Feli berlari tergesa-gesa menemui sahabat karibnya, Sally. Gadis berambut cokelat terang itu ingin memberitahu Sally sesuatu hal yang sangat penting menyangkut hidup dan mati mereka berdua. Kedua bola mata cokelat terang Feli menangkap sosok Sally yang sedang duduk sendirian dengan airpod di telinga dan ponsel di tangannya.
Feli menepuk pundak Sally tiba-tiba membuat gadis berhidung mancung itu terperanjat dan melempar tatapan sinis pada Feli.
"Astaga, Feli! Kau ini kebiasaan sekali, datang tiba-tiba dan mengejutkanku. Bagaimana nanti jika aku mati jantungan? Kau akan kehilangan sahabat sepertiku," omel Sally.
Feli meringis, menampilkan deretan gigi putih nan rapi miliknya.
"Maaf, aku tidak sengaja. Aku hanya ingin segera memberitahumu beberapa hal penting," ucap Feli sambil mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada.
Sally menyatukan kedua alis dan mengangkat dagunya tinggi sambil menatap lekat sahabatnya itu.
"Hal penting apa yang kau maksud, Fel?" tanya Sally penasaran.
Feli menarik napas dalam-dalam lalu membenahi rambutnya.
"Kau tahu? Ini berita hot! Zena, si wanita ular membeli sebuah pulau," kata Feli memberitahu Sally.
Kedua bola mata Sally membulat sempurna dan mulutnya menganga lalu terdengar erangan kesal dari mulutnya.
"SHIT!" umpat Sally marah.
"Apa-apaan ini. Dia membeli pulau? P-U-L-A-U? Apa dia menguping pembicaraan kita? Oh, sialan. Bagaimana mungkin aku kalah cepat dengan wanita ular itu," gerutu Sally sambil berjalan bolak-balik di hadapan Feli.
Feli mengangguk sambil menggelengkan kepala seakan menjawab pertanyaan Sally.
"Sepertinya begitu. Dasar ular! Selalu saja mengikuti apa yang kita inginkan," gerutu Feli.
"Dengar, Feli, ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak ingin berada satu level di bawahnya. Bukankah, kau tahu jika aku yang lebih dulu menginginkan untuk membeli sebuah pulau pribadi. Aku yakin, dia sudah menguping pembicaraan kita minggu lalu. Aku harus segera meminta pada Daddyku untuk dibelikan pulau di salah satu Kepulauan Maladewa," jelas Sally dengan emosi memburu.
"WHAT! Kau mau pulau di Maladewa? Itu pasti sangat mahal sekali, Sally. Kau yakin Daddymu akan mengabulkan permintaanmu satu ini?" tanya Feli sangsi.
Sally mengedikkan bahunya tak acuh.
"Aku tidak tahu. Aku belum membicarakan semua ini pada Daddyku, tapi aku yakin, ia akan mengabulkan permintaanku--- tanpa kecuali," lirih Sally setengah tak yakin.
Feli menepuk pundak sahabatnya itu sebagai dukungan semangat. "Aku doakan, Daddy Peter mengabulkan lagi permintaanmu ini setelah kau menghabiskan uang jutaan dollar kemarin demi Bugatti Veyron by Mansory Vivere dua bulan lalu, serta party kita tiga hari yang lalu," ucap Feli dan Sally mengangguk lemah dan mendesah pasrah.
Namun, hanya beberapa detik berselang, Sally mendadak membalikkan tubuh Feli menghadapnya.
"Tidak hanya aku yang ditikung, Feli. Kau juga," kata Sally histeris.
Feli menggaruk dagunya dan menatap bingung Sally karena ucapan sahabatnya itu.
"Apa maksudmu?" tanya Feli polos.
"Selena baru saja membeli private jet limited edition yang kau incar beberapa waktu lalu. Aku mendengarnya saat wanita sialan itu memamerkannya di kelas tadi," ucap Sally.
"WHAT! SELENA MEMBELI PRIVATE JET?" pekik Feli histeris.
Sally mengangguk.
"Astaga! Berengsek, berani-beraninya dia mendahuluiku. Aku tidak rela. Aku harus memilikinya juga," geram Feli.
Sally mengangguk antusias sebagai bentuk dukungan.
"Well, kita memang tidak boleh berdiam diri. Kita harus segera bertindak, Fel. Aku tidak ingin kalah saing dari mereka," ucap Sally.
"Benar. Tidak ada yang boleh berada satu level di atas kita di kampus ini. Apalagi dua wanita sialan itu, si Ular Zena dan si bitch Selena, wanita photokopi kehidupan kita. Aku tidak rela mereka memiliki apa yang tidak aku miliki," geram Feli.
"Aku setuju. Queen di kampus ini hanya dua, Sally Beatrice dan Felicity Jolicia, yang lain hanya dayang-dayang yang tidak penting," ucap Sally sombong.
***
Sally Beatrice James, anak semata wayang dari pasangan salah satu Triliuner Inggris bernama Peter James dan Liza Mombebe. Dilahirkan dikeluarga berlimpah harta membuat Sally tumbuh menjadi gadis sosialita, manja dan cukup angkuh terhadap orang lain.
Setiap hari di dalam kehidupan gadis itu hanyalah dipenuhi rutinitas belanja barang-barang branded dan pesta. Namun, fakta yang cukup menggelikan adalah wanita itu tidak suka alkohol. Selama berpesta ia hanya bergoyang badan dan minum minuman bersoda. Ia juga tidak pernah berpacaran, karena menurut Sally, kekasih adalah hal yang tidak penting. Ia bisa memiliki semuanya tanpa bantuan kekasih. Lagi pula, ia tidak pernah bertemu dengan pria yang kekayaannya melebihi kekayaan daddynya.
Sampai usia dua puluh satu tahun, Sally Beatrice masih perawan. Ia tidak mengenal hubungan seks bebas layaknya remaja lainnya. Ia terlalu menjaga jarak dengan lawan jenis, bahkan sudah belasan laki-laki yang mendekatinya ditolak mentah-mentah karena di matanya tidak ada yang di atas level daddynya. Pria idaman Sally adalah pria kaya yang kekayaannya melebihi kekayaan orang tuanya agar bisa memenuhi semua keinginannya.
***
Waktu makan malam tiba, Peter dan Liza sudah duduk manis di meja makan. Baru saja ingin menyuapkan sendok ke dalam mulut mereka, suara teriakan Sally mengejutkan keduanya.
"Daddy ... Mommy ... Aku pulang!" teriak Sally sambil berlari-lari kecil menuju kedua orang tuanya.
Tiga paperbag dengan tiga merk toko terkenal berada dalam genggaman tangan Sally, yaitu Victoria Secret, Gucci dan Channel. Liza hanya bisa menghela napas melihat semua itu.
"Mommy!" Sally memeluk manja Liza sambil melemparkan ketiga paperbag di tangannya ke lantai secara sengaja.
Dengan sigap, beberapa maid memunguti dan memegangi paperbag itu sambil berjajar berdiri tidak jauh dari meja makan.
"Apa lagi yang kau belanjakan kali ini?" tanya Liza pada Sally.
Gadis itu memasang cengiran lebar menghadap Liza.
"Ya. Aku hanya membeli beberapa underwear, T-shirt. Tidak mahal, hanya menghabiskan beberapa ratus ribu dollar," jawab Sally santai.
Liza menggelengkan kepala sambil mengelus lembut puncak kepala Sally. Wanita paruh baya itu sulit untuk memarahi anak semata wayangnya itu.
Ekspresi Sally berubah seperkian detik menjadi wajah muram saat ia berjalan menuju kursi Daddynya, Peter. Sally melingkarkan kedua lengannya pada leher Peter dan menyandarkan dagunya di pundak Daddynya.
"Sepertinya aku mencium aroma godaan lagi kali ini," sindir Peter dan Liza tersenyum mendengarnya.
"Daddy ... You know me so well," ucap Sally mengecup pipi kanan Peter.
"Apa lagi kali ini?" tanya Peter to the point.
"Daddy, aku menginginkan pulau pribadi beserta fasilitasnya di Kepulauan Maladewa," ucap Sally tanpa ragu.
"APAAA!" pekik Peter dan Liza bersamaan.
"Sally, kau mau pulau di sekitaran Maldive? Kau becanda, Nak?" tanya Liza.
Sally mengangguk dengan kedua mata penuh harap. "Aku serius, Mom." Sally menjawab tanpa ragu.
"Oh, astaga. Kau tahu, harga pulau di sana bisa puluhan juta dollar. Kau baru saja membeli salah satu mobil termahal di dunia beberapa minggu lalu," omel Liza sambil mengurut dahinya yang mendadak pening.
"Mom, aku sangat menginginkannya," rengek Sally.
"Tidak!" jawab Liza tegas.
Sally merengek pada Peter yang tidak mungkin tidak mengabulkan permintaannya.
"Dad ... Kau pasti mengabulkannya ‘kan?" tanya Sally pada Peter dengan memasang wajah memelas.
Peter berdeham tanpa ekspresi di wajahnya.
"Kapan kau mulai libur kuliah?" tanya Peter serius.
Senyuman lebar terbit di wajah cantik Sally seakan ada angin surga ketika mendengar pertanyaan Peter dan Liza melotot tajam pada suaminya itu.
"Dua minggu lagi. Aku akan memulai Summer Holiday. Apa kita akan pergi untuk mensurvei pulau?" ucap Sally antusias.
"Dua minggu lagi? Hmm-- persiapkan saja dirimu," kata Peter.
Sally melompat girang sambil menari-nari begitu bahagia. Liza melemparkan tatapan sinis nan tajam pada suaminya.
"Apa yang kau lakukan? Harga pulau di sana begitu mahal, Babe!" protes Liza pada Peter.
"Daddy, jangan dengarkan Mommy!" seru Sally.
Liza melirik tajam ke arah Sally. Liza tidak suka jika Peter selalu menuruti apa pun permintaan anaknya itu, apalagi harganya yang tidak masuk akal.
Peter memberi isyarat pada Liza untuk tetap tenang dengan sorot mata teduhnya dan kode tangannya.
"Sally, kemari. Duduk di sini." Peter memanggil Sally dan menyuruhnya duduk di kursi yang berada di sebelah kanannya yang berhadapan langsung dengan Liza.
"Kau ingin pulau di Kepulauan Maladewa?" tanya Peter dan Sally mengangguk semangat.
"Baiklah. Daddy akan mengabulkan permintaanmu," ucap Peter dan Sally tersenyum lebar.
"Namun, dengan syarat kau bisa melewati misi yang Daddy berikan," kata Peter tenang.
Sally mengerutkan keningnya dalam.
"Misi?" beo Sally.
"Ya. Kau harus menjalankan dan melewati misi yang Daddy berikan. Jika kau berhasil, apa pun permintaanmu, Daddy janji akan mengabulkannya. Apa pun!" ucap Peter serius.
"Katakan misi apa yang harus aku lakukan? Aku yakin bisa melewati dan memenangkannya," kata Sally pongah.
Peter menautkan kedua telapak tangannya dan menaruh dagunya di atasnya, menatap Sally lekat. Mengamati dengan saksama ekspresi wajah Sally yang terlihat tegang bercampur penasaran menunggu penjelasan Peter.
"Misinya sangat mudah. Selama satu bulan kau harus menjadi seorang maid di rumah orang yang tidak kau kenal, tanpa semua fasilitas yang Daddy biasa berikan padamu. Bagaimana? Kau sanggup menjalankan misi ini?" jelas Peter tenang dan sambil tersenyum miring menatap anak gadisnya yang terperangah mendengar ucapannya.
"APA! MENJADI MAID? PEMBANTU? TANPA FASILITAS? INI GILA!!!" pekik Sally frustasi.
"Kau mau membunuhku, Daddy? Bagaimana mungkin kau menyuruh anak semata wayangmu yang cantik, mulus dan berpendidikan tinggi ini menjadi seorang maid? Shit! Tidak masuk akal semua ini." Sally menumpahkan emosinya.
"Whatever. Kau tinggal pilih. Lupakan mimpimu untuk punya pulau atau lakukan misi itu dan kau akan mendapatkan semuanya," kata Peter santai.
Liza bungkam. Ia sama sekali tidak habis pikir dengan persyaratan yang diberikan suaminya itu. Sally duduk sambil mengurut pelipisnya yang mendadak pening. Bagai buah simalakama semua ini. Jika tidak diterima ia akan dipecundangi oleh wanita ular di kampusnya, tapi jika diterima ia harus jadi seorang maid.
‘Mengerikan sekali harus menjadi babu orang lain. Misi sialan sekali,’ pikir Sally.
Namun, harga dirinya di kampus juga harus dipertaruhkan. Ia tidak ingin kalah saing dengan Zena.
"Baik. Aku terima tantangan Daddy. Aku pasti memenangkan misi ini," ucap Sally tegas dan segera melangkah meninggalkan kedua orang tuanya untuk masuk ke dalam kamar tanpa makan malam.
Peter tersenyum miring sedangkan Liza hanya menggeleng tidak habis pikir.
***
Sally menghamburkan semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya. Ia membanting boneka-boneka mahalnya ke lantai untuk melampiaskan kekesalannya.
Peter begitu tega memberikan misi gila itu padanya hanya karena sebuah pulau. Sally bahkan yakin, uang Peter tidak akan habis hanya karena membeli sebuah pulau.
"Aaarrgh! Menyebalkan, sialan!" umpat Sally.
"Maid? Aku harus menjadi maid selama satu bulan? Oh, yang benar saja. Orang akan memerintahku semaunya?" Sally mengacak rambutnya frustasi.
"Aku benci diperintah orang lain dan Daddy malah memberiku misi untuk menjadi maid. Ya Tuhan, kenapa orang tuaku kejam sekali," gerutu Sally.
"Tidak ada shopping apalagi pesta. Tidak ada mobil mewahku, tidak ada barang-barang branded-ku. Cih! Menyedihkan sekali,"
"Semua gara-gara Zena sialan. Coba saja kalau wanita ular itu tidak mendahuluiku, tentu saja aku tidak akan mau menerima tantangan gila ini." Sally terus menggerutu sendiri.
"Menggunakan seragam terkutuk itu. Ck! Menjijikan sekali."
Sally benar-benar frustasi. Ia kehilangan nafsu makannya malam itu. Mood-nya seketika down. Besok ia harus berkeluh kesah pada sahabatnya, Feli. Iya, Feli harus tahu penderitaannya ini. Feli pasti akan membantunya, Sally yakin tentang itu.
Suara ketukan pintu kamar membuatnya geram.
"Siapa di sana?" teriak Sally.
"Bisakah berhenti mengetuk pintu itu terus menerus. Fuck you!" bentak Sally sambil berjalan tergesa untuk menghardik lebih keras orang yang sudah mengetuk pintu kamarnya berkali-kali tanpa henti.
Seketika mulutnya tertutup rapat. Pria tinggi menjulang menatapnya tajam seakan ingin menelannya hidup-hidup.
'Sial! Kenapa aku harus berteriak memaki memakai bahasa kasar itu. Mati aku!' batin Sally.
Pelaku yang mengetuk pintu kamar Sally adalah Peter, Daddynya sendiri. Pria paruh baya itu akan murka jika mengetahui anak gadisnya mengumpat kasar.
"Aku menyekolahkanmu di tempat yang ratusan ribu bahkan jutaan orang ingin berada di sana agar kau menjadi orang yang berpendidikan. Tidak mengumpat kasar seseorang dengan makian murahan seperti itu. Kau tahu, Daddy tidak pernah mengajarkanmu untuk bersikap kasar demikian," nasihat Peter pada Sally di depan pintu kamar anak gadisnya itu.
Sally hanya bisa tertunduk lesu mendengar ceramah dari Daddynya itu.
"Aku minta maaf, Daddy," kata Sally penuh penyesalan.
Peter melihat keadaan kacau di dalam kamar Sally seketika menghela napas.
"Mulai sekarang, persiapkan dirimu untuk menjadi seorang maid yang baik. Jangan panggil maid rumah ini untuk membersihkan kamarmu yang sungguh mengerikan ini. Kau harus mulai membiasakan diri dari sekarang. Bereskan dan bersihkan sendiri semuanya," ucap Peter dan Sally melotot tidak percaya atas apa yang dikatakan oleh Daddy nya.
"Hah? Aku membersihkan semua ini sendirian?" tanya Sally pada Peter.
Peter mengangguk tegas.
"Ya. Jika kau mau pulau di Maladewa beserta fasilitas lengkapnya, kau harus patuh pada ucapan Daddy," kata Peter.
"Ah- satu lagi. Mulai besok, kartu kredit unlimited-mu resmi Daddy tutup untuk sementara. Kau hanya bisa memakai kartu debit yang sudah Daddy persiapkan. $50.000 cukup untuk hidupmu selama dua minggu ke depan sebelum semua fasilitasmu Daddy cabut," jelas Peter tanpa ragu.
"Hah!" Mulut Sally menganga mendengarnya.
"Jangan lupa bersihkan kamarmu. Makan malam akan diantar ke kamarmu lalu beristirahatlah." Peter mengacak puncak kepala Sally lalu mencium dahinya.
"Good night, Baby girl," ucap Peter lalu pria paruh baya itu melangkah meninggalkan Sally yang masih berdiam mematung di depan pintu kamarnya.
‘$50.000? Are you kidding me, Daddy’
‘$50.000, aku harus hidup selama dua minggu dengan uang itu? Ini benar-benar gila! Kartu Kredit Unlimited-ku turut serta ditarik? Hah- Daddy benar-benar kejam.’
"BARBARA! Cepat kemari dan bereskan semua kamarku!" jerit Sally dan salah satu maid di rumahnya bergegas menaiki anak tangga menuju kamar Sally.
Sally mengabaikan ucapan Daddynya. Wanita itu memilih untuk berendam di dalam Jacuzzi, berharap dengan berendam semua hal gila yang menempel di kepalanya bisa segera pergi dan besok Daddynya akan berubah pikiran. Membiarkan maid yang membereskan serta membersihkan kamarnya seperti biasa.
***
Di dalam Jacuzzi, Sally memandangi gambar yang menampilkan keindahan pulau dan laut biru kehijauan terhampar. Pulau di Maladewa merupakan salah satu dari berbagai pilihan pulau pribadi yang diinginkan oleh Sally.
‘Soon, aku akan menghabiskan liburanku di pulau pribadiku sendiri tanpa adanya gangguan.’
‘Sally, kau pasti bisa memenangkan misi yang Daddy berikan padamu. Hanya menjadi maid selama satu bulan adalah hal yang mudah. Kau tidak boleh menyerah demi Pulau di Maladewa. Kau pasti bisa, Sally harga dirimu dipertaruhkan di hadapan Zena.’
Sally menghabiskan beberapa jam untuk bernegosiasi pada dirinya sendiri. Memikirkan secara matang apa iya harus menerima atau membatalkan permintaannya. Jika ia membatalkannya, maka ia harus mengakui Zena lebih hebat dibandingkan dirinya.
TIDAK AKAN!
Memikirkan semua itu membuat kepala gadis itu tiba-tiba pusing, lebih baik ia tidur dan esok hari ia bisa bertukar pikiran dengan Feli.
***
"Sally ... Hei ... Sally!" panggil seorang pria bertubuh jangkung dan berwajah tampan.
Sally berhenti berjalan, menoleh sambil bersedekap tangan di dada memandang malas pria yang memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Sally ala kadarnya.
Ferdinan menyunggingkan senyum lebar. Pria tampan dan cukup kaya ini begitu menyukai bahkan tergila-gila dengan Sally. Namun, Sally selalu mengabaikannya.
"Aku baru membeli Yacht seharga $1.500.000. Aku ingin mengajakmu berkeliling dengan yacht baru ku," kata Ferdinan antusias.
Sally memandang pria itu dari atas ke bawah beberapa kali, lalu menggeleng sambil berdecak tanpa ekspresi.
Baru saja Sally akan membuka mulut untuk menjawab ajakan Ferdinan, tiba-tiba wanita berambut pirang memeluk erat lengan Ferdinan sambil menyenderkan kepalanya di sana.
"Wah, kau punya yacht baru? Itu hebat. Kita bisa memakainya untuk berlibur ke pulau pribadiku dengan yacht-mu itu, Fe," ucap Zena antusias.
Sally memutar bola matanya malas. Ia tahu, wanita ular itu pasti akan menyindirnya dan memancing emosinya, karena ini bukan hal pertama kali yang terjadi.
"Kau punya pulau pribadi, Ze?" kaget Ferdinan.
Zena mengangguk cepat sambil tersenyum lebar.
"Ya. Aku baru saja membeli pulau pribadi. Aku tidak suka membual tentang sesuatu. Kurasa, aku sudah berhasil menggeser posisi Queen di kampus ini. Queen yang memiliki hobi membual tanpa bukti nyata ucapannya." Zena melirik sinis sambil tersenyum culas pada Sally.
Sally menahan diri untuk tidak menjambak rambut pirang Zena akibat ucapannya itu.
"Aku yakin, harga pulau mu, tidak jauh berbeda dengan harga mobil baruku yang limited edition. Ingat, hanya orang-orang tertentu yang bisa memilikinya." Sally tersenyum sombong sedangkan Zena berdecak kesal.
"Maaf Ferdinan, aku tidak berkenan naik ke yachtmu. Jika kau sudah membeli super yacht seperti milik Daddyku, kau boleh mengundangku. Aku akan pastikan datang," ucap Sally sombong.
Wanita itu tersenyum miring lalu berjalan meninggalkan Zena dan juga Ferdinan.
"Dasar wanita sombong! Bisa-bisanya ia berkata demikian padamu, Fe," ucap Zena kesal dan bermaksud memancing Ferdinan kesal.
Pria itu tersenyum menanggapi umpatan Zena.
"Apa yang dikatakan Sally, kurasa benar. Yachtku tidak sebanding dengan yang dimiliki oleh Daddynya. Aku akan bekerja lebih keras agar Sally bisa menolehku, ah- tidak, agar Sally menganggapku ada dan berguna untuknya," kata Ferdinan sembari melepas pelukan Zena di lengannya.
"Aku pergi dulu, Zena."
Ferdinan pergi meninggalkan Zena sendirian. Wanita berambut pirang itu menghentakan kakinya ke ubin dan berdecak kesal.
"Kenapa wanita sombong itu tidak pernah dibenci oleh Ferdinan. Tingkah lakunya arogan seperti itu seharusnya dijauhi semua orang, tapi kenapa itu tidak terjadi. Menyebalkan sekali!" gerutu Zena.
***
"Dengar semuanya!" Suara lantang Selena memenuhi ruang kelas pagi itu.
"Manusia yang sering dielu-elukan sebagai Queen di kampus ini, ternyata kini hanyalah pecundang," ucap Selena berani sambil duduk di atas meja sambil menyilangkan kaki, memamerkan kaki mulusnya karena hari itu ia memakai rok mini.
Seisi ruangan berdesas desus mendengar ucapan itu. Mereka tentu mempertanyakan apa maksud dari ucapan Selena. Bagaimana mungkin Sally dan Feli bisa digeser begitu saja posisinya. Atas dasar dan alasan apa Selena bisa mengatakan hal yang demikian.
"Zena sudah membeli sebuah pulau pribadi di dekat Ibiza, harganya tentu cukup fantastis. Sedangkan aku sendiri, sudah membeli private jet limited edition,"
Semua teman-temannya yang ada di dalam ruangan terpekik kaget dengan ucapan Selena itu. Mereka tidak menyangka jika Selena dan Zena bisa berada satu level di atas Sally dan juga Feli.
"Kedua orang yang mengaku dirinya Queen itu hanya lah pecundang saat ini," ucap Selena meremehkan.
Sally berjalan tegap masuk ke dalam kelasnya sambil mengangkat dagunya tinggi. Ucapan Selena sukses melukai harga dirinya. Ia tidak akan segan-segan memberi hadiah menarik pada Selena, wanita bitch bagi Sally.
Jambakan kuat diberikan Sally pada rambut merah ombre hijau milik Selena. Wanita itu memekik terkejut atas tindakan nekat Sally.
"Fuck you, Sally! Ini sangat sakit. Kau menyakitiku gadis pembual! Lepaskan tanganmu, sialan!" teriak Selena dan Sally hanya tersenyum miring sambil terus menarik rambut Selena.
"Ini baru rambutmu yang kubuat sakit, jika mulutmu berucap sembarangan lagi, maka aku tidak segan untuk menampar mulutmu dengan highheels mahalku. Camkan itu, Bitch!" desis Sally sambil melepaskan jambakannya dan Selena segera membenahi rambutnya, melotot kesal pada Sally.
"Dengar! Untuk kalian semuanya yang ada di sini. Aku akan menunjukkan pada kalian semua jika aku akan memiliki pulau Chora di Yunani beserta fasilitas lengkapnya. Silakan merasa menang saat ini dariku, tapi lihat nanti, apakah memang aku pecundang atau malah kalian sendiri yang menjadi pecundang!" ucap Sally santai.
Sally berjalan meninggalkan kelasnya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Sebagian besar isi kampus sudah sangat mengenal perangai seorang Sally Beatrice. Wanita yang hobi foya-foya untuk pesta dan belanja, tidak pernah mau kalah dan terakhir cukup nekat dalam bertindak.
Sally memukul setir mobilnya kuat. Ucapan Selena tadi terngiang-ngiang di telinganya. Gadis cantik ini memilih untuk kabur dari mata kuliah pertamanya, ia sudah kehilangan mood untuk belajar, apalagi satu kelas dengan Selena.
Harga dirinya jatuh begitu saja. Lebih mengejutkan lagi, ternyata Zena membeli pulau di Spanyol. Sangat sialan bagi Sally. Di sana pulaunya indah dan juga mahal. Lalu ucapannya mengenai Pulau Chora di Yunani, pulau yang harganya hampir $40 juta bahkan lebih yang ia katakan pada teman-temannya akan menjadi pulau pribadinya, bagaimana caranya ia memilikinya? Ya, Tuhan, itu semua karena Zena, wanita ular itu memancingnya dan kini ia terpancing.
"Shit! $40 juta, apa Daddy akan membelikan pulau itu untukku? Bagaimana mungkin Zena bisa membeli Pulau di dekat Ibiza yang harganya fantastis itu? Dari mana ia mendapatkan uangnya? Astaga- kepalaku sakit karena memikirkan semua ini!" gerutu Sally pada dirinya sendiri.
Sally mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi sahabatnya, Feli. Namun, ponsel Feli tidak bisa dihubungi. Sally melempar ponsel ke atas jok mobil lalu menginjak gas mobil, memacunya dengan perasaan kesal yang luar biasa.
Satu-satu tujuan Sally adalah kantor Daddynya. Mobil di parkir tepat di depan pintu lobi dan penjaga di sana dengan sigap mengambil kunci mobil lalu memindahkannya ke parkiran khusus.
Sally berjalan dengan angkuh, mengabaikan beberapa pegawai yang menyapanya dengan ramah. Ia masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan tanpa penjagaan ketat.
Alexis, sekretaris pribadi Daddy nya melemparkan senyuman manis pada Sally, tetapi dibalas dengan ekspresi datar dan dingin dari wanita itu. Tanpa mengetuk dan mempedulikan keadaan dalam ruang kerja Daddy nya, Sally masuk tanpa izin. Peter yang sedang fokus menunduk membaca berkas, lantas mengangkat kepala, mengernyitkan dahi melihat anak semata wayangnya sudah duduk di hadapannya dengan ekspresi kesal yang begitu ketara.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau membolos kelas pagi ini?" tanya Peter tanpa basa-basi.
Sally mendesah dan mencebikkan bibir menatap Daddy nya.
"Aku ingin mengganti pulau yang aku inginkan," ucap Sally.
Peter mengangkat kedua alisnya.
"Aku ingin Northern Aegean Island, bukan Pulau di Kepulauan Maladewa," kata Sally tegas tanpa ragu.
Peter menutup berkas di tangannya dan menatap lekat wajah putrinya.
"Lewati dulu misi yang Daddy berikan. Jika kau berhasil melewatinya, pulau mana pun dan berapa pun harganya, akan Daddy belikan untukmu," ucap Peter tenang.
Mata Sally berbinar mendengar ucapan Peter.
"Really? Hanya menjadi maid, bukan? Oke, aku setuju. Aku pasti memenangkan misi ini," ucap Sally penuh percaya diri.
Peter tersenyum miring.
"Mari kita buktikan ucapanmu,"
"Keluarga James tidak akan mengingkari ucapannya, kau tahu itu, bukan?" kata Peter pada Sally.
Wanita itu mengangguk bersemangat.
Peter kembali memegang kertas-kertas di hadapannya. "Daddy akan mengurus segala persyaratan dan perlengkapanmu. Kau harus siap ditempatkan di mana saja oleh penyalurmu, termasuk di luar dari negara ini,"
Sally melotot sambil menggigiti bibirnya kuat. Mau tak mau, ia mengangguk lemah, menyetujui ucapan Daddy nya.
"Kembalilah ke kampus. Persiapkan dirimu dari sekarang, jika kau ingin menang dari Daddy," kata Peter mengusir halus anaknya.
Sally mendesah pasrah.
"Baiklah. Terima kasih, Daddy," ucap Sally meninggalkan ruang kerja Peter dengan langkah lesu.
Tindakannya terbilang cukup berani. Termasuk risiko yang akan ia hadapi nanti ketika menjadi maid. Namun, begitulah Sally, ia tidak akan menyerah sampai keinginannya tercapai.
***
Sally duduk di sebuah kafe yang tidak jauh dari kampusnya. Ia menjadi sorotan para pengunjung karena membawa mobil sport mewah yang harganya sangat luar biasa mahal. Semua yang dipakai Sally pun dari ujung rambut sampai ujung kaki bernilai jutaan dolar.
"Kau sendirian di sini?" sapa seorang pria berjas hitam dan berkacamata hitam mengambil tempat duduk di hadapan Sally.
Wanita itu memutar bola matanya malas. Kehadiran pria itu sangat tidak diminati oleh Sally. Johanes Joseph, anak dari rekan bisnis ayah Sally yang tergila-gila padanya. Joseph adalah satu dari sekian banyak pria yang menggilai Sally, tetapi tidak pernah mendapat tanggapan manis.
"Apa maumu?" tanya Sally ketus.
Joseph tersenyum kecut mendengar tanggapan dingin Sally yang tidak pernah berubah padanya.
"Nanti malam akan ada pesta di rumahku. Aku harap kau bisa datang," kata Joseph tanpa basa basi.
Sally menyedot Milkshake Strawberry miliknya hingga tandas.
"Aku banyak urusan. Aku tidak tertarik dengan pestamu," ucap Sally sambil bersiap beranjak pergi dari tempat duduknya.
Joseph berdiri hendak menahan lengan Sally, tapi ditepis begitu saja oleh wanita itu.
"Jangan menyentuhku sembarangan!" desis Sally dan Joseph mengangkat kedua tangannya.
"Oke. Aku tidak menyentuhmu. Aku hanya ingin kau datang ke pestaku. Aku mohon, aku sudah menyiapkan wine paling mahal untukmu," ucap Joseph.
Sally menatap Joseph tajam dari atas sampai ke bawah.
"Aku tidak janji, tapi akan aku pikirkan. Ah- mengenai wine, aku sama sekali tidak tertarik. For your information, aku menyukai Milkshake Strawberry not wine," ucap Sally sebelum berbalik meninggalkan Joseph yang menggeram kesal.
"Kau jual mahal sekali! Dasar wanita sialan!" kesal Joseph.
***
Mengamati kerja maid di rumahnya menjadi rutinitas Sally satu hari penuh ketika ia tidak memiliki jadwal kuliah. Wanita itu tidak melepaskan pengamatannya sama sekali. Pada akhirnya, Sally memukul meja di hadapannya membuat semua maid yang sedang bekerja tiba-tiba berhenti dan menunduk.
"Kau! Kemari cepat!" panggil Sally pada salah satu maid di rumahnya.
"Ya, Miss," ucap maid itu dengan menunduk sopan serta takut.
"Sebutkan saja apa pekerjaanmu di rumah ini? Aku ingin kau menyebutkannya dengan detail," perintah Sally.
Maid itu cukup terkejut mendengar pertanyaan Sally yang terbilang aneh.
"Hm- pagi hari saya menyiapkan sarapan, membersihkan meja makan, beranjak siang saya akan membersihkan beberapa ruangan di rumah ini, sore hari saya bertugas membersihkan kolam renang dan malam saya membersihkan meja makan sehabis dipakai. Kami semua di sini, memiliki rutinitas pekerjaan yang beda," ucap maid itu pada Sally.
Sally menjambak rambut frustasi mendengarnya. Gadis itu merasa jika dirinya bisa gila hanya karena mendengarkan rentetan jadwal pekerjaan maid di rumahnya saja.
"STOP! Tidak perlu diteruskan. Kau bisa pergi sekarang juga," usir Sally dan maidnya itu permisi undur diri dari hadapan Sally dengan sopan.
Namun, jika dipikir lagi, misi yang ayah nya berikan sangatlah sebanding dengan apa yang akan ia dapatkan. Akan tetapi, bukankah ia harus memikirkan juga bagaimana majikannya nanti. Jika majikannya seperti kedua orang tuanya maka, dipastikan dirinya akan bekerja dengan tenang dan bahagia. Bagaimana tidak, kedua orang tuanya tidak pernah memberi komplain atas pekerjaan yang dilakukan oleh para maid di rumahnya.
"Awas saja, jika aku mendapatkan majikan yang mengesalkan. Aku tidak akan segan untuk mencampuri minuman atau makanannya dengan racun. Ah- tolol! Bagaimana mungkin aku bisa lupa memikirkan hal ini,"
"Astaga! Otakku rasanya mau meledak. Hanya karena sebuah pulau, kehidupanku jadi kacau balau padahal aku belum memulai apa pun." Sally bermonolog pada dirinya sendiri.
"Sally, kau tidak boleh menyerah. Kau pasti memenangkan misi ini. Reputasimu akan kembali menanjak ketika kau sudah memiliki pulau itu. Kau pasti bisa, Sally!" Gadis itu menyemangati dirinya sendiri.
Ia kembali mengamati kerja maid di rumahnya secara bergantian. Gadis manja, angkuh dan tidak suka diperintah ini tengah belajar untuk menjadi manusia baru layaknya baru dilahirkan. Demi sebuah ambisi yang mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang tidak penting.
"Ya Tuhan, aku minta jangan sampai orang-orang, terlebih teman kampusku tahu, jika aku akan menjadi seorang maid. Bisa hancur lebur image yang telah ku bangun bertahun-tahun. Aku harus sangat berhati-hati," tekad Sally.