Bab 1

Seorang pria muda berusia dua puluh dua tahun berlari melewati pintu rumah sakit. Dia menggendong anak perempuan yang kaki dan tangannya berlumuran darah. Usia anak itu sekitar empat tahunan.

Diikuti empat orang suster yang membawa dua korban kecelakaan lainnya, pria itu berlari dengan tangan gemetar. Wajahnya nampak begitu panik setelah anak dan sepasang nenek kakek itu masuk ruang UGD yang berbeda.

Sekitar dua jam yang lalu.

Juanda Alfarisi, pemuda yang baru saja pulang dari Singapura berniat untuk pulang ke kampung halamannya di daerah sekitar Cilacap.

Saat perjalanan, Faris, sebutan untuk pemuda itu. Dia terjebak hujan hingga akhirnya harus menepikan mobil cukup lama sekitar satu jaman.

Lalu saat hujan sudah reda, Faris langsung melajukan mobil. Tanpa menghiraukan sebuah peringatan disepanjang jalan. Peringatan yang bertuliskan 'JALAN RAWAN LONGSOR DIHARAP PUTAR BALIK'.

Faris hanya berpikir positif, meski jalan di sana terlihat cukup licin. Tetapi, ketika melewati sebuah jalan belokan mobil Faris terhenti. Faris melihat sebuah pohon tumbang yang menghalangi jalan.

Faris berpikir untuk memutar balik, tapi tidak jadi. Pandangannya tertuju pada kepulan asap dibalik pohon itu. Karena penasaran ia menghampiri pohon.

Sungguh, suatu kejadian yang tak pernah diduga Faris. Ia kaget saat melihat sebuah mobil yang sudah tertindih. Pohon besar menindih mobil tersebut di bagian depan, sedang belakangnya tertutupi tanah longsor.

Faris turun, mendekati mobil yang nyaris tak terlihat itu. Mencoba membuka pintu depan mobil kemudian. Faris tak bisa melakukan apa-apa, tangannya tiba-tiba gemetar. Di mobil sepasang nenek kakek nampak dalam keadaan mengenaskan. Kepala si Kakek terbentur setir dan tubuhnya tertindih dahan pohon yang tumbang, begitu pun dengan si nenek yang tubuhnya tertindih dahan pohon itu.

Belum usai kekagetannya, Faris mendengar getaran dan bunyi ponsel sontak membuatnya terperanjat. Faris mencoba mencari, ponsel itu ternyata ada di saku celana si kakek. Diambilah ponsel dengan tangan gemetar. Satu panggilan masuk, Hafid angkat perlahan.

"Hallo ...." Faris mendengarkan dengan seksama suara di balik ponsel itu.

"Yah! Ayah, Ayah baik baik aja, kan? Jangan jalan ke jalan biasa, Yah! Hujannya gede lho, Yah, aku takut ayah kenapa napa," Tanya wanita di balik telepon itu.

"Hallo, Mbak."

"Lho? Ini bukan ayah, ya? Ini siapa? Ayah saya mana, ya?" Wanita itu mulai panik.

"Ayah Mbak ...." Faris mengerjap cemas kemudian melihat ke arah mobil. "Di-a kecelakaan, Mbak ...."

"Apa?! Ayah kecelakaan? Gimana keadaannya, Ibu sama Arista gimana kabarnya? Mereka baik baik aja, kan?" sahut wanita itu dengan cemas dan takut.

"Mbak tenang, ya. Saya baru menemukan mereka saya akan bawa mereka ke rumah sakit terdekat, nanti saya kirim alamatnya, Mbak."

"Ya udah, cepat, ya! Nanti saya nyusul." Terdengar suara wanita itu tergesa-gesa.

Berikutnya dia langsung mematikan sambungan telepon. Faris pun bergegas memasukkan ponsel itu ke saku celananya. Ia lalu membuka pintu belakang mobil itu dan matanya membulat seketika, tak kala melihat seorang gadis kecil yang berlumuran darah di kakinya akibat tertimpa tanah longsor.

Tanpa basa-basi, Faris segera mencoba menyingkirkan tanah yang menimbun kakinya, lalu menggendong gadis kecil itu ke dalam mobil miliknya. Tak lupa setelah itu, Faris langsung menghubungi ambulance dan polisi untuk menangani kecelakaan itu.

Ingatan beberapa jam lalu itu cukup membuat Faris termangu. Dirinya yang usai mengelap tangan dengan tisu hanya bisa terduduk lesu, menunggu di depan ruang UGD. Dia menunggu gadis kecil yang tadi ia selamatkan, sementara kakek dan nenek yang tadi di jok bagian depan, mereka dibawa ke ruang UGD yang berbeda.

Faris belum sempat menemui wanita yang  menelponnya tadi. Hatinya masih shock mendapati kejadian yang di luar dugaan. Sementara si wanita tadi,  setelah diberitahukan alamat rumah sakit, wanita itu langsung menemui pasangan nenek dan kakek.

Lalu Faris mendapatkan amanah dari wanita itu, untuk menunggu si gadis kecil sadar, dan ternyata dia adalah putri dari wanita yang meneleponnya tadi.

Faris masih tertunduk diruang tunggu depan UGD, menatap tangan bekas lumuran darah yang baru saja dia bersihkan. Tak lama, tiba-tiba seorang dokter keluar dari UGD.

Faris langsung berdiri.

"Anda keluarga pasien?" tanya dokter itu.

"Saya yang menyelamatkannya tadi, bagaimana kondisi nya, Dok? Dia baik baik saja, kan?" Faris panik bergegas mendekati dokter.

"Alhamdulillah, dia berhasil melewati masa kritis. Kita hanya tinggal menunggunya sadar saja," jelas dokter.

"Alhamdulillah, syukur kalo begitu. Apa saya boleh melihat nya?" tanya Faris lagi.

"Silahkan, Pak."

"terima kasih, Dok. Saya akan melihatnya."

