Bab 1

Langit Jakarta pagi itu berwarna kelabu, seolah tahu bahwa hari ini bukan hari biasa bagi Aurora Elenna.

Langkah kakinya terdengar mantap di lantai marmer lobi Dirgantara Group, gedung 62 lantai yang menjulang gagah di tengah hiruk pikuk ibu kota.

Enam tahun.

Enam tahun sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di sini-bukan sebagai karyawan, tapi sebagai kekasih yang ditinggalkan tanpa penjelasan.

Kini, ia kembali.

Bukan untuk meminta penjelasan.

Bukan pula untuk menuntut balas.

Tapi untuk menuntaskan permainan yang dulu dimulai tanpa izin darinya.

"Selamat pagi, Bu..." sapa resepsionis dengan senyum profesional. "Nama dan divisi tujuan?"

Aurora membalas dengan senyum sopan. Rambutnya kini hitam gelap, bukan cokelat karamel seperti dulu. Wajahnya yang dulu manis kini memancarkan ketenangan dingin.

"Elenna Arista," jawabnya pelan, menyebut nama samarannya. "Divisi Eksekutif, Sekretaris CEO."

Senyum si resepsionis menegang sedikit, jelas kaget. "Sekretaris CEO? Wah... selamat datang, Bu Elenna. Silakan langsung ke lantai 58, ruang tunggu eksekutif. Asisten pribadi Pak Kaelan sudah menunggu."

Aurora mengangguk dan melangkah ke lift.

Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Nama itu-Kaelan Dirgantara-masih punya daya aneh untuk mengguncang hatinya, meski ia sudah bersumpah tak akan goyah lagi.

Saat pintu lift tertutup, pantulan wajahnya di dinding logam terlihat sempurna: tegas, terlatih, tak menunjukkan rasa takut sedikit pun.

Ia menatap bayangan itu lama.

"Tenang," bisiknya pada diri sendiri. "Kau bukan Aurora yang dulu. Sekarang kau yang memegang kendali."

Lantai 58 menyambutnya dengan aroma kopi mahal dan parfum maskulin.

Langit-langit tinggi, kaca besar membingkai pemandangan Jakarta, dan suasana hening khas ruang eksekutif-semuanya membuatnya sedikit mual. Tempat ini tak banyak berubah.

Yang berubah hanyalah dirinya.

"Selamat pagi, Bu Elenna." Seorang pria muda dengan jas hitam menghampiri, senyumnya ramah tapi kaku. "Saya Daryl, asisten pribadi Pak Kaelan. Beliau sedang rapat dengan dewan direksi. Tapi beliau meminta saya memastikan Ibu merasa nyaman sebelum wawancara singkat nanti."

Aurora mengangguk. "Terima kasih, Daryl. Saya tidak keberatan menunggu."

Daryl menawarkan secangkir kopi, lalu pamit sejenak.

Begitu ia pergi, Aurora menarik napas panjang dan memejamkan mata.

Ia tahu betul, Kaelan bukan pria yang mudah percaya pada siapa pun-terutama wanita. Apalagi setelah pengkhianatan masa lalu yang, di matanya, dilakukan oleh Aurora sendiri.

Senyum tipis terlukis di bibirnya.

Ia masih ingat bagaimana enam tahun lalu, tuduhan itu menghancurkannya-dan bagaimana ia pergi membawa rahasia yang bahkan Kaelan tak sempat mengetahuinya: ia mengandung anaknya.

Ravi.

Putra kecil yang kini menjadi satu-satunya alasan ia masih berdiri.

Pintu ruang rapat terbuka.

Langkah-langkah berat terdengar keluar. Suara sepatu pantofel, percakapan singkat, lalu keheningan lagi.

Aurora menegakkan punggung. Ia tahu siapa yang akan keluar terakhir.

Dan benar-beberapa detik kemudian, Kaelan Dirgantara muncul di ambang pintu.

Waktu tampaknya memperlakukannya dengan istimewa. Tubuh tegap itu kini semakin berisi, wajahnya lebih tajam, rahang tegasnya tampak lebih kokoh dari dulu. Jas hitamnya pas di tubuh, kemeja putihnya licin tanpa cela. Tapi yang paling membuat Aurora tersentak adalah tatapan itu-tatapan dingin penuh kuasa yang dulu pernah ia kenal dari jarak yang terlalu dekat.

Kaelan meliriknya sekilas, lalu berhenti.

Tatapan mereka bertemu.

Dalam sepersekian detik, waktu seperti berhenti.

Aurora menahan napas, tapi wajahnya tetap datar. Ia memastikan tak ada satu pun ekspresi yang bocor.

Kaelan menatap lebih lama. Alisnya sedikit berkerut.

"Mengapa wajahmu terasa familiar..." gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Aurora segera berdiri dan menunduk sopan. "Selamat pagi, Pak Dirgantara. Saya Elenna Arista, sekretaris baru Anda."

Nama samaran itu menembus udara di antara mereka seperti tameng.

Kaelan mengangguk tipis, ekspresinya datar lagi. "Elenna Arista. Baik. Ikuti saya."

Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan masuk ke ruangannya.

Aurora menahan diri agar tak menatap punggung pria itu terlalu lama.

Dunia memang punya selera humor aneh-menempatkannya kembali di bawah kendali pria yang dulu menghancurkan hatinya.

Ruang kerja Kaelan besar, minimalis, dan dingin.

Dinding kaca menampakkan seluruh cakrawala Jakarta. Di sisi lain, meja kerja besar dari kayu hitam menguasai ruangan, dengan tumpukan dokumen rapi dan monitor besar.

"Duduk," ucap Kaelan tanpa menatapnya.

Aurora duduk dengan tenang. Tangannya diletakkan di pangkuan, sementara tatapannya diam-diam mempelajari pria di depannya.

"Daryl mengatakan Anda direkomendasikan langsung oleh HR pusat di London?" Kaelan membuka map, membaca data. "Rekam jejak Anda bagus. Efisien, terorganisir, multibahasa, dan... tidak banyak bicara. Saya suka itu."

Aurora menahan diri untuk tidak tersenyum.

Ia tahu data yang ia susun sempurna-identitas palsu dengan latar pendidikan fiktif di Inggris, semua tersamarkan rapi di bawah nama Elenna Arista.

"Saya hanya ingin bekerja sebaik mungkin, Pak," ucapnya datar.

Kaelan menatapnya sekilas, tatapan matanya menelisik seperti hendak menembus dinding samaran itu. "Bagus. Karena bekerja untuk saya bukan hal mudah. Saya tidak suka kesalahan, apalagi alasan."

"Saya mengerti."

"Dan satu hal lagi," lanjut Kaelan, suaranya turun satu oktaf. "Saya tidak mencampur urusan pribadi dengan profesional. Jadi, jangan mencoba menarik perhatian dengan cara apa pun. Saya sudah terlalu sering menghadapi sekretaris yang-berambisi lebih."

Nada itu tajam, bahkan sedikit sinis.

Aurora menatapnya tenang, meski dalam hati ada getaran aneh.

"Tidak perlu khawatir, Pak. Saya tidak tertarik pada apa pun selain pekerjaan."

Untuk sesaat, Kaelan menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya-ragu, penasaran, tapi juga terpesona samar.

Namun detik berikutnya, ia sudah kembali ke mode dingin khasnya.

"Baik. Anda bisa mulai hari ini. Daryl akan memberi daftar tugas. Dan tolong, jangan sampai saya menyesal merekrut Anda."

"Baik, Pak Dirgantara."

Kaelan menatapnya sekali lagi sebelum berjalan ke arah jendela. "Anda boleh pergi."

Aurora berdiri, lalu berjalan pelan ke pintu.

Tepat sebelum keluar, Kaelan berkata tanpa menoleh, "Elenna."

Aurora berhenti. "Ya, Pak?"

"Saya tidak tahu kenapa," Kaelan menatap pantulan dirinya di kaca, "tapi suara Anda... mengingatkan saya pada seseorang."

Aurora menahan napas, tapi suaranya tetap tenang. "Mungkin hanya kebetulan, Pak."

Kaelan menoleh perlahan, menatapnya lurus.

"Kebetulan jarang terjadi di dunia saya, Nona Arista."

Aurora menunduk sedikit, lalu keluar dengan langkah teratur. Begitu pintu tertutup, napasnya yang tertahan akhirnya keluar dengan berat.

Dunia seolah berputar cepat.

Ia baru saja menatap wajah yang menghancurkan hidupnya-dan ia tidak runtuh.

Ia tersenyum tipis.

Itu kemajuan besar.

Beberapa jam berikutnya ia sibuk dengan dokumen dan jadwal rapat. Daryl membantunya menyesuaikan sistem, dan staf lain terlihat heran karena "sekretaris baru" itu begitu cepat beradaptasi.

Tak ada yang tahu bahwa Aurora sebenarnya dulu pernah berada di lingkaran yang lebih tinggi dari ini-ia mengenal cara berpikir Kaelan, bahkan tahu kebiasaan kecilnya: minum kopi dua sendok gula tepat pukul 9.30, mengetuk meja tiga kali sebelum memutuskan sesuatu, dan tidak tahan dengan suara pena berisik.

Menjelang siang, pintu ruang kerja Kaelan terbuka.

"Elenna," panggilnya singkat. "Ikuti saya ke rapat investor."

Aurora segera berdiri, membawa laptop dan map. "Baik, Pak."

Lift eksekutif membawa mereka ke lantai 60, ruang rapat besar berisi jajaran pemegang saham dan investor luar negeri. Aurora duduk di sisi kanan Kaelan, menyiapkan presentasi, sementara semua mata tertuju pada pria itu.

Suara Kaelan stabil, penuh wibawa, tapi Aurora tahu setiap kata yang ia ucapkan mengandung strategi. Ia masih seperti dulu-dingin, cerdas, tak kenal ampun.

Namun saat sesekali Kaelan menoleh padanya untuk memberi isyarat, pandangan mata itu membuat Aurora sulit bernapas.

Tatapan yang dulu pernah begitu ia cintai, kini terasa seperti ujian.

Usai rapat, Kaelan berjalan di sampingnya.

"Kerja bagus," katanya singkat. "Kau cepat tanggap."

"Terima kasih, Pak."

"Sepertinya aku tidak salah pilih."

Kalimat itu diucapkan datar, tapi entah kenapa membuat dada Aurora hangat-dan sakit bersamaan.

Begitu mereka kembali ke ruang kerja, Kaelan menerima panggilan dari seseorang. Suaranya berubah dingin lagi.

"Selina, aku sudah bilang jangan hubungi aku di jam kerja."

Nama itu membuat jari Aurora berhenti mengetik.

Selina Pramudya-mantan istri Kaelan, wanita yang dulu menjadi alasan utama kehancuran hubungan mereka.

Aurora menunduk dalam-dalam, memastikan ekspresinya tak terlihat.

"Tidak, aku tidak akan menghadiri acara keluarga itu. Dan berhenti gunakan nama perusahaan untuk urusan pribadimu," kata Kaelan keras sebelum menutup telepon.

Ia menghela napas berat, lalu menatap Aurora. "Maaf, gangguan pribadi."

Aurora hanya mengangguk sopan. "Tidak masalah, Pak."

Namun Kaelan tidak segera kembali bekerja. Ia menatap Aurora lama, seolah menimbang sesuatu.

"Kau sudah menikah, Elenna?" tanyanya tiba-tiba.

Aurora tertegun sesaat. "Tidak, Pak. Saya single."

Kaelan menatapnya lama sebelum berkata pelan, "Kalau begitu, berhati-hatilah. Dunia ini tidak ramah pada perempuan yang cerdas tapi sendirian."

Aurora menatap balik, menahan banyak hal yang ingin ia ucapkan.

"Saya sudah terbiasa dengan dunia yang seperti itu, Pak."

Kaelan menatapnya dalam-dalam, seolah mencari kebenaran dalam kalimat itu. Tapi kemudian ia hanya mengangguk pelan dan kembali ke mejanya.

Sementara Aurora kembali bekerja, satu hal terlintas di benaknya:

Kaelan masih sama.

Namun kali ini, ia bukan lagi wanita yang perlu diselamatkan.

Ia adalah ancaman yang datang dalam senyap.

Malam itu, setelah semua karyawan pulang, Aurora duduk sendirian di meja kerjanya. Lampu ruangan temaram, hanya suara hujan di luar yang menemani.

Ia membuka laptop pribadinya dan menulis pesan terenkripsi ke seseorang bernama "Rafiq."

Target sudah berhasil didekati. Dirgantara Group tampaknya menyembunyikan lebih banyak hal dari sekadar skandal keuangan. Aku butuh akses ke arsip proyek AuroraTech-segera.

Pesan terkirim.

Aurora menatap layar itu lama.

Ia bukan hanya datang ke sini untuk bekerja atau untuk menguji Kaelan.

Ada misi besar di balik semuanya-dan hanya ia yang tahu tujuannya.

Namun sebelum ia sempat menutup laptop, suara langkah berat terdengar mendekat.

Aurora buru-buru menutup layar dan berdiri.

Pintu terbuka. Kaelan berdiri di sana dengan jas terlepas dan dasi longgar. Rambutnya sedikit berantakan, ekspresinya lelah tapi tajam.

"Kau belum pulang?" tanyanya pelan.

"Saya sedang menyelesaikan laporan, Pak."

Kaelan menatap meja, lalu kembali ke wajahnya. "Kau tidak perlu memaksakan diri. Aku tidak ingin sekretarisku tumbang di minggu pertama."

Aurora menahan senyum kecil. "Saya baik-baik saja."

Keheningan menggantung.

Suara hujan makin deras, aroma kopi mengisi ruangan.

Kaelan bersandar di ambang pintu, memperhatikan wanita di depannya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan.

"Entah kenapa," katanya pelan, "ada sesuatu tentangmu yang... mengganggu pikiranku."

Aurora menatapnya tenang. "Apakah itu masalah, Pak?"

Kaelan menatapnya lama, kemudian menggeleng. "Mungkin hanya imajinasiku."

Ia berbalik, tapi sebelum benar-benar pergi, ia menambahkan dengan suara rendah, "Besok pagi jam delapan. Aku ingin kau menemaniku ke pertemuan dengan dewan. Dan Elenna..."

Aurora menatapnya.

"Jangan pernah membuatku menyesal memercayaimu."

Setelah Kaelan pergi, Aurora menatap pintu tertutup itu lama.

Hatinya bergetar dengan campuran getir dan nostalgia.

Ia tahu, dari detik itu, permainan baru telah dimulai-dan setiap langkahnya harus hati-hati.

Karena jika Kaelan sampai tahu siapa dirinya yang sebenarnya...

segala rencana bisa runtuh.

Aurora menatap pantulan wajahnya di jendela.

Tatapan itu bukan milik wanita yang rapuh.

Itu tatapan pejuang-dan mungkin, juga pencinta yang belum bisa benar-benar lupa.

"Enam tahun lalu kau menghapusku, Kaelan," bisiknya pelan.

"Kali ini, aku yang akan menentukan bagaimana kisah ini berakhir."

Di luar, kilat menyambar langit, menyinari gedung tinggi Dirgantara Group.

Pertanda badai baru akan segera dimulai.

Bab 2

Malam itu Aurora pulang hampir tengah malam.

Hujan baru saja berhenti, meninggalkan sisa genangan di jalanan yang memantulkan cahaya lampu kota. Mobil taksi online yang ia tumpangi berhenti di depan apartemen sederhana di kawasan Menteng.

Dari luar, tak ada yang istimewa dengan tempat itu-tapi bagi Aurora, di sinilah satu-satunya tempat yang masih bisa disebut rumah.

Begitu pintu apartemen terbuka, suara kecil menyambutnya.

"Mama!"

Aurora segera menunduk, membuka kedua tangannya, dan seorang bocah laki-laki berlari menghampirinya dengan tawa riang.

Ravi-lima tahun, cerdas, penuh rasa ingin tahu, dan alasan terbesar mengapa ia kembali ke dunia Kaelan Dirgantara.

"Ravi, sudah malam, kenapa belum tidur?"

"Aku nunggu Mama," jawab bocah itu sambil memeluk erat pinggangnya. "Mau peluk dulu sebelum tidur."

Aurora tersenyum hangat, membelai rambut hitam tebal anak itu. Wajah Ravi membuatnya selalu teringat pada satu hal yang ia sembunyikan-mata kelabu tajam itu, bentuk rahang kecilnya, semua terlalu mirip dengan Kaelan.

"Maafin Mama, ya? Hari ini kerjaan banyak banget."

"Gapapa. Ravi udah makan sama Tante Sinta."

Sinta-pengasuh sekaligus sahabat lama yang membantu Aurora sejak ia kembali ke Jakarta-muncul dari dapur dengan celemek masih melingkar di pinggang.

"Kerja sampai jam segini terus, nanti kamu sakit, Aur."

Aurora tersenyum tipis. "Ini baru permulaan, Sin. Aku belum boleh lengah."

Sinta menatapnya dengan cemas. "Kaelan udah mulai curiga?"

"Belum," jawab Aurora sambil melepaskan sepatu dan mengganti baju. "Tapi dia punya insting tajam. Sedikit saja aku salah langkah, semuanya bisa berantakan."

Sinta menghela napas panjang. "Kamu yakin nggak mau bilang soal Ravi? Enam tahun dia hidup tanpa tahu punya anak... kalau Kaelan tahu-"

"Dia akan ambil Ravi dariku," potong Aurora cepat, suaranya serak. "Aku nggak bisa ambil risiko itu, Sin."

Keheningan menyelimuti ruangan sejenak. Di kamar kecil, Ravi sudah terlelap. Aurora menatap wajah polos anak itu lama, lalu berbisik lirih, "Mama janji, kamu akan aman. Apa pun yang terjadi."

Keesokan paginya, pukul tujuh lewat lima belas, Aurora sudah tiba di Dirgantara Group. Kantor masih sepi. Sebagian besar staf datang pukul delapan, tapi ia sengaja lebih awal untuk memeriksa sesuatu-berkas-berkas proyek yang semalam disebut dalam rapat: AuroraTech.

Nama itu kebetulan? Tidak.

Ia tahu pasti, Kaelan menamainya bukan tanpa alasan. Dan ia ingin tahu, kenapa nama yang dulu ia pakai untuk impian mereka berdua kini dipakai untuk proyek yang disembunyikan rapat-rapat.

Ia duduk di depan komputer, membuka sistem data internal yang sudah ia pelajari dalam waktu singkat. Tangan rampingnya lincah di atas keyboard, matanya menelusuri file demi file.

Hingga ia menemukan folder bertanda "Confidential – Internal Audit Hold".

"Ditemukan," bisiknya.

Ia memasukkan kode enkripsi buatan Rafiq, lalu menunggu loading bar berjalan. Dalam hitungan detik, dokumen terbuka.

Namun sebelum ia sempat membaca lebih jauh, suara langkah mendekat. Aurora cepat menutup file itu dan meminimalkan layar.

"Datang lebih awal lagi," suara Kaelan terdengar dari ambang pintu.

Aurora menoleh, berdiri sopan. "Selamat pagi, Pak Dirgantara."

Kaelan berdiri di sana, kemeja putihnya digulung setengah lengan, dasinya belum dipasang, rambutnya sedikit acak-acakan-pemandangan yang terlalu familiar bagi Aurora, tapi juga terlalu berbahaya untuk ditatap lama-lama.

"Kau rajin sekali," ucapnya sambil berjalan mendekat.

"Sudah terbiasa, Pak."

Kaelan menatap meja kerja Aurora, alisnya sedikit terangkat. "Sedang apa?"

"Saya sedang menyiapkan laporan investor hari ini."

Kaelan hanya mengangguk, namun matanya menelisik layar komputer. "Kau terlihat tegang. Jangan bilang baru dua hari kerja sudah stres?"

Aurora tersenyum tenang. "Hanya butuh waktu menyesuaikan ritme kerja Anda, Pak."

Kaelan menatapnya lama, kemudian tersenyum tipis-senyum yang jarang ia keluarkan. "Ritme saya memang cepat. Tapi sejauh ini, kau bisa mengikuti."

"Terima kasih, Pak."

Kaelan berjalan menuju meja kerjanya. "Hari ini kita punya jadwal padat. Rapat dengan kementerian, lalu makan siang dengan investor dari Tokyo. Aku butuh kau dampingi di semua sesi."

"Baik, Pak."

"Dan satu lagi," lanjut Kaelan tanpa menoleh, "aku ingin kau siapkan draft kontrak baru untuk proyek AuroraTech."

Aurora menegang. "AuroraTech?"

Kaelan berhenti mengetik, menatapnya. "Kenapa? Ada masalah dengan namanya?"

Aurora cepat menguasai diri. "Tidak, Pak. Hanya... belum sempat saya pelajari detail proyeknya."

Kaelan menatapnya beberapa detik sebelum kembali ke komputer. "Kau akan tahu. Tapi proyek itu... istimewa. Tidak semua orang punya akses."

Ia tak tahu betapa kalimat itu justru menambah rasa ingin tahu di benak Aurora.

Rapat pertama berjalan lancar. Kaelan seperti biasa tampil sempurna-dingin, rasional, dan tanpa cela. Aurora mencatat setiap poin penting, tapi pikirannya sebagian tertuju pada file rahasia itu.

Setelah rapat berakhir, mereka menuju restoran hotel bintang lima untuk makan siang bersama investor Jepang.

Aurora duduk di samping Kaelan. Saat pelayan datang, Kaelan memesan kopi hitam tanpa melihat menu-kebiasaan lama yang membuat Aurora nyaris tersenyum.

"Ms. Elenna, Anda sudah lama bekerja dengan Pak Kaelan?" tanya salah satu investor dengan logat Jepang yang kental.

Aurora tersenyum sopan. "Baru dua hari, tapi saya sudah belajar banyak."

Kaelan meliriknya sekilas, lalu berkata pada investor itu, "Dia cepat tanggap. Saya butuh seseorang seperti dia."

Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat dada Aurora sesak.

Makan siang berlangsung formal tapi hangat. Namun di sela percakapan bisnis, Aurora menangkap satu kalimat dari salah satu investor:

"Kami khawatir audit proyek AuroraTech terlalu lama tertunda. Ada dana yang belum jelas peruntukannya."

Aurora berpura-pura menulis catatan, tapi telinganya menangkap semua detail. Kaelan menjawab dengan tenang bahwa audit akan diselesaikan dalam waktu dekat. Namun Aurora tahu nada itu-Kaelan sedang menyembunyikan sesuatu.

Saat mereka keluar dari restoran, Kaelan tiba-tiba berkata tanpa menoleh, "Jangan terlalu banyak mendengarkan pembicaraan yang bukan urusanmu, Elenna."

Aurora menatapnya, terkejut karena ia sadar Kaelan tahu ia mendengar. "Saya hanya mencatat yang penting, Pak."

Kaelan berhenti berjalan, lalu menatapnya tajam. "Kau memang cepat belajar. Tapi ingat, di dunia ini, terlalu banyak tahu bisa berbahaya."

Aurora menatap balik, tak mundur. "Saya tidak takut pada bahaya, Pak."

Kaelan menatapnya lebih lama, kemudian berbalik tanpa kata. "Kita lihat nanti."

Sore hari, setelah semua pertemuan selesai, Aurora kembali ke mejanya dan memandangi jam. Sudah hampir pukul tujuh.

Ia menunggu sampai Kaelan meninggalkan kantor, lalu kembali membuka sistem. Kali ini, ia berhasil menyalin sebagian file proyek AuroraTech ke flashdisk kecil.

Namun tepat saat ia hampir selesai, suara pintu terbuka membuatnya kaget.

Kaelan berdiri di sana-lagi-lagi tanpa suara.

"Kau masih di sini?" tanyanya datar.

Aurora cepat menyembunyikan flashdisk di bawah dokumen. "Hampir selesai, Pak. Saya ingin memastikan laporan keuangan hari ini lengkap."

Kaelan mendekat. "Kau benar-benar berdedikasi. Tapi aku tidak ingin kau lembur sendirian."

Aurora menahan napas saat pria itu berdiri hanya sejengkal darinya.

Aroma cologne-nya masih sama seperti dulu-maskulin, tajam, dan berbahaya.

Kaelan memandangi layar laptopnya. "Proyek AuroraTech, ya?"

Aurora cepat menutup file. "Hanya memastikan tanggal penandatanganan, Pak."

Kaelan menyipit. "Kau tahu apa artinya 'Aurora' dalam bahasa Latin?"

Aurora menggeleng pelan.

"Cahaya fajar," jawab Kaelan lirih. "Sesuatu yang muncul setelah malam panjang. Proyek ini... adalah fajar bagi Dirgantara Group."

Aurora nyaris tertawa getir. Ia tahu makna sebenarnya di balik kata itu-Aurora bukan sekadar nama proyek. Itu nama yang dulu ia pilih bersama Kaelan untuk startup kecil mereka sebelum semuanya hancur.

Kaelan menatap wajahnya lama, lalu berbisik nyaris tak terdengar, "Kau benar-benar mengingatkanku pada seseorang. Tapi wanita itu sudah lama pergi."

Aurora menelan ludah. "Mungkin saya cuma kebetulan mirip, Pak."

Kaelan menatapnya sekali lagi sebelum berbalik. "Mungkin."

Saat pintu tertutup, Aurora menggenggam flashdisk itu erat. Jantungnya berdebar cepat, tapi bukan karena rasa takut-melainkan karena campuran antara nostalgia dan kemarahan.

Kaelan tidak tahu apa pun. Dan ia berniat menjaga agar tetap begitu.

Malamnya, Aurora duduk di ruang tamu apartemen dengan Sinta. Flashdisk itu kini terhubung ke laptop lain, menampilkan data yang baru saja ia curi.

"Lihat ini, Sin." Aurora menunjuk layar. "Ada dana masuk dari rekening luar negeri atas nama perusahaan bayangan. Nominalnya besar sekali. Proyek AuroraTech ternyata bukan cuma riset teknologi. Ini... pencucian uang."

Sinta menatap kaget. "Kamu yakin?"

"Data mentahnya jelas. Mereka pakai proyek ini buat menutup transaksi ilegal. Dan lebih parahnya, semua laporan resmi dihapus dari sistem utama. Kaelan pasti tahu."

Sinta menelan ludah. "Aurora, kalau ini beneran, kamu bisa dalam bahaya besar."

Aurora memejamkan mata sejenak. "Aku nggak peduli. Aku cuma butuh bukti konkret. Kalau aku berhasil buka semua ini, bukan cuma aku yang bebas dari masa lalu... tapi Ravi juga."

Sinta mengangguk pelan. "Kamu masih mencintai dia, kan?"

Pertanyaan itu menghantam Aurora seperti badai. Ia terdiam lama sebelum menjawab, "Aku benci dia... tapi setiap kali menatap matanya, semua benci itu terasa rapuh."

Sinta menatapnya dengan iba. "Hati kamu belum benar-benar sembuh."

Aurora tersenyum getir. "Mungkin. Tapi kali ini, aku nggak datang untuk cinta. Aku datang untuk menang."

Hari berikutnya, suasana kantor berbeda. Beberapa staf tampak gelisah, beberapa sibuk membicarakan isu rapat dewan mendadak yang dijadwalkan sore nanti.

Aurora memperhatikan, tapi tak berkomentar.

Kaelan datang sekitar pukul delapan. Ia tampak lebih serius dari biasanya. "Elenna, batalkan semua janji sore ini. Kita punya rapat internal mendesak."

"Baik, Pak."

Menjelang siang, Kaelan memanggilnya ke ruang kerja.

"Duduk," katanya singkat.

Aurora menurut.

Kaelan menatap layar laptop, lalu menatapnya lurus. "Kau pernah bekerja di bidang audit sebelumnya?"

"Ya, Pak. Di London, beberapa tahun."

Kaelan mengangguk. "Aku butuh seseorang yang bisa kupercaya untuk meninjau ulang laporan proyek AuroraTech. Ada kebocoran data, dan aku tidak ingin media tahu sebelum waktunya."

Aurora menahan napas. Tawaran itu-adalah kesempatan emas. "Saya siap, Pak."

Kaelan menatapnya dalam. "Aku memilihmu bukan karena kebetulan, Elenna. Ada sesuatu pada dirimu yang... membuatku merasa kau bisa diandalkan."

Aurora hanya bisa menatap, menahan gejolak di dada.

"Terima kasih, Pak. Saya akan lakukan sebaik mungkin."

Kaelan berdiri, mendekat, menatapnya dari jarak yang terlalu dekat. "Aku harap begitu. Karena kalau sampai kau berkhianat, aku tidak akan segan menghancurkanmu."

Aurora menatap balik tanpa gentar. "Saya tidak punya alasan untuk berkhianat, Pak."

Kaelan tersenyum tipis. "Kita lihat nanti."

Rapat dewan sore itu menegangkan. Aurora duduk di sisi ruangan, mencatat, sementara para direktur berdebat soal kebocoran dana. Nama proyek AuroraTech terus disebut, dan Kaelan berulang kali ditekan untuk memberi penjelasan.

Namun pria itu tetap tenang.

"Semua laporan akan diverifikasi ulang," katanya mantap. "Saya sudah menugaskan staf khusus untuk meninjau sistem."

Semua mata menoleh ke Aurora.

Ia berdiri dan menunduk sedikit. "Saya akan memastikan audit selesai dalam tiga hari, Pak."

Kaelan menatapnya singkat dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

Di bawah meja, tangan Aurora mengepal. Ia tahu ini langkah berani-tapi ia tidak bisa mundur.

Malam itu, Aurora kembali ke apartemen dengan kepala penuh rencana. Ravi sudah tidur, Sinta sudah menyiapkan teh hangat.

Namun sebelum ia sempat duduk, ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal:

"Kau bukan satu-satunya yang mencari kebenaran soal AuroraTech. Tapi hati-hati, Elenna-mereka mengawasi."

Aurora menatap layar itu lama.

Siapa pun pengirimnya, satu hal pasti: permainan sudah berubah menjadi lebih berbahaya.

Ia menatap jendela, melihat langit malam Jakarta yang suram, lalu berbisik, "Aku sudah terlanjur masuk terlalu dalam. Tidak ada jalan mundur."

Di kejauhan, lampu kota berkelip seperti bintang palsu-dan di salah satu penthouse tinggi, Kaelan Dirgantara berdiri menatap laporan di tangannya, alisnya berkerut.

Di sana, di pojok bawah dokumen audit yang baru ia terima, tertera nama:

Elenna Arista.

Kaelan menatap tanda tangan itu lama, lalu berkata lirih,

"Elenna... siapa sebenarnya kau?"

Bab 3

Pagi itu langit Jakarta berwarna abu-abu keperakan, seolah meniru suasana hati Aurora. Ia berdiri di depan lift eksekutif lantai 50, memegang map presentasi berwarna hitam dengan logo Dirgantara Group timbul di sudut kanan bawah.

Kantor masih setengah sepi, sebagian karyawan belum datang. Tapi suara langkah sepatu hak tinggi di lantai marmer, suara mesin espresso yang baru menyala, dan bisikan-bisikan kecil antar staf mulai mengisi udara.

Aurora menatap pantulan dirinya di pintu lift yang berkilap: setelan jas biru muda, rambut dikuncir rapi, bibir dengan warna nude lembut, dan mata yang tampak tenang-meski di dalamnya, ada badai yang ia jaga rapat-rapat.

Hari ini adalah hari penting.

Ia akan mendampingi Kaelan dalam rapat strategi merger dengan investor Jepang, sebuah kesempatan besar yang bisa menentukan masa depan perusahaan. Biasanya, posisi ini hanya dipegang oleh sekretaris senior, atau bahkan manajer khusus. Tapi entah kenapa, Kaelan secara pribadi memilihnya.

"Bu Aurora, sudah siap?"

Suara Lani, rekan sekretaris di departemen legal, memecah lamunannya.

Aurora mengangguk kecil, menyelipkan sehelai rambut di belakang telinga. "Sudah. Kaelan sudah di ruang rapat?"

"Sudah dari setengah jam lalu," jawab Lani cepat. "Katanya mau review ulang dokumen kontrak. Tapi hati-hati, mood-nya agak... susah ditebak pagi ini."

Aurora tersenyum samar. "Kapan sih dia tidak begitu?"

Lift terbuka, dan aroma wangi kopi hitam serta pendingin ruangan langsung menyambutnya. Lantai direksi selalu memiliki nuansa berbeda: sunyi, rapi, dan penuh ketegangan tak kasatmata. Langkahnya mantap saat mendekati ruang rapat, tapi ketika pintu terbuka, dunia seolah berhenti berputar sejenak.

Kaelan berdiri di depan layar besar, tangan menyelip di saku celana, mengenakan setelan hitam dengan dasi abu-abu. Tatapannya fokus ke grafik penjualan di layar, tapi saat Aurora masuk, ia perlahan menoleh.

Sekilas, tidak ada perubahan dalam ekspresi wajahnya. Tapi Aurora tahu, mata itu-mata yang dulu menatapnya dengan kasih, kini hanya menyimpan jarak dingin.

"On time," ujar Kaelan datar, pandangannya turun ke map di tangan Aurora. "Presentasi sudah kamu revisi?"

"Sudah, sesuai catatan Anda semalam," jawab Aurora tenang. Ia meletakkan map di atas meja kaca dan menyerahkan tablet berisi file digital. "Saya juga menambahkan analisis tambahan untuk bagian proyeksi pasar setelah merger."

Kaelan mengangkat alis, sedikit terkejut. "Tambahan?"

Aurora mengangguk pelan. "Ya. Berdasarkan riset tren sektor logistik Jepang dan kebijakan ekspor baru mereka. Saya pikir itu relevan."

Keheningan singkat. Kaelan menatapnya lebih lama dari seharusnya, seolah mencoba menembus lapisan profesionalisme yang ia kenakan pagi ini. Tapi Aurora tidak menunduk. Ia tetap menatap balik, netral, sopan, tapi tidak tunduk.

"Baik," kata Kaelan akhirnya. "Tampilkan nanti di sesi terakhir."

Aurora menekan tombol di tablet, menyiapkan file. Jantungnya berdetak pelan tapi tegas. Bukan karena gugup menghadapi Kaelan-setidaknya, itu yang ia yakinkan pada dirinya sendiri-melainkan karena momen ini menandai sesuatu.

Langkah pertama untuk menunjukkan siapa dia sebenarnya.

Rapat dimulai setengah jam kemudian. Perwakilan dari pihak Jepang, tiga pria berjas rapi dengan pin bendera kecil di dada, duduk berhadapan dengan tim Dirgantara Group. Aurora duduk di sisi Kaelan, mencatat, mengatur dokumen, dan sesekali menerjemahkan poin penting ke dalam bahasa Jepang dengan lancar.

Kaelan sempat meliriknya, jelas terkejut. "Kamu bisa bahasa Jepang?"

Aurora hanya menjawab pelan tanpa menoleh, "Sedikit. Saya pernah magang di Tokyo."

"Saya tidak pernah lihat itu di CV kamu."

Aurora tersenyum tipis. "Mungkin karena saya tidak menulisnya."

Ada kilatan singkat di mata Kaelan-antara penasaran dan kesal-tapi ia menahan komentar. Rapat berlanjut dengan intens. Aurora tetap fokus, tapi sesekali, ia menangkap Kaelan memandangi profil wajahnya di sela-sela pembicaraan.

Ketika salah satu investor bertanya dengan bahasa Jepang agak cepat, Aurora langsung menjawab, menjelaskan secara diplomatis tanpa menunggu penerjemah resmi. Ruangan seketika hening. Semua mata, termasuk Kaelan, beralih padanya.

"Baik," kata investor itu setelah beberapa detik, tersenyum. "Anda memahami konteksnya dengan tepat, Nona...?"

Aurora menunduk sopan. "Aurora Elenna, sir."

Kaelan menegakkan tubuh, meliriknya sekali lagi, kali ini jelas berbeda. Ada kekaguman yang samar-yang berusaha ia sembunyikan di balik ekspresi dingin.

Setelah dua jam penuh ketegangan, rapat berakhir dengan hasil memuaskan. Pihak Jepang tampak puas, dan Kaelan berdiri untuk menyalami mereka satu per satu.

Saat semua tamu keluar, ruangan hanya tersisa mereka berdua.

"Sejak kapan kamu bisa bahasa Jepang?" suara Kaelan terdengar rendah, hampir seperti gumaman.

Aurora merapikan dokumen tanpa menatapnya. "Sudah lama."

"Magang di Tokyo? Di mana tepatnya?"

"Perusahaan kecil," jawabnya singkat. "Bagian riset pasar."

Kaelan menyilangkan tangan di dada. "Menarik. Kamu tampaknya punya lebih banyak sisi daripada yang kamu tunjukkan di CV-mu."

Aurora akhirnya menatapnya, senyumnya kecil tapi tajam. "Setiap orang punya sisi yang tidak mereka tunjukkan, Pak."

Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, waktu terasa melambat.

Kaelan membuka mulut, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi pintu diketuk dari luar. Suara sekretaris lain memanggil, "Pak Kaelan, Bu Selina sudah datang. Katanya mau bicara penting."

Nama itu membuat udara di ruangan langsung menegang.

Selina Pramudya. Mantan istri Kaelan. Wanita yang dulu menjadi simbol kehancuran hubungan mereka.

Kaelan memijit pelipisnya sebentar. "Baik. Suruh tunggu di lounge."

Tapi sebelum Aurora bisa pergi, Kaelan menahannya dengan satu kalimat dingin. "Kamu tetap di sini. Aku butuh kamu mencatat."

Aurora menatapnya. "Untuk pertemuan pribadi seperti ini?"

"Selina bukan urusan pribadi," balas Kaelan tanpa ekspresi. "Dia masih pemegang saham minor."

Aurora menahan napas, lalu mengangguk pelan. "Baik."

Sepuluh menit kemudian, pintu terbuka. Selina masuk dengan langkah penuh percaya diri. Rambut pirang kecokelatannya jatuh sempurna di bahu, tubuhnya terbalut dress putih gading yang menonjolkan keanggunan sekaligus keangkuhan.

"Kaelan," sapanya manis, sebelum menatap sekilas ke arah Aurora. Senyum di bibirnya menipis. "Oh. Sekretaris baru?"

Kaelan tidak menanggapi nada sindiran itu. "Selina, langsung saja ke intinya. Kau bilang ini penting."

Selina duduk tanpa diminta, menaruh tablet di meja, dan memperlihatkan beberapa dokumen digital. "Aku ingin membahas soal pembagian aset Dirgantara Pharma. Aku punya hak, dan aku tidak akan diam melihat ayahmu mengalihkan sahamku diam-diam."

Aurora dengan cepat mencatat setiap poin. Tapi dari ekor matanya, ia bisa melihat perubahan kecil di wajah Kaelan-rahang yang mengeras, jemari yang mengetuk pelan meja.

"Selina, perjanjianmu sudah berakhir sejak perceraian," kata Kaelan tenang. "Kau sudah mendapat kompensasi."

"Tidak cukup," balas Selina tajam. "Kau pikir aku tidak tahu proyek baru itu hasil merger dengan pihak Jepang? Itu investasi yang aku bantu bangun dulu."

"Dan aku yang mengeksekusi," sahut Kaelan, suaranya meninggi sedikit. "Kau keluar sebelum proyek itu hidup, jadi berhenti berpura-pura berhak."

Suasana jadi panas. Aurora menunduk sedikit, tapi matanya tak lepas dari tablet. Ia tahu, ini bukan sekadar pertengkaran bisnis. Ini adalah permainan kekuasaan antara dua orang yang dulu pernah saling memiliki.

Selina mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kau lupa, Kaelan? Aku tahu semua rahasia keluargamu. Termasuk siapa yang sebenarnya membocorkan data tender lima tahun lalu."

Kaelan terdiam. Tatapannya menjadi gelap. "Jangan mulai, Selina."

"Kalau begitu, kita bisa bicara lagi nanti," ujar Selina dengan senyum licik, lalu berdiri. Ia sempat melirik Aurora sekali lagi sebelum keluar. "Jaga baik-baik sekretarismu, Kaelan. Kadang yang paling berbahaya justru yang tampak paling manis."

Pintu tertutup keras.

Aurora mengangkat wajahnya perlahan, menatap Kaelan yang kini menatap kosong ke arah jendela besar. "Apakah saya perlu menulis laporan rapatnya, Pak?"

Kaelan menghela napas panjang, lalu berkata tanpa menoleh, "Tidak. Hapus saja semua catatan."

Aurora mengangguk, tapi saat ia berbalik hendak pergi, suara Kaelan memanggilnya lagi.

"Aurora."

Ia berhenti. "Ya?"

Tatapan Kaelan tajam, tapi bukan marah-lebih seperti ingin memahami. "Aku tidak suka orang menyembunyikan sesuatu dariku. Termasuk kamu."

Aurora menatap balik dengan senyum tipis yang nyaris tak terbaca. "Kalau begitu, Anda harus belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa Anda kendalikan, Pak Kaelan."

Ia melangkah keluar, meninggalkan Kaelan sendirian di ruangan itu. Tapi langkahnya gemetar sedikit.

Karena di balik ketenangannya, jantungnya berdebar kencang-bukan karena takut, tapi karena satu kesadaran baru: permainan ini baru saja dimulai.

Malamnya, di apartemen kecilnya di Menteng, Aurora menatap laptopnya yang terbuka di meja makan. Di layar, terlihat folder rahasia bertuliskan PROJECT ORION, file internal milik Dirgantara Group yang hanya bisa diakses oleh direksi. Ia berhasil mendapatkannya lewat jaringan lama yang masih ia miliki dari masa magang di luar negeri.

"Jadi ini yang mereka sembunyikan," gumamnya pelan.

Ravi, putranya, sudah tidur di kamar. Wajah kecil itu tenang, polos, tanpa tahu ibunya sedang memegang rahasia besar yang bisa menghancurkan-atau menyelamatkan-ayahnya sendiri.

Aurora menutup laptop perlahan. Tangannya gemetar sedikit, tapi tekadnya bulat.

Ia tidak kembali hanya untuk bekerja. Ia kembali untuk memastikan keadilan. Untuk membalas luka enam tahun lalu-dan mungkin, menemukan jawaban yang dulu ia cari tentang Kaelan.

Di luar, hujan turun perlahan.

Dan di gedung pencakar langit yang berjarak beberapa kilometer dari sana, Kaelan berdiri di depan jendela kantornya yang gelap, menatap hujan yang sama.

Di tangan kirinya, ia memegang foto lama-foto dirinya bersama seorang wanita muda berambut cokelat dan senyum lembut yang sama seperti Aurora.

"Aurora Elenna..." bisiknya pelan. "Kau sebenarnya siapa sekarang?"

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Kaelan Dirgantara merasa kehilangan kendali atas sesuatu yang tidak bisa ia pahami-seorang wanita yang dulu ia tinggalkan, kini kembali dengan rahasia yang bahkan ia tak siap untuk hadapi.

Enam tahun lalu.

Langit sore Jakarta terlihat seperti lukisan yang tak selesai. Warna oranye muda menumpuk di antara awan tipis, memantulkan cahaya hangat di gedung-gedung kaca. Di lantai 38 Dirgantara Tower, seorang mahasiswi magang bernama Aurora Elenna Prasetyo menatap layar komputernya sambil mengetik laporan mingguan dengan kecepatan hampir tak wajar.

Usianya waktu itu baru dua puluh dua tahun. Cerdas, bersemangat, dan penuh mimpi. Ia adalah lulusan cepat dari Universitas Indonesia, mendapat beasiswa tambahan di bidang ekonomi bisnis internasional, dan baru saja diterima magang di salah satu perusahaan konglomerat terbesar di Asia Tenggara.

Baginya, Dirgantara Group bukan sekadar tempat magang—tapi simbol masa depan.

Dan Kaelan Dirgantara adalah sosok yang mewujudkan semua ambisi yang selama ini hanya ada di kepala: muda, tajam, tampan, dan karismatik.

Tapi di hari itu, Aurora belum tahu bahwa lelaki yang ia kagumi diam-diam akan menjadi penyebab luka terbesar dalam hidupnya.

“Aurora,” panggil suara lembut tapi tegas dari belakangnya.

Ia menoleh cepat, menemukan sosok Kaelan berdiri di depan pintu kaca ruang magang. Waktu itu Kaelan berusia dua puluh delapan tahun, mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung hingga siku, dasi longgar, dan jam tangan hitam yang tampak elegan di pergelangan tangannya.

Semua orang di lantai itu langsung menegakkan badan. Keheningan jatuh seketika.

Aurora ikut berdiri, menahan gugup. “Ya, Pak?”

Kaelan menatapnya sekilas. “Ikut saya ke ruang rapat. Saya butuh bantuan revisi data tender proyek luar negeri. Sekarang.”

Aurora sempat melirik rekan magangnya, yang menatapnya dengan campuran iri dan heran. Ia mengangguk cepat dan mengambil laptopnya, mengikuti langkah panjang Kaelan yang sudah lebih dulu keluar ruangan.

Ruang rapat di lantai direksi begitu tenang, nyaris seperti dunia lain. Dinding kaca menghadap pemandangan kota, dan aroma kopi hitam memenuhi udara.

Kaelan berdiri di dekat meja besar, membuka laptopnya, sementara Aurora duduk di seberang. Ia memperhatikan cara lelaki itu bekerja: cepat, presisi, nyaris tanpa celah. Tapi justru ketelitian itu yang membuat Aurora gugup.

“Ini,” kata Kaelan sambil menunjuk grafik di layar. “Angka ini tidak sinkron dengan laporan dari tim Jepang. Cek ulang data konversinya.”

Aurora memajukan tubuhnya sedikit. “Boleh saya lihat file mentahnya, Pak?”

Kaelan mengangguk, menyerahkan tablet. Saat jari mereka bersentuhan sekilas, sesuatu di dada Aurora bergetar kecil. Ia buru-buru menarik tangan, menunduk, pura-pura fokus.

Beberapa menit berlalu dalam diam, hanya bunyi ketikan cepat dan napas yang tertahan.

“Sudah,” kata Aurora akhirnya. “Masalahnya ada di rasio kurs yen yang belum diperbarui.”

Kaelan menatap layar, lalu menatapnya. “Kau tahu itu tanpa melihat catatan?”

Aurora tersenyum tipis. “Kebiasaan, Pak. Saya sering bantu dosen saya untuk riset valuta.”

Kaelan memandangnya lama. Ada sesuatu dalam tatapannya—bukan sekadar kekaguman, tapi seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang menarik di balik wajah polos seorang mahasiswi magang.

“Menarik,” katanya pelan. “Kau tidak seperti kebanyakan magang yang hanya datang untuk dapat sertifikat.”

Aurora menelan ludah. “Saya datang untuk belajar, Pak.”

“Dan kau belajar dengan cepat.”

Suara itu dalam, tapi hangat. Dan untuk alasan yang tak bisa ia jelaskan, jantung Aurora berdetak sedikit lebih cepat.

Hari-hari berikutnya, Aurora semakin sering dipanggil ke lantai direksi. Ia membantu laporan keuangan, mengatur jadwal rapat, bahkan menerjemahkan dokumen asing. Rekan magangnya mulai bergosip: “Aurora itu deh, pasti dekat sama bos.” Tapi ia tak menggubris.

Namun, malam itu menjadi awal dari segalanya.

Hari sudah lewat pukul sembilan malam ketika Aurora masih duduk di ruang rapat, menyusun data presentasi. Lantai sudah sepi. Tiba-tiba pintu terbuka, dan Kaelan muncul dengan kemeja yang sedikit kusut dan mata lelah.

“Kau belum pulang?” tanyanya pelan.

Aurora mengangkat kepala. “Masih sedikit lagi, Pak. Saya mau pastikan datanya lengkap.”

Kaelan berjalan mendekat. “Staf lain sudah pulang sejak jam tujuh. Kau tidak takut sendirian?”

Aurora tersenyum kecil. “Takutnya kalau data ini salah, bukan kalau saya sendirian.”

Kaelan tertawa kecil, tawa yang jarang sekali keluar. Ia duduk di kursi seberang. “Kau tahu, aku mulai mengerti kenapa ayahku dulu bilang: orang seperti kau akan jauh melampaui banyak orang.”

Aurora menatapnya, sedikit bingung. “Saya?”

“Ya.” Kaelan menatap lurus. “Kau punya keberanian. Tapi terlalu berani bisa jadi masalah.”

Aurora menunduk, pura-pura sibuk dengan laptop, padahal pipinya hangat. “Saya hanya melakukan yang seharusnya.”

Kaelan bersandar di kursi, memperhatikan gerak tangannya di keyboard. Ada jeda panjang sebelum ia berbicara lagi. “Kau sudah punya rencana setelah magang ini?”

“Belum tahu, Pak,” jawabnya jujur. “Saya masih menunggu hasil seleksi beasiswa luar negeri.”

“Kalau tidak diterima?”

Aurora menatap layar. “Mungkin cari kerja di sini. Atau di perusahaan lain. Asal bisa belajar banyak.”

Kaelan mengangguk pelan. “Kalau aku tawarkan posisi tetap di sini, kau akan ambil?”

Aurora mendongak, terkejut. “Serius, Pak?”

“Sangat serius,” jawabnya dengan nada rendah. “Kau lebih kompeten daripada beberapa staf tetap.”

Aurora menelan ludah. “Terima kasih, Pak. Tapi… saya masih harus menyelesaikan skripsi.”

Kaelan tersenyum miring. “Skripsi bisa diselesaikan, kesempatan belum tentu datang dua kali.”

Kata-kata itu menghantamnya lembut, seperti godaan. Dan di tengah cahaya lampu redup dan pemandangan kota malam, untuk sesaat, jarak profesional di antara mereka tampak menghilang.

Aurora baru menyadarinya ketika Kaelan mencondongkan tubuh sedikit, memperhatikan wajahnya lebih dekat. “Kau masih sangat muda,” katanya pelan. “Tapi matamu… sudah seperti seseorang yang pernah kehilangan banyak hal.”

Aurora membeku. Tak banyak orang yang pernah membaca dirinya sedalam itu.

“Saya belajar cepat, Pak,” jawabnya akhirnya, lirih. “Kadang terlalu cepat.”

Kaelan menatapnya beberapa detik, lalu berdiri, menepuk bahunya ringan. “Jangan terlalu keras pada dirimu, Aurora.”

Ia melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum kayu yang samar. Tapi langkahnya berhenti di ambang pintu. “Oh ya,” tambahnya tanpa menoleh, “besok aku ingin kau temani aku ke presentasi investor. Jam delapan. Jangan telat.”

Aurora mengangguk, meski Kaelan tak melihatnya. Setelah pintu tertutup, ia baru sadar betapa cepat jantungnya berdebar.

Itu pertama kalinya ia merasa… terlihat.

Beberapa minggu berikutnya berjalan seperti badai yang indah. Aurora dan Kaelan semakin sering bekerja bersama. Ia mulai memahami ritme kerja Kaelan, kebiasaan kecilnya—bagaimana ia mengetuk pena saat berpikir, bagaimana ia diam lama sebelum mengambil keputusan besar.

Mereka makan siang bersama di ruang kerja, tertawa kecil di sela stres pekerjaan. Kadang Kaelan memberi nasihat, kadang hanya menatap diam ketika Aurora bicara tentang cita-citanya.

Sampai satu malam di akhir proyek besar, saat tim mereka merayakan keberhasilan di restoran mewah.

Aurora tak terbiasa dengan minuman beralkohol, tapi rekan-rekan memaksa. Ia hanya minum sedikit, tapi cukup membuat kepalanya ringan. Saat semua orang berpencar, Kaelan datang menghampirinya di balkon belakang restoran.

“Kau tampak lelah,” katanya pelan.

Aurora tersenyum. “Sedikit. Tapi senang.”

“Senang karena proyeknya sukses, atau karena kau bisa buat aku kagum?”

Aurora menatapnya. “Apakah saya berhasil, Pak?”

Kaelan mengangkat gelasnya. “Lebih dari berhasil.”

Cahaya malam, angin lembut, dan aroma parfum yang sama lagi-lagi membuat segalanya kabur. Ia tahu seharusnya menjauh, tapi langkahnya justru tertahan. Kaelan menatapnya lama, sebelum akhirnya berkata lirih, “Aku tidak seharusnya tertarik pada anak magang.”

Aurora menahan napas. “Lalu kenapa Anda mengatakan itu pada saya?”

“Karena aku tidak pandai berpura-pura.”

Kata-kata itu menggantung di udara. Saat itu, Aurora tidak berpikir panjang. Dunia terasa terlalu kecil, dan jarak di antara mereka menghilang dalam sekejap.

Ciuman pertama itu terjadi tanpa rencana. Hangat, dalam, dan memabukkan. Dan malam itu menjadi awal dari hubungan rahasia yang mereka simpan rapat dari semua orang.

Beberapa bulan berikutnya adalah masa paling membingungkan dalam hidup Aurora. Ia masih magang, tapi sering dipanggil untuk proyek khusus. Kaelan mulai sering menjemputnya, membawanya makan malam di tempat sepi, bahkan mengirim bunga kecil ke apartemen mungilnya.

Ia tahu semua itu salah. Tapi setiap kali melihat tatapan lembut di mata Kaelan, semua logika runtuh.

Namun kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar.

Suatu pagi, Aurora datang ke kantor dan mendapati berita besar di seluruh portal bisnis:

“CEO Muda Kaelan Dirgantara Resmi Bertunangan dengan Putri Konglomerat Selina Pramudya.”

Dunia Aurora runtuh seketika.

Ia berlari ke ruangannya, menutup pintu, berusaha bernapas.

Ia ingin marah, tapi lebih dari itu—ia ingin penjelasan.

Sore itu, Kaelan datang ke ruang magang, wajahnya tegang. “Aurora, dengar dulu—”

“Jangan,” potongnya cepat, menatapnya dengan mata basah. “Kau bisa menjelaskan apapun, tapi bukan ini. Aku cukup tahu arti ‘tunangan’.”

“Aku tidak mencintainya,” Kaelan berkata cepat, suaranya rendah. “Ini urusan bisnis. Ayahku—”

Aurora tertawa pahit. “Bisnis. Selalu tentang bisnis. Jadi aku apa, Kaelan? Proyek sampinganmu?”

Kaelan mendekat, menahan bahunya. “Tidak. Kau tahu bukan begitu.”

“Lalu apa?” bentak Aurora. “Kau bilang tak pandai berpura-pura, tapi sekarang kau berpura-pura bahwa pernikahanmu bukan pengkhianatan?”

Kaelan menatapnya dalam diam, tak bisa menjawab.

Air mata Aurora jatuh. Ia menepis tangannya, lalu melangkah pergi. Tapi sebelum keluar, ia menatap balik. “Aku harap suatu hari kau sadar, kehilangan yang terbesar bukan karena bisnis yang gagal, tapi karena cinta yang kau hancurkan dengan keserakahanmu sendiri.”

Itu terakhir kali mereka bertemu.

Seminggu kemudian, Aurora mengundurkan diri dan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan beasiswa. Ia sudah mengandung saat itu, tapi tidak pernah mengatakannya pada siapapun.

Kembali ke masa kini.

Aurora terbangun dari mimpi itu dengan napas tersengal. Ia duduk di ranjang, menatap langit-langit kamar apartemennya. Ravi masih tidur di sampingnya, memeluk boneka beruang kecil.

Ia mengusap kepala putranya dengan lembut. Wajah Ravi, meski muda, memiliki garis tegas yang terlalu mirip Kaelan. Setiap kali melihatnya, kenangan itu datang lagi.

Aurora berdiri pelan, menatap bayangannya di cermin. Enam tahun sudah berlalu. Ia bukan lagi gadis polos yang menangis karena cinta. Sekarang ia adalah wanita dengan rencana, strategi, dan rahasia.

Tapi di lubuk hatinya, bagian kecil dari dirinya masih bertanya:

Apakah Kaelan pernah benar-benar mencintainya?

Dan apakah ia bisa terus berbohong pada dirinya sendiri, bahwa perasaan itu sudah mati—padahal setiap kali Kaelan memanggil namanya di kantor, jantungnya masih berdetak seperti dulu?

Di gedung Dirgantara Group, pagi itu Kaelan menatap file di mejanya. Di dalamnya ada laporan kinerja Aurora Elenna. Nilai luar biasa, efisiensi tinggi, kecerdasan di atas rata-rata. Tapi sesuatu membuatnya gelisah—nama itu.

Ia membuka data latar belakang, tapi catatan tentang masa lalunya samar, seolah ada yang sengaja disembunyikan.

Kaelan menyandarkan tubuh di kursi. Ia mengingat senyum Aurora saat di ruang rapat, nada suaranya, bahkan cara ia menatap langsung tanpa takut. Semuanya terasa… terlalu familiar.

“Aurora Elenna,” gumamnya pelan. “Aku pernah mengenalmu, bukan?”

Di luar, suara hujan mulai turun pelan. Dan untuk pertama kalinya dalam enam tahun, Kaelan merasa masa lalunya belum benar-benar berakhir. Karena wanita yang dulu ia lepaskan—kini kembali, bukan sebagai gadis yang lemah, tapi sebagai rahasia terbesar dalam hidupnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED