Bab 1

Sebuah desa yang terletak di tengah pegunungan hijau dengan udara segar dan pemandangan yang memukau, penuh dengan kehangatan dan keramahan. Penduduknya saling mengenal dengan baik, menciptakan ikatan kekeluargaan yang erat.

Mereka menjalani kehidupan yang sederhana, bercocok tanam, dan berdagang di pasar kecil di pusat desa. Di sinilah Moon, seorang gadis muda yang dikenal karena kecantikannya yang alami dan sifatnya yang ceria, hidup bersama neneknya. Moon, dengan rambut panjangnya yang berkibar terkena angin, mengayuh sepeda dengan penuh semangat menuju pasar desa. Senyumnya yang manis dengan lesung pipi yang menghiasi wajah bulatnya membuatnya selalu terlihat ceria.

Setibanya di pasar, dia berhenti di depan kios sayuran milik seorang wanita paruh baya. "Bibi, sayur yang aku pesan, apakah sudah tersedia?" tanya Moon dengan senyum ramah.

Wanita paruh baya itu, yang sudah mengenal Moon sejak kecil, tersenyum kembali. "Moon, Bibi sudah simpan untukmu," katanya sambil mengeluarkan beberapa sayuran segar dari bawah meja.

"Terima kasih!" ucap Moon dengan senyum.

"Nenekmu sangat suka makan sayur, tentu saja Bibi harus menyediakan lebih untuknya," tambah wanita itu dengan ramah, menunjukkan betapa eratnya hubungan mereka.

Namun, suasana yang damai itu tiba-tiba pecah ketika terdengar teriakan panik dari seorang pria muda bernama Ekin. Dia berlari ke arah mereka, wajahnya penuh kecemasan."Gawat! Gawat!" teriak Ekin, napasnya tersengal-sengal.

Semua orang di pasar berhenti sejenak, menoleh ke arahnya dengan rasa penasaran dan khawatir.

"Ekin, ada apa denganmu? Apa terjadi sesuatu?" tanya salah satu warga yang berdiri dekat dengan Moon.

Ekin berusaha mengatur napasnya sebelum menjawab, "Baru dapat informasi, besok mereka akan datang lagi untuk mengusir kita. Kali ini yang datang adalah pengurusnya, mereka bersama beberapa anak buahnya. Kalau kita menolak, mereka akan melakukan penggusuran paksa."

Salah satu warga yang lebih tua mengangguk dengan cemas, "Mereka selalu saja datang berusaha untuk mengusir kita," katanya, suaranya penuh kekhawatiran.

Seorang pria lain yang berdiri di sebelahnya, dengan nada tegas berkata, "Tetap saja seperti biasa, kita pertahankan tempat tinggal kita. Bagaimanapun, kita tidak akan pergi meninggalkan tempat ini." Suaranya penuh keyakinan dan tekad, menginspirasi warga lainnya untuk bersiap menghadapi ancaman yang akan datang.

Moon yang mendengar semua ini, merasakan hatinya menjadi berat. Desa ini adalah rumahnya, tempat dia tumbuh dan mengenal banyak orang yang sudah dianggap sebagai keluarganya.

"Kalau nenek tahu pasti sedih lagi, Apakah tidak ada cara lain untuk menghentikan semua ini," batin Moon.

Keesokan hariny, pada pukul 06.00

Moon mendatangi tepi pantai dan menghirup udara yang segar,ia kemudian berjongkok memainkan pasir di posisi tempat dua berdiri. Moon merasakan butiran pasir yang dingin dan lembut di antara jari-jarinya. Suara ombak yang berderai menambah ketenangan di pagi yang sejuk itu.

Di kejauhan, seorang pria tampan dan berpenampilan rapi berdiri memandang laut. Dari pakaiannya yang elegan dan sikapnya yang penuh percaya diri, jelas ia bukan berasal dari desa kecil ini, melainkan dari kota besar. Saat pria itu berbalik untuk pergi, matanya tertumbuk pada sosok Moon yang sedang asyik bermain pasir. Dia terdiam sejenak, terpikat oleh pemandangan gadis muda yang tampak begitu bebas dan damai. Tanpa disadari, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Dengan gerakan cepat, dia mengeluarkan ponselnya dan diam-diam mengambil foto Moon.

"Tuan muda, semuanya sudah siap. Mereka akan segera merobohkan semua bangunan di desa ini," suara seorang pria, yang ternyata adalah sekretarisnya, membuyarkan perhatian pria tersebut.

"Selesaikan hari ini juga, aku tidak suka membuang waktu!" perintahnya dengan nada tegas, wajahnya yang tadi tersenyum manis berubah menjadi serius. Namun, saat ia mulai melangkah pergi, pandangannya kembali tertuju pada Moon. Sebuah senyuman kecil muncul di wajahnya sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat itu.

Dua alat berat berdiri gagah di pinggiran desa, siap meratakan setiap bangunan yang ada. Para warga, dari yang tua hingga yang muda, berkumpul dengan tekad bulat untuk melawan para pekerja dan petugas yang dikirim dari kota.

Di tengah kerumunan itu, pria tampan yang menjadi mewakili perusahaan berdiri dengan angkuhnya, mewakili kepentingan korporat yang ingin mengambil alih lahan mereka.

Pagi itu, suasana di desa penuh dengan ketegangan. Para warga, yang sangat mencintai tanah mereka, berusaha mati-matian menghentikan rencana penghancuran. Mereka berteriak-teriak, berharap suara mereka didengar. "Walau kami mati, kami tidak akan pergi dari sini!" seorang warga berseru lantang, suaranya penuh dengan emosi dan keteguhan.

"Aku adalah pengurus Kim, ingin mengatakan, Sayang sekali, tempat ini bukan hak kalian lagi. Selagi kalian bekerja sama, pihak perusahaan akan memberikan kompensasi. Kalian bisa pindah ke mana saja yang kalian suka," ucapnya, seolah masalah ini hanyalah urusan bisnis biasa.

Seorang kakek tua, yang telah hidup di desa itu hampir sepanjang hidupnya, melangkah maju dengan wajah penuh amarah. "Kenapa kalian suka sekali menindas warga kecil seperti kami? Usiaku sudah 75 tahun. Sejak usia 10 tahun aku sudah tinggal di desa ini. Sampai matipun aku tidak akan pergi," katanya dengan suara yang bergetar, namun tegas.

Pengurus Kim yang dikenal kejam dan tidak berperasaan hanya tersenyum sinis. "Itu urusanmu, Pak Tua. Aku masih berbaik hati menawarkan uang kompensasi. Lebih baik terima uangnya dan pergi. Kalau kalian tetap melawan, kalian tidak akan mendapatkan apa-apa," ucapnya dengan nada mengancam.

"Kami akan menuntutmu!" teriak seorang warga lain, berusaha menunjukkan keberanian mereka meskipun jelas-jelas kalah kekuatan.

"Lakukan saja! Aku akan menggunakan sepuluh pengacara untuk mengurus masalah ini. Sedangkan kalian, apa yang bisa kalian lakukan untuk melawan kami?" jawab pengurus Kim dengan senyum angkuh, seolah kemenangan sudah di tangannya.

Merasa terhina, kakek itu maju dengan tangan terangkat, siap melayangkan pukulan ke wajah pria tersebut. Namun, aksinya langsung dihentikan oleh pengurus Kim, yang dengan cepat menangkap tangannya dan mendorongnya hingga kakek itu tersungkur ke tanah.

"Kakek!" teriak warga lain yang ingin segera bergegas menolongnya, panik melihat kakek itu terjatuh.

Pengurus Kim mengibaskan tangannya, seolah ingin menghilangkan kotoran yang menempel, lalu mengeluarkan saputangan dari sakunya. "Tidak tahu diri," ucapnya dingin sambil mengelap tangannya, menambah rasa amarah dan frustasi warga yang merasa dihina. Mereka hanya bisa menggertakkan gigi, menahan marah yang membara dalam hati.

Moon, yang baru tiba di lokasi, menyaksikan kejadian itu dengan mata kepala sendiri. Tanpa berpikir panjang, ia berlari mendekati pengurus Kim. Tanpa ragu, tangannya melayang dan menampar keras wajah pria kota itu, "Plak!"

Tamparan itu menggema di udara, membuat semua orang terdiam sejenak. Wajah pria itu memerah karena tamparan tersebut. Dia menatap Moon dengan tatapan tajam, tetapi alih-alih marah, dia justru tersenyum—sebuah senyum yang berbahaya dan penuh teka-teki.

Keduanya saling memandang dengan intens, seolah-olah ada pertempuran diam-diam yang terjadi di antara mereka.

"Berani sekali menindas seorang kakek yang sudah tua. Apakah kamu tidak tahu malu?" ujar Moon dengan suara penuh kemarahan dan keberanian, menantang pria di depannya yang memiliki kekuasaan besar.

Anak buah Pengurus Kim, yang tampak siap untuk melindungi bos mereka, segera bergerak maju, tetapi dihentikan oleh isyarat tangan dari bos mereka. Pengurus itu mengangkat tangannya, menghentikan mereka dengan satu gerakan. Dengan tatapan tajam dan senyuman yang samar, dia menatap Moon, terpesona oleh keberaniannya. "Menarik!" gumamnya pelan, cukup keras untuk didengar oleh Moon dan beberapa orang di sekitarnya.

Situasi semakin tegang, dan semua orang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah Pengurus Kim yang kejam ini akan membalas tindakan Moon? Atau adakah sesuatu yang lebih dari sekadar perselisihan ini? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Bab 2

Pria itu menatap Moon dengan senyum lembut, tapi ada kilatan misterius di matanya. "Siapa namamu, Gadis kecil?" tanyanya, suaranya tenang namun penuh dengan ancaman tersembunyi.

Moon menegakkan tubuhnya, menatap balik tanpa gentar. "Namaku adalah Moon. Tolong hentikan semua ini. Jangan menyakiti warga-warga sini," katanya dengan tegas, berusaha menunjukkan keberaniannya meskipun di dalam hatinya bergejolak kekhawatiran.

Pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Pengurus, tersenyum lebih lebar, mengangguk perlahan. "Moon, nama yang bagus. Bulan yang indah. Aku menyukainya," ujarnya, nada suaranya kini lebih lunak namun tetap penuh teka-teki. "Ingin kami mengalah? Mungkin kau harus bisa mengabulkan permintaanku," lanjutnya, kali ini dengan tatapan tajam yang membuat Moon merasakan desiran dingin di tulang punggungnya.

Moon menelan ludah, mencoba untuk tetap tenang. "Apa yang kamu inginkan?" tanyanya, suaranya terdengar lebih tenang daripada yang ia rasakan.

Pria itu mendekat, menundukkan kepala hingga dekat dengan telinganya. "Ingat namaku baik-baik! Christian Kim, asli keturunan Korea dan dibesarkan di New York. Kita akan bertemu kembali," bisiknya dengan senyum penuh arti sebelum berbalik meninggalkan tempat itu.

Christian Kim kemudian beranjak pergi, meninggalkan Moon dan warga desa dalam kebingungan. Anak buahnya mengikuti di belakang, dan dalam sekejap mereka semua menghilang, meninggalkan suasana desa yang sunyi dan tegang.

Seorang wanita tua, salah satu warga desa, mendekati Moon dengan ekspresi penuh tanya. "Moon, apa yang dia katakan, kenapa mereka bisa pergi begitu saja?" tanyanya dengan nada cemas.

Moon menggeleng, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi. "Dia ada permintaan, tapi tidak mengatakan apa yang dia mau," jawabnya, matanya tetap memandang ke arah di mana Christian menghilang.

Seorang pria paruh baya, salah satu tetua desa, mengangguk dengan tegas. "Moon, apapun yang dia minta, jangan menyetujuinya!" pesannya, penuh dengan ketegasan dan kekhawatiran.

Moon tersenyum tipis, meski dalam hatinya dia merasakan tekanan yang besar. "Iya, Paman, Bibi," jawabnya, berusaha menenangkan mereka. Namun, dalam hati kecilnya, Moon tahu bahwa ini baru permulaan dari sesuatu yang lebih besar dan berbahaya.

Sementara itu, di rumah mewah milik keluarga Kim, Christian duduk di ruang tamu bersama ayahnya, seorang pria tua dengan wajah penuh otoritas, dan kakaknya, seorang pria muda yang terlihat tegas dan ambisius.

"Bukankah kau akan mendapatkan tanah desa itu? Kenapa tidak berhasil? Apakah kamu digagalkan oleh mereka?" tanya kakak Christian, suaranya mengandung nada tuduhan.

Christian tersenyum kecil, memainkan kunci mobil di tangannya. "Aku berubah pikiran. Ada yang membuatku lebih tertarik," jawabnya dengan nada santai.

Ayahnya mengerutkan dahi, tidak puas dengan jawaban tersebut. "Apa yang membuatmu berubah pikiran?" tanyanya dengan nada yang menuntut penjelasan lebih.

Christian bangkit dari sofa, menatap keluarganya dengan tatapan penuh keyakinan. "Tidak perlu khawatir! Aku bisa mengurusnya," ujarnya sebelum berjalan menuju tangga, meninggalkan ruangan dengan aura misterius yang membuat keluarganya terdiam.

"Pa, apakah Christian menimbulkan masalah lagi?" tanya kakak Christian.

"Calvin, Awasi adikmu dengan baik!" perintah ayahnya, Jorge.

"Baik!" Jawab Calvin dengan patuh.

Christian kembali ke kamarnya, Setelah menutup pintu kamar, ia melemparkan dirinya ke atas kasur mewahnya, merasakan kenyamanan dari bantal dan selimut mahal yang menghiasinya. Pandangannya tertuju pada layar ponsel yang ia genggam, di mana foto seorang gadis yang tak lain adalah Moon.

"Moon? Gadis yang berani," gumamnya dengan nada bercampur antara kekaguman dan kesombongan. Ia menatap foto itu dengan intensitas yang tak bisa ia sembunyikan. "Aku akan membuatmu tunduk padaku," ucapnya, matanya menyiratkan niat yang jelas. "Begitu banyak wanita yang merayuku," katanya, mengulang kembali dalam pikirannya. "Tapi kau adalah satu-satunya yang menamparku. Sepertinya aku harus memberimu kejutan."

Moon berjalan keluar dari rumahnya dengan semangat, mengayuh sepeda dengan riang di jalan yang sepi. Pikirannya dipenuhi rencana belanja untuk hari itu. Namun, kegembiraannya tiba-tiba berubah menjadi kepanikan ketika seorang pria tiba-tiba muncul dari arah berlawanan.

Dalam sekejap, tubuhnya terhempas ke aspal keras."Aahh!" teriaknya kesakitan, sambil merasakan luka di lengannya yang mulai berdarah.

Ia berusaha bangkit, menahan rasa sakit yang menjalar. Pandangannya tertuju pada pria yang menabraknya, " Hei...cepat minta maaf padaku!"

Pria itu malah dengan angkuh berkata, "Kau sendiri yang berjalan tidak menggunakan mata," sebelum berlalu begitu saja.

Moon merasa kesal dan marah. "Keterlaluan sekali," gerutunya sambil berdiri dan membersihkan sepedanya.

Namun, kemarahannya segera berubah menjadi kekhawatiran ketika dua pria berpakaian rapi menghampirinya."Nona!" seru salah satu dari mereka dengan nada hormat.

Moon menatap mereka dengan curiga. "Kenapa kalian ada di sini? Apakah kalian masih ingin mengusir kami?" tanyanya.

Salah satu dari pria itu menjawab dengan tenang, "Nona, Tuan muda ingin bertemu dengan Anda."

Bab 3

Beberapa saat kemudian, Moon dibawa ke sebuah rumah papan yang terletak di kaki gunung. Di sana, Christian dengan senyum yang selalu terukir di wajahnya, menunggu kedatangannya. Meskipun suasana hati pria itu tidak selalu jelas, senyumnya seolah-olah adalah penutup dari berbagai emosi yang sebenarnya dirasakannya.

Moon menatap Christian dengan waspada. "Apa yang kamu inginkan?" tanyanya tanpa basa-basi.

Christian, masih dengan senyumnya, menanggapi, "Tidak perlu terburu-buru, duduklah dulu."

Moon ragu-ragu sebelum akhirnya duduk berseberangan dengan Christian.

Christian memulai pembicaraan dengan nada ringan, "Aku ingin mengajukan permintaanku."

Moon menatapnya tajam. "Atas dasar apa kau mengajukan permintaan? Tanah desa bukan milik kalian," katanya dengan tegas.

Christian tertawa kecil sebelum menjawab, "Kami akan membelinya dengan harga tinggi. Tapi sekarang aku berubah pikiran. Aku bisa melepaskan tanah desa... Asalkan kau mengabulkan keinginanku."

Moon semakin waspada. "Permintaan apa?" tanyanya dengan nada dingin.

Christian mendekati Moon, menatapnya dengan tatapan yang dalam, penuh makna yang sulit ditebak. "Aku ingin..." ucapnya terhenti sejenak, menciptakan ketegangan. Lalu, ia berbisik di telinga Moon, "Kau menjadi wanitaku!"

Permintaan itu mengejutkan Moon, membuatnya terdiam. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Christian melanjutkan, "Jadi wanitaku, dan mereka bisa tetap tinggal di sini selama mereka suka."

Moon memandang Christian dengan tatapan tak percaya. "Gila! Seorang pria mengajukan permintaan gila, Lucu sekali!" katanya, mencoba menyembunyikan rasa takutnya.

Christian tidak terganggu oleh reaksinya. "Lucu? Aku serius," katanya, wajahnya berubah menjadi lebih serius. "Aku bisa melakukan apa saja yang aku suka. Aku juga akan mendapatkan apa yang aku inginkan termasuk dirimu," lanjutnya dengan senyum sinis.

Tidak lama kemudian, Moon merasa pusing dan pandangannya mulai kabur. Sebelum sempat menyadari apa yang terjadi, tubuhnya lemas dan ia pingsan, kepalanya berbaring di atas meja di hadapannya.

Christian menatap gadis yang kini tak sadarkan diri itu dengan ekspresi penuh kemenangan.

Ia mendekat dan menyentuh wajah Moon dengan lembut, lalu tersenyum. "Sudah kukatakan, apa yang aku inginkan, aku akan mendapatkannya," ucapnya dengan suara lembut namun penuh keyakinan. Senyum sinis terukir di wajahnya, seakan-akan ia telah merencanakan semuanya sejak awal.

Christian berdiri tegak di tengah padang rumput yang sunyi, hanya diiringi suara angin yang berbisik melalui daun-daun pohon tinggi. Di sekelilingnya, beberapa anak buahnya berdiri dengan waspada, memperhatikan setiap gerak-geriknya. Di tanah, seorang pria terbaring tak berdaya, wajahnya penuh luka, salah satunya dari sayatan pisau yang kini digenggam erat oleh Christian.

Pria itu, yang matanya terbuka lebar dengan ketakutan, adalah orang yang menabrak Moon dan meninggalkannya tanpa rasa bersalah. Wajahnya kini penuh luka dan darah, mencerminkan nasib buruk yang menantinya.

Christian melangkah mendekati pria itu dengan tenang, mengayunkan pisaunya dengan santai. "Kau tahu," katanya, suaranya tenang tapi penuh ancaman, "di dunia ini, orang seperti kau seharusnya bertanggung jawab atas kesalahan sendri, bukan lari seperti pengecut. Terutama ketika korbannya adalah gadis itu." Christian berhenti sejenak, mengarahkan ujung pisaunya ke dada pria itu. "Kau tahu kau membuatku marah, kan?"

Pria itu menggigil, menahan sakit dan ketakutan yang mencekam. "Aku minta maaf! Aku salah, tolong maafkan aku!" suaranya terdengar putus asa, bergetar dengan ketakutan yang nyata.

Christian mendekatkan wajahnya, senyum dingin tergambar di bibirnya. "Sayangnya, aku bukan tipe orang yang murah hati," ucapnya, menggesekkan pisau itu pelan ke kulit pria tersebut, "dan aku sangat tidak suka membuang-buang waktu." Dengan gerakan cepat dan dingin, Christian menusukkan pisaunya ke dada pria itu, darah segar memancar, mengotori pisau dan tangannya.

Pria itu tersentak, merintih, namun suaranya segera teredam oleh tangan kuat anak buah Christian yang menutup mulutnya dengan kain.

Christian memperhatikan wajah pria itu yang kini penuh dengan rasa sakit dan ketakutan, air mata mengalir dari matanya. Ia menikmati setiap detik penderitaan pria itu, menyaksikan bagaimana rasa sakit itu merenggut kekuatan hidup dari tubuhnya.

Christian memutar pisaunya perlahan, memperdalam luka, sebelum akhirnya menariknya keluar dengan satu gerakan cepat..Ketika pria itu terkapar, darah terus mengalir dari lukanya, tubuhnya kejang-kejang sebelum akhirnya terdiam.

Christian menatap karyanya dengan penuh kepuasan, senyuman dingin masih menghiasi wajahnya. Di balik wajah tampannya, tersembunyi jiwa yang kejam dan tanpa ampun, terlihat jelas dari tatapan mautnya. Christian berdiri tegak, melemparkan pandangannya ke langit malam yang berbintang. "Begitulah seharusnya, kau harus menanggung konsekuensi dari tindakanmu," katanya pelan, sebelum berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan tubuh pria yang tak bernyawa itu.

***

Moon terbangun perlahan, pandangannya kabur saat ia mencoba mengenali lingkungan sekitar. Kamar itu asing baginya, dinding-dindingnya berwarna lembut, namun ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman. Ia tersentak bangun, menatap sekeliling dengan cemas hingga matanya bertemu dengan Christian yang duduk di ujung sofa, tersenyum melihatnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED