Bab 1

“Maaf Bu Kiki, tolong siswa bernama Hinra ke kantor sekarang, dipanggil Kepala Sekolah.”

“Silakan Hinra,” Bu Kiki langsung memberi perintah setelah sebelumnya memandang sebentar ke wajah siswanya tersebut.

Siswa yang bernama Hinra terlihat merapikan buku di mejanya dan berdiri. Pikirannya berkecamuk, antara senang dan takut. Senang karena akan keluar sementara dari neraka kebosanan, tapi juga merasa takut, karena tidak tahu apa yang membuat ia dipanggil Kepala Sekolah, apalagi di saat jam pelajaran sedang berlangsung.

“Ssttt… Kenapa dipanggil Pak Yusuf?” suara anak perempuan di belakang bangkunya setengah berbisik.

Hinra mengangkat kedua bahu, ia sendiri pun tidak tahu alasannya dipanggil Kepala Sekolah. Dengan berjalan gontai, ia menuju ruang guru. Sesampainya di sana ia mengetuk pintu.

“Masuuukk…” Terdengar suara Kepala Sekolah.

Hinra langsung membuka pintu. Darahnya seketika berdesir melihat orang-orang yang ada di ruangan tersebut. Selain Kepala Sekolahnya Pak Yusuf, ada seorang wanita muda berusia sekitar 20 tahunan, dan dua orang polisi berseragam.

“Duduk…” Suara Pak Yusuf mengagetkan Hinra yang sempat bengong. Sesaat matanya melirik ke arah wanita muda yang duduk di depannya.

Wajah itu terlihat tak asing, tapi ia tidak ingat di mana pernah melihatnya. Yang lebih mengherankan lagi, mata wanita itu terlihat berkaca-kaca, seolah mengenal dirinya.

“Biar Pak Polisi aja yang ngomong langsung sama kamu, ya. Mereka punya beberapa pertanyaan. Silakan Pak..” kata-kata Pak Yusuf Cuma disambut anggukan lemah dari Hinra.

“Okee…,” salah satu polisi dengan name tag bernama Doni memulai sambil memilah semacam berkas di tangannya. ”Mahinra Putra Bahari, ya namanya?” lanjut polisi tersebut.

“Iya..,” Hinra mengangguk dengan jawaban yang hampir tidak kedengaran.

“Siapa nama orang tuanya?”

“Dandi dan Amaliah, Pak. Tapi udah meninggal dua-duanya.”

“Okee.. Jadi sekarang tinggal sama siapa?”

“Sama Abang saya, Bang Almann.”

Sejenak polisi itu menoleh ke arah si wanita yang terlihat mengeluarkan sapu tangan dari tasnya, dan kemudian melanjutkan.

“Yang ini kah yang bernama Almann?”

Polisi itu menunjukkan sebuah foto lama yang sudah agak buram. Tapi terlihat jelas di mata Hinra wajah seorang lelaki muda yang berdiri bersama dua anak perempuan. Tangan lelaki itu terlihat merangkul pundak kedua anak perempuan di depannya. Salah satu anak perempuan terlihat tersenyum, sementara wajah anak perempuan yang lain tampak cemberut.

“I-iya Pak..!!” Hinra tergagap karena merasa ada yang tidak beres.

“Jadi begini…,” polisi itu meletakkan berkas ditangannya dan menatap dalam ke wajah Hinra. ”Nama kamu sebenarnya hanya Mahinra Putra, kamu masih punya seorang Ibu dan dua orang Kakak perempuan. Sedangkan orang yang kamu bilang Abang kamu itu, Saudara Almann, adalah orang yang selama ini menculik kamu. Lebih tepatnya kamu sudah terpisah dari keluarga kandung kamu selama kurang lebih sebelas tahun.”

Hinra tertunduk mendengar kata-kata terakhir dari polisi tersebut. Ada rasa tidak percaya dalam hatinya terhadap apa yang baru saja ia dengar. Badannya gemetar. Pikirannya kacau. Dia berharap ini semua hanya mimpi atau sekedar kesalahan.

“Saudara Almann punya pekerjaan apa sekarang?”

“Abang buka bengkel sepeda di rumah, tapi kadang jadi tukang bangunan kalau ada proyek.” Suara Hinra bergetar. Dia hampir menangis. Ingin rasanya ia langsung berlari pulang, bertanya langsung kepada Bang Almann dan berharap ini semua bohong.

