Sampul Novel Jangan Pernah Menyentuh Anakku

Jangan Pernah Menyentuh Anakku

9.5 / 10.0
Demi masa depan sang putra, Aurora Elenna terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan Kaelan Dirgantara, CEO dingin yang dahulu merusak hidupnya. Kaelan tidak tahu bahwa anak itu adalah darah dagingnya sendiri. Kini, Aurora kembali memakai identitas baru untuk melawan ancaman Selina Pramudya. Di tengah perebutan harta dan rahasia besar, Aurora bimbang antara menuntut balas atau jujur saat Kaelan mulai curiga pada sosok istri kontraknya.

Jangan Pernah Menyentuh Anakku Bab 1

Langit Jakarta pagi itu berwarna kelabu, seolah tahu bahwa hari ini bukan hari biasa bagi Aurora Elenna.

Langkah kakinya terdengar mantap di lantai marmer lobi Dirgantara Group, gedung 62 lantai yang menjulang gagah di tengah hiruk pikuk ibu kota.

Enam tahun.

Enam tahun sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di sini-bukan sebagai karyawan, tapi sebagai kekasih yang ditinggalkan tanpa penjelasan.

Kini, ia kembali.

Bukan untuk meminta penjelasan.

Bukan pula untuk menuntut balas.

Tapi untuk menuntaskan permainan yang dulu dimulai tanpa izin darinya.

"Selamat pagi, Bu..." sapa resepsionis dengan senyum profesional. "Nama dan divisi tujuan?"

Aurora membalas dengan senyum sopan. Rambutnya kini hitam gelap, bukan cokelat karamel seperti dulu. Wajahnya yang dulu manis kini memancarkan ketenangan dingin.

"Elenna Arista," jawabnya pelan, menyebut nama samarannya. "Divisi Eksekutif, Sekretaris CEO."

Senyum si resepsionis menegang sedikit, jelas kaget. "Sekretaris CEO? Wah... selamat datang, Bu Elenna. Silakan langsung ke lantai 58, ruang tunggu eksekutif. Asisten pribadi Pak Kaelan sudah menunggu."

Aurora mengangguk dan melangkah ke lift.

Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Nama itu-Kaelan Dirgantara-masih punya daya aneh untuk mengguncang hatinya, meski ia sudah bersumpah tak akan goyah lagi.

Saat pintu lift tertutup, pantulan wajahnya di dinding logam terlihat sempurna: tegas, terlatih, tak menunjukkan rasa takut sedikit pun.

Ia menatap bayangan itu lama.

"Tenang," bisiknya pada diri sendiri. "Kau bukan Aurora yang dulu. Sekarang kau yang memegang kendali."

Lantai 58 menyambutnya dengan aroma kopi mahal dan parfum maskulin.

Langit-langit tinggi, kaca besar membingkai pemandangan Jakarta, dan suasana hening khas ruang eksekutif-semuanya membuatnya sedikit mual. Tempat ini tak banyak berubah.

Yang berubah hanyalah dirinya.

"Selamat pagi, Bu Elenna." Seorang pria muda dengan jas hitam menghampiri, senyumnya ramah tapi kaku. "Saya Daryl, asisten pribadi Pak Kaelan. Beliau sedang rapat dengan dewan direksi. Tapi beliau meminta saya memastikan Ibu merasa nyaman sebelum wawancara singkat nanti."

Aurora mengangguk. "Terima kasih, Daryl. Saya tidak keberatan menunggu."

Daryl menawarkan secangkir kopi, lalu pamit sejenak.

Begitu ia pergi, Aurora menarik napas panjang dan memejamkan mata.

Ia tahu betul, Kaelan bukan pria yang mudah percaya pada siapa pun-terutama wanita. Apalagi setelah pengkhianatan masa lalu yang, di matanya, dilakukan oleh Aurora sendiri.

Senyum tipis terlukis di bibirnya.

Ia masih ingat bagaimana enam tahun lalu, tuduhan itu menghancurkannya-dan bagaimana ia pergi membawa rahasia yang bahkan Kaelan tak sempat mengetahuinya: ia mengandung anaknya.

Ravi.

Putra kecil yang kini menjadi satu-satunya alasan ia masih berdiri.

Pintu ruang rapat terbuka.

Langkah-langkah berat terdengar keluar. Suara sepatu pantofel, percakapan singkat, lalu keheningan lagi.

Aurora menegakkan punggung. Ia tahu siapa yang akan keluar terakhir.

Dan benar-beberapa detik kemudian, Kaelan Dirgantara muncul di ambang pintu.

Waktu tampaknya memperlakukannya dengan istimewa. Tubuh tegap itu kini semakin berisi, wajahnya lebih tajam, rahang tegasnya tampak lebih kokoh dari dulu. Jas hitamnya pas di tubuh, kemeja putihnya licin tanpa cela. Tapi yang paling membuat Aurora tersentak adalah tatapan itu-tatapan dingin penuh kuasa yang dulu pernah ia kenal dari jarak yang terlalu dekat.

Kaelan meliriknya sekilas, lalu berhenti.

Tatapan mereka bertemu.

Dalam sepersekian detik, waktu seperti berhenti.

Aurora menahan napas, tapi wajahnya tetap datar. Ia memastikan tak ada satu pun ekspresi yang bocor.

Kaelan menatap lebih lama. Alisnya sedikit berkerut.

"Mengapa wajahmu terasa familiar..." gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Aurora segera berdiri dan menunduk sopan. "Selamat pagi, Pak Dirgantara. Saya Elenna Arista, sekretaris baru Anda."

Nama samaran itu menembus udara di antara mereka seperti tameng.

Kaelan mengangguk tipis, ekspresinya datar lagi. "Elenna Arista. Baik. Ikuti saya."

Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan masuk ke ruangannya.

Aurora menahan diri agar tak menatap punggung pria itu terlalu lama.

Dunia memang punya selera humor aneh-menempatkannya kembali di bawah kendali pria yang dulu menghancurkan hatinya.

Ruang kerja Kaelan besar, minimalis, dan dingin.

Dinding kaca menampakkan seluruh cakrawala Jakarta. Di sisi lain, meja kerja besar dari kayu hitam menguasai ruangan, dengan tumpukan dokumen rapi dan monitor besar.

"Duduk," ucap Kaelan tanpa menatapnya.

Aurora duduk dengan tenang. Tangannya diletakkan di pangkuan, sementara tatapannya diam-diam mempelajari pria di depannya.

"Daryl mengatakan Anda direkomendasikan langsung oleh HR pusat di London?" Kaelan membuka map, membaca data. "Rekam jejak Anda bagus. Efisien, terorganisir, multibahasa, dan... tidak banyak bicara. Saya suka itu."

Aurora menahan diri untuk tidak tersenyum.

Ia tahu data yang ia susun sempurna-identitas palsu dengan latar pendidikan fiktif di Inggris, semua tersamarkan rapi di bawah nama Elenna Arista.

"Saya hanya ingin bekerja sebaik mungkin, Pak," ucapnya datar.

Kaelan menatapnya sekilas, tatapan matanya menelisik seperti hendak menembus dinding samaran itu. "Bagus. Karena bekerja untuk saya bukan hal mudah. Saya tidak suka kesalahan, apalagi alasan."

"Saya mengerti."

"Dan satu hal lagi," lanjut Kaelan, suaranya turun satu oktaf. "Saya tidak mencampur urusan pribadi dengan profesional. Jadi, jangan mencoba menarik perhatian dengan cara apa pun. Saya sudah terlalu sering menghadapi sekretaris yang-berambisi lebih."

Nada itu tajam, bahkan sedikit sinis.

Aurora menatapnya tenang, meski dalam hati ada getaran aneh.

"Tidak perlu khawatir, Pak. Saya tidak tertarik pada apa pun selain pekerjaan."

Untuk sesaat, Kaelan menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya-ragu, penasaran, tapi juga terpesona samar.

Namun detik berikutnya, ia sudah kembali ke mode dingin khasnya.

"Baik. Anda bisa mulai hari ini. Daryl akan memberi daftar tugas. Dan tolong, jangan sampai saya menyesal merekrut Anda."

"Baik, Pak Dirgantara."

Kaelan menatapnya sekali lagi sebelum berjalan ke arah jendela. "Anda boleh pergi."

Aurora berdiri, lalu berjalan pelan ke pintu.

Tepat sebelum keluar, Kaelan berkata tanpa menoleh, "Elenna."

Aurora berhenti. "Ya, Pak?"

"Saya tidak tahu kenapa," Kaelan menatap pantulan dirinya di kaca, "tapi suara Anda... mengingatkan saya pada seseorang."

Aurora menahan napas, tapi suaranya tetap tenang. "Mungkin hanya kebetulan, Pak."

Kaelan menoleh perlahan, menatapnya lurus.

"Kebetulan jarang terjadi di dunia saya, Nona Arista."

Aurora menunduk sedikit, lalu keluar dengan langkah teratur. Begitu pintu tertutup, napasnya yang tertahan akhirnya keluar dengan berat.

Dunia seolah berputar cepat.

Ia baru saja menatap wajah yang menghancurkan hidupnya-dan ia tidak runtuh.

Ia tersenyum tipis.

Itu kemajuan besar.

Beberapa jam berikutnya ia sibuk dengan dokumen dan jadwal rapat. Daryl membantunya menyesuaikan sistem, dan staf lain terlihat heran karena "sekretaris baru" itu begitu cepat beradaptasi.

Tak ada yang tahu bahwa Aurora sebenarnya dulu pernah berada di lingkaran yang lebih tinggi dari ini-ia mengenal cara berpikir Kaelan, bahkan tahu kebiasaan kecilnya: minum kopi dua sendok gula tepat pukul 9.30, mengetuk meja tiga kali sebelum memutuskan sesuatu, dan tidak tahan dengan suara pena berisik.

Menjelang siang, pintu ruang kerja Kaelan terbuka.

"Elenna," panggilnya singkat. "Ikuti saya ke rapat investor."

Aurora segera berdiri, membawa laptop dan map. "Baik, Pak."

Lift eksekutif membawa mereka ke lantai 60, ruang rapat besar berisi jajaran pemegang saham dan investor luar negeri. Aurora duduk di sisi kanan Kaelan, menyiapkan presentasi, sementara semua mata tertuju pada pria itu.

Suara Kaelan stabil, penuh wibawa, tapi Aurora tahu setiap kata yang ia ucapkan mengandung strategi. Ia masih seperti dulu-dingin, cerdas, tak kenal ampun.

Namun saat sesekali Kaelan menoleh padanya untuk memberi isyarat, pandangan mata itu membuat Aurora sulit bernapas.

Tatapan yang dulu pernah begitu ia cintai, kini terasa seperti ujian.

Usai rapat, Kaelan berjalan di sampingnya.

"Kerja bagus," katanya singkat. "Kau cepat tanggap."

"Terima kasih, Pak."

"Sepertinya aku tidak salah pilih."

Kalimat itu diucapkan datar, tapi entah kenapa membuat dada Aurora hangat-dan sakit bersamaan.

Begitu mereka kembali ke ruang kerja, Kaelan menerima panggilan dari seseorang. Suaranya berubah dingin lagi.

"Selina, aku sudah bilang jangan hubungi aku di jam kerja."

Nama itu membuat jari Aurora berhenti mengetik.

Selina Pramudya-mantan istri Kaelan, wanita yang dulu menjadi alasan utama kehancuran hubungan mereka.

Aurora menunduk dalam-dalam, memastikan ekspresinya tak terlihat.

"Tidak, aku tidak akan menghadiri acara keluarga itu. Dan berhenti gunakan nama perusahaan untuk urusan pribadimu," kata Kaelan keras sebelum menutup telepon.

Ia menghela napas berat, lalu menatap Aurora. "Maaf, gangguan pribadi."

Aurora hanya mengangguk sopan. "Tidak masalah, Pak."

Namun Kaelan tidak segera kembali bekerja. Ia menatap Aurora lama, seolah menimbang sesuatu.

"Kau sudah menikah, Elenna?" tanyanya tiba-tiba.

Aurora tertegun sesaat. "Tidak, Pak. Saya single."

Kaelan menatapnya lama sebelum berkata pelan, "Kalau begitu, berhati-hatilah. Dunia ini tidak ramah pada perempuan yang cerdas tapi sendirian."

Aurora menatap balik, menahan banyak hal yang ingin ia ucapkan.

"Saya sudah terbiasa dengan dunia yang seperti itu, Pak."

Kaelan menatapnya dalam-dalam, seolah mencari kebenaran dalam kalimat itu. Tapi kemudian ia hanya mengangguk pelan dan kembali ke mejanya.

Sementara Aurora kembali bekerja, satu hal terlintas di benaknya:

Kaelan masih sama.

Namun kali ini, ia bukan lagi wanita yang perlu diselamatkan.

Ia adalah ancaman yang datang dalam senyap.

Malam itu, setelah semua karyawan pulang, Aurora duduk sendirian di meja kerjanya. Lampu ruangan temaram, hanya suara hujan di luar yang menemani.

Ia membuka laptop pribadinya dan menulis pesan terenkripsi ke seseorang bernama "Rafiq."

Target sudah berhasil didekati. Dirgantara Group tampaknya menyembunyikan lebih banyak hal dari sekadar skandal keuangan. Aku butuh akses ke arsip proyek AuroraTech-segera.

Pesan terkirim.

Aurora menatap layar itu lama.

Ia bukan hanya datang ke sini untuk bekerja atau untuk menguji Kaelan.

Ada misi besar di balik semuanya-dan hanya ia yang tahu tujuannya.

Namun sebelum ia sempat menutup laptop, suara langkah berat terdengar mendekat.

Aurora buru-buru menutup layar dan berdiri.

Pintu terbuka. Kaelan berdiri di sana dengan jas terlepas dan dasi longgar. Rambutnya sedikit berantakan, ekspresinya lelah tapi tajam.

"Kau belum pulang?" tanyanya pelan.

"Saya sedang menyelesaikan laporan, Pak."

Kaelan menatap meja, lalu kembali ke wajahnya. "Kau tidak perlu memaksakan diri. Aku tidak ingin sekretarisku tumbang di minggu pertama."

Aurora menahan senyum kecil. "Saya baik-baik saja."

Keheningan menggantung.

Suara hujan makin deras, aroma kopi mengisi ruangan.

Kaelan bersandar di ambang pintu, memperhatikan wanita di depannya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan.

"Entah kenapa," katanya pelan, "ada sesuatu tentangmu yang... mengganggu pikiranku."

Aurora menatapnya tenang. "Apakah itu masalah, Pak?"

Kaelan menatapnya lama, kemudian menggeleng. "Mungkin hanya imajinasiku."

Ia berbalik, tapi sebelum benar-benar pergi, ia menambahkan dengan suara rendah, "Besok pagi jam delapan. Aku ingin kau menemaniku ke pertemuan dengan dewan. Dan Elenna..."

Aurora menatapnya.

"Jangan pernah membuatku menyesal memercayaimu."

Setelah Kaelan pergi, Aurora menatap pintu tertutup itu lama.

Hatinya bergetar dengan campuran getir dan nostalgia.

Ia tahu, dari detik itu, permainan baru telah dimulai-dan setiap langkahnya harus hati-hati.

Karena jika Kaelan sampai tahu siapa dirinya yang sebenarnya...

segala rencana bisa runtuh.

Aurora menatap pantulan wajahnya di jendela.

Tatapan itu bukan milik wanita yang rapuh.

Itu tatapan pejuang-dan mungkin, juga pencinta yang belum bisa benar-benar lupa.

"Enam tahun lalu kau menghapusku, Kaelan," bisiknya pelan.

"Kali ini, aku yang akan menentukan bagaimana kisah ini berakhir."

Di luar, kilat menyambar langit, menyinari gedung tinggi Dirgantara Group.

Pertanda badai baru akan segera dimulai.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Jangan Pernah Menyentuh Anakku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Diselingkuhi Suami Dibucinin Berondong
8.9
Kehidupan Ratih Apsari hancur setelah memergoki suaminya berselingkuh. Usai bercerai, sebuah ketidaksengajaan membuatnya masuk ke mobil Derryl Dariawan hingga mereka melewati malam bersama. Tak disangka, pria itu adalah CEO baru di tempatnya bekerja. Sempat curiga telah dijebak, Ratih justru mulai jatuh cinta seiring kebersamaan mereka. Kini ia bimbang karena status sosial dan usia Derryl yang tujuh tahun lebih muda. Haruskah ia menerima cinta baru ini atau kembali pada mantan suaminya?
Sampul Novel En-PD158
8.7
Demi menyembuhkan putra kandungnya dengan Lin Yanran yang terkena leukemia, Zhou Yu'an meminta cerai setelah tiga tahun pernikahan. Ia memohon kepada sang istri agar diizinkan memiliki anak lagi dengan mantan kekasihnya itu sebagai pendonor sel penyelamat. Di balik janji setianya untuk kembali setelah proses medis selesai, sang istri justru menemukan pesan provokatif dari Yanran yang telah menanti kedatangan Yu'an untuk menghamilinya malam itu juga.
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menebus adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari rela menjual kesuciannya pada Keyko Khayang Gumelar seharga 100 juta rupiah. Di tengah kemalangan itu, ia tanpa sengaja bertemu dengan duda tampan bernama Damian di supermarket. Kini, Daiva berada di persimpangan jalan ketika Keyko dan Damian sama-sama berjuang memenangkan hatinya. Siapa pria yang akan dipilih Daiva untuk menemani masa depannya dan melepaskannya dari bayang-bayang masa lalu?
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Nadia Antika selalu sabar menghadapi cemoohan ibu mertua demi cintanya pada sang suami, Askara Brahma. Namun, biduk rumah tangga mereka yang berjalan dua tahun mulai retak saat Askara mendadak bersikap dingin dan penuh rahasia. Kecurigaan Nadia menuntunnya pada kenyataan pahit yang tak terbayangkan. Bagaimana ia menghadapi fakta bahwa suaminya diam-diam mengkhianatinya dengan menjalin hubungan gelap bersama adik iparnya sendiri di dalam rumah mereka?
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Dunia dokterku hancur saat merawat Evelyn Santoso, pasien VIP yang menangisi tunangannya. Pria di foto itu adalah Bima, suamiku, yang ternyata bernama asli Brama Wijaya, seorang taipan kejam. Saat Brama datang, ia sama sekali tidak mengenaliku. Ia justru memeluk Evelyn dan mengucap janji setia yang biasa ia katakan padaku. Lewat tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami saat ia amnesia hanyalah aib rahasia yang kini harus ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Nasib malang menimpa seorang gadis setelah dikhianati dan dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Begitu beranjak dewasa, ia dipaksa menghadapi kenyataan pahit tanpa ada celah untuk menghindar. Takdir menyeretnya menjadi istri seorang bandar narkoba yang sangat kejam. Kini, seluruh kehidupannya sepenuhnya terjebak di tengah lingkaran hitam dunia kriminal yang penuh intrik mematikan serta ancaman bahaya yang terus mengintai setiap saat.

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED