guru menunduk padanya memberi hormat sebelum mempersilahkan Yuna masuk ke ruang kepala sekolah.
"Terima kasih." balas Yuna sambil berjalan masuk. Dia langsung duduk dan menatap tajam wajah kepala sekolah SMA itu.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya kepala sekolah setelah melihat kedatangan Yuna.
Semalam, Yuna sudah membuat janji dengan kepala sekolah itu. Yuna mencari tahu sekolah ibunya dan langsung mengirim email untuk bertemu di sekolah. Tanpa menunggu lama, Yuna sudah mendapat balasan.
Satu Jam Berlalu...
Yuna keluar dengan berlinang air mata. Setelah keluar dari sekolah SMA yang tidak terkenal, nafas Yuna menjadi sesak. Hatinya terasa di tusuk berkali-kali. Dia tidak kuat membayangkan dirinya berada di posisi ibunya yang dikeluarkan dari sekolah secara tidak hormat. Bahkan, semua teman ibunya mengejek berkali-kali ibunya sebagai pelacur tingkat tinggi.
"Ibu... Kenapa ibu tidak pernah menceritakan masa lalu ibu yang menyakitkan ini?" Ucap Yuna yang memukul stir mobilnya karena marah. Dia semakin menyesal, tidak punya waktu berbicara berdua dengan ibunya dan membahas masa lalu.
Setelah mengatur nafas perlahan dan rasa marah meredup, Yuna menarik kertas berisi alamat. Kepala sekolah sempat memberikan alamat sahabat ibunya sewaktu masih sekolah. Yuna berpikir, bisa mencari tahu banyak mengenai ibunya dari sahabat ibunya sendiri.
Mobil sedan putih melaju dengan cepat, menyalip tiap mobil di depannya. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Yuna sampai di rumah yang bertingkat dua namun terlihat sederhana.
"Aku tidak tahu ibuku punya teman disekitar sini." Ujar Yuna yang membuka pintu mobilnya. Reporter cantik itu terlihat semakin cantik dengan gaya anggungnya ketika berjalan.
"Permisi, aku mau bertemu dengan mbak Loli. Benar ini rumahnya?" Tanya Yuna ketika melihat seorang ibu paruh bayah, yang seusia ibunya tengah menyiram tanaman di depan rumah yang Yuna tuju.
"Ah, kamu pasti Yuna kan? Yuna yang sering muncul di tivi." Tunjuk ibu itu yang langsung mengenali Yuna. Hanya senyum yang terpancar dari wajah Yuna.
Ibu itu membuka pintu pagar lebar-lebar, menyambut Yuna dengan ramah. Dia langsung menyajikan teh hangat tak kalah Yuna bertamu di rumahnya. Senyumnya terus keluar menatap wajah Yuna.
"Kenapa kau datang ke sini? Ibumu menyuruhmu?" Tanyanya seketika.
"Dengan mbak Loli?" Tunjuk Yuna menebak. Saat itu, orang di depannya mengangguk perlahan.
"Ah, maaf. Aku tidak mengenal anda. Aku dengar, mbak Loli dan ibuku berteman baik sejak SMA. Benar bukan?" Tanya Yuna memastikan.
"Bukan hanya teman SMA, bahkan sampai sekarang kami masih berteman. Ibumu juga sering datang ke sini berkunjung." Jelas Mbak Loli.
"Ibuku sudah meninggal satu minggu lalu." Ucap Yuna dengan raut wajah sedih. Saat itu, ekspresi Mbak Loli berubah.
"Apa? Rani sudah meninggal? Kenapa?" Tanya Mbak Loli yang terlihat tidak percaya. Dia sampai mengira jika Yuna berniat bercanda dengannya.
"Yuna, kau itu seorang reporter, pembawa berita. Kenapa mengeluarkan kata-kata yang tidak masuk akal? Ibumu baru minggu kemarin menemuiku dan bilang akan pergi jalan-jalan bersama minggu ini. Apa ibumu sibuk sampai menyuruh berbohong?" Ucap Mbak Loli yang tidak percaya.
"Aku tidak berbohong, semua itu benar. Mbak Loli pasti terkejut, apalagi keluarga yang di tinggalkannya." Ucap Yuna yang menahan air matanya keluar membasahi pipinya. Yuna tidak mau terlihat lemah di depan orang-orang.
"Yuna! Astagfirullah!" Dengan tiba-tiba, wajah mbak Loli kebingungan. Dia sampai memegang dadanya, syok mendengar kabar sahabat baiknya.
"Sejujurnya, aku datang ke sini ingin mencari tahu tentang ayah kandungku. Pihak sekolah tidak memberikan data apapun karena kepala sekolah sebelumnya sudah menghapus semua data tentang ayahku. Aku hanya tahu, anda satu-satunya sahabat dan teman semeja ibuku di sekolah. Mungkin anda tahu tentang laki-laki brengsek yang bernama Bram itu." Ujar Yuna dengan nada suara perlahan.
"Kejadiannya sudah dua puluh lima tahun lamanya. Aku merasa tidak mau mengungkitnya meski masih mengingatnya dengan jelas. Ibumu sangat terpuruk waktu itu dan aku tidak bisa membantu sama sekali. Dia bahkan sampai berniat membunuh dirinya. Setelah ibumu terbukti hamil anak Bram, saat itu Bram menghilang dalam semalam. Dia di kirim keluar negeri oleh ayahnya dan mereka membantah kehamilan ibumu habis-habisan." Jelas Mbak Loli berurai air mata. Wajah yang penuh kerutan meski usianya masih tergolong muda, semakin terlihat tua ketika menangis.
**
**
**
Flash Back..
Rani di tarik paksa masuk ke kamar mandi oleh Bram. Tangan kekar yang sering di gunakan meninju wajah lawannya, kini mencekik leher seorang gadis.
"Kau sudah gila? Apa kau tidak punya otak? Bagaimana bisa kau ingin memberitahu semua orang tentang kehamilanmu. Lalu, apa kau juga menunjuk diriku sebagai ayah dari anak yang kau kandung ini?!" Bentak Bram dengan wajah memerah.
"Le- lepaskan, bodoh! Kau menyakitiku!" Bentak Rani balik yang berusaha melepas cekikan Bram.
"Bagaimana respon semua orang nantinya, ha! Apa kau pikir semuanya akan mempercayaimu? Mereka hanya tahu kita dekat, tidak tahu kita pacaran." Ucap Bram yang terus ingin membujuk Rani untuk mengurungkan niatnya.
"Aku berani melakukan tes DNA." Jawab Rani dengan berani.
"Rani!" Bram semakin marah dan menghempas tubuh Rani. Beruntung tangan Rani memegang ember di dekatnya membuatnya tidak jatuh sepenuhnya.
Tok.. Tok.. Tok..
Seseorang mengentuk pintu dariluar ketika Bram dan Rani masih berada di dalam kamar mandi. Rani tersenyum tipis melihat wajah Bram yang panik. Jelas, Bram takut hubungannya dengan Rani terbongkar.
"Kau takut? Kalau begitu, tanggung jawablah. Beritahukan orang tuaku semuanya, aku tidak mau terus menutupi masalah ini pada mereka. Aku takut mereka akan tahu dari orang lain. Hanya itu keinginanku." Ucap Rani yang memohon.
"Bagaimana aku menghadapi ayahku? Kau tahu sendiri, dia kepala sekolah di sini. Apa kau mau melihat ayahku di permalukan?" Balas Bram dengan suara di tekan.
"Kau takut mempermalukan orang tuamu, begitupun dengan aku, bodoh! Aku juga takut, tetapi harus apa. Hanya ini jalan satu-satunya." Ucap Rani yang kini menangis tersedu di depan Bram. Mengingat wajah orang tuanya yang selalu memberinya makan, membiarkannya belajar dengan baik, bahkan jarang memerintah Rani membuat hati Rani dirundung kesakitan. Apa yang dia balaskan pada orang tuanya hanyalah kesedihan bagi mereka.
"Ran! Kau masih ada di dalam kan?" Teriak Loli sambil mengetuk pintu kamar mandi. Sejak jam istirahat tiba, Rani memberitahunya ingin pergi ke kamar kecil. Namun, bel sudah berbunyi, Rani masih belum kembali.
"Loli ada disini, dia bisa mendengar kita bicara. Jadi, akhiri saja saat ini dan aku tunggu iktikaf baikmu sepulang sekolah." Kata Rani yang membuka pintu dan keluar sendiri. Senyumnya pun bersinar di depan sahabatnya.
Yuna kembali pulang ke rumahnya setelah malam kian datang. Dia tidak mau kedua adiknya menangis mencari dirinya. Terlebih, kedua adik kembarnya baru mendapat pengasuh kemarin membuatnya belum akrab.
Sesampai di rumah, Dio dan Denisa memeluknya erat saat melihat kakaknya datang. Seketika, Yuna teringat dengan ibunya yang selalu menyambutnya ketika pulang.
"Kakak! Kenapa lama sekali? Apa pekerjaan kakak sangat banyak?" Tanya Denisa, gadis manis yang cerewet. Hanya dia yang selalu mengumbar candaan di rumah ini, membuat seisi rumah tertawa karena ulahnya.
"Pekerjaan kakak pasti banyak. Kita biarkan dia istirahat." Ujar Dio, anak laki-laki yang selalu mengerti.
"Kalian sudah makan?" Tanya Yura sambil menatap kedua adik kembarnya. Mereka serentak menggeleng kepalanya. Yura melirik pengasuh yang berdiri dibelakangnya.
"Mereka tidak mau makan, Nyonya. Aku sudah menyuruhnya berkali-kali, mereka berdua terus saja menolak." Adu pengasuh, tidak mau di salahkan.
"Dio, Denisa! Kenapa tidak makan? Perut kalian bisa sakit." Ujar Yura sambil berjongkok dan mengusap lembut punggung kedua adiknya. Saat itu, air mata Dio dan Denisa jatuh membasahi pipinya, diiringi suara tangisan yang perlahan membesar.
"Denisa rindu ibu! Hanya Ibu yang selalu menyiapkan makan untuk Denisa. Hiks.. Hiks.
Hiks.." ujar Denisa yang tidak kuat menahan tangisannya. Berbeda dengan Dio, menangis tanpa suara.
"Dio, keluarkanlah! Tidak baik menanggungnya sendiri. Jika kau ingin menangis, pundak kakak selalu ada untukmu. Ayo menangis! Keluarkan suaramu!" Bujuk Yura yang melihat adik laki-lakinya berusaha terlihat tegar di depannya.
Saat itu, rumah Yura dipenuhi suara tangisan anak. Yura hanya bisa memeluk mereka dengan erat, hatinya terkikis lebih dalam. Kehilangan seorang ibu adalah cobaan terbesar yang pernah dia rasakan. Namun, dia sangat yakin. Ada hikmah dibalik ini semua.
Setelah menenangkan kedua adiknya, Yura berniat beristirahat di kamarnya. Namun, matanya tertuju ke kamar ibunya yang tertutup. Yura sengaja mengunci kamar ibunya, agar kedua adiknya tidak bisa masuk dan menangis di ruangan itu.
"Ibu.." ucap Yura yang membuka pintu kamar ibunya. Dia memeriksa buku harian ibunya lagi yang belum sempat dia baca sepenuhnya. Malam itu, ditemani hujan dan angin beserta petir yang menyambar, Yura membuka tiap lembaran catatan harian ibunya. Dan menemukan sebuah catatan dengan judul, aib yang sengaja diungkap.
Flash Back..
Rani mengumpulkan seluruh siswa dilapangan basket. Bukan hanya siswa siswi yang datang, beberapa guru juga turut hadir. Rani berdiri paling atas, sambil menatap seluruh temannya yang sudah datang.
"Ran! Kepala sekolah juga hadir. Sebenarnya, apa yang ingin kau bicarakan. Kenapa mengumpulkan semua orang ini?" Tanya Loli yang mulai gelisah. Beberapa hari ini, Rani sering sekali termenung di kelas, seperti sedang memikirkan masalah yang besar. Rani yang selalu tersenyum ceria, kini senyumnya menghilang dalam sekejap. Itu membuat Loli bingung dengan tingkah pacarnya.
"Apa Bram juga datang?" Tanya Rani yang mencari keberadaan laki-laki brengsek itu.
"Bram? Kenapa kau menanyakan bad boy dari kelas sebelah? Kau punya hubungan dengannya?" Tanya Loli seketika. Perkataannya itu membuat Rani menatap tajam sahabatnya.
Rani masih menunggu Bram datang, dia ingin mengungkap aibnya di depan semua orang saat ini. Namun, ketika melihat kepala sekolah berbalik, Rani dengan segera menyalakan miq dan menghentikan langkah kepala sekolah yang merupakan ayah Bram.
"Pak kepala sekolah, aku belum selesai memberikan pengumuman. Bisakah anda tinggal lebih lama lagi? Ini tentang masalah anak anda." Ujar Rani dengan lantang. Tidak ada rasa takut yang dia rasakan saat ini. Hanya satu kekhawatirannya. Bisakah anak yang dia kandung mendapat pengakuan dari Bram?
Seluruh siswa menoleh ke arah kepala sekolah, begitupun dengan guru-guru yang hadir. Mereka terkejut sekaligus bingung, apa yang sebenarnya terjadi. Masalah apa yang Bram buat hingga Rani mengumpulkan semua orang. Bisikan demi bisikan, mulai terdengar. Sementara Rani, masih diam dengan memegang miq nya.
"Apa yang dilakukan Bram pada murid kebanggaan sekolah kita? Apa dia membully Rani?"
"Ya ampun, bad boy itu selalu saja mencari masalah hanya karena ayahnya kepala sekolah disini. Dia benar-benar sudah gila, berurusan dengan Rani."
"Bram lagi, Bram lagi. Setiap ada masalah besar, nama Bram pasti dibawa. Tidak kapok anak itu terus mencari masalah."
Semua bisikan sangat buruk bagi Bram. Ayah Bram yang mendengarnya, sangat marah. Dia mengepal keras kedua tangannya, anaknya dibuat malu didepannya sendiri. Rani tersenyum tipis melihat ekspresi wajah kepala sekolah yang marah. Dia tahu, kini sudah saatnya membuka semua aib ini meski dirinya juga dirugikan.
"Masalah terbesarnya adalah aku hamil anak Bram." Ucap Rani seketika. Semua mata membulat, termasuk Loli. Tidak percaya, sahabatnya membuat pengumuman yang konyol.
"Apa itu benar? Apa Rani sedang bercanda?"
"Tidak mungkin. Mereka kan jarang sekali terlihat berdua. Kenapa bisa hamil?"
Disaat semuanya bingung, Bram datang dan menarik tangan Rani untuk turun. Rani melepas cengkraman tangan Bram dan mendorong tubuh Bram menjauh darinya.
"Biar aku jelaskan semuanya. Ini bukan lelucon, aku benar hamil anak Bram. Kami sudah pacaran selama dua tahun lebih. Iya, pacar diam-diam. Bram tidak ingin hubungan kami dipublish karena takut belajarku terganggu. Padahal, semua itu tidak benar. Dia punya banyak pacar diam-diam disekolah ini. Entah apa dia juga menghamilinya atau tidak, tetapi anak yang aku kandung memang anak Bram. Aku serius!" Ujar Rani melanjutkan pidatonya.
Tidak ada satu orang pun bisa berkata-kata, selain menampilkan wajah kecewanya pada Rani dan Bram. Begitupun dengan guru-guru yang hadir. Dia tidak menyangka, murid kebanggaan disekolahnya yang selalu dijunjung tinggi, malah melakukan kesalahan besar.
"Itu tidak benarkan Bram? Senakal-nakalnya kamu, kamu tidak mungkin menghamili siapapun. Rani mungkin hamil anak orang lain." Sahut kepala sekolah yang melangkah maju. Saat itu, situasinya malah berubah. Semua orang menatap Rani dengan tajam, merendahkan, dan menganggap Rani wanita murahan.
"Kenapa aku harus berbohong, pak kepala sekolah? Mungkin kau juga sudah tahu masalah ini dari anakmu sendiri." Ujar Rani dengan tegas. Dia siap bertempur demi nama baik anak yang di kandungnya suatu saat nanti dan juga masa depan anaknya.
"Karena kau tidak ingin dikeluarkan dari sekolah ini setelah kami tahu dirimu hamil diluar nikah. Kau mengincar Bram dan menjebaknya. Aku adalah kepala sekolah sekaligus ayah Bram." Ucap Kepala sekolah yang menatap semua wajah guru yang datang. Dia ingin mendapatkan hati mereka agar apa yang dikatakan Rani, tidak mereka percayai.
"Bisa saja kan ibu guru semua?" Tanya kepala sekolah.
"Sebaiknya kita tanya Bram saja!" Teriak seluruh siswa yang beralih menatap Bram. Wajah Bram tampak gugup, dia menatap Rani sekilas sebelum menundukkan kepalanya. Dia juga merasa bersalah saat ini, harus memilih Rani atau tidak. Namun setelah melihat tatapan ayahnya, Bram justru tertekan. Dia berucap tanpa berpikir.
"Aku tidak pernah dekat dengan Rani. Dia datang dan langsung mengancamku jika dirinya hamil anakku. Tentu saja aku bingung, anak yang selalu dipuji ini bisa melakukan hal yang tidak baik." Ujar Bram seketika. Saat itu, hati Rani benar hancur. Apa yang dikatakan Bram tempo hari menjadi kenyataan. Siapa yang akan percaya padanya saat ini?
"Bram! Jangan bercanda! Aku hanya ingin kau bertanggung jawab pada keluargaku dan mengakui kesalahan ini pada mereka. Itu saja kemauanku. Aku tidak akan minta lebih, hanya untuk anak ini dan orang tuaku saja." Teriak Rani yang memohon.
"Dasar orang tidak tahu malu. Sekarang, kau mengemis didepan Bram agar dia merasa kasihan melihatmu dan mengakuinya meski Putraku tidak bersalah. Kau tahu betul, hati putraku lunak. Ini dia, anak yang tidak seharusnya berada disini. Aku akan usir dia dari sekolah ini sekarang juga!" Titah kepala sekolah dengan suara keras sambil menarik Rani pergi dari sana.
Rani berusaha melepas tarikan calon ayah mertuanya, namun tenaganya tidak cukup kuat. Kakinya tergilir dan tubuhnya terjatuh, tetapi kepala sekolah masih menariknya hingga Rani tidak terlihat oleh Bram. Semua siswa maupun guru, tidak ada yang berani membela Rani. Mereka semua diam di tempatnya dan menutup rapat-rapat masalah ini.