“Tuan Chris, aku sudah membawakan perempuan yang Anda minta. Apa dia perlu kuantar ke ruanganmu?”
Lelaki bernama Christian itu menatap laki-laki yang sedang berdiri di samping mejanya.
“Bawa saja. Setelah itu suruh dia tunggu di ruangan ini. Aku mau bertemu dengan klien. Setelah selesai dengan klien, aku akan menggarapnya,” jawab Christian, seperti biasa dengan wajah dingin dan angkuh miliknya, yang mampu membuat wanita mana pun tergila-gila dan memohon untuk dijadikan teman ranjang melebihi satu malam.
Tetapi tidak bagi Christian, wanita baginya hanya bisa bersama dirinya tak lebih dari satu malam. Dia tak menyukai hubungan yang terikat oleh waktu dalam tempo terlalu lama. Perempuan adalah teman semalam, jika berharap lebih maka lupakan saja.
Christian, lelaki tampan, dingin, angkuh, memiliki segalanya yang diidam-idamkan semua wanita itu tak pernah percaya adanya cinta sejati. Dia seorang CEO di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan online—OneClickZone—yang telah berdiri lebih dari 20 tahun. Usaha itu dirintis sebelumnya oleh kedua orang tua Christian.
Christian memang memiliki kharismanya sendiri. Entah sudah berapa banyak wanita yang dibuatnya sakit hati dan patah hati bersamaan.
Christian melangkah dengan pasti menuju sebuah ruangan. Di dalam ruangan itu hanya ada seorang laki-laki tua paruh baya yang telah menunggunya selama berjam-jam, wajahnya ditekuk, muram. Ketika melihat Christian memasuki ruangan itu, wajahnya semakin masam.
“Selamat siang, Tuan Jackson. Sudah lama menungguku?” tanya Christian berbasa-basi, padahal dia tahu laki-laki paruh baya itu menatapnya dengan penuh kebencian.
“Kau benar-benar keterlaluan, Christian. Aku tak pernah menyangka, kau akan menjegalku dengan cara seperti ini. Kau mengambil investor terbesar di perusahaanku, kau juga mengambil pelanggan-pelangganku dengan cara yang sangat licik!” seru laki-laki yang bernama Jackson seraya menunjuk-nunjuk Christian.
Hanya sesungging senyum yang diberikan Christian padanya.
“Kau tahu dunia bisnis Tuan Jackson. Kejam,” jawab Christian tenang, tak ada emosi sama sekali dalam nada bicara Christian. Sama seperti ketika dia menyakiti hati perempuan-perempuan yang mengharapkan cinta darinya. Datar. Dingin. Tanpa merasa bersalah.
“Kau benar-benar bajingan. Kau—“
“Kau sudah tahu aku seorang bajingan, lalu kenapa kau masih mau berbicara denganku?” tanya Christian tak peduli dengan cacian Jackson padanya. Kupingnya sudah terlalu kebal mendengar cacian dan makian dari lawan bisnisnya yang kalah telak dengan strategi perang yang dimiliki Christian.
“Bahkan kau menghina puteriku secara terang-terangan. Caramu sangat licik dengan mendekati puteriku dan memperalatnya agar kau bisa mengetahui strategi marketing kami!”
Christian melengos, senyum ketir diberikannya pada Jackson.
“Itu salahku? Puterimu sendiri yang dengan sukarela menyerahkan segalanya padaku. Kau tahu Tuan Jackson, laki-laki mana yang akan menolak jika diberikan daging segar? Bahkan aku yakin, kau pun tak akan menolaknya. Begitu kan?”
Jackson tak sanggup lagi menahan emosinya. Dia bangkit berdiri dan menampar wajah Christian. Christian tak memberi reaksi apa pun, hanya mengusap pipinya, lalu tersenyum.
“Terima kasih. Sampaikan pada puterimu, dia bisa menghubungiku kapan saja, kalau masih menginginkannya.”
“Kau benar-benar tak berperasaan!”
Jackson yang dirundung kemarahan, segera angkat kaki dari hadapan Christian. Percuma berbicara dengan Christian, karena Christian tak akan merasa sakit hati sama sekali. Semakin dia dicaci dan dimaki, semakin dia bernafsu memancing kemarahan lawannya. Hingga lawannya benar-benar menyerah dan mengibarkan bendera putih padanya.
