Bab 1

Melewati gang sempit yang sepi ditengah malam buta bukan masalah besar bagi Philips. Si ketua preman berumur 46 tahun itu sudah terbiasa melakukannya. Sebab setiap hari ia melewati gang sempit untuk menuju rumahnya.

Tapi langkahnya sekarang terlihat berhati-hati. Tangannya pun juga mulai meraih pisau yang selalu berada di balik punggungnya. Ia mendengar sebuah suara.

"Tolong aku." Samar-samar suara serak merintih terdengar.

Suasana sangat gelap, sehingga Philips perlu berhati-hati. Ini sudah tengah malam dan kejahatan bisa saja terjadi.

Grep!

"Setan!" Umpat Philips. Sebuah tangan berlumur darah memegang kakinya. Mata Philips membelalak lebar.

"Tolong aku, seseorang baru saja memperkosa ku dan mereka hendak membunuhku sekarang,"ujarnya dengan suara penuh ketakutan. Bahkan Philips bisa merasakan gemetar hebat tangan wanita itu yang tengah memegang kakinya.

Philips berjongkok dan melihat penampilan si wanita. Mata Philips memindai kondisi wanita itu. Matanya bengkak, sudut bibirnya pecah, pipinya biru, dan keningnya berdarah-darah. Kacau dan mengerikan gambaran pas untuk wanita asing yang hampir hilang kesadarannya itu.

Philips yakin ini bukan sebuah penipu. Kalau pun si wanita hendak menipunya Philips punya senjata tajam dan akan balas menyerang.

"Aku akan membawamu ke rumahku lebih dulu, semoga kau tidak keberatan." Setelah mengatakan itu Philips kemudian menggendong si wanita yang lemah tak berdaya. Membawa langkah kakinya menjauhi kegelapan.

Philip tidak tahu segerombolan orang menatapnya dari kejauhan sebelum kemudian berbalik ketika mendapat instruksi dari si ketua.

***

Mira tengah berbaring di sofa dengan kondisi televisi yang masih menyala. Mata gadis itu terpejam. Ia lelah menunggu sang paman yang belum muncul batang hidungnya.

Dia adalah si gadis sembrono. Gadis itu berusia 24 tahun, dan dalam hitungan detik usianya akan bertambah.

Dia gadis manis. Punya rambut keriting ikal, bulu matanya lebat dan kulitnya terang.

"Mira!"

Duk Duk Duk

Gedoran yang begitu keras membuat Mira serta merta langsung tersentak. Matanya langsung terbuka lebar.

"Mira, buka pintunya!"

"Astaga paman?!" Mira menyingkap selimut dan segera berlari menuju pintu.

Kenapa pamannya berteriak di malam buta begini. Bisa-bisa warga sekitar terganggu dan memberikan keluhan kepada mereka.

Tapi keluhan bukan hal yang sulit mereka selesaikan. Sebab lingkungan sekitar atau sendiri siapa si yang paling berkuasa daripada penguasa. Tentu jawabannya adalah Philips si ketua preman.

"Cepatlah Mira!" Diluar terdengar suara mendesak tidak sabaran.

"Sabar paman!" Geram Mira. "Sudah ku bilang bawa kunci rumah kalau kel—siapa wanita ini paman?" Buyar sudah cercaan Mira yang hendak memarahi sang paman. Manik mata Mira kebingungan menyaksikan sang paman tengah menggendong seorang wanita di tengah malam buta begini.

Manik mata Mira semakin membulat penuh ketika fokus melihat wanita asing itu. Kengerian terpancar dari manik mata hitamnya.

"Dia berdarah-darah—apa yang sudah paman lakukan?!"

Mira membungkam mulutnya seketika. Sisi semboro dalam dirinya mulai lagi. Kenapa dia berteriak kencang!

Pikiran buruk bahwa sang paman telah melakukan hal-hal mengerikan menyerang kepalanya.

"Minggir dulu." Philips kemudian masuk dan melewati sang keponakan yang masih syok.

Oke, sang paman pernah membuatnya syok karena membawa seekor harimau yang lepas dari kebun binatang. Tapi sekarang Mira dibuat syok luar biasa melebihi ketika sang paman membawa seekor harimau. Sang paman membawa seorang wanita asing yang terlihat babak belur karena dipukuli segerombolan orang!

Mira lekas-lekas mengekori pamannya yang sekarang menuju kamarnya.

"Kenapa membawa perempuan ini ke kamar ku! Siapa dia?!"

Gadis itu gemas.

"Apa yang terjadi? Apa paman yang memukulnya? Paman menganiaya wanita asing ini? Apa salahnya?" Cecar Mira. Dadanya berdegup kencang. Bukan karena rasa suka melainkan ketakutan karena praduga yang negatif di dalam kepalanya.

Tapi sang paman belum menjawab sepatah kata pun. Philips sekarang tengah sibuk meletakkan wanita tadi ke atas ranjang milik Mira. Memberikan bantal tinggi.

Mira berdiri di kaki ranjang.

"Paman kita memang preman, tapi kita tidak menyakiti orang. Kecuali ada situasi yang mengharuskan membela diri agar tidak terluka barulah kita menyerang. Itu prinsip kita, apa paman lupa?!" Suara Mira meninggi. Matanya menatap horor ke arah Philips.

Mira adalah bagian dari kelompok preman lingkungan 11 itu. Nama daerah yang mereka tempati adalah lingkungan 11.

Lingkungan terbuang. Karena dipengaruhi oleh preman, pemulung dan beberapa lansia saja. Sedikit sekali masyarakat yang punya kemampuan tinggal di lingkungan 11 itu. Sebab memang bukan lingkungan yang sedap dipandang.

Philips menarik nafas sebelum menjawab sang keponakan yang memasang raut wajah gusar.

"Tepat sekali, paman sangat ingat prinsip kita," sahut Philips yang masih tidak membuat Mira puas.

"Tenanglah paman tidak berbuat buruk kepada wanita ini. Paman menemukannya di gang depan ketika hendak pulang," tuturnya menjelaskan singkat.

Bola mata Mira membulat.

"Lalu paman langsung membawanya tanpa pikir panjang?!" Bentak Mira tak percaya. Harusnya Philips berpikir puluhan kali untuk membawa wanita itu.

Philips menutup telinganya. Astaga, suara keponakannya itu memang selalu mengerikan.

"Paman harus menolongnya itu yang paman pikirkan pertama kali."

"Kemarilah." Pinta sang paman dan membawa Mira dengan menggandeng tangannya. Keluar dari dalam kamar.

"Wanita itu mengaku sehabis diperkosa lalu hendak dibunuh. Paman tidak bisa membiarkannya tergeletak di tengah jalan begitu saja.”

“Di-diperkosa? Hendak di bunuh? “

Mira syok hingga tak bisa berkata-kata. Ia membekap mulutnya.

Pantas saja pakaian wanita itu robek. Sekilas tadi Mira juga melihat bekas cekikan di leher si wanita. Wanita tadi juga terus meringis dan menangis. Akan ada lebih banyak tanda kejahatan yang bisa mereka temukan jika sesuai dengan pengakuan si wanita. Situasi ini sangat serius.

Mira lantas menjambak rambutnya lalu memandang lagi ke arah kamar tadi. Harusnya setelah jam 12 malam mereka merayakan ulang tahun Mira. Merayakan umur Mira yang sudah menginjak 25 tahun. Tetapi situasi malah jungkir balik. Sekarang bukan saat yang tepat untuk berhore ria.

“Sebaiknya kita coba hubungi orangtua atau kenalannya paman, bagaimana kalau paman nanti malah terkena masalah karena membantunya.” Mira meneguh ludah. Bukan niat hati hendak mengusir wanita ini secara kejam, tetapi ia hanya bersikap waspada.

“Dia hanya membawa tubuhnya, nak. Tidak ada ponsel, dompet ataupun kartu nama.”

“Dia tidak berdaya, nak. Kita harus menolongnya dan memberikan tempat perlindungan sementara.”

Mira menarik nafas. Benar, mereka harus melakukan hal itu.

“Kalau begitu paman tolong keluar dari ruangan. Aku harus membuka bajunya untuk mengobati luka- luka yang ia alami. Aku juga akan meminjamkan bajuku untuknya.”

Phhilips mengangguk. Kemudian ia berhenti lagi.

“Kenapa?” tanya Mira.

"Sebelum mengobatinya sebaiknya kita rekam pengakuannya dan juga memotret kondisinya sebagai bukti," ujar sang paman.

Sejenak Mira terdiam seakan menemukan hal baru dari sang paman. Mira tadi tidak terpikir untuk meminta rekaman pengakuan si wanita sebagai bukti.

“Ya, akan kuambil kamera milikku,” Mira memiliki kamera yang ia simpan di dalam lemari.

”Paman akan menelepon Chris dulu."

Chris adalah kekasih Mira yang merupakan seorang polisi di daerah ini. Masyarakat tak sungkan mengadu kepadanya jika terjadi kejahatan.

Pada situasi ini mereka tentu memerlukan Chris. Mira mengangguk.

Bab 2

Chris datang 20 menit kemudian. Pria itu keluar dari kantor polisi setelah mendapat laporan mengejutkan dari paman Philips. Pria tua yang sudah dianggapnya temannya sendiri juga.

Laporan orang mabuk yang perlu pertolongan di malam buta memang sering Chris dapatkan. Bahkan ia sering kerepotan karena harus membersihkan muntahan si pemabuk.

Kali ini bukan laporan orang mabuk yang Chris hadapi. Melainkan laporan seorang wanita diperkosa dan hendak dibunuh. Meringis Chris ketika melihat sosok wanita itu.

"Kondisinya sangat mengerikan." Komentar Chris. Mereka tidak bisa tergesa membawa wanita ini ke rumah sakit. Karena ditakutkan suruhan pelaku maupun pelaku melacak keberadaan korban hingga ke rumah sakit.

Ada bukti pernyataan yang telah Chris dapatkan. Pun beberapa foto luka-luka yang dialami oleh wanita itu.

"Untuk pertama, perkenalkan dirimu."

"Nama saya Ane."

"Baiklah tolong ceritakan apa yang telah kau alami Ane?"

Mira sebagai sosok yang bertanya dibalik layar. Sedangkan Philips merekam.

"12 mei 2022 saya telah diperkosa." Tangannya gemetar. "Saya diundang menjadi penyanyi di Klub malam Vell. Boss mereka memaksa saya turun dan mendampinginya. Saya menolak...hiks… satu kali saya menolak dia melayangkan tamparan ke pipi saya. Dia berteriak dan marah…"

Sempat ada jeda sejenak karena Ane merasa sangat ketakutan. Mira mengangguk dan memintanya melanjutkan. Semuanya perlu Ane ingat sejenak agar si keparat itu mendapat hukuman setimpal atas tindakan mengerikan yang telah ia lakukan.

"Pa-para ba-bawahannya sangat menakutkan. Sa-saya diseret masuk ke dalam sebuah kamar. Tidak ada yang bisa menolong saya. Bo-boss klub itu lalu datang dan dia… di-dia… menodai saya...hikss… keparat itu telah memaksakan nafsu bejatnya kepada saya… hikss… dia juga terus menyiksa saya…"

"Tolong saya. Lindungi saya."

Mira memeluk Ane segera. Hatinya ikut merasa pedih untuk wanita itu. Kekejaman yang wanita itu dapatkan tak bisa dibayangkan Mira akan terjadi padanya.

Mira menoleh ke arah Chris. Lalu manik matanya kembali menemui sosok Ane yang kembali terbaring lemah di atas ranjang.

"Sangat mengerikan karena itulah pelaku harus ditangkap dan mendapat hukuman berat."

"Setelah merekam pengakuannya sambil menangis tersedu dia pingsan dan belum sadarkan diri sampai sekarang." Mira mengusap-ngusap kedua lengannya. Ia mendekap dirinya dan menjaga jarak.

Chris menghela nafas berat. Sama beratnya dengan kasus yang tengah dihadapi sekarang. Ia telah melihat rekaman itu dan gerahamnya hampir jatuh karena merasa amarahnya ikut meledak.

"Saya dibuat tidak sadarkan diri dengan diberi obat-obatan sebelum diperkosa....hiksss... tidak sampai di sana dia mencoba membunuh saya karena melarikan diri. Sa-saya sangat takut... Di-dia akan membunuhku tolong saya ....hikss"

Untunglah Ane bertemu orang yang memiliki kepedulian. Paman Philips sudah benar menolong wanita itu. Sesama manusia memang saling tolong menolong.

"Aku akan segera melaporkan kasus ini ke para petinggi. Ini bukan kasus biasa. Ane sebagai korban pun harus mendapat perlindungan hukum," ujar Chris dengan tegas. Mereka semua mempercayai pria itu.

Philips sangat setuju. Ane baru 23 tahun lebih muda daripada Mira. Kalau Mira ada di posisi Anne Philips yakin ia akan menggila dan membunuh bajingan itu.

Mira dititipkan oleh sang kakak yang telah meninggal 10 tahun yang lalu. Philips sudah merasakan ikatan yang kuat terhadap Mira sang keponakan. Ia menyayangi dan selalu ingin melindungi Mira apapun yang terjadi.

"Mulai sekarang berhati-hati lah dan jangan keluar malam, apalagi pergi ke klub." Nasihat yang lebih mirip titah itu didengarkan Mira. Mata sang paman dan Mira saling terkunci. Gadis itu kemudian mendekati sang paman dan memeluknya dari samping. Chris hanya menjadi sosok penonton yang diam memperhatikan.

"Aku mengerti. Aku juga tidak ingin bernasib sama dengannya. Tapi paman jangan lupa aku bukan wanita lemah yang sekali pukul langsung tumbang."

"Aku bisa balik memelintir orang yang menyerangku. Aku juga bisa memberikan cekikan maut milikku," Mira menambahkan lagi.

Pria tua itu mengusap rambut Mira dengan lembut. Gemas mendengar jawaban percaya diri dari sang keponakan. Sementara disisi lain Chris hanya berdiam menatap Mira sang kekasih dari belakang.

"Senang sekali mendengar kepercayaan dirimu. Jangan sampai itu hanya omong kosong ya," ujar Philips.

Mira melepaskan sejenak pelukannya lalu mulai berkacak pinggang.

"Paman jangan meragukanku. Sekalipun yang berada di hadapanku adalah orang terdekat— jika dia berkhianat aku tidak akan segan menghajarnya habis-habisan!" Mira membuat gerakan meremas udara. Si preman wanita yang dijuluki ratu iblis memang tidak ada lawan.

Trang!

Gelas aluminium tersenggol oleh Chris.

Mereka menoleh. Mira melihat kegugupan dari wajah pria itu, namun segera menghilang bagaikan hembusan angin.

"Astaga, maaf aku tidak sengaja." Pria yang menyandang status sebagai kekasih Mira selama 4 bulan belakangan itu berjongkok dan memungut gelas. Meletakkan kembali ke atas meja.

Mira menggeleng dia pasti salah kira.

"Tidak apa-apa Chris. Kemarikan aku akan meletakkannya ke dapur."

Mira mengambil alih gelas tadi. Chris masih mengucapkan permohonan maaf. Tidak apa-apa kata Mira.

"Nanti saja mencucinya Mira, sekarang saatnya tidur." Cegah Philips.

"Kau tidurlah di kamar paman. Sementara paman akan berjaga di sini bersama Chris."

Mira menoleh ke arah sang paman. Ya, waktu sudah menunjukkan setengah 2 malam. Ini waktunya tidur. Kepalanya pun memang sudah merasa berat.

"Terima kasih paman. Aku akan istirahat! "

Sekilas Mira melihat ke arah ranjang miliknya yang sekarang ditempati oleh Ane. Hanya namanya yang Mira tahu sejauh ini karena mereka belum bisa banyak berbincang.

"Aku istirahat dulu ya," ujarnya pamit pada Chris. Pria itu memberikan senyum mengiyakan Mira.

Masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri Mira masih merasa bulu kuduknya merinding. Bayangan kemaluan Ane yang terluka parah membuatnya gemetar. Entah bagaimana bajingan itu memperkosa Ane hingga terluka begitu parah.

Mira mulai memejamkan matanya. Semoga Ane mendapatkan keadilan.

Hukum itu tumpul keatas tajam ke bawah. Mereka yang tak punya kuasa akan semakin tercekik oleh hukum dan sulit membela diri. Berbanding terbalik dengan mereka yang berkuasa.

***

"Kapan tepatnya paman menemukan korban?"

Chris mengajukan pertanyaan dengan ponsel yang digunakan sebagai alat perekam.

"Sebelum pukul 12 malam. Paman tidak bisa ingat tepatnya. Dia bersandar dan terus merintih di samping gang gelap ketika meminta bantuan. Kondisinya parah. Darah ada dimana-mana."

Keterangan Philips sebagai sosok yang menemukan korban sangat penting. Tapi lebih penting lagi jika ada saksi mata ketika kejadian naas yang menimpa wanita itu terjadi. Lalu bersaksi di persidangan. Tentu saja kesaksiannya harus berada di bawah sumpah yang bisa diakui kebenarannya.

Kepolisian harus menyelidiki lebih dalam kasus ini. Chris berterima kasih kepada Philips.

"Siapa yang menelepon mu? Di tengah malam begini?"

Philips bertanya serius, ini waktu yang digunakan kebanyakan orang untuk tidur. Kecuali itu telepon penting atau dari orang penting lah yang menelpon tanpa kenal waktu.

"... I-ini telepon dari nomor asing paman. Beberapa waktu lalu juga menelpon dan menawarkan uang pinjaman. Padahal aku sudah bilang tidak perlu. Tapi nomor asing ini tidak lepas menelpon ku."

"Benarkah?" Philips meneliti raut wajah Chris. Pria itu kembali mengangguk.

"Berikan sini." Mengulurkan tangan dan meminta ponsel Chris.

"Ke-kenapa?"

"Berikan, paman akan bantu supaya kau tidak diganggu lagi."

"Apa yang akan paman lakukan?" Chris bertanya penasaran.

Matanya membelalak ketika Philips menghubungi si tukang pinjaman online. Memberi kode kepada Chris untuk diam.

"Halo, cukup dengarkan saja. Jangan pernah menghubungi nomor telepon ini lagi. Kalau ingin bisnismu sukses harus tau yang namanya etika. Kalian tidak beretika sekali menelpon di saat waktunya orang beristirahat."

"Satu lagi kalau ingin menawarkan pinjaman online jangan memberi bunga yang banyak. Orang-orang tidak akan sudi meminjam uang kepada kalian kalau kondisinya terus begitu."

Lalu Tut Tut Tut

Belum sampai disana Philips pun memblokir nomor si tukang pinjam online.

"Beres bukan."

"Astaga, paman memang yang terbaik."

Philips menaikan alisnya dan tersenyum. Entah perasaan saja atau bagaimana tadi dia mendengar sekilas seseorang dibalik telepon ingin bicara dari nada suaranya tampak hendak memaki dan bahkan menyebut nama Chris. Pertanyaan sekarang muncul dibenak Philips benarkah tadi itu telepon dari pinjaman online?

Bulan bersinar terang malam ini. Dihinggapi kesenyapan—Chris dan Philips duduk sambil sesekali berbincang singkat.

Bab 3

Pukul 7.00

Matahari sudah menanjak naik, meninggalkan peraduannya. Chris dan Philips berdiri berhadapan di depan pintu.

Philips melepaskan Chris yang berpamitan untuk berangkat ke kantor polisi.

"Saya akan melaporkan kasus ini ke atasan, paman. Tolong kabari kalau korban sudah sadarkan diri." Masih dengan menyematkan senyum Chris kemudian berlalu setelah mendapat anggukan dari Philips.

Ia masuk ke dalam mobil. Diamatinya barang bukti tadi sejenak. Manik matanya berubah gelap. Senyum di wajahnya telah lenyap. Menakutkan bagaimana bisa dia mengubah ekspresinya dengan begitu cepat.

Diambilnya ponsel yang sejak tadi menyala. "Saya akan akan menuju ke sana sekarang."

Panggilan itu kemudian terputus. Yang tidak siapapun sadari Chris melajukan mobilnya ke arah berlawanan dari kantor polisi. Dengan terus memandangi barang bukti yang begitu berharga.

Wajah polos Chris sekarang memuncukan guratan licik.

***

Rumah Philips.

Mira baru saja bangun dan keluar dari kamar sang paman. Ia sekilas melihat kamarnya yang ditempati penghuni asing. Tertutup.

Mira mengecek kondisi orang yang ada di dalam kamar. Keningnya mengerut karena hanya menemukan Ane di atas ranjang. Pagi ini pun penampilan Ane masih semengenaskan kemarin malam.

Mira menutup pintu lagi dan berbalik.

"Paman!" Panggilnya.

"Ya!"

Ada suara sahutan dari dapur. Gadis itu lekas menyusul. Tepat saja—ada sang paman yang tengah duduk di depan meja makan sembari menyeduh kopi hangat.

"Chris baru saja berangkat, dia akan ke kantor polisi dan melaporkan apa yang Ane alami."

Mira mengangguk saja. Chris memang selalu tidak mengecewakan. Pria itu pasti merasakan tanggung jawab untuk membela keadilan sehingga berangkat begitu pagi. Padahal ini bukan waktu biasa jam kerja Chris dimulai.

Philips menuangkan air putih ke gelas dan menyerahkannya kepada Mira. Disambut Mira air putih tadi. Air membasahi kerongkongan Mira yang kering.

Pria berumur itu memijat bahunya yang terasa begitu kaku. Semalam penuh ia dan Chris berjaga. Malam tadi mereka tidur di atas kursi kayu yang keras. Karena merasa sangat waspada Philips tidak bisa tertidur nyenyak dan beberapa kali terbangun untuk mengecek kondisi Anne.

Mira melihat sang paman yang tampak begitu lelah. Mendesah—gadis itu kemudian mendekati sang paman dan menggunakan tangannya yang kasar untuk memijat bahu dan punggung pamannya.

"Inilah alasan orang malas bergerak membantu orang lain. Karena mereka takut akan kesusahan saat menolong orang itu."Mira bicara sambil berdecak.

Meski Philips menyandang gelar sebagai ketua preman jiwa kemanusiaannya masih menggelora. Ia yang tak kenal takut tak segan membantu orang lain. Contohnya kemarin ketika Nenek penjual Buah hendak dipalak Philips membantunya. Bertarung dengan preman seberang untuk menyelamatkan sang nenek.

Jangan kira sebagai ketua preman Philips tak punya rasa kemanusiaan. Ia punya—dan menjunjung tinggi. Hanya kepada para bajingan rasa kemanusiaannya itu hilang tak berbekas.

Sekarang sang paman kembali menyusahkan dirinya karena menyelamatkan seorang wanita asing.

"Jangan berkata begitu, nak. Coba bayangkan dirimu berada di posisi wanita itu, kau pasti akan sangat bersyukur karena seseorang menyelamatkanmu. Dan kau mungkin akan membalas kebaikan orang yang menyelamatkanmu dengan segenap hati."

"Astaga, aku langsung merasa ditikam seketika," sahut Mira dengan cemberut. Sang paman tertawa kecil. Tahu jika respon Mira demikian maka itu tandanya pikirannya sudah disadarkan.

"Paman kapan pensiun jadi ketua preman? Aku ingin menggantikan posisi paman segera." Senyum-senyum di belakang gadis itu.

"Dan semakin membuatmu bersikap sok-sok'an? Tidak, lebih baik paman menyerahkan tahta kepada Kris."

Gerakan tangan Mira yang tadinya memijat lembut kepala sang paman berhenti. Dia kemudian memutari meja hingga berdiri di depan sang paman.

Lihatlah gadis itu mengerucutkan bibirnya.

"Issh, mulai lagi paman menyebut nama si Kris itu. Apa sih hebatnya dia? Dia kalau menagih hutang modal wajah saja. Tidak ada yang takut dengannya dilingkungan ini. Beda denganku yang ditakuti dan disegani."

"Nah kalau kau berkata begitu paman semakin ingin memilih Kris," balas Philips.

Kris itu bawahan Philips. Pria itu cukup terkenal dilingkungan ini karena parasnya yang rupawan. Hanya dia satu-satunya preman ramah yang tidak disegani.

"Paman!" Merajuk.

Philips menggeleng. Dia kemudian berdiri.

"Astaga, kenapa membahas pensiun, heum? Sudah paman bilang bukan, paman akan pensiun kalau sudah meninggal. Kau ingin paman segera meninggal ya?"

"Astaga, biadab sekali aku kalau berpikir begitu! Aku hanya ingin paman istirahat sebelum usia 50 tahun. Itu saja."

"Nanti akan paman pikirkan."

"Eh mau kemana?"

Melihat sang paman berbalik dan mengambil jaket segera mengekori.

"Ada yang paman urus, kau jangan kemana-mana dan tetap dirumah."

Mata Mira melotot seketika.

"Hah? Kenapa aku disuruh tetap di rumah! Aku mau keluar dan melihat pertunjukan kembang api."

"Itu kan malam nanti. Mana ada pertunjukan kembang api di siang hari. Meski meledak di udara kau tidak akan melihat apa-apa. Hanya benda putih yang menyisakan asap."

Benar juga, ah pamannya terlalu pintar untuk dikibuli. Mira memasang wajah cemberut.

"Masih belum waktunya sebelum acara kembang api itu dimulai, paman akan kembali sebelum malam. Lagipula kau perlu menjaga Anne yang belum sadarkan diri," lanjut Philips dan mengusap rambut Mira.

Philips selesai memasang jaketnya.

"Ingat beri kabar kepada Chris kalau Ane sudah bangun."

Pesan terakhir Phillips sebelum keluar rumah.

"Hati-hati," ujar Mira. Sang paman memberikan lambaian tangan. Ketika sudah keluar dari pagar rumah Philips menatap kertas yang ada di tangannya.

Pria itu merasa perlu mencari lebih banyak bukti agar Anne bisa mendapat keadilan. Ia kemudian menggunakan sepeda motor bututnya menuju Klub Malam Vell.

"Cih, apa yang akan kulakukan sekarang?" Mendesah kesal.

Mira kembali memeriksa kondisi Ane. Tidak ada perubahan sama sekali. Hatinya merasa sedih.

Mengapa? Mengapa wanita seringkali dilecehkan. Para wanita menjadi serba salah. Mereka berpakain seski dijuluki si jalang penggoda. Padahal wanita-wanita itu hanya ingin berpakaian cantik. Salahkan pada nafsu binal para lelaki yang tak bisa menahan diri. Jangan salahkan pakaian si wanita.

“Kau pasti punya mimpi tinggi yang hendak kau raih.” Mira bicara sembari menjadikan Ane sebagai fokus. “Aku hanya ingin mengatakan bahwa, mimpimu tidak akan hancur hanya karena musibah ini. Jangan terpuruk dan pergilah ke psikiater nanti. Jangan dipendam karena nanti bisa menjadi penyakit mental.”

“Mendiang Ayahku meninggal karena stess setelah mengetahui fakta ibuku berselingkuh.” Mira merasa air matanya menggenang. “Aku diragukan sebagai anaknya. Aku tahu itu ... hanya saja aku tidak ingin membuka pembicaraan itu dan membuat luka ayahku kembali mencuat. Pada akhirnya aku tersiksa karena memendam kemarahanku sedniri.”

“Kenapa aku yang dijauhi.”

“Kenapa aku yang didiamkan, Aku tidak punya salah. Aku hanya lahir ke dunia dan tidak tahu menahu apa- apa.”

“Jadi Ane jangan menangis sendiri, jangan memendam masalah sendiri. Bicaralah pada seseorang saat kau merasa kesulitan.”

Saat itu Ane mendengar semua cerita Mira. Ane memang berpikir untuk mengakhiri hidupnya setelah bajingan yang telah memperkosanya di bunuh. Tapi sekarang niatnya goyah.

Semua orang menderita. Hanya saja yang membedakan ada yang ingin bangkit dan berusaha. Ada pula yang memilih menyerah. Ane berpikir ulang sepadankah mengakhiri hidup tanpa mencoba pulih?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED