Bab 1

Kehidupan Hana dan Arya tampak begitu sempurna. Setiap pagi, Hana menyiapkan sarapan di dapur yang dipenuhi aroma kopi dan roti panggang. Arya duduk di meja makan, tersenyum sambil membaca koran atau mengecek berita dari ponselnya. Pagi mereka selalu hangat, penuh canda tawa, dan semua orang di sekitar mereka menganggap keluarga kecil ini sebagai pasangan ideal.

Namun, belakangan ini Hana mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda. Arya, yang biasanya sangat perhatian, kini sering tampak larut dalam pikirannya sendiri. Dia sering pulang terlambat, beralasan pekerjaan yang semakin sibuk, atau proyek besar yang butuh perhatian ekstra.

Suatu pagi, saat Hana menyuguhkan kopi seperti biasa, Arya terlihat kurang antusias.

"Kopi hitam, tanpa gula. Seperti biasa, Pak Arya yang sibuk," Hana mencoba menggoda, berharap bisa mencairkan suasana.

Arya tersenyum singkat, namun tidak seperti biasanya. Senyumnya terlihat samar, dan ia lebih banyak menunduk pada layar ponselnya.

"Terima kasih, Sayang," jawabnya singkat sambil menyeruput kopi.

Hana memandangnya lekat-lekat, merasa ada yang ganjil. Tapi ia menahan diri, berusaha meyakinkan hatinya bahwa ini hanya lelah biasa. Namun, instingnya berkata lain.

"Kamu baik-baik saja, Arya?" Hana akhirnya memberanikan diri bertanya. "Akhir-akhir ini kamu terlihat... berbeda."

Arya menghela napas, menatap Hana sejenak sebelum kembali fokus ke ponselnya. "Hanya kerjaan, Han. Ada proyek baru yang cukup bikin kepala pening."

Hana mencoba tersenyum dan mengangguk. Tapi perasaan aneh itu tak hilang, malah semakin besar. Arya biasanya suka bercerita tentang pekerjaannya, detail kecil yang ia tak sabar untuk bagi pada Hana. Tapi sekarang, jawaban Arya terasa menghindar, seakan ada sesuatu yang dia sembunyikan.

Beberapa hari kemudian, rasa gelisah Hana semakin menjadi. Saat dia merapikan pakaian Arya di lemari, ia melihat dasi yang belum pernah dilihatnya sebelumnya, dengan motif yang lebih mencolok dari pilihan Arya biasanya.

"Mungkin aku yang lupa atau mungkin ini hadiah dari seseorang?" pikirnya dalam hati. Tapi, rasa penasaran itu terus mengusiknya.

Sore itu, Hana memutuskan untuk berbicara dengan sahabatnya, Rina, di sebuah kafe dekat kantor Rina. Rina sudah mengenal Hana sejak lama, dan selalu menjadi tempat Hana curhat.

"Aku tahu mungkin ini hanya perasaanku, Rin," ujar Hana, sambil menyesap teh hangatnya. "Tapi aku merasa Arya berubah. Dia makin sering pulang telat, sering lihat-lihat ponsel, dan... entahlah. Aku merasa seperti ada sesuatu yang disembunyikan."

Rina mengerutkan dahi, mencoba menenangkan sahabatnya. "Mungkin kamu hanya terlalu khawatir, Han. Arya memang lagi sibuk banget kan? Kalau dia nggak pulang malam, itu malah aneh."

Hana tertawa kecil, tetapi tak sepenuhnya terhibur. "Iya sih, tapi kali ini beda, Rin. Bukan cuma soal pulang telat. Dia jadi tertutup. Aku coba nanya, dia cuma bilang soal proyek baru dan nggak mau cerita lebih."

Rina menatap Hana dengan cermat, lalu menggenggam tangannya. "Han, kamu tahu, komunikasi itu kuncinya. Kalau kamu merasa ada yang nggak beres, kamu bisa coba bicara lagi sama Arya. Tapi... pelan-pelan, ya?"

Hana mengangguk pelan. "Mungkin aku terlalu paranoid, ya?"

Malamnya, Hana menunggu Arya pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan belum ada kabar dari Arya. Perasaannya mulai tidak menentu. Setelah dua jam berlalu, Arya akhirnya tiba di rumah, terlihat lelah dan sedikit terkejut melihat Hana yang masih terjaga.

"Kenapa belum tidur?" tanya Arya, menaruh tas kerjanya di sofa.

Hana mencoba tersenyum, meski terasa getir. "Aku nunggu kamu. Kamu baik-baik aja, kan?"

