Bab 2

Sejak malam itu, Hana mulai lebih jeli memperhatikan gerak-gerik Arya. Sekalipun ia berusaha untuk berpikir positif, tanda-tanda aneh semakin sulit diabaikan. Arya semakin sering terlihat mengangkat telepon dengan wajah cemas, kadang langsung keluar rumah untuk menjawabnya, atau menyingkir ke kamar kerja dengan suara yang diturunkan nyaris berbisik.

Suatu malam, saat mereka sedang duduk bersama di ruang tamu, ponsel Arya tiba-tiba bergetar. Arya yang semula bersandar santai langsung bangkit, meraih ponselnya dan melihat ke arah layar. Ekspresinya berubah, seolah sedang memikirkan sesuatu. Tanpa berkata-kata, Arya berdiri dan berjalan ke dapur sambil membawa ponsel itu.

Hana memperhatikan tingkahnya dari jauh, dada berdegup semakin kencang. Ia tak bisa menahan diri untuk mendekat, berusaha mendengar potongan-potongan pembicaraan Arya.

"Iya, aku masih di rumah," ujar Arya dengan suara pelan.

Hana tak bisa mendengar lebih lanjut. Namun, saat Arya kembali ke ruang tamu, ia tampak terkejut melihat Hana yang tengah menunggunya dengan wajah penuh tanda tanya.

"Siapa tadi, Mas?" tanya Hana hati-hati, berusaha menahan kecurigaan yang semakin besar.

"Oh, cuma rekan kerja. Aku harus bantu review laporan untuk besok," jawab Arya sambil tersenyum, namun senyum itu terasa dipaksakan.

Hana menahan diri, hanya mengangguk pelan meski hatinya terasa sesak. Apakah aku hanya berlebihan? pikirnya dalam hati. Namun, instingnya terus memperingatkan ada sesuatu yang tidak benar.

Keesokan harinya, Hana mulai lebih memperhatikan ponsel Arya yang kerap kali langsung dikantongi, bahkan saat ia berada di kamar mandi. Hal-hal kecil seperti ini semakin menambah kegelisahan Hana.

Suatu siang, saat ia sedang merapikan meja makan, ponsel Arya yang tertinggal di atas meja bergetar, menampilkan notifikasi pesan singkat. Hana melihat nama yang tertera di layar-Mira-dan hatinya langsung berdegup kencang.

Hana hanya terdiam, berusaha menenangkan dirinya. Ia merasa tidak berhak melihat isi ponsel suaminya, tapi rasa penasaran menguasai dirinya. Namun, sebelum ia sempat melakukan apa pun, Arya tiba-tiba muncul dari arah kamar, tampak terburu-buru.

"Eh, ponselku ketinggalan ya?" Arya tersenyum canggung sambil mengambil ponselnya dari meja, matanya menatap Hana dengan sorot yang sulit dijelaskan.

Hana tersenyum kecil, berpura-pura tak melihat pesan yang baru masuk. "Iya, tadi aku mau panggil kamu, tapi kebetulan kamu udah keluar."

Arya mengangguk dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Oh, oke. Aku balik dulu ke kantor, ya. Mungkin malam ini lembur lagi," ujarnya singkat sambil mencium pipi Hana sekilas.

Begitu Arya keluar, Hana terdiam. Kata-kata "lembur lagi" mulai terdengar seperti alasan yang basi. Ia mencoba menyangkalnya, namun hati kecilnya tahu bahwa ada yang tidak beres.

Hari-hari berikutnya, Arya semakin sering pulang larut malam. Setiap kali Hana menanyakan, jawaban Arya selalu sama-ada proyek besar, atau deadline yang harus dikejar. Namun, sikapnya semakin sulit ditebak, seolah ada yang selalu mengganjal dalam percakapan mereka.

Suatu malam, Hana memberanikan diri berbicara secara langsung, berharap Arya bisa menjelaskan semuanya.

"Mas Arya, kamu masih sibuk sama proyek yang itu ya?" tanyanya lembut, berusaha agar nada suaranya tak terdengar menghakimi.

Arya mengangguk singkat, tatapannya beralih dari ponsel ke wajah Hana. "Iya, lumayan menyita waktu."

Hana menarik napas dalam, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Aku cuma... aku cuma ingin tahu, Mas. Karena belakangan ini, kamu sering pulang malam. Kadang aku khawatir, atau mungkin aku yang berlebihan."

Arya tersenyum kecil, menggenggam tangan Hana. "Kamu nggak perlu khawatir, Sayang. Aku cuma ingin menyelesaikan pekerjaan ini secepat mungkin, biar kita bisa punya lebih banyak waktu bersama."

Mendengar kata-kata itu, Hana tersenyum tipis, tapi hatinya masih diliputi keraguan. Ia berharap, mungkin saja perasaannya hanya salah paham.

Namun, beberapa hari kemudian, ketika Hana sedang menyiapkan makan malam, ia melihat Arya di ruang tamu sedang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. Tiba-tiba Arya menyadari Hana memperhatikannya, lalu dengan cepat mengunci ponselnya dan memasukkannya ke saku.

Arya berdiri dan menghampiri Hana di dapur, seolah ingin mengalihkan perhatian. "Mau aku bantu apa, Han?" tanyanya dengan senyum.

"Eh, nggak usah, Mas. Aku sudah hampir selesai," jawab Hana sambil berusaha tetap terlihat tenang.

Tapi di dalam hatinya, Hana tahu ada sesuatu yang salah. Semua tanda-tanda ini seperti potongan puzzle yang mulai membentuk gambaran yang tidak ia inginkan.

Malam itu, Hana tak bisa tidur. Ia merenung di tempat tidur, berusaha memahami perasaan gelisah yang terus mendera. Di benaknya, ada banyak pertanyaan yang berputar-putar tanpa jawaban. Apakah Arya benar-benar hanya sibuk bekerja, ataukah ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini?

Ia mencoba menepis rasa curiga, namun kenangan tentang telepon yang dirahasiakan, pesan yang dihapus, dan alasan lembur yang tak masuk akal terus menghantuinya.

Hana mulai berpikir untuk menghadapi Arya secara langsung, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, ia takut jika pertanyaannya malah memperburuk keadaan. Meski begitu, ia tak bisa menahan perasaannya lagi-ia harus mengetahui kebenarannya, meskipun menyakitkan.

Di tengah kesunyian malam, Hana menyadari bahwa kebahagiaan yang selama ini ia anggap sempurna mulai berubah menjadi kabut yang penuh misteri. Dan di balik kabut itu, ada rahasia yang mengancam kebahagiaannya.

Hana terbangun dengan perasaan berat. Sudah beberapa malam ia sulit tidur, dihantui oleh kecurigaan yang makin tak terbendung. Aku harus tahu yang sebenarnya, pikirnya.

Pagi itu, saat Arya bersiap berangkat ke kantor, Hana mengumpulkan keberanian untuk berbicara lagi. Ia mencoba menyusun kata-kata, tetapi begitu melihat Arya berdiri di depannya, segala rencananya menguap.

"Mas Arya..." Hana akhirnya berkata, meski dengan suara sedikit bergetar.

Arya menoleh, mengangkat alis. "Iya? Kenapa, Han?"

Hana memaksa dirinya untuk tetap tenang. "Aku... aku merasa belakangan ini kita jarang punya waktu bersama. Kamu sering pulang malam, sering di kantor, atau sibuk dengan ponsel."

Arya tersenyum tipis, seperti mencoba meredakan ketegangan. "Aku tahu, Sayang. Maaf ya. Mungkin belakangan ini memang terasa berat buat kamu. Tapi semua ini untuk masa depan kita kok," jawabnya sambil mengelus pipi Hana.

Hana tersenyum kecil, namun jauh di dalam hatinya, keraguan itu masih ada.

Hari itu, setelah Arya berangkat kerja, Hana memutuskan untuk berbicara dengan sahabatnya, Rina. Rina adalah teman yang selalu ada untuknya, dan Hana tahu Rina bisa memberikan pandangan yang jernih di tengah kegalauan hatinya.

Di sebuah kafe kecil dekat rumah, Hana bertemu dengan Rina dan segera menceritakan semua yang ia rasakan.

"Rin, aku nggak tahu, ya... tapi perasaan aku benar-benar nggak enak. Belakangan ini Arya sering banget sibuk, pulang malam, terus ponselnya selalu dia pegang. Bahkan kadang, dia menjauh kalau ada telepon atau pesan masuk."

Rina mendengarkan dengan wajah serius. "Hmm, mungkin dia memang benar-benar sibuk, Han. Tapi kalau kamu merasa ada yang aneh, nggak ada salahnya kamu coba cari tahu lebih dalam."

"Tapi aku takut, Rin. Aku takut kalau kecurigaan ini cuma di kepala aku sendiri. Nggak mau rasanya jadi istri yang curigaan dan nggak percaya sama suami."

Rina mengangguk pelan. "Kamu nggak salah kok kalau punya insting seperti itu. Perasaan seorang istri itu biasanya nggak pernah meleset, Hana. Tapi cobalah cari cara yang baik, mungkin lebih hati-hati dan bijaksana."

Hana menarik napas panjang. "Iya, mungkin kamu benar. Aku cuma harus sabar dan coba memahami, mungkin memang cuma kesalahpahaman."

Sepulangnya dari pertemuan dengan Rina, Hana memutuskan untuk mencoba cara yang lebih lembut, mengamati dengan sabar sambil tetap percaya pada Arya. Tapi semakin ia berusaha tenang, semakin banyak kejanggalan yang ia temukan.

Malam itu, Arya pulang sedikit lebih awal dari biasanya, yang membuat Hana sedikit lega. Ia pun berusaha menyambut suaminya dengan suasana hangat.

"Kamu udah makan malam, Mas?" tanya Hana sambil menghidangkan sup hangat di meja makan.

"Udah, tadi makan sedikit di kantor. Tapi aku bisa makan lagi kok, apalagi kalau buatan kamu," jawab Arya dengan senyum kecil.

Hana duduk di seberang Arya sambil mengamati wajah suaminya. Ada lelah di matanya, tapi juga sesuatu yang lain. Sebuah kebingungan atau mungkin... rasa bersalah? Hana sendiri tak yakin.

"Mas... apa kamu benar-benar baik-baik aja?" tanya Hana sambil mencoba memulai percakapan ringan.

Arya tertegun sejenak, lalu tersenyum samar. "Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"

"Entahlah, aku hanya merasa kita semakin jarang punya waktu untuk bicara dari hati ke hati," ucap Hana lirih.

Arya menghela napas. "Maafkan aku, Hana. Memang banyak hal di kantor yang cukup bikin stres, makanya mungkin aku sering terlihat aneh di rumah."

Namun, malam itu, setelah Arya tertidur lebih dulu, Hana terbangun dengan perasaan tak tenang. Sekilas ia melihat ponsel Arya tergeletak di meja samping tempat tidur, layar masih menyala. Nama "Mira" muncul di layar dengan notifikasi pesan yang baru masuk.

Hana menatap ponsel itu, hatinya berdebar kencang. Sisi lain dari dirinya yang selama ini berusaha mengabaikan kecurigaan tiba-tiba kembali menguat. Mira? Siapa Mira?

Dengan tangan gemetar, Hana meraih ponsel Arya. Perasaan bersalah bercampur dengan dorongan kuat untuk mengetahui kebenaran mulai membanjiri hatinya. Ia membuka pesan itu, dan mata Hana langsung terpaku pada deretan kalimat singkat yang ada di layar.

"Aku kangen, kapan kita bisa bertemu lagi?"

Pesan itu mengoyak semua keraguannya. Hana duduk terpaku, berusaha mencerna apa yang baru saja ia lihat. Semua yang ia coba pertahankan selama ini, semua kepercayaannya pada Arya, terasa runtuh dalam sekejap.

Tangannya bergetar, air mata mulai menetes tanpa bisa ia cegah. Apakah ini arti sebenarnya dari perubahan Arya selama ini? Apakah ini rahasia di balik kebahagiaan yang selalu ia percayai?

Hana tak tahu harus berbuat apa. Malam yang seharusnya damai itu kini berubah menjadi malam yang penuh kepedihan.

Bersambung...

Bab 3

Pagi itu, Hana duduk di meja makan dengan pikiran yang berat, sementara Arya bersiap berangkat kerja seperti biasanya. Di matanya, Arya terlihat seperti suami yang sempurna-rapi, tenang, dan selalu tampak penuh perhatian. Tapi sejak ia membaca pesan dari Mira, segala hal yang tampak sempurna itu seperti topeng yang mulai retak.

Hana mencoba menahan kegelisahannya, tapi hatinya penuh dengan tanda tanya. Apakah aku harus langsung bertanya? pikirnya, namun setiap kali ia mencoba, ada dorongan dalam dirinya yang takut untuk mendengar kebenaran.

Saat Arya keluar dari kamar, mengenakan jasnya, Hana memutuskan untuk mengutarakan perasaannya.

"Mas Arya... kita bisa bicara sebentar?" tanyanya, dengan nada lembut tapi tegas.

Arya berhenti, sedikit terkejut. "Tentu, Sayang. Ada apa?"

Hana menatap Arya, mencoba membaca ekspresi wajah suaminya yang terlihat tenang. "Belakangan ini... kamu sering sekali sibuk. Sering pulang larut, atau tiba-tiba ada telepon yang kamu jawab di luar rumah. Kamu juga sering menghindari aku ketika aku mencoba bicara... apakah ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan padaku?"

Arya tersenyum tipis dan meraih tangan Hana, menggenggamnya lembut. "Hana, kamu jangan berpikir yang macam-macam, ya. Semua ini demi kita. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik, makanya aku bekerja keras."

"Tapi... aku merasa kamu semakin jauh, Mas." Hana mencoba menahan emosi yang mulai menguasainya. "Aku merasa ada yang berbeda."

Arya menghela napas dan melepaskan genggaman tangannya. "Mungkin kamu terlalu khawatir. Tenang saja, semuanya baik-baik saja, kok."

"Tapi pesan-pesan yang langsung kamu hapus, panggilan yang kamu jawab di luar rumah, itu semua tidak biasa, Mas," Hana berkata sambil menatap Arya dengan mata penuh harap.

Arya terdiam sejenak, lalu memaksakan senyum. "Kamu ini terlalu overthinking, Sayang. Fokus saja dengan apa yang sudah kita bangun bersama, ya?"

Namun, Hana merasa Arya hanya menghindar lagi, seperti yang selalu ia lakukan setiap kali Hana mendekat ke inti permasalahan. Ketika Arya akhirnya berangkat kerja, Hana duduk sendiri di ruang tamu dengan perasaan yang bercampur aduk antara kecewa dan bingung.

Hari-hari berikutnya, Arya masih sama. Ia tetap pulang terlambat, sibuk dengan ponselnya, dan semakin sering tampak gelisah saat Hana mengajaknya berbicara. Sementara itu, Hana mulai merasa dirinya terjebak dalam lingkaran pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban.

Di malam yang sunyi, Hana duduk di kamar sendirian, pikirannya tak bisa tenang. Kegelisahannya sudah mencapai puncaknya. Ia pun memutuskan untuk berbicara kembali dengan Rina.

Di pertemuan berikutnya, Hana mencurahkan isi hatinya pada Rina.

"Rina, aku benar-benar nggak tahu harus bagaimana. Semakin aku mencoba percaya, semakin banyak tanda yang muncul, semakin gelisah aku rasanya," kata Hana dengan mata yang berkaca-kaca.

Rina menggenggam tangan Hana, berusaha menenangkan. "Kamu sudah bertanya langsung sama Arya?"

Hana mengangguk pelan. "Sudah, tapi dia selalu menghindar, jawabannya selalu sama: aku terlalu khawatir, semua ini demi kita. Tapi... aku nggak tahu, aku cuma merasa ada yang nggak beres."

"Kalau memang kamu merasa ada yang disembunyikan, mungkin kamu perlu mencoba cara lain, Han," kata Rina dengan hati-hati. "Kadang, untuk mengetahui kebenaran, kita perlu siap dengan segala risikonya."

Hana menghela napas panjang. "Aku takut, Rin. Aku takut dengan apa yang akan aku temukan."

Rina menatap sahabatnya dengan penuh empati. "Kamu nggak sendiri, Hana. Aku selalu ada untuk kamu. Tapi kalau kamu merasa sudah nggak tahan dengan semua tanda-tanda ini, mungkin inilah saatnya kamu mencari tahu sendiri kebenarannya."

Malam itu, setelah pulang ke rumah, Hana merasa pikirannya sudah bulat. Ia akan mencoba mengamati lebih dekat, mengumpulkan keberanian untuk menemukan jawaban atas kegelisahan yang terus menghantuinya.

Beberapa hari kemudian, kesempatan itu datang. Saat Arya tertidur lelap, Hana menunggu dengan cemas di ruang tamu, memastikan bahwa suaminya benar-benar terlelap. Begitu suasana rumah sunyi, ia berjalan pelan menuju kamar tidur, bernapas dalam-dalam sebelum ia mengambil ponsel Arya yang tergeletak di samping ranjang.

Tangannya sedikit bergetar saat ia membuka ponsel itu, mencari petunjuk yang mungkin selama ini ia abaikan.

Dan akhirnya, ia menemukan sesuatu.

Di aplikasi pesan, Hana menemukan riwayat pesan singkat yang mengonfirmasi kecurigaannya. Beberapa pesan dari nomor tanpa nama, berisi kata-kata singkat namun cukup menyakitkan untuk dilihat.

"Aku menunggumu, kapan kita bisa bersama lagi?"

"Kamu janji akan mengakhirinya, kan?"

"Aku sudah lelah menunggu... Hana tidak perlu tahu apa yang terjadi di antara kita."

Hana terhenyak. Rasanya seperti waktu berhenti seketika. Pesan-pesan itu, yang mengonfirmasi apa yang selama ini ia takutkan. Arya ternyata memiliki hubungan lain-dengan siapa, ia belum tahu pasti, namun kejelasan yang ia dapatkan malam itu menghantamnya keras.

Hana terduduk di lantai, air mata mulai membasahi pipinya. Selama ini ia mencoba menepis kecurigaan dan meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja, tapi kenyataan di depannya begitu kejam.

Aku sudah cukup bersabar, pikir Hana dalam hati. Sekarang aku harus tahu seluruh kebenarannya.

Dengan air mata yang masih mengalir, Hana bertekad untuk tidak lagi terjebak dalam kebingungan dan kegelisahan ini. Ia tahu, jawaban dari semua ini mungkin akan sangat menyakitkan, tapi ia tidak bisa lagi berpura-pura tidak melihat apa yang nyata.

Hana berusaha menenangkan diri di lantai kamar, memandangi layar ponsel Arya yang masih terbuka. Pesan-pesan itu mengoyak hatinya, tapi di sisi lain, kini ia tahu bahwa firasatnya selama ini tidak salah. Kebenaran memang menyakitkan, tapi kepastian, betapapun pahitnya, memberinya kekuatan untuk melangkah.

Setelah beberapa saat, Hana menghapus jejak dari ponsel Arya, memastikan semua pesan kembali seperti semula, lalu mengembalikan ponsel itu ke tempatnya. Dengan langkah perlahan, ia keluar kamar, menutup pintu, dan duduk di ruang tamu dalam kegelapan. Malam itu, ia tak bisa tidur. Bayangan-bayangan dari pesan itu terus menghantui pikirannya.

Keesokan paginya, Hana mencoba bersikap seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya; tekad yang tumbuh untuk menghadapi apa yang selama ini ia takutkan. Ia berencana untuk mengumpulkan bukti lebih lanjut, memastikan bahwa ia benar-benar tahu apa yang terjadi sebelum berhadapan langsung dengan Arya. Kali ini, ia tak ingin hanya mendapat jawaban samar atau pengalihan dari suaminya.

Di meja sarapan, Arya duduk di seberangnya, menikmati roti bakar dan kopi yang Hana buat. Namun, bagi Hana, setiap gerakan Arya kini terasa asing. Pria di depannya, yang dulu ia cintai dan percayai sepenuh hati, sekarang tampak seperti orang yang sama sekali berbeda.

"Ada rencana apa hari ini, Mas?" tanya Hana dengan nada datar, mencoba menutupi perasaannya.

Arya tersenyum tipis. "Sepertinya aku akan pulang agak malam lagi. Ada beberapa laporan yang harus diselesaikan."

Hana mengangguk pelan. "Lembur lagi ya?" tanyanya, kali ini dengan nada yang lebih tegas.

"Iya, Sayang. Maklum, pekerjaan sedang banyak-banyaknya. Kamu tahu sendiri, aku melakukan ini untuk kita, untuk masa depan kita," jawab Arya dengan senyum yang menenangkan, meski bagi Hana kini senyum itu tampak kosong.

Sambil berpura-pura menerima alasan Arya, Hana berusaha menahan diri untuk tidak mengeluarkan kekecewaannya. Untuk masa depan kita, atau masa depan dengan orang lain, Mas? pikirnya dalam hati, dengan kemarahan yang membara namun tetap tersembunyi di balik wajahnya yang tenang.

Setelah Arya berangkat kerja, Hana menghubungi Rina.

"Rina, kamu ada waktu siang ini?" tanya Hana, suaranya terdengar getir.

"Ada, ada apa, Han? Kamu nggak apa-apa?" Rina bertanya, menyadari nada suara Hana yang tak biasa.

"Ini tentang Arya... aku menemukan sesuatu. Aku perlu cerita sama kamu," jawab Hana dengan suara lirih.

Siang itu, Hana dan Rina bertemu di sebuah kafe yang tenang. Hana menumpahkan semua perasaannya, menceritakan tentang pesan yang ia temukan di ponsel Arya dan bagaimana selama ini ia menahan diri untuk tidak meledak. Rina mendengarkan dengan penuh perhatian, tatapannya menunjukkan betapa prihatin ia terhadap keadaan Hana.

"Hana, kamu pasti nggak kebayang betapa kecewanya aku mendengar ini," ujar Rina sambil menggenggam tangan Hana. "Arya nggak pernah menunjukkan tanda-tanda kalau dia melakukan ini... tapi sekarang, apa rencanamu selanjutnya?"

Hana menghela napas panjang, menatap cangkir kopinya yang sudah dingin. "Aku nggak tahu. Aku ingin langsung menanyakan ini ke Arya, tapi aku juga takut... takut kalau dia hanya akan berbohong lagi."

"Kalau kamu perlu bantuan, aku di sini untuk kamu, Han. Mungkin kamu bisa mulai mencari lebih banyak bukti... sesuatu yang tidak bisa dia sangkal," saran Rina, mencoba memberikan semangat.

Hana mengangguk, menyadari bahwa Rina benar. Untuk menghadapi Arya, ia membutuhkan bukti yang jelas, sesuatu yang tak bisa dihindari oleh suaminya. Malam itu, Hana memutuskan untuk mencoba mengikuti Arya dan mencari tahu lebih banyak.

Beberapa hari kemudian, Hana mulai mengamati setiap gerak-gerik Arya dengan seksama. Setiap kali Arya menyebutkan bahwa ia akan lembur, Hana menghafal setiap detail-jam berangkat, tempat yang disebutkan, bahkan pakaian yang dikenakan suaminya. Setelah cukup lama menunggu, kesempatan akhirnya tiba.

Pada suatu malam ketika Arya mengabari akan pulang lebih larut dari biasanya, Hana memutuskan untuk mengikutinya. Dengan hati yang berdebar-debar, ia menunggu Arya pergi lebih dulu, lalu mengikuti mobilnya dari kejauhan.

Hana menatap mobil suaminya yang bergerak di depan, berusaha menjaga jarak agar tidak ketahuan. Ketika Arya tiba di sebuah restoran kecil di pusat kota, Hana memarkir mobilnya tak jauh dari sana, menyaksikan dari kejauhan dengan perasaan berdebar. Ia melihat Arya masuk, lalu muncul lagi beberapa menit kemudian bersama seorang wanita yang tampak akrab dengannya.

Wanita itu tertawa kecil sambil menggandeng lengan Arya. Hati Hana mencelos melihat kedekatan mereka, cara mereka saling menatap, senyum yang dulu hanya miliknya kini terarah kepada wanita lain.

Tapi yang paling menghancurkan adalah saat ia melihat Arya mencium kening wanita itu dengan lembut.

Saat itulah Hana tahu, tak ada lagi yang perlu ia ragukan. Segala kebohongan, alasan, dan pengalihan yang selama ini ia terima dari Arya terjawab di depan matanya. Dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya, Hana menggenggam kemudi mobilnya erat-erat.

"Ini cukup," bisiknya pada diri sendiri. "Aku sudah cukup tersakiti."

Kepalanya penuh dengan berbagai pertanyaan dan perasaan yang saling bertabrakan. Tapi yang jelas di benaknya sekarang adalah bahwa ia tidak akan tinggal diam.

Bersambung...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED