Bab 1

Zia meninggalkan sesi pemotretannya begitu saja saat mendengar kabar kalau ayahnya masuk rumah sakit.

Leo penasehat ayahnya menelponnya satu jam yang lalu mengabarkan kalau Alvian terkena serangan jantung.

Zia benar-benar panik, dia yakin sekali ada hal yang sangat serius sehingga ayahnya itu terkena serangan jantung.

Managernya Ashila sudah menyiapkan penerbangan pribadinya langsung menuju Fortania. Fortania adalah salah satu kerajaan timur tengah, yang dipimpin oleh ayahnya sebagai Raja.

Masih dengan make up yang tebal dan rambut yang acak-acakan akibat Zia tidak membersihkan terlebih dahulu make up-nya, dia segera menuju bandara Shanghai.

Zyan sedang di Indonesia mengurus perusahaan ibunda mereka. Dan Vienza kakaknya sedang berada di Qatar bersama suaminya. Hanya dia yang bisa secepatnya kembali ke Fortania.

Dia terus berdoa semoga saja ayahnya baik-baik saja.

******

Zia berlari disepanjang lorong rumah sakit.

Dia memasuki lift yang menuju keruang rawat khusus kerajaan.

Didepan pintu ruang rawat Alvian dia melihat Leo dan perdana mentri sedang berbicara.

Leo adalah penasehat kerajaan sekaligus orang kepercayaan ayahnya.

Leo dan Perdana Mentri yang tidak Zia tahu namanya itu membungkuk hormat kepadanya.

Disebelah brankar ayahnya sudah ada ibundanya yang meneteskan air mata sambil memegang tangan ayahnya yang menutup mata dan dipasangi berbagai selang.

Lutut Zia lemas melihat wajah pucat ayahnya yang biasanya selalu terlihat gagah meski usia ayah-nya sudah tua.

Zia memeluk ibundanya dari samping dan berusaha tegar.

"Jangan menangis ibunda, semuanya akan baik-baik saja." Ibunda nya memeluk zia dengan erat, dan berusaha tersenyum.

"Kau sudah sampai Zia." Zia mengangguk dan memeluk ibundanya lagi.

"Maafkan kami tidak ada bersama ibunda. Maaf," ujar Zia menyesali dirinya yang selalu jauh dari ibunda dan ayahnya.

Zia memang yang selalu jauh dari keluarganya dibandingkan dengan kedua saudaranya yang lain. Zyan masih tinggal di Fortania walaupun dia bersekolah keluar Negri dan terkadang mengurusi perusahaan keluarga mereka.

Sedangkan Vienza hanya setelah menikah dan menjadi Ratu dia pergi dari Fortania, dan jarang kembali ke Fortania.

Tapi Zia, dia bahkan tidak suka berada di Fortania. Dia suka hidupnya yang bebas dengan jadwal keartisannya yang cukup padat.

"Apa yang terjadi ibunda?" Zira hanya melihat wajah yang pucat dan menutup kedua matanya.

"Ayahandamu tiba-tiba jatuh dan tak sadar kan diri saat membaca surat penagihan hutang dari perusahaan Edward corp's." Zia melotot tak percaya, sebanyak apa hutang ayah nya sehingga ayahnya bisa terkena serangan jantung.

"Bagaimana mungkin ayah berhutang ibunda. It's... Imposible". Zia menatap tak percaya kepada Zira.

"Leo sedang menyelidiki semua ini. Zyan juga sudah diberitahu, ibunda menyuruh Zyan mencairkan dana pribadi milik ibu untuk membayar semua hutang ayahanda. Tapi Zyan menolak dan ingin mencari tahu terlebih dahulu."

"Bukankah Paman Albert adalah salah satu teman baik ayah?" Zia mengingat teman baik ayahnya itu.

"Albert sudah meninggal seminggu yang lalu Zia, dan kemarin surat penagihan hutang itu pun datang." Zia tahu ayahandanya tidak mungkin berhutang. Pasti ada yang salah dengan semua ini.

"Ibunda sebentar, aku ingin berbicara dengan paman Leo." Zia pergi setelah mencium kening dan tangan ayahnya.

Diluar ruang rawat Alvian, Leo duduk sambil melihat ponselnya dan menghembuskan nafas.

Zia duduk disebelahnya dengan sedikit tersenyum.

"Paman, apa yang sebenarnya terjadi?" Leo tampak melihat sedih kearah Zia.

"Sejauh ini kami masih memastikan semuanya dengan jelas Zia. Paman rasa kita sudah di tipu oleh mereka." Zia mengenggam erat tangannya menahan amarah.

"Jelaskan semuanya Paman." Zia menatap tegas kepada Leo.

"Sepertinya Nowel Edrward anak tiri dari tuan Albert lah dalang dari semuanya.

Yang mulia baginda Raja memiliki bisnis bersama tuan Albert dan surat perjanjian itu telah dirubah saat paman melihatnya kemarin." Kepala Zia sedikit mencerna apa yang dikatakan Leo secara singkat.

"Ada dua surat asli yang seharusnya ada. Dan sayangnya surat asli yang ada di yang mulia baginda Raja dipegang oleh pangeran mahkota. Dan surat asli itu hilang, Pangeran Zyan memberikan informasi itu tadi pagi." Kepala Zia terasa pusing mendengar semua ini.

"Apa sebenarnya isi surat perjanjian itu paman, karena ayah ku tidak mungkin berhutang. Kita tidak sedang dalam keadaan yang memprihatinkan, bahkan keuangan Fortania selalu lebih baik dalam tiga tahun ini bukan?"

Leo menarik nafasnya lagi. "Hamba tahu Yang Mulia Putri, hamba yakin surat perjanjian itu sudah diubah. Isi dari semestinya adalah keuntungan dibagi menjadi rata antara yang mulia Alvian dan tuan Albert. Tapi saat perdana mentri kita meminta surat perjanjian disana tertulis kalau yang mulia hanya mendapat 35% dari keuntungan dan juga harus membayar konfensasi setiap bulannya." Zia mendengarkan kelanjutan perkataan Leo dengan serius.

"Jadi maksud Paman setiap bulannya ayahku menunggak pembayaran yang seharusnya memang tidak ada pembayaran ?"

"Benar Tuan Putri"

"Berapa jumlah semua hutang ayahku paman?"

"Jika diibaratkan jumlah hutang itu adalah lebih dari separuh kita harus menjual Fortania Tuan Putri." Zia memegang kepalanya merasa pusing, bagaimana bisa ada penipu seperti ini. Pantas saja ayahnya sakit.

"Benar-benar brengsek. Lalu apa yang harus kita lakukan Paman? Jika kita tidak membayar secepatnya bukankah mereka akan membuat kita semua malu. Dan dampaknya adalah harga semua saham kita menjadi rendah bukan?" Leo mengangguk putus asa.

"Bagaimana jika kita lapor masalah ini kepada polisi?"

"Tidak Zia," suara seorang Pria dengan kemeja dan jas-nya yang sudah tidak rapi lagi membuat Zia menoleh. Ternyata Zyan yang sudah tiba dengan pengawal pribadinya.

"Kau tenang saja, kita akan mencari jalan keluarnya. Jika kita membawa masalah ini kepolisi maka kita terbukti bersalah. Aku sudah memeriksa surat perjanjian yang diberikan Nowel, dan surat itu adalah asli. Ditanda tangani ayah paman Albert dan juga kedua kuasa hukum mereka."

Zia berdiri memukul pundak Zyan. "Apa kau pikir ayah bisa melakukan perjanjian bodoh seperti itu ha !?" Zyan memegang kedua bahu Zia dan menatap mata Zia dengan memohon.

"Please jangan panik Zia, kita bisa melewati ini oke. Dan satu lagi, surat itu adalah rekayasa yang ditiru seperti asli. Aku akan mencari bukti bahwa surat itu palsu, lalu aku akan membawa masalah ini kepada pihak yang berwajib Zia." Zia yakin Zyan serius dengan perkataan nya. Tapi masalahnya adalah rencana apa yang Zyan miliki.

"Apa kau punya rencana Zyan?"

"Ntah lah, ini berhasil atau tidak. Tapi aku bermaksud memata-matai keluarga Edward."

"Yang Mulia Pangeran maaf, tapi keluarga terpandang seperti keluarga Edward pasti memiliki keamanan yang cukup ketat. Kita tidak bisa memata-matai mereka. Jika pun bisa, waktu untuk membayar hutang itu pasti sudah habis." Leo ikut menimpali ide Zyan.

"Kau benar Paman, tapi aku yakin surat aslinya masih berada bersama mereka Paman."

Leo mengangguk setuju dengan perkataan Zyan.

"Aku yang akan memata-matai mereka". Zia sangat tegas mengatakan itu semua, dan dia yakin ini ide yang sangat baik.

"Apa maksudmu ?"

"Aku bisa menggoda dan menjadi pacar Nowel untuk mengetahui semuanya. Aku hanya perlu membuatnya mabuk dan aku bisa mencari tahu segalanya." Zia tersenyum puas dengan kepintarannya.

"Kau pikir kau akan bisa semudah itu adik manis, Nowel adalah playboy dan dia terkenal suka meniduri wanita-wanita mana saja. Dan setelah kau ditiduri olehnya kau tidak akan mendapatkan apa pun. Karena dia tidak sebodoh itu Zia."

Baru saja Zia mendapatkan senyumannya. Tapi perkataan Zyan membuat dia tahu apa yang dia hadapi sekarang.

"Hanya ada satu cara Pangeran." Leo ingin memberikan idenya.

"Jika tuan putri ingin memata-matai keluarga mereka dari dekat target tuan putri adalah pewaris tunggal keluarga Edward, yaitu Reikhan Edward. Anak satu-satunya yang sah dari tuan Albert dan istrinya yang sudah meninggal."

"Tapi Reikhan sudah memiliki calon tunangan Paman." Protes Zyan.

"Tidak masalah, aku bisa membuatnya bertekuk lutut kepadaku. Kita harus begerak cepat kak, aku tidak bisa diam saja setelah melihat keadaan ayah yang seperti ini karena mereka."

Setelah perdebatan yang cukup panjang antara Zyan dan Zia. Akhirnya Zyan menyetujui rencana ini, dan Zia kembali ke london hari itu juga untuk menyelesaikan semua kontrak kerja nya dengan managernya.

Zia harus membatalkan dan membayar denda untuk semua perjanjian kerjanya. Dan saat di London dia akan merubah tampilannya. Agar orang tidak mengenali dirinya.

*******

Zia memandangi dirinya di cermin apartementnya, softlens biru. Rambut yang sudah dia potong dan cat berwarna coklat gelap juga sudah dia lakukan.

Dia terlihat berbeda sekarang dan dia harus bisa membuat targetnya lumpuh dalam waktu dekat.

Dia bergegas kembali ke fortania dengan tampilan barunya.

Manager Zia sedang sibuk memberikan berita kalau Zia sedang ingin berlibur.

Managernya itu memang paling bisa diandalkan.

Sedangkan ditempat lain, seorang pria dengan kaca matanya meneliti semua berkas yang masuk kedalam ruangannya. Reikhan pria berkaca mata yang sangat manis.

Dia terkenal pendiam dan sangat menurut dengan kemauan saudara tirinya.

Bersambung.....

❤❤❤

Bab 2

Reikhan makan siang bersama kekasihnya yang sudah setahun ini menjalin hubungan dengannya.

Sebenarnya Vanya adalah wanita yang dijodohkan ibu tirinya kepadanya. Vanya seorang designer dan dia adalah anak teman dekat dari ibu tirinya.

Reikhan tidak seperti Nowel kakaknya yang suka bergonta ganti pasangan.

Reikhan hanya memiliki dua mantan pacar, bersama Vanya sebenarnya dia tidak terlalu suka. Hanya karena Vanya adalah wanita yang mandiri dan juga baik, jadi Reikhan yang sekarang super sibuk memilih untuk menyetujui perjodohan ini. Lagi pula dia terlalu malas untuk berpacaran lagi.

"Kapan kita tunangan?"

Vanya bertanya kepada Reikhan yang terlihat sedang sibuk dengan ponselnya.

"Hm... Aku akan melihat jadwal kosongku untuk menentukan tanggalnya."

Tatapan Reikhan masih fokus kepada ponselnya, dan itu membuat Vanya kesal.

"Reikhan bisakah kau melihat ku saat kita bersama?" Vanya menaikkan nada suaranya.

"Sudah setahun dan kita hanya jalan ditempat." Vanya benar-benar muak sekarang dan dia pergi meninggalkan Reikhan yang menarik nafas lalu bergegas menyusulnya.

"Hei.. hei.. Vanya, ayolah jangan marah begitu. Kau harus mengerti aku sangat sibuk, apalagi setelah papa meninggal. Kau tahu sendiri bagaimana keadaan perusahaan sekarang."

"Jangan menjadikan semua itu alasan Reikhan. Sudah setahun tapi kau masih terus cuek terhadapku. Kau ini menyukai ku atau tidak ha?"

Vanya diam dan membuang muka nya kearah lain. Meski ini perjodohan tapi Vanya menyukai dan mencintai Reikhan. Reikhan tampan, terpelajar, dan juga nilai plusnya pria ini kaya raya girls.

"Cuek bagaimana Vanya, aku menemanimu kemana pun. Kencan, liburan, semua nya aku turuti, lalu apa nya kurang?"

"Tapi kau melakukannya hanya karena aku yang meminta. Dan pikiranmu tidak sepenuhnya denganku, kau memikirkan entah apa yang tidak ku ketahui."

Saat Vanya ingin berbicara lagi Reikhan mencium bibir Vanya sebentar.

"Pulanglah. Aku ada meeting. Kita akan bertemu besok pagi, aku akan menjemputmu besok."

Reikhan berjalan dari cafe itu menuju kantornya yang dekat dengan cafe tempat mereka bertemu tadi. Sedangkan Vanya hanya diam setelah Reikhan mencium nya, Reikhan selalu seperti ini jika dia sudah mengeluh. Tapi Vanya menyukai setiap kecupan yang diberikan Reikhan. Ya... Reikhan hanya mencium sebentar bibirnya tidak lebih dari semenit. Begitu sopan bukan.

Saat dijalan Reikhan menabrak seorang wanita dengan pakaian yang pasti membuat mata lelaki melihat kearahnya. Wanita itu marah karena blouse putih yang dia kenakan terkena tumpahan kopi yang dibawa wanita itu sendiri.

Saat wanita itu mengoceh Reikhan tidak terlalu mendengarkan. Dia hanya melihati wanita itu dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya. Wajah manis dan mata yang menggoda, dan harum wanita ini benar-benar menggodanya.

Satu kalimat yang dapat didengar Reikhan, yaitu dia sudah membuat wanita ini terlambat interview.

Dia berpikir apakah ada interview dengan rok minim dan blouse tipis seperti ini.

Sesuatu dibawah sana mengeras saat tidak sengaja Reikhan melihat bentuk payudara wanita ini.

Dia membantu wanita yang masih mengoceh kepadanya ini untuk berdiri, lalu dia teringat dengan meeting yang akan dia hadiri.

Dia pergi begitu saja setelah minta maaf, tapi senyuman muncul dibibirnya. Wangi wanita itu seperti menempel dihidungnya, dan itu membuatnya tidak berkonsentrasi sepanjang jalan ke kantor hingga meeting, bahkan dia tersenyum sendiri jika mengingat wajah wanita itu mengomel lagi.

*********

Zyan masih menertawakan Zia yang kesal dan mengoceh mengumpati Reikhan Edward.

"Kau diam, atau keluar dari apartement ku kak." Zia menunjuk Zyan dengan garpu dimeja makan.

"Oke.. oke..." Zyan berusaha menahan tawanya.

"kau mengerti bukan kalau Reikhan tidak mudah ditaklukan."

"Lebih baik kau cari info apa yang dikerjakan dan kemana si mata petak itu akan pergi." sungut Zia. Zyan tertawa lagi mendengar panggilan Zia untuk Reikhan.

Lalu dengan cepat orang suruhannya yang memata-matai Reikhan dari jauh mendapatkan informasi.

"Baiklah adik manis, kau harus bersiap-siap ke Diamond's hotel malam ini. Reikhan akan menghadiri pesta ulang tahun temannya malam ini. Dan kau apa bisa kesana?"

Zia berpikir sebentar dan dia tahu acara pesta yang dimaksud Zyan.

"Ah aku ingat, Angelika ingin meminta ku menemaninya ke pesta temannya malam ini. Mudah saja, aku akan beraksi malam ini, dan tidak akan gagal."

Zia memakai dress hitam pendek tanpa lengannya. Dress itu membentuk tubuhnya yang ramping, dan dia melapisinya dengan jaket kulit. Sedikit payudaranya dapat terlihat, dan itu sengaja dia lakukan. Rambutnya dia gerai. Angelika sudah menjemputnya dan dia pergi setelah berpamitan dengan Zyan. Zyan akan memantau Zia dari kejauhan, misi mereka kali ini harus berhasil. Semakin cepat Reikhan Edward takluk akan semakin bagus.

Angelika terkejut melihat penampilan Zia.

"Kau benar Zia bukan?"

Zia hanya tertawa dan menyuruh Angelika mengemudi dengan diam.

Setelah Zia menceritakan semuanya barulah Angelika mengerti dan dia berjanji akan membantu penyamaran Zia.

Mereka sampai dipesta, lalu Angelika masuk kedalam bersama Zia.

Tapi mereka berpisah saat didalam tempat diadakannya pesta. Seseorang bisa curiga jika melihat mereka bersama, karena sudah banyak orang tahu kalau Zia dan Angelika itu adalah sahabat dekat.

Pesta ditaman resort hotel ini sangat mewah, suasana dinginnya pantai membuat banyak orang meneguk minuman mereka.

Zia duduk sendirian didekat bar yang ada dipantai, dia melihat Reikhan sedang berjalan bersama dua orang temannya. Dan dia segera berjalan kearah Reikhan, dia berpura-pura melambaikan tangannya entah pada siapa dan dia berbalik badan, lalu dia menabrak tubuh Reikhan dan wine yang dia pegang mengenai tubuhnya dan juga Reikhan.

"Oh... Betapa sialnya aku hari ini. Sorry... Sorry..." Zia berpura-pura terkejut saat melihat wajah didepannya.

"Kamu... Oh... Sangat menyebalkan."

Zia berusaha membersihkan tubuhnya dan Reikhan juga sama.

"Apa kau sering melakukan hal ini nona?" Zia memasang wajah jutek nya berpura-pura tidak dengar.

"Apa kau mengenal wanita cantik ini Rei?" Adam teman dekat Reikhan bertanya sambil. Memandangi Zia.

"Tidak, tapi sepertinya kami selalu bertemu dengan keadaan seperti ini."

Reikhan tersenyum dan Zia berniat pergi dan berharap Reikhan akan mengejarnya dan juga meminta berkenalan dengannya. Tapi Reikhan masih sama tidak mengajaknya berkenalan, dalam hati Zia dia sangat murka. Zia mengirimkan pesan kepada Zyan untuk menjemputnya. Dan mengatakan kalau dia belum berhasil.

Dari jauh Reikhan melihat Zia yang cemberut sambil membersihkan tangan dan juga dressnya. Ntah kenapa Zia membuatnya selalu tersenyum, tapi dia kembali mengobrol dengan kedua temannya Adam dan juga Evan. Kedua teman baiknya, saat dia kembali melihat kearah dimana Zia berada tadi Zia sudah tidak ada ditempatnya. Dia melihat kesana kemari tapi sosok Zia tidak terlihat.

Dentuman musik DJ membuat suasana pesta semakin meriah tapi Reikhan hanya biasa saja, dia tidak mengajak Vanya kesini karena dia butuh waktu bersama teman-temannya.

"Kau mencari wanita yang menabrakmu tadi bukan?" Pertanyaan Evan membuat Reikhan tertawa.

"Dia sangat menggiurkan Rei, kenapa kau tidak mengajaknya berkenalan dan berkencan malam ini dengannya. Kau tidak membawa Vanya juga bukan".

Reikhan tertawa dan meminum anggurnya Mendengar ocehan Evan.

"Kenapa kau tidak membawa Vanya kesini, setidaknya kami tidak harus menemanimu Rei." Adam terlihat tidak sabaran menggoda para wanita yang ada dipesta ini.

"Aku butuh waktu bersama kalian, jadi kupikir untuk apa membawa Vanya. Jika ada Vanya aku tidak akan bisa mengikat kalian disini bersamaku."

"Sasar sial kau Rei." Umpat Evan dan Adam membuat Reikhan tertawa.

Sementara Zia dengan kesal masuk kedalam mobil yang dikemudikan Zyan. "kau harus memikirkan cara lain untuk menarik perhatiannya Zia."

"Aku tahu, malam ini aku akan memikirkannya." Zia benar-benar kesal dibuat Reikhan, dia harus membuat pria itu bertekuk lutut secepatnya dengannya. Dan dia harus memikirkan caranya malam ini juga.

Bersambung....

❤❤❤❤

Bab 3

Zia sudah mendapatkan info dari orang suruhan Zyan kalau perusahaan yang ditangani oleh Reikhan sedang membutuhkan sekertaris untuk Reikhan, dan dia akan melamar kerja disana.

Zia dengan begitu yakin kalau dia akan diterima bekerja diperusahaan minyak itu. Zia mengikuti interview pagi ini dengan blouse pink muda dan rok hitam yang lebih sopan, meski masih diatas lutut nya. Hels hitam menjadi pilihannya.

Setelah rapi dia melihat ponselnya dan mengetikkan sesuatu.

Aku akan berangkat ke lokasi sekarang, aku titip salam rindu untuk ibunda dan ayah.

Zyan pagi ini akan kembali ke Fortania, dia berpesan kepada Zia agar tidak terburu-buru.

Dan zia mengerti hal itu, Zyan takut kalau Nowel akan tahu penyamarannya.

Dan semuanya akan gagal total.

Zia mengendarai mobilnya menuju ke perusahaan Reikhan.

Kebetulan perusahaan itu tidak jauh dari lokasi apartementnya, dia memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari perusahaan. Pengawalnya datang untuk mengambil mobil dan pergi.

Zia berjalan kaki sedikit dan dia sekarang berada didalam loby perusahaan. Seorang karyawan mengantarkannya ke ruangan HRD, beberapa karyawan melihat Zia dengan penasaran ada juga yang terang-terangan mempelototinya.

Zia mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan HRD itu dan dipersilahkan untuk duduk. Pak boby memang sangat ramah kepadanya, terlihat dengan senyuman yang diberikan pria yang usianya mungkin sudah 43 tahun itu.

Setelah semua sesi interview dijawab oleh Zia dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya, akhirnya dia selesai juga dengan interview membosankan ini pikirnya. Pak boby hanya menanyainya hal-hal yang tidak penting. Salah satunya adalah apakah Zia punya pacar atau tidak.

Saat Zia ingin keluar dari kantor yang sangat besar itu, Reikhan melihatnya dari kejauhan.

Sebuah pesan masuk dari nomer Faulo pengawal Zia yang sedang memata-matai Reikhan dari jauh.

Target melihat anda putri

Zia tersenyum tapi mempercepat langkahnya. Kali ini dia akan membuat Reikhan penasaran dengannya.

Reikhan melihati Zia yang terus berjalan lalu menyetop taksi didepan jalanan kantor.

Vanya yang ada disebelahnya bertanya ada apa, tapi Reikhan tidak menjawab dan membawa Vanya masuk kedalam mobilnya yang sudah ada didepan kantor.

"pulanglah, supirku akan mengantarkanmu."

Vanya hanya diam menyetujui, toh dia tidak ada artinya meski seharian berada diruang kerja Reikhan. Reikhan akan tetap fokus pada laptop dan berkas-berkas nya.

*****

Zia terbangun karena suara alaram yang begitu nyaring membuatnya tidak bisa terus tidur.

Seperti biasa Zia akan mengecek ponselnya terlebih dahulu melihat jadwal pemotretan ataupun acara yang akan dia datangi setiap harinya dari managernya.

Dia menepuk jidatnya lupa kalau dia sudah meminta libur sementara kepada managernya dan juga agency yang menaunginya. Zia mengatakan akan merawat ayahnya yang sedang sakit di Fortania.

Dia masuk kedalam kamar mandi dengan malas-malasan, ponselnya bergetar dan tidak ada nama yang tertera.

Siapa yang menelponnya di jam 8 pagi begini pikirnya.

"hallo...."

Hallo miss Arrabella, saya HRD di perusahaan Edward's corp ingin meminta anda bergabung bersama perusahaan kami. Apakah anda setuju?

Zia langsung loncat-loncat kegirangan dan dia sangat bahagia.

"Saya setuju sir, jadi kapan saya bisa mulai bekerja?"

Hari ini juga jika kamu bisa kamu bisa langsung bekerja. Kebetulan besok Mr. Reikhan akan keluar negri dan jika kamu sudah bisa kamu bisa ikut dengannya besok.

Zia senang bukan main, dia loncat ketempat tidurnya dengan kuat.

"Baiklah sir, saya akan datang kekantor pagi ini juga. Thank you sir..."

Zia buru-buru masuk kekamar mandi dan mandi dengan secepat kilat.

Rambutnya dia sanggul rapi make up tipis lipstik pink dan kemeja kerja berwarna putih gading tak lupa rok hitam dan hels hitam.

Dia memakai taksi setelah memberikan info kepada Faulo kalau misi awal mereka berhasil dan dia segera menyuruh Faulo menyiapkan apartement lebih kecil untuknya. Sebagai persiapan jika nanti dia sudah dekat dengan Reikhan, tidak mungkin dia memberi tahu apartement aslinya.

Tidak ada orang normal biasa yang tinggal di apartement mewah seperti miliknya. Bukan dia sombong hanya memang itu kenyataan didunia ini.

Dia sampai sepuluh menit dari apartementnya dan langsung menaiki lift menuju ruang Pak bobby.

"Oh, Arabella kau sudah tiba dikantor hanya dengan setengah jam setelah aku menelponmu, benar-benar pekerja yang baik."

Zia tersenyum ceria dan pak Bobby mendekatinya.

"Aku akan memperkenalkanmu dengan bos besar kita, ingat satu hal Ara. Mr. Reikhan adalah pewaris kerajaan minyak yang terbesar di Erofa dan dia sangat tidak suka kesalahan apa pun yang sekertarisnya lakukan."

Zia mengangguk mengerti dan dia sangat bersemangat kali ini. Dia harus bisa membuat Reikhan Edward penasaran dengannya.

Pak Bobby membawanya masuk kedalam lift dan dia menekan tombol dua puluh lima, lantai teratas perusahaan ini.

Zia masih terus tersenyum dan tidak sengaja mereka berpapasan dengan wanita cantik berambut pirang yang melihatnya juga.

Pak Bobby menyuruhnya menunduk dan di mengikuti kode dari pak Bobby.

"Dia adalah calon tunangan Mr. Reikhan, namanya miss Vanya Thomsons. Keluarga mereka adalah teman baik nyonya Elia."

Zia hanya mengangguk mengerti lagi, tapi dalam hatinya dia menilai wanita yang akan dia saingi untuk mendapatkan tujuannya.

Dari sekali lihat Zia bisa melihat wanita tadi adalah wanita yang perfeksionis dan juga tidak liar seperti dirinya.

Ah, dia bukan liar dia hanya suka bersenang-senang. batin Zia membela dirinya sendiri.

Pintu ruang kerja Reikhan dibuka oleh pak Bobby.

"Selamat pagi sir, saya sudah mendapatkan sekertaris baru untuk anda."

Reikhan yang awalnya melihat serius ke laptopnya melihat kearah dua orang didepannya dan dia terkejut melihat Zia ada disana. Zia juga berpura-pura terkejut dan merasa gugup, padahal dia ingin tertawa saat ini melihat wajah tampan dengan kaca mata itu.

"Terima kasih Bobby, aku akan memberitahumu penilaianku nanti."

Pak bobby keluar dari ruangan itu dan Zia benar-benar gugup sekarang. Tatapan mata Reikhan tak lepas dari wajahnya.

"So, siapa namamu miss?"

"Nama saya Arabella sir."

"Hanya Arabella, nama keluargamu?"

"Tidak ada sir, saya hidup seorang diri sudah sangat lama." Dalam hati Zia meminta maaf karena sudah berbohong.

"Oke sorry, jadi kau sudah tahu tugas-tugasmu diperusahaan ini?"

Zia mengangguk dan Reikhan masih melihat wajah Zia sambil duduk di kursi kerjanya.

"Good, kita langsung saja. Aku ada pekerjaan untukmu dan dalam waktu 20 menit kau harus sudah selesai mengerjakannya. Jika sudah selesai kau bisa masuk kembali kesini."

"Ya sir." Saat Zia ingin berbalik Reikhan membuatnya berhenti melangkah.

"Miss. Ara, aku sudah melupakan kejadian yang kemarin dan kuharap kau juga begitu. Jadi kau bisa dengan tenang bekerja."

Zia pergi dari ruang kerja Reikhan dan duduk dimeja depan dekat dengan pintu masuk keruangan Reikhan.

Dia menyalakan komputer serta sedikit membersihkan debu di area tempat dirinya bekerja.

Setelah selesai dia membuka map dan betapa terkejutnya dia melihat jadwal padat Reikhan. Bagaimana bisa ini terjadi, sepertinya kakaknya Zyan tidak serepot ini untuk mengurus perusahaan.

Karena otak cerdas miliknya dalam waktu lima belas menit Zia sudah mengerjakan tugas yang diberikan Reikhan dan dia sudah memeriksanya.

Dia berjalan masuk kedalam ruangan Reikhan setelah sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu.

"Sir. Ini tugas yang anda berikan. Jadwal anda di Los Angeles besok juga sudah saya atur. Hanya tinggal konfirmasi dari anda untuk menghubungi kolega anda disana sir."

Reikhan melihat jam dan dia tahu zia mengerjakannya dengan cepat.

"Bawakan kesini. Aku ingin mengeceknya terlebih dahulu."

Zia memutari meja kerja Reikhan dan meletakkan jadwal kegiatan dan kunjungan Reikhan bulan ini. Lalu dia berdiri disebelah Reikhan yang duduk memeriksa hasil kerjanya.

"Ini bagus, Reikhan menandatangani kegiatan yang sudah disusun Zia. Lalu memberikan map itu kepada Zia sambil tersenyum."

Zia lega dan ingin kembali ketempat kerjanya untuk menghubungi kolega bisnis Reikhan, untuk mengatur jam pertemuan mereka besok dengan Reikhan. Tapi Reikhan mengagetkannya.

"ARA."

Zia hampir terjatuh karena panggilan dadakan dari Reikhan. Tubuhnya ditahan oleh Reikhan dan rambutnya terurai mengeluarkan aroma yang disukai Reikhan.

Reikhan menatap setiap inci wajah Zia begitupun dengan Zia.

Jantung Zia berdetak tidak karuan saat berdekatan dengan Reikhan seperti ini.

Suara dua orang pria membuat Reikhan dan Zia berdiri dengan benar dan menjadi salah tingkah.

"Oh Rei, maaf kami mengganggu mu. Hahahhaaha". Evan yang bersuara dan adam tertawa.

"Permisi sir." Zia ingin pergi tapi Reikhan membuatnya lagi-lagi berhenti.

"Ehm Ara, besok kamu harus ikut saya ke Los Angeles. Siapkan semua berkas yang saya butuhkan."

"Ya sir."

Adam dan Evan menepuk pundak Reikhan dan tertawa. "Rei, bukankah itu si seksi yang kita lihat di pesta waktu itu."

Adam memperhatikan wajah Zia yang tak asing.

"Ya, dia melamar disini dan posisinya sekertarisku."

Evan bertepuk tangan dan duduk begitu saja di sofa yang ada diruang kerja Reikhan.

"Sepertinya kalian berjodoh Rei, kalian terus saja bertemu. Dan sekarang dia sekertarismu. Aku dapat melihat kau menyukainya."

Evan masih mengoceh dan Reikhan hanya mendengarkannya saja.

Dua jam mereka mengobrol ini dan itu lalu kedua sahabat Reikhan pergi dari kantor setelah menyapa Zia dimejanya dengan ramah.

Reikhan berteriak memanggil Zia dan Zia langsung masuk kedalam ruang kerja Reikhan. Padahal ini jam istirahat pikir Zia.

"Ya sir."

"Bisa kau bantu aku mengerjakan ini,"

Zia memutari meja kerja Reikhan dan melihat proposal di layar laptop. Saat Zia bertanya kepada Reikhan, Reikhan tidak mendengarkan melainkan menatap wajah Zia dari samping. Zia tahu hal itu, tapi dia membiarkannya karena itulah tujuannya.

Pintu terbuka dan Vanya melihat pemandangan itu.

"Reikhan,"panggil Vanya yang masuk tiba-tiba ke ruang kerjanya. Vanya tidak bersalah karena pintu ruangan Reikhan tidak tertutup jadi dia bisa melihat dan masuk begitu saja.

"Ada apa?" Reikhan masih melihat wajah Zia sambil bertanya.

Zia menggeleng dan menunjuk Vanya.

"Bukan saya sir, tapi "

Reikhan menoleh kearah telunjuk Zia dan melihat wajah marah dari Vanya.

"Kau bisa keluar dari sini." Perintah Reikhan kepada Zia.

"Tidak, aku ingin kau menjelaskan siapa wanita ini. Apa dia simpananmu?"

Zia ingin menyiram wajah Vanya saat itu juga.

"Jaga ucapanmu Vanya, dia sekertarisku."

"Ah Sekertaris. Pantas saja,"

Reikhan bangkit dari duduknya dan menarik Zia untuk keluar ruangannya. Tapi Zia berhenti saat didepan Vanya.

"Maaf nona, saya memang hanya sekertaris. Tapi saya tidak berniat menjadi simpanan bapak Reikhan. Apalagi menggoda nya. Permisi."

Vanya hanya diam mendengar jawaban itu, dia memang melihat Reikhan lah yang tidak berkedip menatap Zia saat sekertarisnya itu berbicara.

Vanya merasa khawatir sekarang. Pasalnya sekertaris baru Reikhan itu begitu cantik dan Vanya tidak suka itu.

Vanya ingin mempercepat tanggal pertunangan mereka agar Reikhan secepatnya bisa menikahinya.

Bersambung...

❤❤❤

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED