“Jadi begitu ya? Ibu benar sudah yakin mau menempuh jalan damai?” suara Briptu Arif terdengar menyelidik.
“Iya. Tolong pertemukan saja saya dengan Bang Almann sekarang Pak. Saya nggak punya banyak waktu. Saya harus cepat pulang ke kota. Orang tua saya sedang sakit,” jawab Saliha dengan ekspresi muka datar.
Briptu Arif mengangguk. “Baik, tunggu sebentar.” Dia berdiri dan menghilang dari balik pintu keluar.
“Surat perjanjiannya nggak lupa dibawa kan?” suara Amir mengagetkan Saliha yang sempat termenung.
“Ada Bang, di dalam tas. Semoga Bang Almann mau tanda tangan. Urusan kita harus selesai hari ini juga. Aku takut kalau kelamaan bisa-bisa nanti Hinra berubah pikiran.”
“Yakin mau melepaskan dia dari jerat hukum? Dia udah menculik adik kamu selama sebelas tahun.”
“Dia nggak sejahat itu. Aku juga sebenarnya nggak mau melibatkan polisi. Kalau melihat kedekatan Hinra dengan Bang Almann, pasti Bang Almann sangat menyayangi Hinra dan memperlakukannya dengan baik selama ini. Tapi kalau tanpa campur tangan polisi, nggak akan semudah itu kita membawa Hinra dari sekolah.”
“Apa ada cerita yang nggak aku tahu? Kamu terlihat marah dan emosi saat tahu di mana Bang Almann, tapi sesekali kamu juga terlihat lemah. Ai juga berapa kali berpesan dengan kita untuk nggak menyakiti perasaan Bang Almann. Sebenarnya apa hubungan kalian semua di masa lalu?”
“Bang Amir nggak perlu merisaukan hal itu. Apa yang terjadi dulu, biarlah berlalu. Jangan paksa aku untuk mengingatnya lagi. Semua yang terjadi di masa lalu itu terlampau menyakitkan bagi kami.” Terdengar getar suara Saliha menahan tangis.
Amir kali ini diam tidak menjawab lagi. Tak lama dilihatnya Briptu Arif datang dengan membawa Almann. Amir menjawil lengan istrinya sambil memberi kode ke arah Almann. Saliha tersadar dan menoleh.
Dilihatnya Almann yang berjalan tanpa semangat. Wajahnya terlihat keruh, tak ada cahaya sama sekali. Kantung matanya terlihat jelas, menandakan ia kurang tidur. Bang Almann benar-benar terlihat jauh lebih tua dibandingkan saat dulu ia mengenalnya.
“Mari kita duduk di sebelah sana untuk negosiasi,” Briptu Arif menunjuk ke sudut ruangan yang dilengkapi sofa dan meja kecil. Cukup untuk mereka berempat.
Saliha dan Amir berdiri dari kursinya dan mengikuti Briptu Arif yang sudah berjalan lebih dulu di depan. Mereka mengambil posisi duduk masing-masing. Almann duduk berhadapan dengan Saliha. Tapi pandangan matanya selalu tertuju ke bawah.
“Mann, Ibu Liha mau menempuh jalan damai. Dan kamu bisa keluar dari sini secepatnya,” Briptu Arif tersenyum. Tapi Almann tidak banyak merespon. Dia hanya melayangkan pandangannya ke arah Saliha.
“Tapi Abang harus menandatangani surat perjanjian ini,” Saliha mengeluarkan sebuah map, menyerahkannya kepada Briptu Arif. Briptu Arif membuka map dan mendapati dua lembar surat perjanjian yang bermaterai.
“Kenapa harus ada surat perjanjian?” Almann menatap Saliha tanpa kedip.
“Mari akhiri hubungan kita sampai di sini. Kita buat perjanjian hitam di atas putih. Selepas ini Abang bisa hidup tenang sendiri.” Saliha pun balas menatap Almann, berusaha menunjukkan kalau ia sedang serius dan tidak mau diremehkan.