“Oh iya... Ini Saudari Handari. Dia adalah salah satu Kakak kandung kamu.” Polisi itu menunjuk wanita muda yang sejak tadi sudah sibuk menyeka linangan air matanya.

Hinra hanya bisa menatap wanita itu tanpa ekspresi. Dia bingung harus bagaimana, harus melakukan apa. Mau bersalaman dengan orang yang konon adalah kakaknya dia tidak berani, bertemu pun baru hari ini.

“Hinra kamu baik-baik aja kan selama ini?” wanita itu terisak, terlihat jelas dia hanya menahan diri untuk tak langsung memeluk adik yang telah lama dirindukannya. Adik yang terakhir kali dilihatnya berumur tiga tahunan, kini sudah menjadi remaja kelas tiga SMP.

Hinra diam. Hanya matanya yang bergerak menatap Handari, cuma sebentar, kemudian tertunduk lagi. Setelah itu dia sama sekali tidak mendengar apa yang jadi perbincangan di dalam kantor Kepala Sekolahnya. Pikirannya ke mana-mana.

***

“Apa kamu kesini mau membawa Hinra pulang?” tanya Almann pada wanita di depannya.

“Aku rasa pertanyaan itu nggak perlu dijawab karena Abang pasti udah tau jawabannya kan? Hinra itu milik kami sejak lama. Jadi memang udah seharusnya kembali pada kami. Apa Abang merasa keberatan dengan itu?” suara Saliha terdengar sinis.

“Tapi selama ini Hinra hidup sama Abang. Abang yang jaga dia sampai sebesar ini, ini sudah janji Abang.”

“Iya tapi Abang udah ingkar janji. Dulu Abang bilang Cuma 5 tahun, tapi kenapa sampai sekarang Abang nggak pernah mengembalikan dia pada kami? Mama sampai sakit-sakitan.”

“Maaf Liha, Abang nggak bisa kehilangan dia. Kalau kamu bawa dia, sama aja kamu membawa setengah nyawa Abang.”

Mata Almann mulai berkaca. Terlihat air mukanya yang meredup.

“Udah cukup sebelas tahun Bang... Sekarang saatnya Abang merelakan dia. Tadi pagi adalah saat terakhir Abang bertemu Hinra.”

Almann terperanjat. Pikirannya langsung menyadari sesuatu. Refleks ia berdiri dan hendak pergi.

“Nggak usah repot-repot Bang. Hinra sekarang udah nggak ada di sekolahnya. Ai udah menjemput Hinra dan membawanya pergi.”

Kalimat yang dilontarkan Saliha sukses membuat Almann menghentikan langkahnya yang sudah hampir sampai di depan pintu. Sementara Saliha tetap duduk tenang di kursi kayu yang sepertinya agak goyang karena sudah tua.

Perlahan Saliha meraih cangkir teh yang tadi disiapkan Almann di atas meja untuk menjamunya. Ia menyesap tehnya perlahan. Sudah dingin. Ia melirik jam dinding tepat di depannya. Sudah hampir jam sepuluh.

Beberapa menit yang lalu suaminya mengabarkan, kalau sedang dalam perjalanan membawa Hinra dan Handari menuju ke penginapan, sebelum nantinya mereka pulang kembali ke kota.

Almann berbalik dan kembali duduk di hadapan Saliha.

“Seenggaknya izinkan Abang bertemu Hinra untuk yang terakhir kalinya, untuk sekedar mengucapkan kata perpisahan,” suara Almann terdengar pilu. Terlihat lelehan air mata mulai merembes di kedua pipinya. Pertahanannya runtuh. Almann menangis.

“Abang tahu itu nggak mungkin. Kalau kami beri kesempatan itu, Hinra nggak akan mau ikut kami.”

“Tolong Liha....”

“Apa malam itu Abang memberi kesempatan pada kami untuk mengucapkan kata perpisahan? Nggak ada Bang! Abang pergi tiba-tiba tanpa pamit. Hanya meninggalkan secarik surat untuk Mama. Abang pergi di saat kami sedang berduka karena kepergian Kak Aily, di saat yang bersamaan kami juga harus kehilangan Hinra. Abang bahkan membawa Hinra pergi di saat jenazah Kak Aily belum sempat dimasukkan ke liang lahat.” Suara Saliha serak terdengar emosi.

“Abang minta maaf. Tapi tolong jangan pisahkan Abang dengan Hinra....”

“Abang seharusnya sadar diri. Abang bukan siapa-siapa, hanya orang yang kebetulan mengenal kami karena pernah bekerja bersama Kak Aily. Lupakan Hinra. Lupakan kalau kita pernah saling mengenal. Lanjutkan hidup Abang. Menikah... Punya anak... Jangan lagi ada sangkut paut dengan keluarga kami...”

Kata-kata dari mulut Saliha terdengar begitu kejam dan menyakitkan hati Almann. Mana mungkin semudah itu ia melupakan Hinra dan mengakhiri semuanya. Setelah semua pengorbanan dan rasa sakitnya selama ini. Hanya Hinra yang ia miliki sekarang.

Suara salam terdengar dari luar rumahnya. Almann berdiri dan melihat keluar. Dua orang berseragam Polisi datang. Almann menoleh ke arah Liha yang sedang duduk tanpa ekspresi.

“Apa betul ini rumah Saudara Almann?”

“Iya benar Pak. Saya sendiri.”

“Bisa ikut kami ke kantor polisi untuk dimintai keterangan terkait kasus penculikan atas nama Hinra?”

Almann terdiam tidak menjawab. Sampai hati Saliha melibatkan polisi untuk menangkapnya.

“Abang tetap harus bertanggung jawab,” suara Saliha terdengar pelan. Perlahan ia berdiri. “Tolong jangan di borgol Pak. Dia bukan orang jahat.”

Bab 2

“Jadi begitu ya? Ibu benar sudah yakin mau menempuh jalan damai?” suara Briptu Arif terdengar menyelidik.

“Iya. Tolong pertemukan saja saya dengan Bang Almann sekarang Pak. Saya nggak punya banyak waktu. Saya harus cepat pulang ke kota. Orang tua saya sedang sakit,” jawab Saliha dengan ekspresi muka datar.

Briptu Arif mengangguk. “Baik, tunggu sebentar.” Dia berdiri dan menghilang dari balik pintu keluar.

“Surat perjanjiannya nggak lupa dibawa kan?” suara Amir mengagetkan Saliha yang sempat termenung.

“Ada Bang, di dalam tas. Semoga Bang Almann mau tanda tangan. Urusan kita harus selesai hari ini juga. Aku takut kalau kelamaan bisa-bisa nanti Hinra berubah pikiran.”

“Yakin mau melepaskan dia dari jerat hukum? Dia udah menculik adik kamu selama sebelas tahun.”

“Dia nggak sejahat itu. Aku juga sebenarnya nggak mau melibatkan polisi. Kalau melihat kedekatan Hinra dengan Bang Almann, pasti Bang Almann sangat menyayangi Hinra dan memperlakukannya dengan baik selama ini. Tapi kalau tanpa campur tangan polisi, nggak akan semudah itu kita membawa Hinra dari sekolah.”

“Apa ada cerita yang nggak aku tahu? Kamu terlihat marah dan emosi saat tahu di mana Bang Almann, tapi sesekali kamu juga terlihat lemah. Ai juga berapa kali berpesan dengan kita untuk nggak menyakiti perasaan Bang Almann. Sebenarnya apa hubungan kalian semua di masa lalu?”

“Bang Amir nggak perlu merisaukan hal itu. Apa yang terjadi dulu, biarlah berlalu. Jangan paksa aku untuk mengingatnya lagi. Semua yang terjadi di masa lalu itu terlampau menyakitkan bagi kami.” Terdengar getar suara Saliha menahan tangis.

Amir kali ini diam tidak menjawab lagi. Tak lama dilihatnya Briptu Arif datang dengan membawa Almann. Amir menjawil lengan istrinya sambil memberi kode ke arah Almann. Saliha tersadar dan menoleh.

Dilihatnya Almann yang berjalan tanpa semangat. Wajahnya terlihat keruh, tak ada cahaya sama sekali. Kantung matanya terlihat jelas, menandakan ia kurang tidur. Bang Almann benar-benar terlihat jauh lebih tua dibandingkan saat dulu ia mengenalnya.

“Mari kita duduk di sebelah sana untuk negosiasi,” Briptu Arif menunjuk ke sudut ruangan yang dilengkapi sofa dan meja kecil. Cukup untuk mereka berempat.

Saliha dan Amir berdiri dari kursinya dan mengikuti Briptu Arif yang sudah berjalan lebih dulu di depan. Mereka mengambil posisi duduk masing-masing. Almann duduk berhadapan dengan Saliha. Tapi pandangan matanya selalu tertuju ke bawah.

“Mann, Ibu Liha mau menempuh jalan damai. Dan kamu bisa keluar dari sini secepatnya,” Briptu Arif tersenyum. Tapi Almann tidak banyak merespon. Dia hanya melayangkan pandangannya ke arah Saliha.

“Tapi Abang harus menandatangani surat perjanjian ini,” Saliha mengeluarkan sebuah map, menyerahkannya kepada Briptu Arif. Briptu Arif membuka map dan mendapati dua lembar surat perjanjian yang bermaterai.

“Kenapa harus ada surat perjanjian?” Almann menatap Saliha tanpa kedip.

“Mari akhiri hubungan kita sampai di sini. Kita buat perjanjian hitam di atas putih. Selepas ini Abang bisa hidup tenang sendiri.” Saliha pun balas menatap Almann, berusaha menunjukkan kalau ia sedang serius dan tidak mau diremehkan.

“Tolong bacakan apa isi surat perjanjiannya, Pak Arif.” Almann berkata tanpa menoleh. Matanya masih lekat menatap Saliha yang juga sedang memandangnya dengan tatapan dingin.

“Panjang ini... Tapi aku sebut poin-poinnya aja ya,” Briptu Arif mulai membaca surat perjanjian itu, sambil mencari poin penting yang akan disampaikannya kepada Almann.

“Poin satu, Saudara Almann dilarang untuk mendekati apalagi bertemu dengan Saudara Hinra, baik secara pribadi maupun lewat orang lain, selamanya, terhitung mulai saat ini. Poin dua, Saudara Almann dilarang untuk merespon apabila suatu saat nanti Saudara Hinra menghubungi dan mengajak bertemu Saudara Almann. Poin tiga, apabila Saudara Almann setuju untuk menandatangani isi surat perjanjian ini dengan kesadaran diri sendiri, maka Saudara Almann akan dibebaskan dari tuntutan hukum dan akan diberikan kompensasi sekedarnya berupa uang untuk menggantikan biaya merawat dan membesarkan Saudara Hinra. Sekian.” Briptu Arif menutup kesimpulannya.

“Hehehh... Kompensasi sekedarnya... Itu berarti kamu memang merasa tidak sanggup untuk mengganti apa yang telah kuberikan untuk Hinra selama ini,” Almann tersenyum perih, matanya mulai kembali berkaca-kaca.

“Kami bukan orang kaya, hanya berusaha menghargai tetes keringat orang,” Saliha menjawab sengit.

“Kamu nggak perlu memberikan kompensasi apa-apa. Cukup izinkan aku untuk bertemu Hinra sesekali.”

“Nggak. Bisa aja suatu saat nanti Abang bawa dia lari lagi....”

“Kalau gitu kasi kesempatan Abang untuk bertemu dia sekarang, untuk yang terakhir kalinya....” Air mata Almann mulai keluar tanpa bisa ditahan.

“Aku udah bilang sejak awal kalau itu juga nggak mungkin. Apalagi besok kami udah harus pergi dari sini. Kalau Hinra ketemu Abang, bisa-bisa dia nggak mau ikut kami.”

“Kenapa kamu bisa setega ini Liha...!!!!” Almann menggebrak meja dan langsung berdiri. Membuat beberapa orang personil polisi yang ada di ruangan itu terlihat bersiaga, termasuk Briptu Arif. Sementara Amir refleks melintangkan lengan ke depan badan istrinya, khawatir Almann melakukan kekerasan terhadap Saliha.

Almann terlihat menahan kemarahan. Suara nafasnya terdengar. Dan terlihat kedua bahu yang turun naik mengimbangi nafasnya yang memburu.

“Aku mengenalmu Liha. Aku juga tahu bagaimana sifatmu. Tapi aku nggak pernah menyangka kamu bisa sekejam ini!”

“Silakan Abang tandatangani, setelah itu Abang nggak akan bertemu lagi dengan orang yang kejam seperti aku....”

“Aku nggak akan tandatangani, aku akan hidup dalam harapan untuk bertemu Hinra sekalipun harapan itu sangat kecil.” Kali ini Almann kembali duduk, tapi matanya tetap tertuju pada Saliha dengan pandangan yang membuat Saliha merinding.

“Kalau gitu Abang akan tetap dipenjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatan Abang selama ini....”

“Apa yang buruk dari itu? Dipenjara lebih baik bagiku daripada pulang ke rumah tapi tidak bisa bertemu dengan anak yang kusayangi dengan segenap jiwa ragaku.” Air mata Almann kembali keluar tanpa dikomando. Hatinya benar-benar perih teriris. Tak ada kata yang bisa melukiskan betapa hancurnya ia saat ini.

“Terserah Abang. Kalaupun Abang tetap bersikeras untuk dipenjara dan tidak mau menandatangani surat perjanjian ini, akan kupastikan Hinra melupakan Abang dan tidak akan pernah lagi mengingat secuil pun kenangannya selama bersama Abang.”

“Aaaarrggghhhh......!!!!” Kali ini Almann bergerak maju ke depan hendak menerkam Saliha. Tapi semua yang ada di situ sudah bersiap, Amir melindungi istrinya, membawanya menjauh, dan Briptu Arif dengan cepat menangkap dan menekan tubuh Almann ke lantai.

“Kau benar-benar jahat Liha! Dulu kau jahat. Sekarang pun sama. Kau tidak memberikan aku kesempatan bertemu Hinra untuk menjelaskan apa yang terjadi, dan sekarang kau mau memberikan cerita yang buruk tentangku pada Hinra. Membuatnya membenci dan melupakanku.” Almann berteriak sambil memukul lantai dengan kedua tinjunya. Tangannya sakit. Tapi hatinya jauh lebih sakit.

“Tahan Mann....” Briptu Arif menepuk punggung Almann yang berada di bawahnya. Ia merasa kasihan. Tapi harus tetap menahan agar Almann tidak melakukan hal buruk yang bisa memberatkan hukumannya.

“Tolong suruh mereka pergi Pak.” Almann menangis dengan menelungkupkan wajahnya ke lantai. “Bilang kalau mereka sudah bisa pergi sekarang. Dan tolong bawa kembali surat perjanjian itu.”

Almann menangis seperti anak kecil yang tidak diberi izin untuk membeli mainan. Briptu Arif hanya bisa memberi kode dan disambut anggukan Amir. Dia merangkul Saliha keluar. Terlihat mata Saliha yang merah, seperti menahan tangis.

Tidak ada kata yang keluar dari mulut Saliha sejak mereka pergi dari kantor polisi hingga sampai ke penginapan tempat Hinra berada. Hanya terlihat ia menyeka air matanya yang sesekali jatuh diam-diam.

Bab 3

Hinra menggeliatkan badannya. Meregangkan tangan dan kaki. Membuang penat setelah lama tertidur. Sesekali ia mengerjapkan mata, tersugesti untuk menajamkan penglihatan yang terasa masih mengabur. Diliriknya jam dinding. Sudah hampir jam 3 sore.

“Lama juga aku tidur,” pikirnya.

Perlahan ia duduk. Menurunkan kedua kaki di sisi tempat tidur. Menggaruk tengkuknya sambil menguap. Kebanyakan tidur malah terasa capek. Akibat tidak ada kegiatan sama sekali selama tiga hari ini membuatnya gampang mengantuk. Belum lagi kalau malam ia tidak bisa tidur akibat terlalu banyak yang dipikirkan.

“Udah bangun?” suara Handari membuatnya sedikit kaget. ”Pangeran tidur akhirnya tersadar ya,” ejeknya sambil sedikit mengikik.

“Kenapa Kak Ai nggak bangunkan?”

“Biar aja, nggak tega mau bangunin. Lagian nggak ada yang mau dikerjain kan?”

“Bang Amir belum pulang?” Hinra mencari sosok teman sekamarnya itu.

Mereka menyewa dua kamar. Handari sekamar dengan Saliha, sementara Hinra ditemani Amir. Hanya siang saja Handari menemaninya, karena Saliha dan Amir sibuk ke sana-kemari menyelesaikan segala urusan. Dan tadi pagi mereka berdua sudah pergi sejak jam delapan pagi setelah selesai sarapan bersama.

“Tadi udah pulang sebentar sekitar jam satu. Tapi langsung pergi lagi. Katanya mau nyusul Kak Liha di kantor polisi.”

“Oohhh....” Hinra membulatkan bibirnya. Kak Saliha setiap hari memang selalu ke kantor polisi. Hinra sendiri hanya sekali datang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan dan kesaksian. Sementara Bang Amir bolak-balik ke sekolahnya, mungkin mengurus surat pindah. Mereka juga pasti pergi ke kantor desa atau RT atau apalah itu untuk mengurus surat pindah domisili untuknya. Karena itu mereka selalu pergi dari pagi dan pulang saat hari mulai gelap.

“Kamu makan dulu ya. Kelewat jam makan siang dari tadi. Nanti masuk angin. Nasi bungkus punya kamu udah ngembang kayaknya kena kuah.” Handari mengeluarkan sebuah nasi bungkus dari dalam sebuah kantong plastik warna hitam.

Hinra berdiri dan berjalan menuju meja. Langsung duduk di kursi. Perutnya memang sudah lapar. Dia terbangun tadi juga karena bermimpi makan ayam kampung bakar kesukaannya.

Sekarang dia sudah mulai terbiasa memanggil kakak-kakaknya, rasa malu dan canggung mulai berkurang. Terutama dengan Handari. Kakaknya yang satu itu memang lebih lembut, lebih lucu, lebih enak diajak bercanda dibandingkan dengan Saliha.

Sejak malam pertama ia ikut mereka, saat malam itu mereka bicara dan membahas segala sesuatu tentang alasan kenapa sekarang ia berada di sini, Hinra mulai membuka hati untuk menerima kenyataan.

Dari yang ia dengar melalui cerita Saliha, Almann adalah teman kerja kakak sulungnya yang bernama Aily, yang kini sudah tiada. Saat Kak Aily meninggal dunia karena kecelakaan kerja, Bang Almann membawanya lari dari rumah tanpa izin.

Hinra merasa agak emosi saat mendengar cerita dari kakaknya. Tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia juga sangat merindukan Bang Almann. Tapi ia tidak berani mengutarakan, karena tatapan tajam dan dingin Saliha yang selalu muncul setiap kali ia menanyakan soal Bang Almann.

“Kok malah bengong? Nggak suka?” Handari menegurnya yang terlihat memandang lama nasi bungkus yang telah dibuka. “Kalau ikan kembung kamu bisa makan, kan?” tanyanya.

Sebab yang Handari tahu Hinra hanya tidak suka memakan ayam broiler. Kemarin saat lauk ayam broiler digoreng, Hinra bilang ia tidak bisa memakannya. Hinra hanya mau makan ayam kampung atau ayam merah. Sementara tidak ada menu itu di warung makan kecil. Hanya ada ikan kembung yang di panggang.

“Eehhh... Anu Kak... Kalau aku makan ikan, Bang Almann selalu memisahkan tulangnya. Dulu aku pernah ketulangan ikan. Jadi aku takut makan ikan langsung, kecuali ikan yang berdaging tebal.” Hinra menjawab dengan tidak enak hati.

Handari tercenung sesaat. Sejurus kemudian ia mendekat dan dengan telaten memisahkan tulang dari daging ikan kembung bakar yang tadi dibelinya.

“Makasih Kak.”

Handari mengangguk dengan senyum yang sedikit dipaksakan. “Jadi tiap mau makan ikan, Bang Almann selalu pisahkan tulangnya untuk kamu?”

“He-em....” Hinra mengangguk sambil menjawab dengan bergumam. Mulutnya sudah penuh dengan nasi.

Handari merasa terenyuh dengan pengakuan Hinra. Sungguh Bang Almann benar-benar memperlakukan Hinra dengan sangat baik. Seperti yang dulu ia lihat saat Kak Aily masih ada bersama mereka.

“Tapi kamu kan udah besar. Masa’ nggak bisa misahin sendiri tulang ikannya.”

“Eemmm... Bang Almann bilang kalau aku misahin tulang ikan sendiri nanti tangan aku yang tercucuk tulang. Jadi sampai sekarang aku nggak berani.” Hinra menjawab dengan malu. Sementara Handari hanya menghela napas perlahan.

“Oh iya... Tadi pas Bang Amir pulang ada bawa surat sama kantong plastik. Katanya titipan dari teman sekolahmu. Perempuan, cantik lagi...”

Hinra menghentikan suapan. Dia tahu pasti siapa teman yang dimaksud. Mia... Hanya dia yang akrab dengannya, karena mereka bertetangga sejak ia dan Bang Almann baru pindah di desa kecil ini.

“Bang Amir tadi ke sekolahku lagi?”

“Iya, katanya semua udah beres. Besok kita ke sekolah buat ambil surat pindah, sekalian pamit sama Guru dan teman-temanmu, setelah itu kita langsung pulang ke kota.”

Kalimat terakhir dari Handari membuat selera makan Hinra mendadak hilang. Suatu desir dingin tiba-tiba menyeruak dalam hatinya. Terasa ada suatu luka menganga yang membuat perih. Mata dan hidungnya terasa mengembang. Meski tangan tetap menyuap makanan masuk ke dalam mulutnya, semua terasa hambar tanpa rasa. Untuk menyudahi santapannya Hinra merasa tidak enak dengan Handari.

“Mana Kak, titipan temanku?”

“Habisin dulu makanannya, nanti Kakak berikan.” Handari menjawab tegas. Mau tidak mau Hinra melanjutkan makan.

***

Hinra membuka surat bersampul polos yang tadi Handari berikan. Sekarang kakaknya itu sedang berada di kamar sebelah. Sebuah toples plastik kecil yang juga dititipkan tadi ia letakkan di atas meja. Benar dugaannya, surat ini dari Mia. Terlihat tulisan rapi nan indah khas milik Mia begitu Hinra membuka lipatan surat itu.

“Hai Hinra.....

Apa Kabar? Kamu sekarang ada di mana? Kenapa udah dua hari kamu nggak ada kabar lagi? Nggak datang ke sekolah lagi?

Hinra, aku dengar selentingan kabar katanya kamu mau pindah sekolah. Benarkah? Apa pindah juga dari kampung kita?

Aku juga nggak pernah lagi liat Bang Almann di rumahmu. Rumahmu selalu gelap sejak waktu itu kamu pulang sekolah lebih awal.

Hinra jangan pindah ya... Aku sedih... Nanti aku nangis... Aku janji kalau kamu nggak jadi pindah aku akan baik sama kamu... Nggak marah-marah lagi. Aku nggak akan ngomel kalau bantu kamu ngerjain PR.

Hinra, aku titip emping melinjo kesukaan kamu. Aku nggak tahu siapa Abang ini, yang jelas aku melihat dia yang kemarin jemput kamu ke sekolah pakai mobil, dan udah dua hari ini dia bolak-balik ke sekolah kita.

Hinra cepat pulang, ya......

MIA.......”

Hinra menggoyang toples plastik kecil berisi emping yang dititipkan Mia. Hatinya sedih membaca surat dari teman sejak kecilnya itu. Bisa ia rasakan kesedihan Mia saat menulis surat yang sedang dibacanya kini.

“Aahh... Mia.... Kenapa harus ada kejadian seperti ini?” batinnya pilu. ”Masih banyak yang belum aku katakan padamu... Masih banyak yang belum kulakukan untukmu... Apakah ada kesempatan untuk kita di masa depan? Apakah aku harus mulai merelakanmu mulai dari sekarang?” Hinra menutup kedua belah mata dengan telapak tangan kanannya. Berharap tetesan bening itu tidak akan jatuh. Tapi gagal.

Lemah ia berdiri dan melangkah menuju tempat tidurnya. Dengan berbaring, kembali ia baca surat dari Mia, berulang kali. Sesekali pandangannya tertuju pada emping melinjo kesukaannya. Saat ini tidak ada selera untuk sekedar mencicipi camilan favoritnya itu.

Dipeluknya surat dari gadis kesayangannya, dan diingatnya kembali semua hal yang telah ia lewati bersama Mia. Hal yang tidak akan mungkin terulang lagi dalam hidupnya kelak.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED