"Gantiin popok Bapak, Han!"
Glek!
Wanita 23 tahun yang kerap disapa Jihan tersebut menaik turunkan liur di kerongkongan. Bagaimana tidak? Mertua berjenis kelamin lelaki, yang bahkan baru dua hari tinggal seatap dengannya sudah berani minta dibuka-bukain.
Jihan menghentikan kegiatan potong memotong sayur di meja dapur. Menoleh ke belakang guna menengok pria paruh abad yang terduduk di atas kursi roda. Perempuan itu sontak bergidik ngerih. Sugiono namanya. Pria berkepala botak dan kumis ubanan tersebut memandangnya mulai dari bawah hingga atas, lalu ke bawah lagi. Tatapannya bak buaya hendak menerkam mangsa.
"Bapak sudah risih? Biar kutelepon Mas Azlin aja ya, Pak!" tukas Jihan mencari solusi lain. Sebagai seorang wanita, apalagi menantu, sungguh tak mungkin bagi Jihan mengganti popok lelaki lanjut usia tersebut, sudah pasti onderdil berharga di sana akan terlihat.
"Lama banget, kalau nunggu Azlin lagi. Belum tentu dia lapang juga. Kalau lagi banyak orderan gimana? Sudahlah, kamu saja, Han! Bapak betul-betul nggak tahan ini." Pria berjenggot itu menggoyang-goyangkan bokong di atas kursi roda.
"Bapak buang air besar di popok?" tanya menantu barunya penuh selidik.
"Ya, enggak, sih. Kencing doang, tetapi sama aja, rasanya popok ini sudah penuh dan berat."
Helaan napas Jihan terdengar banter. Menurutnya lelaki berambut hitam campur putih itu amat tak sabaran. Apa dia tidak malu dengan menantu perempuannya tersebut? Padahal jarak antara toko bunga Azlin-putranya cuma berkisar 30 menit. Masak sebegitu saja tak bisa menahan.
Wanita yang baru 48 jam dinikahi oleh Azlin sang pengusaha bunga plastik buru-buru mengambil telepon. Dengan gesit ia menghubungi sang suami agar segera balik ke rumah. Mertua perempuannya tidak bisa diganggu saat ini, sebab sedang arisan bersama teman-teman sebaya.
"Mas, pulanglah dulu! Bapak kamu minta ganti popok, nih," adu hawa berkerudung sage pada suaminya.
Belum juga tahu bagaimana respon Azlin, Jihan malah dikagetkan oleh sentuhan di kawasan pant*t. Ia menjerit, membuat ponsel genggam terhempas ke lantai.
"Heh! Ngapain pakai hubungi suamimu segala? Kan, ada kamu di sini. Kenapa bukan kamu aja sih yang bukain popok bapak?"
Semakin terkejutlah ia, tatkala yang menyenggol area kewanitaannya tadi adalah si bapak mertua. Wajah Jihan memerah. Giginya bergemelatuk.
"Pak! Jaga kesopanan, ya!" tutur Jihan sedikit kasar.
"Eh, kenapa bapakku dimarahin, Han?"
Tanpa diduga-duga, suami Jihan-Azlin sudah nongol saja di hadapan. Kakinya mendarat di ambang pintu dapur, bertepatan dengan sentakan Jihan terhadap bapak mertuanya.
Mulut Jihan ternganga. Sedikit gugup, sebab yang ditangkap Azlin adalah potongan kesalahan Jihan saja.
"Loh Mas? Kamu kok sudah sampai sini aja?" tanya wanita itu kebingungan.
"Pas kamu telepon, kebetulan aku memang sudah di depan pintu. Sengaja pulang cepat buat istirahat. Kamu Kenapa marahin bapak begitu?" Ekspresi Azlin seperti tidak senang. Meskipun menyayangi istrinya, akan tetapi ia bisa marah, kalau orang yang telah membesarkannya disenggol.
"Ini, Mas, bapak tadi-"
"Maafkan bapak, Zlin. Bapak sudah mengganggu istrimu memasak. Tadi bapak cuma minta telepon kamu supaya cepat pulang untuk mengganti popok, tetapi Jihan malah marah-marah."
Apa yang terjadi dan apa yang disampaikan oleh Sugiono si kepala botak betul-betul berbanding terbalik. Jihan terperangah. Sebentar saja tinggal di sana sudah bisa menebak bagaimana perangai bapak mertuanya tersebut. Sosok yang katanya kecelakaan dua tahun lalu, sampai membuatnya terduduk di kursi roda hingga sekarang, malah dengan senang hati membalikkan fakta, seakan-akan Jihanlah yang salah di sini.
Pancaran kekecewaan tergambar di muka Azlin. Dia menatap Jihan sambil menahan sesuatu di dada.
"Jangan pernah marahi orang tuaku, Han! Apalagi kita baru menikah dan kita menumpang hidup pula dengan mereka. Kamu bisa ngomong baik-baik sama bapak dan lain waktu."
"Mas, bukan begitu. Sebenarnya tadi-"
"Ah, nggak apa-apa. Bapak maklum. Mungkin Jihan perlu beradaptasi dengan keluarga kita lagi, terlebih dengan keadaan bapak yang cacat begini. Sudahlah, bapak ke kamar saja." Pria berkaos biru liris hitam tersebut menekan tombol pada kursi roda, sehingga benda itu dapat berjalan dengan sendirinya.
Azlin berdecak sebal, lalu melaju mengikuti langkah kursi roda bapaknya.
Jihan terpukul akan kebenaran ini. Ternyata perangai Sugiono saat Jihan masih proses lamaran dengan Azlin sangatlah berbeda, setelah mereka tinggal di bawah naungan atap yang sama. Jihan tak punya kuasa untuk mengatur suaminya agar mereka tinggal mandiri saja, meskipun sebenarnya Azlin mampu. Alasan orang tua tidak ada yang menjaga selalu suaminya kedepankan.
Jihan mengendus napas berat. Rumah yang megah ini akan terasa bak neraka, apabila didihidupi lelaki gatel dan tukang fitnah begitu.
***
Lelaki berkepala licin sudah stay di meja makan. Yang membantu untuk naik ke sana adalah putranya yang kini entah berada di mana.
Jihan mempersiapkan makan malam seorang diri. Satu per satu mangkuk berisi lauk ditata rapi.
"Kamu pinter juga masak ya, Han!" Vokal bapak mertua terdengar, memuji Jihan penuh tatapan kagum.
"Bapak sudah rasa dua hari ini. Semuanya pas! Memang cocok kamu dijadikan istri," tukasnya lagi.
Jihan bahkan tak berani melirik pasca kejadian tadi siang. Sekadar mengangguk agar disangka tidak angkuh saja.
Begitu meletakkan mangkuk terakhir, dengan gesit lengan Sugiono menyambar jemari halus milik menantunya. "Hati-hati, Han! Awas pecah. Kamu kekencengan narohnya."
Wushhh...
Berdebar rasanya dada Jihan. Darahnya berdesir deras. Jihan gegas menarik tangan dari atas meja. Ini bukan sentuhan biasa. Pria lanjut usia itu dengan enteng meletakkan telapaknya di atas punggung tangan Jihan untuk dielus-elus. Apa namanya kalau memang bukan sengaja memegang? Kalau sekadar menyenggol, maka bukan seperti itu.
"Pak! Jaga sikap, ya!" peringat Jihan geram. Ingin menyiram gulai ayam itu rasanya ke wajah Sugiono.
Lelaki yang katanya cacat itu hanya mesem-mesem di tempat. Jihan tak kuasa dengan semua ini. Bersumpah, kalau dia akan melapor pada sang suami.
"Mas! Bu! Ayo, makan dulu. Sudah selesai, nih."
Merasa disambar angin segar, tatkala suami serta mertua perempuan turut berkumpul di sana. Dengan begitu Sugiono tak akan bisa merecokinya lagi.
Mereka makan seperti biasa. Melakukan percakapan umum. Jihan yang mulai memahami sisi gelap bapak mertuanya spontan menoleh ke arah lelaki tersebut. Dia tampak anteng dan lugu. Apa yang ia lakukan terhadap Jihan tadi, tak lagi diperbuat.
"Jangan, Bu! Biar aku aja yang cuci piring. Ibu masuk saja ke kamar bawa bapak. Istirahat, soalnya udah malem." Jihan menepis tangan ibu mertua yang hendak merapikan piring kotor dan membawanya ke wastafel.
Sosok berambut sanggul itu mengangguk disertai satu simpul lebar. Menuruti perkataan si menanti dengan membawa suaminya merujuk ke bilik.
Setelah semua usai, Jihan bermaksud hendak ke kamar. Namun, langkahnya terhenti, tatkala melintasi sebuah bilik yang pintunya tak pernah dibuka selama ia berada di sana.
Perempuan berkerudung orange itu sengaja menarik handle pintu. Nahas! Seseorang malah memergokinya.
"Jihan! Jangan dibuka!" seru Azlin dari haluan lain.
Hawa bermata lentik menoleh. Dahinya berkedut mendengar larangan tersebut. Dengan tangan yang masih tergantung di knock pintu, ia membalas, "Kenapa? Memangnya ruangan apa ini, Mas? Apa sebuah bilik rahasia?"
Saat ini Jihan dan Azlin sudah berada di kamar mereka. Sebenarnya Jihan masih terkejut oleh insiden tadi, ketika Azlin melarangnya membuka pintu ruangan tertutup di rumah mereka.
Dengan wajah penuh kebingungan, dia mencoba memahami alasannya. “Mas, kenapa kamu melarangku membuka pintu itu? Memangnya apa yang ada di dalamnya?”
Azlin tersenyum, lalu menepuk-nepuk bagian sisi tempatnya duduk, meminta Jihan untuk duduk di sampingnya.
“Sayang, pintu itu adalah pintu ke ruangan tempat istirahat bapak. Sejak kecelakaan dua tahun lalu, bapak selalu meluapkan isi hati dan kesedihannya di sana. Dia pasti akan mengurung dirinya di sana.” Azlin menjelaskan sambil memainkan rambut panjang Jihan.
Meski tidak begitu puas dengan jawaban suaminya, Jihan mencoba memahami situasi yang menurutnya cukup rumit ini. Dia melihat ekspresi Azlin yang tampak campur aduk.
Jihan menatap Azlin dengan tatapan yang masih dipenuhi rasa penasaran. “Jadi, bapak kamu selalu mengurung diri di sana? Memangnya apa yang dia lakukan di dalam? Mengapa kalian tidak pernah membukanya?”
Tatapan Azlin berubah serius. “Kami hanya mencoba untuk menghargai keputusan bapak. Dia merasa nyaman dengan itu. Jangankan aku, bahkan ibuku juga tidak pernah masuk ke sana. Itu adalah ruangan pribadinya, tempat dia mencurahkan isi hati dan mungkin mengatasi perasaannya terutama pasca kecelakaan. Jadi, kuharap kamu pun mengerti dengan keinginan bapak.”
Jihan mengangguk paham, meskipun hatinya masih tetap merasa ada yang aneh dalam situasi ini. Dia mulai merasa bahwa ada beberapa hal yang belum dia ketahui tentang keluarga suaminya.
***
Keesokan paginya, Azlin terlihat sudah bersiap untuk berangkat kerja.
“Gantengnya suamiku,” kata jihan sambil merapikan pakaian suaminya.
“Udah ganteng dari lahir kali.” Azlin menjawil dagu istrinya dengan gemas.
“Sakit, Mas.” Jihan tampak merajuk manja pada sang suami.
“Maaf, Sayang. Sini kuobatin, tapi tutup matanya, ya,” pinta Azlin.
Jihan segera menutup kedua matanya. Perlahan Azlin mendekatkan wajah ke arah Jihan. Diam-diam Azlin mengecup dagu Jihan hingga membuat wanita itu tersenyum.
“Ini nya gak dikecup, Mas?" tanya Jihan sambil menunjuk bibir penuh seringai.
Tak banyak bicara, Azlin langsung menyambar bibir tipis Jihan. Kegiatan absurd itu pun selesai, karena Azlin harus berangkat bekerja.
Setelah Azlin pergi, tampak Puri, ibu mertua Jihan, melangkah ke arah teras di mana jihan masih berada di sana pasca melepas kepergian suaminya.
“Ibu mau pergi juga?” tanya Jihan dengan sopan.
“Iya. Jaga rumah ya,” jawab Puri sambil melangkah pergi.
“Baik, Bu.”
Jihan masuk ke dalam rumah. Dia berencana untuk mencuci piring. Saat selesai mencuci piring dan merapikan dapur, seorang perempuan yang tidak dikenal datang menemui Sugiono yang sedang berada di ruang tamu.
Jihan yang penasaran, mencoba memasang telinga baik-baik. Ruang tamu yang sunyi menjadi saksi saat mereka berbincang.
“Mulai sekarang, kamu gak perlu kerja lagi, ya! Sudah ada menantuku yang bakal kusuruh masak,” kata Pak Sugiono dengan tegas.
‘Masak? Meskipun aku baru beberapa hari tinggal di sini, tapi aku tak pernah melihat perempuan itu memasak di sini. Siapa dia?' batin Jihan.
Jihan memberanikan diri untuk mengintip sedikit. Dia hanya bisa melihat bapak mertuanya, namun perempuan yang bicara dengan Pak Sugiono tak terlihat karena terhalang selendang yang menutupi kepala.
“Ini uang untukmu.” Sugiono dengan bijak menyerahkan sejumlah uang kepada perempuan tersebut sebagai tanda terimakasih atas pekerjaannya.
Dari kejauhan, Jihan yang masih mengintip, merasa kegelisahan mulai merayap di dalam hatinya akibat muncul beberapa pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya.
Dalam hati, dia bertanya-tanya, ‘Sejak kapan perempuan itu masak di rumah keluarga ini? Sebelumnya Mas Azlin, pernah memberitahuku, bahwa yang selalu memasak di sini adalah ibunya.’
Jihan terus memperhatikan dengan seksama, mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Tapi semuanya masih belum jelas baginya. Azlin tak pernah menyinggung soal perempuan lain yang menjadi koki di kediaman mereka.
Perempuan itu tampak berpamitan untuk pergi. Jihan yang takut ketahuan, segera menjauh dari tempat tersebut.
Setelah menyelesaikan urusan rumah, Jihan memutuskan untuk mandi di belakang. Kamar mandinya berada di bagian paling belakang rumah ini. Terpaksa membersihkan tubuh di kawasan buntut rumah, sebab toilet di kamar mengalami mati kran.
Jihan tampak menggantungkan pakaian bersih untuk ganti, lalu melepaskan segala yang ada di tubuh, hingga ia merasa silir.
“Ya Tuhan, airnya seger banget,” gumam Jihan sambil mengguyurkan air ke tubuhnya.
Jihan terus melanjutkan ritualnya, tetapi tiba-tiba pintu toilet itu seakan ada yang menyenggol.
Jihan menoleh. Betapa kagetnya ia, tatkala melihat bola mata yang hadir dari celah pintu yang terbuka.
“Allahuakbar! Siapa itu? Woi!”
Dor! Dor! Dor!
Jihan spontan mengeraskan suara, menggedor pintu, bahkan refleks keluar tanpa bus4na.
Sayang! Sosok pengintip gagal ditemukan.
‘Siapa ya tadi? Aku yakin kalau tadi aku melihat mata seseorang. Rasanya mustahil kalau itu bapak. Dia kan duduk di kursi roda. Dia tidak bisa bergerak begitu cepat,’ batin Jihan. Mata tadi yang memperhatikannya telah menghilang begitu saja.
Jihan merasa sangat aneh dengan kejadian itu dan rasa was-was mulai menghantui pikirannya. Apalagi sejak tadi dia merasa ada yang tak beres dengan rumah suaminya. Jihan lemas seketika.
Saat itu adalah siang hari yang cerah. Sugiono memanggil Jihan dengan suara lembut.
“Jihan, bisa tolong masak untukku?" pinta Pak Sugiono dengan perhatian yang tak luput dari wajah ayu menantunya.
“Bapak mau dimasakin apa?” tanya Jihan dengan sopan, karena bagaimanapun Sugiono adalah bapak mertuanya.
Pak Sugiono tampak berpikir sebentar. “Apa kamu bisa memasak semur ayam kecap?”
Jihan mengangguk. “Bisa, Pak. Biar kumasak sekarang semur ayamnya."
“Bagus! Masak untuk kita semua, ya. Tapi nanti tolong siapkan nasi dan ayamnya sebanyak tiga piring lagi di atas nampan, ya.” Pak Sugiono masih bicara dengan vokal halus.
“Tiga piring lagi, Pak? Untuk siapa?” tanya Jihan dengan heran,
“Sudah, kamu jangan banyak bertanya. Kerjakan saja apa yang kuminta,” kata Pak Sugiono.
“E- eee, iya." Jihan kebingungan.
Selesai bicara, Jihan segera pergi pergi ke dapur lalu memasak. Saat kegiatan itu berlangsung, Jihan merenung tentang semua kejadian di rumah tersebut yang menurutnya aneh.
Dia merasa semakin curiga dan ingin mencari tahu apa yang sebenarnya sedang berlangsung. Mulai dari ruang rahasia, hingga perempuan yang tadi datang menemui mertuanya.
“Pak, masakannya sudah siap. Aku juga sudah menata makanannya dalam tiga piring sesuai permintaan bapak tadi.” Jihan gegas melapor pada mertuanya.
“Bagus!” Pak Sugiono segera mengacungkan jempolnya.
Jihan melihat bapak mertua menggerakkan kursi roda ke arah kamar yang tidak boleh dibuka itu dengan membawa nampan berisi tiga piring sekaligus.
Jihan membatin, ‘Bapak bawa tiga piring sekaligus ke bilik itu? Untuk apa? Mana mungkin dia sanggup memakannya sendirian. Apa ada sosok lain di sana?’
Hampir dua puluh menit di dalam kamar, akhirnya pak sugiono keluar dengan tangan penuh nampan berisi piring kosong.
Ia melajukan kursi rodanya dengan mata memindai ke segala arah.
Pria beruban itu meninggalkan kamarnya dengan langkah hati-hati, membiarkan pintu berderit saat ditutup.
Entah apa yang sedang terjadi, yang jelas Jihan merasa perasaannya campur aduk ketika melihat mertuanya keluar dengan wajah sarat ketegangan. Jihanpun tertarik untuk memergoki pria paruh baya itu.
“Sudah selesai makannya, Pak?” suara Jihan mengejutkan Sugiono.
“Eh, kamu. Sudah habis nih, tolong piringnya!”
Sugiono menyodorkan piring kotor, untuk dimasukan kedalam westafle. Jihan memang sudah berniat untuk membantu sang mertua meski tanpa di suruh sekalipun.
Lepas menyimpan piring kotor itu di westafle, Jihan bergegas membuntuti mertuanya yang belum sampai di perbatasan pintu dapur.
“Pak!”
“Ada apa?” Sugiono menoleh dengan menatap Jihan naik turun dan manik matanya terhenti tepat di tengah area inti miliknya. Jihan menahan nafasnya untuk tidak kesal. Ia pun melangkah membuyarkan pandangan mertuanya.
“Nasi sebanyak itu, buat siapa? Kok bisa habis dengan cepat? Tidak mungkin bapak yang menghabiskan sendirian ‘kan?” tanya Jihan meluncur dengan lancar. Jihan hanya ingin menghabiskan rasa penasarannya.
Mata genit Sugiono berubah menajam. Rara sedikit tersentak ditatap olehnya.
Sejenak Sugiono terdiam, lalu menekan suaranya dalam. “Ck, sudahlah. Jangan tanya-tanya soal itu!”
Ia melemparkan pandangannya hendak pergi kembali.
Dengan hati yang berat Jihan menganguk meski dia tak terima jika dirinya harus mengangguk tanpa hal yang pasti. Belum juga Jihan melakukan kegiatannya, derit kursi roda Sugiono terdengar sepi. Jihan kembali menoleh dan melirik ke arah Sugiono hingga dua pasang mata mereka bertemu kembali.
Sugiono memandang Jihan dengan serius, seakan-akan ingin memastikan bahwa pesannya dipahami.
Sugiono berdecak angkuh, dan berkata, "Ingat! Jangan pernah mengadu sama Azlin ataupun Puri soal makanan ini."
“Kenapa, Pak?”
“Kan sudah aku bilang, jangan, ya jangan!” tekannya.
“Ba-baiklah,” jawab Jihan gagu.
Jihan diam sejenak, merenung, mencoba memahami peringatan mertuanya.
“Kamu ngerti kan, apa yang aku ucapkan?!” Sugiono memantapkan ucapannya lagi.
“Iya!” angguk Jihan singkat dengan suara sayunya.
Sambil mengulum angin dalam mulutnya, akhirnya jihan bergerak mendekati westafle yang masih bersisa dengan tiga piring kotor. Hatinya terus menggerutu ragu.
‘Aneh.’ Batin Jihan mulai terusik.
Jihan merasa kebingungan semakin menggelayuti dirinya. Kenapa gelagat mertuanya sangat mencurigakan, sampai-sampai Sugiono mengelak untuk memberikan penjelasan?
Jihan merasa ada yang tidak beres, tapi entah apa yang mengganjal di pikirannya. Namun dalam hatinya, Jihan sadar bahwa ia harus mencari tahu lebih banyak tentang misteri ini.
Jihan menipiskan pandangannya lalu begumam dalam hati, “Aku akan mencari tahu apa yang terjadi. Lihat aja, pokoknya suatu hari nanti mas Azlin harus tahu soal ini.”
***
Usai membersihkan piring di atas wastafel, Jihan pun menyeka tangan di baju area panggulnya. Ia menepis bolak-balik tangannya hingga butiran air mengering.
"Uh, akhirnya beres juga," ucap Jihan menghela nafas dalam.
Semua pekerjaan dan tugasnya hari ini sudah ia anggap selesai, mulai dari menyapu, memasak, membersihkan rumah, dan bahkan mencuci piring hingga wastafel benar-benar kosong.
Merasa cuacanya panas, Jihan berniat untuk membersihkan dirinya. "Kayaknya enak nih kalau mandi siang bolong gini. Mandi ah." Jihan lantas pergi ke kamarnya untuk mempersiapkan baju ganti.
Ditariknya kenop pintu bercat kan warna putih. Dan terbukalah kamar miliknya bersama sang suami.
Kembali Jihan merasa stress saat melihat pemandangan kamar yang tak mengenakan. Baju berserakan, dan beberapa barang tidak tertata pada tempatnya.
"Jadi istri gini banget sih. Semuanya aku yang beresin. Ck, Mas Azlin kenapa nggak nyimpen barang-barang ini pada tempatnya lagi? Padahal aku udah bosan, ngasih tahu dia. Ach, bete banget," keluh Jihan saat itu.
Memang belakangan hari ini, Jihan mengemas semuanya sendirian. Ibu mertuanya yang selalu sibuk arisan, tidak tahu menahu bagaimana pekerjaan rumah menumpuk.
Bertamasya, main, dan banyak lagi alasan ibu mertua untuk keluar rumah. Bahkan ia keluar rumah hanya sekedar untuk ikut mengekor di belakang Azlin, pergi ke toko bunga plastiknya.
Dengan tenaga sisa, Jihan mengemas semua pakaian sampai selesai, meskipun acara beres-beresnya dibumbui dengan keluhan-keluhan.
Ditariknya handuk bersih yang tersampir di atas kapstok kamarnya, lantas Jihan pun melangkah pergi menuju kamar mandi.
"Untung saja keran di kamar mandi ini sudah diperbaiki, jadi aku tidak usah mandi di belakang lagi," gumam Jihan sambil menyisipkan satu persatu baju yang akan ia pakai nanti setelah mandi.
Saat air keran mulai dibuka, sebuah bayangan terlintas dari benak jihan. Kala sebulat mata mengintipnya saat mandi kemarin, sungguh semuanya membuat Jihan trauma.
Jihan pun mengedarkan mata ke seluruh ruang kamar mandi tersebut, sebelum ia terjun mandi.
"Ah, aman." Jihan berkata sendiri seolah menyemangati.
Rasa segar pun mulai mengguyur seluruh tubuhnya. Jihan merasa kulitnya melunak, dan seluruh debu yang menempel di tubuhnya sudah terhempaskan.
Saat kakinya mulai melangkah keluar dari kamar mandi, mata Jihan sontak membola saat melihat sosok pria yang ia curigai, ternyata sudah ada di depan matanya.
Sugiono sudah nangkring tepat di depan pintu kamar mandi sambil mengelus-ngelus kain segitiga pribadi milik Jihan.
Jihan yang sudah memakai baju lengkap dengan baluttana handuk di kepalanya, refleks menjerit dan meraih kacamata pribadinya itu. "Bapak ngapain masuk sini sih? Bapak apakan kut4ng dan B3h4ku?"
Sugiono pun mendongak dan hanya bisa cengengesan. Tak peduli di depan matanya ada wanita yang sedang marah membara.
"Cantik! Kamu beli di mana? Bapak mau membelikan Ibu mertuamu juga, b3h4 persis seperti ini," ujar Sugiono tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
Jihan mengendus nafas panas di hidungnya, lalu tak menjawab pertanyaan bapak yang nakal itu. Jihan lebih memilih untuk mendorong kursi roda pak Sugiono keluar dari kamarnya. "Lain kali, Jangan pernah pegang-pegang barang pribadiku ya, pak!"
Dengan kemarahannya, membuat Jihan tak bisa mengontrol diri. Ia yang ingin mencoba menormalkan kembali mood-nya lantas ia pergi untuk keluar rumah dan menenangkan diri tepat di depan teras rumah.
"Astagfirullah, ada-ada aja ulah si bapak. Bikin aku keder aja," rutuk Jihan berjalan ke sana kemari kemari. "Sh, kalau saja dia bukan mertuaku, udah aku jitak tadi," lanjut ucap Jihan gemas.
Setelah dirasa hatinya mulai tenang, Jihan pun kembali masuk ke dalam rumah. Langkahnya tak henti menuju sebuah pintu kamar yang hendak ia lewati. Langkahnya terjeda saat iya mendengarkan suara-suara aneh di balik pintu kamar bapak mertuanya itu.
"Hah?"
Jihan menarik mundur langkahnya dan meletakan telinganya di dasar pintu.
Suara d3sah4n pria terdengar extra, membuat seluruh bulu roma Jihan berdiri tegak.
"Sssh... Shhh... Shhh, k1w ... k1w ... Curukuk."