"Kalau begitu saya permisi." Dokter tersenyum lalu pergi meninggalkan Faris yang lekas masuk menuju ruangan itu.

Faris membuka pintu perlahan. Ia melihat seorang gadis kecil yang sedang terbaring lemah dengan selang di hidung dan infusan di tangannya.

Faris mendekati gadis kecil bernama Arista itu. Ia merasa kasihan dan sedih melihat kondisinya. Faris duduk di samping gadis yang terbaring tak berdaya dan memegang satu tangan gadis itu.

"Hey ... kamu harus kuat, ya. Sebentar lagi ibumu akan datang," ucap Faris dengan lembut.

Jantungnya seketika terenyuh. Entah kenapa Faris begitu merasa terluka saat melihat gadis itu, bahkan ia hampir menitihkan air mata.

Gerakan jari dari gadis kecil itu mengagetkan Faris, ia bergegas memanggil dokter dengan tombol otomatis yang ada di sana. Beberapa saat kemudian dokter pun datang bersama dua orang suster.

"Pak, mohon maaf, Bapak keluar dulu, kami akan memeriksanya dulu. Mohon bapak tunggu di luar," pinta salah seorang suster.

"Baiklah."

Faris menuruti perintah suster itu. Ia pun keluar dan kembali menunggu, duduk disalah satu kursi di sana.

Wanita mengenakan setelan dress selutut dan jeans menghampiri Faris dan langsung menepuk bahu Faris yang sedang tertunduk karena khawatir.

Dengan mata sembab wanita itu memberanikan diri bertanya pada Faris, "gimana keadaan anak saya?"

Faris mengangkat wajah lalu menatap wanita itu. "Dia ...." Kalimat Faris terhenti tiba-tiba dengan sorot mata cukup tercengang.

"Fa--ris?" Sama halnya Faris, wanita itu pun malah kaget. Menatap wajah Faris nyaris tak berkedip.

"Tanika?"

"Maaf, pasien sudah sadar dan dia ingin bertemu dengan ibunya" Tiba tiba suara dokter menghentikan lamunan keduanya.

"Saya ibunya, Dok." Tanika langsung menghampiri dokter di depan pintu UGD. "Bagaimana keadaan Arista?"

"Alhamdulillah, sudah sadar, Bu. Dia ingin bertemu dengan Ibu. Silahkan masuk." Dokter itu tersenyum mempersiapkan Tanika masuk.

"Terima kasih, Dok." Tanika berjalan cepat masuk ke dalam ruangan.

Sementara Faris, dia masih mematung karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Dia kembali bertemu dengan gurunya waktu di SMA. Guru yang tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya di masa lalu.

Sudah sekitar lima tahun berlalu. Pernikahan yang terjadi akibat kesalahpahaman, tapi Faris masih selalu memikirkan wanita yang telah menjadi mantan istrinya itu. Dan lagi, memang perpisahan itu pun bukan karena kemauan Faris.

Kembali Faris terduduk di kursi. Entah apa yang harus Faris rasakan? Bahagia atau sedih? Haruskah dia bahagia karena bisa bertemu lagi dengan Tanika, atau sedih karena kini Tanika sudah memiliki anak dan kemungkinan besar Tanika sudah menikah lagi?

Faris menarik napas dalam, mencoba tenang dan tak terhanyut dengan perasaan. Semua sudah berlalu dan kisahnya pun sudah usai lima tahun yang lalu.

Cukup lama Faris duduk disana. Merasa gadis kecil sudahlah ada yang menjaga. Hingga saat Faris memutuskan untuk beranjak, kakinya baru melangkah beberapa meter dari depan ruangan, suara Tanika menghentikan laju langkah itu.

"Faris!"

Faris berhenti lalu menoleh. Tanika berlari kecil menghampirinya.

"Terima kasih, kamu sudah menjadi penyelamat untuk Arista," ucapnya melukis senyum.

Faris balas tersenyum. "Ya Bu sama sama. Oh, ya. Kondisi Ayah--eh maksud aku orang tua Ibu bagaimana?"

Tanika terdiam, untuk kemudian menghela napas sebentar. "Allah lebih menyayangi mereka, mereka menghembus napas terakhir, bahkan sebelum sampai kesini. Mungkin itu yang terbaik" Tanika berusaha tegar saat mengatakan itu pada Faris, meski hatinya sangat terluka.

"Inalillahi, aku turut berduka cita. Maaf, karena aku terlambat datang ke sana," ucap Faris penuh penyesalan.

"Enggak kok, kamu adalah penyelamat. Aku sangat berterima kasih." Tanika tersenyum getir.

"Oh, ya. Udah lama aku nggakk ketemu kamu. Gimana kalau kita ngobrol dulu atau kamu mau langsung pulang?" tanya Tanika berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

"itu, sebenarnya aku ...." Faris ragu untuk menjawab. Dia dapat melihat sinar mata memilukan di kedua mata Tanika. Faris sungguh tak tega melihat kesedihan di sana.

"kamu sibuk, ya?"

"Em, enggak kok, Bu."

"Ya udah, kita ke kantin dulu, yuk! Kamu mungkin belum makan, kita makan dulu." Masih dengan senyum itu, Tanika berusaha tenang di tengah gejolak hati yang masih bergemuruh. Rasanya perih sekali di sana. Begitu banyak ujian yang ia rasa saat ini. Sakit memang, tapi apa yang bisa dilakukan selain berusaha tegar.

"Tapi Bu--"

"Anggap saja ini ucapan terima kasih," potong Tanika.

"Baiklah." Faris ikuti kemauan Tanika.

Mereka pun pergi ke kantin dan memesan makanan. Faris makan seperti biasa. Tetapi, hatinya masih merepih ketika melihat Tanika yang hanya diam saja. Bahkan, dirinya hanya memesan teh hangat. Tidak diminum dan hanya diaduk-aduk saja.

"Bu!"

"Ya." Tanika sedikit terkejut.

"Ibu baik baik aja, kan? Kenapa Ibu enggak makan?" tanya Faris khawatir.

"aku enggak laper, Ris."

"Oh gitu ya." Faris mengelap bibir karena makannya selesai. "Eh iya, Bu. Ibu sendiri aja? Ayah Arista, Ibu tidak menghubunginya?" tanya Faris mulai penasaran dengan kehidupan Tanika sekarang.

Perasaan Tanika serasa dihujam seribu pedang atas pertanyaan Faris. Ia menelan ludah, lalu memandang Faris dengan tetap berusaha tenang.

"Dia ... sibuk, Ris," singkat Tanika berbohong. Ah, mau bagaimana lagi? Tanika merasa tidak mungkin dan tidak mau juga menceritakan kehidupan rumah tangganya sekarang.

Melihat raut wajah Tanika yang nampak kecewa Faris terdiam. Ia meraih teh hangat di atas meja, meminumnya sekilas.

"Maaf, Bu. Aku enggak bermaksud ...."

"Enggak apa-apa. Pertanyaan kamu wajar kok." Tanika berusaha tersenyum lagi.

Hati Faris serasa begitu sakit saat mengetahui Tanika sudah menikah lagi dan lagi dia sudah memiliki anak. Meskipun tatapan Tanika menunjukkan kekecewaan saat membahas suaminya. Tapi tetap saja, Tanika kini sudah dimiliki pria lain.

Bab 2

Kisah ini bermula lima tahun yang lalu. Kisahku dan guru Biologi itu.

Suara pintu yang kuketuk mungkin enggak membuat orang di dalam sadar, ada seseorang di balik pintu.

"Assalamualaikum," kataku akhirnya sembari membuka pintu ruang guru itu.

"Waalaikumsalam." Terdengar jawaban serentak dari para guru.

"Duh lagi ada banyak guru kayanya," pikir ku sebelum masuk.

"Masuk!" Suara yang tak asing terdengar menyuruh masuk. Aku pun memberanikan diri masuk membawa buku-buku ditangan.

"Taruh disana, di meja Ibu aja, Ris," pinta Bu Tanika, Guru Biologiku.

Aku menyimpan tepat di atas meja beliau. Jujur, merasa agak canggung juga saat tahu di Ruang Guru sedang ada rapat dan banyak guru di sana.

"Tunggu, Ris!" Langkahku terhenti saat suara Pak kepala sekolah menggema di ruangan.

Aku membalikkan badan dengan  perasaan takut. Jelas takut, Pak kepala sekolah terkenal sebagai guru killer dan dia itu irit bicara, kan bikin sport jantung tuh kalau dipanggil sama beliau.

"Kamu kesini!" pintanya lagi masih dengan tatapan itu. Yang udah lah ... pokonya enggak bisa aku jelasin.

Jadi inget teman sebangkuku yang ditampar karena telat masuk minggu lalu. Tapi sudahlah aku memberanikan diri saja.

"Ada apa, Pak?" tanyaku dengan hati hati sesampainya di hadapan beliau.

"Kamu gantiin Anatasya buat Olimpiade Sains bulan depan," pintanya masih dengan wajah dingin, dan seakan enggak peduli aku yang sudah merasa ingin copot jantung.

"Dan kamu Tanika .." Pak Kepala Sekolah menunjuk Guru Biologiku. "Ajari Faris dalam waktu satu bulan."

"Baik, Pak," jawab Bu Tanika.

"Ya sudah, rapat selesai. Saya harus liat kondisi Anastasya." Pak kepala sekolah itu langsung keluar tanpa permisi atau memandangku yang sedang bingung plus shock, kaget dengan apa yang dia perintahkan. Bagaimana tidak kaget aku disuruh ikut lomba tingkat nasional dan belajar dalam satu bulan? Ah, apa apaan ini? Aku masih mematung dan tak tahu harus bilang apa.

Tiba tiba suara seseorang menyadarkanku dari lamunan dan kebingungan itu.

"Kamu ikut Ibu sekarang ke perpustakaan, kita belajar mulai hari ini," pinta Bu Tanika yang sedang membereskan tasnya.

"Ta-ta-pi, Bu." Aku gelagapan bingung harus bilang apa. Aku benar benar tidak bisa, tapi juga tidak bisa menolak.

"Gak ada tapi, ikut!" tegasnya sembari melewatiku yang belum selesai bicara.

Yah, inilah nasibku. Aku Juanda Alfarisi, seorang murid kelas XI di salah satu SMA di daerah Cilacap.

Awal hidup baru yang bisa dibilang aneh. Aku tidak pernah mengira semuanya akan menjadi lebih rumit dari itu. Padahal aku tidak bisa ikut belajar dengan Bu Tanika, karena kakekku di rumah sedang sakit dan tentu saja aku harus merawatnya.

Tapi, aku juga tak bisa menolak, Pak Kepala sekolah yang memintaku. Lagian kenapa juga Anatasya? Diakan sudah terpilih ikut lomba kenapa malah aku yang menggantikan?

Aku memang sering punya peringkat pertama di kelas, tapi ini bukan waktu yang tepat, karena Kakekku memang sedang sakit.

Sepanjang perjalanan menuju perpustakaan aku terus menghela napas, mencoba berpikir bagaimana cara aku mengatakan pada Bu Tanika yang saat itu sedang berjalan di depanku. Bahwa aku memang tidak bisa.

Sampailah kami di Perpustakaan. Bu Tanika langsung memilih buku-buku di rak. Sementara aku, tanpa disuruh, langsung duduk saja.

Cukup lama aku menunggu Bu Tanika. Hingga dia pun duduk di hadapanku, menaruh buku dan menyodorkannya padaku.

"Soalnya paling juga yang biasa kita bahas di kelas, cuma pasti ada tambahan dan ya ... itu belum kita pelajari. Jadi, kamu baca dulu buku ini, nanti tanya saya kalau ada yang enggak kamu ngerti" cerocos Bu Tanika tanpa membiarkanku membuka mulut.

Aku melihat Bu Tanika yang nampak mau membuka tas nya. Aku pikir dia tak menyadarinya, tapi ....

"Ada apa? Kamu udah paham? kok enggak baca?" tanyanya lalu melihatku.

"Enggak, Bu, bukan itu. Tapi ... saya mau tanya kenapa saya jadi gantiin Anatasya?"

"Oh itu. Anastasya kecelakaan dia harus dirawat di rumah sakit. Kemarin waktu dia izin pulang ke Garut mobilnya masuk jurang," jelas Bu Tanika.

"Inalillahi, yang bener Bu?" Aku kaget langsung melotot menatap Bu Tanika.

"Iya bener, kamu jadi gantiin dia," jawabnya santai lalu mengeluarkan ponsel.

"Tapi aku enggak bisa, Bu" ungkapku jujur.

"Lho, kenapa? Kamu itu kan pinter, Ris. Kamu enggak mau banggain sekolah kita?" tanyanya terlihat agak kaget dengan pernyataanku.

"Soal itu saya juga mau, tapi kakek saya lagi sakit, Bu. Jadi, saya harus rawat dia." Aku menghela napas setelah menjelaskan itu, enggak enak juga sih.

"Kan ada orang tua kamu yang jaga" Bu Tanika begitu enteng menanggapi penjelasanku.

"Ibu saya di Arab Saudi. Kalau Bapak, saya enggak tahu Bapak saya dimana." Aku agak tersinggung dengan tanggapan Bu Tanika, tapi aku berusaha maklum. Beliau memang guru baru yang belum tahu bagaimana aku dan keluargaku.

"Oh ... ya ampun maaf ...." Nampak Bu Tanika menyesal dengan tanggapannya tadi. "Terus kakek kamu sakit apa, parah banget?" Kini Bu Tanika memasang wajah khawatir yang imut. Duh, aku belum pernah melihatnya seperti itu. Wajahnya selalu tegas kalau dikelas.

"Stroke Bu. Dia cuma tidur di kasur aja seharian, jadi aku harus rawat dia." Aku menatap Bu Tanika dengan tatapan sedih mengingat kondisi kakek di rumah.

"Oh gitu ya. Duh, gimana ini? Saya juga enggak tega sama kakek kamu, tapi juga Pak Kepala sekolah nyuruh kamu yang ganti." Wajah Bu Tanika sangat bingung dia lalu mengetik sesuatu di ponselnya.

"Kalau begitu tunggu sebentar! Biar Ibu telpon Pak kepala sekolah buat ganti aja orangnya jangan kamu. Kamu tunggu di sini, okey?" sarannya lalu berdiri, memundurkan kursi dan keluar perpustakaan.

Dapat kulihat dari tempatku duduk, Bu Tanika sedang berbicara di telpon dan wajah yang awalnya ceria itu langsung berubah kecewa, setelah mendapat jawaban dari orang di balik telpon.

Bu Tanika kembali dengan wajah kecewa. Dia duduk dengan lesu di hadapan ku.

Bu Tanika menghela napas berat. "Maafin ibu ya, Ris. Kayanya kamu enggak bisa diganti. Soalnya kata Pak Kepala sekolah setelah Rama dan Anatasya, nilai kamu yang paling bagus."

Aku tertunduk lesu dan menghela napas juga.

"Tapi ibu punya ide," ucap Bu Tanika tiba-tiba. "Ayo kita pulang ke rumah kamu, nanti ibu ajarin kamu setelah kamu udah ngerawat kakek kamu. Biasanya jam berapa kamu beres ngerawat kakek kamu?"

Pertanyaan yang emang aneh. Sampai seperti itu Bu Tanika mau mengajariku. Aku sebenarnya enggak habis pikir tapi akhirnya kujawab juga pertanyaan Bu Tanika yang aneh itu.

"Jam tiga sore, Bu. Tapi Bu, rumah saya enggak bagus, Bu. Saya malu kalau ibu kesana," jelasku dengan agak tertunduk.

"Gak apa-apa, saya bakal kesana. Jadi kita bisa belajar sampai isya paling. Ibu enggak punya pilihan lain. Olimpiadenya satu bulan lagi, jadi kita harus ngejar materi," jelas Bu Tanika lalu membereskan buku buku tadi dan membawa kepangkuan.

Nampak saat Bu Tanika akan mengambil tasnya dia kesulitan karena banyaknya buku yang dibawa. Aku pun berinisiatif mengambil buku buku yang dia bawa.

"Bu, biar aku aja yang bawa bukunya," pintaku sembari berdiri dan menyodorkan kedua tanganku.

Bu Tanika tersenyum padaku, lalu menyodorkan buku-buku itu ke tanganku.

"Makasih, ya. Udah kamu ikut saya!" Pulangnya naik mobil saya," perintah Bu Tanika sembari menyimpan tas di bahu kanannya.

"Tapi, Bu--" Aku masih merasa tak enak dengan tawaran Bu Tanika.

"Udah enggak apa-apa. Jadi saya nanti bisa tahu rumah kamu dimana," sela Bu Tanika lalu berjalan keluar perpustakaan.

Akupun dengan pasrah mengikutinya. Kami menaiki mobil sedan miliknya. Aku duduk di samping Bu Tanika yang sedang mengemudi.

Mobil yang bagus pikirku. Ini memang pertama kalinya aku naik mobil bagus. Ya mana mungkin aku naik mobil bagus untuk biaya kakek berobat saja aku tidak punya. Aku sendiri bisa makan karena transferan uang dari ibu yang bekerja di Arab Saudi.

Aku merasa cukup nyaman naik mobil itu, meski jalan kerumah memang tidak bagus dan banyak lubang.

"Ris, rumah kamu di mana, sih? Kok jauh banget, mana jalannya jelek lagi," keluh Bu Tanika yang mulai kesal karena jalan yang kami lewati memang enggak ada bagus bagusnya.

"Rumah saya di dekat kebun Bu, jadi masih lumayan," jawabku cengengesan.

"Kamu tiap hari jalan sini, naik apa? Kayanya enggak ada angkot," tanya Bu Tanika wajahnya terlihat khawatir dan agak heran.

"Saya biasa naik ojek, Bu, atau jalan kaki," jawabku apa adanya.

"Hah! Jalan kaki?!" Bu Tanika melototiku. "Jangan gila kamu jalan kaki, sejauh ini?!" tanyanya lagi masih tak percaya.

"Iya, Bu. Lagian saya cari pahala juga, Bu. Kan mau nuntut ilmu." Lagi-lagi aku menjawab dengan cengengesan. Lucu juga guru satu itu, sampai sekaget itu tahu aku jalan kaki dari rumah ke sekolah.

Bu Tanika menghela napas panjang. "Saya kagum sama kamu, niat kamu buat belajar juga bagus. Kamu bahkan sampai rela jalan di jalan kaya gini tiap hari," puji Bu Tanika sambil tersenyum manis.

Ya ampun, senyumnya. Dia itu guru yang perpect banget sih. Bukan cuman masih muda dan cantik, beliau juga sudah jadi guru di usia mudanya. Aku hanya tersenyum menanggapi pujiannya itu.

Sekitar lima belas menit kami baru sampai di rumahku. Bu Tanika memarkirkan mobilnya tepat disamping rumahku. Rumah itu  memang sangat sederhana dan juga kebetulan di RT-ku rumah cukup jarang jaraknya. Jadi, cukup leluasa untuk memarkir mobil Bu Tanika.

Bu Tanika ikut turun saat aku turun mobil. Cukup banyak orang yang memandangiku turun dari mobil mewah itu. Apalagi ibu-ibu yang mulai bisik bisik saat Bu Tanika keluar mobil bersamaku.

"Ini rumah kamu?" tanya Bu Tanika sambil menunjuk rumahku heran.

"Iya, Bu. Maaf ya Bu gak bagus," jawabku ikut memandang rumah yang hanya terbuat dari batu bata dan bilik bambu itu.

"Ya udah, Bu. Masuk dulu saya buatin minum sekalian," pintaku sembari mengiring nya masuk rumah.

Bu Tanika tak menjawab dia malah celingak-celinguk melihat sekitar dan juga rumahku. Aku tahu pasti dia sangat heran dengan rumahku, dan pasti lebih heran lagi karena aku bisa masuk sekolah seelit sekolahku itu. Ya karena memang aku masuk sekolah itu pun karena beasiswa.

"Ayo, Bu. Duduk dulu!" Aku menyuruh Bu Tanika duduk di sofa saat sudah masuk. Sofa itu tampak sudah pudar juga warna, maklumlah rumah orang enggak punya.

Bu Tanika duduk lalu tersenyum padaku.

"Bentar ya, Bu. Aku ambilkan minum." Aku menaruh buku-buku di meja samping sofa, lalu pergi ke dapur mengambil kan air minum untuk Bu Tanika.

Saat aku datang Bu Tanika masih celingak-celinguk melihat isi rumahku yang sederhana itu. Hanya ada satu sofa usang, televisi, beberapa figura, lemari, juga satu meja biasa yang ditaruh di samping sofa .

"Diminum dulu, Bu," kataku sambil menaruh air putih di hadapan Bu Tanika lalu duduk di sampingnya.

"Enggak apa-apakan, Bu air putih aja," Aku agak malu dan ragu Bu Tanika tak mau menerimanya.

Tapi ternyata dia malah tersenyum.

"Iya enggak apa-apa. Ibu minum, ya." Bu Tanika mengambil lalu meminum air putih di gelas itu.

"Oh iya. Maaf lho sebelumnya, emang Ibu kamu belum pernah pulang?" tanya Bu Tanika, sepertinya dia memang mulai penasaran dengan hidupku.

"Enggak, Bu. Paling kalau lebaran," jawabku lalu meminum air putih yang kubawa untuk sendiri.

"Oh, tapi Ibu kamu udah tahu kondisi Kakek kamu?"

"Tahu, tapi dia enggak bisa kasih uang lebih buat berobat kakek," sahutku sembari menaruh gelas kembali.

Bu Tanika nampak iba kepadaku, tiba tiba dia memegang bahuku lalu mengusap-ngusapnya dengan lembut. Aku jadi  merasa terharu, perlakuan itu membuatku seperti bertemu Ibu yang lama tak kutemui.

"Kamu yang sabar, ya. Anak pinter kaya kamu pasti nanti bakal sukses." Bu Tanika melukis senyum, yang bagiku manis sekali.

"Iya makasih, Bu," sambutku terharu. "Eh, ya Bu. Saya mau langsung bersihin kakek, kasihan soalnya dari pagi saya belum sempet washlap dia." Aku beranjak dari duduk.

"Okey kalau gitu." Bu Tanika masih melukis untuk, dia lalu melihat jam tangan putih di pergelangan tangannya.

"Kamu yakin beres jam tiga, ini udah jam dua siang lho?" tanyanya tiba-tiba.

Benar juga. Karena Hari Senin waktu pulang sekolah jadi telat, aku langsung panik mengingat itu, sekilas kupandang Bu Tanika.

Aku mencoba meyakinkan dia. "Akan saya usahakan, Bu."

Setelahnya aku segera pergi ke kamar mandi, mengambil alat washlap, lalu langsung mewashlap kakek juga menyuapi beliau makan. Kemudian aku beres beres rumah, mengambil jemuran, mencuci piring juga memasak. Aku memasak cukup banyak, karena aku kira Bu Tanika juga butuh makan, kami kesini tanpa makan siang dulu tadi.

Aku menengok jam usang di dinding dapur. Jam menunjukan pukul 15.00 tepat, membuatku benar benar kaget, lalu mempercepat masakku.

Setelah selesai masak, aku menengok ke ruang tamu untuk melihat Bu Tanika. Sungguh, aku kaget melihat Bu Tanika sudah tertidur lelap di sofa usangku dengan posisi terduduk dan wajahnya yang tertunduk.

Kasihan sekali aku pun mendekati dan mencoba membetulkan posisi tidurnya. Kutaruh bantal di sisi sofa, mencoba menidurkan kepalanya. Lalu, kaki Bu Tanika kurentankan di sisi sofa yang lain.

Bu Tanika yang masih memegang tas dan lekas kuambil juga tasnya. Sepertinya Bu Tanika sangat lelah, bahkan dia tak bergerak saat posisi tidurnya ku betulkan.

Aku menghela napas saat berhasil menyelimutinya. Mata ini menatap keluar jendela, nampak hujan begitu deras juga kilat yang sesekali terlihat di langit.

"Hmm, hujan. Bagaimana Bu Tanika, ya? Apa dia harus menginap di sini? Tapi aku tidak punya kamar lagi," batinku bertanya-tanya mengingat nasib Bu Tanika.

Aku menghela napas resah. Tentu saja aku tak punya kamar lagi, karena di rumah ini hanya ada dua kamar, kamar aku dan kakek.

Setelah itu aku mencium bau asam, dan saat kucium ternyata itu bau badanku.

"Ya Allah, aku bau sekali, lebih baik mandi sekarang. Aku enggak mungkin bangunin Bu Tanika, kan? Nanti saja kalau aku sudah mandi," gumamku kemudian memilih melenggang ke kamar mandi. Biarlah tentang Bu Tanika, tubuh ini lebih jadi prioritas.

°°°

Terima kasih untuk yang sudah baca. Salam hangat dan semangat dari Author. ( ◜‿◝ )♡

Bab 3

Kubuka mataku perlahan dan merasa begitu hangat. Karena itu aku mengurungkan niat untuk membuka mata malah menarik selimut yang menutupi tubuh ini.

Tiba-tiba aku mendengar guyuran air saat akan kembali memejamkan mata. Aduh, siapa sih yang mengganggu tidurku?

Aku memang bergadang malam tadi karena harus merangkum materi, materi yang akan aku berikan untuk pengganti Anatasya di olimpiade sains. Makanya cukup kesal juga kalau ada yang menganggu saat aku tidur.

Tiba tiba aku mengingat sesuatu kalau aku sedang bukan ada di rumah. Itu membuatku bangun dan langsung melihat sekeliling. Tuh kan benar, aku bukan ada di rumah, tapi rumah Faris --muridku--.

Aku menguap sesaat, untuk kemudian pelan bangkit dari tidur, lalu melihat keluar jendela. Hujan yang deras, aku menghela napas, berpikir akan berada cukup lama di rumah ini.

Aku kembali menghela napas saat melihat isi sekeliling rumah Faris, rumah yang sederhana. Ya, sangat sederhana bagiku seorang Tanika Kusuma Pratama yang hidup dengan segala kecukupan di dalamnya. Bisa dibilang hidupuku lebih beruntung dari Faris.

Jujur, aku enggak ngerti kenapa Faris bisa masuk sekolah itu, pasti Faris benar-benar pinter. Ya, dia memang anak yang pintar sih.

"Bu, Ibu udah bangun?" tanya seseorang yang aku kenal pasti Faris.

Aku menoleh dan melihat padanya. "U, Aaaa!" Bukan menjawab aku malah berteriak dan menutup mataku.

"bu, kenapa?" tanyanya dan suara itu seperti mendekatiku.

Aku tak berani melihat karena Faris sekarang sedang telanjang dada di hadapanku dan hanya mengenakan sehelai handuk, benar-benar tidak sopan anak itu.

"Kamu gila, ya?! Pake baju sana, enggak sopan depan guru," gerutuku masih menutup kedua mata dengan telapak tangan.

"Ya ampun, Bu. Kirain apa. Maaf ya, Bu. Saya baru mandi barusan. Ya udah, saya ganti baju dulu," jawabnya terdengar seperti tak merasa bersalah.

Aku memberanikan mengintip dari sela jari memastikan anak itu sudah masuk kamarnya, kemudian menghela napas lega. Syukurlah, akhirnya dia masuk kamar juga.

Aku kembali duduk dan merapikan selimut yang tadi dipakai. Sepertinya tadi Faris yang menyelimutiku, aku jadi benar benar tidur nyenyak. Tapi, baguslah malam ini aku jadi bisa ngajar Faris dengan tenang tanpa ngantuk.

"Bu, ayo kita makan dulu!" Suara Faris membuatku menoleh padanya. Pemuda berkulit putih bersih itu keluar dari kamar.

"Makan?" tanyaku heran, karena memang aku tidak membawa makanan ke sini.

"Iya, Bu," sahutnya. "Maaf ya Bu soal yang tadi." Kulihat wajah remaja berambut hitam pekat itu tampak menyesal.

"Ya udah Ibu maafin, tapi awas jangan gitu lagi. Enggak sopan apalagi depan guru kamu," jawabku kesal, karena kejadian memalukan tadi.

Faris kembali mengembangkan senyumnya. "Ya udah, kalau gitu kita makan dulu, Bu," pinta Faris yang kemudian berlalu menuju dapur.

Aku penasaran lalu mengikutinya. "Makan? Kamu masak?" tanyaku penasaran pada remaja yang sedang mengangkat nasi dan makanan itu. Dia nampak kesulitan membawa dua mangkuk dan satu bakul nasi.

"Sini Ibu bantu!"  Aku mengambil dua mangkuk yang dia pegang.

"Makasih, Bu." Faris cengengesan karena bantuan itu.

Aku dan Faris pun menyimpan menu makan malam yang bisa dibilang sederhana itu di atas karpet lipat, samping sofa yang aku tiduri tadi.

Menu makan ini sangat sederhana, bisa dibilang sangat jauh dengan yang sering aku makan di rumah. Hanya ada nasi putih, Cah Kangkung, Tempe Goreng, dan Tahu Goreng.

Aku hanya menatap saja makanan itu, meski aromanya cukup memikat, aku malah berpikir bisa memakannya atau tidak, ya?

Faris mungkin melihatku yang hanya bengong. Dia pun menyodorkan sepiring nasi dengan kangkung, tempe dan tahu.

"Ibu pasti laper makan dulu, Bu. Emang makanannya sederhana tapi enak kok, Bu," jelas Faris dengan percaya diri.

Aku tersenyum lalu mengambil piring itu. Aku melihat Faris makan begitu lahap. Apa benar ya rasanya enak?

"Makan Bu, enak kok," pinta Faris lagi. Sepertinya dia sadar aku hanya menatap makanan di piring itu.

"Iya, Ibu makan." Aku pun memberanikan diri memakannya.

Lalu, satu suapan berhasil masuk mulut, aku mengunyahnya perlahan. Dan, wow rasanya enak sekali ini. Gurihnya pas, Cah Kangkung yang enak. Padahal dulu, aku tak pernah memakannya karena Bi Nia --pembantuku-- selalu gagal membuat Cah Kangkung. Tapi, masakan Faris ini benar-benar enak.

"Enak kan, Bu?" Suara Faris membuatku menoleh padanya.

"Em, ini enak Faris, kamu pinter masak juga rupanya," pujiku sambil memandang anak itu.

"Alhamdulillah kalau Ibu suka, saya jadi seneng."

Kami pun melanjutkan makan malam. Setelah makan awalnya aku ingin membantu Faris mencuci piring, tapi dia melarang dengan alasan cucinya harus sambil jongkok.

Dia bilang, tidak mau bajuku kebasahan, padahal sebenarnya tidak apa-apa. Akhirnya aku menurut saja pada muridku itu. Lalu memilih duduk di sofa sembari membaca materi yang akanku ajarkan pada Faris.

"Bu, aku mau nyuapin Kakek dulu, enggak apa-apa, kan Bu?" Tiba-tiba Faris muncul begitu saja mengagetkanku yang sedang membaca buku.

"Ya enggak apa-apa," jawabku singkat lalu kembali membaca buku.

Sekitar lima belas menit Faris baru keluar dari kamar kakeknya. Kami baru memulai belajar pukul 18.30. Ya, karena tadi pas magrib Faris pamit untuk sholat dulu di masjid, sedangkan aku sedang tidak sholat saat itu.

Kami belajar dengan khusyu, Faris hanya menanyakan beberapa pertanyaan saja. Itupun pelajaran yang memang belum dibahas di kelas sebelas.

Aku juga memberi beberapa pertanyaan yang ditulis di buku, lalu Faris mengerjakannya sementara aku membaca materi berikutnya.

Sesuatu hal terjadi mungkin beberapa detik kemudian. Mata ini tiba-tiba gelap, aku mulai merasa keringat bercucuran di tubuh. Kupegang tangan seseorang yang entah siapa. Ya, malam itu terjadi mati lampu secara tiba-tiba dan parahnya aku punya phobia pada kegelapan.

"Aaa ...!" Aku menjerit karena mulai merasa takut dan gelap itu seakan menutup mata. Keringat terasa semakin bercucuran dan aku mulai merasa tubuh ini menegang, lalu sesak tiba-tiba.

Aku terus menarik tangan Faris. Ya, pasti ini tangan muridku itu. Pelan tapi pasti aku merasakan sebuah dekapan hangat menyentuh tubuh, dia memelukku dengan lembut.

"Bu, Ibu yang tenang, Ibu kenapa ?" Sayup-sayup kudengar suara Faris.

"Aku takut gelap ...." Repleks, aku memeluk Faris dengan erat masih dengan keringat yang bercucuran.

"Ponsel-ponsel, ada senter di sana. Cepat ambil! Ada di saku rok, cepat ambil! Aku takut ...," titahku takut, karena mulai terasa tangan ini gemetar memegang pinggang Faris.

Faris mencoba merogoh saku rokku, tapi dia tak kunjung mendapatkan ponsel itu. Aku masih takut menutup mata, berharap segera ada cahaya, dan kedua tanganku masih setia memeluk tubuh Faris. Oh, Tuhan! Aku sangat berharap Faris bisa cepat mengambil ponsel itu.

Tiba-tiba ada sebuah cahaya yang sayup-sayup mendekati, tapi aku belum bisa melihat dengan jelas. Hingga air mata meleleh tiba-tiba kemudian kututup mata dan tangan ini semakin gemetar.

"Bu-Bu." Terdengar Faris seperti memanggil.

Aku akan menyahut, saat tiba-tiba suara pintu didobrak membuat aku sedikit terperanjat. Tiba-tiba pintu rumah Faris terbuka aku dapat melihat cahaya, meski samar.

Aku tak menyadari apa pun, mata ini masih mencoba dibuka perlahan, demi meyakinkan cahaya yang ada di hadapan ku itu. Keringat mulai berhenti bercucuran dan gemetarku mulai mereda.

"Astaghfirullah! Kalian ngapain pelukan malam-malam, lagi mesum, ya?!" sentak seorang Bapak-Bapak.

"Iya, mentang mentang sepi terus mati lampu malah berduaan," sambung Bapak yang lainnya.

Aku mulai tersadar dengan sentakan kedua Bapak itu. Lalu melihat seseorang di sampingku yang ternyata masih kupeluk. Langsung saja kulepas pelukan itu tanpa peduli wajah Faris yang nampak kebingungan.

Faris langsung berdiri lalu menghadap Bapak-Bapak yang baru kusadari ada tiga orang.

"Bukan, Pak, Bapak salah paham. Tadi saya sama Bu Tanika bukan lagi berduaan." Faris menyangkal.

"Alah bukan berduaan gimana? Jelas-jelas tadi kita liat kalian lagi pelukan. Kalau bukan mesum terus apa namanya?" sahut si bapak membentak.

Aku yang duduk masih mencerna apa yang baru terjadi.

"Pokonya kalian harus ikut kita ke kantor RW. Jelas-jelas tadi si Mbak-nya teriak teriak. Gimana kita enggak curiga, coba?" Bapak satunya memberikan saran yang cukup aneh di telingaku.

"Tapi, Pak. Demi Allah, kami enggak melakukan apa-apa. Tadi, Bu Tanika cuma kaget jadi peluk saya."

"Udahlah enggak usah ngeles. Kalian harus tanggung jawab dengan perbuatan kalian, kalian harus segera dinikahkan."

Apa nikah?! Aku mulai mengerti arah pembicaraan itu lalu memilih berdiri untuk ikut menyangkal juga. Enak aja, aku kan enggak salah, kenapa tiba-tiba harus nikah?

"Maaf, Pak. Tapi, Bapak salah paham. Faris murid saya dan saya lagi ngajar dia," jelasku mencoba meluruskan kesalahpahaman.

"Ngajar apa malam-malam, ngajar yang enggak-enggak itu mah." Satu dari Bapak itu nampak sewot dengan penjelasanku.

Tanpa basa-basi lagi. Bapak-Bapak itu langsung menarik kami berdua. Bahkan, satu Bapak mencengkram tanganku dengan kuat agar aku tak kabur, sementara dua lainnya menyeret Faris ikut dengan mereka.

***

Tibalah kami di rumah Pak RW. Bapak-Bapak itu terlihat menjelaskan sesuatu pada Pak RW saat kami baru saja sampai.

Di tengah padam listrik itu ada sebuah lampu senter yang ditaruh di atas meja. Banyak pula warga yang sudah mengepung rumah Bapak RW. Kebanyakan mereka sedang berbisik-bisik dan sudah jelas pasti sedang membicarakan kami.

"Ya sudah, kalian tunggu di dalam. Saya bawa penghulu dulu, dan kamu." Pak RW yang keluar dari rumahnya tiba tiba menunjukku. "Hubungi orang tuamu, kamu akan saya nikahkan dengan dia malam ini juga," jelas pak RW itu lalu pergi meninggalkan kami.

Aku masih menatap bingung. "Tapi, Pak-- " Aku dan Faris mencoba menarik tangan Pak RW, tapi dia tak menghiraukan malah pergi begitu saja.

"Sudah, ayo kalian masuk dulu!" pinta Bapak yang membawa aku dan Faris tadi.

"Dan untuk warga silahkan pulang ke rumah masing-masing masalah ini akan kami selesaikan," jelas Bapak itu pada warga yang sudah berkerumun di rumah Pak RW.

"Huuuuu! Dasar Tante Girang, main mesum sama anak ABG," teriak Ibu-Ibu yang disusul sorakan menghina dari yang lain.

"Apa dia bilang tadi Tante Girang? Dia mengataiku Tante Girang? Dasar Ibu-Ibu Tukang Gibah!" umpatku dalam hati dengan mengepalkan erat jari-jariku seakan ingin memukul mulutnya yang tak tahu diri itu.

"Sudah Ibu! Sudah! Ayo pulang semuanya!" usir si Bapak.

"Huu! Nikahin aja biar gak bawa sial, dasar mesum!" Kembali terdengar seorang Bapak-Bapak berteriak, diikuti sorakan dari yang lain.

"Tenang semuanya! Sudah saya bilang masalah ini akan kami selesai kan, semuanya bubar sekarang," titah si Bapak sekali lagi.

"Huuuuu!" Riuh sorakan dari warga, yang kemudian berangsur bubar.

"Ayo kalian masuk!" Bapak itu menyeret kami masuk ke rumah Pak RW.

Aku dan Faris pun duduk setelah di dalam. Karena merasa enggak terima aku pun berdiri lalu mendekati Bapak itu  "Pak, Bapak salah paham, saya tadi enggak berbuat mesum, itu murid saya." Kemudian aku menunjuk Faris yang pasti sedang bingung juga.

"Ya, Pak. Bu Tanika ini guru saya, Bapak dan yang lainnya salah paham." Benarkan, dia akhirnya ikut berdiri dan menjelaskan.

"Tolong, Pak! Jangan nikahkan kami!" pintaku memohon.

"Ya, Pak. Mana mungkin saya menikah dengan guru saya sendiri? Tolong, Pak biarin kita pulang." Faris juga tak kalah memelas. Pasti perasaannya sepertiku, enggak terima. Tentu saja, masa aku nikah dengan murid sendiri?

"Tapi kalian harus tetap nikah, apa yang kalian lakukan tadi itu menimbulkan fitnah. Daripada jadi fitnah lebih baik kalian menikah. Toh, saya memang melihat kalian berduaan, kok." Heran, Bapak itu masih saja bersikukuh dengan pendapatnya.

"Sekarang dari pada kalian kaya gini, mending kamu hubungi ayah kamu, minta dia kesini buat jadi wali," jelas Bapak itu sembari menunjukku.

"Pak, tolong, Pak! Jangan seperti ini, Bapak salah faham," melasku, sembari menahan air mata karena tak percaya dan juga tak ingin memberitahu ayah. Tentu masalah itu hanya akan membuat Ayah malu.

Beberapa menit kemudian aku pasrah menelpon Ayah karena paksaan Bapak yang terus menjaga kami di depan pintu, seakan takut sekali kami akan kabur.

Aku terus menatap pintu kamar mandi. Entah apa yang Faris lakukan di sana yang jelas setelah aku menelepon Ayah, Faris langsung meminta izin ke toilet. Dia belum keluar juga sampai aku selesai menelepon. Ah, apa dia kabur? Tidak, tidak mungkin Faris membiarkan aku menderita sendirian.

Tiba-tiba suara ketukan pintu mengalihkan atensiku ke pintu utama rumah itu. Hm, Siapa itu?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED