"Hot Newss guys!!"
Seorang pria dengan wajah sumringahnya itu berlari pelan memasuki kelas barunya dan mendekati teman-temannya yang tengah bergembira karena dapat satu kelas lagi tahun ini.
"Apasih Gem! Lo gak liat kita lagi happy banget karena bisa sekelas lagi? Bisa gak lo diem dulu tahan semua gosip yang lo bawa itu" ujar Fia salah satu temannya yang protes pada Gema.
"Ini soal Mr. Killer! Yakin lo gak mau denger?"
Mendengar panggilan tersebut, tentu tak membuat Fia saja yang membulatkan matanya penasaran namun beberapa teman-temannya yang berada di belakang mejanya masih sibuk bercerita mulai memperhatikan Gema dan mengerumuninya.
"Apa Gem?" Satria duduk di atas meja dan mulai penasaran mengenai gosip yang sering ia dengar mengenai Pak Keith sewaktu mereka kelas 10.
"Gue baru keluar dari ruang guru dan cari jadwal untuk kelas kita dan kalian harus liat ini!" Gema meletakan satu lembaran jadwal setiap kelas dan menunjuk satu hari di hari jum'at yang semua jadwalnya diisi oleh Pak Keith.
"Mati!! Ini serius?!" Bima kembali melihat jadwal di hari jum'at dan menggeleng dramatis seolah itu adalah akhir dunia.
"Gila kelas kita paling banyak jam pelajaran pak Keith dong!!" Aura yang mencocokan jadwal Pak keith di kelas lain dengan kelas mereka sendiri nampak tak terima dan mengundang anak-anak lain melihatnya.
Meski hanya kelebihan satu jam saja tetap itu merupakan neraka untuk mereka.
Diantara semua kehebohan itu ada satu diantara mereka yang menatap dengan polos dan seolah apa yang mereka lakukan itu satu hal berlebihan.
"Kalian kan belum tau bagaimana cara Pak Keith ngajar kita, kenapa harus bertingkah berlebihan begitu?"
Ucapan Kiara mampu membuat kelima teman-temannya menatap dia dengan kedua mata membulat lebar.
"Kia?! Lo gak pernah denger semua gosip tentang guru itu? Dan lo gak liat gimana jadwal guru itu yang mendominasi hari jum'at di kelas kita?" Aura menggeleng dan berdecak pelan.
"Sepertinya Kiara gak akan percaya kalo belum diajar sama guru itu. Yaudah Kia lo tunggu aja dan rasakan bagaimana cara guru itu mengajar" ucapan Fia dengan tawa ledeknya itu justru membuat perasaan Kia mendadak tak enak.
Sepertinya gosip-gosip mengenai Pak Keith memang benar.
***
"Besok kira-kira Pak Keith masuk gak ya?" celetuk Aura yang berada dalam rangkulan Satria.
"Emang dia bisa gak masuk?" tanya Satria pada Aura yang diangguki gadis itu.
"Bisa sayang! Pak Keith itu pekerjaan utamanya bukan guru"
"Emang iya?" Gema nampak baru mengetahui soal ini.
"Iya, gue sering ikut Papah ke pesta bisnisnya. Terus suka liat Pak Keith di sana. Gue tanya sama Papah kalo Pak Keith itu salah satu pengusaha muda yang sukses besar bahkan perusahaannya bergerak di banyak bidang! Gila sekaya apa dia ya?!"
"Kalo dia udah kaya, buat apa dia ngajar di sini ya?" Fia menendang satu buah kerikil kecil di dekat kakinya, nampak semangatnya hilang karena besok sudah masuk hari jum'at dan mereka akan berhadapan dengan Pak Keith.
"Mau cari dede emesh kali" ucapan Gema itu membuat Fia dan Aura sontak memukulnya.
"Kia diem aja! Mikirin apa si?" lengan Kia disenggol oleh Bima yang sedari tadi memperhatikannya, hanya dia yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Kia menoleh pada Bima dan pada teman-temannya yang kini menatap ia dengan raut penasaran.
"Ahh ... Enggak, gue cuman pusing aja"
"Lo gapapa Ki? Mau gue temani ke uks?" Fia mendekat pada Kiara dan memegang dahi temannya itu namun Kiara tersenyum tipis dan menggeleng.
"Gapapa Fi, gue sehat kok. Cuman sedikit pusing, ada sedikit masalah di rumah"
"Lo benar gapapa Ki?" Bima nampak ikut memegang kepalanya namun Kiara menggeleng dan menurunkan tangan Bima dari kepalanya.
"Gue gapapa. Yaudah yuk balik ke kelas" Pandangan Kiara tertuju pada sesosok pria yang berdiri jauh dari hadapannya dengan senyum yang bisa Kiara bayangkan bagaimana rupanya.
Ia menggeleng kuat dan memilih berbalik lebih dulu meninggalkan teman-temannya lebih dulu.
***
Malam itu, entah bagaimana Kiara yang dipaksa berdandan rapih dan cantik karena ada tamu penting yang berkunjung ke rumahnya.
Awalnya Kiara masih belum mengerti kedatangan tamu tersebut untuk apa dan mau apa ke rumahnya, namun karena dia menurut pada kedua orangtuanya yang menyuruhnya berdandan rapih ia sama sekali tak berpikir maksud dan tujuan tamu tersebut.
Dan ketika tamu tersebut datang, di situlah Kiara kaget serta tak percaya pada siapa yang datang.
Guru sekaligus seseorang yang selama ini tak pernah ia pikir akan kenal dengan keluarganya itu datang berkunjung.
Keith Wilson, pria itu beserta kedua orangtuanya yang ternyata Boss Papah dan sahabat dekat Mamah, mengobrol dengan ramah membahas masalalu dan pekerjaan.
Hanya Kiara yang seperti patung hidup karena dia sendiri yang tak mengerti apa yang dibicarakan serta berada dalam suasana canggung karena dekat dengan gurunya sendiri.
Meski malam itu hanya pembicaraan singkat tentang kabar dan silaturahmi, namun Kiara mendengar kedua orangtua tersebut membicarakan soal besan yang tak ia mengerti apa maksudnya.
Terlebih bagaimana Pak Keith, guru bahasa inggrisnya itu selalu meliarkan pandangan mata padanya yang tak jarang membuat tubuhnya kepanasan. Karena merasa di kedua mata gurunya terdapat laser panas yang seolah membakar tubuh jika hanya ditatap selama beberapa detik.
***
"Ngelamun terus deh! Kenapa sih?" Kiara terlonjak kaget saat Fia menyenggolnya dan mengejutkannya dari lamunannya.
Kini mereka sedang berada di kelas, dan Kiara nampak melamun di saat satu guru di depan sana tengah menjelaskan materi yang akan dipelajari mereka di kelas 11 ini.
"Maaf ..." Kiara meringis pelan, dan membuka buku pelajarannya untuk menyimak guru di depannya.
Kiara tak mau lagi terbengong dan memikirkan maksud kedatangan Keith ke rumahnya beberapa hari lalu, yang terus menghantuinya karena penasaran.
***
"Pulang sekolah nih, kalian gak mau pergi kemana gitu?" Gema yang sudah selesai membereskan buku-bukunya ke dalam tas itu memakai tasnya dan menatap kelima temannya yang sibuk membereskan buku-bukunya.
"Maaf Gem, gue harus pulang cepat. Mau ada acara keluarga" ujar Kiara tanpa memperhatikan Gema.
"Mau pacaran Gem!" Kali ini Satria yang berujar sembari merangkul bahu Aura yang tersenyum meledek pada Gema yang berdecih geli serta sebal terhadap dua teman bucinnya itu.
"Fia, Bima? Kalian bisa kan temani abang Gema bermain di Mall?" kali ini tatapan Gema beralih pada Bima dan Fia yang sayangnya dua-duanya menggeleng menolak.
"Gue mau jagain kucing gue di rumah"
"Gue juga ada tugas harus mandiin burung bokap gue, bye Gem" Bima melambai pada Gema dan meninggalkan teman sebangkunya itu dan keluar lebih dulu, diikuti Satria dan Aura yang saling bergandengan lalu Kiara serta Fia.
Gema mendesis dan mencoba sabar memiliki teman-teman yang meninggalkannya sendiri.
"Untung kalian sahabat gue! Kalo gak gue cabik-cabik nih!" Gema mengambil tasnya dan berlari keluar untuk menyusul teman-temannya tersebut.
***
Kiara memasuki rumahnya dan melihat Mamahnya yang tengah memasak di dapur dibantu dengan dua pelayan rumahnya.
"Mah?" Kiara memanggil Mamahnya itu dan wanita baya dengan senyum cerianya itu menyambut Kiara hangat.
"Hai sayang, sudah pulang anak Mamah" Mamah Rima, mendekati Kiara dan menemani Kiara ke kamar gadis itu karena ada sesuatu yang mau ia bicarakan.
"Bagaimana sekolah hari ini?" Tanyanya yang merupakan kebiasaannya untuk menanyakan keseharian Kiara.
"Menyenangkan, semua teman-teman Kiara menghibur Kiara" Kia tersenyum senang memikirkan teman-temannya itu. Dia membuka setiap kancing seragamnya itu dan membukanya untuk menggantinya dengan kaos rumahan.
"Kia tau bukan, nanti malam keluarga Wilson akan kembali datang ke rumah kita?"
Kiara mengangguk pelan dia tau soal itu. "Iya Mah, Kiara tau. Tapi kenapa belakangan hari ini Pak Keith dan keluarganya selalu ke rumah kita Mah?"
Kiara duduk di sebelah Mamahnya yang duduk di ranjangnya setelah ia menggantungkan seragam sekolahnya di pintu lemari kamarnya.
"Nak, apa kamu tidak bisa menangkap pembicaraan keluarga kita kemarin?" Rima membelai rambut Kiara dan menatap putrinya itu dengan tatapan dalam.
"Kalian hanya bertemu kangen dengan teman lama. Dan aku hanya sangat canggung karena tak percaya jika anak teman kalian itu guruku sendiri"
"Jadi kamu belum menangkap maksud pertemuan dua keluarga ini Kiara?"
Kiara mengangguk yakin, dia memang masih abu-abu mengenai ini.
"Kiara, kami mau menikahkan kalian"
Seolah ada petir yang menyambar kepalanya, Kiara terpaku sejenak setelah mendengar apa yang Mamahnya itu katakan.
Siapa yang mau dinikahkan?
Bukan dia 'kan?
Kiara masih duduk di bangku kelas 11 dia bahkan baru saja kemarin mendapat pembagian kelas namun mengapa ia sudah mendapat berita tak mengenakan ini?
"Mah ..."
"Mamah dan Papah sudah tau jika kamu tidak siap Nak, tapi kami sudah berdiskusi dan memikirkan semua masa depanmu"
Kedua mata Kiara berkaca, sudah jelas bahwa dia yang akan dinikahkan. Kiara tidak siap dan tidak akan pernah siap saat ini. Usianya masih dini dan dia tidak akan mampu menandingi calon suaminya dari segi apapun.
"Kia gak mau Mah ... Kia gak mau nikah!" Kiara menangis dan menunduk menggenggam tangan Mamahnya erat.
"Tidak dalam waktu dekat ini Kia ..." Kiara masih menggeleng kuat dan menolak kuat keputusan kedua orangtuanya yang akan menikahkannya.
"Kia gak mau Mah!!!" isaknya makin kuat ketika membayangkan terhadap apa yang kini tengah ia hadapi.
Keluarga Keith Wilson datang ke kediaman keluarga Dewangga.
Dan sayangnya penampilan Kiara sama sekali tak baik.
Kedua matanya bengkak karena terlalu lama menangis, lalu senyum yang tak bisa Kiara pasang di wajah karena kini dia sudah tau apa tujuan keluarga gurunya itu datang ke rumah.
"Selamat malam Kiara sayang" Shenina, Mamah dari gurunya itu menyapa Kiara yang harus memaksakan senyum manisnya.
"Malam Tante" Kiara tak tau bagaimana raut wajahnya kali ini. Dia tak berani menatapkan matanya pada sosok laki-laki tinggi yang ia tau terus memandangnya semenjak ketiga manusia ini memasuki rumahnya dan duduk di sofa ruang tamu rumahnya.
"Jangan panggil Tante Kiara, panggil aku Mamah dan Papah juga. Kami kan sebentar lagi juga mau jadi orangtua kamu sayang"
Mendengar itu Kiara mengangkat pandang dan tanpa sengaja kedua matanya bertabrakan dengan sorot tajam yang Keith Wilson berikan.
Jantung Kiara berdebar kuat, dan kemampuannya yang mau membantah tadi kembali ia bungkam di tenggorokan.
"Bagaimana Keith? Kamu mau ajak Kia jalan malam ini?" celetukan Dewa, Papah Kiara membuat Kiara kembali mengangkat kepala untuk melihat Papahnya itu.
Memberikan penolakan jelas di sepasang bola matanya namun sulit untuk ia keluarkan di bibir.
"Boleh Om, Keith mau ajak Kiara jalan sekarang"
Kedua orangtua itu saking lirik dengan senyum lebar saat melihat Keith bangkit dan menyerahkan tangannya untuk Kiara gandeng.
Mereka membutuhkan waktu untuk bicara, namun Kiara nampak enggan dan terlihat keberatan jika harus pergi berdua saja dengan Keith.
"Ayo Kiara! Keith menunggu!" bisikan Mamahnya itulah yang membuat Kiara mau tak mau mengambil tangan Keith dan membiarkan saat tangan besar itu menggenggam telapak tangannya dan menariknya keluar dari ruang tamu rumahnya.
"Ambil waktu kalian sebanyak mungkin!"
Kiara masih bisa dengar godaan yang terlontar dari Bram, Papah Keith dan Papahnya yang tak henti bersautan untuk menggoda dia dan Keith.
***
Kiara tak tau ini kali berapa ia menghembuskan napas beratnya. Karena setelah ia dan Keith keluar dari rumah, keduanya tak ada yang memulai pembicaraan hingga langkah kaki yang membawa mereka menjauh dari kediaman rumah mulai terhenti ketika melewati taman bermain kecil di dekat komplek perumahan Kiara.
"Pak ..." Akhirnya Kiara memberanikan diri membuka suara, karena ia mulai merasa canggung terhadap Keith dan genggaman tangan mereka yang masih saling bertaut.
"Aku senang mendengar suaramu akhirnya keluar" Keith membawa Kiara ke sebuah ayunan dan mendudukan dirinya di sana dengan Kiara yang berdiri di sebelahnya.
"Duduklah" tunjuk Keith pada satu ayunan di sampingnya.
Kiara tak menolak dan ia mendudukan dirinya di ayunan tersebut.
"Pak Keith-"
"Menurutmu bagaimana Kiara? Apa kamu setuju dengan rencana pernikahan kita ini?"
Kiara nampak terkejut mendengar Keith lansung berbicara tanpa berbasa-basi padanya.
Kiara hanya diam menunduk, kakinya saling bertaut dan sesekali mengais tanah di bawahnya.
Hingga mengundang Keith untuk menatapnya.
"Kiara?"
Panggilan Keith membuat Kiara menatapnya dengan kedua mata berkaca, dan Kiara memberikan gelengan pelan pada Keith.
"Maaf Pak ... Saya masih sangat syok dengan berita ini." jujur Kiara.
"Aku paham bagaimana perasaanmu saat ini Kiara, tapi bagaimanapun juga kedua orangtua kita sudah saling setuju tentang ini"
Apa yang Keith katakan justru makin membuat Kiara tertekan.
"Tapi kenapa Bapak mau? Bapak tau saya siapa kan?" Kiara mulai memberanikan diri bertanya pada Keith mengenai alasan dan mencoba membujuk Keith agar menolak perjodohan ini.
"Kamu muridku di sekolah, tapi di luar tentu bukan itu statusmu" Pandangan Keith nampak begitu tajam menatap pada Kiara.
"Jarak usia kita bahkan sangat jauh Pak, apa Bapak masih mau melanjutkan perjodohan ini? Apa Bapak tidak punya kekasih? Bukankah Bapak dan Miss Nesi berkencan?" tanya Kiara yang mencoba meyakinkan Keith.
Dan Miss Nesi adalah salah satu pengajar di sekolahnya yang digosipkan dekat dengan Pak Keith di sekolah karena mengajar di bidang yang sama.
"Pertama Kia, aku mau menuruti semua yang kedua orangtuaku pinta dariku, dan mereka mau melaksanakan perjodohan ini karena mau berbesan dengan keluargamu. Lalu kedua, aku tidak pernah menjalin kasih dengan wanita manapun di sekolah. Dengan Nesi hanya sebatas pekerjaan" Jelas Keith pada Kiara yang merasa takjub karena mendengar Keith mengeluarkan banyak suara hanya untuk menjelaskan padanya.
"Tapi Pak ... Anda guru saya, akan sangat canggung bagi saya melihat anda di sekolah dan di rumah seperti sekarang-"
"Lama-lama kamu akan terbiasa Kiara."
Namun bagi Kiara, ia tidak bisa membedakan Keith yang ia temui di sekolah dan di rumah.
***
"Mana si Kiara?! Gila ini udah mau jam 7 tapi batang idung tuh anak belum muncul!" Aura mengintip melalui jendela kelasnya dan berharap sosok Kiara segera datang karena hari ini adalah hari Keith.
Kenapa diberi nama seperti itu? Karena memang satu hari ini Keith mendominasi pelajaran di kelas mereka.
"Kamu bisa jatuh kalo berdiri di ujung meja seperti itu Ra" Satria menarik pelan tangan Aura saat merasa bahwa Aura terlalu berjinjit di kaki meja dan takut jika gadis itu tersungkur.
"Kiara belum datang Ra?" kali ini Fia yang merasa cemas jika temannya terlambat di hari pertama Keith mengajar di kelas mereka.
"Mati!! Pak Keith datang!!" Aura membulatkan matanya dan turun dari atas meja untuk kembali ke tempat duduknya.
Banyak murid yang kalang kabut untuk membetulkan posisi duduknya dan mencoba merapihkan meja serta posisi mereka.
"Morning!"
Keith masuk ke dalam kelas dengan sapaan hangatnya, membuat beberapa murid perempuan mendesis senang serta tersenyum penuh pesona pada Keith yang pagi ini terlihat tampan dan tentu saja menggoda.
Terlihat bagaimana otot-otot sempurna yang terbalut kemeja lengan panjangnya yang dilipat ke siku dan dada bidangnya yang mampu membuat semua siswi menelan salivanya.
"Kita absen terlebih dahulu ya" ujar Keith yang memegang buku absen kelas di tangannya dengan kedua mata yang mulai meliarkan ke segala arah sampai terhenti di satu bangku kosong di samping Fia.
"Dimana teman sebangkumu?" tanya Keith pada Fia yang gugup untuk sekedar menjawab pertanyaan simple seperti itu.
"Ehm ... Sepertinya ter-"
"Pagi Pak, maaf saya terlambat"
Belum selesai Fia berbicara, sosok gadis yang berdiri di depan pintu kelas dengan napas memburu dan keringat di dahi mengalihkan setiap pandang mata kelas.
Teman-temannya hanya bisa berkata dalam hati dan mendoakan nasib baik untuk orang yang terlambat itu.
Keith memasang senyum miring di bibirnya. Ia menyandarkan tubuhnya pada ujung meja dan menatap lekat pada sosok gadis yang terlambat di kelasnya.
"Kamu tau bel masuk berbunyi jam berapa?"
Lirikan mata gadis itu pada teman-temannya nampak tak membantu karena mereka semua hanya memberikan dukungan melalui gerak tangan dan tanpa suara.
"J-jam 7 pagi Pak, tapi maaf saya terlambat karena pagi tadi ada masalah-"
"Saya gak mau mendengar alasan apapun. Kamu terlambat dan kamu salah"
Keith mengambil absen kelas dan berjalan mendekat pada sosok gadis terlambat yang masih berdiri di depan pintu kelas.
"Kiara Dewangga? Kamu terlambat di hari pertama saya mengajar. Jangan kamu pikir karena ini hari pertama, kamu akan bebas dari hukuman. Tentu tidak, kamu pergi keluar dan tulis permohonan maafmu di kertas sebanyak 10 lembar lalu berikan ke saya. Tidak boleh masuk sebelum kamu menyelesaikan hukumanmu"
Keith melepas pandang dari name-tag yang berada di dada kiri Kiara dan melirikan matanya pada sepasang mata Kiara yang menatapnya marah dan kesal namun tak bisa memberontak.
"Cepat nona Kiara! Jika kamu masih bertahan di sana kamu tidak akan bisa mulai hukumanmu"
Kiara mengerjap pelan dan berbalik keluar kelas.
Sepeninggal Kiara ruangan kembali hening dan Keith mulai menoleh memperhatikan setiap muridnya yang menunduk dalam.
"Ini peringatan untuk kalian semua. Ini baru hukuman kecil karena terlambat di kelasku! Jika tak mau kena hukuman jangan berbuat aneh-aneh ataupun melanggar sesuatu yang sudah ku atur!"
"Baiklah kita mulai absennya!"
Teman-teman Kiara nampak meringis pelan, perlahan gosip mengenai Keith yang kejam dan suka memberi hukuman terbukti benar.
Itu membuat mereka semua mulai waspada dan berusaha agar tak berurusan lebih dengan seorang Keith Wilson.
***
"Sumpah ya!! Pak Keith daripada jadi guru mending jadi dosen aja deh! Kejam banget gak ada simpati sedikit!"
Omelan Fia diangguki kuat oleh Aura dan Gema yang mendengarnya. Tadi setelah jam pelajaran kelima berbunyi, Kiara baru bisa masuk ke kelas setelah letih menulis berlembar-lembar halaman ucapan permohonan maaf dan penyesalan karena terlambat.
Namun sekembalinya Kiara ke kelas betapa malangnya teman mereka yang harus kembali menulis karena Pak Keith memberikan banyak rangkuman pelajaran mereka.
Kiara yang hanya bisa diam dan mengerjakan membuat teman-temannya marah namun sayang tak bisa melawan.
"Yaa, mau gimana lagi, ini sekolah juga punya bapaknya! Doi jadinya bebas" celetuk Bima yang diangguki Satria dan Fia.
Mereka cukup tau jika yayasan sekolah ini memang milik keluarga Wilson.
"Mana nanti masih ada pelajaran tuh guru killer lagi sampe pulang! Duhh otak dan hati gue, kalian harus kuat dan sabar ya!!" Gema menyemangati dirinya sendiri yang justru menjadi penghibur teman-temannya.
"Lo gapapa Ki? Tangan lo sakit gak?" Bima nampak iba melihat Kiara yang memijat lengannya karena terlalu lama menulis dan pasti pegal.
"Gue gak papa Bim, pegal sedikit doang kok"
Bima menarik pulpen dan buku milik Kiara. "Kalian ke kantin aja sana, makan. Biar gue lanjutin catatan lo"
Kiara menggeleng, ia tak bisa membiarkan Bima melanjutkan pekerjaannya, namun sayang Bima tak mau mendapat penolakan.
"Fia, Aura! Bawa Kiara ke kantin sana. Kasian dia belum makan"
Fia dan Aura mengangguk kuat mereka setuju, karena sedari tadi saat Kiara diajak beli makan gadis itu selaku menolak dan memilih menyelesaikan tugasnya.
"Ayo Kia! Lo bisa pingsan kalo gak makan! Biar Bima aja yang lanjutin catatan lo!"
Akhirnya setelah sedikit paksaan, Kiara berhasil dibujuk dan pergi ke kantin untuk membeli makan.
Bima tersenyum tipis melihat Kiara yang ditarik pergi bersama kedua teman gadisnya itu.
"Jadi kapan mau majunya?"
Bima melirik Satria yang menaikan alis menggodanya.
"Apasih lo!" Bima mencoba mengabaikan Gema dan Satria yang saling melirik geli padanya.
Bima kini melanjutkan tulisan Kiara pada catatannya.
"Bim, lo nahan perasaan lo dari SMP tapi gak pernah berani buat nyatain ke orangnya! Cupu lo ah!"
Bima berdecak pelan dan mencoba abai pada ledekan teman-temannya.
"Berisik kalian!"
Kedua temannya hanya tertawa melihat Bima yang terus menahan perasaannya sendiri namun merasa lucu karena Bima tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan.
Kiara tengah belajar di meja belajarnya jika saja panggilan sang Mamah tak mengacaukan pikirannya.
"Kiara sayang" wajah Rima muncul di pintu kamarnya membuat Kiara menghentikan gerak tangannya yang tengah menulis.
"Iya Mah?" Kiara menoleh ke arah pintu memperhatikan bagaimana Mamahnya yang mendekat ke arahnya dengan senyum yang sudah Kiara tau apa artinya.
"Kenapa belum siap sayang? Sebentar lagi Keith akan datang loh"
Kiara kini sudah sepenuhnya menatap pada Mamahnya yang menarik satu kursi untuk duduk dekat Kiara.
"Mah, ini sangat mendadak, boleh Kiara menolak?"
Rima mengusap rambut Kiara tanpa bisa memandang wajah serta kedua mata putrinya itu. "Mah! Kiara belum siap! Kiara tidak akan siap dengan apa yang akan Kiara jalani sebentar lagi!" Kiara menangkup tangan Mamahnya dan meletakannya di atas pangkuannya, meminta Rima untuk menatap kedua matanya.
"Mah! Tolong Kiara batalkan rencana perjodohan ini, setidaknya beri ruang untuk Kiara bernapas, ini sangat mendadak dan terasa buru-buru Mah!"
Rima hanya memandang Kiara tanpa ekspresi, wanita itu justru mengalihkan pandang tak mampu menatap putrinya yang sudah menangis di kursinya.
"Kiara! Kami melakukan ini untuk kebaikanmu! Keith orang yang tepat untukmu"
Kiara menutup wajahnya dan menggeleng, isak tangisnya kembali berderai keluar. "Kiara gak mau Mah! Kiara gak mau dijodohkan!"
"Kiara!! Berhenti menangis dan jangan bersikap seperti anak kecil! Tolong Kiara bukan hanya kamu yang berada dalam kesulitan!" Rima terpaku akan ucapannya sendiri.
Sementara Kiara menghentikan tangisnya dan menatap Mamahnya dengan raut bingung. "Maksud Mamah apa?" Kiara berkerut kening tak mengerti akan ucapan Mamahnya itu. "Kamu cepat siap, jangan membuat Keith menunggu"
Rima terlihat menghindari Kiara, dan tak membiarkan Kiara mencari tau apa maksud ucapannya tadi karena kini Rima sudah meninggalkan Kiara sendiri di dalam kamarnya.
Kiara membersit cairan yang keluar dari hidungnya dan menatap kosong pada pintu kamarnya yang sudah Mamahnya tutup barusan.
Kiara sendiri juga tak berupaya mencari tau apa maksud perkataan Mamahnya tadi.
***
Wajah Kiara terlihat pucat saat ini, terlebih ketika dia melihat sosok Keith yang sudah ada di ruang tamu rumahnya dan tengah menantinya untuk pergi bersama ke toko perhiasan untuk mencari cincin.
Keduanya akan melangsungkan pertunangan yang akan terlaksana bulan depan, betapa cepat dan dadakannya hal yang membuat Kiara lemas serta bingung untuk menurutinya.
Karena menolak, merengek dan memohon sudah Kiara lakukan kepada kedua orangtuanya namun tak satupun dari rengekan, dan permohonannya yang dikabulkan.
Keith tersenyum manis saat melihat Kiara turun dari lantai atas rumahnya menuju ke arahnya dengan wajah pucat tanpa rona.
"Itu dia Kiara, maaf ya Keith kamu jadi harus menunggu lama"
Keith hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan "sama sekali tak menunggu lama Mah" Rima kemudian bangkit dari duduknya demi berjalan mendekat pada Kiara yang masih berdiri di atas tangga itu.
"Ayo Kiara cepat!" tangan Kiara digenggam dan dibawa kepada Keith yang sudah bangkit berdiri menyambut Kiara dengan senyum mempesonanya yang biasanya mampu menaklukkan wanita, tap sepertinya senyum ini nampak tak mempan pada Kiara. "Mah, aku pinjam Kiaranya ya?" Rima mengangguk kuat dan mengizinkan Keith membawa Kiara satu hari ini. "Silahkan Keith, tapi pulangnya jangan malam-malam ya. Besok Kiara masih sekolah"
Keith tersenyum dan mengangguk, dia akan membawa Kiara pulang sebelum tengah malam.
Layaknya Cinderella yang akan berubah, akan Keith antar pulang dengan selamat gadis di genggaman tangannya ini.
***
"Kamu suka yang mana?" tanya Keith dengan pandangan mata yang meneliti setiap perhiasan di etalase kaca di depannya itu.
Kiara yang sedari perjalanan mereka tak membuka suara kini harus terpaksa membuka suaranya karena pertanyaan Keith.
"P-pak, saya tidak tau" bukan memilih, Kiara justru melayangkan kebingungannya, tubuh Kiara panas dingin dan dia sangat gugup berada di dekat Keith Wilson.
"Kiara, jangan panggil aku Pak! Aku calon tunanganmu sekarang!" Keith menggenggam erat jemari Kiara dengan pandangan mata yang menghunus pada kedua mata Kiara nampak tajam, namun Keith menutupnya dengan senyum manis di bibir yang justru makin membuat Kiara ketakutan.
"Pilih model yang kamu suka, aku akan menuruti semuanya" Keith mengusap punggung tangan Kiara di genggaman tangannya, sebelum dia berbicara pada pelayan toko untuk melayani Kiara dengan baik dan menuruti semua yang Kiara perintahkan.
Kiara menatap banyak model cincin dari etalase kaca di depannya, ia memilih asal model yang ditunjuknya karena memang Kiara bingung dan kepalanya pusing. Ia ingin cepat pulang dan tidur di rumah. Mau menghilangkan pikiran beratnya yang beberapa hari ini seolah memaksa otaknya untuk menerima apa yang tengah terjadi di hidupnya.
"Kamu yakin dengan pilihanmu itu?" sosok Keith yang muncul dari belakangnya dengan suara berbisik lirih di telinganya membuat tubuh Kiara menegang sejenak dan ia mengangguk kuat tak berani menatap pada sosok Keith.
"Pilihanmu itu terlalu sederhana Kiara, permatanya sangat kecil, pilihlah lagi" Keith terlihat tidak setuju dengan cincin yang Kiara pilih karena memiliki bandul permata begitu kecil.
Menurut Keith dia bisa membelikan Kiara cincin dengan berlian besar andai Kiara mau, tapi Keith mau Kiara memilih sendiri model cincin yang Kiara suka.
"Aku- Aku tidak tau, aku bingung" lirih Kiara yang kedua matanya mulai berkaca karena merasa begitu bingung untuk memilih model cincin yang disukanya.
Tanpa terasa tetes air matanya justru turun yang membuat kening Keith berkerut tajam. "Hei ada apa? Kenapa menangis?" Keith memutar tubuh Kiara agar menatapnya, namun isakan Kiara justru mengalun makin kuat.
Keith tak mengerti mengapa Kiara menangis, ia menatap pada pelayan toko yang menatap dia sama kagetnya akibat tangis Kiara dan Keith juga tak bisa menyalahkan mereka yang kebingungan sama sepertinya.
"Kiara ada apa?" Keith mengusap air mata Kiara dan mencoba berbicara halus pada Kiara yang sudah ia tau tengah dalam perasaan labil serta kekanak-kanakan. Inilah resikonya, namun Keith mengambil semua resiko tersebut demi bisa bersama Kiaranya.
Karena tangis Kiara masih berderai hebat, Keith memilih menggendong Kiara dan dibawa keluar dari Mall untuk menuju ke mobilnya.
***
Dengan perlahan Keith menurunkan Kiara untuk duduk di mobilnya, sebelum kemudian dirinya beranjak ke kursi kemudi.
Tangis Kiara masih berderai meski tak sehebat tadi saat di toko perhiasan. Keith masih duduk diam menatap Kiara yang tengah membersihkan sisa air mata di pipi dan wajahnya.
Gejolak hati Kiara tengah mendominasi dirinya hingga ia sulit mengontrol dirinya dalam emosinya.
"Sudah selesai? Apa hatimu masih bersedih Kiara?" Keith bertanya dengan satu tangannya yang ia jangkau untuk mengusap wajah basah Kiara.
Kiara hanya mampu mengangguk pelan dan mencoba mengusir tangan Keith yang masih ada di wajahnya, Kiara masih merasa tak nyaman bisa sedekat ini dengan orang yang ia anggap gurunya di sekolah.
"Bisa beritahu aku apa yang terjadi?" Keith mencoba menahan kekesalannya karena Kiara menolaknya, dan bertanya dengan nada halus pada Kiara yang masih terisak sedih tanpa mau membuka bibirnya untuk berbicara padanya.
"Kiara, kamu tau bukan jika ada seseorang yang bertanya kamu harus menjawabnya? Aku bertanya padamu, apa yang terjadi sampai kamu menangis?"
Keith memaksa Kiara agar menatapnya dan betapa leganya saat Kiara sudah memberikan seluruh perhatiannya pada Keith.
"Saya masih syok Pak ... Saya belum siap sama semua ini ... Boleh kita hentikan semua ini?" Jujur Kiara yang mengeluarkan semua isi hatinya tentang ketidak siapannya menjalani perjodohan ini.
Keith terdiam sejenak. Hentikan? Keith tersenyum tipis, dia sudah menunggu cukup lama dan dengan mudahnya Kiara meminta ia untuk berhenti? Dan haruskah Keith mewujudkannya?
Tentu jawabannya tidak.
"Kiara kita sudah dijodohkan, kita tidak bisa menentang permintaan kedua orangtua kita"
Kiara kembali menutup wajahnya saat air matanya kembali terurai sedih.
"Memang apa yang kamu tangiskan? Apa kamu sangat tidak setuju berjodoh denganku? Apa kamu membenciku Kiara?" tanya Keith dengan nada terluka yang mampu membuat tangis Kiara terhenti diganti dengan perasaan bersalah mendengar nada penuh kesedihan dari ucapan Keith barusan.
"Bukan begitu Pak ... Saya ... Saya hanya-"
Keith mengangguk mengerti dan ia menarik tubuh Kiara untuk masuk ke dalam pelukannya, memeluk gadis itu erat hingga Kiara kembali menangis dalam pelukannya.
"Aku tau masih sangat berat untukmu. Tapi aku mau kamu mencoba menerimanya Kiara, kita jalani ini berdua" Keith membelai lembut kepala Kiara membiarkan gadis itu menangis di dadanya dan membasahi kemejanya.