Christian menerima panggilan telepon dari sekretarisnya yang mengatakan seorang wanita sudah menunggunya di ruangannya sejak tiga jam lalu. Wanita itu memaksa untuk segera pergi jika Christian masih belum juga menemuinya.
“Katakan padanya, aku akan segera turun ke bawah 10 menit lagi.”
“Baik Tuan Butt. Aku akan segera menyampaikannya.”
Christian bergegas turun menuju lift. Dia sudah tak sabar melepaskan penat bersama wanita yang sudah dipilih oleh kaki tangannya tadi. Entahlah, cantik atau tidak dia tak terlalu peduli, yang penting hasratnya bisa terpuaskan dan membuat plong pikirannya. Sudah beberapa hari ini dia tak bertemu dengan Clara, jadi tak ada yang bisa dimintanya dengan sukarela untuk bertukar keringat.
Clara bukan kekasihnya melainkan seorang penyanyi dan artis terkenal yang sempat dijebak Christian menggunakan foto-foto bugil miliknya. Christian menjebaknya saat mereka menghadiri acara penghargaan penyanyi berbakat di sebuah gedung. Clara sangat susah untuk didapatkan, akhirnya dia meminta seseorang untuk membuat Clara mabuk dengan memasukkan obat tidur ke dalam minumannya.
Akhirnya seperti yang diketahui, tak ada yang bisa menang dari Christian. Dia mendapatkan apa yang dia mau. Dalam keadaan tak sadar, Christian menyuruh seseorang mengambil gambar-gambar Clara dalam berbagai pose sebagai senjata untuk menaklukkan gadis itu.
Clara yang masih perawan sebelumnya, harus rela kehilangannya karena Christian sebagai tersangka memintanya secara paksa.
Christian selalu menggunakan foto-foto itu sebagai senjata agar Clara mau tidur dengannya. Setiap kali Clara berusaha menolak dia akan mengirim satu buah gambar ke ponsel gadis itu dan membuatnya terdiam.
Biasanya gadis-gadis hanya berlaku semalam untuk Christian. Tapi tidak berlaku untuk Clara, karena dia cukup istimewa. Clara selalu menolak, dan Christian tak suka penolakan. Semakin ditolak dia akan semakin mengejar. Toh, lambat laun Clara pun sengaja menolak dan menolak agar Christian tak mencampakkannya begitu saja.
Christian melepaskan jas dan dasi yang dikenakannya. Perlahan dibukanya pintu menuju ke ruang kerjanya. Dilihatnya seorang wanita berambut merah dengan tubuh sintal, seksi, serta memakai pakaian ketat yang menggoda iman sedang duduk di sofa. Wanita itu tak begitu memperhatikan kedatangan Christian, kedua tangannya sibuk memainkan handphone miliknya.
“Ehem.” Christian berdehem meminta perhatian pada wanita itu.
Wanita cantik itu mengangkat kepalanya lalu melempar senyum termanis yang dia miliki. Bagi Christian sama saja, tak ada yang benar-benar istimewa. Setidaknya bisa memuaskannya untuk beberapa saat.
Christian menelepon asisten pribadinya, “Lody, jangan ada yang masuk ke ruanganku. Kurang lebih 30 menit.”
Lody—asisten pribadi—tak menjawab, dia paham dengan maksud Christian barusan. Tak perlu ada yang dijelaskan, karena ini saatnya Christian menuntaskan hasrat yang sudah tertahan selama beberapa hari.
“Siapa namamu?”
“Adelle,” jawab wanita itu. Agak canggung.
Wanita itu hanya diam duduk di atas sofa, sementara Christian terus mendekatinya. Tatapan maut itu seakan membekukan Adelle di tempatnya, dia bahkan tak berkutik ketika Christian mulai melepaskan semua pakaiannya, berganti pada Christian yang mulai melucuti pakaiannya sendiri.
Terpampang sebuah pemandangan yang sangat dinanti-nanti setiap wanita. Tubuh kekar, dengan perut six pack, berotot, membuat Adelle menelan ludah saking gugupnya berkali-kali. Otot-otot yang berada di tubuh Christian begitu liat tercetak dengan sempurna.
“Ada yang harus kukatakan padamu,” ucap Christian dengan nada suara berat menahan gemuruh di dada. Ingin rasanya dia segera menerjang tubuh sintal, seksi tanpa busana di hadapannya.
“Ka-katakanlah,” jawab Adelle penuh keraguan. Adelle sudah diberi informasi oleh asisten pribadi Christian sebelum dia menerima tawaran untuk melayani Christian sebelumnya. Dia tahu Christian tak menganggapnya lebih dari pelacur, jadi tak ada yang bisa diharapkan selain pasrah.
“Aku tak akan memakai pengaman. Pastikan dirimu sudah meminum obat kontrasepsi, karena jika terjadi sesuatu padamu, aku tak akan bertanggungjawab,” kata Christian dengan dinginnya.
Adelle mengangguk. Ya, beberapa jam yang lalu dia telah menenggak sebuah pil kontrasepsi.
“Aku sudah meminumnya. Kau tenang saja, sekalipun terjadi sesuatu padaku, aku tak akan memintamu bertanggungjawab,” jawab Adelle sedikit lebih rileks.
“Baiklah.”
Adelle menahan rasa geli yang mulai merambat dari ujung kaki hingga ujung kepala ketika Christian mulai melancarkan aksinya. Diberikannya sentuhan-sentuhan dan kecupan-kecupan yang memabukkan Adele. Sesekali Adelle mendesah di bawah kendali Christian.
“Buka kedua pahamu lebih lebar, dan jangan menyentuhku. Aku tak mau kedua tanganmu mengotoriku,” jelas Christian padanya. Adelle mengangguk. Paham.
Adelle memejamkan matanya, ketika Christian mulai melesak menghunjamkan miliknya ke dalam diri Adelle. Dia benar-benar tak tahan. Adelle menggigit bibirnya, mencegah agar tak keluar sedikit pun suara. Masalahnya jika dia berteriak atau mengerang mengeluarkan emosi berahi, maka karyawan-karyawan kantor akan mendengarnya.
“Jangan bersuara. Aku tak akan membayarmu.”
“Ehm.”
Benar-benar indah dan menakjubkan melihat wajah Christian yang terus mengendalikan tubuhnya. Ah, seandainya laki-laki ini mau untuk dimiliki, dia bersedia untuk bercumbu setiap malam tanpa harus dibayar sepeser pun.
Christian mendesah saat memberikan hentakan terakhir, menahannya sesaat kemudian melepaskan kendali pada tubuh Adelle.
“Berpakaianlah. Cekmu ada di atas mejaku. Lupakan apa yang telah terjadi hari ini. Aku tak akan mencumbumu untuk yang kedua kalinya.”
“A-aku mengerti.”
Adelle bergegas memunguti pakaian yang terhampar di lantai, memakainya, merapikan riasan di wajahnya, kemudian mengambil cek di atas meja kerja Christian. Setelahnya dia pun pergi.
“Hidupku benar-benar monoton,” ujar Christian seorang diri. Ada rasa sepi yang dirasakannya.
Christian baru saja menghabiskan malamnya dengan Clara, gadis istimewa miliknya. Clara sudah terbiasa dengan sikap dingin Christian selama beberapa bulan ini. Dia sendiri semakin tak peduli dengan sikap Christian yang seperti itu.
Perasaan benci yang dirasakannya pada awal pertemuan lambat laun menimbulkan benih-benih cinta di dalam hati Clara, meski dia tahu perasaan itu akan selamanya bertepuk sebelah tangan. Karena Christian bukan tipe laki-laki yang bisa bertahan dengan satu perempuan sampai kapan pun.
Berada di dekatnya saja, Clara sudah merasakan lebih dari bahagia. Walaupun dia tahu resikonya, cepat atau lambat ketika Christian merasa dia tak lagi istimewa baginya, maka dia harus siap untuk dicampakkan seperti barang usang yang tak lagi dibutuhkan.
Christian mengajak Clara keluar ke sebuah mall. Diajaknya Clara menuju sebuah butik mahal yang menjual barang-barang bermerk dengan harga selangit.
“Ambil yang kau butuhkan,” ucap Christian melepaskan pegangannya pada tangan Clara.
“Kau tak mau menemaniku ke dalam?” tanya Clara.
“Aku tak suka berlama-lama,” jawabnya singkat.
“Baiklah.”
“Bawa kartu ini, gunakan jika kau sudah menemukan barang yang kau mau,” ujar Christian lagi, seraya menyerahkan sebuah kartu platinum pada Clara. Ketika Clara masuk ke dalam butik, Christian memilih untuk berdiri di railing mall dan bersandar.
Lamunannya terhenti ketika didengar suara tangisan seorang anak laki-laki yang tak jauh dari tempatnya berdiri dan menunggu Clara.
Christian melihat seorang anak laki-laki berambut pirang keemasan, dengan bola mata berwarna hijau, dengan wajah menggemaskan sedang menangis kebingungan. Christian sedikit tertarik dan mulai mendekati anak laki-laki itu.
“Kenapa kau menangis?” tanya Christian dengan intonasi suara yang sangat lembut.
“Aku terpisah dari Mama,” jawab anak laki-laki itu sesekali menyeka ingus di hidungnya. Kedua matanya yang bulat terlihat lucu di mata Christian. Entah kenapa wajahnya mengingatkan pada dirinya sewaktu masih di usia yang sama dengan anak laki-laki itu.
“Mamamu meninggalkanmu?” tanya Christian sekali lagi.
Anak laki-laki itu menggeleng. Ujung lengan bajunya dijadikan lap untuk membersihkan kedua matanya yang sembab karena menangis.
“Aku melepaskan tangan mama lalu berjalan ke toko mainan. Mama tak sadar kalau aku sudah tak mengikutinya,” jawab anak itu dengan lancar.
“Kau mau ikut denganku? Kita ke bagian informasi, kita panggil mamamu, bagaimana?” ajak Christian pada anak kecil itu.
“Aku tak berani ikut orang asing.”
“Kenalkan namaku Christian,” kata Christian seraya mengulurkan tangannya.
“Jack,” balas anak kecil bernama Jack itu. Jack masih bingung, kepalanya terus mengikuti gerakan orang-orang yang melintas di depannya, berharap mamanya ada di antara kerumunan orang-orang yang hilir mudik.
“Kau mau ikuti saranku?” tanya Christian dengan sesungging senyum tipis yang jarang sekali diperlihatkannya. Senyuman itu terlihat begitu hangat. Jack merasa orang di hadapannya dapat dipercaya. Jack meraih tangan Christian.
Christian membawa Jack ke bagian informasi dan meminta pria yang sedang berada di consierge untuk memanggil ibu dari anak itu. Dia meminta untuk segera mengumumkannya. Entah mengapa Christian begitu senang melihat wajah imut Jack. Sesekali dia mengacak rambut Jack kemudian memainkan pipi bocah lelaki berusia enam tahun itu.
“Tuan, apa kau melihat anak lelaki ini?” tanya Audrey pada seorang lelaki tua yang melintas di sampingnya seraya memperlihatkan foto seorang anak laki-laki di handphonenya.
Lelaki tua yang ditanya Audrey menggeleng. Lemas rasanya lutut Audrey ketika tak satu pun orang yang ditanya menjawab tak pernah melihat sosok anak laki-laki yang ada pada foto.
“Astaga Jack. Aku harus mencarimu ke mana, kenapa kau melepaskan tangan mama,” desah Audrey frustasi. Anak laki-laki satu-satunya, kesayangannya yang selalu ada bersamanya, hilang tiga puluh menit yang lalu di antara keramaian dan hiruk pikuk.
Tak lama kemudian didengarnya suara panggilan dari pengeras suara di mall. Menyebutkan ada seorang anak laki-laki yang tersesat dan mencari ibunya.
Christian masih bersama Jack, diberikannya microphone yang berada di tangan laki-laki di bagian informasi kepada Jack.
“Kau panggil mamamu, dia pasti akan mengenali suaramu,” ujar Christian.
Jack menurut, diambil microphone yang disodorkan Christian padanya. Jack pun membuka suara, “Mama! Aku menunggu mama di bagian informasi. Mama, aku takut!”
Audrey yang mendengar suara Jack di pengeras suara, langsung menghambur menerobos keramaian. Dia berlari sekuat tenaga, mencari bagian informasi. Saat dia menemukan tempat yang ditujunya meski dari jarak 50 meter, dia tahu laki-laki yang sedang bersama Jack.
Wajah Audrey memucat seketika, dia tak mempercayai pemandangan yang ada di depan matanya. Kedua matanya memandang wajah Christian dengan penuh kebencian.
“Kenapa dia bisa bersama Jack?” ucap Audrey pada dirinya.
Sementara Christian masih terus menemani Jack, dia terlihat sangat peduli dengan anak laki-laki kecil itu, tak sedetik pun dilepasnya pegangan pada tangan Jack. Christian sendiri tak mengerti, ada perasaan hangat yang mengalir pada dirinya ketika tangan mungil itu menggenggam erat tangannya.
Audrey melangkah perlahan. Dia berharap, Christian tak mengingat wajahnya. Jika Christian masih mengingat wajahnya, maka habislah Audrey. Audrey merasakan kedua telapak tangannya menjadi sangat dingin perasaan gugup yang dihadapinya saat ini. Jantungnya berdegup sangat kencang.
Hanya tinggal satu meter lagi dia akan berhadapan langsung dengan laki-laki yang membuatnya hancur tanpa sisa dan menyisakan luka padanya dulu.
“Permisi,” ucap Audrey ketika sudah berada di hadapan Christian dan Jack.
“Ya? Apa kau ibu dari Jack?” tanya Christian tanpa rasa bersalah. Wajahnya menunjukkan dia tak mengenal perempuan cantik berambut panjang di hadapannya saat ini.
Audrey mengepalkan tangannya. Ah, seandainya saja kau tahu, Christian!
“Benar. Bisa berikan Jack padaku,” pinta Audrey menahan agar dia bisa menjaga emosinya saat ini. Suaranya sedikit bergetar.
Jack yang merasa senang melihat Audrey, langsung menghambur ke pelukan Audrey ketika Audrey membuka lebar kedua tangannya.
“Maafkan Mama,” kata Audrey kemudian mengecup kening Jack.
“Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Christian tiba-tiba. Sejak tadi, Christian terus memperhatikan wajah cantik di depannya tanpa berkedip. Dia merasa wajah itu sangat familiar, tapi dia lupa pernah bertemu di mana, atau hanya kebetulan saja mirip?
Audrey menggeleng cepat, kakinya ingin buru-buru pergi meninggalkan bagian informasi.
“Sebentar, aku seperti pernah melihatmu,” kata Christian sekali lagi membuat langkah Audrey semakin tertahan.
“Sudah kukatakan, kau tak mengenalku,” jawab Audrey cepat lalu menundukkan kepalanya.
Christian yakin dia pernah bertemu dengan Audrey sebelumnya. Keningnya mengerut menyatukan kedua alis tebal miliknya. Christian berusaha keras mengingat wajah Audrey.
“Aku ha-harus pergi. Terima kasih sudah menolong anakku,” pamit Audrey. Dia harus segera pergi, jangan sampai Christian mengingat apa pun. Jangan sampai!
Audrey menggendong Jack, kemudian dengan cepat berlalu dari hadapan Christian. Christian yang tadinya ingin mengejar Audrey membatalkan niatnya ketika tangan Clara menggamit lengannya.
“Kenapa kau ingin mengejar perempuan itu?” tanya Clara penasaran.
“Wajahnya tak asing. Aku seperti pernah melihatnya, tapi aku lupa kapan aku bertemu dengannya,” jawab Christian.
Sebenarnya Clara tak suka jika Christian membicarakan wanita lain, apalagi membicarakan percumbuannya dengan wanita-wanita semalam yang dibayarnya. Sangat memuakkan. Tapi apa yang bisa diperbuat Clara, dia sendiri bukan siapa-siapa bagi Christian. Hanya sebatas pelacur istimewa yang tertindas.
“Mungkin mantan kekasihmu,” sindir Clara agak cemburu.
“Aku tak pernah memiliki mantan. Sejak dulu aku tak pernah berhubungan serius dengan siapa pun. Kau tak perlu cemburu, karena suatu hari aku akan melepasmu. Jadi tak perlu menyindirku. Sindiranmu tak mempan, justru kalimatmu akan berbalik menyakiti dirimu sendiri,” balas Christian tak lebih pedasnya dari kata-kata Clara yang hanya beberapa kata.
‘Bajingan kau, Chris!’ batin Clara.
Audrey tak henti-hentinya menarik napas. Sesekali dia melihat ke belakang, takut jika Christian terus mengikutinya. Sumpah demi apa pun, dia tak ingin lagi berhubungan apa pun dengan laki-laki itu. Cukup sekali seumur hidupnya.
Audrey segera mengeluarkan kunci mobil miliknya, dan menyuruh Jack segera masuk ke dalam.
“Mama, Christian sangat baik padaku. Tadi dia yang membantuku un—“
“Cukup! Jangan sebut nama itu lagi depan mama. Aku tak mau mendengarnya!” kata Audrey setengah membentak pada Jack.
Kedua mata Jack memerah, menahan tangis mendengar suara bentakan Audrey.
“Ma-maaf, Sayang. Mama tak bermaksud membentakmu. Tapi, lupakan laki-laki tadi. Dia bukan laki-laki yang baik. Kau tahu kan seperti apa laki-laki yang baik itu?”
Jack mengangguk kemudian memeluk Audrey.
“Laki-laki baik tak akan menyakiti perempuan. Seperti aku yang tak pernah menyakiti mama,” jawab Jack.
“Benar. Kau tak akan pernah menyakiti mama, tidak akan. Tapi seseorang telah menyakitiku, bahkan menghancurkanku,” ucap Audrey setengah berbisik. Hatinya terasa hancur melihat kehadiran Christian beberapa menit yang lalu.
Wajah Christian membayang-bayanginya selama bertahun-tahun menyisakan sakit yang seorang pun tak bisa memahaminya. Bahkan gara-gara Christian semua menjauhinya, bahkan keluarganya pun ikut memusuhinya. Keluarganya seorang Katolik Orthodoks dan masih memegang ajaran-ajaran kolot yang mengharuskan seorang anak perempuan harus menjaga kesuciannya.
Ketika semua itu terjadi padanya tujuh tahun yang lalu, padahal semua bukan kemauannya, tapi lagi-lagi dia yang disalahkan. Seandainya saja Christian tak tiba-tiba muncul seperti hari ini, mungkin dia tak akan merasa hatinya seperti tertusuk-tusuk sembilu.
Audrey menyalakan mesin mobil, kedua matanya berkaca-kaca menimbulkan embun di depan mata.
“Jack, seandainya kau masih mempunyai papa, apa kau akan bahagia?” tanya Audrey pada Jack yang berada di sampingnya.
“Papa? Tapi kata mama, papa sudah meninggal?”
“Hanya seandainya, apa kau ingin menemuinya?”
Jack menggeleng.
“Kenapa?”
“Aku tak butuh papa. Aku hanya butuh mama.”
Audrey menangis sejadi-jadinya menyisakan tanya dalam benak Jack. Dia tak pernah melihat Audrey menangis sampai sesegukan. Audrey tak pernah mengajarinya untuk membenci seorang ‘papa’ dia hanya mengatakan papanya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil untuk membungkam Jack tak bertanya lagi ke depannya mengenai ‘papa’.
Audrey menutup mulutnya dengan satu tangannya berusaha untuk tak terlalu emosional.
“Apa kau bahagia bersama mama?”
“Sangat bahagia, Mama,” jawab Jack dengan pasti lalu tersenyum memamerkan sederet gigi serupa kelinci berderet rapi.
*
“Tidak!”
Napasnya memburu, keringat mengucur deras dari pelipis Audrey. Diliriknya jam yang berada di atas nakas, baru pukul dua pagi. Lalu diliriknya sisi kiri tempat tidur, Jack masih tertidur sangat lelap. Dia baru saja bermimpi.
Memimpikan sesuatu yang sangat buruk, yang membuatnya ingin terjaga semalaman.
“Ya Tuhan. Kumohon jangan pertemukan aku lagi dengan Christian. Bertemu dengannya adalah mimpi buruk bagiku,” ucap Audrey. Satu tangannya mengusap lengan berusaha menghalau rasa khawatir yang terus berputar-putar pada benaknya.
Audrey mengusap kasar wajahnya, ada perasaan takut mendera. Semoga saja pertemuannya kemarin dengan Christian setelah bertahun-tahun adalah pertemuan terakhirnya.
Audrey mencoba memejamkan kembali kedua matanya, dan mengenyahkan perasaan tak nyaman dalam hatinya. Dia berharap tak perlu lagi serpihan ingatan tentang masa lalu yang harus hadir dalam mimpinya. Terlalu menyakitkan!
*
Pagi-pagi sekali Christian sudah bangun, dan meminta pembantu mempersiapkan segala keperluannya. Melody, wanita berusia 60 tahun membawakan setelan jas milik Christian. Wanita itu sudah berada di rumah keluarga Butt selama hampir 40 tahun lamanya. Dia tahu seperti apa keburukan keluarga tersebut.
“Semalam kudengar papa bertengkar dengan mama, ada apa?” tanya Christian pada Melody seraya mengikat dasinya di depan cermin besar.
Melody tertunduk, wajah rentanya tak berani menatap langsung Christian.
“Tuan semalam membawa perempuan ke rumah. Seperti biasa Nyonya tak bisa melakukan apa pun.”
Christian menarik bibirnya miring ke atas, tergambar jelas dari raut wajahnya dia tak pernah menyukai bandot tua itu, meski tanpanya Christian tak akan pernah lahir di muka bumi.
“Jadi benar kan, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ibu selalu menyuruhku menikah, punya anak, berhenti bermain perempuan. Lalu apa kabarnya dengan bandot tua yang selalu dicintai ibu? Dia sendiri tak bisa mengubah sifat buruknya, lalu memberikan kuliah padaku setiap aku membawa perempuan ke kantor atau ke apartemenku!”
“Maaf, Tuan Muda. Biar bagaimanapun Tuan Besar adalah ayahmu.”
“Benar, dia ayahku. Tapi dia yang menciptakan monster sepertiku.”
Christian membentangkan satu tangannya, Melody dengan sigap membantu memakaikan jas.
“Lalu apa dia memukul mama?”
“Seperti biasa, tak perlu diragukan,” jawab Melody pendek.
“Lalu?”
“Yang lebih mengejutkan, perempuan yang dibawa Tuan sudah hamil dua bulan. Tuan juga bertengkar dengan wanita itu, memintanya menggugurkan bayi dalam kandungan, tapi wanita itu menolak.”
“Suruh gugurkan saja, aku tak mau punya adik dari perempuan jalang. Repot-repot bertengkar, mempertahankan, ujung-ujungnya janin itu tak akan pernah menjadi bayi yang lahir ke dunia. Sudahlah, aku akan berangkat ke kantor.”
“Tuan tak sarapan lebih dulu?” tanya Melody.
“Tidak.”
Christian menuruni tangga setengah berlari, dilihatnya Jane—ibunya—sedang berdiri di depan jendela menatap ke arah luar. Chris penasaran apa yang dilihat ibunya sampai sebegitu seriusnya.
“Ma?” panggil Chris lembut.
Wanita yang dipanggilnya ‘ma’ langsung menoleh, kemudian tersenyum—sedih—ke arah Chris.
“Kau mau berangkat?”
“Apa yang mama lihat ke arah luar?” Chris mengikuti arah pandang Jane, dilihatnya Howard—ayahnya—sedang memapah seorang wanita masuk ke dalam mobil hitam. Sudah pasti itu perempuan sampah yang semalam dibawanya pulang ke rumah.
“Tak perlu mengatakan apa pun, Chris,” ucap Jane datar. Sudah terbiasa dia menyaksikan pemandangan seperti itu selama hampir dua puluh lima tahun. Diakuinya, semua berawal dari kesalahan yang diperbuatnya sehingga Howard menjadi bajingan seperti sekarang. Jane tak bisa menyalahkannya.
“Ma, masa lalu kadang membuat kita menyerah pada segalanya, bukan?”
“Aku tahu, sangat tahu. Seharusnya aku tak berbuat kesalahan itu, jika aku tak berbuat seperti itu maka Howard akan tetap Howard yang kukenal semasa kuliah sampai dia menjadi seorang penguasa di dunia perdagangan. Sudahlah, kau bukannya harus bekerja? Jangan biarkan klienmu menunggu,” ujar Jane. Diusapnya pundak Chris.
Entah siapa yang harus sangat dibencinya. Mama atau papanya?
Tak ada yang bisa disalahkan oleh Chris. Mamanya yang lebih dulu berselingkuh dengan kaki tangan papanya, di saat bisnis milik papanya semakin menanjak. Tapi setidaknya Howard tak menceraikan istrinya.
Saat itu Howard sempat berkata jika Jane bisa melakukan hal seperti itu padanya, dia akan tetap bertahan tapi dia akan memberitahunya seperti apa rasa sakit dikhianati dengan memberinya 100x lipat pelajaran dari apa yang dia perbuat sebelumnya. Howard melakukannya, meski dia tahu dia membutuhkan Jane di sisinya, tapi membuat Jane bertahan untuk menikmati rasa sakit itu.
“Chris,” panggil Jane sebelum puteranya benar-benar lenyap dari pandangan.
“He-em?”
“Menikahlah.”
“Aku akan menikah jika aku sudah menghancurkan setengah dari populasi wanita di dunia,” jawab Chris santai, kemudian melenggang masuk ke dalam mobil.