Jamy membuatkan susu untuk anak semata wayangnya setelah pulang sekolah.
"Sayangnya Mami, ini susu untuk kesayangannya Mami. Ayo minum," ucap Jamy berkata kepada anaknya yang masih umur 5 tahun itu.
"Iya Mami, Ihan sudah haus."Anak umur lima tahun itu bernama- Jihan Wijaya.
Jamy menidurkan anak semata wayangnya dengan memeluknya sambil rebahan, tetapi entah kenapa anaknya itu tidak mau menghabiskan susunya di dot.
"Sayang, kenapa susunya tidak dihabiskan Nak?" tanya Jamy.
"Tidak enak, Ihan mau susunya Mami." Ihan sangat suka susu alami maminya.
"Memang susunya Mami enak yah sayang? Padahal sudah tidak ada airnya sayang," ucap Jamy.
"Tidak mau! Ihan ingin susu Mami, racanya enak," sahut Jihan cadel.
Jamy hanya tersenyum mendengar ocehan anaknya itu lalu mengeluarkannya yang sebelahnya.
"Ayo Nak, hisap saja. Kamu pasti sudah mengantuk, ayo bobo," ucap Jamy lagi.
"Iya Mami," sahut Ihan dengan imutnya.
Tahun berganti tahun, hidup yang dijalani Jamy cukuplah rumit dia harus menyelesaikan kuliah dalam jangka tiga tahun.
Orang tua Jamy sudah meninggal saat ia masih kecil, dan saat ini perusahaan keluarganya Wijaya Group berada ditangan Omnya yang licik. Akan tetapi, waktu Jamy wisuda saat itu Om liciknya itu sudah tidak terlihat lagi, lebih parahnya Wijaya Group bangkrut.
Om liciknya Jamy itu sudah menghilang bak ditelan bumi dan tanpa kabar.
***
Waktu terus berganti, tak terasa sudah 11 tahun berlalu. Anak Jamy yang bernama Jihan Wijaya sudah berumur 16 tahun, kali ini Jamy benar-benar memanjakan Jihan dengan sangat baik bahkan memperlakukan Jihan layaknya bayi.
"Nen dulu sayang." Ucap Jamy memposisikan badannya disamping Jihan yang berbaring menyamping.
"Tidak mau, Ihan masih mau main ponsel." Jihan merengek dengan manja.
"Kamu besok harus sekolah sayang, ayo sini ponselnya Mami ambil dulu yahh." Ucap Jamy lalu mengambil ponsel anaknya itu.
"Ish Mami! Ihan masih mau main." Sahut Ihan cemberut lalu ingin mengambil ponsel itu dari tangan Maminya.
Jamy langsung melotot dan memarahi anaknya itu, kalau dia tidak boleh begitu.
"Kamu mau Mami hukum, ayo bobo!" tegas Jamy.
"Tapi Mi ...." rengek Jihan sekali lagi.
"Bobo atau Mami hukum!" ancam Jamy.
Akhirnya Jihan tidur karena takut dengan ancaman hukuman Jamy-sang mami.
Tetapi sebelum itu, Jihan tidak bisa tidur, ia gusar bolak-balik sana sini sampai membuat Jamy pongah dan mengeluarkan miliknya yang sebelah kanan.
"Sini nen dulu, biar bisa bobo kamu tuhh." Jamy menyodorkan susu miliknya.
"Hore! Tapi Mami tidak marah lagi, kan sama Ihan?" tanya Jihan dengan polosnya.
"Iya sayang, asal kamu jadi anak penurut." Jamy mengecup pucuk kepala anaknya itu dengan lembut.
Set! Set! Set! Jihan begitu semangat mengisap pentil Maminya, bahkan sampai Jamy dibuat menahan desahan karena hisapan Jihan yang begitu menggoda dan geli.
"Ughhh! Pelan-pelan sayang, tidak ada yang ngambil itu dari kamu jadi pelan-pelan ya Nak." Jamy berkata sambil mengelus tubuh mungil anaknya yang sudah berumur 16 tahun itu.
Lambat laun hisapan Jihan tidak kuat lagi, benar dugaan Jamy kalau anaknya sudah tidur.
"Kamu sudah tidur ternyata," ucap Jihan lalu menarik kembali susu miliknya dari mulut anaknya itu.
Kemudian Jamy beranjak dari kasur dan mengambil laptop lalu membukanya. Jamy menghubungi salah satu mata-matanya yang dari sekolah Jihan.
"Bagaimana hari kemarin? Jihan bertemu siapa saja?" tanya Jamy lewat pesan.
BERSAMBUNG
Jihan langsung masuk kelas dan duduk di bangku tengah, tidak lama kemudian Rara datang dengan wajah kesal.
"Eh Rara, kok, mukanya begitu kenapa?" tanya Jihan bingung.
"Kamu pake nanya lagi sama gue, gak sadar kesalahan lo apa!" kesal Rara.
Jihan langsung ingat jika kemaren dirinya berjanji akan pergi sekolah bersama.
"Maaf Ra, Ihan udah ingkar janji tapi ... Ihan gak di ijinin sama Mami." Jihan menjelaskan.
"Aishh dasar anak mami, tapi setidaknya lo ngomong dulu sama gue. Kalau lagi bareng Mami, jadi gak perlu ketuk-ketuk pintu orang udah kayak orang gila tau gak!" Rara makin kesal.
"Maaf." Jihan menunduk.
Rara tidak tega juga melihat muka Jihan yang sedih, jadi Rara memutuskan untuk memaafkan.
"Ya sudah gue maafin tapi lain kali jangan kayak gitu lagi yahh, lagian lo anak mami banget sihh," ledek Rara.
"Enggak kok, Ihan bukan anak mami. Siapa bilang Ihan anak mami." Jihan menyangkal tuduhan sebagai anak mami.
"Ahaha ... udah deh lu gak usah ngelak, gue dah tau kok, oh ya lo udah kerjain tugas matematika belum?"
"Ya pasti udah dong, iya kali belum bisa digantung Ihan sama Mami."
Rara hanya tersenyum mendengar jawaban Jihan, lalu dia duduk disamping Jihan dan tak lama kemudian guru masuk.
"Selamat pagi anak-anak, gimana udah mengerjakan tugas?"
"Sudah Pak!" sahut murid serentak dikelas.
"Bagus, sekarang kumpulkan tugas lalu kita lanjut ke halaman berikutnya."
Semua murid mengumpulkan buku latihannya dan kembali duduk untuk mengikuti pelajaran berikutnya.
"Jadi A² bla bla bla..." ucap guru menjelaskan pelajaran matematika sampai selesai.
Kring! Kring!
"Yey udah jam istirahat." Sorak murid lalu guru keluar dari kelas.
Jihan memasukkan kembali bukunya dan Rara mengajak Jihan untuk makan di kantin.
"Han, kita makan di kantin yuk," ajak Rara.
"Boleh, tapi Ihan bawa bekal yah. Ihan temenin Rara aja makan di kantin gak papa kan?"
"Ya gak papa, yang penting lu temenin gue makan." Rara kemudian menarik tangan Jihan untuk ke kantin.
Saat duduk di kantin, Jihan membuka bekalnya dan melihat masakan maminya yang begitu menggoda dan itu membuat Rara jadi ingin mencicipinya.
"Makanan lu enak banget, Han, gue boleh icip gak?" tanya Rara.
"Boleh dong, Rara kan sahabat Iham."
"Yey makasih yahh, gue makan yang ini." Rara mengambil ayam goreng paha.
"Oh ya, Rara tadi pesan apa?" Tanya Jihan.
"Gue tadi pesan bakso," sahut Rara.
Mendengar kata bakso Jihan jadi penasaran karena selama ini dirinya tidak pernah makan bakso.
"Ee ... Ra, Iham boleh nanyak gak?"
"Boleh, tanya apa emangnya." Rara sambil menggigit ayam goreng, "hemmm ... ini enak banget empuk lagi. Wah ... mami lu jago banget masaknya," puji Rara lagi.
"He .. makasih, emm rasa bakso enak gak?" tanya Jihan sambil menggigit bibir bawahnya.
Rara mengerutkan keningnya dengan pertanyaan Jihan yang menurutnya aneh, lalu ia berkata, "Lu gak pernah makan bakso, Han."
Jihan menggelengkan kepalanya, "Ihan gak pernah soalnya selalu dilarang sama Mami, makanya nanya sama Rara gimana rasanya bakso."
Rara menepuk jidatnya sendiri. "Aduh Han, gila yahh lu benar-benar disetir sama nyokap. Ya sudah gini aja nanti lu cobain bakso gue," tawar Rara.
"Beneran boleh, Ra." Jihan memastikannya sekali lagi.
"Ets tapi ... emang lu gak papa makan bakso gitu, kan tadi katanya dilarang." Rara mengingatkan Jihan.
Muka Jihan seketika berubah lalu ingat dengan ucapan maminya.
"Jangan makan makanan di kantin, kalau kamu ngelanggar bakalan Mami hukum." Inilah ucapan yang selalu Jamy katakan kepada Jihan.
