Bab 1

“Nda, minggu besok apa jadi ke rumah ibu?” tanya mas Ubay.

Dia suamiku. Sedangkan namaku Fira. Kita berdua berada di dapur. Dia duduk di belakangku, tepatnya di meja makan. Aku sedang memasak mumpung jagoan kecilku terlelap tidur.

Jam di dinding menunjukkan pukul setengah enam sore, sudah hampir maghrib tapi Arsya—putraku belum juga bangun. Dia tidur dari jam setengah empat tadi. Mungkin dia kelelahan habis main dengan teman-temannya.

“Jadi dong, Yah. Kita sudah lama lho, nggak ke sana. Sejak aku hamil Arsya, kita belum pernah bertemu sama ibu lagi. Apa kamu nggak kangen, Yah?”

Aku memasukkan bumbu-bumbu ke dalam wajan.

“Kangen sih pasti, Nda. Tapi ibu ‘kan yang menyuruh kita nggak main ke rumahnya. Apa lebih baik kita menuruti apa kata ibu saja?”

“Yah … kok ngomong gitu sih? Kita sudah lima tahun lho nggak main ke sana. Apa kamu nggak kasihan sama ibu? Mungkin di sana beliau sangat kesepian. Bapak juga udah lama meninggal. Ibu pasti ingin ketemu sama kita dan cucunya, Yah. Apa kamu tega, Arsya dari bayi nggak pernah lihat neneknya lho, Yah.”

Aku terpaksa menghentikan pekerjaan untuk sesaat dan melihat mas Ubay.

“Bukan begitu, Nda. Ibu ‘kan sudah nggak tinggal di rumah yang dulu. Semenjak bapak meninggal beliau pindah ke rumah yang ada di desa terpencil. Ibu juga sering titip pesan sama paman, kalau kita dilarang pergi ke sana. Mangkanya, aku nggak pernah ajak Bunda ke sana lagi.”

Perkataan mas Ubay memang benar. Namun, rasanya tak tega jika harus seperti itu terus. Aku rasa ibu mertua pun ingin melihat anak-anak dan cucunya, tapi entah apa alasannya kami dilarang untuk mengunjungi beliau. Aku pun sebenarnya ingin membawa beliau untuk tinggal di rumah ini bersama kami. Namun, beliau menolak.

“Tapi Yah … aku kasihan sama ibu. Sekali-kali kita kasih kejutan nggak apa-apa ‘kan? Pasti beliau akan sangat bahagia.”

Aku kembali sibuk dengan wajan penggorengan.

“Bunda yakin, mau tetap ke sana? Kalau ibu justru nggak suka kita ke sana gimana, Nda?”

Mas Ubay berkata seolah enggan datang ke rumah ibu. Padahal beliau adalah ibu kandungnya sendiri dan kami khususnya mas Ubay tidak pernah ada konflik besar yang terjadi. Jadi, kenapa mas Ubay sepertinya mempersulit kedatangan kami ke rumah beliau?

“Ayah, kamu kenapa sih? Beliau ‘kan ibu kandungmu, Yah? Kenapa kamu seolah malas menemui beliau. Jangan gitu dong, Yah. Nggak baik.”

Terpaksa, aku kembali memalingkan badan dan menatap mas Ubay dengan tatapan tak suka. Keningku mengerut agar dia tahu perasaanku.

Mas Ubay yang kutatap sedemikian rupa hanya bergeming. Mungkin dia merasa bersalah. Karena ekspresinya seperti itu, aku kembali menyibukkan diri dengan masakanku yang tak kunjung usai.

“Kita silaturahmi sama ibu, Yah. Aku yang mantunya saja kangen, masa Ayah yang anak kandungnya sendiri biasa saja. Jangan begitu dong, Yah … Arsya juga pasti ingin bertemu sama neneknya. Kasihan kalau sampai ibu sudah nggak ada di dunia kita baru menyesal. Nggak mau begitu ‘kan, Yah?”

Ocehan di mulutku tak mau berhenti. Padahal tadi aku sudah melihat ekspresi bersalah dari wajah mas Ubay. Namun, aku masih saja belum puas jika hanya berdiam diri mengetahui suami sendiri yang enggan datang ke rumah ibunya. Bagiku itu salah.

Bagaimana pun orang tua yang kadang menyebalkan, mereka tetap orang yang sangat berjasa di hidup kita. Apalagi seorang ibu yang merawat kita dari dalam kandungan sampai bisa berdiri tegak menyongsong dunia. Sepertinya durhaka jika sampai melupakan jasanya begitu saja.

“Nda, masaknya nggak selesai-selesai? Dari tadi aku sudah menunggu di depan lho. Biasanya Bunda nyamperin kalau sudah selesai masak, ini kok lama banget. Sudah hampir maghrib, jadi aku masuk saja nemuin Bunda di dapur.”

Bibirku yang belum lama terdiam, dikagetkan dengan suara seseorang yang sangat kukenal. Kumatikan kompor dan memalingkan badan melihat seseorang yang baru saja berbicara padaku.

Aku kaget saat melihat mas Ubay berdiri di ambang pintu pembatas dan berjalan perlahan menuju ke tempatku berdiri. Sepertinya mas Ubay baru datang dari arah depan. Padahal dari tadi dia sedang duduk di meja makan yang jauh dari sana. Kami pun berbicara panjang lebar, tapi kenapa mas Ubay terlihat seperti baru saja datang?

Beberapa kali mataku melihat ke arah meja makan yang belum lama ini diduduki olehnya. Namun sekarang dia sudah berada di dekatku berjalan dari arah depan. Padahal meja makan ada di sisi sebelah kanan ruangan ini, sedangkan pintu pembatas ada di sisi sebaliknya.

“Yah, dari tadi kamu duduk di sana ‘kan?”

Aku menunjuk ke meja makan.

Kini giliran mas Ubay yang mengerutkan keningnya.

“Maksud kamu apa, Nda?”

“Iya, tadi ‘kan kita bicara membahas soal pergi ke rumah ibu. Kamu duduk di sana ‘kan?”

Aku kembali memastikan.

“Apaan sih, Nda? Aku baru datang ke sini lho?” ucapnya seraya menatapku aneh.

“Ayah nggak usah iseng ya sama Bunda. Dari tadi kita berbicara lho, Yah. Kamu kayak nggak mau pergi gitu ke rumah ibu. Aku protes dong sama kamu. Terus sekarang kamu mau isengin aku, Yah? Kamu nggak terima sama ucapanku?”

“Bunda, jangan aneh-aneh deh. Aku dari tadi di depan nungguin kamu selesai masak tapi lama banget nggak kelar-kelar. Aku susul saja ke sini. Dan lagi, aku nggak pernah ngomong kalau aku nggak mau pulang ke rumah ibu. Padahal aku sudah kengen banget sama beliau. Mana mungkin aku ngomong begitu sama kamu, Nda. Kamu kecapekkan kali, butuh istirahat biar nggak ngehalu gitu, Nda.”

“Yah! Jangan iseng ya! Kamu dari tadi duduk di sana kok!”

Aku kembali menunjuk ke tempat duduknya tadi.

“Aku nggak mungkin salah, Yah. Jelas-jelas kamu duduk di sana ngobrol sama aku. Ayah jangan iseng, sok-sokan akting datang dari arah depan!”

“Bunda ini aneh. Aku baru saja datang ke sini sudah dituduh macam-macam,” ucapnya seraya mencomot masakanku dan pergi mengambil piring.

“Tadi kamu duduk di sana, Yah. Nggak mungkin aku salah lihat. Kita ngobrol juga kok.”

Aku tak mau kalah.

“Nda ….”

Arsya memanggilku dari kamar.

“Itu Nda, Arsya udah bangun. Kamu itu ada-ada saja. Sebelum pergi ke rumah ibu, kamu harusnya istirahat dulu, Nda. Perjalanan kita panjang lho, Nda. Aku lapar, mau makan dulu.”

“Ah Ayah, aku tuh nggak mungkin salah lihat,” dengusku sambil pergi ke kamar jagoan kecilku.

“Padahal jelas-jelas kami mengobrol, tapi kenapa mas Ubay kayak nggak tau apa-apa. Aneh banget sih,” gumamku seraya berjalan menemui Arsya di kamarnya.

“Nda ….”

Kembali Arsya memanggilku.

“Iya Sayang. Bunda datang.”

“Nda … hiks!”

Aku segera mendatangi Arsya yang tiba-tiba saja menangis. Tak biasanya dia bangun tidur seperti ini.

Bab 2

“Nda … Arsya takut, Nda … hiks!”

Dia menatapku dengan linangan air mata. Aku segera mendekap dan menenangkannya.

“Udah, udah … nggak usah takut ya? Sudah ada Bunda ‘kan? Arsya nggak usah takut lagi ya?”

“Tapi Arsya masih takut, Nda ….”

Tangan kecilnya mendekapku erat.

“Arsya mimpi buruk ya?”

Aku menerka kejadian yang membuatnya menangis sesenggukan seperti ini.

Kepalanya mengangguk. Berarti benar apa yang kuduga.

“Udah ya, Arsya nggak usah nangis lagi ya? Mimpinya ‘kan udah selesai. Sekarang ada Bunda yang nemenin Arsya.”

Aku melepas pelukan dan mengusap air matanya.

“Arsya takut banget, Nda. Arsya mau dibawa pergi sama nenek-nenek wajahnya serem banget. Arsya takut pokoknya, Nda.”

Bocah lima tahunan itu menceritakan mimpi buruk yang baru saja dialami.

“Kalau Arsya nggak bangun kayaknya Arsya sudah nggak sama Bunda lagi. Arsya pasti udah mati dibawa sama nenek-nenek serem itu, Nda. Untung saja Arsya masih bisa bangun.”

Dia kembali berbicara dengan sisa air matanya.

“Lain kali, kalau Arsya mau tidur harus berdoa dulu ya? Pasti tadi Arsya lupa nggak berdoa ‘kan? Udah ya, jangan nangis lagi. Yang penting kalau mau tidur harus baca doa dulu biar nggak mimpi serem kayak tadi. Arsya paham ‘kan sama yang Bunda ucapkan?”

Aku menasihatinya dengan membelai lembut rambutnya yang hitam dan tebal.

“Iya Nda, Arsya lupa nggak baca doa. Besok Arsya harus selau berdoa kalau mau tidur ya, Nda? Arsya nggak mau lagi mimpi kayak tadi. Arsya takut banget, Nda.”

Aku tersenyum mendengar ucapan yang keluar dari bibir mungil jagoan kecilku.

“Pintarnya, anak shalehnya Bunda.”

Kepalaku tidak memikirkan hal aneh tentang mimpi yang baru saja dialami oleh Arsya. Ya, namanya tidur terkadang pasti mengalami mimpi buruk. Itu hal biasa. Aku hanya menasihatinya saja agar selalu berdoa sebelum tidur. Selebihnya tak kuanggap serius.

Mungkin bisa jadi karena Arsya tidur diwaktu senja seperti ini. Sudah hampir maghrib, mungkin saja mendapat teguran dari Sang Kuasa agar tidak tidur di sore hari. Namun, Arsya masih anak-anak, apa iya sudah mendapat peringatan semacam itu? Atau mungkin peringatan itu sengaja ditujakan untukku sebagai orang tuanya. Ah … entahlah. Pasti hanya bunga tidur saja.

*** 

“Nda, sudah siap semua? Jangan sampai ada yang tertinggal. Coba dicek lagi.”

Kami sedang bersiap untuk pergi ke rumah ibu. Hari ini tepat hari minggu, dimana rencana yang sengaja kami susun untuk menemui beliau. Kejadian waktu di meja makan sudah tak kubahas lagi. Memang pernah sekali kutanyakan lagi, tapi mas Ubay tetap mengatakan hal yang sama, dia tidak merasa melakukan percakapan itu. Tatapannya pun aneh memandangku. Seolah memang tak pernah melakukannya. Saat itu aku jadi merinding. Jadi, siapa yang kuajak berbicara waktu itu? Aku tak lagi membahasnya karena merasa aneh dan takut sendiri.

Sekarang masih sekitar pukul delapan pagi, kami berencana pergi ke sana pukul Sembilan nanti. Aku dan mas Ubay kembali mengecek barang-barang yang akan kami bawa ke sana.  Karena kami memakai mobil pribadi, barang yang kami bawa lumayan banyak.

Rencananya kami akan menginap di sana sekitar tiga mingguan. Ya, waktu yang cukup panjang untuk bersantai menikmati suasana pedesaan. Cukup untuk menenangkan pikiran dari aktivitas sehari-hari yang kami lakukan di kota yang bising dan penuh kepenatan.

“Sudah Yah. Tadi sudah kucek beberapa kali. Semua aman,” ucapku sambil tersenyum.

“Ya sudah, kita santai dulu, Nda. Pasti kamu capek ngurusin ini dan itu.”

“Iya, Yah. Bekal yang tadi aku masak juga sudah siap. Ibu pasti suka kalau kubuatin rendang sapi ‘kan, Yah? Nggak sabar pengin ketemu sama ibu. Arsya pasti senang mau main ke desa.”

Kami duduk di ruang tengah. Ada beberapa tas besar tergeletak di lantai yang sudah siap kami bawa ke rumah ibu.

“Pasti suka, Nda. Dulu ibu ‘kan paling suka sama masakan rendang sapimu, Nda.”

“Benar Yah, ibu pasti suka.”

Aku kembali tersenyum bahagia. Aku sangat menantikan hari ini. Sudah tak sabar rasanya ingin bertemu dengan beliau. Meski hanya seorang ibu mertua, beliau begitu baik dan memperlakukanku layaknya anak sendiri. Sudah pasti aku melakukan hal yang sama kepada beliau.

Namun, entah apa alasannya, beliau menyuruh kami untuk pindah ke kota saja sejak aku hamil empat bulan. Sampai sekarang beliau tidak mau dijenguk oleh kami. Memang aneh. Tapi begitulah keinginan beliau. Kami hanya menurut saja.

“Arsya dimana Nda? Kok dari tadi aku nggak dengar suaranya?”

“Hmm, iya ya. Mungkin lagi main sama temannya.”

“Nda … ke sini Nda ….”

Baru saja kami membahasnya, Arsya memanggilku dari luar. Mungkin benar, Arsya baru pulang dari rumah tetangga.

“Ada apa Sayang,” ucapku seraya menghampirinya.

“Nda itu Nda, lihat Nda.”

Jari kecilnya menunjuk ke rumput di sekitaran pagar.

“Apa sih, Sya?” tanyaku seraya mencari sesuatu yang dia maksud. “Astaghfirullah, kok ada ayam mati di situ. Pasti belum lama. Belum kecium bau bangkainya. Ayo Sayang, kita ke ayah dulu. Biar ayah yang menguburkannya. Mungkin tadi ketabrak motor atau mobil.”

“Tapi Nda, Arsya mau lihat di sini saja.”

“Iya Sayang. Nanti kita lihat lagi. Kasihan kalau nggak cepat-cepat dikubur. Ayamnya nangis minta dikubur gimana hayo?”

“Iya deh, Nda.”

Kita kembali ke dalam rumah bermaksud memanggil mas Ubay untuk mengubur ayam tadi yang sudah mati.

“Ayah … ayo kita kubur ayam mati dulu. Yuk ….”

Baru satu kaki melangkah ke dalam rumah, Arsya sudah tidak sabar mengatakannya.

“Masa ngomongnya di sini, Sya. Tunggu kalau sudah di depan ayah ya?”

Aku menasihatinya. Ya, karena tidak sopan jika mengatakannya begitu saja, apalagi jika sedang berbicara dengan orang yang lebih tua. Lebih baik menghampiri orangnya lebih dulu, baru mengatakan keperluan yang dimaksud.

“Iya Nda, maaf,” ucapnya seraya berlari menemui mas Ubay.

“Pelan-pelan, Sayang.”

Aku perlahan menghampiri mereka.

“Ada ayam mati? Dimana?” ucap mas Ubay setelah Arsya mengatakannya.

“Di sana Yah. Ayo, Arsya tunjukin. Arsya mau lihat ayam mati itu dikubur.”

“Iya nanti, Ayah ambil cangkul di belakang.”

Mas Ubay pergi mengambilnya. Arsya pun ikut membuntutinya. Ya, mungkin Arsya sangat tertarik untuk melihat prosesi menguburkan ayam mati itu. Anak laki-laki, mungkin wajar jika seperti itu.

Mereka sudah kembali terlihat di mataku. Aku dari tadi hanya menunggu mereka di ruang tengah.

“Ayo Nda, kita mulai mengubur ayam mati tadi,” ucap Arsya bersemangat.

Kami pergi ke tempat ayam mati yang tergeletak di rumput dekat pagar.

“Ayo, ayo, ayo ….”

Arsya terlihat begitu bersemangat.

“Ayam matinya ada dimana Sya?” tanya mas Ubay saat sudah berada di tempat itu.

“Lho Nda, kok nggak ada, Nda?” ujar jagoan kecilku.

Aku pun ikut melihatnya untuk memastikan. Ya, sudah tidak ada lagi ayam mati yang tadi kami lihat. Padahal kami tak lama pergi ke dalam rumah. Atau mungkin sudah ada orang yang menguburkannya?

Bab 3

“Oh iya, kok jadi nggak ada. Padahal nggak lama manggil ayah. Apa mungkin sudah dikubur sama tetangga?”

Aku pun heran dengan kejadian yang baru saja terjadi.

“Yah … kok malah dikubur sama tetangga sih, Nda. Arsya ‘kan mau lihat ayah yang nguburin,” ketus Arsya. Dia benar-benar penasaran.

“Bagus dong kalau sudah ada yang nguburin,” sahut mas Ubay.

“Mbak Fira, Mas Ubay … lagi ngapain bawa cangkul segala?” tanya tetangga depan rumah.

“Hehe. Iya Bu. Tadi ada ayam mati yang tergeletak di rumput dekat pagar,” jawabku.

“Ayam mati? Kok bisa ada di situ?”

“Nggak tau juga, Bu. Mungkin habis ditabrak motor atau mobil.”

“Ck! Nggak ada apa-apa dari tadi lho, Mbak. Aku dari tadi bersihin rumput depan rumah. Nggak ada ribut-ribut orang nabrak ayam kok.”

Aku tercengang mendengarnya. Padahal mataku tidak mungkin salah melihat ayam yang sudah tergeletak di rumput dekat pagar tadi. Arsya saja melihatnya.

“Masa sih, Bu? Anakku saja melihat ayam matinya kok.”

Aku masih mencoba membela diri. Siapa tahu tetanggaku yang sok tahu.

“Iya Mbak, beneran. Dari jam tujuh sampai sekarang aku ada di depan rumah, cabutin rumput liar. Jalannya saja belum begitu ramai. Aku juga melihat Arsya baru pulang dari rumah tetangga sebelah. Lalu, dia berhenti tepat di depan pagar melihat sesuatu. Padahal dari sini aku nggak melihat apa-apa. Lalu, Mbak Fira datang. Dari sini aku lihat Mbak Fira terlihat kaget. Aku jadi bingung, apa yang kalian lihat. Mau kusapa keburu masuk,” jelas bu Sari—tetangga seberang jalan.

“Nda, kamu benar melihat ayam mati itu?” tanya mas Ubay.

“Lihat, Yah,” jawabku.

“Oh begitu ya, Bu. Mungkin Fira yang salah lihat,” sahut mas Ubay.

Aku bergeming kembali mengingat apa yang kulihat. Jelas-jelas tadi adalah ayam mati, tapi kenapa sekarang tak ada bekasnya sama sekali. Dan lagi, bu Sari katanya tidak melihat apa-apa. Beliau pun dari tadi di depan rumah yang katanya tidak ada keributan tentang ayam yang tertabrak. Jadi, aku melihat apa? Kenapa mataku sering melihat sesuatu hal yang ganjil belakangan ini. Tapi, kali ini Arsya pun melihatnya.

“Hehe. Iya mungkin mbak Fira kecapekan aja. Aku lanjut cabutin rumputnya.”

Bu Sari kembali fokus dengan kegiatannya mencabuti rumput yang hampir selesai.

“Nda, kamu salah lihat kali?”

Kami berjalan memasuki rumah.

“Nggak Yah, Bunda nggak salah lihat. Arsya yang melihatnya duluan kok. Aneh ya? Kenapa ayamnya bisa hilang sendiri ya, Nda. Padahal udah mati. Arsya sudah senang mau nguburin bareng Ayah malah udah nggak ada. Seharusnya Arsya nungguin ayam mati itu di depan, Nda. Bunda nggak percaya sih ….”

Arsya membelaku di depan mas Ubay, tapi dia pun protes karena gagal menguburkannya. Di kepalaku hanya ada tanda tanya yang besar. Kejadian tadi sangat aneh. Padahal Arsya melihatnya juga.

“Nda, kamu kecapekan?” tanya mas Ubay lagi.

“Nggak Yah, aku nggak capek.”

Ekspresiku datar. Ingin marah karena mas Ubay selalu saja menganggapku berhalusinasi, tapi nyatanya memang sesuatu yang aku lihat selalu terasa janggal. Aku bingung dengan kejadian yang akhir-akhir ini terjadi. Terkadang membuatku menjadi merinding.

“Ya sudah, nggak usah dibahas lagi. Kita siap-siap aja ke rumah ibu. Biar kita cepat dapat suasana baru. Mungkin kamu bisa lebih tenang saat sudah ada di sana, Nda.”

Aku tahu maksud dari pembicaraan ini. Mas Ubay pasti menganggapku benar-benar kelelahan dengan segala kegiatanku di rumah. Ya, mau tersinggung percuma saja. Aku hanya diam dan mengiyakannya saja.

*** 

“Nda, masih jauh ya?” tanya Arsya.

Kami sudah berada di dalam mobil, menyusuri jalan pergi ke rumah ibu.

“Masih lama nggak, Yah?”

Aku ikut bertanya kepada mas Ubay. Wajar jika aku tidak tahu jalannya, mungkin mas Ubay pun sama. Namun, dia tahu rumah ibu berada di daerah terpencil yang bernama desa Larangan. Entah nama desa itu memang sebuah larangan untuk ditinggali atau justru hanya sebuah nama saja.

Mas Ubay tahu nama itu karena mendapat informasi dari pamannya yang sering dititipi pesan oleh ibu. Paman Joko tinggal tak jauh dari desa tersebut. Desa Larangan berada di paling ujung dengan rumah yang sangat jarang. Katanya, desa itu masih banyak ditumbuhi oleh pepohonan yang sangat rindang. Beda dengan desa tempat tinggal paman yang sudah banyak orang.

Meski di desa Larangan sudah ada listrik, tapi kata paman desa itu selalu gelap gulita. Orang-orang yang tinggal di sana lebih suka memakai lilin atau bahkan obor yang mereka buat sendiri. Termasuk ibu pun melakukan hal yang sama.

Paman pun mengingatkan kami untuk kembali mempertimbangkan rencana pergi menemui ibu di desa tersebut. Namun, kami tetap gigih untuk pergi ke sana. Justru menurut kami, suasana yang asri semacam itu bisa menyegarkan pikiran kembali. Mas Ubay pun meminta kepada paman agar tidak mengatakan apa-apa tentang kepergian kami kepada ibu, agar beliau tidak melarang kami seperti yang sudah-sudah.

“Mungkin sebentar lagi. Kita akan mampir ke rumah paman Joko dulu. Sekalian memberikan oleh-oleh untuk paman.”

“Paman Joko itu siapa, Nda?” tanya Arsya.

Dia duduk di jok belakang. Saat bertanya, aku melihat dari spion, posisinya tiduran sesuka hati. Biarkan saja, asal dia tenang dan nyaman.

“Paman Joko itu adiknya nenek. Jadi, Arsya harus memanggilnya kakek. Yang boleh manggil paman hanya Bunda dan ayah,” jawabku menjelasakannya.

“Oh ….”

Jawaban Arsya sangat singkat. Aku tersnyum dan menggelengkan kepala mendengar kata tersebut keluar dari bibir mungilnya.

Beberapa saat, akhirnya sampai juga di rumah paman Joko. Benar saja, meski pedesaan tapi sudah banyak orang yang tinggal di sana. Pasar pun tak jauh dari tempat tinggal paman.

“Assalamu’alaikum!” sapa mas Ubay.

Aku dan Arsya membuntuti dari belakang. Tanganku membawa bingkisan oleh-oleh yang khusus kami bawa dari rumah.

“Wa’alaikumsalam,” jawab seorang laki-laki dari dalam rumah.

“Paman, sehat?”

Mas Ubay segera meraih tangan laki-laki tersebut yang ternyata paman Joko. Aku sedikit lupa dengan wajahnya. Aku memang jarang bertemu saat masih tinggal di rumah mertua yang dulu. Rumah ibu yang dulu sebelum tinggal di desa Larangan, mungkin beda arah dari sini. Sedangkan paman Joko setahuku sudah tinggal di desa ini sejak lama. Karena jauh, mungkin dulu paman jarang main ke rumah ibu yang dulu. Dan sekarang mereka sudah berdekatan, ya mungkin itu alasan ibu pindah ke desa Larangan sengaja ingin dekat dengan paman Joko.

“Iya Alhamdulillah, Bay. Kamu beneran mau ke rumah ibumu? Paman sudah mencoba untuk mengingatkanmu, Bay. Lebih baik putar arah saja. Pulang kembali ke rumah kalian.”

Padahal baru saja datang, paman Joko sudah berbicara seperti itu. Aku dan mas Ubay hanya saling memandang. Sepertinya apa yang diucapkan paman Joko terdengar sangat aneh. Aku kembali teringat tentang kejadian sore itu. Saat aku berbicara dengan mas Ubay yang seolah melarangku pergi ke rumah ibu dan ternyata mas Ubay tak mengakuinya. Seketika, bulu kudukku merinding saat mengingatnya lagi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED