Suhana masih menggenggam erat tangan Rania, bahu gadis itu bergetar menahan tangis, memang suara tangisnya tidak terdengar, dia mati-matian menahannya, tapi air mata tidak mampu lagi untuk disembunyikan, kecewa jangan ditanya, sakit jangan lagi dikira, pertikaian orang-orang itu membuat tulang-tulang Rania seakan lembek tanpa tenaga. 'Sampai hati kamu Abang, sampai hati.' rintih hatinya.
“Nia, sabar.” ucapan lirih dari Suhana membuat Rania semakin pilu, dia tidak punya siapa-siapa lagi untuk mengadu kecuali Suhana.
“Hana, bawa aku pergi dari sini.” Rania memohon pada Suhana.
“Tidak Nia, Abang Harris harus tahu kamu ada dekat sini, takkan kamu tak mau bicara dengan dia? lebih baik minta penjelasan dengan dia langsung. Biar semua jelas dan clear.”
“Dia nggak perlu tahu sekarang, aku tak ingin ketemu dia saat ini, sakit Hana, sakit.” Rania memukul dadanya berulang kali untuk meredakan sakit hatinya, air mata yang gugur bak air hujan derasnya, menunjukkan kalau hatinya benar-benar hancur saat ini. Suaminya kena tangkap khalwat dengan wanita lain. Baru tadi pagi dia menghubunginya mengatakan rindu padanya, mengucapkan kata cintanya untuk sang istri, betapa ironis hidup gadis itu.
Suhana mengelus bahu Rania, lalu menarik lengannya, travel bag yang dibawa memang berukuran kecil jadi tidak terlalu berat.
“Ayo, ikut aku. Kamu perlu tenangkan diri.” Rania hanya mengangguk, mengikuti langkah Suhana menuju ke mobil gadis itu.
“Kamu tinggal dengan saya, tenangkan diri dulu. Besok baru kita pikir apa yang patut kamu buat. Bersabar, saya yakin kamu bisa lalui ini.” sekali lagi Rania hanya mengangguk, seperti ada yang hilang dari dirinya, semangat untuk hidup. Suara-suara tadi kembali terngiang, tangannya dikepal dengan kuat, benci dengan Harris benci dengan kebohongannya.
Tiga puluh menit berlalu, mobil Suhana masuk di kawasan parkir sebuah restoran, dia menekan break dan menoleh pada Rania. Air mata gadis itu membuatnya tersentuh. Tidak pernah menyangka kalau sepupunya bisa menyakiti istrinya sedemikian rupa.
“Kamu mau makan apa-apa, tak? Cakaplah, biar aku beli.”
Rania menggeleng pelan, selera makannya sudah hilang sejak tiba di rumah mewah mertuanya tadi.
“Nia, duduk dekat sini sebentar ya, aku mau beli makanan, di rumah tidak masak. Takut lapar saat malam.”
Suhana meninggalkan Rania di dalam mobil, dia tahu Rania belum makan seharian ini, Rania lalu mencari ponselnya di dalam tas, dan segera set mode silent.
Kenangan pertama kali bertemu dengan Harris kembali berlayar di ingatan. Manisnya saat mereka mulai saling jatuh cinta membuat Rania dikelilingi kebahagiaan, Harris begitu baik padanya dulu, selalu ada saat dia butuh, selalu menjadi dewa penolong ketika gadis itu sedang dalam kesulitan, suaminya selalu mendukung ketika keluarga mertuanya memojokkan tentang keturunan. Rania tidak tahu kenapa sudah tiga tahun menikah belum juga ada keturunan, padahal dia dan Harris aktif dalam hubungan suami-isteri, bahkan dulu hampir tiap hari, mungkin rizeki belum miliknya, dan dia selalu berfikiran positif pada takdirnya.
Harris dan Rania sudah ke dokter untuk melakukan berbagai macam pemeriksaan kesehatan, hasilnya bagus. Kata dokter mereka cuma butuh kesabaran saja.
Pintu mobil kembali terbuka, Suhana masuk dengan beberapa bungkus makanan membuyarkan lamunan gadis itu.
“Sorry, agak lama. Pelanggan di sana agak padat tadi.”
“Nggak apa, Hana.” Rania tersenyum pada Suhana.
Gadis berjilbab krem itu meletakkan barang-barang bawaannya di jok belakang, dan kembali membawa mobil keluar dari parkiran. Pikiran Rania masih dipenuhi dengan tanda tanya besar, apa benar yang didengar tadi, Harris ada hubungan dengan bekas tunangannya, Safina.
Rania ingat, beberapa kali dia bertemu dengan Safina, nama itu dulu pernah meniti di bibir ibu mertuanya, tapi dulu Datin Maria tidak suka dengan Safina karena dia meninggalkan Harris, saat mereka ada rencana mau menikah. Harris juga sempat terpuruk karena itu. Sempat membawa luka hati ke tempat yang jauh.
Pertama bertemu dengan Safina, dia sudah tidak menyukai Rania, dari cara dia memandangnya seperti Rania tidak layak untuk Harris, dia sudah pernah bertanya dengan Harris tentang siapa Safina, jawabnya juga bisa sedikit menenangkan hatinya. Tapi kenapa kini kenyataan pahit yang harus ditelan. Apa Harris memang belum bisa move on dari dia. Ya Allah, ujian apa ini? Rania teringat nasehat papanya kemarin malam. Seolah Pak Heru bisa merasakan apa yang akan terjadi padanya. Sebutir air mata yang mau jatuh dikesat dengan lengan baju. Dia melayangkan pandangan kedepan menikmati pemandangan kota Kuala Lumpur di malam hari.
“Kita sudah sampai.” mobil berhenti di depan rumah yang berukuran lumayan besar, bagus juga lingkungannya, hanya dua tingkat dan menghadap area taman, ini cocok banget untuk membesarkan anak-anak, malam makin sepi, sudah hampir tengah malam, Rania merasa sangat capek saat ini. Setelah mobil berhenti di tempat parkir, mereka keluar dan Suhana mengajak untuk masuk kedalam rumah.
“Ini kamarmu Nia, jangan segan tahu, anggap aje ini rumah sendiri. Meskipun tidak semewah di Jakarta.”
“Kamu tinggal sendiri ya, rumahnya masih bersih banget. Tidak perlu mewah Hana, yang penting nyaman.”
“Tahun lalu papa hadiahkan rumah ini buatku, bertepatan hari pembukaan usaha kedai bunga milikku, dan tahun kemarin juga aku mulai tinggal di sini, balik ke Sabah beberapa bulan sekali saja.” Suhana menarik travel bag Rania masuk ke dalam sebuah kamar yang rapi tata ruangnya.
“Sorry kalau agak berantakan, aku belum ada asisten rumah tangga, hanya bayar orang untuk kemas dua minggu sekali.”
“Ini sudah cukup kok, terima kasih.” Suhana mengangguk dan menepuk bahu Rania.
“Cari aku kalau kamu butuh teman cerita, aku ada.” ketulusan di balik ucapan Suhana meruntuhkan tembok pertahanan Rania, dia menangis lagi akhirnya, Suhana menarik Rania dalam dekapannya, menepuk pelan punggung gadis itu.
“Aku tidak tahu apa yang membuat suamiku melakukan itu Hana, ini terlalu mendadak, apa karena kami belum punya keturunan, atau karena Harris masih cinta sama dia, aku merasa gagal sebagai istri, aku tidak berguna.”
Suhana menggosok bahu Rania perlahan berusaha menenangkannya.
“Sssstttt, tidak benar itu, bukan kamu yang gagal dalam hal ini Nia, yang gagal itu Abang Harris, dia gagal menjaga hati istrinya, dia gagal menolak godaan Safina, sabar dan yakinlah kalau ini ujian yang bisa kamu lalui.”
Rania melepaskan pelukan dia membuka jilbab yang dipakainya, Suhana membuka lemari dan mengambil handuk, lalu memberikannya pada Rania.
“Bersihkan diri, ada shower air panas, kalau mau makan ke dapur ya, aku juga mau bersihkan badan.”
“Sepertinya aku tidak lapar,”
“Ya sudah, kalau gitu makanannya aku simpan di kulkas saja.”
Ponsel Rania bergetar, ada panggilan wa*ttsap masuk dari suaminya. Rania membiarkannya tidak mau menjawab, dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, lelahnya agak berkurang setelah dia membersihkan diri, dia memejamkan matanya, tidak mau bicara dengan Harris meskipun hanya lewat panggilan telepon. Dia butuh ketenangan juga ruang untuk sendiri.
Harris tidak akan menyangka kalau Rania sudah mendengar semuanya.
*****
“Tadi malam itu saya seperti melihat Rania disini Mak,” Art yang bernama Tuti itu memberitahu Mak Bedah yang sedang sibuk membuat cucur udang. Tuti tidak tahu ada Harris yang sedang mengambil air di dalam kulkas, Harris langsung menoleh pada Tuti.
“Kak Tuti salah lihat kali. Istri saya ada di Jakarta sekarang.” Ucapan Harris itu seolah menenangkan hatinya sendiri, bagaiman jika yang dikatakan Tuti itu benar.
“Iya Tuan Is, saya ndak mungkin salah lihat. Wong dia datang dengan Non Suhana.”
Harris segera meninggalkan dapur dan kembali naik ke kamarnya, ‘Matilah aku kalau yang dikatakan Tuti itu benar.’
Sekali lagi Harris menghubungi nomor istrinya, tersambung tapi tidak diangkat, sudah lebih dari 30 kali tapi tidak dijawab. Harris nekad menghubungi sepupunya Zaidan, dia yakin Zaidan tahu sesuatu.
(Assalamu'alaikum, pengantin baru stok lama, sudah jumpa bini tercinta kan?)
Keringat dingin tiba-tiba keluar dari tubuh Harris.
“Maksud nya apa Zai?”
(Rania menyusul Abang kemarin, buat-buat bodoh pula)
“What? Jadi benar Rania datang tadi malam,”
Harris jatuh terduduk di atas tempat tidur.
‘Maafkan Abang sayang, maafkan abang. Abang kalah dengan nafsu.’
Harris menghubungi Suhana, dia yakin Rania sedang marah padanya sekarang, dan dia juga yakin Suhana tahu tentang keberadaan istrinya di mana.
Setelah beberapa kali deringan, panggilan diangkat.
(Assalamu'alaikum, iya Abang, ada apa?)
“Waalikumussalam, Rania mana, istri aku mana?”
(Wait Abang, itukan istri Abang, kenapa tanya pada Su?)
“Jangan berpura-pura tidak tahulah Su, malam tadi Su ada bawa Nia ke sini kan?”
(Kata siapa Abang?)
“Abang tak butuh bantahan, yang Abang ingin jawaban, di mana Rania sekarang!” Suhana tertawa kecil.
(Mana Su tahu? Nia 'kan istri Abang, call ponsel dia, ada nomor dia kan? Atau Abang yang terlalu asik enjoy dengan itu betina sampai Abang Is lupa bini sendiri dimana!) Suara Suhana semakin meninggi.
“Jangan kurang ajar dengan Abang Su, ini last warning! Di-ma-na-is-te-ri-Abang?”
Tut Tut Tut...
Panggilan diakhiri, Harris melempar ponselnya di atas kasur, dia kusut saat ini, telepon istrinya tidak bisa dihubungi dan sepupunya tidak mau berterus terang padanya. Akhirnya Harris bersiap untuk kerumah Suhana. Pria itu turun dan mencari ibunya di dapur, tapi Datin Maria tidak ada di sana. Harris ke taman belakang, sore hari begini pasti ibunya ada di taman bunga Orchid kesayangannya.
“Is mau kemana terburu-buru begitu?”
“Is mau ke luar sebentar Ma, ada urusan.”
“Hei, urusan pernikahan Is dan Fina bagaimana? Kenapa belum buat persiapan sama sekali, 3 hari lagi Is, singkat sangat tuh waktunya.”
Harris memejamkan mata seketika, pikirannya semakin kalut. Dia memegang kepalanya. Pusing.
“Ma, kita bicara tentang itu nanti, biar Is selesaikan urusan Is dulu.”
“Okay, take care. Dan ingat! Jangan kecewakan Mama.”
“Is akan coba ma,” Harris mencium tangan Datin Maria lalu menuju pintu utama.
Datin Maria mengerutkan dahi, ada urusan apa sebenarnya, kelihatan masalahnya sangat besar. Putra sulungnya itu kelihatan kusut dan banyak pikiran. Datin Maria kembali fokus pada bunga-bunga kesayangannya. Tangannya kembali memotong daun-daun yang mulai menguning.
****
Di rumah Suhana
Harris sedang berdiri di ruang tamu, tegang seolah sedang menunggu panggilan dari hakim mahkamah. Ponselnya dari tadi berdering, Safina terus menelpon sejak dia keluar rumah tadi, tapi karena pikirannya kusut dia tidak mau menjawab panggilan itu.
Masalahnya dengan sang istri harus diselesaikan dulu.
“Assalamualaikum.” Rania meraih tangan Harris dan menciumnya seperti selalu. Hatinya sakit membayangkan tangan itu sudah menyentuh wanita lain.
“Waalaikumussalam Sayang, Sayang kemana saja, Abang call kenapa tidak diangkat, chat juga tidak dibalas?” Harris membawa Rania dalam dekapan hangatnya.
“Nia ada Abang, Nia ada bahkan bisa mendengar pertikaian besar keluarga di rumah orang tua Abang tadi malam.” Rania meleraikan pelukan, wajahnya memerah, ada kesedihan di sana.
Rania mencoba menyembunyikan air matanya. Dia mempersilakan suaminya untuk duduk. Setelah Harris duduk, ia pergi ke dapur mengambil air untuk suaminya. Dan kembali dalam beberapa menit sambil membawa air dan biskuit. Rania duduk di depan Harris dan menatap suaminya yang kini juga menatapnya lekat.
“Kenapa datang tak kasih tahu Abang? Sayang sehat?”
“Niat Nia mau kasih Abang surprise, tapi siapa sangka Nia yang dapat surprise sebesar ini.”
Rania menyindir dengan tersenyum pahit.
Harris tidak mampu menatap mata istrinya. Ada lautan kekecewaan di sana.
“Kita pulang ke rumah mama setelah ini.”
“Tidak, sebelum Nia dapat penjelasan dari bibir Abang.”
“Nanti Abang akan jelaskan di sana.”
“Nia mau penjelasan itu sekarang Abang, give me explanation Abang.”
“Maafkan Abang, Abang khilaf.”
Rania berdiri lalu berbalik dan membelakangi suaminya, airmata yang mengalir diusap dengan jarinya, dia tidak siap mendengar cerita yang akan menghancurkan kepercayaannya pada sang suami, tapi dia ingin kejujuran Harris padanya.
Harris mendekati Rania, dia berlutut di belakangnya. Tubuh istrinya itu bergetar menahan tangis, menahan luka hatinya yang sangat perih saat ini. Kepercayaannya sudah dinodai, pernikahannya sudah dicemari.
“Abang khilaf, Abang terlena dengan rayuan Safina, maafkan Abang, Sayang.” Harris merayu, suaranya terdengar lirih dan penuh sesal.
“Jadi benar Abang tidur dengan dia? Abang lupa dengan janji Abang pada Nia dulu, sampai hati Abang, sampai hati Abang menodai kepercayaan Nia sama Abang, kenapa Abang, kenapa?” akhirnya tangis Rania pecah juga, jantungnya seolah diperas, sakit. Hatinya seperti dicincang halus, hancur menjadi potongan-potongan kecil. Cinta dan kesetiaannya disia-siakan oleh sang suami.
“Maafkan Abang, tolong maafkan Abang,”
“Sekarang Abang pilih, Pernikahan kita atau dia.” Rania berkata masih belum menoleh pada suaminya, dia membiarkan Harris tetap berlutut di belakangnya, tangannya yang tadi ada dalam genggaman sang suami ditarik paksa. Mengepal kencang dan dilipat di depan dada. Tidak Sudi disentuh.
“Tolong mengerti Abang, jangan beri Abang pilihan sulit,”
“Maksud Abang apa?”
“Abang harus menikahinya, atau Abang di coret dari daftar keluarga.” seperti batu besar yang menindih dadanya, napas Rania sesak. Udara di dalam ruangan itu seperti tidak cukup untuk bernapas. Airmata semakin deras mengalir, sebenarnya kakinya lemah setelah mendengar ucapan suaminya tadi, kesalahan sebesar itu dibilang khilaf. Hatinya sakit!
‘Semudah itu kau minta maaf, setelah kesalahan sebesar itu Abang, sampai hati.’
“Semua sudah jelas sekarang, Abang boleh pergi. Biarkan Nia tenang di sini.”
“Tidak, Nia harus ikut Abang pulang, Nia istri Abang, tempat Nia di sisi suami,”
“Abang ditunggu semua orang di rumah sekarang, mereka menunggu keputusan dari Abang.” suara Rania begitu lemah. Dia tidak berdaya, dia tidak sanggup melihat suaminya harus berada dalam pilihan yang sulit, keluarga mertuanya sangat membencinya. Dan dia sadar kebencian itu semakin parah setelah usia pernikahannya masuk di tahun ketiga.
“Abang cinta Nia, Abang tidak akan tinggalkan Nia, meskipun harus menikahi Safina.”
“Bohong, itu bukan cinta, itu egois namanya.”
“Tidak! Abang tidak bohong Sayang, Abang cinta Nia sampai kapanpun. Nia akan tetap jadi istri Abang.”
“Nia tidak mau dengar apapun lagi saat ini, biarkan Nia sendiri.”
Rania meninggalkan Harris yang masih berlutut di atas lantai, dia melangkah tanpa menoleh dan masuk kedalam kamar. Tangisannya kembali pecah di sana.
“Kenapa Abang, kenapa buat Nia seperti ini.” rintihan Rania begitu memilukan hati.
Rania terus menangis di dalam kamar tamu rumah Suhana, sementara di luar kamar, Harris masih berlutut dan mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Bohong jika hatinya tidak tersentuh, bahkan cintanya masih untuk istrinya itu, ingin sekali Harris masuk ke dalam kamar itu dan memeluk istrinya, memberinya ketenangan, tapi dia tahu saat ini istrinya itu tidak mau diganggu. Kekesalan hatinya adalah kenapa dia gagal melawan godaan, kesalahannya dia tidak mampu menjaga kesetiaan pada istrinya.
Harris berdiri ketika melihat Suhana keluar dari kamarnya.
“Untuk apa menangis di sini? semua orang di rumah Uncle sudah menunggu kepulangan Abang. Mau Abang menangis darah pun, tidak akan mampu mengubah kenyataan.” Harris mengangkat wajahnya yang sembab dan menatap wajah Suhana, gadis manis itu mengulurkan kotak tisu padanya.
“Su tahu darimana?”
“Tadi Suhaiza call sebelum Abang sampai, dia tanya Abang kesini tak? semua orang tengah cari Abang, Tan Sri Ja'afar dan keluarga juga ada disana.”
Harris mengeluh perlahan, Tan Sri Ja'afar adalah papa Safina, pasti kabar ini sudah sampai di pihaknya. Tadi malam saat penggerebekan memalukan itu Tan Sri dan istrinya masih berada di London tidak bisa datang ke pejabat JAIS. Dan sekarang sepertinya dia baru saja sampai dari luar negeri.
“Baliklah Abang, biarkan Nia di sini, dia butuh ketenangan.”
“Abang yang tak tenang Su, Abang sudah gagal menjadi seorang suami, Abang sudah menyakitinya.” wajah Harris penuh penyesalan.
“Kapan Abang menikah dengan Safina,”
“Tanggalnya belum jelas, tapi harus dalam Minggu ini,”
“Kenapa family Uncle tidak bayar denda saja?”
“Abang sudah minta dengan mama, tapi mama bersikeras untuk Abang menikahi Safina.”
“Dan Abang lemah, apa Abang harus ikuti kemauan mereka?”
Suhana berdecak kecil, kesal dengan sikap sepupunya yang tidak bisa memilih. Terlalu menuruti ucapan Datin Maria.
“Semua karena anak, Nenda dan mama selalu menuntut Abang dan Nia agar ada waris, tapi belum ada rezeki kami.”
“Itu bukan salah Rania Abang, masih boleh usaha kan?”
“Papa ada projek besar dengan Tan Sri Ja'afar, dan jika dibatalkan akan mengalami kerugian besar, bernilai milyaran, Tan Sri tidak mau malu karena media sudah tahu tentang penggerebekan itu. Nama besar Tan Sri bisa hancur kalau putrinya tidak jadi menikah.”
“Ini bukan lagi soal anak Bang, tapi lebih pada bisnis, pada jual beli, dan Safina mengambil keuntungan dari keadaan ini. Perempuan ular!”
Suhana mulai marah besar.
“Cukup Su, dia calon istri Abang sekarang. Mungkin 3 hari lagi kami menikah.”
“What??”