"Ee gak jadi deh, Ihan takut di hukum." Jihan sambil menunduk.
"Hahaha ... Lu lucu banget, Han. Ya udah, jadi fiks nih lu gak jadi makan baksonya?"
"Iya."
Kemudian bibi kantin datang mengantar pesanan baksonya Rara.
"Ini Neng dah jadi baksonya," ucap Bibi kantin.
"Makasih," sahut Rara.
Mereka berdua langsung melahap makanan masing-masing.
"Uhh hahhh ... enak nih pake sambel." Rara mengambil sambal di meja.
"Ikh ... itu banyak banget sambalnya emang Rara tahan?" tanya Jihan.
"Sambal begini doang kagak ada pedasnya, Jihan sayang."
Brak!
Ada yang menggebrak meja makan yang di duduki Rara dan Jihan.
"Eh, anak manja coba lihat makanan sampah lo." Lisa salah satu ratu bully.
"Enggak boleh, ini punya Ihan." Jihan sambil memeluk kotak makanannya.
"Eouu bacot loh yah, sini makanannya gue mau lihat?" Lisa memaksa mengambil kotak makanan milik Jihan.
Bugh!
Rara langsung memukul tangan Lisa, dan mengambil kotak makanan itu. Lalu menarik Jihan dan menyuruh duduk disampingnya.
"Lo!" teriak Lisa sambil menunjuk muka Rara.
"Apa Lo! Mau ngelawan?" sahut Rara menantang balik dengan tatapan tajam sampai membuat Lisa kikuk.
"Udah Lis, kita pergi aja gak mungkin juga kita lawan Rara." teman Lisa berbisik.
"Awas lo yah, kali ini Eloo selamat." Lisa dengan lantang sambil menunjuk Jihan.
"Gak usah tunjuk-tunjuk, sialan!" marah Rara ketika Lisa menunjuk muka Jihan.
Lisa dan temannya langsung pergi karena mendapat tatapan tajam dari Rara.
***
Tangan mulus dan putih sedang mengambil minyak kayu putih dan menciumkannya pada hidung wanita yang cantik tak lain adalah Jamy.
"Ugh .." Suara lenguhan Jamy kemudian matanya perlahan terbuka.
"Kamu sudah bangun?" Tanya wanita cantik tadi dengan perasaan khawatir.
Jamy memegang kepalanya yang terasa pening lalu mengingat kejadian sebelumnya.
"Astaga, sial!" gumam Jamy lalu ingin berdiri tapi ditahan oleh wanita cantik tadi.
"Kamu masih lemah istirahat dulu disini," tawar wanita itu dengan cemas.
"Lepas! Terima kasih sudah menolong, ini bayarannya. Saya pergi dulu!" pamit Jamy meninggalkan wanita itu dengan uang dua ratus ribu.
"Bahkan kamu membayar aku Jamy, kamu tau gak sih aku tuh tulus nolongin kamu," ucap wanita itu sedih.
Wanita itu menatap nanar Jamy yang sudah pergi jauh dari pandangannya.
"Apa kita masih bisa sama-sama lagi? Apa kamu sangat membenci aku Mi, sampai kamu tidak mau menerima bantuan aku? Aku tau kok, kesalahan aku di masa lalu terlalu besar!" ucap wanita itu sambil menitikkan air matanya.
Sedangkan Jamy langsung kembali ke kantornya dan pikirannya benar-benar kusut.
"Kenapa harus Citra sih, yang nolong aku, sial! sial! sial! Aku benci sama kamu Citra, gara-gara kamu hidup aku hancur, hiks! Dan sekarang kamu muncul dihadapan aku dengan alasan menolong aku cuihh! Aku gak bakalan jatuh seperti yang dulu lagi untuk kedua kalinya!" Jamy kemudian duduk disofa ruang kerjanya dan membuka ponselnya.
Jamy menelpon anak buahnya yang sedang mengawasi Jihan.
[ "Gimana apa ada yang menjahati anak saya?" tanya Jamy dengan dingin. ]
[ "Ada satu orang, Miss. Tapi sepertinya Nona Muda sudah ada yang melindunginya, namanya Rara," sahut anak buah Jamy. ]
[ "Cari orang yang sudah menjahati anak saya tadi!" titah Jamy. ]
[ "Baik Miss." ]
Kemudian Jamy mematikan ponselnya dan bergumam pada dirinya sendiri.
"Siapapun yang menyakiti anakku, harus mati¡" Jamy berucap dengan tatapan datar dan dingin.
Kring kring kring!
"Yey ..." semua murid berhamburan karena ingin pulang, begitu juga dengan Jihan yang sudah siap.
"Lo nanti dijemput sama mami yahh," ucap Rara.
"Iya, Rara. Rara mau ikut juga," sahut Jihan.
"Ya enggaklah gue kan naik motor, mau dikemanain motor kalau ikut Lo," ucap Rara lagi lalu memakai tasnya.
"Yuk keluar."
Setelah mereka keluar, Lisa dan temannya sangat benci menatap Jihan.
"Cihhh!dm Dasar anak mami!" gerutu Lisa sambil menghentakkan kakinya.
"Lis, gimana nanti besok kita kasih pelajaran si Jihan." Teman Lisa memberi saran.
"Pengen tapi gimana caranya, soalnya tuh si anak baru nempel mulu sama Jihan." Lisa berucap dengan cemberut.
"Tenang, masalah itu si Rara biar gue yang atur. Lo tinggal hajar si Jihan aja," ujar teman Lisa bernama Leni.
"Ya udah gimana lo aja, pokoknya jangan sampai gagal yahh, awas!" ancam Lisa.
"Yey, ngancam mulu. Udah ah, pulang," kata Leni lagi.
Tin! Tin!
Mobil Jamy datang dan berhenti tepat di hadapan Jihan dengan Rara.
"Mami Iham dah jemput, Ra. Ihan pulang duluan yahh." Jihan melambaikan tangannya dengan sumringah.
"Ok." Rara membalas lambaian tangan Jihan, sambil melirik Jamy Wijaya.
Jihan kemudian masuk ke mobil dan menyapa maminya itu, "Siang Mami."
"Siang sayang, udah siap gak ada yang ketinggalan kan?"
"Gak ada kok, Mi," sahut Jihan memeriksa tasnya.
"Ya sudah ayo kita pulang." Jamy lalu menghidupkan mesin mobilnya dan pergi.
Brom!
Saat mobil Jamy lewat didepan Rara, Jamy menutup kaca mobilnya dan Rara sekilas melihat wajah Jamy yang sangat cantik.
"Gila! Cantik banget!" gumam Rara kemudian langsung pergi ke motornya dan memasang helm lalu pulang.
Sesampainya di rumah, Jamy langsung menyuruh Jihan untuk mencuci tangan dan kaki lalu ganti pakaian.
"Cuci tangan dan kaki dulu sayang, terus ganti baju kita makan siang."
"Iya Mami." Jihan langsung naik ke atas sambil lari dan itu langsung di tegur oleh Jamy.
"Jangan lari-lari sayang nanti jatuh." Jamy mengingatkan anaknya itu.
Jihan langsung memelankan larinya dan berjalan biasa saja. Setelah selesai, Jihan langsung turun lalu menemui Maminya yang menunggu di meja makan.
"Makan dulu sayang." Jamy menyiapkan makanan untuk Jihan.
"Mami tadi beli makanan yah?"
"Enggak sayang, Mami masak tadi di kantor buat kamu."
"Oh, Mami masak sop yahh." Jihan ada melihat kuah ayam di mangkok.
"Iya, ini baik buat kamu masa pertumbuhan."
Jihan pun memakannya dan bercerita kepada Maminya sambil makan.
"Mami tadi Rara sempet kesel sama Jihan karena Jihan gak ngabarin kalo Jihan pergi sekolahnya sama Mami." Cerita Jihan sambil mengunyah.
"Terus sekarang apa Rara masih marah sama Jihan." Jamy lagi sambil meracik suiran ayam untuk Jihan.
"Udah enggak lagi kok, Mi, Mami gak makan kita makan siang bareng Mi." Jihan melihat Jamy tidak makan.
"Enggak sayang, kamu aja yang makan yah."
"Mami balik ke kantor lagi yahh." Jihan dengan nada sedihnya.
"Iya sayang, Mami balik ke kantor lagi tapi sebelum itu Mami pengen kamu bobo siang dulu baru nanti Mami pergi."
"Ihan gak mau bobo siang Mami, Ihan mau ke rumah Rara."
"Enggak boleh sayang, kamu gak boleh kemana-mana kalau Mami lagi kerja. Dan kamu harus bobo siang itu sudah jadwalnya nanti Mami kelonin yahh," seloroh Jamy sambil melap bibir Jihan yang belepotan.
"Tapi Mi, Jihan ...."
"Gak ada tapi-tapian, nurut sama Mami!" tegas Jamy.
"Ikh ..." kesal Jihan.
Mbok Yum datang dari belakang, Jamy melihatnya dan langsung menyuruh untuk makan siang.
"Mbok, udah makan siang belum?"
"Belum Nyonya."
"Ya udah Mbok, mending makan dulu nanti lanjut kerja lagi."
"Iya Nyonya."
Kemudian Jamy menatap ke arah anaknya, "Jihan, sudah selesai makannya nak?"
"Udah selesai, Mi."
"Ya sudah kita ke ruang tamu dulu, santai-santai dulu sayang."
"Iya Mi."
Jihan langsung ke ruang tamu yang disusul oleh Jamy dan Jamy langsung meregangkan ototnya.
"Sayang, gimana sekolahnya hari ini?" tanya Jamy sambil membelai rambut Jihan.
"Menyenangkan ko, Mi, emang kenapa Mi?"
Jamy tahu apa yang terjadi di sekolah karena anak buahnya baru saja memberikan laporan.
"Yakin gak kenapa-napa sayang, lagi enggak bohong kan sama Mami."
Jihan menggeleng, sebenarnya Jihan takut cerita karena Jihan tahu sebadas apa Maminya kalau ada yang mengganggunya disekolah.
"Enggak kok, Mi."
Jihan melanjutkan acara tv-nya dan sepertinya sudah menguap, melihat Jihan menguap Jamy langsung mengajak Jihan ke kamar.
"Sayang ayo ke kamar, Mau nen gak sayang." Jamy sengaja menawarkan breast.
"Enggak ah, Mi, Ihan kan udah gede malulah."
"He em ..sok dewasa kamu paling juga gak bisa bobo nantinya."
Setelah sampai di kamar, Jihan langsung berbaring bahkan sedikit meregangkan ototnya itu.
Jamy langsung menarik Jihan ke sampingnya dan mengecup pucuk kepala Jihan.
"Mami Jihan kan udah gede malu ih," protes Jihan.
"Udah ah cepetan bobonya ini udah jam berapa hayo," sahut Jamy sambil menepuk pantatnya Jihan.
Pluk! Pluk!
Waktu sudah berjalan 10 menit Jihan masih belum bobo, tanpa kelonan nen susu. Jamy jadi jengah melihat Jihan menatap langit-langit, dengan cepat Jamy menarik wajah Jihan dan mengeluarkan breast sebelah kanan.
"Ayo nen jangan ada penolakan!" titah Jamy dengan datar dan dingin.
"Tapi Mami Ihan kan udah gede," sahut Jihan.
"Tapi kamu dari tadi gak bobo-bobo, jangan banyak protes ayo cepetan bobo!" tegas Jamy.
Akhirnya Jihan mengalah juga dan dengan cepat mengulum pentil Maminya itu, dengan mulut yang imut dan itu sudah membuat Jamy sangat senang.
Dimata Jamy, Jihan itu masih sangat kecil dan imut siapa aja yang lihat pasti pengen cium.
Apalagi Jamy sangat detail merawat Jihan dari bayi, sampai semuanya Jamy yang mengatur.
Baru 5 menit, kuluman Jihan sudah mulai longgar dan dapat dipastikan bocah itu sudah ketiduran.
"Imutnya anak mami ini kalau lagi bobo," geming Jamy sambil membelai pipi Jihan.
Kemudian Jamy melepas breast-nya dari mulut Jihan dan mencium pipi Jihan dengan cinta.
"Mbok Yum," panggil Jamy.
"Iya Nya ada apa," sahut Mbok Yum yang baru saja datang.
"Seperti biasa ya Mbok, saya balik lagi ke kantor dan itu si Ihan dia bobo di kamar. Nanti jangan lupa kalau Ihan bangun tolong mandiin yahh," titah Jamy lalu pergi naik mobil.
Brom!
Ditengah jalan, Jamy dicegat oleh Citra dan itu hampir saja mobil mereka bertabrakan.
"Anda gila yah!" Jamy sangat marah kepada Citra dengan tatapan tajam.
"Saya gila karena kamu Jamy," sahut Citra lalu memegang kedua tangan Jamy.
"Please ... maafin aku yahh," mohon Citra dengan sendu sambil berharap Jamy akan memaafkannya.
"Lepas!"
Jamy langsung mendorong Citra dan masuk mobil lalu mengklakson agar citra menyingkir.
Tin tin!
Dengan terpaksa Citra menyingkir agar tidak di tabrak oleh Jamy.
"Kamu berubah Jamy, aku pastikan akan mendapatkan kamu dengan cara apapun. Aku sayang sama kamu Jamy," ucap Citra menatap kepergian mobil Jamy.
***