Arya tersenyum kecil, dan menepuk pundaknya. "Iya, tentu saja. Jangan khawatir, Han. Semua baik-baik saja."

Namun, Hana tahu sesuatu tidak seperti biasanya. Meskipun ia ingin memercayai kata-kata Arya, bayang-bayang ketidakpastian terus menghantuinya. Di balik senyum manis dan kata-kata hangat, ada kabut yang semakin tebal menyelimuti kebahagiaan mereka.

Hana berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua baik-baik saja. Ia mencoba mengabaikan pikiran-pikiran negatif yang berseliweran di kepalanya. Namun, malam itu, ia tak bisa memejamkan mata. Ada perasaan gelisah yang tak dapat ia abaikan, seakan nalurinya mencoba memperingatkan sesuatu.

Pagi harinya, saat sarapan, suasana kembali terasa canggung. Arya tampak lebih banyak terdiam dan hanya sesekali melempar senyum seadanya. Hana mencoba bersikap biasa, tapi kegelisahannya terus meningkat. Di tengah suasana yang aneh itu, Hana tiba-tiba teringat sebuah acara pernikahan akhir pekan nanti.

"Arya, minggu ini kita kan diundang ke pernikahan Rina. Kamu masih ingat, kan?" Hana mencoba memulai percakapan dengan santai.

Arya terlihat terkejut sejenak, lalu tersenyum tipis. "Oh, iya... iya, aku ingat kok. Kamu mau pakai baju apa nanti?"

"Entahlah, mungkin gaun biru yang waktu itu kamu bilang bagus," jawab Hana sambil tersenyum. "Kita jarang pergi ke acara bareng, jadi aku mau tampil cantik untuk kamu."

Arya tersenyum kecil, tapi sorot matanya tak sepenuhnya menunjukkan antusiasme. Hana mengamati ekspresi suaminya yang tampak canggung, tapi ia memilih untuk tidak mempermasalahkannya lebih jauh.

"Bagus, pasti kamu bakal terlihat cantik, Han," jawab Arya singkat sebelum kembali fokus pada sarapannya.

Hana mencoba mengabaikan perasaan aneh itu dan berusaha menikmati sarapan mereka. Setelah beberapa saat, Arya pamit untuk berangkat kerja. Seperti biasa, Hana mengantarnya ke depan pintu.

"Hati-hati di jalan ya," ujar Hana sambil tersenyum dan mencium pipinya.

Arya hanya mengangguk dan tersenyum singkat. "Kamu juga, jaga diri baik-baik."

Saat Arya keluar rumah, Hana masih berdiri di ambang pintu, menatap kepergian suaminya dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia ingin sekali percaya bahwa semua baik-baik saja, namun di sisi lain, hatinya dipenuhi rasa curiga yang tak kunjung hilang.

Selama beberapa hari berikutnya, Arya semakin sering pulang larut malam. Alasan yang diberikan selalu sama: pekerjaan yang menumpuk, klien yang butuh perhatian ekstra, atau rapat yang harus dihadiri. Hana berusaha menerima dan mencoba berpikir positif, tetapi pikirannya terus dihantui tanda-tanda yang terasa janggal.

Suatu malam, setelah Arya tertidur, Hana duduk di ruang tamu sendirian. Hatinya resah, pikirannya berlarian ke segala arah. Ia akhirnya memutuskan untuk memeriksa ponsel Arya. Ini bukan kebiasaannya, tapi kali ini, rasa penasarannya tak tertahankan. Dengan tangan gemetar, ia membuka pesan-pesan yang ada di ponsel itu.

Di antara pesan-pesan dari rekan kerja dan teman-teman, ada satu nama yang terus muncul-Mira. Hana tidak begitu mengenal Mira, tapi dia tahu bahwa Mira adalah rekan kerja baru Arya di kantornya.

Pesan-pesan yang tertulis tampak cukup formal, tetapi Hana merasa ada sesuatu yang aneh dengan frekuensi pesan-pesan itu. Setiap kali ada pembahasan tentang lembur atau rapat larut malam, Mira selalu ada di sana.

Tiba-tiba, Hana mendengar langkah kaki Arya dari kamar. Cepat-cepat, ia mengunci ponsel Arya dan meletakkannya kembali di meja samping sofa. Arya mengintip dari pintu kamar, mengusap wajahnya yang tampak lelah.

"Han, kok belum tidur?" tanyanya, suaranya sedikit serak.

Hana tersenyum tipis dan berusaha tampak tenang. "Nggak apa-apa, tadi aku sulit tidur. Lagi kepikiran aja, mungkin kebanyakan minum kopi sore tadi."

Arya mengangguk, seakan menerima jawaban itu tanpa curiga. "Jangan kebanyakan kopi, nanti susah tidur terus," ujarnya sambil kembali masuk ke kamar.

Hana hanya menatap punggungnya, mencoba menekan perasaan gelisah yang terus menghantui. Malam itu, ia tertidur dengan hati yang kacau dan penuh tanda tanya.

Keesokan harinya, Hana pergi menemui Rina. Dia sudah tak sanggup menahan semua ini sendiri dan butuh seseorang untuk berbicara.

"Aku sudah nggak tahu harus gimana lagi, Rin," kata Hana dengan suara serak. "Aku nggak pernah curiga sama Arya sebelumnya, tapi... akhir-akhir ini, ada hal-hal yang bikin aku nggak tenang."

Rina menghela napas dalam dan menggenggam tangan Hana. "Kamu tahu, Han, nggak ada yang salah dengan merasa seperti itu. Kadang, intuisi kita memang lebih peka. Tapi, kamu harus hati-hati juga. Jangan sampai rasa curiga ini menghancurkan kamu sendiri."

Hana menunduk, mencoba menahan air matanya. "Aku hanya ingin tahu yang sebenarnya, Rin. Aku lelah dengan perasaan ini. Rasanya seperti ada sesuatu yang sangat salah di antara kami."

Rina mengusap bahu Hana lembut. "Kalau memang kamu merasa harus tahu, mungkin kamu bisa bicara langsung sama Arya. Tapi pilih waktu yang tepat. Jangan sampai dia merasa terpojok atau curiga balik."

Hana mengangguk perlahan, merasa sedikit lega setelah berbicara dengan Rina. Namun, rasa gelisahnya tetap ada, mengakar kuat di dalam hati. Di balik kebahagiaan yang selama ini ia pertahankan, kini muncul kabut ketidakpastian yang menyesakkan. Dan di lubuk hatinya, Hana tahu bahwa ada sesuatu yang harus ia temukan, tak peduli seberapa menyakitkan kebenaran itu.

Bersambung...

Bab 2

Sejak malam itu, Hana mulai lebih jeli memperhatikan gerak-gerik Arya. Sekalipun ia berusaha untuk berpikir positif, tanda-tanda aneh semakin sulit diabaikan. Arya semakin sering terlihat mengangkat telepon dengan wajah cemas, kadang langsung keluar rumah untuk menjawabnya, atau menyingkir ke kamar kerja dengan suara yang diturunkan nyaris berbisik.

Suatu malam, saat mereka sedang duduk bersama di ruang tamu, ponsel Arya tiba-tiba bergetar. Arya yang semula bersandar santai langsung bangkit, meraih ponselnya dan melihat ke arah layar. Ekspresinya berubah, seolah sedang memikirkan sesuatu. Tanpa berkata-kata, Arya berdiri dan berjalan ke dapur sambil membawa ponsel itu.

Hana memperhatikan tingkahnya dari jauh, dada berdegup semakin kencang. Ia tak bisa menahan diri untuk mendekat, berusaha mendengar potongan-potongan pembicaraan Arya.

"Iya, aku masih di rumah," ujar Arya dengan suara pelan.

Hana tak bisa mendengar lebih lanjut. Namun, saat Arya kembali ke ruang tamu, ia tampak terkejut melihat Hana yang tengah menunggunya dengan wajah penuh tanda tanya.

"Siapa tadi, Mas?" tanya Hana hati-hati, berusaha menahan kecurigaan yang semakin besar.

"Oh, cuma rekan kerja. Aku harus bantu review laporan untuk besok," jawab Arya sambil tersenyum, namun senyum itu terasa dipaksakan.

Hana menahan diri, hanya mengangguk pelan meski hatinya terasa sesak. Apakah aku hanya berlebihan? pikirnya dalam hati. Namun, instingnya terus memperingatkan ada sesuatu yang tidak benar.

Keesokan harinya, Hana mulai lebih memperhatikan ponsel Arya yang kerap kali langsung dikantongi, bahkan saat ia berada di kamar mandi. Hal-hal kecil seperti ini semakin menambah kegelisahan Hana.

Suatu siang, saat ia sedang merapikan meja makan, ponsel Arya yang tertinggal di atas meja bergetar, menampilkan notifikasi pesan singkat. Hana melihat nama yang tertera di layar-Mira-dan hatinya langsung berdegup kencang.

Hana hanya terdiam, berusaha menenangkan dirinya. Ia merasa tidak berhak melihat isi ponsel suaminya, tapi rasa penasaran menguasai dirinya. Namun, sebelum ia sempat melakukan apa pun, Arya tiba-tiba muncul dari arah kamar, tampak terburu-buru.

"Eh, ponselku ketinggalan ya?" Arya tersenyum canggung sambil mengambil ponselnya dari meja, matanya menatap Hana dengan sorot yang sulit dijelaskan.

Hana tersenyum kecil, berpura-pura tak melihat pesan yang baru masuk. "Iya, tadi aku mau panggil kamu, tapi kebetulan kamu udah keluar."

Arya mengangguk dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Oh, oke. Aku balik dulu ke kantor, ya. Mungkin malam ini lembur lagi," ujarnya singkat sambil mencium pipi Hana sekilas.

Begitu Arya keluar, Hana terdiam. Kata-kata "lembur lagi" mulai terdengar seperti alasan yang basi. Ia mencoba menyangkalnya, namun hati kecilnya tahu bahwa ada yang tidak beres.

Hari-hari berikutnya, Arya semakin sering pulang larut malam. Setiap kali Hana menanyakan, jawaban Arya selalu sama-ada proyek besar, atau deadline yang harus dikejar. Namun, sikapnya semakin sulit ditebak, seolah ada yang selalu mengganjal dalam percakapan mereka.

Suatu malam, Hana memberanikan diri berbicara secara langsung, berharap Arya bisa menjelaskan semuanya.

"Mas Arya, kamu masih sibuk sama proyek yang itu ya?" tanyanya lembut, berusaha agar nada suaranya tak terdengar menghakimi.

Arya mengangguk singkat, tatapannya beralih dari ponsel ke wajah Hana. "Iya, lumayan menyita waktu."

Hana menarik napas dalam, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Aku cuma... aku cuma ingin tahu, Mas. Karena belakangan ini, kamu sering pulang malam. Kadang aku khawatir, atau mungkin aku yang berlebihan."

Arya tersenyum kecil, menggenggam tangan Hana. "Kamu nggak perlu khawatir, Sayang. Aku cuma ingin menyelesaikan pekerjaan ini secepat mungkin, biar kita bisa punya lebih banyak waktu bersama."

Mendengar kata-kata itu, Hana tersenyum tipis, tapi hatinya masih diliputi keraguan. Ia berharap, mungkin saja perasaannya hanya salah paham.

Namun, beberapa hari kemudian, ketika Hana sedang menyiapkan makan malam, ia melihat Arya di ruang tamu sedang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. Tiba-tiba Arya menyadari Hana memperhatikannya, lalu dengan cepat mengunci ponselnya dan memasukkannya ke saku.

Arya berdiri dan menghampiri Hana di dapur, seolah ingin mengalihkan perhatian. "Mau aku bantu apa, Han?" tanyanya dengan senyum.

"Eh, nggak usah, Mas. Aku sudah hampir selesai," jawab Hana sambil berusaha tetap terlihat tenang.

Tapi di dalam hatinya, Hana tahu ada sesuatu yang salah. Semua tanda-tanda ini seperti potongan puzzle yang mulai membentuk gambaran yang tidak ia inginkan.

Malam itu, Hana tak bisa tidur. Ia merenung di tempat tidur, berusaha memahami perasaan gelisah yang terus mendera. Di benaknya, ada banyak pertanyaan yang berputar-putar tanpa jawaban. Apakah Arya benar-benar hanya sibuk bekerja, ataukah ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini?

Ia mencoba menepis rasa curiga, namun kenangan tentang telepon yang dirahasiakan, pesan yang dihapus, dan alasan lembur yang tak masuk akal terus menghantuinya.

Hana mulai berpikir untuk menghadapi Arya secara langsung, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, ia takut jika pertanyaannya malah memperburuk keadaan. Meski begitu, ia tak bisa menahan perasaannya lagi-ia harus mengetahui kebenarannya, meskipun menyakitkan.

Di tengah kesunyian malam, Hana menyadari bahwa kebahagiaan yang selama ini ia anggap sempurna mulai berubah menjadi kabut yang penuh misteri. Dan di balik kabut itu, ada rahasia yang mengancam kebahagiaannya.

Hana terbangun dengan perasaan berat. Sudah beberapa malam ia sulit tidur, dihantui oleh kecurigaan yang makin tak terbendung. Aku harus tahu yang sebenarnya, pikirnya.

Pagi itu, saat Arya bersiap berangkat ke kantor, Hana mengumpulkan keberanian untuk berbicara lagi. Ia mencoba menyusun kata-kata, tetapi begitu melihat Arya berdiri di depannya, segala rencananya menguap.

"Mas Arya..." Hana akhirnya berkata, meski dengan suara sedikit bergetar.

Arya menoleh, mengangkat alis. "Iya? Kenapa, Han?"

Hana memaksa dirinya untuk tetap tenang. "Aku... aku merasa belakangan ini kita jarang punya waktu bersama. Kamu sering pulang malam, sering di kantor, atau sibuk dengan ponsel."

Arya tersenyum tipis, seperti mencoba meredakan ketegangan. "Aku tahu, Sayang. Maaf ya. Mungkin belakangan ini memang terasa berat buat kamu. Tapi semua ini untuk masa depan kita kok," jawabnya sambil mengelus pipi Hana.

Hana tersenyum kecil, namun jauh di dalam hatinya, keraguan itu masih ada.

Hari itu, setelah Arya berangkat kerja, Hana memutuskan untuk berbicara dengan sahabatnya, Rina. Rina adalah teman yang selalu ada untuknya, dan Hana tahu Rina bisa memberikan pandangan yang jernih di tengah kegalauan hatinya.

Di sebuah kafe kecil dekat rumah, Hana bertemu dengan Rina dan segera menceritakan semua yang ia rasakan.

"Rin, aku nggak tahu, ya... tapi perasaan aku benar-benar nggak enak. Belakangan ini Arya sering banget sibuk, pulang malam, terus ponselnya selalu dia pegang. Bahkan kadang, dia menjauh kalau ada telepon atau pesan masuk."

Rina mendengarkan dengan wajah serius. "Hmm, mungkin dia memang benar-benar sibuk, Han. Tapi kalau kamu merasa ada yang aneh, nggak ada salahnya kamu coba cari tahu lebih dalam."

"Tapi aku takut, Rin. Aku takut kalau kecurigaan ini cuma di kepala aku sendiri. Nggak mau rasanya jadi istri yang curigaan dan nggak percaya sama suami."

Rina mengangguk pelan. "Kamu nggak salah kok kalau punya insting seperti itu. Perasaan seorang istri itu biasanya nggak pernah meleset, Hana. Tapi cobalah cari cara yang baik, mungkin lebih hati-hati dan bijaksana."

Hana menarik napas panjang. "Iya, mungkin kamu benar. Aku cuma harus sabar dan coba memahami, mungkin memang cuma kesalahpahaman."

Sepulangnya dari pertemuan dengan Rina, Hana memutuskan untuk mencoba cara yang lebih lembut, mengamati dengan sabar sambil tetap percaya pada Arya. Tapi semakin ia berusaha tenang, semakin banyak kejanggalan yang ia temukan.

Malam itu, Arya pulang sedikit lebih awal dari biasanya, yang membuat Hana sedikit lega. Ia pun berusaha menyambut suaminya dengan suasana hangat.

"Kamu udah makan malam, Mas?" tanya Hana sambil menghidangkan sup hangat di meja makan.

"Udah, tadi makan sedikit di kantor. Tapi aku bisa makan lagi kok, apalagi kalau buatan kamu," jawab Arya dengan senyum kecil.

Hana duduk di seberang Arya sambil mengamati wajah suaminya. Ada lelah di matanya, tapi juga sesuatu yang lain. Sebuah kebingungan atau mungkin... rasa bersalah? Hana sendiri tak yakin.

"Mas... apa kamu benar-benar baik-baik aja?" tanya Hana sambil mencoba memulai percakapan ringan.

Arya tertegun sejenak, lalu tersenyum samar. "Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"

"Entahlah, aku hanya merasa kita semakin jarang punya waktu untuk bicara dari hati ke hati," ucap Hana lirih.

Arya menghela napas. "Maafkan aku, Hana. Memang banyak hal di kantor yang cukup bikin stres, makanya mungkin aku sering terlihat aneh di rumah."

Namun, malam itu, setelah Arya tertidur lebih dulu, Hana terbangun dengan perasaan tak tenang. Sekilas ia melihat ponsel Arya tergeletak di meja samping tempat tidur, layar masih menyala. Nama "Mira" muncul di layar dengan notifikasi pesan yang baru masuk.

Hana menatap ponsel itu, hatinya berdebar kencang. Sisi lain dari dirinya yang selama ini berusaha mengabaikan kecurigaan tiba-tiba kembali menguat. Mira? Siapa Mira?

Dengan tangan gemetar, Hana meraih ponsel Arya. Perasaan bersalah bercampur dengan dorongan kuat untuk mengetahui kebenaran mulai membanjiri hatinya. Ia membuka pesan itu, dan mata Hana langsung terpaku pada deretan kalimat singkat yang ada di layar.

"Aku kangen, kapan kita bisa bertemu lagi?"

Pesan itu mengoyak semua keraguannya. Hana duduk terpaku, berusaha mencerna apa yang baru saja ia lihat. Semua yang ia coba pertahankan selama ini, semua kepercayaannya pada Arya, terasa runtuh dalam sekejap.

Tangannya bergetar, air mata mulai menetes tanpa bisa ia cegah. Apakah ini arti sebenarnya dari perubahan Arya selama ini? Apakah ini rahasia di balik kebahagiaan yang selalu ia percayai?

Hana tak tahu harus berbuat apa. Malam yang seharusnya damai itu kini berubah menjadi malam yang penuh kepedihan.

Bersambung...

Bab 3

Pagi itu, Hana duduk di meja makan dengan pikiran yang berat, sementara Arya bersiap berangkat kerja seperti biasanya. Di matanya, Arya terlihat seperti suami yang sempurna-rapi, tenang, dan selalu tampak penuh perhatian. Tapi sejak ia membaca pesan dari Mira, segala hal yang tampak sempurna itu seperti topeng yang mulai retak.

Hana mencoba menahan kegelisahannya, tapi hatinya penuh dengan tanda tanya. Apakah aku harus langsung bertanya? pikirnya, namun setiap kali ia mencoba, ada dorongan dalam dirinya yang takut untuk mendengar kebenaran.

Saat Arya keluar dari kamar, mengenakan jasnya, Hana memutuskan untuk mengutarakan perasaannya.

"Mas Arya... kita bisa bicara sebentar?" tanyanya, dengan nada lembut tapi tegas.

Arya berhenti, sedikit terkejut. "Tentu, Sayang. Ada apa?"

Hana menatap Arya, mencoba membaca ekspresi wajah suaminya yang terlihat tenang. "Belakangan ini... kamu sering sekali sibuk. Sering pulang larut, atau tiba-tiba ada telepon yang kamu jawab di luar rumah. Kamu juga sering menghindari aku ketika aku mencoba bicara... apakah ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan padaku?"

Arya tersenyum tipis dan meraih tangan Hana, menggenggamnya lembut. "Hana, kamu jangan berpikir yang macam-macam, ya. Semua ini demi kita. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik, makanya aku bekerja keras."

"Tapi... aku merasa kamu semakin jauh, Mas." Hana mencoba menahan emosi yang mulai menguasainya. "Aku merasa ada yang berbeda."

Arya menghela napas dan melepaskan genggaman tangannya. "Mungkin kamu terlalu khawatir. Tenang saja, semuanya baik-baik saja, kok."

"Tapi pesan-pesan yang langsung kamu hapus, panggilan yang kamu jawab di luar rumah, itu semua tidak biasa, Mas," Hana berkata sambil menatap Arya dengan mata penuh harap.

Arya terdiam sejenak, lalu memaksakan senyum. "Kamu ini terlalu overthinking, Sayang. Fokus saja dengan apa yang sudah kita bangun bersama, ya?"

Namun, Hana merasa Arya hanya menghindar lagi, seperti yang selalu ia lakukan setiap kali Hana mendekat ke inti permasalahan. Ketika Arya akhirnya berangkat kerja, Hana duduk sendiri di ruang tamu dengan perasaan yang bercampur aduk antara kecewa dan bingung.

Hari-hari berikutnya, Arya masih sama. Ia tetap pulang terlambat, sibuk dengan ponselnya, dan semakin sering tampak gelisah saat Hana mengajaknya berbicara. Sementara itu, Hana mulai merasa dirinya terjebak dalam lingkaran pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban.

Di malam yang sunyi, Hana duduk di kamar sendirian, pikirannya tak bisa tenang. Kegelisahannya sudah mencapai puncaknya. Ia pun memutuskan untuk berbicara kembali dengan Rina.

Di pertemuan berikutnya, Hana mencurahkan isi hatinya pada Rina.

"Rina, aku benar-benar nggak tahu harus bagaimana. Semakin aku mencoba percaya, semakin banyak tanda yang muncul, semakin gelisah aku rasanya," kata Hana dengan mata yang berkaca-kaca.

Rina menggenggam tangan Hana, berusaha menenangkan. "Kamu sudah bertanya langsung sama Arya?"

Hana mengangguk pelan. "Sudah, tapi dia selalu menghindar, jawabannya selalu sama: aku terlalu khawatir, semua ini demi kita. Tapi... aku nggak tahu, aku cuma merasa ada yang nggak beres."

"Kalau memang kamu merasa ada yang disembunyikan, mungkin kamu perlu mencoba cara lain, Han," kata Rina dengan hati-hati. "Kadang, untuk mengetahui kebenaran, kita perlu siap dengan segala risikonya."

Hana menghela napas panjang. "Aku takut, Rin. Aku takut dengan apa yang akan aku temukan."

Rina menatap sahabatnya dengan penuh empati. "Kamu nggak sendiri, Hana. Aku selalu ada untuk kamu. Tapi kalau kamu merasa sudah nggak tahan dengan semua tanda-tanda ini, mungkin inilah saatnya kamu mencari tahu sendiri kebenarannya."

Malam itu, setelah pulang ke rumah, Hana merasa pikirannya sudah bulat. Ia akan mencoba mengamati lebih dekat, mengumpulkan keberanian untuk menemukan jawaban atas kegelisahan yang terus menghantuinya.

Beberapa hari kemudian, kesempatan itu datang. Saat Arya tertidur lelap, Hana menunggu dengan cemas di ruang tamu, memastikan bahwa suaminya benar-benar terlelap. Begitu suasana rumah sunyi, ia berjalan pelan menuju kamar tidur, bernapas dalam-dalam sebelum ia mengambil ponsel Arya yang tergeletak di samping ranjang.

Tangannya sedikit bergetar saat ia membuka ponsel itu, mencari petunjuk yang mungkin selama ini ia abaikan.

Dan akhirnya, ia menemukan sesuatu.

Di aplikasi pesan, Hana menemukan riwayat pesan singkat yang mengonfirmasi kecurigaannya. Beberapa pesan dari nomor tanpa nama, berisi kata-kata singkat namun cukup menyakitkan untuk dilihat.

"Aku menunggumu, kapan kita bisa bersama lagi?"

"Kamu janji akan mengakhirinya, kan?"

"Aku sudah lelah menunggu... Hana tidak perlu tahu apa yang terjadi di antara kita."

Hana terhenyak. Rasanya seperti waktu berhenti seketika. Pesan-pesan itu, yang mengonfirmasi apa yang selama ini ia takutkan. Arya ternyata memiliki hubungan lain-dengan siapa, ia belum tahu pasti, namun kejelasan yang ia dapatkan malam itu menghantamnya keras.

Hana terduduk di lantai, air mata mulai membasahi pipinya. Selama ini ia mencoba menepis kecurigaan dan meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja, tapi kenyataan di depannya begitu kejam.

Aku sudah cukup bersabar, pikir Hana dalam hati. Sekarang aku harus tahu seluruh kebenarannya.

Dengan air mata yang masih mengalir, Hana bertekad untuk tidak lagi terjebak dalam kebingungan dan kegelisahan ini. Ia tahu, jawaban dari semua ini mungkin akan sangat menyakitkan, tapi ia tidak bisa lagi berpura-pura tidak melihat apa yang nyata.

Hana berusaha menenangkan diri di lantai kamar, memandangi layar ponsel Arya yang masih terbuka. Pesan-pesan itu mengoyak hatinya, tapi di sisi lain, kini ia tahu bahwa firasatnya selama ini tidak salah. Kebenaran memang menyakitkan, tapi kepastian, betapapun pahitnya, memberinya kekuatan untuk melangkah.

Setelah beberapa saat, Hana menghapus jejak dari ponsel Arya, memastikan semua pesan kembali seperti semula, lalu mengembalikan ponsel itu ke tempatnya. Dengan langkah perlahan, ia keluar kamar, menutup pintu, dan duduk di ruang tamu dalam kegelapan. Malam itu, ia tak bisa tidur. Bayangan-bayangan dari pesan itu terus menghantui pikirannya.

Keesokan paginya, Hana mencoba bersikap seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya; tekad yang tumbuh untuk menghadapi apa yang selama ini ia takutkan. Ia berencana untuk mengumpulkan bukti lebih lanjut, memastikan bahwa ia benar-benar tahu apa yang terjadi sebelum berhadapan langsung dengan Arya. Kali ini, ia tak ingin hanya mendapat jawaban samar atau pengalihan dari suaminya.

Di meja sarapan, Arya duduk di seberangnya, menikmati roti bakar dan kopi yang Hana buat. Namun, bagi Hana, setiap gerakan Arya kini terasa asing. Pria di depannya, yang dulu ia cintai dan percayai sepenuh hati, sekarang tampak seperti orang yang sama sekali berbeda.

"Ada rencana apa hari ini, Mas?" tanya Hana dengan nada datar, mencoba menutupi perasaannya.

Arya tersenyum tipis. "Sepertinya aku akan pulang agak malam lagi. Ada beberapa laporan yang harus diselesaikan."

Hana mengangguk pelan. "Lembur lagi ya?" tanyanya, kali ini dengan nada yang lebih tegas.

"Iya, Sayang. Maklum, pekerjaan sedang banyak-banyaknya. Kamu tahu sendiri, aku melakukan ini untuk kita, untuk masa depan kita," jawab Arya dengan senyum yang menenangkan, meski bagi Hana kini senyum itu tampak kosong.

Sambil berpura-pura menerima alasan Arya, Hana berusaha menahan diri untuk tidak mengeluarkan kekecewaannya. Untuk masa depan kita, atau masa depan dengan orang lain, Mas? pikirnya dalam hati, dengan kemarahan yang membara namun tetap tersembunyi di balik wajahnya yang tenang.

Setelah Arya berangkat kerja, Hana menghubungi Rina.

"Rina, kamu ada waktu siang ini?" tanya Hana, suaranya terdengar getir.

"Ada, ada apa, Han? Kamu nggak apa-apa?" Rina bertanya, menyadari nada suara Hana yang tak biasa.

"Ini tentang Arya... aku menemukan sesuatu. Aku perlu cerita sama kamu," jawab Hana dengan suara lirih.

Siang itu, Hana dan Rina bertemu di sebuah kafe yang tenang. Hana menumpahkan semua perasaannya, menceritakan tentang pesan yang ia temukan di ponsel Arya dan bagaimana selama ini ia menahan diri untuk tidak meledak. Rina mendengarkan dengan penuh perhatian, tatapannya menunjukkan betapa prihatin ia terhadap keadaan Hana.

"Hana, kamu pasti nggak kebayang betapa kecewanya aku mendengar ini," ujar Rina sambil menggenggam tangan Hana. "Arya nggak pernah menunjukkan tanda-tanda kalau dia melakukan ini... tapi sekarang, apa rencanamu selanjutnya?"

Hana menghela napas panjang, menatap cangkir kopinya yang sudah dingin. "Aku nggak tahu. Aku ingin langsung menanyakan ini ke Arya, tapi aku juga takut... takut kalau dia hanya akan berbohong lagi."

"Kalau kamu perlu bantuan, aku di sini untuk kamu, Han. Mungkin kamu bisa mulai mencari lebih banyak bukti... sesuatu yang tidak bisa dia sangkal," saran Rina, mencoba memberikan semangat.

Hana mengangguk, menyadari bahwa Rina benar. Untuk menghadapi Arya, ia membutuhkan bukti yang jelas, sesuatu yang tak bisa dihindari oleh suaminya. Malam itu, Hana memutuskan untuk mencoba mengikuti Arya dan mencari tahu lebih banyak.

Beberapa hari kemudian, Hana mulai mengamati setiap gerak-gerik Arya dengan seksama. Setiap kali Arya menyebutkan bahwa ia akan lembur, Hana menghafal setiap detail-jam berangkat, tempat yang disebutkan, bahkan pakaian yang dikenakan suaminya. Setelah cukup lama menunggu, kesempatan akhirnya tiba.

Pada suatu malam ketika Arya mengabari akan pulang lebih larut dari biasanya, Hana memutuskan untuk mengikutinya. Dengan hati yang berdebar-debar, ia menunggu Arya pergi lebih dulu, lalu mengikuti mobilnya dari kejauhan.

Hana menatap mobil suaminya yang bergerak di depan, berusaha menjaga jarak agar tidak ketahuan. Ketika Arya tiba di sebuah restoran kecil di pusat kota, Hana memarkir mobilnya tak jauh dari sana, menyaksikan dari kejauhan dengan perasaan berdebar. Ia melihat Arya masuk, lalu muncul lagi beberapa menit kemudian bersama seorang wanita yang tampak akrab dengannya.

Wanita itu tertawa kecil sambil menggandeng lengan Arya. Hati Hana mencelos melihat kedekatan mereka, cara mereka saling menatap, senyum yang dulu hanya miliknya kini terarah kepada wanita lain.

Tapi yang paling menghancurkan adalah saat ia melihat Arya mencium kening wanita itu dengan lembut.

Saat itulah Hana tahu, tak ada lagi yang perlu ia ragukan. Segala kebohongan, alasan, dan pengalihan yang selama ini ia terima dari Arya terjawab di depan matanya. Dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya, Hana menggenggam kemudi mobilnya erat-erat.

"Ini cukup," bisiknya pada diri sendiri. "Aku sudah cukup tersakiti."

Kepalanya penuh dengan berbagai pertanyaan dan perasaan yang saling bertabrakan. Tapi yang jelas di benaknya sekarang adalah bahwa ia tidak akan tinggal diam.

Bersambung...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED