Bab 1

Mikha duduk di ranjang dengan kedua telapak tangan bertumpu pada paha. Bulir bening masih melekat pada pipi meronanya. Dia terguguk mendengar omelan lelaki kurus berkopiah hitam yang baru saja menyelesaikan salatnya. Entah apa yang dipikirkan lelaki itu hingga selepas ibadah pun dia tetap bermuram durja.

Mikha masih menunggu apa yang akan lelaki tersebut ucapkan setelah berulang kali menuduhnya menduakan cinta. Akan tetapi isakan Mikha tidak kunjung mereda, walaupun sebenarnya bukan itu yang ingin dia lakukan. Dia tahu, seorang istri seharusnya menjelma sebagai bidadari surga ketika berada di dalam rumahnya. Sayangnya kali ini Mikha tidak dapat berbuat banyak selain menunduk untuk menyembunyikan air matanya sembari menanti apa pun yang akan suaminya lakukan atau pun katakan.

“Mikha, bisakah kamu mendengarkanku?” tanyanya sembari melirik ke arah Mikha.

Mikha lantas mendongak, menatap kedua mata lelaki yang tengah membenahi kopiahnya itu. Benar yang telah dia duga, hal seperti ini pasti akan terjadi. “Ada apa, Mas?” jawabnya lirih, degup jantungnya seperti saling berkejaran hingga menimbulkan sesak pada dada.

“Dengarkan aku, Mikha. Apa yang akan aku katakan ini adalah sebuah peringatan untukmu.” Lelaki itu terlihat menahan napasnya untuk sesaat. “Aku tidak akan menggaulimu selama hatimu belum bersih dari laki-laki lain!” lanjutnya terus terang, lalu beranjak menuju ruang tengah.

Sungguh perkataan itu sangat melukai perasaan Mikha. Air mata perempuan berhijab itu semakin tidak terbendung. Jilbabnya yang panjang, basah. Bibirnya bergetar, ingin menjawab tetapi mulutnya tidak kuasa bersuara. Sia-sia sudah usahanya untuk meluluhkan hati suaminya. Padahal, dia telah menghabiskan waktu hampir setengah hari untuk menyulap kamarnya serapi dan seindah mungkin mengingat mereka adalah pengantin baru. Sayangnya lelaki yang sudah menikahinya itu tidak akan tinggal di dalam kamar mereka lagi mungkin untuk hari itu, atau juga dengan hari-hari berikutnya. Entahlah! Mikha tidak bisa menduganya.

Akan tetapi Mikha merasa dirinya perlu kembali memperjuangkan rumah tangganya. Bagaimana pun dia baru saja memulai kehidupan barunya.

Karena tidak ingin keadaan semakin buruk, Mikha memutuskan untuk lekas bangkit, lalu mengusap air mata dan menyusul suaminya yang kini sudah berkacak pinggang membelakanginya.

“Mas, aku ingin menjelaskan—”

“Tidak, Mikha! Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun lagi kepadaku,” potongnya dengan cepat dan tegas.

Setelah mendapatkan bentakan, Mikha segera merendahkan tubuh di belakang punggung lelaki yang terbalut kemeja biru itu, lalu tangannya memeluk erat kedua lutut suaminya. “Apa aku terlihat seperti perempuan yang sudah menduakan suaminya?” Mikha berusaha membuat pernyataan di balik pertanyaannya. Dia berharap ada seutas tali kepercayaan yang akan suaminya berikan.

“Menurutmu sendiri bagaimana? Sudahlah Mikha, aku tidak sebegitu membencimu hingga harus membuatmu memohon di kakiku. Yang kuminta hanyalah kesucian hatimu. Jangan pikir aku tidak tahu. Sekarang berdirilah! Aku tidak akan kasihan padamu.” Lelaki kurus itu mencoba mengentakkan kakinya agar terlepas dari dekapan Mikha.

Perasaan Mikha seperti tercabik-cabik. Bagaimana bisa suaminya tidak memiliki belas kasih seperti itu? Bahu Mikha semakin berguncang naik turun seiring menetesnya air mata, dia menyerah untuk yang kesekian kalinya setelah mendengar ultimatum suaminya. Mikha tidak mau berdebat. Dengan berat hati disudahinya permohonan yang terabaikan itu, lalu menjauh dari kedua kaki suaminya dan segera beranjak pergi.

“Aku ingin sendiri di sini, masuklah ke kamar! Tidak perlu menyelimutiku jika aku tertidur di sofa,” pintanya dengan nada memperingati.

“Baiklah, Mas. Aku akan menurutimu,” jawab Mikha lirih, walaupun hatinya enggan menyetujui.

Mikha memang harus menurut dan mengabaikan perasaannya yang sakit. Bagaimana bisa suami istri pisah ranjang sejak malam pertama. Bagaimana Mikha bisa hamil dan memberikan cucu seperti yang kedua orang tuanya harapkan sedangkan setiap malam suaminya tidak pernah menyentuhnya? Padahal, dia berharap pada malam pertama pernikahan, keningnya akan dikecup dengan lembut, lalu pakaian yang membalut tubuhnya akan terlepas satu per satu dengan penuh gelora cinta. Sesungguhnya hal tersebut merupakan harapan yang wajar bagi pengantin baru, terlebih karena usia pernikahan mereka baru tiga minggu. Namun, kenyataan manis yang selama ini dia dambakan hanya berbalas kepahitan.

“Mengapa kamu berubah, Mas? Bukankah dulu kamu berjanji akan memuliakanku sebagai seorang istri setelah kita menikah? Apa salahku kepadamu?” tanya Mikha pada dirinya sendiri. Kini dia kembali menginjakkan kakinya pada ruangan beraroma mawar itu—kamar pengantin, tanpa suaminya lagi. Entah sampai kapan akan seperti itu.

Kini tubuh langsing yang terbalut gamis berwarna merah muda itu terbaring di kasur. “Aku tidak bisa begini, seorang istri seharusnya tidak cengeng, aku harus kuat!” tuturnya, menguatkan hati yang masih teriris pilu.

Mikha mengusap pipinya yang basah. Kemudian, dia meraih pigura berisi foto pernikahan yang terletak di atas nakas. Sepasang mempelai berbusana hijau toska tampak serasi di sana. Mikha ingat betul bagaimana dia berjalan dengan iringan selawat Mahalul Qiyam. Saat itu kedua lengannya digandeng oleh orang tuanya, sedangkan keluarga yang lain berjalan iring-iringan di belakangnya. Mereka berjalan menuju musala yang kebetulan berada tidak jauh dari rumah. Dari arah yang berlawanan, keluarga mempelai pria berjalan dengan binar kebahagiaan yang serupa. Beberapa di antara mereka membawa oleh-oleh yang akan diberikan kepada keluarga mempelai perempuan. Momen yang sangat manis.

Mereka dipertemukan di dalam musala dengan kedua mempelai duduk bersisihan di hadapan penghulu. Mereka melangsungkan prosesi ijab kabul dengan khidmat. Sampai pada akhirnya para saksi berkata “sah” resmilah sudah keduanya menjadi suami istri. Rona bahagia terpancar dengan jelas. Saat itulah Mikha merasakan kecupan pada keningnya untuk yang pertama kalinya.

Hari itu kebahagiaan seolah-olah tidak akan pernah berakhir. Doa-doa dari para tamu undangan terucap silih berganti. Senyum semringah tiada pudar. Tatapan hangat terihat jelas, mereka bahkan sempat mengucap janji untuk saling mencintai seumur hidup di antara lelahnya berpose untuk foto. Namun, siapa sangka jika kebahagiaan yang tampak akan langgeng itu hanya berlangsung sehari saja. Malam pertama pengantin yang katanya akan penuh dengan gelora asmara ternyata malah berubah menjadi menakutkan. Bukan pelukan hangat yang Mikha dapat setelah selesai membersihkan diri, melainkan sebuah pertanyaan yang lebih condong pada penuduhan. Dan pada malam pertama itu pula suaminya mulai memilih tidur di sofa dibandingkan harus berada satu ranjang dengannya. Seolah-olah dia telah melakukan perbuatan zina hingga terlihat kotor di hadapan suaminya.

“Ya Allah, apakah aku sudah berbuat kesalahan yang sangat hina hingga Engkau memberi ujian seperti ini?” Mikha meneteskan air mata. Dia tidak kuasa lagi untuk mengingat kebahagiaan singkat itu. “Apakah masih ada cinta untukku di hatinya setelah dia mempertanyakan siapa lelaki yang ada dalam hatiku?” Mikha semakin terguguk. Tubuhnya terasa lelah hingga akhirnya dia terlelap.

Bab 2

Sebelum kokok ayam terdengar ramai, Mikha sudah lebih dulu bangun.

Jarum jam berukuran panjang masih sejajar dengan jarum yang lebih pendek, keduanya berhenti pada angka tiga. Mikha mengusap kedua matanya yang masih sedikit buram, lalu dia melangkah menuju kamar mandi. Mikha mengambil wudu dan berniat menunaikan salat tahajud. Perempuan yang masih mengenakan gamis berwarna merah muda itu lantas menuju pesolatan, tapi langkahnya terhenti ketika tatapannya berserobok dengan mata suaminya.

“Kamu tidak membuatkan aku sarapankah, Mikha?” Aku yakin kamu tahu kewajiban seorang istri,” ucapnya ketus.

Mikha segera menoleh ke arah jendela kamar yang masih tertutup gorden. Sinar yang sudah berwarna oranye tampak menelusup ke celah-celah rumah dan Mikha baru menyadari kesalahannya. “Maafkan aku, Mas. Jam di kamar ternyata mati,” sergahnya sambil menunduk. Ternyata dia tidak mendengar kokok ayam pagi ini karena merasa terlalu lelah setelah menangis selama berjam-jam.

Rasa bersalah menyelimuti perasaan perempuan yang kini tak berjilbab itu. Ini kali pertama bagi Mikha berpenampilan tidak rapi di hadapan suaminya. Niatnya memang mau menjalankan salat tengah malam, tapi malah kesiangan.

Setelah tidak mendapatkan waktu tahajud, Mikha pun bergegas menunaikan salat Subuh walaupun terlambat. Itu tidak mengapa dibandingkan tidak menjalankannya dengan sengaja. Pagi ini Mikha tidak berzikir, dia buru-buru untuk membuatkan sarapan suaminya yang akan berangkat kerja.

“Nggak usah bikin sarapan, aku harus buka Coffee Shopnya lebih pagi.” Entah datang dari mana, sekarang lelaki itu sudah berdiri di hadapan Mikha sembari merapikan kerah kemeja yang dia pakai.

“Biasanya kunci ada di Febri, kan, Mas?”

Setahu Mikha, kunci Coffee Shop milik suaminya memang selalu dipegang Febri—asistennya. Entah mengapa hati Mikha jadi gelisah, ada ketakutan yang bersarang di sana. Tentu dia khawatir jika suaminya itu telah berbohong.

“Kemarin kuncinya lupa kutitipkan,” jawabnya sambil mengerutkan kening. “Jangan berpikiran macam-macam karena yang patut dicurigai itu adalah kamu!” tandasnya, lalu bergegas pergi.

Mikha hanya mengangguk saat suaminya menuju ambang pintu. Namun, dia enggan membiarkan suaminya pergi begitu saja. Mikha harus lebih gigih dan lebih agresif demi mendapatkan perhatian suaminya. “Mas …,” panggilnya lirih. Mikha mengikuti lelaki berkemeja biru tua yang berjalan di depannya dengan langkah cepat. “Izinkan aku mengecup punggung tanganmu, sekali ini saja,” mohonnya penuh penekanan.

Mendengar permintaan istrinya, langkah lelaki berkumis tipis itu terhenti. Hati Mikha jadi cemas, dia takut dibentak. Menunduk jadi satu-satunya hal yang bisa dia lakukan untuk menghindari tatapan suaminya. Mata Mikha mulai berkaca-kaca karena merasa akan mendapatkan penolakan lagi. Namun, pikirannya salah. Sebelum air matanya menetes, kecupan hangat mendarat di puncak kepalanya diiringi dengan elusan halus di kedua pipi.

Mikha langsung mendongak, menilai raut wajah lelaki yang kini berada tepat di hadapannya. “Aku tidak sedang bermimpi, kan?” Hati Mikha terasa jumpalitan setelah menerima perlakuan tak terduga itu. Dia menepuk pipi berulang kali untuk memastikan jika yang dirasakannya benar-benar bukan mimpi.

“Tidak, ini memang nyata. Barusan aku memang mencium kamu. Tapi kamu juga harus tau kalau yang baru saja kulakukan itu cuma contoh,” lanjutnya terus terang.

Cuma contoh? Seketika rasa bahagia dalam hati Mikha terkikis. Perempuan bergamis itu kembali menunduk sambil mengerucutkan bibir. Dia kecewa.

“Jangan sedih, kamu pasti bakal mendapatkan yang lebih indah dari apa yang sudah kamu bayangkan, dengan syarat—”

“Membersihkan hatiku dari lelaki lain?”

Lelaki itu hanya mengangguk, lalu mengusap puncak kepala Mikha dengan pelan. “Aku pamit, hati-hati kalau ke sekolah, Sayang.” Kemudian, dia berlalu meninggalkan Mikha yang masih membeku di tempat.

“Tapi aku hanya menyimpan satu nama saja dalam hati ini,” lirihnya, jelas suaminya tidak akan mendengarkan pembelaannya karena dia sudah berada di halaman rumah.

Mikha masih saja tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Dia masih euforia dengan usapan lembut di kepalanya yang barusan, juga dengan perkataan yang baru saja dia dengar.

Ternyata tidak masalah bagi Mikha jika semua itu hanya contoh. Baginya yang terpenting adalah kehangatan yang terbentuk, kehangatan yang tidak pernah dia dapatkan setelah berstatus sebagai seorang istri. Setidaknya, usahanya sudah mulai membuahkan hasil walaupun masih tidak seberapa.

“Aku dicium suamiku?” Wajah Mikha semakin bersemu merah saat mengucapkan kalimat itu. Dia merasa malu pada dirinya sendiri.

Hari ini Mikha ingin memberikan kejutan pada Kholifah, sahabatnya itu pasti akan mencubit lengannya dengan gemas setelah mendengarkan ceritanya. Dengan membayangkan keterkejutan Kholifah membuat Mikha menjadi semakin bersemangat. Dia pun mempercepat rutinitasnya sebelum berangkat ke sekolah. Jam pada ponsel menunjukkan pukul 06.45 WIB, masih ada lima belas menit lagi sebelum anak-anak datang ke sekolah dan dia harus sampai lebih dulu sebelum murid-muridnya tiba.

Mikha mengajar di Taman Kanak-kanak Syifatun Najjah sejak tiga tahun lalu bersama Kholifah. Meskipun keduanya adalah lulusan Manajemen Pendidikan Islam, tapi Mikha dan Kholifah memilih untuk mengabdikan jiwa raganya di taman kanak-kanak sembari kembali mengenyam pendidikan PGTK secara online. Bukan tanpa sebab mereka menjatuhkan pilihan untuk mengajar TK. Baik Mikha maupun Kholifah mengaku bila hati mereka terasa lebih tenang saat bersama dengan anak-anak. Keceriaan yang terlukis pada wajah-wajah polos itu mampu mengaliri energi positif pada keduanya. Ini hanya asumsi, tapi hal itu pula yang membuat mereka lebih senang mengajar di TK.

“Bismillahi tawakaltu ‘ala Allah, laa haula wa laa quwwata illaa billaah.”

Perempuan yang sudah berpakaian rapi dengan setelan seragam berwarna cokelat muda itu tidak lupa memanjatkan doa setelah keluar rumah. Lokasi sekolah memang tidak terlalu jauh dari tempatnya tinggal, mungkin hanya sekitar dua belas menit jika ditempuh dengan jalan kaki. Suaminya sengaja memilih perumahan yang dekat dengan tempatnya mengajar agar Mikha tidak perlu repot-repot membuang waktu hanya untuk menunggu angkot.

“Bu Mikha!” teriak seseorang dari belakangnya.

Mikha menghentikan langkah, lalu berbalik untuk memastikan siapa pemilik suara itu. “Assalamualaikum, Salwa tidak diantar Ibu?” Mikha langsung menyambut Salwa—muridnya, yang sudah berlari-lari kecil ke arahnya sambil mengulurkan tangan.

“Ibu lagi sakit, terus Ayah lagi lembur dan belum pulang,” jawab Salwa cepat sembari mengecup punggung tangan Mikha. Perempuan kecil itu tampak terengah-engah.

“Kalau begitu Salwa berangkat bareng Ibu aja.”

Keduanya melangkah beriringan dengan Salwa yang terus menyanyikan lagu ¬Balonku, sedangkan Mikha masih terkurung pada pikirannya sendiri. Dia merasa simpati kepada Salwa. Betapa polosnya perempuan cantik yang ada di sisinya itu. Salwa jelas tidak tahu bagaimana perasaan ibunya yang harus menghidupi dan mengurus putri secantik dia seorang diri. Yang Mikha ketahui, ayah Salwa sudah dua tahun ini tidak pulang ke rumah. Bukan karena lembur, tapi karena ada perempuan lain yang lebih diperjuangkan dibandingkan istri yang telah memberikan Salwa sebagai hadiah pernikahan mereka.

“Salwa nggak sedih jarang bertemu Ayah?” selidik Mikha.

Salwa menggeleng. “Salwa cuma kangen sama Ayah. Tapi kata Ibu, Salwa nggak boleh sedih dan harus lebih sabar lagi karena Allah sangat menyayangi Salwa. Iya, kan, Bu Mikha?” Salwa menarik telapak tangan Mikha dan menangkupkannya pada wajahnya sendiri seakan-akan dia ingin mendapatkan perhatian lebih dari gurunya itu. Atau, mungkin dia memang sedang merindukan ayahnya. Entahlah, Mikha sendiri tidak berani bertanya lebih jauh lagi karena usia Salwa masih sangat dini untuk diajak berbicara hal semacam itu.

“Salwa pasti akan menjadi anak yang salihah,” pujinya, lalu mereka bergegas melanjutkan perjalanan.

Di depan sana telah terlihat bangunan bercat hijau muda yang dindingnya dihiasi gambar bunga dan berbagai jenis hewan dengan ukuran besar. Dengan penuh semangat, Salwa melangkah sambil melanjutkan nyanyiannya yang sempat terputus. Sebentar lagi mereka sampai di sekolah.

Mikha merasa kalah ketika mendengar apa yang muridnya tadi ucapkan. Salwa memang benar, Allah memberikan ujian karena Dia menyayangi hamba-Nya. Seharusnya Mikha lebih menyadari hal itu.

“Maafkan aku yang telah lalai, Ya Allah,” ucapnya lirih. Kemudian, dia mencoba untuk tersenyum lebih lebar dan tulus.

Mikha berusaha mengikis kegelisahan yang sudah tiga minggu terakhir ini mengubrak-abrik perasaannya. Wajar jika dia khawatir ditalak dengan keadaan rumah tangga yang runyam seperti saat itu. Akan tetapi perbincangan singkatnya bersama Salwa telah membukakan jalan baru dalam pikirannya, dia tidak akan menyalahkan takdir. Mikha yakin hidupnya tidak akan seburuk apa yang telah dia bayangkan sebelumnya. Bagaimana pun Allah selalu memberikan ujian sesuai dengan kemampuan hamba-Nya, yang artinya Mikha pasti akan berhasil menyelesaikan permasalahan rumah tangganya bila dia terus berjuang dan berserah diri kepada-Nya.

Bab 3

Mikha segera menjabat tangan Kholifah setelah sampai di sekolah. Kebetulan Kholifah sudah datang lebih dulu dan tengah menunggunya di depan gerbang.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Kholifah yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Mikha.

Kemudian, keduanya segera memasuki ruang guru dengan langkah terburu-buru. “Assalamualaikum, Bu. Maaf banget nih aku telat,” ucapnya sambil menyalami para guru yang sudah lebih dulu datang.

“Nggak apa-apa, pengantin baru kan memang sering bangun kesiangan.” Kekehan kecil terdengar dari salah seorang di antara mereka. Sedangkan Mikha berusaha mengendalikan gemuruh dalam hatinya sebelum wajahnya semakin merona. Dia juga harus segera menyiapkan beberapa keperluan untuk mengajar.

Di dalam ruangan yang tidak seberapa lebar itu terdapat dua lemari yang terbuat dari kayu jati berpoles cat berwarna cokelat tua. Salah satu lemari terisi dengan dokumen-dokumen sekolah termasuk rapor siswa. Sedangkan yang satu lagi berisi penuh mainan. Seperti biasanya, Mikha mendekati lemari yang berisi mainan, mengambil beberapa buku gambar yang kebetulan terletak pada kotak teratas. Kemudian, dia membuka buku gambar tersebut satu per satu untuk mencari lembar kosong yang akan digunakan.

“Hari ini materinya tentang hewan yang hidup di air, kan?” Kholifah menyodorkan potongan kertas berpola ikan kepada Mikha.

“Iya, Lif, sepertinya kita selalu sama pembahasannya? Atau kamu udah masuk tentang tanaman?” Mikha segera meletakkan satu potongan kertas berpola ikan itu pada setiap buku gambar. Masing-masing murid akan mendapatkan satu pola yang sama.

“Iya sama, kok. Oh iya, tumben tadi kamu berangkat bareng Salwa? Biasanya dia diantar ibunya.”

Mikha mengangguk sambil tersenyum. “Tadi ketemu di jalan,” jawabnya. “Alhamdulillah, cukup gambarnya. Yuk masuk udah waktunya buat salat Duha.”

“Eh iya nih, anak-anak juga udah nungguin.” Kholifah lebih dulu beranjak meninggalkan ruangan, lalu mengajak muridnya berbaris di depan kelas sebelum masuk.

“Lif, pulang sekolah nanti kita ke warung bakso Bu Nani dulu, ya? Aku mau cerita,” pinta Mikha sambil berlalu di hadapan Kholifah. Setelah itu Mikha menghampiri murid-murid kelasnya yang sudah berbaris rapi. Kemudian, mempersilakan salah satu muridnya yang bertugas untuk memimpin barisan.

“Murid Syifatun Najjah, ambil antara!” Suara itu terdengar melengking—aba-aba agar seluruh murid berbaris dengan tertib.

“Siaaap!” Seluruh murid menjawab dengan serempak, lalu mereka mengambil posisi lurus.

Hari ini adalah jadwal Salwa untuk memimpin. Perempuan cantik itu tampak menyelisik satu per satu temannya yang sedang meluruskan tangan—menyentuh bahu teman lain yang berada di depannya.

“Tegaaaak! Nyanyikan lagu mars Syifatun Najjah!” perintahnya lagi.

Kemudian, seluruh murid menyayinyan lagu mars sekolah dengan begitu riangnya. Sedangkan Mikha masih berdiri di sebelah kanan Salwa, menunggu dan mengamati murid-muridnya yang sedang bernyanyi.

“Anak-anak Ibu yang tersayang, yuk kita masuk kelas dengan berurutan!” ucap Mikha setelah seluruh muridnya selesai bernyanyi. Dengan sedikit menggeser posisi berdirinya, Mikha mempersilakan satu per satu dari mereka untuk memasuki ruang kelas.

“Buruan pakai mukena! Kamu juga pakai kopiah! Buruan! Bu Mikha udah mau masuk tuh.” Salwa mengkoordinir teman-temannya untuk segera berpakaian rapi agar salat Duha bisa segera dilaksanakan. Tidak lama berselang, Mikha turut memasuki kelas, lalu memakai mukena putihnya. Dia melangkah ke barisan paling depan untuk menjadi imam salat Duha.

Setelah beberapa menit kemudian akhirnya kegiatan salat sebelum memulai pelajaran pun telah selesai. Mikha segera duduk menghadap murid-muridnya dengan senyuman paling manis yang dia miliki. Mikha tahu bila anak-anak seusia muridnya ini sangat menyukai rona wajah yang semringah, meneduhkan, dan tentu penuh kehangatan. Itulah sebabnya Mikha tetap terlihat baik-baik saja bila sudah berhadapan dengan peserta didiknya.

“Alhamdulillah murid-murid Ibu memang pintar, salatnya sudah rapi dan nggak berisik seperti teman-teman lainnya. Nanti setelah berdoa, Ibu akan memberikan pelajaran yang seru, lho! Sekarang ayo kita angkat kedua telapak tangannya dulu terus baca doa bersama.” Mikha segera mengangkat kedua telapak tangannya untuk memberikan contoh. Setelah itu dia langsung memimpin doa. Dengan antusias semua murid mengikuti kalimat yang Mikha ucapkan. Mereka sama-sama membaca doa setelah selesai salat duha sekaligus doa untuk kelancaran proses belajar pada hari itu.

Selepas berdoa, Nina yang tampaknya sudah tidak sabar pun mulai bertanya, “Ibu, hari ini kita belajar tentang apa?”

“Kemarin kan pelajaran tentang hewannya belum selesai. Iya kan, Bu?” timpal Salwa untuk memberi tahu tema-temannya.

“Iya, Salwa,” jawab Mikha lembut. “Yuk duduk dulu yang rapi!”

Mikha sudah meletakkan mukenanya kembali ke dalam tas seusai berdoa dan diikuti oleh murid-murid lain. Lantas mereka semua segera duduk di tikar yang sudah terhampar. TK Syifatun Najjah bukannya tidak punya kursi, hanya saja murid-muridnya lebih suka duduk melingkar di tikar agar leluasa bergerak daripada di kursi yang ruang geraknya terbatas.

Berselang beberapa menit, Mikha segera membuka pertemuan kali itu. “Assalamualaikum, Anak-anak. Bagaimana kabarnya hari ini?”

“Waalaikumsalam, Bu. Alhamdulillah, sehat, luar biasa, Allahu Akbar.” Masih seperti biasanya, mereka sangat semangat untuk menjawab salam. Binar keceriaan terpancar dari wajah-wajah polos itu. Momen seperti inilah yang Mikha suka, dia tidak akan pernah kehabisan kebahagiaan bila sedang bersama mereka.

“Hari ini kita akan melanjutkan pelajaran tentang hewan, ya. Nah, hewan yang hidup di air itu ada apa saja sih?” tanya Mikha, dia melakukan metode pengulangan supaya murid-muridnya tidak melupakan pelajaran hari kemarin.

“Ada ikan, gurita, dan anjing laut, Bu,” jawab Kevin semangat.

Tidak mau kalah, Reihan menimpali jawaban Kevin. “Ada kuda laut juga kok, kemarin aku lihat gambarnya.”

“Anak-anak Ibu pintar banget, sih. Semua yang kalian sebutkan itu memang benar. Tapi, hari ini kita akan belajar tentang ikan, ya?” Dengan hati-hati Mikha membagikan buku gambar yang sudah dia persiapkan sebelumnya. Kemudian, dia juga membagikan lem berdasarkan kelompok yang sebelumnya telah ditentukan.

“Boleh diwarnai kan, Bu, setelah nempelin ini?” tanya Salwa sambil mengangkat buku gambar dan potongan kertas berpola ikan miliknya.

“Boleh asal tidak rebutan,” jawab Mikha dengan halus. Entah mengapa, para murid selalu mudah dikondisikan jika diatur oleh Mikha. Menyadari hal tersebut, pikiran Mikha kembali berkecamuk. Andai kemampuan bicaranya itu dapat memengaruhi hati suaminya sedikit saja, mungkin suasana rumah akan terasa lebih hidup dan hangat. Sabar! Itulah satu-satunya hal yang terus dia tanamkan dalam hatinya sampai sekarang. Dia tidak ingin menyerah dengan rumah tangganya yang baru seumur jagung itu.

Sekarang Mikha harus lebih fokus membimbing murid-muridnya. Mengajari mereka cara mewarnai yang baik dan juga membantu mereka mengeja kalimat ‘i-k-a-n’ dengan benar, begitulah kewajibannya. Menjadi guru TK bukan suatu hal yang gampang, Mikha harus menyesuaikan dengan mood murid-muridnya dan telaten momong agar mereka tidak menimbulkan keributan.

Akan tetapi dia tidak pernah kesulitan untuk melakukannya. Mikha bahkan menjadi guru yang paling dekat dengan setiap murid yang bersekolah di TK Syifatun Najjah. Hal itu pula yang membuat Mikha terus berharap suatu saat nanti dia juga bisa meluluhkan hati suaminya. Dia ingin pernikahan benar-benar menuntunnya ke surga. Jadi, sudah pasti Mikha akan lebih banyak bersabar lagi dalam meniti jalan hidupnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED