[Sayang, hari ini aku lagi nggak bisa ke appartement ya.. Resti memintaku menemani tiga anak ini bermain seharian. Dia mau ke tempat ibunya yang sedang sakit keras di Jogja. Ini ngedadak banget.]
Sebuah pesan singkat dari Donny untuk Kanya. Tentu saja Kanya tak senang akan hal itu. Pasalnya kandungan Kanya sudah memasuki usia empat bulan. Hari ini adalah jadwal Kanya melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin anak yang dikandungnya.
Kanya yang memiliki kebiasaan melempar barang saat marah, berhasil membuat seisi appartement berantakan akibat ulahnya.
Appartement yang Kanya tinggali berada di tengah kota dekat dengan Mall besar. Namun, ukurannya tidak terlalu luas. Hanya dua kamar dan satu dapur bersih beserta kamar mandi berukuran 3mx3m.
Kanya merupakan bos dari adik kandung Resti bernama Suci. Perusahaannya bergerak dibidang telekomunikasi. Setiap hari Suci menerima telpon dari customer atas keluhannya. Ya, pekerjaan Suci adalah call center.
Donny paham atas ancaman yang selalu diberikan Kanya apabila ia tak menuruti keinginannya sekali saja. Tapi Donny selalu berhasil meluluhkan hati Kanya kembali. Biasanya Donny mengirimkan sejumlah uang berjumlah fantastis untuk digunakan Kanya sekedar membeli baju atau barang kesukaan lainnya.
"Kalau saja dulu aku tidak memilih untuk berhubungan dengan Donny, mungkin sekarang hidupku akan lebih bebas. Untung aja Donny kaya. Kalau tidak, sudah kutinggal dari kemarin," batin Kanya.
Perut Kanya semakin lama semakin membesar. Ia sudah menikah sirih dengan Donny tapi ia tak pernah menceritakan hal ini pada keluarganya.
Dari kecil Kanya sudah menjadi korban broken home. Ayahnya meninggalkan keluarga sejak ia berumur tujuh tahun untuk menikah lagi dengan wanita lain. Karena itulah Kanya memiliki kesenangan tersendiri jika ia menjalin hubungan dengan pria beristri.
Terdengar suara ketukan pintu.
Kanya mengintip dari lubang kecil di pintunya. Ada Ajeng sahabatnya yang datang. Ia adalah satu-satunya orang yang paham betul tentang hubungan Kanya dan Donny.
Ajeng membawa tiga tas belanja berukuran besar berisi sayuran dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Setiap bulan semenjak Kanya hamil, Ajeng selalu membantunya. Donny tak pernah mengantarkan Kanya berbelanja.
"Gimana kabar lo, Nya?" tanya Ajeng.
"Ya beginilah. Si Donny malah nggak bisa datang hari ini," jawabku.
"Loh kenapa? Tumben. Biasanya kalau hari sabtu dan minggu pasti udah dateng jam segini."
"Jagain tiga anaknya. Resti ke Jogja, ibunya sakit keras. Padahal ada ART, tapi malah Resti suruh Donny buat jagain."
"Daripada lo bete, mendingan kita masak-masak aja. Gue bantu dah ini beresin appartement lo. Gile nggak kurang berantakan lagi apa? Kebiasaan," kata Ajeng setengah berteriak sambil menyisir seluruh area appartement Kanya.
***
Malam pun tiba, Donny menitipkan anak-anak ke kakak kandungnya. Ia beralasan ada urusan kerjaan penting yang tidak bisa ia tinggal. Dengan mudahnya kakaknya yang bernama Bella percaya akan ucapan Donny.
Donny bergegas menemui Kanya. Baru saja Ajeng pulang, Donny sudah sampai di depan pintu dan Kanya pun menyambutnya.
Ciuman mesra selalu ada untuk Kanya jika Donny baru sampai di appartement. Tanpa pikir panjang Donny memegang pinggang Kanya dan menempelkan bibirnya beberapa menit sembari menutup pintu.
"Aku kangen. Nggak bisa jauh lama-lama dari kamu sayang," ujar Donny masih terus memeluk Kanya. Perasaan Kanya selalu luluh dan tak pernah membahas permasalahan sebesar apa pun lagi.
"Sudah sana kamu bersih-bersih dan ganti baju dulu. Aku buatkan makanan spesial buat kamu," kata Kanya.
"Iya sayang."
Kanya membuatkan spaghetti bolognese dan greentea latte. Ia menaruhnya di meja makan yang berbentuk bar.
Setelah mandi, Donny memeluk Kanya dari belakang hanya dengan memakai handuk.
"Pakai baju dulu sana. Makan dulu. Belum makan kan pasti?" tanya Kanya.
"Tahu aja," jawab Donny.
Kanya mencuci seluruh alat masak di dapur. Ia terbiasa serba sendiri tanpa ART. Apabila harus mencuci baju, maka ia memilih untuk menggunakan fasilitas laundry di appartement nya.
"Andai saja aku bertemu denganmu sebelum istriku, pasti aku nggak perlu repot seperti ini." Kata Donny seraya duduk di kursi bar.
"Jadi kamu ngerasa repot?" tanya Kanya.
"Bukan itu maksudku. Sudahlah jangan marah-marah. Nanti keriput mau?"
"Amit-amit. Perawatanku mahal. Kamu tau itu kan. Memangnya istri sahmu, mana dia kepikiran merawat diri. Tiga anakmu saja sudah bikin pusing. Makanya nanti aku ingin satu saja lah anak yang menemaniku biar ga kesepian kalau kamu tinggal. Tiga tahun sama kamu pakai KB aman, eh kebobolan juga."
"Hahaha, ya gimana lagi. Terus kamu jadi tadi USG?"
"Ya nggak jadilah, ada Ajeng sih tadi dateng, tapi dia kecapekan katanya kalau harus anter. Lagian dia baru pulang dari rumah orang tuanya di Padang tadi malam."
"Nanti deh pas jam kerja aku sempatin nemenin kamu ya. Tenang, aku akrab sama bos. Jadi gampang ijinnya."
Kanya menyetujuinya. Ia juga mudah sekali untuk ijin. Karena direksi perusahaannya saja teman akrab sedari di bangku sekolah.
Ponsel Donny berbunyi.
"Halo?" jawab Donny menerima telpon dari Resti. "Iya aku lagi ada meeting. Hah apa? Oh emang sampai malam. Lagian kan Deo, Deshinta, sama Dita sudah kutitipkan sama kakak."
Percakapan Donny dan Resti pun berakhir. Dilihatnya jam menunjukkan pukul sembilan. Buru-buru Donny memberi kode meminta 'jatah' pada Kanya lalu pergi.
***
[Aku udah jalan pulang ya Mas, ibu sudah sembuh.]
Resti mengirimkan pesan hari minggu pagi. Paling tidak senin sudah tiba di rumah.
Buah hati Resti dan Donny merupakan anak yang baik dan pintar. Si sulung Deshinta masih duduk di kelas enam Sekolah Dasar (SD), anak kedua Deo kelas empat Sekolah Dasar (SD), dan si bungsu Dita masih berumur empat tahun.
"Ayah, temani aku bermain,” rengek Dita.
"Main sama kakakmu saja."
"Ayah, bunda kapan pulang?" tanya si sulung Deshinta.
"Mungkin besok sampai. Kamu ajak dulu tuh Dita main. Ayah capek." Jawab Donny memainkan ponselnya dan saling berbalas pesan dengan Kanya.
Deshinta segera menggandeng tangan mungil Dita. Diajaknya ke teras. Bi Inem, ART di rumah sedang banyak kerjaan sehingga tidak bisa mengajak mereka bermain.
"Biasanya Ayah kan suka pergi kalau hari minggu. Tumben sekarang Ayah di rumah?" tanya Deo dari arah dapur sambil menyeruput susu miliknya.
"Jagain kalian, bunda kan pergi. Lagian Ayah capek," jawab Donny.
Akhirnya ketiga anak Donny pun tidak mengganggu ayahnya dan bermain bersama. Deo memilih bermain game di komputer, ia tidak bermain lagi bersama saudaranya.
Tiba-tiba Dita menangis sangat keras lantaran jatuh di halaman rumah. Ia tersandung batu besar saat berlarian mengejar Deshinta.
Donny pun menghampiri dengan geram dan mulai menyalahkan Deshinta.