“Tolong bacakan apa isi surat perjanjiannya, Pak Arif.” Almann berkata tanpa menoleh. Matanya masih lekat menatap Saliha yang juga sedang memandangnya dengan tatapan dingin.
“Panjang ini... Tapi aku sebut poin-poinnya aja ya,” Briptu Arif mulai membaca surat perjanjian itu, sambil mencari poin penting yang akan disampaikannya kepada Almann.
“Poin satu, Saudara Almann dilarang untuk mendekati apalagi bertemu dengan Saudara Hinra, baik secara pribadi maupun lewat orang lain, selamanya, terhitung mulai saat ini. Poin dua, Saudara Almann dilarang untuk merespon apabila suatu saat nanti Saudara Hinra menghubungi dan mengajak bertemu Saudara Almann. Poin tiga, apabila Saudara Almann setuju untuk menandatangani isi surat perjanjian ini dengan kesadaran diri sendiri, maka Saudara Almann akan dibebaskan dari tuntutan hukum dan akan diberikan kompensasi sekedarnya berupa uang untuk menggantikan biaya merawat dan membesarkan Saudara Hinra. Sekian.” Briptu Arif menutup kesimpulannya.
“Hehehh... Kompensasi sekedarnya... Itu berarti kamu memang merasa tidak sanggup untuk mengganti apa yang telah kuberikan untuk Hinra selama ini,” Almann tersenyum perih, matanya mulai kembali berkaca-kaca.
“Kami bukan orang kaya, hanya berusaha menghargai tetes keringat orang,” Saliha menjawab sengit.
“Kamu nggak perlu memberikan kompensasi apa-apa. Cukup izinkan aku untuk bertemu Hinra sesekali.”
“Nggak. Bisa aja suatu saat nanti Abang bawa dia lari lagi....”
“Kalau gitu kasi kesempatan Abang untuk bertemu dia sekarang, untuk yang terakhir kalinya....” Air mata Almann mulai keluar tanpa bisa ditahan.
“Aku udah bilang sejak awal kalau itu juga nggak mungkin. Apalagi besok kami udah harus pergi dari sini. Kalau Hinra ketemu Abang, bisa-bisa dia nggak mau ikut kami.”
“Kenapa kamu bisa setega ini Liha...!!!!” Almann menggebrak meja dan langsung berdiri. Membuat beberapa orang personil polisi yang ada di ruangan itu terlihat bersiaga, termasuk Briptu Arif. Sementara Amir refleks melintangkan lengan ke depan badan istrinya, khawatir Almann melakukan kekerasan terhadap Saliha.
Almann terlihat menahan kemarahan. Suara nafasnya terdengar. Dan terlihat kedua bahu yang turun naik mengimbangi nafasnya yang memburu.
“Aku mengenalmu Liha. Aku juga tahu bagaimana sifatmu. Tapi aku nggak pernah menyangka kamu bisa sekejam ini!”
“Silakan Abang tandatangani, setelah itu Abang nggak akan bertemu lagi dengan orang yang kejam seperti aku....”
“Aku nggak akan tandatangani, aku akan hidup dalam harapan untuk bertemu Hinra sekalipun harapan itu sangat kecil.” Kali ini Almann kembali duduk, tapi matanya tetap tertuju pada Saliha dengan pandangan yang membuat Saliha merinding.
“Kalau gitu Abang akan tetap dipenjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatan Abang selama ini....”
“Apa yang buruk dari itu? Dipenjara lebih baik bagiku daripada pulang ke rumah tapi tidak bisa bertemu dengan anak yang kusayangi dengan segenap jiwa ragaku.” Air mata Almann kembali keluar tanpa dikomando. Hatinya benar-benar perih teriris. Tak ada kata yang bisa melukiskan betapa hancurnya ia saat ini.
“Terserah Abang. Kalaupun Abang tetap bersikeras untuk dipenjara dan tidak mau menandatangani surat perjanjian ini, akan kupastikan Hinra melupakan Abang dan tidak akan pernah lagi mengingat secuil pun kenangannya selama bersama Abang.”
“Aaaarrggghhhh......!!!!” Kali ini Almann bergerak maju ke depan hendak menerkam Saliha. Tapi semua yang ada di situ sudah bersiap, Amir melindungi istrinya, membawanya menjauh, dan Briptu Arif dengan cepat menangkap dan menekan tubuh Almann ke lantai.
“Kau benar-benar jahat Liha! Dulu kau jahat. Sekarang pun sama. Kau tidak memberikan aku kesempatan bertemu Hinra untuk menjelaskan apa yang terjadi, dan sekarang kau mau memberikan cerita yang buruk tentangku pada Hinra. Membuatnya membenci dan melupakanku.” Almann berteriak sambil memukul lantai dengan kedua tinjunya. Tangannya sakit. Tapi hatinya jauh lebih sakit.
“Tahan Mann....” Briptu Arif menepuk punggung Almann yang berada di bawahnya. Ia merasa kasihan. Tapi harus tetap menahan agar Almann tidak melakukan hal buruk yang bisa memberatkan hukumannya.
“Tolong suruh mereka pergi Pak.” Almann menangis dengan menelungkupkan wajahnya ke lantai. “Bilang kalau mereka sudah bisa pergi sekarang. Dan tolong bawa kembali surat perjanjian itu.”
Almann menangis seperti anak kecil yang tidak diberi izin untuk membeli mainan. Briptu Arif hanya bisa memberi kode dan disambut anggukan Amir. Dia merangkul Saliha keluar. Terlihat mata Saliha yang merah, seperti menahan tangis.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Saliha sejak mereka pergi dari kantor polisi hingga sampai ke penginapan tempat Hinra berada. Hanya terlihat ia menyeka air matanya yang sesekali jatuh diam-diam.
Hinra menggeliatkan badannya. Meregangkan tangan dan kaki. Membuang penat setelah lama tertidur. Sesekali ia mengerjapkan mata, tersugesti untuk menajamkan penglihatan yang terasa masih mengabur. Diliriknya jam dinding. Sudah hampir jam 3 sore.
“Lama juga aku tidur,” pikirnya.
Perlahan ia duduk. Menurunkan kedua kaki di sisi tempat tidur. Menggaruk tengkuknya sambil menguap. Kebanyakan tidur malah terasa capek. Akibat tidak ada kegiatan sama sekali selama tiga hari ini membuatnya gampang mengantuk. Belum lagi kalau malam ia tidak bisa tidur akibat terlalu banyak yang dipikirkan.
“Udah bangun?” suara Handari membuatnya sedikit kaget. ”Pangeran tidur akhirnya tersadar ya,” ejeknya sambil sedikit mengikik.
“Kenapa Kak Ai nggak bangunkan?”
“Biar aja, nggak tega mau bangunin. Lagian nggak ada yang mau dikerjain kan?”
“Bang Amir belum pulang?” Hinra mencari sosok teman sekamarnya itu.
Mereka menyewa dua kamar. Handari sekamar dengan Saliha, sementara Hinra ditemani Amir. Hanya siang saja Handari menemaninya, karena Saliha dan Amir sibuk ke sana-kemari menyelesaikan segala urusan. Dan tadi pagi mereka berdua sudah pergi sejak jam delapan pagi setelah selesai sarapan bersama.
“Tadi udah pulang sebentar sekitar jam satu. Tapi langsung pergi lagi. Katanya mau nyusul Kak Liha di kantor polisi.”
“Oohhh....” Hinra membulatkan bibirnya. Kak Saliha setiap hari memang selalu ke kantor polisi. Hinra sendiri hanya sekali datang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan dan kesaksian. Sementara Bang Amir bolak-balik ke sekolahnya, mungkin mengurus surat pindah. Mereka juga pasti pergi ke kantor desa atau RT atau apalah itu untuk mengurus surat pindah domisili untuknya. Karena itu mereka selalu pergi dari pagi dan pulang saat hari mulai gelap.
“Kamu makan dulu ya. Kelewat jam makan siang dari tadi. Nanti masuk angin. Nasi bungkus punya kamu udah ngembang kayaknya kena kuah.” Handari mengeluarkan sebuah nasi bungkus dari dalam sebuah kantong plastik warna hitam.
Hinra berdiri dan berjalan menuju meja. Langsung duduk di kursi. Perutnya memang sudah lapar. Dia terbangun tadi juga karena bermimpi makan ayam kampung bakar kesukaannya.
Sekarang dia sudah mulai terbiasa memanggil kakak-kakaknya, rasa malu dan canggung mulai berkurang. Terutama dengan Handari. Kakaknya yang satu itu memang lebih lembut, lebih lucu, lebih enak diajak bercanda dibandingkan dengan Saliha.
Sejak malam pertama ia ikut mereka, saat malam itu mereka bicara dan membahas segala sesuatu tentang alasan kenapa sekarang ia berada di sini, Hinra mulai membuka hati untuk menerima kenyataan.
Dari yang ia dengar melalui cerita Saliha, Almann adalah teman kerja kakak sulungnya yang bernama Aily, yang kini sudah tiada. Saat Kak Aily meninggal dunia karena kecelakaan kerja, Bang Almann membawanya lari dari rumah tanpa izin.
Hinra merasa agak emosi saat mendengar cerita dari kakaknya. Tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia juga sangat merindukan Bang Almann. Tapi ia tidak berani mengutarakan, karena tatapan tajam dan dingin Saliha yang selalu muncul setiap kali ia menanyakan soal Bang Almann.
“Kok malah bengong? Nggak suka?” Handari menegurnya yang terlihat memandang lama nasi bungkus yang telah dibuka. “Kalau ikan kembung kamu bisa makan, kan?” tanyanya.
Sebab yang Handari tahu Hinra hanya tidak suka memakan ayam broiler. Kemarin saat lauk ayam broiler digoreng, Hinra bilang ia tidak bisa memakannya. Hinra hanya mau makan ayam kampung atau ayam merah. Sementara tidak ada menu itu di warung makan kecil. Hanya ada ikan kembung yang di panggang.
“Eehhh... Anu Kak... Kalau aku makan ikan, Bang Almann selalu memisahkan tulangnya. Dulu aku pernah ketulangan ikan. Jadi aku takut makan ikan langsung, kecuali ikan yang berdaging tebal.” Hinra menjawab dengan tidak enak hati.
Handari tercenung sesaat. Sejurus kemudian ia mendekat dan dengan telaten memisahkan tulang dari daging ikan kembung bakar yang tadi dibelinya.
“Makasih Kak.”
Handari mengangguk dengan senyum yang sedikit dipaksakan. “Jadi tiap mau makan ikan, Bang Almann selalu pisahkan tulangnya untuk kamu?”
“He-em....” Hinra mengangguk sambil menjawab dengan bergumam. Mulutnya sudah penuh dengan nasi.
Handari merasa terenyuh dengan pengakuan Hinra. Sungguh Bang Almann benar-benar memperlakukan Hinra dengan sangat baik. Seperti yang dulu ia lihat saat Kak Aily masih ada bersama mereka.
“Tapi kamu kan udah besar. Masa’ nggak bisa misahin sendiri tulang ikannya.”
“Eemmm... Bang Almann bilang kalau aku misahin tulang ikan sendiri nanti tangan aku yang tercucuk tulang. Jadi sampai sekarang aku nggak berani.” Hinra menjawab dengan malu. Sementara Handari hanya menghela napas perlahan.
“Oh iya... Tadi pas Bang Amir pulang ada bawa surat sama kantong plastik. Katanya titipan dari teman sekolahmu. Perempuan, cantik lagi...”
Hinra menghentikan suapan. Dia tahu pasti siapa teman yang dimaksud. Mia... Hanya dia yang akrab dengannya, karena mereka bertetangga sejak ia dan Bang Almann baru pindah di desa kecil ini.
“Bang Amir tadi ke sekolahku lagi?”
“Iya, katanya semua udah beres. Besok kita ke sekolah buat ambil surat pindah, sekalian pamit sama Guru dan teman-temanmu, setelah itu kita langsung pulang ke kota.”
Kalimat terakhir dari Handari membuat selera makan Hinra mendadak hilang. Suatu desir dingin tiba-tiba menyeruak dalam hatinya. Terasa ada suatu luka menganga yang membuat perih. Mata dan hidungnya terasa mengembang. Meski tangan tetap menyuap makanan masuk ke dalam mulutnya, semua terasa hambar tanpa rasa. Untuk menyudahi santapannya Hinra merasa tidak enak dengan Handari.
“Mana Kak, titipan temanku?”
“Habisin dulu makanannya, nanti Kakak berikan.” Handari menjawab tegas. Mau tidak mau Hinra melanjutkan makan.
***
Hinra membuka surat bersampul polos yang tadi Handari berikan. Sekarang kakaknya itu sedang berada di kamar sebelah. Sebuah toples plastik kecil yang juga dititipkan tadi ia letakkan di atas meja. Benar dugaannya, surat ini dari Mia. Terlihat tulisan rapi nan indah khas milik Mia begitu Hinra membuka lipatan surat itu.
“Hai Hinra.....
Apa Kabar? Kamu sekarang ada di mana? Kenapa udah dua hari kamu nggak ada kabar lagi? Nggak datang ke sekolah lagi?
Hinra, aku dengar selentingan kabar katanya kamu mau pindah sekolah. Benarkah? Apa pindah juga dari kampung kita?
Aku juga nggak pernah lagi liat Bang Almann di rumahmu. Rumahmu selalu gelap sejak waktu itu kamu pulang sekolah lebih awal.
Hinra jangan pindah ya... Aku sedih... Nanti aku nangis... Aku janji kalau kamu nggak jadi pindah aku akan baik sama kamu... Nggak marah-marah lagi. Aku nggak akan ngomel kalau bantu kamu ngerjain PR.
Hinra, aku titip emping melinjo kesukaan kamu. Aku nggak tahu siapa Abang ini, yang jelas aku melihat dia yang kemarin jemput kamu ke sekolah pakai mobil, dan udah dua hari ini dia bolak-balik ke sekolah kita.
Hinra cepat pulang, ya......
MIA.......”
Hinra menggoyang toples plastik kecil berisi emping yang dititipkan Mia. Hatinya sedih membaca surat dari teman sejak kecilnya itu. Bisa ia rasakan kesedihan Mia saat menulis surat yang sedang dibacanya kini.
“Aahh... Mia.... Kenapa harus ada kejadian seperti ini?” batinnya pilu. ”Masih banyak yang belum aku katakan padamu... Masih banyak yang belum kulakukan untukmu... Apakah ada kesempatan untuk kita di masa depan? Apakah aku harus mulai merelakanmu mulai dari sekarang?” Hinra menutup kedua belah mata dengan telapak tangan kanannya. Berharap tetesan bening itu tidak akan jatuh. Tapi gagal.
Lemah ia berdiri dan melangkah menuju tempat tidurnya. Dengan berbaring, kembali ia baca surat dari Mia, berulang kali. Sesekali pandangannya tertuju pada emping melinjo kesukaannya. Saat ini tidak ada selera untuk sekedar mencicipi camilan favoritnya itu.
Dipeluknya surat dari gadis kesayangannya, dan diingatnya kembali semua hal yang telah ia lewati bersama Mia. Hal yang tidak akan mungkin terulang lagi dalam hidupnya kelak.