"Kamu gimana sih kak, jaga adek kamu aja nggak bisa?" tanya Donny seraya berkacak pinggang.
"Jangan marahin kakak ayah, Dita jatuh sendiri tadi.. Huhu huhu huhu," jawab Dita masih menangis.
Tiba-tiba ponsel Donny berdering ada telpon dari Kanya.
"Sayang, ke appartement dong, masih belum pulang kan Resti?" tanya Kanya.
"Hari ini aku belum tega ninggalin anak-anakku sebelum Resti datang. Aku ga bisa gitu aja ninggalin mereka sama bi Inem di rumah," jawab Donny.
Suara Dita sangat keras hingga membuat Kanya mendengarnya. "Berisik banget sih. Kayak gitu kamu betah ya di rumah?!"
Kanya menutup teleponnya dengan kasar.
Donny sontak kaget melihat sikap Kanya yang tak lagi sama. Pasalnya, pertemuan pertama mereka berawal saat Donny sedang menjaga Dita yang masih berumur satu tahun di sebuah restoran. Dita yang menangis karena bundanya sedang ke kamar mandi dan tak kunjung tiba, mendadak diam saat Kanya menggendongnya. Saat itu Kanya kebetulan sedang menunggu temannya di meja dekat Donny, Resti, dan Dita makan. Sedangkan Deo dan Deshinta tak ikut karena menginap di rumah eyang mereka yang tak lain adalah orang tua Donny.
Donny merasa Kanya lebih baik dari Resti. Ditambah lagi raut wajah Kanya yang begitu cantik. Terlihat jelas bahwa Kanya sangat merawat tubuhnya dengan baik. Sedangkan Resti semakin menggemuk semenjak melahirkan Dita dan belum sempat merawat diri.
Tanpa pikir panjang Donny mengajak Kanya berkenalan dan mereka saling jatuh cinta hingga sekarang.
Donny tak ingin melepas Resti, karena Resti memiliki warisan yang cukup banyak dari mendiang almarhum ayahnya. Jika ia mengakui Kanya sebagai istri sirih di depan Resti, maka warisan itu tak lagi ia nikmati.
Resti juga seorang pengusaha yang juga lumayan sukses. Memiliki banyak karyawan. Omset per bulannya bisa sampai puluhan juta. Sedangkan Donny menjabat sebagai manager di sebuah perusahaan.
[Mas, anak-anak udah makan?]
Sebuah pesan masuk ke notifikasi di ponsel Donny.
[Sudah, anak-anak udah mau tidur sama Bi Inem. Kira-kira jam berapa besok kamu sampai?]
[Sekitar jam 12 siang mas. Kamu bisa jemput di stasiun kan? Biasanya saat makan siang kamu bisa ijin dulu.]
[Nggak bisa Res. Ada jadwal meeting di luar kantor. Kamu dijemput supir kantorku ya. Nanti aku hubungin dia.]
[Iya Mas, tapi kamu jangan sampai lupa makan ya.]
***
Hari ini, waktunya Resti tiba di stasiun. Seperti janji Donny, ia meminta Pak Eman supir kantornya untuk menjemput Resti. Sedangkan sebenarnya Donny tidak ada meeting hari ini.
Kanya minta bertemu di rumah sakit untuk menemaninya kontrol ke dokter kandungan.
"Sayang, kok baru dateng sih? Tinggal satu orang lagi tuh pasiennya," tanya Kanya.
"Maaf sayang, ada yang harus aku urus dulu. Lagian tadi Resti memintaku jemput di stasiun. Tapi aku udah minta Pak Eman untuk jemput dia. Kan aku mau nemenin kamu kontrol. Hehe," jawab Donny sambil merayu dan menempelkan kepalanya di pundak Kanya.
"Kamu ini selalu membuatku ga bisa marah."
"Ibu Kanya!" panggil Suster. "Silakan masuk bu."
"Siang Bu Kanya dan suami. Silahkan langsung saja kesitu. Saya periksa USG yaa," sapa dokter Hendrik.
"Iya Dok.”
Setelah dokter menggerakkan alat itu di perut Kanya, dokter tersenyum dan berkata, "Anak ibu dan bapak ini kembar."
Donny dan Kanya saling bertatapan. Kanya nampak tak menyukainya. Itu artinya appartement akan semakin ramai.
Setelah keluar dari ruang dokter mereka menuju kantin rumah sakit. Diayunkannya langkah Kanya dengan lemas dan wajah yang ditekuk.
"Sudah dong, Sayang. Nggak apa-apa kalau dua. Bonus dong itu," kata Donny.
"Gila ya kamu. Repot banget aku urusnya. Mana kamu jarang nemenin aku. Aku nggak suka kalau harus pakai baby sitter. Nanti kalau nggak sesuai kerjanya dengan mauku gimana?" tanya Kanya.
"Aku ada ide. Gimana kalau nanti kita pisahkan saja mereka. Yang satu kita titipkan di panti asuhan," jawab Donny sambil tersenyum.
"Hmm... Iya sih. Biar nggak repot yaa.”
Mereka pun duduk di kantin lalu memesan makanan. Kanya merasa mual. Ia tak ingin makan di tempat seperti ini. Lalu Kanya meminta Donny untuk pindah ke restoran di sebrang rumah sakit yang terkenal dengan makanannya yang mewah dan mahal.
"Eh udah pulang, Mas." sapa Resti.
"Iya udah. Gimana ibu? Udah sehat ya." tanya Donny.
"Udah alhamdulillah.. Oh iya Mas, bulan depan ada tanggal merah tuh, bisa nggak kamu ambil cuti?"
"Emangnya kenapa?"
"Ibu minta kita berlibur ke Jogja. Kangen sama anak-anak. Ya namanya ibu sudah tua Mas, kita kan nggak ada yang tahu umur sampai kapan. Lebih baik menuruti kemauan ibu."
Donny berpikir sejenak. Apa bisa Kanya ditinggal sebegitu lamanya?
Belum ada jawaban dari Donny. Ia bergeming dan meninggalkan Resti di ruang tamu beserta ketiga anaknya. Resti paham, Donny bukan orang yang mudah memutuskan sesuatu. Jadi nanti mungkin Resti akan menanyakannya kembali.
Di kamar tidur Donny mengirimkan pesan kepada Kanya.
[Resti mengajakku berlibur ke Jogja bulan depan. Sementara aku tak bisa ke tempatmu dulu ya.]
[Gila ya kamu. Itu kan kurang lebih empat hari kalau ditotal dengan hari sabtu dan minggu.]
[Nanti aku bawakan oleh-oleh deh untuk kamu. Kalau aku menolak, takutnya Resti malah curiga. Aku kan nggak ada alasan untuk menolak.]
[Ya, bilang aja kamu nggak bisa ambil cuti banyak. Semalam di aku dong. Berikutnya kamu sama mereka deh.]
[Oke sayang.. Makasih ya. Aku janji bakalan bawain kamu oleh-oleh. Sebelum ke Jogja aku akan sering bersamamu.]
Mereka pun mengakhiri percakapan. Lagi-lagi Kanya menggerutu sepanjang malam. Ia mencoba membuat hatinya lebih baik. Dipesannya makanan secara online. Lagipula mengandung bayi kembar menyebabkan ia mudah lapar.
Sebentar lagi ia akan mengumumkan kehamilan pada anak-anak kantor, teman, dan keluarganya. Perutnya yang semakin membesar tidak mungkin ia sembunyikan selamanya.
Pukul 2 pagi, Kanya tiba-tiba mual dan muntahl. Seluruh makanan yang ia makan hampir dimuntahkannya.
[Sayang, aku muntah.]
Ponsel Donny berbunyi sedangkan ia sudah tertidur. Namun Resti yang baru masuk ke kamar mendengar bunyi notifikasi pesan di ponsel Donny. Ia pun melihat pesan itu di layar ponsel Donny dan membuatnya seketika sangat terkejut.
Resti pun mengguncangkan tubuh Donny.
"Mas. Mas.. Bangun!"
"Heu.. Ada apa sih banguninnya kayak gitu."
"Ini siapa Kanya? Dia bilang muntah. Kamu selingkuh?" tanya Resti.
"Ng.. Pasti dia salah kirim pesan. Udahlah kamu tidur.. Udah pagi ini. Kanya itu teman kantor," jawab Donny.
"Benar?"
"Iya. Udah tidur lagi. Besok kan kamu harus urus karyawanmu lagi. Katanya ada yang perlu kamu selesaikan mengenai gaji mereka pagi-pagi kan?"
Resti pun percaya dan mencoba untuk tidur kembali. Sesekali pertanyaan di benak Resti muncul. Tapi kembali dihilangkannya pikiran curiga itu. Ia lebih memilih percaya dengan Donny.
Saat dirasa Resti tidur, Donny pun membalas pesan Kanya.
[Maaf ya Sayang, aku nggak bisa nemenin. Coba minum teh manis hangat dan paksakan untuk tidur lagi ya.]
Kemudian Kanya tak membalasnya lagi. Kondisi hamil muda seperti ini seharusnya Donny menemaninya. Tapi untuknya yang hanya berstatus istri sirih harus menerima kenyataan ini. Apalagi Donny yang belum juga memberi kepastian pengakuan kepada Resti.
***
"Jadi gitu. Gue emang lagi hamil guys. Tapi bapaknya nyeleweng. Sorry juga nggak ngabarin pas gue nikah soalnya emang acaranya nggak besar-besar banget." Kanya menjelaskan hal yang sama ke teman-temannya termasuk teman kantor.
"Lihat dong fotonya," ujar salah satu dari mereka.
"Yah, udah gue hapus. Ngapain nyimpen foto orang yang udah ninggalin gue," sahut Kanya.
Selesai. Kanya sudah tidak terbebani lagi bagaimana ia harus menceritakannya kepada semua teman-temannya.
Hanya saja ia harus memikirkan bagaimana ia menceritakannya dengan orang tua. Kali ini ia tidak mau berbohong. Karena bagaimana pun juga cepat atau lambat semua akan terbongkar. Apalagi jika anak yang ia kandung sudah tumbuh besar.
[Sayang, malam ini aku minta kamu ke appartement ya. Ada yang harus kita bahas.]
Kanya mengirimkan pesan kepada Donny. Setelah itu ia menaruh ponselnya di meja bar.
Kanya sangat lelah hari ini. Kerjaannya menumpuk. Banyak jumlah laporan komplain dari customer yang harus ia follow up belakangan ini. Tanggung jawabnya sangat besar saat harus memberikan laporan ke direktur. Memang direkturnya merupakan teman lamanya. Tapi ia berusaha untuk tidak mengecewakan temannya agar segala ijin yang ia minta bisa berjalan lancar. Mengingat usia kehamilan Kanya yang butuh banyak waktu untuk kontrol ke dokter.
Kanya bergegas mandi dan berganti baju. Ia memasak makan malam. Lalu memakannya di depan tv.
[Iya, Sayang.]
Donny membalas pesan Kanya.
***
"Ah sayang, aku kangen.." Donny sudah tiba di appartement malam ini. Seperti biasa Donny bilang kepada Resti bahwa ia pulang malam karena ada meeting
"Mmuaah.."
Mereka berciuman kurang lebih 15menit sampai akhirnya Kanya melepasnya.
"Sudah. Bersihkan dulu pakaianmu. Lalu ganti baju," kata Kanya.
Setelah Donny sudah berganti baju, mereka pun lanjut mengobrol di depan TV sambil memakan cemilan.
"Perutku sudah semakin membesar. Kamu tau kan ini. Sudah saatnya memberi tahu kedua orang tuaku. Dan aku tidak mau berbohong lagi kali ini. Aku ingin mereka tau siapa sosok yang menghamili aku. Karena suatu saat mereka pasti akan bertemu dengan anak kita. Oh ya daripada taruh di panti asuhan, lebih baik dititipkan mereka anak kita yang satunya lagi nantinya," jelas Kanya.
"Iya baik. Kalau itu yang kamu mau. Tapi setelah kepulanganku dari Jogja ya. Biar tak ada beban tanggungan saat aku ke Jogja."
"Okey.."
Malam terasa sunyi. Hanya ada mereka berdua. Setelah percakapan itu tanpa pikir panjang Donny segera meraih wajah Kanya. Diciumnya bibir Kanya penuh nafsu. Dipegang pinggangnya. Dan mereka menjalin kasih lagi di malam ini seperti biasa.